Kamis, 15 Juli 2010

(Tak) Banyak Jalan Menuju Rembang [Bagian Ke-4]


Kubuka mata lebar-lebar menikmati goyangan “Kupu-Kupu Malam” yang bekerja, bertarung seluruh jiwa raga untuk memuaskan pemakainya. Dikuntitnya Mercy Electrik B 7908 IW yang diampu divisi Malang membelah keheningan dinihari di rute Kudus-Pati-Juwana. Inilah kuncinya, mengapa bus bertenaga 180 HP ini begitu berdaya dan bakal mampu menembus batas setengah hari untuk perjalanan Jakarta-Rembang.

Saat menapak daerah Ngerang, kurang lebih 5 km selepas Kota Juwana, tiba-tiba saja Proteus MB OH 1525 itu melambat. Namun driver-ku memaksa menyalipnya dan terus ngeblong puluhan angkutan berat dari berbagai jenis. Tapi, aku merasakan hal aneh dan instingku mengatakan “there is something wrong”.

Kendaraan-kendaraan berukuran jumbo yang didului ternyata dalam kondisi rodanya tak bergerak. Dan lazimnya “kelakuan” bus malam, bilamana menghadapi situasi macet, sah-sah saja menyita paksa jalur berlawanan.

Tepat di belakang Lorena LE-452 yang juga “memakan” sebelah kanan, akhirnya langkah penguasa Bojonegoro-Jakarta ini terhenti. Di depanku, tampak kerumuman orang-orang mengerubuti “sesuatu yang tak jelas”, karena jarak pandang dari dalam kabin terbatas dan suasana masih remang-remang cahaya.

“Pasti ada kecelakaan…” pikirku.

“Ada apa, Bos?” tanya kenek pada sopir-sopir truk yang malah asyik ngobrol di tengah jalan.
“Tuh, gandengan di depan copot…” urainya singkat.

Aku pun “lengser tahta” untuk menyidik apa gerangan yang terjadi. Tak sampai 100 jengkal, “si trouble maker” itu terlihat. Sebuah truk trailer arah Surabaya dengan bawaan segede gaban, gandengannya lepas dari deck pivot (poros pengunci) sehingga melorot dan menimpa frame chasis kepalanya. Tak pelak, truk varian Hino SG 260 Ti itu tak bisa bergeming sama sekali lantaran tertindih muatannya sendiri. Posisinya melintang dan memenuhi ¾ badan jalan.

Mulanya, jalanan yang tersisa coba dimanfaatkan bergantian, dengan cara buka tutup. Sialnya, satu truk impor utuh dari pabrikan Nissan jenis CDA 260 yang jatahnya lewat mengalami kenaasan. Daya dukung tanah di bawah bahu jalan tak kuat lagi menyangga bobot kendaraan yang mencapai puluhan ton itu sehingga ambles. Truk bernopol D 9443 AC itupun miring 70 derajat dan nyaris terguling ke selokan di samping jalan warisan Jendral Deandels.



Alhasil, jalan Pantura yang lebarnya “masih orisinal” tersumbat total baik arah barat maupun timur, menyebabkan kendaraan bertumpuk-tumpuk tanpa ada jalur alternatif yang lain. Hanya meninggalkan space yang sempit dan cuma cukup diterobos setang sepeda motor. Dan kata saksi mata, stack ini sudah berlangsung mulai jam setengah empat pagi.



Bus-bus malam terjerembab di dalamnya. Antara lain Setra Ijo Banyuwangi B 7586 XB, OBL Mataram, kembaran bus-ku - Setra Kupu-Kupu B 7597 -, ALS Medan-Surabaya, Bandung Ekpress Bandung-Surabaya, Proteus Malang, PK Tangerang-Bojonegoro. Sedang bus bumel yang jadi “penggembira” adalah Indonesia dan Sinar Mandiri.


Di TKP, tepatnya di daerah Lengkong, Batangan, puluhan awak truk berkumpul, bekerja sama, saling membantu dan mengunggah azas tenggang rasa yang tinggi antar sesamanya untuk mencarikan jalan terbaik melepaskan truk dari gandengan yang menyiksanya. Meski beda perusahaan, tak ada egosentrisme dan cuek social menghadapi kesulitan yang dialami kawan seperjuangannya. Mereka meminjamkan peralatan yang dipunya, mulai dongrak, balok kayu, tali tambang hingga (velg) roda serep untuk mengangkat trailer yang out of position. Mereka tak kenal satu dengan yang lainnya, buktinya ada beragam logat bahasa – Batak, Jawa, Sunda dan Bali- yang terlibat pembicaraan di dalamnya, namun tak menghalangi niat murni mereka untuk tolong-menolong. Hikmah dari malapetaka di jalan rupanya bisa jadi “pupuk” untuk menyuburkan sikap empati dan kesetiakawanan antar pribadi.

Aku seakan tak mempercayai peristiwa di muka. Rasa optimisku padam dan keberuntungan kembali menjauh seiring terbitnya mentari pagi hingga sepenggalah. Apalagi tak ada tanda-tanda evakuasi ini akan cepat berakhir meski telah didatangkan tiga mobil derek dari Dishub Pati dan belasan aparat kepolisian turun berkiprah.

“Ma, aku kayaknya telat sampai rumah,” kutelepon ibunya anak-anak.
“Ini di mana, Pa? Ada apa? Kira-kira jam berapa sampai rumah?” berondong istriku dengan beragam pertanyaan.
“Batangan Ma, ada kecelakaan. Sepertinya lama, ini saja kendaraan tak bisa bergerak...”
“Ya ampun. Sudah dekat rumah masih saja ada masalah ya, Pa. Kasihan Naura, pasti kecewa…”
“Habis gimana lagi, Ma. Resiko di jalan kita tak pernah dapat menduganya. Gini aja Ma, biarkan anakmu berangkat bareng rombongan sekolah. Semoga (kemacetan) ini cepat kelar, aku nanti nyusul…”

Pendamping hidupku itu menutup telepon dengan nada kekecewaan pula. Kupasrahkan ending perjalananku pada Yang Kuasa. Man proposes, God disposes.

“Satu…dua…tiga…yak, maju…horee…”, sorak sorai orang-orang kegirangan seolah dimabuk kemenangan. Dan bunyi itu berasal dari para sopir setelah berhasil menyelamatkan kepala truk yang terhimpit gandengan dan meminggirkannya, tepat pada pukul 06.45. Berarti, dua jam “The Butterfly” dkk menikmati gerakan diam diri ini.

Finally, satu persatu lautan pengguna jalan yang terjebak dapat terurai. Bus-ku pun menyodok masuk di kloter pertama yang diperbolehkan lewat. Saat perpas-pasan dengan barisan kendaraan dari timur, termasuk di dalamnya Muji Jaya Denpasar, Septi Jaya Bima-Jakarta, dua patas Jaya Utama dan lima armada Symphonie Nusantara, buntut kemacetannya hampir mencapai Tugu Selamat Datang Kota Rembang, yang berarti mendekati 7 km panjang antriannya. Luar biasa memang, jalur sevital Pantura langsung lumpuh hanya gara-gara insiden remeh.

