Senin, 11 Januari 2010

Mitos Buah Pembawa Sial

Dunia bis tanah air pun tak lepas dari namanya mitos. Di kalangan kru bis, ada semacam kepercayaan terhadap hal-hal yang irasional, yang asal muasal ceritanya tak jelas dan kebenarannya susah dinalar dengan akal sehat, namun akhirnya dianggap sebuah keniscayaan.

Satu di antaranya adalah mitos tentang kesialan bila bis mengangkut buah durian. Yang konon katanya, sengatan bau harum yang disebarnya bisa membikin bis perpal (mogok) di jalan.

Namun, setelah mendengar cerita satu kru bis Kudus-an, ternyata bukan terbatas buah durian yang mendatangkan kesialan, buah mangga pun tak kalah jahat, juga menebarkan ancaman keapesan di jalan raya.

Tak percaya?

Selain Indramayu, kawasan Muria juga dikenal sebagai sentra penghasil buah mangga,khususnya mangga gadung. Berhubung sedang masa panen, sehingga overstock, tak ada pilihan lain kecuali mangga-mangga lokal ini “dibuang” ke luar daerah, termasuk Jakarta. Untuk partai besar, biasanya tengkulak membawanya menggunakan light truck.Namun, bagi pedagang kecil dan musiman, yang sekedar ikut-ikutan mengadu nasib berjualan mangga ke ibukota, untuk menghemat ongkos pengiriman, diakali dengan jalan dititipkan ke bagasi bis. Tentu besaran bea kirim bisa cincay dengan kru.


Nah, ceritanya bis ini “ketiban sampur” membawa puluhan kardus ukuran besar yang berisi mangga siap kirim. Saking banyaknya, bagasi sebelah kiri full, hanya sedikit menyisakan space untuk barang lain.


So far, rute Kudus-Cirebon bis fine-fine saja. Masalah muncul saat bis menapak daerah Jatibarang. Saat itu ada kendaraan pribadi menyalip, memberi kode sopir untuk menepi sambil menunjuk arah belakang. Pengemudi pun merespon, dengan menghentikan kendaraan. Kenek segera turun dan melihat apa gerangan yang telah terjadi.

Setelah cek dan ricek, ternyata pintu bagasi kiri terbuka dan nun jauh di belakang terlihat beberapa kardus jatuh di jalan. Ratusan buah mangga tercecer dan berhamburan di jalan, karena tali ikatan lepas. Usut punya usut, ternyata kunci bagasi dalam keadaan setengah rusak, sehingga kurang tight dalam sewaktu digunakan

Walhasil, saat bis berjalan, karena goncangan ke kiri ke kanan, kardus-kardus tersebut mendesak pintu bagasi. Karena piranti pengunci kurang fix bekerja, akhirnya tak kuat menahan beban dan at last…terbuka dengan sendirinya.

Akhirnya kru ketiban sial, laju bis diistirahatkan sementara waktu. Bukan karena faktor teknis kendaraan, tapi non-teknis. Mereka terpaksa memunguti mangga-mangga yang masih bisa diselamatkan dan naga-naganya dikomplain si empunya.


Menurut saya, bukan masalah kebenaran mitos bahwa membawa buah adalah kesialan. Asal membawa sewajarnya, tidak overcapacity atau oversmell, tak akan berpengaruh dengan kenyamanan perjalanan.

KE-461, Karena Karina Ingin Dimengerti (2)

Bis bernomor registrasi B 7866 VB ini melenggang masuk kota Semarang. Ada satu pemandangan yang benar-benar menyentuh sisi humanis-ku. Di depan SPBU Kaligawe, Pak Sopir menghentikan armadanya, menemui istri tercintanya yang sedari tadi menunggu di pinggir jalan, untuk menukar tas yang penuh pakaian kotor, dibarter dengan bekal pakaian bersih. Bisa jadi, sudah berhari-hari beliau tak pulang ke rumah. Tak banyak kata di antara keduanya, karena sebentar kemudian pengemudi itu kembali ke belakang kemudi karena posisi bis sedikit memacetkan jalan. Mungkin, tak ada kalimat untuk sekedar menanyakan kabar keluarga, kondisi anak-anak atau urusan di rumah karena diburu waktu. Padahal intensitas pertemuan mereka sangat jarang, kalaupun ada hanya singkat. Betapa beratnya profesi seorang pengemudi bis jarak jauh, yang deminya harus rela kehilangan waktu bercengkerama bersama keluarga.

Sedang si istri terlihat tegar dari sorot matanya yang tak pernah lepas menatap raut sang suami, mengantarnya kembali bekerja. Berharap bapaknya anak-anak diberikan keselamatan selama menjalankan tugas, dan pulang membawa rejeki halal bagi kelangsungan rumah tangganya. Aku terkadang dihadapkan adegan kemanusiaan semacam ini selama menjalani perjalanan mingguan. Bagiku, istri-istri mereka adalah orang-orang hebat, wanita-wanita yang tabah, tak manja dan tak cengeng ditinggal suami bekerja meski dengan resiko tinggi di sekelilingnya, yang tak pernah berkeluh kesah menjalani single parent dalam mendidik dan membesarkan anak, serta pribadi yang mandiri, tak semata bergantung pada suami saat menangani masalah yang ada.

Ya Allah, di balik kerasnya atmosfer jalan raya, Engkau berkenan menyuguhkan realita kehidupan yang penuh makna untuk dihayati.

Tanpa aku sadari, bis terjebak kemacetan sebelum memasuki Jalan Pandanaran. Ternyata jalan pengubung antara Simpang Lima dan Tugu Muda ditutup untuk even Pandanaran Food Festival 2009. Untunglah, Pak Sopir adalah warga Semarang sendiri, sehingga tak susah mencari jalan tembus ke Kalibanteng. Diarahkannya armada berkelas eksekutif ini menyusuri rute Bilangan Mugas-Kaligarang-Simongan-Pamularsih hingga tembus Jalan Siliwangi.

Setelah lapor di check point Krapyak, aku bersiap untuk pembuktian kehebatannya…

Berderet bis lewat saat Karina mulai bergerak perlahan. Tercatat dari depan Shantika Merah, dua bis Ezri Pariwisata, Harta Sanjaya Panorama DX, Shantika Volvo, dan Nusantara HS 151. Bis-bis inilah yang kujadikan kelinci percobaan, mana yang akan bisa di”santap”nya.

Perlahan tapi pasti, dengan lincahnya KE-461 menyeruak di dalam keramaian jalan raya, yang dijejali truk-truk angkutan barang. Buah usahanya, berhasil mengasapi mesin Scania HS 151 dan Harta Sanjaya yang terjerembab di barisan kendaraan berat. Wah, Scania tumbang di trek padat. Satu armada Handoyo juga mampu di-overtake. Dan selang tak lama kemudian, Shantika Volvo kelihatan bidang pantatnya. Tak perlu bersusah payah, ditaklukannya. Dengar-dengar armada eks Tri Star ini kurang greget larinya. Pantas saja…

Sudah dua mesin ber-cc besar, di atas kapasitas ruang mesin Mercy Intercooler dilumpuhkan, Scania dan Volvo. Lumayan, buat mendonasikan laporan kebangkitan Lorena-Karina grup sekarang ini.

