Kamis, 01 Juli 2010

Karena Kesetiakawanan Itu Mahal Harganya (2)


Setelah berpamitan dengan duo member of BMC Jabodetabek itu, kususuri selasar panjang armada The New generation of Setra untuk mencapai bagian rear cabin.

Saat hendak menghempaskan tubuh…alamak!!!, guyonanku jadi kenyataan. “Si dia” bermukim di bangku 29, persis di sampingku. Seketika itu pula suasana hatiku bercampur aduk. Antara percaya tak percaya kok ndilalah berjodoh dengan komunitas seberang, senang sebab malam ini bakal jadi malam yang mengasyikkan, (andai saja benar) bisa duduk bersebelahan dengan sesama buslover, harap-harap cemas dikarenakan kali ini harus berhadapan langsung dengan orang yang berlainan “bendera” dan juga dikungkung kebingungan untuk bersikap. Haruskah dengan “tetangga baru” aku nanti memasang tingkah cuek bebek, pura-pura tak tahu, ataukah mengulurkan tangan menjalin solidaritas, ataukah mengajak berkonfrontasi tentang “mahdzab” yang dianut.

Ah, mengapa aku terjebak dalam primordialisme sempit begitu. Sekarang ini, aku dan dia senasib sejalan, diikat dalam kesamaan armada , dipersatukan oleh satu jurusan dan berteduh di atap yang serupa, NS 19. Selama ini dalam setiap perjalananku, sebisa mungkin mengakrabkan diri dengan teman sebangku, tak membedakan usia, gender, kelas sosial ataupun dinding kesukuan. Karena bagiku, kita bukan lagi pribadi nafsi-nafsi, namun telah dibangun menjadi keluarga sesaat oleh bus yang hendak membawa kita pada tujuan akhir masing-masing.

Kali ini kutanggalkan dulu “baju kebesaraanku”, BMC. Kalau ada kesempatan, pasti “si dia” akan aku ajak bertegur sapa, berkenalan dan ngobrol tentang apa saja. Toh, tak ada ruginya berteman dengan siapapun, bukan?

Tapi tetap kuingat yel-yel salam damai, “Elu asyik gua santai, elu ngusik gua bantai”. (Hehe…just joke)

Bis berkode lambung HS 184 ini melenggang keluar meninggalkan sarang persinggahannya. Beruntung mendapatkan “Raja Singa” yang relatif muda, tak setua HS 157 yang kunaiki sebelumnya. Performanya masih mumpuni dan suspensi udaranya cukup mentul-mentul untuk menopang kenyamanan penumpang.

Herannya, belum lama take off, “si dia” sudah menjulurkan selimutnya dan memejamkan mata. Memang, aku belum sempat “say hello”, tapi hal itu membuatku bimbang. Jikalau benar dia punya darah bismania yang terbenam dalam urat nadinya, itu bukanlah ciri-ciri seorang bismania. Sudah jamak lumrahnya, manusia-manusia aneh itu pasti akan menikmati perjalanan di atas bus dengan menyimak live show apa saja yang ada di depan, di dalam, di samping atau (kalau bisa) di belakang bus.

Tapi, yang satu ini malah kebalikannya. Jangan-jangan, “si dia” bukan anak sebelah yang Mas Riko dan aku maksud. Itu hanya soal kemiripan wajah saja. Masa bodoh ah, mau apapun yang diperbuat, itu urusan dia. Aku harus hargai dia sebagai penumpang.

“Mas, mau kemana?” sapaan seseorang di seberang lorong mengagetkanku, saat roda-roda bus hendak memasuki gate entry Pedati, Prumpung.
“Rembang Mas, sampeyan?” balasku.
“Loh, sama Mas, cuma aku turun Lasem.”

Ternyata, bukan aku yang mendahului membuka “forum dadakan”. Inilah enaknya kalau orang satu kampung halaman dipertemukan dalam satu bus, jadi cepat intim. Dari perbincangan ringan, akhirnya aku tahu bahwa kenalan baruku itu adalah orang yang profesinya bergelut dengan batik Lasem. Sehingga aku berhasil menguak cerita dan seluk beluk tentang dunia batik tulis Lasem yang adiluhung itu. Bahkan, beliau mengajakku untuk mengunjungi galery batiknya yang tak jauh dari pool pusat PO Tri Sumber Urip.

Bis pun terus berlari, memamerkan dominasinya. Soal attitude pengemudi-pengemudi besutan Pak Hans, tak usah ditanya lagi. Full speed dan ngeblong abis, menyibak lalu lalang pengguna jalan. Bagi penggila kecepatan dan Pantura race interest, nama HS dan CN selalu masuk topchart “the speed that you can trust”. Dan itulah salah satu pasal yang sanggup membunuh kebosananku meski sebagian besar turing mingguanku kuhabiskan bermalam di dalam “omah mlayu” PO Nusantara.

Sayang, laju Scania K124iB tersendat di daerah Ciberes. Tentu bukan karena keisengan kru untuk mengintip aktivitas terlarang di dalam kompleks warung remang-remang yang berderet di pinggir jalan Pantura Subang. Bukan pula untuk memelototi wanita-wanita penggoda syahwat lelaki yang memajang diri di depan posnya, menebarkan aroma BB17+ + dengan busananya nan seronok dan dandanannya yang menor. Melainkan adanya proyek perbaikan jalan di sekitar Pasar Ciasem, yang buntut kemacetannya telah memanjang hingga mencapai “black area” ini.

Pelan tapi pasti, bus yang bernopol K 1436 BB bisa memindahkan posisinya ke depan. Kendaraan makin berjubel dan terlihat makin tak terkendali etika berlalu lintasnya. Yang dari belakang menyodok dengan mengambil jalur berlawanan (arah Jakarta) sedangkan yang berada di jalur yang benar mulai mengambil lajur paling mewah (mepet sawah) alias bahu jalan. Tak terkecuali NS 19 ini.

Dipandu NS 01 di depannya yang tadi berhasil menyusul, diserobotnya jalan tanah yang kondisinya cukup labil. Karena sering diterjang aneka ria mobil roda empat ke atas, kontur tanahnya jadi tak seragam, naik turun. Di satu sisi membentuk cekungan, di sisi yang lain jadi gundukan. Bus pun oleng kanan kiri dan ajrut-ajrutan, karena nekat mengambil jalan yang mestinya tidak safe lagi buat dilewati.

Sedikit demi sedikit, akhirnya bisa bergeser hingga di depan kantor Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Sukamandi. Sampai di sini, barisan NS 01 dan NS 19 benar-benar berhenti. Aku pikir memang stag karena kemacetan demikian akutnya. Kubaca jam yang nangkring di kiri depan interior, 21.15. Kuputuskan untuk tidur, karena mata tak kuat lagi melawan musuh biologis yang berupa kantuk. Zzz…zzz…zzz…

Kurasakan bus diam tak bergerak dan lambungku berteriak minta dipenuhi disebabkan siang harinya melalaikan ritual lunch. Kubuka mata, kulihat jam digital memampangkan angka 23.11, menelisik sekeliling dan haaa??? Hampir dua jam tak ada perubahan, masih terdampar di seberang BB Padi, Sukamandi. Di samping kanan, antrian kendaraan masih mengular, meski kondisinya padat merayap. Trio Tegal-an – Sinar Jaya, Dewi Sri dan Dedy Jaya -- bergantian minta permisi lewat. Di depan, pemandangan masih diisi pantat NS 01. Jangan-jangan NS 19 ini sedang trouble. Tapi kok tak ada tanda-tanda ada perbaikan? Mengapa jalur paling kiri tetap tak bergerak?

Entahlah apa yang terjadi. Kulanjutkan acara my sleeping sleeping chicken, meksi badanku mulai bergetar dibekap kelaparan yang amat sangat dan kedinginan. Karena tak ada lagi yang kuharap, selain menenangkan diri dengan beristirahat.

