Rabu, 18 Agustus 2010

Mutiara Yang Hilang Dulu, Jumpa Lagi…(3)




Di Ruang Rindu, Kita Bertemu

“Kepada para penumpang Yudha Express, dipersilahkan memasuki armadanya, karena bus akan diberangkatkan.” seru mulut TOA, penyambung lidah petugas Terminal Pati.

Akupun memungkasi forum Mak Ni Community, kemudian undur diri dan say goodbye pada Mas Ferdy dkk.

Kutuju bus hasil produk kerajinan tangan penggawa-penggawa New Armada itu dan segera kucumbui ekslusivitas “kamar pribadi” bagi para penyewanya. Memang terkesan mewah, anggun dan lebih privasi dengan adanya sekat partisi yang memisahkan ruang kemudi dengan kompartemen penumpang. Tujuh LCD 6 inchi dibenamkan di bawah bagasi kabin, berikut speaker merek Boston dan head unit Panasonic yang sanggup memutar DVD Player plus dilengkapi koneksi USB, untuk saling bahu membahu memanjakan passangers need yang haus akan hiburan audio visual. Tempat duduknya pun elegan dan bergaya, menggunakan sarung jok semi kulit yang adem dan sejuk saat menerpa punggung penduduknya. Sepertinya bus ini latah mengekor tren fashion interior bus-bus teranyar.

Pati : 17.04

PO Yudha Express berkode lambung YE25 mengawali kiprahnya. Sempat aku melongok dari balik kaca dinding pemisah, siapa tahu Mas Ferry yang bawa. Ternyata bukan.

Selepas Tugu Bumi Minatani, bus yang hanya membawa 9 “nyawa” berjalan biasa-biasa saja meski jalanan empat lajur itu lengang. Belum tampak gregetnya menyandang status bus malam.

Mendekati bottle neck sebelum kawasan industri Dua Kelinci, ada insiden kecil yang melibatkan Muji Jaya “Lily White” dengan sebuah light truck. Sepertinya, MD027 jurusan Pulogadung itu mencium pantat truk box tersebut.

Kira-kira 1 km di depannya, Nusantara boomel juga mengalami trouble sehingga penumpangnya terlantar di pinggir jalan, menanti armada operan. Dan selanjutnya di dekat pabrik kertas PT Pura, teronggok Scania Van Hool B 7168 IE milik Safari Dharma Raya, storing dalam perjalanannya menuju Denpasar.

Ah, terpikir untuk mencolek Mas Ferry lewat bantuan salah satu operator telekomunikasi.

“Mas, bagaimana kabarnya? Aku naik YE25 ini…”

Lama tidak ada jawaban. Sikap putus asaku membersit. Dunia bus itu terlalu luas, rasanya muskil bisa mewujudkan harapan suciku yang terkesan berlebihan. Aku harus mengubur kembali asa untuk berjumpa dengannya di kesempatan senja ini.

Di pertigaan lampu merah Ngembal Kulon, Kudus, pengemudi menghentikan laju keenam rodanya. Seseorang masuk melalui pintu depan dan tanpa basa-basi langsung membuka pintu partisi, dan dalam hitungan sepersekian detik menyapaku yang (sementara waktu) sedang duduk di kursi baris pertama.

“Mas Edhi…!!!”

“Haaa…Mas Ferry!!!” aku kaget tergagap, tak siap dengan situasi di hadapanku yang jauh di luar skenario. Rupanya, dia menyiapkan “a litle surprise” buat pertemuan dramatis ini dengan tak membalas SMS-ku.

Seantero alam akan berbaik budi kepada para penghuninya selama mereka menjunjung tinggi nilai persahabatan antar sesamanya. Aku dan Mas Ferry adalah manusia yang dipilih untuk men-haqqul yakin-i kebenaran “fatwa” tersebut.

Siapa sangka, dari pertaruhanku untuk mencicipi citarasa PO Yudha Ekspress, hingga ikhlas bersusah payah datang jauh-jauh ke Pati, Sang Pencipta menghamparkan karpet merah, sebagai permadani agung yang menjembatani kelekatanku dengan sahabat lama yang sekian waktu menghilang, Mas Ferry.

Ringroad Kota Kretek hingga Terminal Jati jadi ruang klangenan antara aku dan Mas Ferry. Ngobrol ngalor ngidul, laksana duo sahabat yang telah terpisah satu dekade.

Di tepian Sungai Wulan, saat bus menambah populasi jumlah penumpang di Terminal Kota Kretek, kusambung perbincangan dengannya. Ibarat narasumber yang berkompeten, kukorek sedalam-dalamnya “company profil” PO Yudha Jovie, yang bagiku masih sangat minim diulas di mimbar cangkrukan para buslovers.