Namun, di koridor ringroad Kaliwungu-Brangsong, usia mesin dan karoseri tak bisa bicara bohong. Nafas engine ber-volume 6.000 cc terengah-engah di trek lurus dan sepi kendaraan. Apalagi bunyi riuh rendah gesekan antar material bodi mulai ramai bersahutan di dalam kabin, saat menapak jalanan yang tak seluruhnya rata. Semakin kencang dipacu, semakin menurun kenyamanan di dalamnya. Akhirnya, revenge of HS 151 terjadi, Karina yang semakin uzur dilibas habis, dan dalam hitungan detik bis berkode NS 18 hilang ditelan kegelapan malam.

Seakan-akan pion-pionnya Pak Hans belum puas mempecundangi, beraninya “main keroyokan”. Wah…wah… Armada tua dikerjai anak-anak muda. Di belakang Scania, dilanjut NS 29 Lebakbulus, NS 39 Pulogadung dan NS 28 Ciledug, yang berjalan rapat beriringan. Dan yang bikin hati ini tak terima, cara menyalipnya yang terkesan melecehkan. Sotoy…Lampu dim berulang-ulang dimainkan dengan sorot yang menyilaukan, merenggut secara kasar lajur kiri untuk menyalip, mendiamkan fungsi klakson. Padahal laju Karina juga sedang kencang-kencangnya dan riskan untuk disalip. Namun, rombongan itu secepat kilat tetap memaksa masuk. Yang bikin semakin kesal, saat posisi sejajar, sengaja dibuat mepet benar. Bahkan, ujung luar spion NS 39 nyaris menempel di dinding kaca. Apa bis Cepu-Pulogadung ini akan memberi pelajaran, gara-gara tahu kalau ku-dua-kan. Serrr…deras darahku mengalir menahan kengerian. Dua kendaraan besar adu speed, dengan jarak antar bodi tipis sekali. Apa penumpang di dalam bis Nusantara ngga takut ya? Hehehe…

Setelah sempurna menyalip, ketiga armada yang terdiri dari dua unit OH 1525 dan satu unit K124IB itu semakin melesat, meninggalkan jauh Karina-ku. Hiks…Si Ijo belum mampu mengimbangi…

Mungkin itulah cara PO berlambang nyiur melambai memamerkan hegemoni dan superioritas atas PO lainnya.

Sebenarnya tadi aku berharap, cukup bis-bis Solo-ensis atau Bumi Mataram yang jadi pengukur tingkat kedigdayan Intercooler Jumbo ini. Tapi nyatanya, justru langsung dihadapkan lawan berat, selevel PO Nusantara. Jadi terasa “tenggelam” lagi prestasi spektakuler yang telah ditunjukkan empat jam sebelumnya.

Jalur Rembang hingga RM Sendang Wungu, Gringsing, bagiku sudah cukup sebagai bahan pembuktian rumor di atas. Selebihnya, sisa perjalanan kugunakan untuk beristirahat, menata stamina karena esoknya mesti beraktivitas seperti biasa.

Senin pagi, jam 05.30, bis yang bernama lengkap Ryanta Mitra Karina ini telah mendarat di pos Cikampek untuk keperluan kontrol. Masih cukup waktuku untuk mengejar jam masuk kerja. Apalagi 15 menit kemudian disusul KE-521 Bangkalan-Tanjung Priok. Apa tidak hebat, bis Madura tiba Jakarta saat matahari terbit? Atas perkenan kru, aku diijinkan untuk oper merasakan armada Mercy Electric, selain agar mudah mencapai lokasi ladangku.

Meski raihan hebatnya semalam sempat dicederai kepiwaian bis Muria Raya, namun aku berani ber-milist pers, bahwa selama ini Karina memang ingin dimengerti. Dan penantian panjang itu disambut oleh pemiliknya. Berkat re-touch tangan dingin Pak GT Surbakti, Lorena-Karina telah bangun dari tiarapnya. Mulai tergugah kembali spirit for competition, tumbuh sense of passanger needs, memegang prinsip time is priority and speed oriented. Mencoba menghapus “kesalahan” masa lalu, yang membuat pelanggan setia seperti aku sampai lepas dari rengkuhannya.

Never give up, Karina…

KE-461, Karena Karina Ingin Dimengerti (1)

Hangatnya obrolan tentang rumor “The Legend is Back” -- yang dibumbui cerita Lorena mundur dari jalur udara, peniadaan batas fuel consumption, re-call pengemudi-pengemudi jagoan yang hengkang ke berbagai PO, sang “jenderal” turun gunung hingga statement sakti Pak GT Soerbakti “yang nombok solar silahkan minta ganti ke kantor” -- ibarat rapal mantra-mantra yang menghipnotis pendirianku.

Sudah hampir lima tahun ini aku melepaskan diri dari ikatan yang bernama “pelanggan” PO yang berkandang di Tajur ini. Dulu, aku sempat terdaftar sebagai loyalis LE-460/1 (eks LE-380/1), Jakarta-Rembang-Bojonegoro, vise versa, selama hampir setahun.

Mulanya, aku masih mau berkompromi dengan layanannya yang mulai menurun. Soal armada yang mulai menua, jam keberangkatan yang seringkali offtime, hingga harga tiket selangit yang tak sepadan dengan pelayanan yang didapat, aku bisa menolerir. Tapi aku mulai berkata “tidak!!!” ketika Sang Legenda kebanggaanku ini mulai menyiput jalannya. Saat itulah, aku rela setengah hati meninggalkannya, meski dalam lubuk sanubariku berharap “dia” akan cepat siuman untuk meninggikan kembali pamor gemilangnya masa silam.

Terlebih pesona bis-bis lokal mulai menampakkan kemilau. Satu di antaranya adalah Nusantara. Mengusung genre, powerfull and speedfull bus on the road, mem-balikseratusdelapanpuluhderajat-kan kesetiaanku. I must to say goodbye, Lorena. A matter of time is more than just a fanatism. Demikian sebait kalimat perpisahan yang kuucap sembari menahan bulir air mata agar tak jatuh ke pipi. (Hehehe...kumat deh lebay-nya!)

Bahkan, semenjak Lorena membuka agen yang tidak jauh dari rumah tinggalku, tak membuatku bergeming dengan tawaran kemudahannya. Jarak 15 km ke agen PO “selingkuhan”ku masih terasa ringan ditempuh, dibanding melangkah ke agen Si Ijo yang “hanya” sejengkal. Meski armada Bojonegoro telah berganti kulit, dari Lorena berubah wujud menjadi Karina, bagiku, tak ada proses metamorfosa. Tetap saja begitu “sosok rupanya”.

Namun, gaung berita burung di atas seolah menghembuskan hawa sejuk, pencerna dahaga kerinduan menikmati kharisma Lorena-Karina yang sekian tahun ini terkubur. Memang belum cukup banyak bukti. Namun, ada hal yang menegakkan kembali hasratku untuk latah mencobanya. Adalah testimoni beberapa member Bismania Community yang telah merasai “api asmara” PO yang belakangan gencar blusak-blusuk ke pelosok desa gara-gara tertindih Low Cost Carrier (LCC) pesawat terbang.