Nyala lampu kabin yang terang kembali membangunkanku dan penumpang lain. Sudah sampai RM Taman Sari rupanya. Ck ck ck…pukul 00.40, berarti telat 3 jam dari biasanya.

Ada sedikit pemandangan yang menghiburku dari kegalauan perjalanan ini. Di samping NS 19 terparkir armada terbaru PO Haryanto, MB OH 1526 berjuluk The Phoenix. Kok jam segini baru sampai sini juga ya?
Belum sempat menduga-duga jawabannya, The Sweet Black Red itu malah menjauh dan meninggalkan aku yang takjub terkesima memandang sosoknya. Kapan ya bisa nyicip legitnya si Phoenix itu?

Menu hidangan yang disajikan sudah dingin, hambar dan tak lagi mengundang selera. Demi memenuhi aspirasi perut, kugelincirkan beberapa suap nasi ke dalam kerongkongan.

Saat menyantap makan kemalaman, datanglah NS 18 di belakang. Tapi kok aneh perujudannya? Bumper depan lepas dan tak terpasang lagi di tempatnya. Seakan ompong tanpa gigi. Apa yang gerangan terjadi dengannya?

Kutanyakan pada driver I Nusantara, yang tengah merokok di teras rumah makan.

“NS 18 kenapa, Pak?”
“Lha ini tadi Mas yang membuat repot. Waktu ambil kiri, roda belakangnya terperosok ke dalam lumpur dan apesnya chasisnya nyangkut, bus tak mau dimajukan lagi. Terpaksa, kita nungguin sambil mencarikan jalan keluarnya.”
“Gimana caranya tadi, Pak?”
“Minta tolong truk tronton yang lewat untuk menariknya, Mas….”

Duh, pantas saja berhenti lama sebagai wujud solidaritas sesama koleganya. NS 18 seri HS 173 ini tho biang keladinya…

Karena Kesetiakawanan Itu Mahal Harganya (1)


Rinai gemiris yang sedari sore turun kian menampakkan amarahnya. Semakin lama semakin deras mendera. Bentang langit menghujami bumi dengan milyaran bulir air, laksana busur raksasa yang memberondongkan anak-anak panahnya.

Hujan itu mengingatkanku akan perjalanan Rembang-Jakarta sepekan sebelumnya. Betapa anomali musim – mestinya bulan-bulan ini menapak fase kemarau – begitu menyiksaku, hingga aku bersama teman-teman kelana berjibaku melawan pekatnya malam dalam guyuran hujan, menghalau rintang berupa “bopeng-bopeng jalanan” yang disuguhkan medan Pantura, meredam panasnya atmosfer kehidupan di atas jalan raya, demi meringkas waktu memangkas jarak 600-an km yang harus kami lalui dari balik mobil small MPV.

Perlahan, senja mulai merambat naik. Sementara aku masih terpaku di emper kost-an. Gemuruh bunyi misil-misil cair ketika menghantam atap seakan mengisyaratkan bahwa alam untuk sekian kalinya akan menguji hajat mingguanku. Dada bergemuruh, lidahpun getir, dan keraguanku memadat, menatap lapisan mendung gelap yang bersiap menyetubuhi seantero wilayah ibukota. Beuh…ujian apalagi ini yang mesti aku hadapi?

Andaikan saja Sabtu pagi tak ada undangan mantenan sepupuku di Sidoarjo, Jatim, kutunda saja rencana pulang ngetan sore ini. Bisa kuundur Jumat pagi untuk menunaikan agendaku. Toh, aku juga belum mengantongi tiket, tak terikat janji dengan agen ataupun jadwal keberangkatan bus. Lebih baik berdiam diri di sini, menghabiskan malam meringkuk dalam hangatnya peraduan di kamar sederhana ini.
Ugh, tapi sudah kepalang tanggung. Jumat dan Senin depan sudah kurengkuh sebagai my offworkdays, hari-hari cutiku. Mosok, slottime yang melimpah ruah justru aku habiskan dalam kesendirian, bukannya berkumpul dengan keluarga. Alangkah tidak bijaknya aku ini.

Kulirik jam yang bersandar di dinding yang selama ini setia menjadi penunjuk waktu bagiku. 17.35. Hmm…masih ada satu jam lagi untuk memburu departure bus-bus Muria Raya dari Rawamangun. Tapi apa ya mungkin, dengan kondisi hujan lebat dan potensi kemacetan yang ditimbulkannya, aku bisa mengejarnya? Ah, segera kutepis bayang-bayang kekhawatiran itu. Aku belum mencoba, mengapa aku jadi pengecut?

“Aku harus pulang sekarang, tak kuacuhkan seberat apapun halangannya…” demikian tekad yang kusemai dalam benakku.

Yang kupertimbangkan pertama adalah moda transportasi apa yang akan meng-assit ke Terminal Rawamangun. Tampaknya taksi bukan lagi alternatif, satu-satunya yang bisa kuandalkan adalah angkutan roda dua.

Kukeluarkan gadget usang, memanggil ojek langganan yang biasa mengantarkan ke Pulogadung ataupun Rawamangun. Tapi sayang…

“Maaf Mas, saya lagi ngga narik…” jawabnya di ujung telepon.

Matek aku.

Tanpa banyak berhitung, nekat kuterjang deraian “tirta nirwana” yang semakin tak terhitung intensitas serbuannya. Kususuri jalan sepanjang 50 m yang menghubungkan rumah tumpanganku dengan jalan besar, mencari angkot APB 02 yang biasa membawaku ke Simpang Lima Semper, pusat mangkalnya para tukang ojek.

Tapi, petang itu lain dari biasanya. Pangkalan Semper itu mendadak sepi. Cuma ada segelintir ojekers yang “tabah” untuk tetap mengadu nasib di ambang malam.

“Pak, antar saya ke Rawamangun, ya!”
“Baik Mas…”
“Tapi ada mantel kan, Pak?”
“Ada Mas, tapi kecil…”

Aduh, ini mah mantel anak-anak, saat aku ditunjukkan piranti penangkal hujan yang cupu dan supermini itu. Wis lah, gapapa…yang penting bagian leher ke atas aman dari serangan hujan.

Tak kupedulikan lagi jalur mana yang dipilih Pak Ojek untuk mencapai Rawamangun. Kepalaku kubenamkan di punggungnya, sembari meretas asa, semoga lancar dan terjauhkan dari kemacetan yang merupakan momok harian warga Jakarta.

Butir-butir air yang menganak sungai di permukaan jas hujan jatuh menetes, membasahi pundak dan lenganku. Seringkali air yang menggenang di jalanan terpercik ke arah kaki, disibak tapak-tapak roda kendaraan yang membelahnya. Jaket hitam dan celana panjang yang kukenakan mulai diresapi air, membuat kulitku mencumbui kesejukannya. Bbbrrr…begitu dingin.

Kukembangkan payung sesaat setelah mendarat di pelataran Taman Surgawi, Rawamangun. Hujan pun tak meredakan tensinya, seolah meruntuhkan segenap isi awang-awang. Kucoba calling Mas Medriko, yang berniat menemani sebelum melepas keberangkatanku. Tapi tak ada respon. Mungkin terjebak macet, pikirku.

Kususuri emplasemen terminal eksekutif ini. Row pemberangkatan dihiasi Shantika Ijo Tosca, Senja “Pinky” Furnindo dan quatro Karanganyar, NS 18, NS 19, NS 01 dan NS 04. Sedang laskar Jepara yang lain, Muji Jaya, belum satupun menampakkan diri.

“Lho, Mas, pulang Rembang? Biasanya dari Pulogadung?” tegur seseorang berkemeja merah putih colourmark PO Nusantara.

Wah, ternyata Pak Rokhim, eks driver NS 39 yang sekarang naik derajat mempiloti armada Scania.

“Eh, iya Pak. Habis baru bisa pulang setelah jam kantor,” kilahku.
“Ikut busku saja, Mas, aku bawa NS 19 kok, dijamin sampai Rembang…” beliau menawarkan diri.