Di sekeliling, ada penampakan yang mampu menyilaukan indra penglihatanku karena kedua obyek tersebut menjepit letak parkir YE25. Kemilau itu terpancar dari masa keemasan PO Shantika. Masing-masing Scania “termuda” dan Shantika Ijo Lumut, Hino RK8 Hi-Deck. Scania Scorpion King jilid II malam itu perdana nge-line sedangkan “keistimewaan” Si Ijo Lumut adalah livery-nya yang cuma beda 11-12 dengan Muji Jaya armada Rawamangun, menanggalkan sama sekali grafis pakem PO Shantika. Bahkan, slogan “The Five Star Bus”-nya pada panel “jepit rambut” bodi Muji Jaya dimirip-miripkan menjadi “The Style Five Star Bus”. Nada-nadanya, api eker-ekeran antar “tetangga lima langkah” bisa kembali tersulut. It’s wild world, Man…



Kudus : 18.55

Berbarengan dengan pemuncak waktu take off skuad Kudus-an, bus yang namanya diambil dari panggilan kesayangan sang owner buat kedua putranya, Yudha dan Jovie ini, juga dilepas keberangkatan oleh agen Kudus. Menyisakan sepuluh-an bangku yang nantinya diisi penumpang Demak dan Krapyak, Semarang.

Lagi dan lagi…kulanjutkan wawancandaku dengan Mas Ferry. Suasana yang mengasyikkan membuat kami berdua terlena oleh guliran detik-detik yang terus berlalu. Karena ada tanggung jawab dan panggilan pekerjaan yang lebih utama, Mas Ferry pun tersadar dan pamit mundur badan menuju kandang macan.

“Mas, nanti malam kita akan tempur. Saya harus jaga tubuh dan sekarang saatnya untuk beistirahat dulu…”

Demikian kalimat pemaklumannya.

Aku pun mengikuti jejaknya. Sesaat setelah The Black Bus menghentikan sabetan “Clurit” Harta Sanjaya di Tol Jatingaleh, aku memeluk kembali singgasana resmi, membaringkan diri sembari mengunggah bahagia sebab derita kerinduan setelah pencarian panjang selama 20 purnama paripurna di sini.

Mutiara Yang Hilang Dulu, Jumpa Lagi…(2)


Kuncup Itu Bermekaran

“Mau naik apa, Mas?” selidik Mas Ferdy sesaat setelah segelas teh manis terhidang di hadapanku.
“Yudha aja, Mas. Pengin aku ngerasain pemain baru Tayu-Jakarta ini…”

Itulah hebatnya Mas Ferdy. Meskipun di luar link, tetapi network ticketingnya cukup rapi. Tahu tahu, seorang penjaga loket Yudha Express (YE) menyambangi kami yang tengah bercengkerama.

Tiket seharga Rp80.000, 00 kutebus dan kursi nomor 5 sebagai mahar jual beli.

“Jam lima berangkat ya Mas…” pungkas agen saat menutup transaksi.

Kuhidupkan waktu dengan share isu-isu perkembangan dunia bus dengan Mas Ferdy cs. Berita-berita ter-update soal perseteruan abadi PO-PO ranah Muria Raya yang kembali menghangat, kutangkup. Dan pasti, yang hangat jadi topik perbincangan adalah geliat kebangkitan sang legenda. Siapa lagi kalau bukan Pahala Kencana divisi Kudus?

Berangsur-angsur, penghuni sore terminal berdatangan. Tercatat Garuda Mas B 7701 BK, Shantika Big Top, Senja Furnindo Merpati Bali, NS 47, NS 29, NS 19, Bejeu B3, Muji Jaya Lily White, Budi Jaya corak F1, Sido Rukun Panorama 2, TSU New Travego, keluarga Haryanto --HM26 dan The Phoebus--, tiga armada PK lama dan yang baru saja kita rasani, tiga armada terbaru PK, Hino RK8 Marcopolo Adi Putro.

“Mas, aku sholat dulu ya…” aku meminta break sebentar, menunaikan kewajiban ibadah yang tertunda.

Sekembalinya dari mushola yang terletak di sudut barat, dari kejauhan kutatap lekat-lekat sebuah bus dengan warna dominan hitam, memasuki area parkir. Oh, itu tho armadaku, PO Yudha Express. Dan seketika teringat, bus itu pernah disalip NS 39 yang kunaiki di daerah Kendal. Namun, waktu itu label bodynya masih bertuliskan Shantika Pariwisata. Bus seken eks kepemilikan Pak Taufik kah?



Dari lanjutan perbicangan dengan Mas Ferdy, akupun well informed tentang rekam sejarah bus yang memajang branding livery-nya Evobus ini.

“Eh Mas, kalau tak salah, bus itu batangannya Mas Ferry lho…” imbuh Mas Ferdy di sela-sela obrolan.
“Oh iya?” akupun setengah terperanjat.