Berbekal tiket seharga Rp.140.000,00, akan kulakukan perjalanan bersejarah, re-ride with KE-461. Stigma rate Lorena adalah termahal, masih benar adanya. Dari tempatku, Ombak Biru “cuma” Rp.130.000,00, sedang The City of Manhattan sepuluh ribu lebih murah lagi. Tak apalah, demi menebus rasa penasaran. Yang penting pembuktian, “Is that right, Si Ijo has back to right way?”

Janji jam empat sore akan tiba, dipenuhinya. Salut, on time. Kesan pertama terpuaskan soal ukuran waktu kedatangan.

Dengan setelan busana Setra “Selendang” karya Adi Putro, membalut mesin OM366LA yang bertengger di atas chasis Mercedes Benz OH-1521, Karina masih terlihat ayu menawan, seakan tampilannya tak lekang digilas perputaran roda jaman.


Sesaat setelah merebahkan punggung di seat 6A, sisi window sebelah kiri, tak lupa mengupas aspek interior. Warna langit-langit dan kulit jok yang membungkus busa Restindo tampak kusam dan memudar, tapi masih worth untuk dipertahankan sementara waktu. Sayang, minus kelengkapan footrest. Di lengkapi pula smooking room, dan satu-satunya bis Bojonegoro yang menyediakannya. Fasilitas audio-video masih dalam batas “layak” dan termanfaatkan sepanjang perjalanan. Paket hiburan di-set up dengan tembang Indonesian Oldies, yang cukup menghanyutkan rangsang pendengaran, yang selanjutnya menstimulus otak untuk bernostalgia membuka kenangan lama. Album kompilasi dari Ratih Purwasih, Iis Sugiarti, Endang S Taurina dan Dina Mariana silih berganti mengisi. Mungkin, pasar penumpang yang dibidik adalah generasi 70-an, seperti Pak Didik, Pak Karnoto dan Pak Irfan. (Hehehe…Piss ya Pak). Kalau buat aku sih kurang sreg, mestinya artis-artis New Pallapa, sekelas Lilin Herlina, Ratna Antika, Agung Juanda atau Vivi Rosalita, nah itu baru cocok. Hehehe…

But, it’s OK untuk urusan entertainment, satu nilai plus lagi untuk service Karina.

Kondisi penumpang baru terisi 1/3 dari kapasitas 28 seat. Not bad, artinya masih bisa mengambil “kue” dari penguasa jalur Bojonegoro, Pahala Kencana. Dan mayoritas mereka makhluk parlente, berpenampilan rapi. Membuktikan kemapanan strata sosial dan ekonomi. Hanya aku yang bersandal jepit. Cuek ah…

Ah, apa gunanya service plus plus tanpa disertai aksi “lari” di jalanan? Harap-harap cemas aku mengharapnya.

Deru knalpot langsung menggelegar, membahana memecah keramaian Kota Sulang, karena posisi pemberhentian bis tepat di tanjakan. Jangan-jangan ini bunyi isyarat bahwa laju bis akan nge-jos nantinya. Setelah paripurna mendaki, aku terhenyak, prediksiku tak meleset, benar-benar kurasakan kuasa tenaga 210 HPnya. Pedal gas digeber habis-habisan menaklukan ruas jalan Sulang-Rembang. Kondisi jalan yang relatif mulus memudahkan driver memacu armadanya secara maksimal. Meski sedikit kurang halus dalam handling kemudinya, namun tidak ada “proyek” penghematan solar, tiada penyelenggaraan aksi netral dan jauh dari istilah jalan ogah-ogahan. Penuh determinasi. Bahkan yang kurasakan adalah naik Lorena rasa Nusantara. Beda banget dengan “wajah” empat tahun yang lalu. Seikat titik terang telah kugenggam, bahwa The Legend memang bangkit kembali.

Agen Rembang kosong penumpang, hanya numpang lewat. Duh…duh…jangan-jangan ya cuma segini penumpangnya. Belum terpikir meraup keuntungan, bagaimana menutup biaya operasional? Ini sudah masuk area Muria Raya, ceruk pasar makin dangkal, makin banyak raja-raja kecil yang jadi pesaingnya dalam memperebutkan penumpang.

Memasuki jalur Pantura, aksi Karina produk 040 tak berkurang. Tetap menawan di bawah kendali driver setengah baya, yang menandakan jam terbang tinggi. Barisan truk-truk barang dilahapnya satu persatu, meliuk ke kanan ke kiri, pandai memanfaatkan celah sesempit mungkin. Ck…ck…ck…aku hanya bisa berdecak kagum. Mantap, bisa jadi hiburan malam ini kalau driver konsisten dengan style-nya.

Bis bintang empat ini masuk agen di Terminal Juwana. Wow…jangan-jangan Kota Bandeng adalah kawasan green forces, belasan penumpang mengisi seat yang masih kosong, tersisa dua kursi lagi yang sudah di booking agen Kudus. Ah, siapa bilang Si Ijo ditinggal penumpangnya? Biarpun luntur pesona, masih banyak juga pecintanya.

Dan menuntaskan intermediate Rembang-Semarang, bis ini masih layak dinominasikan sebagai anggota dewan PBB (Persatuan Bis Banter). Aku yakin, bagi penggemar jet darat, tak rugi sepeserpun bila saat itu satu bis denganku.


Namun, bagiku itu belum final. Ujian sesungguhnya untuk mengukur kedahsyatan sang maestro ada di kosmos per-bis-an tanah Jawa, yakni jalur Semarang ke barat, yang merupakan titik pertemuan tiga jalur, yakni Solo, Jogja dan Kudus sendiri. Pasti akan ketemu lawan sejenis. Berhubung aku berniat jadi juri penilai, kupaksakan diri untuk menyisihkan rasa kantuk, yang biasanya sudah membuatku lelap selepas Kota Demak.


Minggu, 10 Januari 2010

Obituari Gus Dur; Mangkatnya Wali Pluralisme dan Demokrasi

Menjelang penghabisan kalender lunar 2009 yang tinggal menyisakan dua hari lagi, di ambang detik-detik pelampiasan euforia ritual dalam menyambut pergantian tahun, di tengah carut marut pengungkapan dugaan centurygate yang menyeret Menkeu Sri Mulyani dan Wapres Boediono, serta launching buku “Membongkar Gurita Cikeas” hasil tusukan pena GJ Aditjondro yang menyengat orang-orang dalam lingkaran istana, lembayung senja 30 Desember mengabarkan warta mengagetkan.

-- Gus Dur telah berpulang… --

Innalillahi wainnailahi rajiun… sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.

Bumi nusantara meradang, air mata ibu pertiwi menitik. Duka itu begitu mendalam, mengguratkan kesedihan yang tak terperi di hati rakyat Indonesia. Sisi logika membungkam keniscayaan, bahwa setiap yang bernyawa pasti akan ditimpakan kematian. Seakan bangsa ini tidak mau legowo menerima titah penguasa alam. Figur Gus Dur yang masih sangat-sangat dibutuhkan untuk mengawal perjalanan demokrasi yang mulai berlari-lari kecil dari sebelumnya lumpuh, telah paripurna menyempurnakan ke-khalifahan-nya.