Tak pelak, ajakannya benar-benar menghimpit kebebasan dan mengerucutkan pilihanku. Terlebih kupikir, jalan Deandels sedang dikuasai kehancuran, alangkah nyamannya dibuai kenyamanan air suspension makhluk berkebangsaan Swedia ini. Dan juga, perjalanan nanti bakalan kuhabiskan untuk tidur semalaman, bukan menikmati layar hidup menonton para aktor antagonis beraksi di panggung Pantura. Hujan di luar akan semakin memanjakan tubuhku untuk menetap di dalam kabin bus bikinan Adi Putro Wira Sejati ini, tak perlu repot bernomaden andai naik bus jurusan Jepara.

Mungkin, bagi “penumpang nakal” kalimat rayuan dari pengemudi itu berarti dibukanya pintu sarkawi. Namun, aku yakin, reputasi Pak Rokhim yang kalem, nrimo dan tak banyak menuntut saat “memegang” trayek Cepu-Pulogadung, bujukannya itu hanya semata-mata ingin menolongku untuk mempermudah perjalanan. Tak ada udang dibalik batu, tak ada maksud tersembunyi.

Aku segera merapat ke loket yang digawangi Mbak Delima dan puji syukur, masih kebagian seat meski hanya di deret ke-8, nomor 30.
Selesai memenuhi kewajiban yang diperingan, menjama’ sholat Maghrib dan Isya’, tiba-tiba di inbox-ku muncul pesan dari Mas Riko, yang mengabarkan sudah menunggu di depan kantor terminal, tepat di depan armada NS 19.

“Mas, ada anak sebelah naik NS 19 juga lho. Itu orangnya…” itulah pembicaraan pembuka setelah kami berdua berbasa-basi di awal perjumpaan.

Kuamati “si dia” (sebut saja begitu) yang tengah berdiri di samping bus. Samar-samar sepertinya sih iya, soalnya raut mukanya pernah kulihat di salah satu Multiply penggemar bus saat aku melakukan blogwalking.

“Semoga saja duduknya sebelahku Mas, jadi ada teman ngobrol…” candaku pada lajang berjuluk Riko Flanker ini.

Tak lama berselang, Mas Bob Andi tiba untuk bergabung. Barangkali sebagai tombo gelo, karena kemarin tak bisa urun kehadiran di Kopdar Pulang Kerja (KPK) Pulogadung.

Tapi sayang, kebersamaan kami bertiga direnggut corong TOA terminal yang gembar-gembor memaksa penumpang NS 19 untuk bersiap, karena armada telah kehabisan jam berlabuhnya.

Meski hanya sebentar bersua, tapi tak mengurangi kesakralan pertemuan tripartit bismania yang bernaung dibawah panji-panji BMC. Saudara bukan, kerabat juga bukan, tapi ikatan brotherhood sesama member melebihi segalanya. Cuaca yang tidak bersahabat dan jauhnya lokasi kantor dari stamplat bus, tak serta merta memberatkan langkah Mas Riko dan Mas Andi untuk sekedar menjadi teman pengantar perjalanan bagiku. Rasa kesetiakawanan yang ditunjukkan mereka berdua sungguh-sungguh membangunkan mood turingku.

Mas Riko dan Mas Andi pun melepas kepergianku, bak aku ini seorang pahlawan yang hendak maju berlaga di kancah peperangan. Hahahaii…

Kamis, 10 Juni 2010

Dimabuk Neoplan (2)


Berangsur bus-bus luar kota membanjiri Terminal Rawamangun. Antara jam 16.00-17.00 adalah peaktime keberangkatan pasukan-pasukan gerilya malam. Tercatat olehku Sinjay 6DX, Ramayana E3, Rosin 247 dan 278, Lorena LV130, Handoyo Ekonomi, OBL Eksekutif Jogja dan tiga member of Pahala Group.

Pukul 16.35, Neoplan pun diberangkatkan.

Celingak-celinguk…

Weih, banyak mahkluk bening dan wangi yang mengisi daftar manifest penumpang. Ternyata lifestyle mereka bukan selera rendah. Tahu bus mana yang pantas berkimpoi dengan gaya kehidupan mereka. Jika saja Mas Hendi tahu, pasti beliau oke-oke saja dan tak keberatan andai boss-nya menyuruhnya mengirim shower ke Rembang lagi dengan naik Gajah gemuk ini, meski cuma dikasih ongkos 15ribu. Hehehe…

Herannya, pengemudi I orangnya masih muda dan selengean, tak mengenakan kemeja batik warna biru, baju kebesaran Safari Dharma Raya Jakarta. Penampilannya seadanya, bahkan terkesan cuek dan santai. Sesantai jalannya B 7168 NR saat menapak jalan tol Wiyoto Wiyono dan dilanjut tol Cikampek. Aku pun langsung men-judge, memang beginilah jamak lumrahnya driving style bus-bus bumi Mangkunegaran, AAWK, menganut aliran alon-alon waton kelakon, sesuai ajaran falsafah jawa kuno.

Bahkan cara pembawaannya belum klop dengan bus yang sepertinya bukan batangannya ini. Kasar dan menghentak saat memindah gigi transmisi. Seringkali navigator memberi arahan, baik cara memenej rpm, mengerem dengan smooth ataupun membimbing manuver bus bongsor ini.

Dari mencuri dengar obrolan, ternyata sopir ini adalah sopir tembak/ cadangan setelah pramudi tetapnya mendadak berhalangan bertugas. Pantas saja, harus melewati fase adaptasi hingga km 30-an untuk mengelus makhluk langka ini. Bus-bus sekelas Luragung Jaya Cindelaras, bus kota Mayasari Bhakti, Putra Luragung, bus karyawan Hiba Utama 75, dan Prima Jasa Bekasi-Bandung berlomba mengajari metode berlari yang baik dan benar.

Barulah setelah nyetel dengan karakter armada yang dilajukannya, keluar agresivitasnya. Perlahan tapi pasti, lajur kanan dikangkanginya untuk memamerkan keofensifannya. Puing-puing kejayaan Neoplan masih bisa kurasakan. Goyangannya nyaman, tak terganggu bodyroll saat berlenggak-lenggok di permukaan aspal. Mantap, stabil dan anteng larinya, disokong kestabilan struktur monocoque yang jauh lebih unggul dibanding ladder frame.

Ini saja dalam kondisi lawas, apalagi era barunya dulu. Pasti lebih nyaman dan nyaman lagi…Pantas saja, saat masih diterjunkan sebagai bus reguler, PK dan KD menetapkan harga yang lebih tinggi untuk Neoplan ini dibanding naik varian mesin dan karoseri yang lain.

Di ruas Cikampek-Pamanukan, vonisku salah besar. Bus kian dihela dan berjalan kencang. Ck ck ck…kukira bus ini disayang-sayang, berjalan dengan penuh kehati-hatian, sebisa mungkin menghindari lubang demi keawetan perangkat suspensinya atau diharamkan nempel-nempel kendaraan lain, untuk alasan takut lecet. Nyatanya sih lain Bopeng-bopeng di jalan enteng saja dilibasnya, tanpa mengguncangkan posisi punggung para penumpang.

Salut atas “kenekatan” yang ditunjukkan drivernya. Bisa jadi bus ini wajib menampakkan eksistensinnya di jalur Jakarta-Solo. Maklum, hanya solorun, tak ada OBL lain dengan arah keberangkatan yang sama. Beragam menu dilahapnya mulai Sumber Jaya Sprinter, OBL AA 1661 CE, Sinar Jaya rasa Concerto, ATS dan Damri yang sama-sama berbaju Equator, Sinar Jaya 19Y hingga Sumber Alam Panorama DX.