Setengah delapan pagi, setelah diantar tukang ojek dari perempatan Sulang, akhirnya jalan terjal yang mesti kulalui berakhir dan aku lolos dari lubang jarum. I’m lucky laki…

“Na, tuh Papa pulang. Ayo, bareng Papa saja…”, teriak istriku pada anakku yang tengah bersiap ikut rombongan, saat aku tiba di rumah menjelang detik-detik keberangkatannya.

Tanpa mandi, ganti kostum, sarapan pagi dan persiapan yang lain, lantaran khawatir terlambat, bergegas kuantar buah hati pertamaku menuju sitihinggil Kecamatan Bulu yang berjarak sekitar 10 km dari rumah, yang lokasinya tak jauh dari pusara pahlawan emansipasi wanita, RA Kartini.

Dari balik kemudi, kuputar ulang “kotak hitam” perjalananku semalam. Dan kuhayati betapa kisah yang terjadi laksana sandiwara belaka. Skenario alam benar-benar mempermainkan dan mengombang-ambingkan nasib dan pengharapanku di atas panggung kehidupan, ketika adegan kemujuran dan babak keapesan mengaduk-aduk langkah 600 km-ku untuk menggapai pertemuan nan indah, berbagi kebahagiaan bersama keluarga tercinta.

Life is not always what it seems, people are not always true at heart. Life will always be a mystery...

(Tak) Banyak Jalan Menuju Rembang [Bagian Ke-3]


“Gimana kalau naik bus Bojonegoro, Mas?” Mas Yudi menawarkan solusi sekaligus meredam kekalutanku.

“Hmm…maaf Mas, busnya tak senyaman dan secepat bus Malang” argumenku untuk menolaknya secara halus. Benakku sudah menyudut pada pangkuan NS 19, meski efeknya besok bakal sampai di tujuan tak sesuai harapan.

Mas Yudi hanya tersenyum dan sepertinya mengakui bahwa penumpang yang well educated soal daleman PK prefer dengan bus-bus timuran.

“Kalau Mas mau, ini kursi 1C belakang sopir masih kosong. Tinggal ini lho, Mas,” dengan gaya bak seorang marketing handal, dia berusaha mempengaruhiku.”Mas, bus ini juga ngga mampir Cikarang. Langsung bablas, semua penumpang naik dari sini.”

Kutatap lebih lekat bus berjurusan Rawamangun-Rembang-Cepu-Bojonegoro tersebut. Secara tampilan cukup manis, model besutan Adi Putro memang tak lekang dimakan zaman. Terlebih dengan sekawanan kupu-kupu yang menempel di dinding lambungnya, berbalurkan body painting dengan kombinasi warna nan menawan, seakan menyembunyikan keuzuran mesin dan reputasi armada divisi Kudus yang kuanggap “nothing special”.



“Ya sudah Mas, kalau adanya ini…” pungkasku sebab aku tak mau lagi membuang-buang tempo dan kini saatnya bersahabat dengan keapesanku.

Pukul 16.52, bus berkode HT 723 pun menggunting pita start, berbarengan dengan Proteus. Tak banyak yang kuharapkan dari armada langsiran awal 90-an ini, selain lancarnya jalan Pantura. Bis bergerak perlahan, say goodbye pada petugas terminal, dan berbalik arah ke Jalan Pemuda.

Baru saja berlari, Neoplan OBL B 7168 NR menyalipnya tanpa ampun dari sebelah kiri. Wuss…

Justru momen inilah titik balik dari underestimate-ku terhadap “The Butterfly” ini. Pancingan “Si Gajah” rupanya berhasil membangkitkan gairah “Si Kupu-Kupu Malam”. Dihelanya dapur pacu Mercedes Benz jadoel ini untuk melebarkan kepak sayapnya.

Tak selang lama, Smiling Neoplan dengan trayek Jakarta-Solo itu gantian di-overtake dari sektor kiri. Wuss…

Sip… mantap, baru sebentar berangkat sudah disuguhi adu balap.
Dan benar adanya, karakter Kudus-an style mengalir di darah pengemudi pinggir ini. Kalau di-compare, mirip dengan Pak Khamsin, “kusir” Marcopolo Denpasar yang kutunggangi sebelumnya. Bergenre speeder, suka nempel-nempel kendaraan dan lincah bermanuver.

Di tol Jakarta-Cikampek, benar-benar kuacungkan jempol dan layak disanjungkan nilai nyaris sempurna, 9 dari skala 10 atas keterampilan mengemudinya. Dalam kepadatan lalu lintas di saat bubaran jam kerja, beliau memamerkan senioritasnya di jalan raya. Rajin mencari celah kosong serta bernafsu tinggi untuk terus memimpin di depan.

Dan aku pantas berterima kasih atas hiburan yang disajikan olehnya, berupa skor yang cukup telak setelah menyungkurkan lawan-lawannya. Tak kurang dari Sinar Jaya 90VX, Laju Prima Marcopolo, Rhema Abadi, Raharja (tumben jalan?), SAN Phoenix, ALS, Bandung Ekspress Wisata, Prima Jasa Garut, Rosalia Indah 144, Budiman E327, Ramayana B, dan Gunung Mulia 74, diasapinya.

Di ruas Cikampek-Pamanukan, bersama Kramat Djati Orbits dan Rosalia Indah Evolution 135 mengkreasi laku solidaritas yang ciamik. Dipimpin Hino RG-nya Rosin, ketiganya beriringan, berkonvoi tanpa ada keinginan untuk mencederai, saling memandu “teman sesaat”nya di belakang. Hanya rumah makan yang akhirnya memisahkan kebersamaan ini.
Kini aku berani melambungkan asa, rasa-rasanya limit 12 jam Jakarta-Rembang bisa ditembusnya.

Dan K 1565 AB ini juga melakukan meal break di kedai makan UUN, pada jam 20.15. Parkiran tampak didominasi armada “Blue Waves”, yang merefleksikan hegemoni Pahala Grup di lintasan Pantura. Proteus HT 913, Jupiter Jogja, New Travego TriUn Tangerang-Bojonegoro, Setra Kupu-Kupu-ku dan Setra livery Ombak mensejajarkan diri di depan beranda, menjepit dua armada Muji Jaya, MD 22 dan MD 77.

Setengah jam kemudian, jatah driver tengah mengendalikan kinerja OH 1518 ini. Dan aku harus menahan nafas kembali, karena metode injak gasnya tergolong malu-malu. Bahkan, dari obrolan dengan asistennya, kumenangkap kesan bahwa sopirnya begitu njlimet soal fuel calculation. Bahkan, katanya, mesin yang sudah di-on-kan dari jam satu siang akan berpengaruh banyak terhadap konsumsi bahan bakar. Wah, jangan-jangan etape Pamanukan-Rembang jadi ajang pengiritan solar?