Bagiku sendiri, yang tumbuh dan besar di “entitas kaum sarung-an”, Nahdlatul Ulama (NU), nama Gus Dur lekat terpatri dalam lubuk sanubari, mendarah daging. Ibaratnya, NU dan Gus Dur adalah satu kesatuan tunggal yang tak bisa dipisah-pisahkan. Bicara tentang NU, sama saja membicarakan Gus Dur, begitupun sebaliknya. Bagi warga nahdliyin, Gus Dur tak ubahnya wali, superman, yang selalu ditunggu wejangan-wejangannya, diteladani tindak tanduknya dan diharap karomah dan keberkahannya. Kunjungan cucu pendiri NU ini ke daerah-daerah untuk menebarkan ceramah-ceramah pencerahan tak pernah sepi, selalu dibanjiri santri-santrinya. Karena mereka menahbiskan, Gus Dur adalah ulama nomor wahid dan ulama adalah penerus para nabi.

Masih ingat ketika jaman kuliah di Kota Gudeg akhir 90-an silam, dan kala itu sedang musim kampanye parpol menghadapi Pemilu 1999. Mendengar berita Gus Dur hendak jadi jurkam partai yang dibelanya, demi mewujudkan obsesi lamaku untuk melihat Gus Dur secara langsung, aku pun menyamar menjadi partisan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). (Padahal belum tentu partai bintang sembilan itu jadi pilihan suaraku). Kenekatanku hanya semata ingin mendengar guyonan khas ala Gus Dur, bukan retorika politiknya, yang konon pasti tersentil di setiap acara yang menghadirkan Gus Dur. Berbekal kaos partai dan motor Grand Impressa-ku untuk show of force keliling Jogja, arak-arakan berhenti di Stadion Kridosono, tempat kampanye dipusatkan.

Dan perkiraanku tak meleset. Dalam kampanye terbuka tersebut, setelah sesi Matori Abdul Jalil (alm) berkoar-koar membujuk massa, gantian Gus Dur memberikan orasi yang menyemangati konstituennya agar nanti mencoblos partai yang saat itu mendapat nomor urut 35.

Dalam orasinya, Gus Dur menyampaikan ke-jenaka-an yang bernas saat menjewer partai-partai lain yang meng-klaim dirinya partai orang NU.

Kurang lebih Gus Dur berujar, “ NU itu ibarat ayam, PKB adalah telurnya dan partai lain adalah t*inya”. :)

Tidak penting untuk dibahas maksudnya yang jelas-jelas implisit, namun demikianlah cara Gus Dur meneguhkan pendapat dan pandangannya. Mencubit tapi yang dicubit tidak merasa tercubit.

Banyak sikap dan kebijakannya yang sifatnya menentang arus, yang ujung-ujungnya menuai protes, pro dan kontra dan terkesan ambigu. Karena memang Gus Dur dilahirkan sebagai orang yang menentukan jalan hidupnya sendiri, meski pilihannya sulit diterima oleh orang yang berpandangan sempit. Di antaranya kedekatan dengan Perdana Menteri Israel, Simon Peres, de-politisasi ulama dengan mereposisi NU agar kembali ke khittah-nya, statemen tentang Megawati adalah pemimpin perempuan masa depan, ucapan “assalamu alaikum” boleh digantikan selamat pagi, kasus Buloggate dan Bruneigate, penolakan terhadap TAP MPR yang melarang ajaran komunisme di Indonesia serta gagasan agar mantan presiden Soeharto diadili, hartanya disita dan selanjutnya dimaafkan.

Gus Dur seakan dihadiahkan kosmos jagad raya sebagai pemimpin bagi bangsa Indonesia. Konstelasi tiga kutub kekuatan politik yang berseberangan pascapemilu, yakni kubu orba, pihak islam, dan para nasionalis pendukung presiden wanita kian menajam. Tanpa bersusah payah, tanpa perlu mencari dukungan, terlebih lobi-lobi tingkat tinggi, Gus Dur lah sosok yang tepat, zero risk, diterima semua golongan, serta paling kecil tingkat resistensisnya sehingga sejarah mengangkatnya sebagai presiden RI ke-4, kendati awalnya Gus Dur menolak dicalonkan Namun, itupun cuma sebentar duduk di tampuk kepemimpinan RI I, karena lagi-lagi aksi kontroversialnya yang susah dipahami anggota dewan yang akhirnya meng-impeachment dari jabatannya.

Justru, singkatnya waktu saat menakhodai kapal MV Indonesia Tercinta menelurkan banyak jasa demi kemajuan iklim demokrasi dan pluralisme di ranah persada. Mulai menghapus status tahanan politik eks PKI dan keturunannya, suaka bagi kaum minoritas etnis Tiongha dengan diakuinya agama Konghucu sebagai agama resmi, hingga mengapresiasi tinggalan budayanya seperti perayaan Imlek dan pergelaran Barongsai.

Tak dapat dipungkiri, peran Gus Dur sangat luar biasa dalam membangun fondasi masyarakat sipil, toleransi kehidupan beragama, multikulturalisme, dan humanisme universal. Perannya begitu sentral dalam meng-goal-kan tujuan berdirinya republik ini. Sekat-sekat primordial didobrak, fundalisme ajaran tertentu digugat, protokolisme dan sakralisasi lembaga kenegaraan ditebas, serta image pesantren adalah simbol ke-konservatif-an umat Islam disulapnya, berganti paham pluralisme, inklusivisme, egaliterisme dan modernisme.

Sosok Gus Dur menggoreskan warna cerah gemilang di atas kanvas demokrasi, mengukir indah jejak-jejak peninggalan pemikiran tentang kebebasan, kemajemukan dan keberagaman, menebarkan aroma harum makna dan hakikat ke-bhineka-an dalam bingkai toleransi, menguncup-mekarkan de-formalisasi warisan feodalisme serta meninggikan derajat dan kiprah umat Islam di kancah politik yang sejak negara ini berdiri berbaju sekuler.

Seribu satu talenta tertanam dalam raganya yang ringkih. Namun, dalam kesempitan halangan fisik, terkandung samudra jiwa nan bersahaja dan sederhana. Bukan sekedar kyai ataupun ulama, beragam gelar baik yang bersifat official maupun non-official, cendekiawan muslim, intelektual-moralis, politikus, budayawan, kolumnis, analis bola, pengamat film, guru bangsa, tokoh pemersatu, pengayom kaum minoritas, ketua ormas terbesar keagamaan di tanah air, hingga RI-1 digenggamnya.

Dia tak hanya duta Islam, dia milik semua anak bangsa, lintas agama, lintas suku, lintas budaya, lintas ras, lintas profesi, lintas strata ekonomi serta lintas generasi. Semua berhak merasa memilikinya, meski terkadang kita kurang dewasa dan cenderung ke-kanak—kanak-an dalam menilai ucapan, kebijakan dan sikapnya yang kita pandang "membingungkan".

Namun, kini Gus Dur tinggal kenangan. Bunga-bunga rampai pesona Gus Dur menghias langit Indonesia. Sepak terjangnya, guyonan segar lagi cerdas, sikap dan ucapan kontroversial, aksi jurus maut dewa mabuk dalam menghadang “lawan-lawan” politiknya, ceramah intelektual nan mencerdaskan, tausiyah-tausiyah yang menggugah serta gagasan briliannya tak akan lagi ada. Membuat kita termangu, bahwa sebenarnya kita belum siap ditinggal pergi Gus Dur.