2,5 jam waktu yang dibutuhkan untuk mencapai peristirahatan Taman Sari. Saat selesai dilayani makan dan aku akan menunaikan sholat…Lho, ternyata di depan mushola terparkir NS 39 dan NS 21, yang sama-sama bertujuan Cepu. Aduh…ngga enak hati kalau perselingkuhanku ke-gap kru langgananku. Dengan terpaksa ngumpet dulu, ritual wajibnya ditunda, menunggu bus-bus tersebut berangkat. (Dasar wong jowo…wong jowo…sampai segitunya menjaga perasaan seseorang. Hahaha…)

Driver utama, dengan emblem Supriyadi di seragamnya, yang kini bekerja. Walah…langsung menyerobot jalur saat keluar rumah makan meski lalu lintas sedang ramai. Ini pasti tak kalah gaharnya dengan yang pertama.

Benar juga. Dipacunya Smiling Neoplan ini sekencang-kencangnya, lincah membelah kepadatan pengguna Pantura yang didominasi truk-truk bertonase besar. Paham bahwa kaki-kaki empuknya mampu meredam getaran yang merambat ke dalam kabin, rintangan-rintangan jalan dilumatnya tanpa ampun. Jalan berlubang, bergelombang, keriting hingga jembatan patah tak dihiraukannya. Tol Pejagan pun enteng disusurinya. Bunyi riuh leaf spring dan tapak roda saat aku menunggang OH 1525 waktu mengaspal di jalan tol yang dibangun imperium Bakrie, tak muncul di dalam kabin Neoplan ini. Lebih senyap dan hening desibelnya.

Top habis gaya menyetirnya. Di tiap rute, pasti ada bus banternya. Tidak semua bus jalur tenggara Jawa Tengah itu lelet. Dan OBL ini yang membantahnya.

Tanpa pertimbangan rumit, bus eksekutif ini kusejajarkan dengan kedahsyatan OBL “XT”, PK Marco Denpasar, Akas Asri, Kramat Djati Madura, Garuda Mas, serta HS 211 dan HS 213. Tripnya begitu enak dinikmati, memompa adrenalin dan serasa berlaga di lintasan balap, berkompetisi dengan yang lain guna menjadi kampiun sesaat malam itu. Tak apalah waktu tempuhku bakal bertambah, tapi kepuasaan dilingkupi kehangatan Neoplan ini demikian tak terhingga.

Prestasi spektakulernya mencuat di etape Patrol-Brebes. Sederet korban yang didepak dari chart terdepan jadi bukti kegigihannya . Aku masih mampu merekam beberapa di antaranya. Yakni Luragung Jaya Andini, PK B 7277 WV, Mulyo Indah Antero Coach, Sumber Alam kelas ekonomi, Harum Prima, Sahabat Sika, Rosin 141, Santoso Business Class, Sinar Jaya 8DX, dan PO Sumba Putra.

Tiada perjalanan yang sempurna.

Itulah ungkapan yang tepat. Setangguh-tangguhnya Neoplan ini, ternyata ciut nyali di lapangan becek saat hujan mengguyur dengan derasnya di area Tegal hingga Pemalang. Rata-rata kecepatannya “drop”, menyesuaikan diri dengan kondisi jalan yang basah dan menggenang. Tanpa ampun, tiga armada Santoso dan Kramat Djati Royal Coach E Classic yang berjalanan beringin menyungkurkannya. Bahkan aku jadi saksi kehebatan dan sepak terjang Kramat Djati itu saat mengeblong barisan panjang kendaraan yang merayap terhalang siraman hujan lebat. Tebakanku itu KD Ciledug-Gemolong atau yang jurusan Grogol-Ngawen.

Mata tak lagi betah melek, hormon kantukku meningkat drastis distimulus bantingan lembut air supension. Pemalang-Pekalongan-Batang-Alas Roban-Weleri-Kendal-Mangkang hilang dari penglihatan.

Aku terbangun saat bus mencoba melakukan U-turn di daerah Krapyak, Semarang, untuk mengisi bahan bakar di SPBU yang bersebarangan jalan. Julur depan bus yang begitu panjang menyulitkan drivernya sehingga perlu tiga kali maju-mundur. Demikian lebarnya radius putar Neoplan ini.

Jam dua lebih sedikit, akhirnya berlabuh di agen Cipto Semarang. Aku pun turun berbarengan dengan tiga cewek petualang yang berwisata generik. Sedangkan kru sibuk meng-unloading barang-barang paket yang jumlahnya bejibun.

Duh, ternyata jalan protokol yang siang hari begitu ramai dan riuh menjelma bagai kota mati. Mana tukang ojek? Angkutan kota kok juga tak ada? Beda banget dengan ibukota, yang tensi kehidupannya begitu tinggi.

Kutelusuri tiap sudut jalan Dr. Cipto, siapa tahu memergoki Gus Gopeng yang lagi sempoyongan pulang dugem. (Hehehe…piss ya Gus).

Tentu bukan untuk mengantarkan aku ke Terboyo, melainkan kumintai tolong untuk menggandeng trio macan (manis dan cantik) ini yang tengah kebingungan mencari penginapan. Kan lumayan, jikalau satu dari tiga bidadari ini jatuh hati pada Gubernur Jateng wannabe ini.

“Mas, becakke, monggo. Badhe teng pundi tho?” sapa seseorang membuyarkan lamunanku. (Mas, becaknya, silahkan. Mau kemana?)

“Terboyo Pak.”

“Lha inggih, monggo…” balasnya dengan ramah khas logat kidul-an.

“Nopo kerso Pak, tebih sanget lho, Pak?” tanyaku setengah tak percaya. (Apa mau Pak, jauh sekali kan?)

“Lho, kulo biasa kok Mas, asring kok kulo mbekto penumpang dugi Terboyo.”(Saya biasa kok Mas, sering saya bawa penumpang sampai ke Terboyo)


Daripada berharap dalam ketidakpastian, akhirnya dengan jasa becak, aku diantar ke Terboyo. Menyusuri jalan-jalan kota Semarang yang lengang tak berpenghuni, Dr. Cipto-Widoharjo-Raden Patah-Kaligawe-Terboyo, seakan aku dan tukang becak adalah pemilik Kota Atlas malam ini. Pemandangan yang begitu indah saat bertemu dengan tiga armada Subur Jaya yang sedang menunggu penyewanya di depan sebuah lembaga pendidikan, PO Safari yang sedang ngetem di perempatan Widoharjo dan disalip Maju Makmur di Kaligawe, dari arah Purwokerto.

Aku jadi tahu, ternyata bus Semarang-Solo/ Purwokerto telah mulai mengais rezeki saat siklus waktu berputar di zona dinihari. Andai satu saat nanti aku berketetapan hati naik bus Solo lagi atau Jogja barangkali, aku tak perlu risau. Turun saja di Banyumanik, nyebrang jalan dan nyegat bus bumel arah ke Terboyo. Beres…peta mudik Jakarta-Rembang dengan estafet via Semarang kini kugenggam.

Kuhabiskan perjalanan di atas roda tiga dengan berbincang ringan. Seorang pria paruh baya asli dari Sragen, yang demi sesuap nasi untuk istri dan ketiga anaknya rela berjauhan dengan keluarga, dua minggu sekali baru bisa menemui orang-orang terkasihnya kembali. Tengah malam pun masih mencari calon penumpang, memeras keringat menghujamkan tulang, meng-goes pedal becak kesayangan demi secuil masa depan yang layak.

“Tinggal di mana di Semarang ini, Pak?” tanyaku.

“Di atas becak Mas. Pagi, siang, malam, bekerja, makan, istirahat dan tidur ya di sini, Mas. Inilah kantor sekaligus rumah saya..” jawabnya penuh sindiran sosial.