Baru saja beruneg-uneg dalam hati, Shantika Grey Hi-Deck mencundanginya. Oh me…

It’s sleep time…Berhubung semalam aku hanya tidur dua jam, serta tak ada tontonan pembukaan World Cup 2010 dari televisi berdimensi 14 inchi yang nangkring di langit-langit depan, kini saatnya menikmati ayunan empuk leaf spring chasis OH King ini. Kujulurkan selimut tebal, menepis hawa dingin dari louver AC dengan merek Thermo Air. Kurebahkan jok Alldila yang telah usang ini, meringkuk dalam hangatnya perjalanan di atas bus eksekutif.

Seingatku, aku hanya dua kali terbangun. Pertama di daerah Losari yang sedang direhab jalannya, sehingga jalur barat dipakai bersama untuk dua arah. Pasalnya, penumpang sebelahku membuang badan ke arahku lantaran bus hampir adu muka dengan truk petikemas, saat “The Butterfy” memaksa menyalip spesies yang sama, Kupu-kupu dari Bumi Andalas, ALS. Meski dag dig dug, aku sempat takjub dibuatnya. Wah, nyali besar juga rupanya. Dan yang kedua saat beberapa penumpang turun di Kalibanteng, Semarang. Lain dari itu, benar-benar full kuisi dengan gelaran mimpi-mimpi indah, karena tak lama lagi halaman depan rumah akan segera kupijak.

Indra penglihatan ini terbuka kembali saat lampu kabin dinyalakan. Bus yang mempunyai kecepatan 6 speed ini melakukan “wajib lapor” di kantor pusat Kudus. Dan prasangka burukku menguap saat kutahu Proteus Malang II berhenti di depannya. Tak kukira sebelumnya, ternyata mulai dari Pamanukan hingga Kudus, bus-ku mampu mengimbangi daya jelajah divisi Malang yang kondang akan aksi banternya.

Kukeluarkan gadget lawasku. Yes…di pojok kiri bawah terpampang angka 03.14. Tinggal 1 ¾ jam lagi untuk sampai ke wisma kediaman. Dan kini tawa riang anakku membayang, karena bapaknya dapat menepati janji mengawalnya saat show kolosal dalam rangka menyemarakkan datangnya libur tahun ajaran baru.

Ada satu berkah tersendiri yang kuraup dengan diikutkan Setra Butterfly ini. Sebab aku bisa langsung turun Sulang, kota kecamatan di jalur Rembang-Blora yang dilewati bus-bus Jakarta-Bojonegoro, sekaligus titik penurunan terdekat dari rumahku. Bila saja aku di dalam Proteus, bakal mendapat tambahan kerepotan, karena kudu nyambung, dengan mencari mikrobus dari pasar Rembang untuk menuju Sulang.

Berawal dari ketidakberuntungan, kini aku jadi manusia berkalung nasib baik. Jalanan relatif lancar dan laju bus pun tak perlu dikeluh-kesahi. Aku pun dihinggapi euphoria, “Kupu-Kupu Malam” sungguh-sungguh membawaku terbang melayang, memudahkan jalan mewujudkan ekspektasiku di awal perjalanan.

Rabu, 14 Juli 2010

(Tak) Banyak Jalan Menuju Rembang [Bagian Ke-2]



Pukul 14.25, kakiku sudah berdiri di halte depan Polres Jakut. Akhirnya aku berketetapan untuk tetap pulang kampung via Rawamangun. Keluarga adalah segalanya, itulah pertimbanganku.

Tak lama berselang, berhenti bus kota PPD P43. Bus built up “hibah” dari negeri Jepang segera kunaiki. Entah bermesin Mitsubishi, Hino ataukah Isuzu, yang pasti mengusung tema low deck. Baru separuh dari kapasitas kursi terpenuhi, tapi tak mengurangi kegarangan pramudi untuk “meloncatkan” armada batangannya ini. Tapi kurasakan ketidakberesan pada sistem transmisi. Tiap kali oper gigi, terasa susah dan perlu dipaksa ketika shift up maupun shift down.

Dan momok ibukota itu menyergap kembali. Di daerah Plumpang dihalang kemacetan. Berulang kali bus bertarif jauh dekat Rp2.000,00 ini dalam posisi stop go sembari mengeruk calon penumpang. Kondisi lalu lintas padat merayap, hanya melaju di kisaran 5-10 km/ jam.

Tiba-tiba, ggrraakkkk…terdengar suara kasar dari kolong. Grreekk…bus bertrayek Cililitan-Tanjung Priok ini langsung shut down. Tak ayal, kendaraan lain dibelakangnya menyalakkan klakson keras-keras karena berhentinya bus ini tepat di tengah jalan di seberang kantor TMMI, Sunter. Inikah tanda-tanda keapesanku?

Sayang seribu sayang, bus yang mulanya didatangkan dalam status seken namun terurus ini, semakin amburadul perawatannya di tangan manajeman “plat merah”.

Terlihat kru bus mengambil botol air kemasan 1,5 liter yang (sepertinya) berisi oli transmisi. Dituangnya cairan berwarna kuning emas ke dalam gear box di bawah kabin depan. Di starting up, dan jalan kembali.

Namun, kemacetan kian parah. Dari atas fly over depan Mall of Indonesia (MoI), terlihat kendaraan tersendat hingga seputaran pabrik Astra Honda Motor. Sudah lebih setengah jam, namun bus kota ini belum bisa beranjak dari pusaran traffic jam, masih terjebak di daerah Cempaka Putih. Duh, tanda-tanda kesialan itu semakin kentara…

Perlahan tapi tak pasti, dengan kepayahan perempatan Utan Kayu dicapainya, saat jarum waktu menunjuk angka 15.25. Perkiraanku, bakalan miss dengan schedule Malino Putra atau Kramat Djati Malang, pemberangkatan jam tiga sore. “Ah, tak masalah, masih ada alternatif yang lain, so don’t be panic, be calm,” aku menenangkan diri.

Kusambung approaching-ku ke terminal Rawamangun dengan Metromini 49. Beruntung, di depan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) hingga TPU Utan Kayu, lalu lintas ramai lancar. Biasanya, sewaktu ada prosesi pemakaman, macetnya juga ngga ketulungan.

15.34 saat aku menapak pintu masuk terminal yang berlokasi di Jalan Perserikatan No. 1, Jakarta Timur. Overtime dari waktu tempuh normalnya, yang kurang lebih 45 menit.

Di lapak sisi utara, diisi empat armada Pahala Kencana (PK). Masing-masing Marcopolo Denpasar, Proteus Malang, Jupiter Jogja dan Setra Bojonegoro.