Tanpa sadar, uraian singkat Mas Ferdy merangsang memoriku untuk memutar ulang kejadian yang mengawali rangkaian cerita persahabatan dua manusia yang telah terjalin hampir satu setengah tahun.

----

“Mas, sekarang saya di PO Yudha Jovie. Jalan wisata, Mas.” Demikian pesan singkat dari Mas Ferry, mewartakan kabar baiknya setelah dua minggu nasibnya terkatung-katung pasca resign dari PO Bejeu.

Akupun turut bersuka cita, meski lidah ini tiba-tiba menelan ludah kegetiran. Pertemanan singkat yang terajut saat aku naik Bejeu yang dibawanya, dan janjiku untuk menumpang kembali armada Galaxy A7-nya pada satu hari nanti, tak mungkin mampu kupenuhi.



Aku bakal kehilangan teman sebaik dia. Pasalnya, waktu itu PO Yudha Jovie belum mempunyai line Jakarta, sehingga rasanya mustahil bertemu dengannya karena dimensi waktu dan kesempatan kami jauh berbeda.

“Mas, Yudha babat alas Purwodadi…” berita gembira itu datang lagi dari Mas Ferry via layanan SMS, menjelang bulan puasa tahun lalu. Dan bukti itu makin cetho welo-welo, kala menyusuri jalur mudik Rembang-Blora-Cepu-Ngawi-Solo-Jogja pada tahun 2009 silam, aku menangkap penampakkan PO Yudha “The Yellow Marcopolo” di agen Sambong, sebuah kecamatan kecil sebelum masuk Kota Cepu. Ternyata, trayeknya tidak hanya sampai Purwodadi, melainkan hingga kota minyak, Cepu.

Semenjak itu, PO Yudha Jovie pun melebarkan sayapnya, dari bus pariwisata merambah bus reguler, dengan bendera PO Yudha Express.

“Untuk Jakarta, berangkat dari mana, Mas?” kugali kejelasannya.
“Bitung terus ke Grogol, Mas.”

Secercah asa itu datang meski aku sendiri masih sangsi, bagaimana bisa nge-date untuk bertemu Mas Ferry. Bitung…Grogol…duh, jauh benar dari ladangku yang berada di Teluk Jakarta.

“Mas, aku merintis angkatan sore Pulogadung. Ayo, bareng…” lagi-lagi, tulisan pendek kuterima, kira-kira empat bulan yang lalu. Wow…PO Yudha semakin menggigit, seakan tak mau jadi semut kecil di antara gajah-gajah Laskar Kalinyamat.

Sayangnya, meski periode kuartal II tahun ini aku seringkali memakai jasa NS 39, dan sesering itu pula starting grid bus langgananku itu berdampingan dengan Yudha Express di Terminal Pulogadung, tak pernah sekalipun aku bisa menjumpai bleger-e Mas Ferry. Sahabat laksana mutiara dan mutiara berharga itu hilang tak ketahuan rimbanya. Hanya kesia-siaan belaka untuk berharap menggapai sinarnya kembali. Dia bagai lenyap ditelan bumi. Hanya komunikasi lewat bantuan telepon genggam yang terus memupuk tali silaturahmi ini.

Dan fenomena mencengangkan itu belum berujung. Di era paling kini, kuncup PO Yudha Jovie terus bermekaran. Seminggu ini, PO Yudha Express mulai menyusup ke dalam jalur panas dan sarat tensi rivalitas, Tayu-Pati-Jakarta.

Two thumps memang pantas dialamatkan buat newcomer ini. Tidak sampai dua tahun, ladang Jakarta-Purwodadi, Jakarta-Jepara dan Jakarta-Tayu telah dicengkeramnya.
---

Akankah pernyataan Mas Ferdy kali ini membawa tuah, aku akan nge-pas-i jadwal dinas Mas Ferry? Dua hari menjelang pintu Ramadhan dibuka, hendakkah titah takdir beriba hati kepadaku, mendekatkan dua sahabat yang tengah menggebu-gebu mendambakan pertemuan di bilik nyata?


Mutiara Yang Hilang Dulu, Jumpa Lagi…(1)



Jurus Gunting Jaya Utama

9 Agustus
Rembang : 14.28, di ambang siang nan layu…

5 menit…10 menit…15 menit…, laun perlahan diri ini mulai dirambati kegelisahan. Tak satupun armada yang kunanti menampakkan diri. Bus AKAP Semarang-Surabaya atau bumel Semarang-Lasem/ Cepu seakan menghilang dari garis edarnya. Aku hanya diam mematung, bertumpu pada permukaan trotoar di seberang obyek wisata Dampo Awang Beach, tempat angkutan umum arah barat biasa mangkal. Ya Allah, kemanakah mereka, adatnya tak sesepi ini?