Deg, Subhanallah. Ya Allah, begitu dhaifnya diriku. Begitu banyak limpahan nikmat yang Engkau berikan, namun, sebanyak itu pula rasa kufurku pada-Mu. Kini Engkau tampakkan di hadapku, betapa aku ini seringkali lupa untuk menundukkan kepala. Selalu dan selalu, untuk menggugat kadar “kasih sayang-Mu”, aku mendongakkan kepala ke atas, menatap orang-orang yang menurutku lebih beruntung dari aku. Kini, kau tampar aku dengan perantara kesederhanaan dan kebersahajaan Bapak Becak ini. Terima kasih ya Allah, Engkau kirimkan teguran lewat hamba kecil-Mu itu.

Tak terasa, 4 km sudah jarak yang ditaklukkan Si Penghela ini. Hebat…di usianya yang telah memasuki senja, otot-otot betisnya masih enerjik untuk mengayuh “cangkul pencaharian”nya.

“Mas, ati-ati di jalan. Itu busnya. Jangan lupa, kalau busnya belum jalan, jangan mau ditarik karcis. Kadang-kadang itu calo, Mas.” ingatnya saat aku melantai dari singgasana becak.

Sekilas kupandang saat jari telunjuknya menunjuk pada sebuah bus berkelir merah putih, colour mark PO Indonesia yang sedang bersandar di pintu keluar terminal apung, Terboyo. Berstrata ekonomi dan berpapan trayek Semarang-Surabaya. Bus baru, mengunggah bentuk Marcopolo Jepit Rambut buatan Tri Sakti yang menyembunyikan kegalakan Hino FE AK8 di dalamnya. Dengan tagline “Super Boy”, kekaleman jalannya yang akhirnya meredam efek mabukku, saat semalaman sensasiku melayang-layang digoyang liuk nan genit Ratu Jerman yang bernama Neoplan. Huh…

Neoplan, Super Bus for Super People…

Dimabuk Neoplan (1)


Wajahmu t’lah jauh berubah

Tak lagi garang dan terkubur sudah gagah wibawamu

Yang ada, tinggal raut muka yang memajang senyum sumringah

Menawarkan keramahan bagi yang sudi memandang

Karena engkau tak muda lagi

Kemewahan tak lagi punya arti untuk diperjualbelikan

Selain sisa-sisa kejayaan masa silam

Itulah ode asal-asalan yang terlintas dalam ladang imajiku saat menangkap sosok Neoplan yang diampu oleh PO Safari Dharma Raya divisi Jakarta terdampar di Taman Eden Rawamangun, ketika aku hendak menghelat acara wira-wiri tanpa henti Hari Jumat (30/4) yang lalu.

“Maksa…”, begitulah testimoni sebagian buslovers setelah bus ini melewati masa-masa kritis pascaoperasi wajah. Dan aku pun mengamini demikian meski dalam menilai sebuah hasil garapan manusia, subjektifitas pribadi yang bicara.

Lihat saja perwujudannya yang aneh sekarang. Semua sisi eksterior tak ada yang steril dari sentuhan. Moncong muka yang futuristik khas Neoplan dilengserkan, dibenamkan jiplakan wajah New Travego ber-headlamp “Smiley”. Bodi mengalami “penurunan” sehingga default ground clearence-nya terkoreksi, membikin produk pabrikan Jerman ini ceper, ndeprok dan terlihat gambot. Hanya ada monir change di bagian lambung kanan-kiri. Kaca jendela yang sebelumnya model lengkung diubah menjadi patahan menyudut. Dan yang ekstrem terkena aksi kreativitas para penggawa Adi Putro ada di sektor buritan. Meski blind glass dan rear lamp susun empat dilestarikan, tapi penggusuran ruang sentral AC dari posisi tengah atap ke bagian belakang membuat bus ini terkesan “bersanggul” dan keberatan pantat.



Dibanding bentuk aslinya yang dulu, seakan Neo Neoplan ini ingin melepas kemurnian citranya sebagai bus luks, borjuis dan mahal, berganti karakter menjadi bus yang ramah, merakyat, up to date, tak kebal keekslusifan dan membumi di ranah bis nge-line.



Rupanya, guliran roda zaman tak pelak meminggirkan dan mengirim bus ini masuk kotak berlabel “barang jadoel”. Tak mau selamanya jadi korban modernitas -- toh kemampuan larinya masih mumpuni--, Neoplan ini pun me-make over tampilan agar terlihat remaja, segar dan menggoda. Walau bagiku, sangat-sangat disayangkan, karena inilah aksi “genocide” terhadap orisinalitas Neoplan itu sendiri.

Tetapi, dibalik pro kontra pemutakhiran Neoplan OBL, tersembul puja puji keluarbiasaannya. Inilah sedikit dari armada Neoplan di negeri pertiwi yang rendah diri dan baik hati. Bersama Neoplan B 7168 SW, berdua masih rajin menyambangi kota-kota, mampir dari satu agen ke agen yang lain, setia menyambut pinangan tangan penumpang yang butuh jasa penghantaran, menabur sapa bagi yang merindukannya dan tentu saja, yang pantang mengibarkan bendera putih, berani membusungkan dada bersaing dengan darah-darah muda di sirkuit jalan raya.

Di saat PO-PO lain mengevakuasi armada Neoplan ke operasional pariwisata --seperti Pahala Kencana, Kramat Djati atau Bandung Ekpress--, justru OBL merupakan perkecualiannya. Bus yang ber”loko” penggerak jenis OM366LA Turbo Intercooler ini masih menjalani dinas harian, menggawangi trayek reguler Jakarta-Solo PP, seperti yang tampak di sore itu.

Aku pun dibuat termangu dan bimbang di ruang tunggu terminal. Bilik-bilik batinku begitu hebatnya beradu argumen hingga bergaung di lorong-lorong akal sehatku. Dari rencana awal naik Kramat Djati Malang -- kebetulan busnya juga telah siap sedia di jalur pemberangkatan -- , ambyar tak terpetakan lagi. Bayangan menikmati timangan lembut “balon udara” New Travego dan betapa praktisnya tinggal nyemplak diantar Flying Eggs hingga ke Rembang, begitu aku asakan. Apalagi besok pagi adalah hari pertama Nyonyaku masuk kerja setelah cuti panjang melahirkan. Setidaknya aku harus memburu waktu, pengin membantu ngurus anak-anak sebelum dan pas ditinggal kerja ibunya. Namun, setumpuk dalih rasional di atas diburamkan oleh kehadiran Neoplan ini.

Jiwa bismaniaku memberontak. Tabu sebagai seorang bismania malah mempersempit dunia bus itu sendiri dengan naik PO itu-itu saja, nangkring di atas mesin itu-itu saja, dibawa jurusan itu-itu saja atau bertemu kru dan agen yang itu-itu saja.

“Hey, anak manusia. Kamu ini gimana? Mosok turun Semarang? Apa ngga repot nyambung ke timurnya? Nanti gimana menuju Terboyo? Ingat, sampai kota lunpia dinihari. Kamu buta angkutan di sono dan baru kali ini kan pergi dengan bis Solo-an?Kamu itu butuh waktu, bukan kesenangan diri…” puluhan iblis penggoda menceramahiku.

(Hii…setan kok tau ya kalau julukan Kota Semarang itu kota lunpia? Setan penggiat kuliner ini…)

Tapi, aku benar-benar sudah mendem (mabuk) dan mendadak sange berat ingin merasai kenyamanan fitur “hi-end” yang diusung Neoplan ini. Meski soal mesin tiada beda dengan MB OH 1521, tapi dengan kelebihan berupa chasis monocoque dan ditanamnya piranti air suspension, tak terbantahkan lagi bahwa bus ini menempati highest rank di masanya kala itu.

Aku belum pernah sekalipun dibuai ayunan eks bus berpredikat Jendral ini. Semenjak menyandang komuter mingguan di medio 2004, Neoplan Pahala Kencana susah ditangkap, jarang bisa ngepas jadwalnya dengan kepulanganku, hingga akhirnya dipensiunkan dari jalur Jakarta-Malang.