Belum tentu 100 tahun mendatang akan lahir insan fenomenal selevel Gus Dur.

Selamat jalan Gus…Engkau boleh pergi, namun torehan jasa bhakti, pengabdian dan sumbangsih perjuanganmu tak akan pernah pergi dari buku catatan perjalanan bangsa ini.






Hendri Mulyadi “Ad-Dhakil”, Sang Pendobrak…

Dari balik layar kaca, terlihat menit pertandingan menapak masa injury time. Papan skor masih mempertontonkan angka 2-1 untuk keunggulan Oman atas Laskar Merah Putih. Ibarat kata, hanya mukjizat dari langit yang bisa menyulap skor sementara tersebut, menjelmakan kemenangan bagi Indonesia. Hasil imbang pun tak banyak menolong, pintu peluang lolos ke final Piala Asia 2011 praktis tertutup. Dari empat pertandingan yang paripurna dijalani, skuad racikan Benny Dolo hanya mampu meraup nilai tiga, hasil tiga kali seri dan sekali mencatat kekalahan.

Di sisi luar lapangan, puluhan ribu suporter yang menjejali tribun serentak gusar, risau serta harap-harap cemas. Bayangan kegagalan Bambang Pamungkas cs melenggang ke fase berikutnya jadi momok menakutkan yang menyergap atap Senayan. Capaian spektakuler, yakni tradisi lolos ke babak final gelaran sepakbola paling bergengsi di tingkat Asia ini, semenjak keikutsertaan timnas pada tahun 1996, terancam ternoda oleh hasil minimalis pertandingan yang lagi dihelat.

Peluit panjang tinggal menghitung detik. Wasit asal Malaysia, Muhammad Saleh Subkhidin, sesekali melirik jam tangan penghitung waktu mundur, agar laga selesai on time.

Tiba-tiba secara mengejutkan, dari salah satu sektor tribun stadion menyeruak seorang fans ke tengah lapangan. Bagaimana dia bisa menembus barikade keamaman, tak banyak yang tahu. Karena sorot mata hadirin concern tertuju pada sodoran-sodoran bola di atas lapangan, berharap masih ada kans bagi Tim Garuda untuk mencetak gol.

Permainan otomotis terhenti oleh atraksi nekatnya. Si penyusup itu kemudian melakukan steal si kulit bundar dari kaki pemain Oman. Dan bak seorang pemain profesional, pemain ke-12 timnas itu kemudian menggiring bola solorun ke depan gawang Oman. Saat tinggal berhadapan one by one dengan kiper Ali Al-Habsi, dia berupaya memasukkan bola ke gawang. Tapi sayang, kegesitan kiper yang membela klub Inggris, Bolton Wanderers, menggagalkan tendangannya.

Sontak, pihak keamanan kelabakan dibuatnya. Belasan orang, yang terdiri dari polisi dan panitia pertandingan menyerbu untuk menghentikan tindakannya. Sang infiltrator itu menyerah, dan tampak pasrah dibekap tangan-tangan kekar mereka. Setelah lapangan steril, pertandingan dilanjutkan kembali. Dan kedudukan tetap tak berubah. Nasib timnas meradang, posisinya karam di dasar klasemen. Dan tragisnya, masuk kotak secara prematur.

Kecewakah para suporter fanatik timnas?

Bila melihat hasil akhir, tak usah didebat pasti berujung kesedihan. Nestapa bangsa di awal tahun. Karena baru tahap Piala Asia inilah timnas kita mampu pamer kiprah di hadapan dunia. Merasai FIFA World Cup hanyalah angan-angan kosong, retorika semata, pertanyaan tanpa pernah ada jawaban.

Tapi, kekecewaan massal itu sejenak terlupakan, terhibur oleh ulah konyol seorang suporter gokil tersebut. Yang jelas, aksi itu meledakkan gelak tawa sesaat, meneduhkan hati yang sedang terluka menyaksikan kenyataan pahit Ponaryo Astaman “wajib” angkat koper pagi-pagi.

Namun, tidak demikian dengan pikiran spontanitas-ku (dan mungkin saja yang sependapat). Malah beda suara menyikapi adegan jenaka lagi langka di dunia olahraga. Kata-kata serapah, “konyol”, “memalukan”, “psikopat”, “wong edan”, “ngawur”, “menginjak-injak nilai sportivitas”, “cari perhatian”, “unjuk sensasi”, “mencoreng muka bangsa” hingga “state's enemy”, menunggu untuk diluapkan.

Mengapa kalau sekedar mencari ketenaran instan dengan cara menjijikkan? Walaupun hanya pertandingan regional, sejatinya nama dan citra negara sedang dipertaruhkan. Jangankan kejadian di atas, lemparan gelas air mineral ke lapangan adalah dosa besar di mata internasional.

Mengapa hanya demi sensasi murahan mesti mengotori wajah ibu pertiwi? Bukankah it’s just a game, kalah menang adalah keniscayaan? Gara-gara satu orang gila, tercoreng wajah Sabang sampai Merauke, gerutuku.

Tak sabar menelusuri jejak si penyusup dan dalih apa yang mendasarinya, kukorek-korek beritanya. Dan malam harinya kudapatkan seputar pemberitaannya.

“Saya melakukan itu karena kecewa atas prestasi timnas Indonesia yang tak pernah menang. Selalu kalah, bahkan selalu seri. Saya minta maaf atas ulah saya ini, kepada seluruh masyarat sepakbola tanah air. Dikira gila? Saya pasrah saja biar masyarakat yang menilai, jujur saya kecewa sama timnas Indonesia yang nggak bisa menang,” ungkapnya jujur saat ditanya para wartawan di ruang interogasi di kompleks Stadion Gelora Bung Karno.

What??? Is it true???

Seketika pipiku tertampar keras oleh ucapan polos si pelaku, yang sebelumnya kuberi gelar “Game’s Destroyer” itu.

Bagiku, itulah ungkapan dari lubuk terdasar nurani seorang anak bangsa yang begitu dalam cintanya terhadap sepakbola nasional, yang sekaligus mewakili curahan hati yang sama seluruh rakyat Indonesia.

Apa kurang sabarnya penggila bola tanah air ini? Sekian tahun berharap torehan prestasi manis yang tak kunjung tiba, terakhir “hanya” mendapat emas di Sea Games 1991, tak serta merta menanggalkan kebanggaan mereka pada timnas. Garuda tetap di dadaku, tekat mereka. Biarpun perbaikan nasib sepakbola nasional hanya jalan di tempat, makin ditinggal “berlari” oleh negara-negara jiran di kawasan Asia Tenggara, tak menyurutkan kesetiaan mereka. –Bad or good, this is Indonesian football

Namun, kecintaan mereka kurang direspon secara total oleh petinggi-petinggi PSSI. Justru yang terjadi, mereka terkesan men-sakralisasi dan men-delegitiminasi organisasi tertinggi yang menaungi sepakbola nasional. Seolah mendirikan rezim yang un-touchable. Kursi-kursi jabatan yang mereka diduduki sulit didongkel, demi penyegaran kepengurusan.