“Hmm…ada dua bus yang bisa kupilih, Denpasar atau Malang. Simpan dulu ah…”

Kuarahkan kaki ke midle grid. Siapa tahu ada Malino Putra berbusana baru nge-line. Ternyata nihil, sudah berangkat. Flying Eggs Malang juga telah raib, yang tertinggal dua Kramat Djati Ponorogo dan satu lagi Palembang. Pupus sudah harapan berburu Jupiter berlampu Marcopolo maupun air suspension Kutelusuri terus sampai depan. Duh, LE-450 Banyuwangi dan Karina Super Eksekutif 420 juga tak ada. Hal ini semakin mempersempit pilihanku.

Apek jan apek tenan! Gara-gara momok itu, aku kandas mengincar target bidikan. Terpaksa, balik ke paddock Ombak Biru, berencana menumpang Denpasar II. Baru saja melangkah, oalah…MB OH 1525 Euro III itu dilepas keberangkatannya, dengan banyak seat yang tak berpenghuni.

Mau tak mau, suka tak suka, lantaran tinggal satu-satunya, angan-angan ini kusandarkan pada bus Malang II.

“Mau kemana, Mas?” sapa personel agen PK saat aku memasuki blue area.
“Mau ketemu Mas Yudi, Mas,” jawabku.
“Dia ada di depan, Mas…”

Kuhampiri Mas Yudi yang sibuk mengatur penumpang Jogja, di samping New Travego ala Tentrem, B 7198 XB.

“Mas, turun Rembang ikut bus Malang ya!” pintaku.
“Maaf Mas, sepertinya kok habis,” balasnya diiringi gestur penuh keramahan.
“Lho, masih banyak yang kosong itu, Mas,” kilahku seakan tak percaya sambil menatap bodi bikinan karoseri Ungaran yang masih ngglondhang.
“Hmm…Ayo ke loket saja, Mas. Saya cek dulu, barangkali masih ada kursi,”

Kuikuti langkah Mas Yudi hingga di depan loket dan selanjutnya memeriksa daftar manifes penumpang. Hingga dia mengeluarkan pernyataan :

“Benar Mas, sudah pesanan semua. Kalau Mas ngga telat, tadi bisa saya ikutkan bus Denpasar …”

Astaghfirullah…Seketika lemas dan lunglai lutut yang menopang kaki ini. Bus apalagi yang bisa kuandalkan, setidaknya sebelum jam 5 pagi sudah bisa menurunkanku di Kota Rembang. Ingin rasanya menggerutu pada diri sendiri, ternyata pertaruhanku ke Rawamangun adalah keliru. Kubayangkan NS 39 Pulogadung jam segini sudah masuk pool Perintis Kemerdekaan dan kemudian lepas landas menuju Cepu dengan habit balapnya.

Ternyata, nasib tak mujur terus mendekapku. Apa kata anakku nanti kalau bapaknya gagal menemaninya saat naik pentas. Hiks…

(Tak) Banyak Jalan Menuju Rembang [Bagian Ke-1]


“Pa, Sabtu besok Naura mau tampil di pendopo kecamatan,”
“Oh iya? Acara apa, Ma?”
“Pentas seni antar TK se-kecamatan Bulu,”
“Jam berapa?”
“Kata gurunya, jam 07.00 rombongan anak-anak diberangkatkan dari sekolah. Eh, Naura penginnya Papa sendiri yang nganter. Papa harus ikut nemanin lho, ya beri semangat lah buat anakmu…”

Seperti masa-masa yang telah terlewati, menurutku, hadirnya malam Jumat terasa begitu istimewa ketimbang hari-hari lain. Andai diumpamakan (meski dengan kadar yang tentu saja jauh berbeda), malam Jumat boleh dibilang malam takbiran-nya kaum komuter mingguan, selaku penanda akan hadirnya “hari raya” yang akan segera tiba.

Tak terkecuali malam itu, hari kesepuluh di bulan Juni. Kuncup-kuncup kebahagiaan mulai tumbuh di taman hatiku dan menunggu akan bermekaran keesokan harinya. Sejenak meninggalkan riuhnya ibukota, me-refresh pikiran menikmati lanskap malam pantura, dan tentu saja, melepaskan dahaga kerinduan bersua orang-orang terkasih sebagai happy story-nya.

Terlebih, adanya pesan dari sepenggal pembicaraan dengan istri lewat telepon lusa sebelumnya. Menonton aksi putri sulungku yang akan jadi team leader buat kawan-kawannya di atas panggung, dengan keluguan, kelincahan dan keceriaannya memeragakan atraksi gerak dan lagu, kian menggelorakan semangat turingku.

“Akan kupenuhi permintaanmu, Nduk…Sabtu pasti akan Papa dampingi,” demikian janjiku.
---

Tapi, kejadian tengah malam itu sungguh-sungguh mengguncangkan mental dan psikisku. Di saat lelap dalam tidur, tiba-tiba…

“Dik, bangun…Bangun, Dik!!!” kudengar teriakan lantang seseorang sambil menggedor-gedor pagar kost-an. Kusimak intonasi dan warna suaranya, jelas itu office boy kantorku, yang sekaligus tetanggaku di gang-an.
“Ada apa, Frend?” sahutku dari dalam kamar.
“Cepat keluar…!!!” ajaknya.
“Ada apa sih?” gumamku “Tumben-tumbennya...”
Kulirik jam dinding, 00.45. Dengan ogah-ogahan, kutarik gagang pintu.

Belum sepenuhnya terbuka, masya Allah, aku terperanjat setengah mati.

Sebuah mobil ambulance dengan kedipan lampu rotary yang menyilaukan mata persis berhenti di depan teras rumah Bapak Kost-ku.

“Ada apa, Frend?” tanyaku dengan penuh selidik sekaligus keheranan.
“Anak Pak Kost meninggal, Dik, kena DBD,”
Innalillahi wainna ilaihi rajiun…
“Lho? Kok ngga ada beritanya sakit?” kucoba kukorek keterangan.
“Iya, semua pada kaget. Siang masuk rumah sakit, jam sebelas tadi ngga ada…”

-- Ya Allah, nyawa dan maut adalah kuasa-Mu. Engkaulah yang menggenggamnya. Bila Engkau berkehendak untuk mencabut, siapa yang punya kekuatan untuk memundurkannya barang sedetikpun --

Jadilah nuansa dinihari di sudut kota tempatku menumpang hidup berubah kelabu. Tetangga-tetangga Pak Kost pun bahu membahu mengurus mayat, dari semenjak datang hingga fajar menyingsing. Tamu-tamu datang silih berganti untuk sekedar menghaturkan rasa bela sungkawa bagi keluarga yang ditinggalkan.

Jumat pagi, aku hanya absen di kantor kemudian izin pada rekan kerja untuk pergi takziyah. Kuantar jenazah menuju kompleks Tempat Pemakaman Umum (TPU) Semper, tempat peristirahatannya yang terakhir. Sewaktu kain kafan yang menutup muka sang mayat dibuka, sesaat sebelum liang lahat dikubur tanah, terlihatlah raut wajah putih bersih tanpa dosa. Tak mengira memang, di usianya yang belum genap 10 tahun, paripurna sudah almarhumah mengecap kefanaan dunia.