Pun setali tiga uang dengan acara-acara yang diadakan BMC. Meski telah dua kali menyewa armada Neoplan, waktu nikahan Mas Ivan (Bandung Ekspress) dan famgath. ke Anyer (Vista Touristama), namun dua-duanya aku miss untuk turut serta.

Sudahlah, memang Neoplan OBL anugrah terindah hari ini bagiku.

“Masih ada satu kursi buat ke Semarang, Bu? Kalau ada, tiketnya berapa?” saat aku tiba di depan loket.

“Ada Mas, 150. Kalau mau, ini seat depan nomor 4 masih kosong.”


Itulah transaksi perdanaku saat pertama kali menjajal entitas Soloensis yang dipicu oleh kekuatan sihir Si Neoplan ini. Mahal dan repot memang dampak buruknya. Biarlah jadi resiko untuk memulai petualangan baru. Neoplan makes me crazy now…

“Mas, kalau mau ke Kudus, yang gampang nanti turun mana ya?” tanyaku pada Mas Kenek saat dia selesai mengatur barang di bagasi samping.

“Cipto saja Mas, sudah dekat ke Terboyo. Bisa pakai ojek nanti…”, jelasnya.

Saat menapak ke dalam, ternyata tak ada yang istimewa di ruang interiornya. Elemen-elemen lama dipertahankan, tanpa ada perubahan yang berarti. Langit-langit, lantai dek, jok kursi, dinding kabin, TV Video, gordin hingga louvre AC sistem putar sepertinya untouchable.

Andai saja saja konsep transplantasi wajah ini dibalik, cukup bagian dalam yang dibesut total sementara yang luar hanya dipoles ringan, pasti keabadian Neoplan untuk sementara waktu masih terwariskan.

Sepeninggal Tragedi Tanjung Priok; Kibar Bendera “PKS” (6)


Berlari dengan Napas Tua (2)

Ketidakberdayaan terekam saat memanjat tanjakan Plelen. Meski sudah bagus dalam ancang-ancang, menge-loop dari bawah sembari tangkas mencari celah di antara kendaraan yang hendak mendaki, dan sempat mengasapi Black Kopral Tayu-Ciledug, akhirnya OM366A benar-benar kehabisan napas.

Greeggg…Bus pun menyerah.

Cesss…driver mengaktifkan hand brake, sejurus kemudian mesin off .

“Ya Allah…semoga jangan sampai melorot mundur”, pintaku pada Yang Kuasa.

Semua penerangan dimatikan, hanya lampu hazard yang tersisa. Satu per satu bus lain menyodoknya, diawali oleh si Hitam -- Haryanto Setra Tentrem--, GMS, Merta Sari serta Rosalia Indah Concerto, 274.

Sekitar semenit, bus langsiran medio 90-an berhenti sebelum dipaksa direstart. Beruntung, masih bisa menyala. Dengan perlahan merayap meski dengan hembusan napas yang ngos-ngos-an. Dan sejak drama “jump ball” di tengah permainan, ruang pacu berkapasitas 5900 cc ini kehilangan daya dorongnya.

Di etape menantang, Alas Roban, melemah sudah keperkasaannya, yang tersisa tinggal napas terengah-engah. Bus pun terkesan asal nggelinding, tak ada lagi acara kejar tayang maupun perburuan waktu.

Gerak putaran roda hanya seirama dengan truk-truk angkutan berat, seakan didera keletihan dan kepayahan yang amat sangat.

Ombak biru sedang pasang surut. Hanya jadi pemirsa dan penikmat saat seteru-seterunya menjerembabkan dari top chart reli Pantura malam ini. Haryanto Setra Adi Putro, Gunung Mulia Panorama DX, Shantika Ijo Sprinter, Selendang Ramayana, Handoyo Setra New Armada, Santoso, dua saudaranya, armada PK serta Nusantara NS 01, seakan berkonspirasi menenggelamkannya. Bus super eksekutif inilah yang jadi petunjukku, bahwa parade armada di belakang mulai mendekat jaraknya.

Kuputuskan untuk tidur kembali, dan terjaga saat ada kegaduhan.

Ternyata, tiga penumpang yang kuduga ilegal tersebut beramai-ramai turun di daerah Pemalang. Oh, pantas saja berani mengangkutnya, toh turunnya sebelum check point Kota Tegal.

Kuteruskan beristirahat kembali dan terbangun saat roda bus menapak jalanan rusak di daerah Kertasemaya, daerah perbatasan Cirebon-Indramayu.

Tapi masya Allah, rupanya mimpi buruk belum menjauh dari kenyataan yang tersuguhdi hadapanku. Bus yang nge-line Bojonegoro-Cepu-Kudus-Rawamangun-Pulogadung ini seakan jadi sansak hidup, bertubi-tubi pukulan telak mendarat ke haluan Classis Travego jadoel. Tidak sampai seperempat jam berdiam dalam kehampaan kabin , ditemani erangan mesin, mataku ini jadi saksi keporakporandaan pertahanan “The King” ini. Handoyo RG, PK Central Madura, Handoyo Laksana Comfort serta Dedy Jaya Djibless semakin mengkandaskannya sebagai juru kunci di dasar klasemen akhir.

Ya sudahlah…nikmati apa pun adanya, naik bus adalah satu anugrah indah dari-Nya.


Jam 07.25, perjalanan napas tua berakhir di jalur debarkasi Terminal Pulogadung. Tidak jelek juga, meski dengan total waktu tempuh hampir 16 jam untuk rute Sulang-Rembang-Pulogadung. Namun, dengan kondisi Pantura yang relatif lancar, bagiku tetap merupakan noktah “dosa” bagi PO yang cikal bakalnya merintis trayek Surabaya-Solo ini.

Mengapa aku menganggapnya “rapor merah”?

Karena di parkiran pojok belakang sebelah barat telah penuh sesak bus-bus Kudus-an yang lebih dahulu tiba, yang notabene jam pemberangkatannya di atas “napas tua” ini. Yang lebih mencoreng “prestasi”, saat bertemu Shantika Ijo Sprinter yang melibasnya di Banyu Putih, terjebak macet di Jalan Perintis Kemerdekaan, dengan arah yang berbeda. MB OH 1525 eks PO Dewi Sri Asri itu dalam kondisi putar kepala, dalam perjalanan membawa pelanggan setianya dan menyetor keuntungan bisnis transportasinya menuju Jepara.

Berapa jauh selisihnya dengan kedatangan Pahala Kencana-ku???


Sampai kapankah berkah “nama besar” masih mampu menangguk kepercayaan dari para konsumen, tanpa dibarengi kualitas pelayanan dan ketersediaan armada nan prima?

----

Membandingkan dua divisi berbeda di tubuh Pahala Kencana ibarat membandingkan dua hal yang tak seharusnya diperbandingkan. Meski proses persalinan dari satu rahim, nyatanya divisi Kudus dan divisi Jakarta tidaklah apple to apple untuk disejajarkan. Beda siapa yang menyentuh, lain pula efek rangsang yang diterima.

Sama-sama satu nama, Pahala Kencana, namun laksana datang dari planet lain dan berasal dari tata surya yang lain.

Itulah sekelumit kisahku, berawal dari tragedi Tanjung Priok, akhirnya merasai dua nuansa berbeda antara “adem dan gerah”nya bertamu di meja sekretariat sebuah institusi yang berbendera “PKS”, Pahala Kencana Sejati.

Salam damai bagi PKS…


- Tamat-

Sepeninggal Tragedi Tanjung Priok; Kibar Bendera “PKS” (5)


Berlari dengan Napas Tua (1)

“Kok naik Pahala sih Pa? Ingat lho, sudah dua bulan ngga naek Nusantara. Ngga enak sama Mbak Aik (agen Nusantara-pen) yang selama ini sudah banyak membantu. Dikiranya ada apa-apa…”

Demikian protes nyonyaku saat aku bersikukuh mencontreng Pahala Kencana untuk perjalanan balik ke Jakarta. Inilah tak nyamannya menjadi komuter mingguan. Karena seringnya berhubungan dengan agen, bukan lagi persoalan demand and supply, melainkan juga kedekatan personal.