Manajerial yang amburadul, pola pembinaan yang tak terstruktur, carut-marut tata kelola kompetisi domestik, inkonsistensi program-program pembentukan timnas, dugaan suap di ranah “pengadilan lapangan”, adu jotos para pemain di ajang pertandingan, keributan antar suporter, bahkan sempat kendali organisasi dijalankan dari balik jeruji besi, kengototan menggelar even tuan rumah Piala Dunia 2022, teguran, sangsi serta denda dari otoritas bola dunia adalah sederet galery kesuraman wajah persebakbolaan nasional.

Kadang kita berpikir pragmatis, dari 240 juta-an anak-anak bangsa, apa susahnya mencari belasan pemain-pemain bertalenta tinggi, untuk kemudian dibina, diramu dan dicetak menjadi sebuah kesebelasan yang disegani negara lain?

Justru, tanpa ada gelar yang membanggakan, para punggawa PSSI melanggengkan “status quo”nya, tanpa ada kepekaan untuk merespon tuntutan pembenahan di tubuh PSSI. Mereka seolah lupa, PSSI bukanlah milik segelintir orang, tapi cerminan harga diri bangsa.

Kini datanglah “ad-dakhil”, sang pendobrak, Hendri Mulyadi. Dialah pahlawan kecil, berdarah merah dan berjiwa militan, yang secara eksplisit berani memberi pelajaran dengan menjewer kebebalan mereka selama ini.

Sebelum laga Indonesia versus Oman, dia bukan siapa-siapa, tapi kini semua pecinta bola tanah air mengenalnya. Dialah orang biasa yang tanpa takut menohok secara terang-terangan para pembesar PSSI atas ketidakbecusan mengelola olahraga yang paling dicintai rakyatnya, meski dengan cara bodoh yang diyakininya akan lebih menggema gaungnya. Justru, dialah yang sebenarnya menjadi man of the match pertandingan krusial malam itu.

Jutaan pecinta bola sudah haus tak tertahankan mereguk trofi-trofi bergengsi yang dipersembahkan sebelas orang pesebakbola terbaik tanah air. Kita rindu dengan permainan cantik yang dipentaskan Ribut Waidi, Robby Darwis, Ricky Yakobi, Nasrul Koto, Patar Tambunan, Marzuki Nyak Mad, Rully Nere, Hery Kiswanto, Azhary Rangkuti dkk, dibawah asuhan Bertje Matulapelwa, saat menerbangkan medali emas Sea Games 1987 ke langit biru Indonesia. Apakah kenangan itu sudah cukup, tanpa perlu lagi raihan juara-juara yang lain?

Kapankah kita kembali tegak berdiri dan mendongakkan kepala, membanggakan supremasi serta hegemoni timnas kita atas bangsa lain, meski tidak muluk-muluk, cukup level kawasan Asia Tenggara?

Semoga, “aksi heroik” yang telah diperlihatkan Hendri Muyadi menjadi kilas balik kebangkitan sepakbola nasional…

*aku hanyalah satu dari ratusan juta pecinta bola tanah air…

Jumat, 08 Januari 2010

Hendri Mulyadi “Ad-Dhakil”, Sang Pendobrak…




Dari balik layar kaca, terlihat menit pertandingan menapak masa injury time. Papan skor masih mempertontonkan angka 2-1 untuk keunggulan Oman atas Laskar Merah Putih. Ibarat kata, hanya mukjizat dari langit yang bisa menyulap skor sementara tersebut, menjelmakan kemenangan bagi Indonesia. Hasil imbang pun tak banyak menolong, pintu peluang lolos ke final Piala Asia 2011 praktis tertutup. Dari empat pertandingan yang paripurna dijalani, skuad racikan Benny Dolo hanya mampu meraup nilai tiga, hasil tiga kali seri dan sekali mencatat kekalahan.

Di sisi luar lapangan, puluhan ribu suporter yang menjejali tribune serentak gusar, risau serta harap-harap cemas. Bayangan kegagalan Bambang Pamungkas cs melenggang ke fase berikutnya jadi momok menakutkan yang menyergap atap Senayan. Capaian spektakuler, yakni tradisi lolos ke babak final gelaran sepakbola paling bergengsi di tingkat Asia ini, semenjak keikutsertaan timnas pada tahun 1996, terancam ternoda oleh hasil minimalis pertandingan yang lagi dihelat.

Peluit panjang tinggal menghitung detik. Wasit asal Malaysia, Muhammad Saleh Subkhidin, sesekali melirik jam tangan penghitung waktu mundur, agar laga selesai on time.

Tiba-tiba secara mengejutkan, dari salah satu sektor tribune stadion menyeruak seorang fans ke tengah lapangan. Bagaimana dia bisa menembus barikade keamaman, tak banyak yang tahu. Karena sorot mata “hadirin” concern tertuju pada sodoran-sodoran bola di atas lapangan, berharap masih ada kans bagi Tim Garuda untuk mencetak gol.

Permainan otomotis terhenti oleh atraksi nekatnya. Si penyusup itu kemudian melakukan steal si kulit bundar dari kaki pemain Oman. Dan bak seorang pemain profesional, pemain ke-12 timnas itu kemudian menggiring bola solorun ke depan gawang Oman. Saat tinggal berhadapan one by one dengan kiper Ali Al-Habsi, dia berupaya memasukkan bola ke gawang. Tapi sayang, kegesitan kiper yang membela klub Inggris, Bolton Wanderers, menggagalkan tendangannya.

Sontak, pihak keamanan kelabakan dibuatnya. Belasan orang, yang terdiri dari polisi dan panitia pertandingan menyerbu untuk menghentikan tindakannya. Sang infiltrator itu menyerah, dan tampak pasrah dibekap tangan-tangan kekar mereka. Setelah lapangan steril, pertandingan dilanjutkan kembali. Dan kedudukan tetap tak berubah. Nasib timnas meradang, posisinya karam di dasar klasemen. Dan tragisnya, masuk kotak secara prematur.

Kecewakah para suporter fanatik timnas?

Bila melihat hasil akhir, tak bisa dibantah pasti berujung kesedihan. Nestapa bangsa di awal tahun. Karena baru tahap Piala Asia inilah timnas kita mampu pamer kiprah di hadapan dunia. Merasai FIFA World Cup hanyalah angan-angan kosong, retorika semata, pertanyaan tanpa pernah ada jawaban.

Tapi, kekecewaan massal itu sejenak terlupakan, terhibur oleh ulah konyol seorang suporter gokil tersebut. Yang jelas, aksi itu meledakkan gelak tawa sesaat, meneduhkan hati yang sedang terluka menyaksikan kenyataan pahit Ponaryo Astaman dkk “wajib” angkat koper pagi-pagi.

Namun, tidak demikian dengan pikiran spontanitas-ku (dan mungkin saja yang sependapat). Malah beda suara menyikapi adegan jenaka lagi langka di dunia olahraga. Kata-kata serapah, “konyol”, “memalukan”, “psikopat”, “wong edan”, “ngawur”, “menginjak-injak nilai sportivitas”, “cari perhatian”, “unjuk sensasi”, “mencoreng muka bangsa” hingga “enemy of the state”, menunggu untuk diluapkan.

Mengapa kalau sekedar mencari ketenaran instan dengan cara menjijikkan? Walaupun hanya pertandingan regional benua, sejatinya nama dan citra negara sedang dipertaruhkan. Jangankan kejadian di atas, lemparan gelas air mineral ke lapangan adalah dosa besar di mata internasional.