Ada satu drama yang mengharukan, saat Pak Kost yang dikenal pula sebagai Ustadz, menyampaikan ceramah singkat selepas pemakaman. Dengan vokal berat seolah tertekan kesedihan yang mendalam, beliau berujar :

“Ada satu permintaan almarhumah yang belum saya penuhi. Seminggu ini anak saya merengek minta baju muslim. Bukannya saya tak mau membelikan, tapi saya sudah berusaha mencari namun belum juga ketemu ukuran yang pas dengan badannya yang gemuk dan besar. Hingga akhirnya Allah SWT berkehendak lain. Ternyata pakaian yang pas buatnya adalah kain kafan…”

Tanpa kusadari, pelupuk mata berlinang menitikkan air mata. Seketika terlintas wajah duo putriku. Betapa berharganya bidadari-bidadari kecil itu dalam kehidupanku ini.

“Percayalah Nak, meski tak setiap saat Bapakmu bisa mendampingi tumbuh kembangmu, tapi perhatian, rasa sayang dan cinta kasih ini segalanya tercurah untukmu berdua,” bisik batinku.

Sepulang dari melayat, kekisruhan menghinggapi pikiranku. Antara pulang ke Rembang atau kubatalkan. Hendak pulang, sepertinya kurang bijak di kala diliputi duka. Memang bukan aku yang “kehilangan”, tapi aku menganggap merekalah keluargaku di sini.

Selain itu, konon katanya, pergi di tengah suasana berkabung, seringkali kena kutukan “apes” di jalan. Dan mitos itu seakan menghantui, meski aku sendiri kurang percaya pada masalah demikian.
Semisal tak pulang, aku juga sudah terlanjur berikrar pada si bocah. Aku akan bersalah jikalau ingkar. Ah, mana yang mesti kudahulukan? Akankah aku tetap berkeras hati mudik ke kampung halaman kali ini?

Kamis, 01 Juli 2010

Karena Kesetiakawanan Itu Mahal Harganya (3)


Etape panjang Pamanukan-Rembang kini membentang.
Hmm…hampir setengah dua. Dalam situasi normal, di kala dinihari begini, air intake NS 19 semestinya sudah menghisap hawa segar Alas Roban.

Bus seakan malas bergerak, bahkan aku mendakwa luntur kegarangannya. Tidak ada gregetnya dan tentu saja, lenyap sudah momen lomba cepat dan tanding nyali dengan bus-bus malam yang lain. Jalur Pantura telah lengang, hening, bahkan mirip gang buntu. Cuma satu dua kendaraan bergardan yang bersliweran, dengan interval tempo yang lama.

Ah, aku belum menyapa “si dia”. Siapa tahu, aku bisa membunuh penyakit gubug reyot syndrome. Terkadang selintas bayangan menghampiri, bahwa “si dia” pun sebenarnya mengerti bahwa aku anak BMC namun kami sama-sama jaim dan khawatir nantinya rikuh serta kaku saat bercuap-cuap. Tapi segera kubuang jauh laku underestimate itu.

“Turun mana, Mas?” sapaku.
“Lasem, Mas,” jawabnya dengan logat Melayu.
“Memang tujuan akhirnya Lasem ya, Mas?”
“Ngga Mas, mau ke Malang?”
“Lho, kok?” aku pura-pura bego, “Mau ke Malang kok malah naik bus Lasem?”
“Saya biasa seperti ini kok, Mas. Nyambung-nyambung. Nanti nyari bus Semarang-Surabaya dan lanjut lagi bus Surabaya-Malang…”

Nah, pancinganku berhasil. 70% kevaliditasnya bahwa si dia memang "warga samping rumah". Siapa lagi kalau namanya bukan bismania, yang lebih suka bepergian dengan sistem estafet.
Kami pun larut dalam keakraban. Makin lama aku makin mencatat bahwa 95% memang benar bahwa si dia anak sebelah, berkaca pada pengalaman, wawasan serta pengetahuan akan tetek bengek per-bus-an, khususnya bus-bus Sumatra-an. Wajar saja, dia berdarah Minang sehingga perihal PO-PO bumi Andalas dan rute-rute jalur Sumatra --- lintas barat, tengah maupun timur -- hafal di luar kepala. Dan dari cerita-cerita itu pula, ternyata lelaki asing ini seorang Ijo Lover.
Tak terasa, satu jam lebih kami menjalin komunikasi yang intens, sharing tentang perkembangan bus tanah air hingga tema-tema di luar bus itu sendiri. Biarpun begitu, dia cukup hati-hati dalam menyembunyikan kerahasiaannya terkait “alirannya”. Aku sendiri mengira-ngira, sepertinya “si dia” pun ngeh kalau aku tak sepaham dalam ber”mahdzab”.

Namun, kami berdua saling menjunjung sikap toleransi, tenggang rasa serta kesetiakawanan. Tak pernah sekalipun menyinggung soal “perbedaan-perbedaan” itu, kami lebih meninggikan sisi-sisi kesamaannya. Karena saat ini bukan saat yang tepat untuk berdebat dan adu argumen. Kami punya kedewasaan berpikir dalam memutuskan sesuatu yang kami yakini merupakan pilihan terbaik. Apalagi aku, harus empan papan sebagai member BMC, untuk menebar semboyan “BMC Sejatinipun Seduluran”.

Pukul 02.35, saat kami memungkasi dialog serius tapi santai ini. Kurebahkan punggungku senyaman mungkin di jok Aldilla, karena mesti menghimpun tenaga. Sabtu dinihari besok bersiap melakukan perjalanan panjang dan lama kembali, Rembang-Sidoarjo.

Matahari mulai menyembul di ufuk timur ketika bus berdaya 360 HP ini menjejak daerah Banyu Putih. Kecepatan jelajah Pak Rokhim biasa-biasa saja. Bisa jadi, karena permasalahan semalam telah memadamkan api determinasinya. Tak ada lagi aksi injak gas dalam-dalam. Meski begitu sempat mengasapi bus malam yang tercecer dari kabilahnya, yakni New Travego LE-350 dan Handoyo Hino RK.

Ada sedikit kelucuan yang dapat dikisahkan. Saking lambatnya pergerakan NS 19, NS 18 yang semalam ditolong hilang kesabaran saat menguntit di belakangnya. Alhasil, disalipnya armada langsiran 2008 ini. Namun, menyadari kekeliruannya yang dianggap ngelunjak, NS 18 pun minggir ke salah satu SPBU. Tentu bukan untuk mengisi solar, tapi memberi jalan NS 19 agar bisa ke singgasana depan kembali.

Bus makin tak bisa dipacu lebih kencang, karena pagi hari adalah jam tayangnya para cebong (anak kodok=istilah para sopir untuk motor) keluar dari kolam. Sempat menyalip armada pariwisata Kalisari berbaju Setra Selendang Adi Putro dan bus Demak, Pulung Sari, sebelum akhirnya jam 08.35 mendarat di pool Karanganyar, beriringan dengan Super Eksekutif HS 182, NS 01.