“Sekali ini aja Ma, Minggu depan pasti Nusantara. Pan Jumat kemarin sudah bolos Ma, Senin besok pantang kalau telat. Makanya, nyari bus siang…” pungkasku untuk meredakan ketidakmengertian pendampingku yang menilaiku sedang “pisah ranjang” dengan Nusantara.

Bukannya aku mengingkari kecepatan tembak “peluru-peluru” Pak Hans, tapi sebagai langkah antisipatif jika saja akhir pekan besok jalanan macet. Demi leluasanya, aku bersandar pada bus yang start lebih awal dari Sulang, kota kecamatan terdekat dari rumah yang dilalui bus malam Bojonegoro-Jakarta. Meski aku sendiri juga mafhum, Pahala Kencana divisi Kudus sudah termarginalkan dari jajaran bus banter Muria Raya. Tapi bercermin pengalaman saat naik Butterfly berstandar VIP yang kunaiki sebelumnya, dengan arrived time di jalur kedatangan Pulogadung sebelum jam lima pagi, apa salahnya kalau sekarang kuandalkan kembali?

Minggu, 18 April, kulakukan perjalanan berulang dengan Ombak Biru chapter Kudus. Kali ini, aku meng-upgrade kelas menjadi eksekutif. Bermodal selembar tiket yang kutebus dengan nominal Rp.130.000,00, dan seat number 6C, akan kubuktikan, bisakah “the highest class” ini lebih baik dibanding VIP-nya?

Namun, rasa optimisku menumpul seiring kedatangan K 1564 AB yang molor dari jadwal tetapnya. Berdasar catatan di tiket dan pengamatanku, jam keberangkatannya tak pernah lebih dari jam tiga sore. Tapi kali ini, menjelang setengah empat armada baru mampir di agen dari arah Cepu. Dan artinya, hanya beda 15 menit-an dengan NS 39 dan NS 29 yang sebentar lagi akan lewat di belakangnya. Justru, yang ontime armada B 7889 ZX Bogor dan B 7289 X jurusan Kalideres.

Bus berbaju Old Travego ini tampak mulai usang dikunyah guliran zaman. Bahkan, dinding dalamnya banyak yang ditambal dengan lakban karena sudah menua, retak serta bolong-bolong. Tak ada hiburan audio video sama sekali, padahal itu hak penumpang yang harus dipenuhi sebagai salah satu bentuk service on board.

Aku hanya bisa berharap, semoga bus ini masuk waiting list untuk dirombak tampilannya. Sebagian koleganya telah berganti wajah, baik New Travego Smiley atau Marcopolo hasil racikan Tri Sakti ataupun Tri Jaya Union, meski sisi jeroan tak ada pemutakhiran.

Baru saja hendak duduk, lho kok?

Sudah ada dua sejoli nangkring di kursi 6C dan 6D. Tidak biasanya begini? Setahuku, agen-agen PK hanya menjual tiket sesuai dengan trayek bus yang melintasinya, tak kenal istilah penumpang langsiran atau operan. Untuk itulah, bus-bus bertujuan akhir Bogor, Tangerang, Rawamangun-Pulogadung, Lebakbulus dan Kalideres semua masuk Bojonegoro.

“Mas, nomor kursinya berapa?” tanyaku dengan sopan.

Si Cowok malah salah tingkah dan belingsatan, kemudian mencolek ceweknya.

“Ayo pindah ke sono…”, dan mereka bergeser ke tempat duduk lain yang kosong.

Aduh, tercium bau ketiak Sarkawi ini?

Bus yang ber-ID HT 722 ini pun memulai pelariannya. Cukup kencang dan greget juga cara Pak Sopir meng-handle-nya meski yang kurasakan energinya terbatas. Feeling-ku, power keluaran mesin tak mampu melampaui angka 200 HP. Dugaanku, setali tiga uang dengan B 7415 NL, sama-sama bermarga OH King.

Saat berhenti di agen Jl. Diponegoro, Rembang, ada kejadian yang membuatku tertawa ngakak dalam hati. Di seberang jalan, yang merupakan agen pembantu PO Tri Sumber Urip (TSU) , terlihat “Kaleng Bocor” yang kujadikan selingkuhan seminggu sebelumnya, menghampiri penumpang. Wah, ternyata pujaan hati Mas Hary Intercooler ini masih jago buat nyari duit meski soal kelayakan di nomor sekiankan.

Memang tak dapat dipungkiri, nama Pahala Kencana masih laris jual meski dengan amunisi yang pas-pasan. Selepas kota Rembang, tak sampai tujuh seat yang masih kosong, jatah yang diisi agen Juana, Pati, Kudus dan Semarang.

Kejadian yang paling mendidihkan adrenalin saat bus lebih memilih lewat ringroad kota Gandul, Pati, dibarengi teman satu juragan, B 7275 WV. Berdua adu sprint di sirkuit sepanjang hampir 5 km yang lengang, karena pemanfaatan jalan lingkar ini masih ambigu. Kadang diuji coba untuk jalur truk-truk barang, kadang diveerboden oleh regulator, dalam hal ini dishub Kota Pati. Konon katanya, meski sudah diresmikan penggunaannya, Jalan Lingkar Selatan (JLS) ini masih bermasalah dalam desain dan kontruksinya, yang dianggap kurang safe bagi pemakainya.

Hmm…pertarungan King vs RG. Dan tentu bisa ditebak, prinsipal Jepang lebih unggul, baik umur, tenaga maupun tarikan.

Jam 17.40, MB OH 1518 ini singgah di pool Kudus, untuk melapor dan mengangkut titipan berupa paket barang. Kusempatkan melongok bagian dalam garasi, dan tampak skuad Pahala Kencana Kudus. Tidak ada bus anyar, sebaru-barunya armada model Proteus. Sementara itu, dari kejauhan, sekawanan armada dari pesisir timur Jateng terlihat memadati terminal Jati. Bejeu, Senja Furnindo, Nusantara, Selamet, Haryanto, Shantika, dan TSU mulai berdatangan.

Meski berangkat dari Sulang sudah kesorean, namun jam take off dari Kudus masih termasuk kloter awal. Biar kata mesin uzur, pramudi mampu memaksimalkan tenaga yang ada. Andai saja bus ini berkilometer rendah, pasti fakta berbicara lain melihat karakter driver I yang menerapkan tensi tinggi saat menjelajah jalanan. Kapan ya OH 1525 generasi awal dilungsurkan ke Kudus?

Di agen Dr. Cipto, pertanyaanku terjawab. Saat semua penumpang telah duduk di lapak punggungnya masing-masing, pasangan ABG tadi tersingkir dan rela rebahan di space kecil depan toilet yang telah dilambari tikar. Ternyata bukan cuma dua orang, tetapi tiga. Sepertinya…memang ada praktek kotor di dalam bus ini.

Saat agen Semarang mengecek, satu dari mereka ditanya,

“Tiketnya mana, Mas?”

“Ikut sopir, Pak”

Dan petugas itu pun berlalu, diiringi raut muka penuh keheranan, keraguan dan tanda tanya.

Mbuh lah, mosok PO sekelas Pahala Kencana tertular “bad habit” PO-PO tetangganya yang menghalalkan penumpang gelap. Aku pun memejamkan mata untuk tidur, memimpikan besok pagi situasi kantor dan aktivitas pelabuhan telah berjalan normal pasca ledakan kerusuhan antara aparat ketertiban dan warga.

Royal Coach E ini tiba dan berangkat kembali nyaris paling akhir dari Rumah Makan Sendang Wungu, Gringsing. Tertinggal dari kompatriot sesama PK, baik yang departure area-nya dari Bangilan, Lasem, Bojonegoro, Wonogiri, maupun Jogjakarta.