Mengapa hanya demi sensasi murahan mesti mencoreng wajah ibu pertiwi? Bukankah it’s just a game, kalah menang adalah keniscayaan? Gara-gara satu orang gila, tercoreng wajah Sabang sampai Merauke, gerutuku.

Tak sabar menelusuri jejak si penyusup dan dalih apa yang mendasarinya, kukorek-korek beritanya. Dan malam harinya kudapatkan seputar pemberitaannya.

“Saya melakukan itu karena kecewa atas prestasi timnas Indonesia yang tak pernah menang. Selalu kalah, bahkan selalu seri. Saya minta maaf atas ulah saya ini, kepada seluruh masyarat sepakbola tanah air. Dikira gila? Saya pasrah saja biar masyarakat yang menilai, jujur saya kecewa sama timnas Indonesia yang nggak bisa menang,” ungkapnya jujur saat ditanya para wartawan di ruang interogasi di kompleks Stadion Gelora Bung Karno.

What??? Is it true???

Seketika pipiku tertampar keras oleh ucapan polos si pelaku, yang sebelumnya kuberi gelar “Game’s Destroyer” itu.

Bagiku, itulah ungkapan dari lubuk terdasar nurani seorang anak bangsa yang begitu dalam cintanya terhadap sepakbola nasional, yang sekaligus mewakili curahan hati yang sama seluruh rakyat Indonesia.

Apa kurang sabarnya penggila bola tanah air ini? Sekian tahun berharap torehan prestasi manis yang tak kunjung tiba, terakhir “hanya” mendapat emas di Sea Games 1991, tak serta merta menanggalkan kebanggaan mereka pada timnas. Garuda tetap di dadaku, tekat mereka. Biarpun perbaikan nasib sepakbola nasional hanya jalan di tempat, makin ditinggal “berlari” oleh negara-negara jiran di kawasan Asia Tenggara, tak menyurutkan kesetiaan mereka. –Bad or good, this is Indonesian football—

Namun, kecintaan mereka kurang direspon secara total oleh petinggi-petinggi PSSI. Justru yang terjadi, mereka terkesan men-sakralisasi dan men-delegitiminasi organisasi tertinggi yang menaungi sepakbola nasional. Seolah mendirikan rezim yang un-touchable. Kursi-kursi jabatan yang mereka diduduki sulit didongkel, demi penyegaran kepengurusan.

Manajerial yang amburadul, pola pembinaan yang tak terstruktur, carut-marut tata kelola kompetisi domestik, inkonsistensi program-program untuk pembentukan timnas, dugaan suap di ranah “pengadilan lapangan”, adu jotos para pemain di ajang pertandingan, keributan antar suporter, bahkan sempat kendali organisasi dijalankan dari balik jeruji besi, kengototan menggelar even tuan rumah Piala Dunia 2022, teguran, sangsi serta denda dari otoritas bola dunia adalah sederet galery kesuraman wajah persebakbolaan nasional.

Kadang kita berpikir pragmatis, dari 240 juta-an anak-anak bangsa, apa susahnya mencari pemain-pemain bertalenta tinggi, untuk kemudian dibina, diramu dan dicetak menjadi sebuah kesebelasan yang disegani negara lain?

Justru, tanpa ada gelar yang membanggakan, para punggawa PSSI melanggengkan “status quo”nya, tanpa ada kepekaan untuk merespon tuntutan pembenahan di tubuh PSSI. Mereka seolah lupa, PSSI bukanlah milik segelintir orang, tapi cerminan harga diri bangsa.

Kini datanglah “ad-dakhil”, sang pendobrak, Hendri Mulyadi. Dialah pahlawan kecil, berdarah merah dan berjiwa militan, yang eksplisit berani memberi pelajaran dengan menjewer kebebalan mereka selama ini.

Sebelum laga Indonesia versus Oman, dia bukan siapa-siapa, tapi kini semua pecinta bola tanah air mengenalnya. Dialah orang biasa yang tanpa takut menohok secara terang-terangan para pembesar PSSI atas ketidakbecusan mengelola olahraga yang paling dicintai rakyatnya, meski dengan cara bodoh yang diyakininya akan lebih menggema gaungnya. Justru, dialah yang sebenarnya menjadi man of the match pertandingan krusial malam itu.

Jutaan pecinta bola sudah haus tak tertahankan mereguk trofi-trofi bergengsi yang dipersembahkan sebelas orang pesebakbola terbaik tanah air. Kita rindu dengan permainan cantik yang dipentaskan Ribut Waidi, Robby Darwis, Ricky Yakobi, Nasrul Koto, Patar Tambunan, Marzuki Nyak Mad, Rully Nere, Hery Kiswanto, Azhary Rangkuti dkk, dibawah asuhan Bertje Matulapelwa, saat menerbangkan medali emas Sea Games 1987 ke langit biru Indonesia. Apakah kenangan itu sudah cukup, tanpa perlu lagi raihan juara-juara yang lain?

Kapankah kita kembali tegak berdiri dan mendongakkan kepala, membanggakan supremasi serta hegemoni timnas kita atas bangsa lain, meski tidak muluk-muluk, cukup level kawasan Asia Tenggara?

Semoga, “aksi heroik” yang telah diperlihatkan Hendri Muyadi menjadi kilas balik kebangkitan sepakbola nasional…

*aku hanyalah satu dari ratusan juta pecinta bola tanah air…

Selasa, 05 Januari 2010

Obituari Gus Dur; Mangkatnya Wali Pluralisme dan Demokrasi



Menjelang penghabisan kalender lunar 2009 yang tinggal menyisakan dua hari lagi, di ambang detik-detik pelampiasan euforia ritual dalam menyambut pergantian tahun, di tengah carut marut pengungkapan dugaan centurygate yang menyeret Menkeu Sri Mulyani dan Wapres Boediono, serta launching buku “Membongkar Gurita Cikeas” hasil pena GJ Aditjondro yang menusuk orang-orang dalam lingkaran istana, lembayung senja 30 Desember mengabarkan warta mengagetkan.

-- Gus Dur telah berpulang… --

Innalillahi wainnailahi rajiun… sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.

Bumi nusantara meradang, air mata ibu pertiwi menitik. Duka itu begitu mendalam, mengguratkan kesedihan yang tak terperi di hati rakyat Indonesia. Sisi logika membungkam keniscayaan, bahwa setiap yang bernyawa pasti akan ditimpakan kematian. Seakan bangsa ini tidak mau legowo menerima titah penguasa alam. Figur Gus Dur yang masih sangat-sangat dibutuhkan untuk mengawal perjalanan demokrasi yang mulai berlari-lari kecil dari sebelumnya lumpuh, telah paripurna menyempurnakan ke-khalifahan-nya.

Bagiku sendiri, yang tumbuh dan besar di “entitas sarung-an”, Nahdlatul Ulama (NU), nama Gus Dur lekat terpatri dalam lubuk sanubari, mendarah daging. Ibaratnya, NU dan Gus Dur adalah satu kesatuan tunggal yang tak bisa dipisah-pisahkan. Bicara tentang NU, sama saja membicarakan Gus Dur, begitupun sebaliknya. Bagi warga nahdliyin, Gus Dur tak ubahnya wali, superman, yang selalu ditunggu wejangan-wejangannya, diteladani tindak tanduknya dan diharap karomah dan keberkahannya. Kunjungan cucu pendiri NU ini ke daerah-daerah untuk menebarkan ceramah-ceramah pencerahan tak pernah sepi, selalu dibanjiri santri-santrinya. Karena mereka menahbiskan, Gus Dur adalah ulama nomor wahid dan ulama adalah penerus para nabi.