Tinggal 10-an penumpang yang tersisa untuk tujuan Pati ke timur. Di ruas Kudus-Pati sempat berpas-pasan dengan Nusantara London Bridge dan Haryanto yang hendak pulang ke garasi Kudus. Dua bus bumel, Indonesia dan Sinar Mandiri meledeknya dengan menyembur asap hitamnya ke wajah Setra ini. Jelas-jelas NS 19 kehilangan muka menahan malu, sesiang ini masih bekerja dan tampak terhuyung-huyung menyelesaikan misinya, menuntaskan trayek Daan Mogot-Rawamangun-Lasem.

Dan trip-ku paripurna di angka 10.24, saat kuinjak tanah kelahiranku, bumi Dampo Awang tercinta.

Ugh…otot-otot terasa capai meski semalaman dimanjakan ayunan suspensi yang highest rank di kelasnya ini. Kini, aku merekontruksi ulang mindset bahwa tak selamanya naik bus-bus solorun tanpa ada teman se-PO akan merepotkan bila terjadi trouble di jalan. Untuk menghindari hal yang demikian, lebih aman memilih bus yang banyak konco-konconya.

Tapi nyatanya, peristiwa tadi malam seolah menggugatnya. Biarpun punya teman seiring sejalan, saling berkonvoi satu di depan lainnya, namun atas nama asas solidaritas, “problematika” yang dialami salah satu armada di jalanpun bisa sukses menodai rapor biru pelayanan terhadap penumpangnya, yakni molornya waktu tempuh.


====================================

Memang, kesetiakawanan itu mahal harganya…

Karena Kesetiakawanan Itu Mahal Harganya (2)


Setelah berpamitan dengan duo member of BMC Jabodetabek itu, kususuri selasar panjang armada The New generation of Setra untuk mencapai bagian rear cabin.

Saat hendak menghempaskan tubuh…alamak!!!, guyonanku jadi kenyataan. “Si dia” bermukim di bangku 29, persis di sampingku. Seketika itu pula suasana hatiku bercampur aduk. Antara percaya tak percaya kok ndilalah berjodoh dengan komunitas seberang, senang sebab malam ini bakal jadi malam yang mengasyikkan, (andai saja benar) bisa duduk bersebelahan dengan sesama buslover, harap-harap cemas dikarenakan kali ini harus berhadapan langsung dengan orang yang berlainan “bendera” dan juga dikungkung kebingungan untuk bersikap. Haruskah dengan “tetangga baru” aku nanti memasang tingkah cuek bebek, pura-pura tak tahu, ataukah mengulurkan tangan menjalin solidaritas, ataukah mengajak berkonfrontasi tentang “mahdzab” yang dianut.

Ah, mengapa aku terjebak dalam primordialisme sempit begitu. Sekarang ini, aku dan dia senasib sejalan, diikat dalam kesamaan armada , dipersatukan oleh satu jurusan dan berteduh di atap yang serupa, NS 19. Selama ini dalam setiap perjalananku, sebisa mungkin mengakrabkan diri dengan teman sebangku, tak membedakan usia, gender, kelas sosial ataupun dinding kesukuan. Karena bagiku, kita bukan lagi pribadi nafsi-nafsi, namun telah dibangun menjadi keluarga sesaat oleh bus yang hendak membawa kita pada tujuan akhir masing-masing.

Kali ini kutanggalkan dulu “baju kebesaraanku”, BMC. Kalau ada kesempatan, pasti “si dia” akan aku ajak bertegur sapa, berkenalan dan ngobrol tentang apa saja. Toh, tak ada ruginya berteman dengan siapapun, bukan?

Tapi tetap kuingat yel-yel salam damai, “Elu asyik gua santai, elu ngusik gua bantai”. (Hehe…just joke)

Bis berkode lambung HS 184 ini melenggang keluar meninggalkan sarang persinggahannya. Beruntung mendapatkan “Raja Singa” yang relatif muda, tak setua HS 157 yang kunaiki sebelumnya. Performanya masih mumpuni dan suspensi udaranya cukup mentul-mentul untuk menopang kenyamanan penumpang.

Herannya, belum lama take off, “si dia” sudah menjulurkan selimutnya dan memejamkan mata. Memang, aku belum sempat “say hello”, tapi hal itu membuatku bimbang. Jikalau benar dia punya darah bismania yang terbenam dalam urat nadinya, itu bukanlah ciri-ciri seorang bismania. Sudah jamak lumrahnya, manusia-manusia aneh itu pasti akan menikmati perjalanan di atas bus dengan menyimak live show apa saja yang ada di depan, di dalam, di samping atau (kalau bisa) di belakang bus.

Tapi, yang satu ini malah kebalikannya. Jangan-jangan, “si dia” bukan anak sebelah yang Mas Riko dan aku maksud. Itu hanya soal kemiripan wajah saja. Masa bodoh ah, mau apapun yang diperbuat, itu urusan dia. Aku harus hargai dia sebagai penumpang.

“Mas, mau kemana?” sapaan seseorang di seberang lorong mengagetkanku, saat roda-roda bus hendak memasuki gate entry Pedati, Prumpung.
“Rembang Mas, sampeyan?” balasku.
“Loh, sama Mas, cuma aku turun Lasem.”

Ternyata, bukan aku yang mendahului membuka “forum dadakan”. Inilah enaknya kalau orang satu kampung halaman dipertemukan dalam satu bus, jadi cepat intim. Dari perbincangan ringan, akhirnya aku tahu bahwa kenalan baruku itu adalah orang yang profesinya bergelut dengan batik Lasem. Sehingga aku berhasil menguak cerita dan seluk beluk tentang dunia batik tulis Lasem yang adiluhung itu. Bahkan, beliau mengajakku untuk mengunjungi galery batiknya yang tak jauh dari pool pusat PO Tri Sumber Urip.

Bis pun terus berlari, memamerkan dominasinya. Soal attitude pengemudi-pengemudi besutan Pak Hans, tak usah ditanya lagi. Full speed dan ngeblong abis, menyibak lalu lalang pengguna jalan. Bagi penggila kecepatan dan Pantura race interest, nama HS dan CN selalu masuk topchart “the speed that you can trust”. Dan itulah salah satu pasal yang sanggup membunuh kebosananku meski sebagian besar turing mingguanku kuhabiskan bermalam di dalam “omah mlayu” PO Nusantara.

Sayang, laju Scania K124iB tersendat di daerah Ciberes. Tentu bukan karena keisengan kru untuk mengintip aktivitas terlarang di dalam kompleks warung remang-remang yang berderet di pinggir jalan Pantura Subang. Bukan pula untuk memelototi wanita-wanita penggoda syahwat lelaki yang memajang diri di depan posnya, menebarkan aroma BB17+ + dengan busananya nan seronok dan dandanannya yang menor. Melainkan adanya proyek perbaikan jalan di sekitar Pasar Ciasem, yang buntut kemacetannya telah memanjang hingga mencapai “black area” ini.