Sepeninggal Tragedi Tanjung Priok; Kibar Bendera “PKS” (4)


Pelayaran Sunyi Marcopolo (2)

Pukul 15.55, bus mengendurkan urat saraf di Rumah Makan Uun, berbarengan bus Jember dan Centralindo B 7411 WB, yang pasti jatah Pulau Garam.

Marcopolo, yang diambil dari nama petualang dari Venezia, mengembangkan layar kembali di bawah nahkoda kedua, Pak Amir. Soal gaya mengemudi tidak jauh berbeda, meski urusan mempermainkan “fear factor” ketegangan penumpang, masih lebih ganas Pak Khamsin. Pak Amir lebih mengedepankan kenyamanan dan rasa aman para penikmat di dalamnya. Tak ada aksi sikut-sikutan, semua diperhitungkan dari jauh sebelum melibas hadangan-hadangan yang dihadirkan oleh pemain Pantura yang lain.

Di tol Palimanan, mesin dibejek di rpm tinggi, hingga jarum speedometer mentok di angka 120+ km/jam. Kurang lebih sekitar satu menit, kecepatan dipatok di angka tersebut. Wow, sampai merinding dibuatnya. Perlahan tapi pasti, PK divisi Jakarta mulai melepaskan diri dari stereotip bus lelet menjadi bus berlari. Andai saja konsisten hingga waktu-waktu ke depan, siapa lagi yang bisa menghentikan gulungan dahsyat si Ombak Biru?

Sayang seribu sayang, jalanan benar-benar paceklik dari bus malam. Hingga check point kota Warteg, bus yang memiliki penggemar berat berjuluk PKS -- singkatan dari Pahala Kencana Sejati -- ini tak pernah sekalipun menyalip bus malam. Sunyi sepi suasana senja di jalan Deandels.

Armada bernomor registrasi B 7589 IZ menangguk untung di Kota Tegal. Tujuh penumpang tambahan didapat, meningkatkan okupansi seat di atas 60%. Digenapi lagi dua kursi yang laku jual di Pekalongan. Sempat terjadi kekacauan administrasi di agen kotanya Ketua Genk RG (Rajin Guyon), Kang Dadik ini. Kurang tahu detail permasalahannya, hampir 10 menit bus tertahan menunggu proses penyelesaian tuntas. Melintaslah Ezri Setra Morodadi Prima. Dan sekali kuberharap, nantinya jadi teman seperjalanan bus yang kutunggangi.

Ternyata tidak, malahan bus jurusan Cirebon-Malang itu tak pernah terlihat lagi, tak ketahuan rimbanya. Justru yang antiklimaks, saat New OH 1525 terjerembab dalam deretan panjang kendaraan menjelang kota Batang, dengan songongnya didepak Setra Madura yang tadi sore dijadikan bulan-bulanan. Misi balas dendamnya terbayar dan sejak itu, RG ini untouchable, tak pernah tersentuh lagi dari kejaran Pak Amir. Ternyata, sesama armada PK tak dilarang untuk saling mendahului.

Putaran ban tubeless mulai Alas Roban hingga Demak menari-nari di atas rasa kantukku, melelapkan diri dari alam kesadaran. Sadar sebentar saat mengisi solar lagi di SPBU Mangkang, Semarang, membalas utang SMS dari Pak Didik yang beberapa lama terabaikan. Dan kemudian tidur kembali…

Tiba-tiba,

Cittt…citt…..cittt…

Tapak roda beradu hebatnya dengan permukaan aspal di daerah Ngembal Kulon Kudus. Seluruh penumpang terdorong ke depan mengikuti hukum inersia dan sebagian berteriak histeris. Secara refleks, laju bus dibuang ke kanan, dan dalam hitungan sepersekian detik dikontra lagi ke jalur kiri. Zigzag…

Dalam guyuran hujan lebat, sebuah motor melakukan gerakan ngawur dan bar-bar di jalanan. Tanpa memperhatikan kendaraan dari arah belakang, dari jalur kiri langsung menyimpang ke kanan untuk berbelok. Untung bus mampu berkelit, terhindar dari crash dengan biker tanpa kehilangan posisi keseimbangan dan terkena efek aquaplaning. Andai terjadi, bakal lebih buruk keadaannya.

Pak Khamsin, yang kini jatahnya pegang setir, segera membuka kaca jendela. Diomeli, dibentak dan digertaknya pengemudi motor sialan tadi. Makian, sumpah serapah hingga kata-kata sarkatif terlontar dari bibirnya. Aku menganggap wajar, karena ulah rider itu sudah keterlaluan membahayakan jiwa yang lain.

Gambaran kecelakaan dua bus Pahala Kencana beradu bodi dengan sepeda motor di Rembang kembali mengusik. Dan nyaris saja dinihari ini, kenahasan itu menghinggapi Marcopolo. Memang payah dan benar-benar kebablasan, sejak orde reformasi bergulir di negeri ini, euphoria massal menularkan kenegatifannya di atas jalan raya. Kebebasan tanpa rambu-rambu, norma-norma dan etika. Sakpenak udhele dhewe…

Akhirnya, untuk mengalihkan emosi dan kegeraman Pak Khamsin, kugeser tempat dudukku ke trap yang lebih rendah. Selonjoran di ujung selasar depan, di antara kursi pengemudi dan bangku kenek. Kuhabiskan sisa perjalananku ngobrol dengan beliau. Obrolan tentang berita terbaru di tubuh PK, armada OH 1526, kabar Pak Max, kebijakan loss solar berikut pengaruhnya ke masalah pendapatan kru, dan soal kecelakaan yang trend-nya meningkat pasca diberlakukan aturan tersebut.

Sempat Pak Khamsin bertanya kepada co-drivernya,

“RG (bus Jember-pen) kok ngga kelihatan ya, Mas?

“Mana mau Pak Kodok didekati bus di belakangnya…”

Wah, Pak Kodok menerbangkan bus Jember. Sepertinya bisa jadi next target ini? Ngincer Pak Kodok…Hehehe…

Mungkin, Pak Khamsin tahu kalau aku seorang bismania. Beliau unjuk kehandalannya sebagai pengemudi ketika dengan kesabaran dan kecekatannya melengserkan tiga armada PO Persada di ruas Juana – Rembang.

Trio bus wisata dari Kota Pemalang itu begitu kompak beriringan, satu sama lain saling membantu, mencarikan celah dan berusaha menarik bus paling belakang agar tidak tercecer. Meski deretan truk barang mengular, nyatanya ketiga bus tersebut saling lengket, tak tercerai berai oleh lalu lalang lalu lintas. Salut untuk ketiga drivernya!

Berbekal pengalaman segunung, rontok juga akhirnya sinergi OH 1525, RK8 dan OH 1521 di tangan Pak Khamsin. Setelah berkali-kali gagal mencuri kesempatan, dengan sekali hentakan di jalur kanan, didahuluinya ketiga bus tersebut yang samar terlihat mengusung rombongan para mantan gadis angkatan 50-an tersebut.

Jam 00.38, dengan waktu pelayaran selama 11 jam 15 menit, Marcopolo pun dengan selamat sentosa menunaikan tugas mengevakuasiku dari bencana kemanusiaan.

Bahwa tak sekalipun dinalar dalam akal sehat, hikmah dari kerusuhan Tanjung Priok ternyata membawaku berjodoh dengan cita-cita terpendam selama ini. Dari mula pertama melihat selintas lewat armada teranyar Pahala Kencana yang menggawangi jurusan Bandung-Surabaya pada saat menghabiskan malam Minggu bersama keluarga di alun-alun Rembang, lalu mengkhayal betapa “terhormat”nya duduk di singgasana kabin New Marcopolo itu, akhirnya last but not least, kini aku sendiri bisa mengkonversi obsesiku.

Sebuah karomah dari Mbah Priok yang terpercik ke dalam nasib baikku?

Wallahu alam…