Masih ingat ketika jaman kuliah di Kota Gudeg akhir 90-an silam, dan kala itu sedang musim kampanye parpol menghadapi Pemilu 1999. Mendengar berita Gus Dur hendak jadi jurkam partai yang dibelanya, demi mewujudkan obsesi lamaku untuk melihat Gus Dur secara langsung, aku pun menyamar menjadi partisan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Padahal belum tentu partai bintang sembilan itu jadi pilihan suaraku. Kenekatanku hanya semata ingin mendengar guyonan khas ala Gus Dur, bukan retorika politiknya, yang konon pasti tersentil di setiap acara yang menghadirkan Gus Dur. Berbekal kaos partai dan motor Grand Impressa-ku untuk show of force keliling Jogja, arak-arakan berhenti di Stadion Kridosono, tempat kampanye dipusatkan.

Dan perkiraanku tak meleset. Dalam kampanye terbuka tersebut, setelah sesi Matori Abdul Jalil (alm) berkoar-koar membujuk massa, gantian Gus Dur memberikan orasi yang menyengat konstituen agar nanti mencoblos partai yang saat itu mendapat nomor urut 35.

Dalam orasinya, Gus Dur menyampaikan ke-jenaka-an yang bernas saat menjewer partai-partai lain yang meng-klaim dirinya partai orang NU.

Kurang lebih Gus Dur berujar, “ NU itu ibarat ayam, PKB adalah telurnya dan partai lain adalah t*inya”. 

Tidak penting untuk dibahas maksudnya yang jelas-jelas eksplisit, namun demikianlah cara Gus Dur meneguhkan pendapat dan pandangannya. Mencubit tapi yang dicubit tidak merasa tercubit.

Banyak sikap dan kebijakannya yang sifatnya menentang arus, yang ujung-ujungnya menuai protes, pro dan kontra dan terkesan ambigu. Karena memang Gus Dur dilahirkan sebagai orang yang menentukan jalan hidupnya sendiri, meski pilihannya sulit diterima oleh orang yang berpandangan sempit. Di antaranya kedekatan dengan Perdana Menteri Israel, Simon Peres, de-politisasi ulama dengan mereposisi NU agar kembali ke khittah-nya, statemen tentang Megawati adalah pemimpin perempuan masa depan, ucapan “assalamu alaikum” boleh digantikan selamat pagi, kasus Buloggate dan Bruneigate, penolakan terhadap TAP MPR yang melarang ajaran komunisme di Indonesia serta gagasan agar mantan presiden Soeharto diadili, hartanya disita dan selanjutnya dimaafkan.

Gus Dur seakan dihadiahkan kosmos jagad raya sebagai pemimpin bagi bangsa Indonesia. Konstelasi tiga kutub kekuatan politik yang berseberangan pascapemilu, yakni kubu orba, pihak islam, dan para nasionalis pendukung presiden wanita kian menajam. Tanpa bersusah payah, tanpa perlu mencari dukungan, terlebih lobi-lobi tingkat tinggi, Gus Dur lah sosok yang tepat, zero risk, diterima semua golongan, serta paling kecil tingkat resistensisnya sehingga sejarah mengangkatnya sebagai presiden RI ke-4, kendati awalnya Gus Dur menolak dicalonkan Namun, itupun cuma sebentar duduk di tampuk kepemimpinan RI I, karena lagi-lagi aksi kontroversialnya yang susah dipahami anggota dewan yang akhirnya meng-impeachment dari jabatannya.

Justru, singkatnya waktu saat menakhodai kapal MV Indonesia Tercinta menelurkan banyak jasa demi kemajuan iklim demokrasi dan pluralisme di ranah persada. Mulai menghapus status tahanan politik eks PKI dan keturunannya, suaka bagi kaum minoritas etnis Tiongha dengan diakuinya agama Konghucu sebagai agama resmi, hingga mengapresiasi tinggalan budayanya seperti perayaan Imlek dan pergelaran Barongsai.

Tak dapat dipungkiri, peran Gus Dur sangat luar biasa dalam membangun fondasi masyarakat sipil, toleransi kehidupan beragama, multikulturalisme, dan humanisme universal. Perannya begitu sentral dalam meng-goal-kan tujuan berdirinya republik ini. Sekat-sekat primordial didobrak, fundalisme ajaran tertentu digugat, protokolisme dan sakralisasi lembaga kenegaraan ditebas, serta image pesantren adalah simbol ke-konservatif-an umat Islam disulapnya, berganti paham pluralisme, inklusivisme, egaliterisme dan modernisme.



Sosok Gus Dur menggoreskan warna cerah gemilang di atas kanvas demokrasi, mengukir indah jejak-jejak peninggalan pemikiran tentang kebebasan, kemajemukan dan keberagaman, menebarkan aroma harum makna dan hakikat ke-bhineka-an dalam bingkai toleransi, menguncup-mekarkan de-formalisasi warisan feodalisme serta meninggikan derajat dan kiprah umat Islam di kancah politik yang sejak negara ini berdiri berbaju sekuler.

Seribu satu talenta tertanam dalam raganya yang ringkih. Namun, dalam kesempitan halangan fisik, terkandung samudra jiwa nan bersahaja dan sederhana. Bukan sekedar kyai ataupun ulama, beragam gelar baik yang bersifat official maupun non-official, cendekiawan muslim, intelektual-moralis, politikus, budayawan, kolumnis, analis bola, pengamat film, guru bangsa, tokoh pemersatu, pengayom kaum minoritas, ketua ormas terbesar keagamaan di tanah air, hingga RI-1 digenggamnya.

Dia tak hanya duta Islam, dia milik semua anak bangsa, lintas agama, lintas suku, lintas budaya, lintas ras, lintas profesi, lintas strata ekonomi serta lintas generasi. Semua berhak merasa memilikinya, meski terkadang kita kurang dewasa dan cenderung ke-kanak—kanak-an dalam menilai ucapan, kebijakan dan sikapnya yang kita pandang kontroversial.

Namun, kini Gus Dur tinggal kenangan. Bunga-bunga rampai pesona Gus Dur menghias langit Indonesia. Sepak terjangnya, guyonan segar lagi cerdas, sikap dan ucapan kontroversial, aksi jurus maut dewa mabuk dalam menghadang “lawan-lawan” politiknya, ceramah intelektual nan mencerdaskan, tausiyah-tausiyah yang menggugah serta gagasan briliannya tak akan lagi ada. Membuat kita termangu, bahwa sebenarnya kita belum siap ditinggal pergi Gus Dur.


Belum tentu 100 tahun mendatang akan lahir insan fenomenal selevel Gus Dur.

Selamat jalan Gus…Engkau boleh pergi, namun torehan jasa bhakti, pengabdian dan sumbangsih perjuanganmu tak akan pernah pergi dari buku catatan perjalanan bangsa ini.