Pelan tapi pasti, bus yang bernopol K 1436 BB bisa memindahkan posisinya ke depan. Kendaraan makin berjubel dan terlihat makin tak terkendali etika berlalu lintasnya. Yang dari belakang menyodok dengan mengambil jalur berlawanan (arah Jakarta) sedangkan yang berada di jalur yang benar mulai mengambil lajur paling mewah (mepet sawah) alias bahu jalan. Tak terkecuali NS 19 ini.

Dipandu NS 01 di depannya yang tadi berhasil menyusul, diserobotnya jalan tanah yang kondisinya cukup labil. Karena sering diterjang aneka ria mobil roda empat ke atas, kontur tanahnya jadi tak seragam, naik turun. Di satu sisi membentuk cekungan, di sisi yang lain jadi gundukan. Bus pun oleng kanan kiri dan ajrut-ajrutan, karena nekat mengambil jalan yang mestinya tidak safe lagi buat dilewati.

Sedikit demi sedikit, akhirnya bisa bergeser hingga di depan kantor Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Sukamandi. Sampai di sini, barisan NS 01 dan NS 19 benar-benar berhenti. Aku pikir memang stag karena kemacetan demikian akutnya. Kubaca jam yang nangkring di kiri depan interior, 21.15. Kuputuskan untuk tidur, karena mata tak kuat lagi melawan musuh biologis yang berupa kantuk. Zzz…zzz…zzz…

Kurasakan bus diam tak bergerak dan lambungku berteriak minta dipenuhi disebabkan siang harinya melalaikan ritual lunch. Kubuka mata, kulihat jam digital memampangkan angka 23.11, menelisik sekeliling dan haaa??? Hampir dua jam tak ada perubahan, masih terdampar di seberang BB Padi, Sukamandi. Di samping kanan, antrian kendaraan masih mengular, meski kondisinya padat merayap. Trio Tegal-an – Sinar Jaya, Dewi Sri dan Dedy Jaya -- bergantian minta permisi lewat. Di depan, pemandangan masih diisi pantat NS 01. Jangan-jangan NS 19 ini sedang trouble. Tapi kok tak ada tanda-tanda ada perbaikan? Mengapa jalur paling kiri tetap tak bergerak?

Entahlah apa yang terjadi. Kulanjutkan acara my sleeping sleeping chicken, meksi badanku mulai bergetar dibekap kelaparan yang amat sangat dan kedinginan. Karena tak ada lagi yang kuharap, selain menenangkan diri dengan beristirahat.

Nyala lampu kabin yang terang kembali membangunkanku dan penumpang lain. Sudah sampai RM Taman Sari rupanya. Ck ck ck…pukul 00.40, berarti telat 3 jam dari biasanya.

Ada sedikit pemandangan yang menghiburku dari kegalauan perjalanan ini. Di samping NS 19 terparkir armada terbaru PO Haryanto, MB OH 1526 berjuluk The Phoenix. Kok jam segini baru sampai sini juga ya?
Belum sempat menduga-duga jawabannya, The Sweet Black Red itu malah menjauh dan meninggalkan aku yang takjub terkesima memandang sosoknya. Kapan ya bisa nyicip legitnya si Phoenix itu?

Menu hidangan yang disajikan sudah dingin, hambar dan tak lagi mengundang selera. Demi memenuhi aspirasi perut, kugelincirkan beberapa suap nasi ke dalam kerongkongan.

Saat menyantap makan kemalaman, datanglah NS 18 di belakang. Tapi kok aneh perujudannya? Bumper depan lepas dan tak terpasang lagi di tempatnya. Seakan ompong tanpa gigi. Apa yang gerangan terjadi dengannya?

Kutanyakan pada driver I Nusantara, yang tengah merokok di teras rumah makan.

“NS 18 kenapa, Pak?”
“Lha ini tadi Mas yang membuat repot. Waktu ambil kiri, roda belakangnya terperosok ke dalam lumpur dan apesnya chasisnya nyangkut, bus tak mau dimajukan lagi. Terpaksa, kita nungguin sambil mencarikan jalan keluarnya.”
“Gimana caranya tadi, Pak?”
“Minta tolong truk tronton yang lewat untuk menariknya, Mas….”

Duh, pantas saja berhenti lama sebagai wujud solidaritas sesama koleganya. NS 18 seri HS 173 ini tho biang keladinya…

Karena Kesetiakawanan Itu Mahal Harganya (1)


Rinai gemiris yang sedari sore turun kian menampakkan amarahnya. Semakin lama semakin deras mendera. Bentang langit menghujami bumi dengan milyaran bulir air, laksana busur raksasa yang memberondongkan anak-anak panahnya.

Hujan itu mengingatkanku akan perjalanan Rembang-Jakarta sepekan sebelumnya. Betapa anomali musim – mestinya bulan-bulan ini menapak fase kemarau – begitu menyiksaku, hingga aku bersama teman-teman kelana berjibaku melawan pekatnya malam dalam guyuran hujan, menghalau rintang berupa “bopeng-bopeng jalanan” yang disuguhkan medan Pantura, meredam panasnya atmosfer kehidupan di atas jalan raya, demi meringkas waktu memangkas jarak 600-an km yang harus kami lalui dari balik mobil small MPV.

Perlahan, senja mulai merambat naik. Sementara aku masih terpaku di emper kost-an. Gemuruh bunyi misil-misil cair ketika menghantam atap seakan mengisyaratkan bahwa alam untuk sekian kalinya akan menguji hajat mingguanku. Dada bergemuruh, lidahpun getir, dan keraguanku memadat, menatap lapisan mendung gelap yang bersiap menyetubuhi seantero wilayah ibukota. Beuh…ujian apalagi ini yang mesti aku hadapi?

Andaikan saja Sabtu pagi tak ada undangan mantenan sepupuku di Sidoarjo, Jatim, kutunda saja rencana pulang ngetan sore ini. Bisa kuundur Jumat pagi untuk menunaikan agendaku. Toh, aku juga belum mengantongi tiket, tak terikat janji dengan agen ataupun jadwal keberangkatan bus. Lebih baik berdiam diri di sini, menghabiskan malam meringkuk dalam hangatnya peraduan di kamar sederhana ini.
Ugh, tapi sudah kepalang tanggung. Jumat dan Senin depan sudah kurengkuh sebagai my offworkdays, hari-hari cutiku. Mosok, slottime yang melimpah ruah justru aku habiskan dalam kesendirian, bukannya berkumpul dengan keluarga. Alangkah tidak bijaknya aku ini.

Kulirik jam yang bersandar di dinding yang selama ini setia menjadi penunjuk waktu bagiku. 17.35. Hmm…masih ada satu jam lagi untuk memburu departure bus-bus Muria Raya dari Rawamangun. Tapi apa ya mungkin, dengan kondisi hujan lebat dan potensi kemacetan yang ditimbulkannya, aku bisa mengejarnya? Ah, segera kutepis bayang-bayang kekhawatiran itu. Aku belum mencoba, mengapa aku jadi pengecut?

“Aku harus pulang sekarang, tak kuacuhkan seberat apapun halangannya…” demikian tekad yang kusemai dalam benakku.

Yang kupertimbangkan pertama adalah moda transportasi apa yang akan meng-assit ke Terminal Rawamangun. Tampaknya taksi bukan lagi alternatif, satu-satunya yang bisa kuandalkan adalah angkutan roda dua.

Kukeluarkan gadget usang, memanggil ojek langganan yang biasa mengantarkan ke Pulogadung ataupun Rawamangun. Tapi sayang…

“Maaf Mas, saya lagi ngga narik…” jawabnya di ujung telepon.

Matek aku.

Tanpa banyak berhitung, nekat kuterjang deraian “tirta nirwana” yang semakin tak terhitung intensitas serbuannya. Kususuri jalan sepanjang 50 m yang menghubungkan rumah tumpanganku dengan jalan besar, mencari angkot APB 02 yang biasa membawaku ke Simpang Lima Semper, pusat mangkalnya para tukang ojek.

Tapi, petang itu lain dari biasanya. Pangkalan Semper itu mendadak sepi. Cuma ada segelintir ojekers yang “tabah” untuk tetap mengadu nasib di ambang malam.

“Pak, antar saya ke Rawamangun, ya!”
“Baik Mas…”
“Tapi ada mantel kan, Pak?”
“Ada Mas, tapi kecil…”

Aduh, ini mah mantel anak-anak, saat aku ditunjukkan piranti penangkal hujan yang cupu dan supermini itu. Wis lah, gapapa…yang penting bagian leher ke atas aman dari serangan hujan.

Tak kupedulikan lagi jalur mana yang dipilih Pak Ojek untuk mencapai Rawamangun. Kepalaku kubenamkan di punggungnya, sembari meretas asa, semoga lancar dan terjauhkan dari kemacetan yang merupakan momok harian warga Jakarta.

Butir-butir air yang menganak sungai di permukaan jas hujan jatuh menetes, membasahi pundak dan lenganku. Seringkali air yang menggenang di jalanan terpercik ke arah kaki, disibak tapak-tapak roda kendaraan yang membelahnya. Jaket hitam dan celana panjang yang kukenakan mulai diresapi air, membuat kulitku mencumbui kesejukannya. Bbbrrr…begitu dingin.

Kukembangkan payung sesaat setelah mendarat di pelataran Taman Surgawi, Rawamangun. Hujan pun tak meredakan tensinya, seolah meruntuhkan segenap isi awang-awang. Kucoba calling Mas Medriko, yang berniat menemani sebelum melepas keberangkatanku. Tapi tak ada respon. Mungkin terjebak macet, pikirku.

Kususuri emplasemen terminal eksekutif ini. Row pemberangkatan dihiasi Shantika Ijo Tosca, Senja “Pinky” Furnindo dan quatro Karanganyar, NS 18, NS 19, NS 01 dan NS 04. Sedang laskar Jepara yang lain, Muji Jaya, belum satupun menampakkan diri.

“Lho, Mas, pulang Rembang? Biasanya dari Pulogadung?” tegur seseorang berkemeja merah putih colourmark PO Nusantara.

Wah, ternyata Pak Rokhim, eks driver NS 39 yang sekarang naik derajat mempiloti armada Scania.

“Eh, iya Pak. Habis baru bisa pulang setelah jam kantor,” kilahku.
“Ikut busku saja, Mas, aku bawa NS 19 kok, dijamin sampai Rembang…” beliau menawarkan diri.

Tak pelak, ajakannya benar-benar menghimpit kebebasan dan mengerucutkan pilihanku. Terlebih kupikir, jalan Deandels sedang dikuasai kehancuran, alangkah nyamannya dibuai kenyamanan air suspension makhluk berkebangsaan Swedia ini. Dan juga, perjalanan nanti bakalan kuhabiskan untuk tidur semalaman, bukan menikmati layar hidup menonton para aktor antagonis beraksi di panggung Pantura. Hujan di luar akan semakin memanjakan tubuhku untuk menetap di dalam kabin bus bikinan Adi Putro Wira Sejati ini, tak perlu repot bernomaden andai naik bus jurusan Jepara.

Mungkin, bagi “penumpang nakal” kalimat rayuan dari pengemudi itu berarti dibukanya pintu sarkawi. Namun, aku yakin, reputasi Pak Rokhim yang kalem, nrimo dan tak banyak menuntut saat “memegang” trayek Cepu-Pulogadung, bujukannya itu hanya semata-mata ingin menolongku untuk mempermudah perjalanan. Tak ada udang dibalik batu, tak ada maksud tersembunyi.

Aku segera merapat ke loket yang digawangi Mbak Delima dan puji syukur, masih kebagian seat meski hanya di deret ke-8, nomor 30.
Selesai memenuhi kewajiban yang diperingan, menjama’ sholat Maghrib dan Isya’, tiba-tiba di inbox-ku muncul pesan dari Mas Riko, yang mengabarkan sudah menunggu di depan kantor terminal, tepat di depan armada NS 19.

“Mas, ada anak sebelah naik NS 19 juga lho. Itu orangnya…” itulah pembicaraan pembuka setelah kami berdua berbasa-basi di awal perjumpaan.

Kuamati “si dia” (sebut saja begitu) yang tengah berdiri di samping bus. Samar-samar sepertinya sih iya, soalnya raut mukanya pernah kulihat di salah satu Multiply penggemar bus saat aku melakukan blogwalking.

“Semoga saja duduknya sebelahku Mas, jadi ada teman ngobrol…” candaku pada lajang berjuluk Riko Flanker ini.

Tak lama berselang, Mas Bob Andi tiba untuk bergabung. Barangkali sebagai tombo gelo, karena kemarin tak bisa urun kehadiran di Kopdar Pulang Kerja (KPK) Pulogadung.

Tapi sayang, kebersamaan kami bertiga direnggut corong TOA terminal yang gembar-gembor memaksa penumpang NS 19 untuk bersiap, karena armada telah kehabisan jam berlabuhnya.

Meski hanya sebentar bersua, tapi tak mengurangi kesakralan pertemuan tripartit bismania yang bernaung dibawah panji-panji BMC. Saudara bukan, kerabat juga bukan, tapi ikatan brotherhood sesama member melebihi segalanya. Cuaca yang tidak bersahabat dan jauhnya lokasi kantor dari stamplat bus, tak serta merta memberatkan langkah Mas Riko dan Mas Andi untuk sekedar menjadi teman pengantar perjalanan bagiku. Rasa kesetiakawanan yang ditunjukkan mereka berdua sungguh-sungguh membangunkan mood turingku.

Mas Riko dan Mas Andi pun melepas kepergianku, bak aku ini seorang pahlawan yang hendak maju berlaga di kancah peperangan. Hahahaii…