Bayang-bayang kemacetan parah Pantura yang akhir-akhir ini mewabah di Sluke hingga Tuban, serta potensi ketersendatan arus lalu lintas menjelang Jembatan Tasikharjo, Kaliori, yang sedang mengalami tahap perluasan, kian menghantui eksekusi rencanaku. Jangan-jangan, aku tak mampu mengejar schedule keberangkatan bus malam dari Pati, yang rata-rata take off antara jam 16.30-17.00. Hasratku untuk menyusun peta baru perjalanan balik ke Jakarta, dengan metode go show dari Terminal Pati, kini terganjal kelangkaan bus-bus feeder untuk menuju Kota 1000 Paranormal itu.

Di sampingku berdiri -- hanya dipisahkan gang sempit -- terhampar halaman nan luas dan rindang yang diampu Kantor Satlantas Polres Rembang. Di pojok barat daya, terbaring merana Tante Karina bertarif Super Eksekutif, dengan nomor punggung B 7606 XB, menjalani peran selaku makhluk pesakitan. Entah pasal apa yang telah dilanggar, yang pasti, keberadaannya di sana seolah meneguhkan anggapan bahwa bentang jalur 70 km sepanjang Pantai Utara Bumi Kawista adalah trek neraka bus-bus malam. Masih terpatri jelas di ingatanku, kurang lebih sebulan yang lalu, tiga bus secara bersamaan menginap di hotel prodeo outdoor ini, yakni Pahala Kencana Setra Ombak, Karina Evolution serta OBL Neo Travego Morodadi Prima.

Barulah, di menit 20 sekian, sosok bus Jaya Utama berkasta ATB (AC Tarif Biasa) bergerak melambat dan sejurus kemudian berhenti menghampiri. Aku dan belasan penumpang yang sedari tadi setia menunggu, bergegas naik ke dalamnya.



Ya ampun, full seat. Lantaran tak mau lagi membuang-buang tempo, aku harus berkompromi dengan keadaan yang ada. Kugelantungkan lengan tangan pada handrail yang disematkan di atas langit-langit kabin.



Yaelah, baru saja mencari PW (Posisi Wuenak), sopir, kondektur dan kenek malah menghambur turun dari armada dan terlihat ngopi di warung kecil pinggir jalan. Hey, berapa menit lagi yang kau dihabiskan untuk ngetem? Jarak bus di depanmu sudah cukup jauh, apalagi yang kau mau? Tak berbelas kasihankah dengan para “pendiri” di bus-mu ini?

Beruntunglah aku, keasyikan yang baru sebentar dinikmati kru terusik, saat kondektur melontarkan aba-aba, “Cepat…cepat… belakang nyundul!!!”

Oleh driver, flywheel A215 berkerudung putih jahitan Tri Sakti ini langsung dicambuk sekeras-kerasnya. Maklum, kenyamannya mulai ditempel kompatriotnya, Jaya Utama berkelas ekonomi.

Meski kawan satu pool, tak ada sikap ngalah, tenggang rasa, atau bagi-bagi sewa, dua-duanya saling berkejar-kejaran, larut memikirkan pendapatan kantong pribadinya masing-masing.

Imbasnya, bus-ku pun gelap mata. Meski pengguna jalan di ruas Rembang-Juwana dalam kondisi padat, tindakan nekat dilakukan. Deretan truk-truk berat dicerai-beraikan dengan aksi overtake-nya yang bar-bar sembari mengeruk penumpang di titik-titik pengumpan. Titik Tambak Omben, Kaliori, Batangan, Ngraci, Bendar dan Ngebruk merupakan tambang emas bus-bus jarak menengah ini.

Saking gilanya, di daerah Dresi, Kaliori, L7051UZ berusaha menggunting jajaran kendaraan yang tengah melaju dengan kecepatan sedang dari sisi bahu jalan. Injakan pedal gas dan tuas rem tak lagi berirama. Menghentak-hentak tanpa intonasi. Teriakan lantang sang kenek memberi komando kepada pengemudi begitu heroik terdengar. Sopir pun tak henti-henti mengkaryakan gadget-nya, sepertinya mengubungi para informan yang bertugas memotret posisi bus di depan dan belakang Jaya Utama ini. Sebagian penumpang hanya geleng-geleng kepala dan sepertinya sudah mafhum dengan habit brigade Pantura Pesisir Timur itu.

Bisa jadi karena alasan geram, sebuah truk gandeng yang baru saja disalip dari sebelah kiri tak memberinya jalan saat bus berkapasitas 60 tempat duduk ini berupaya goyang ke kanan.. Jadilah, bus kembali tercecer dari barisan kendaraan yang mengular.

“Hufh…kalau tidak hati-hati, bisa terjerembab ke dalam tambak-tambak yang membujur di tepian jalan.” berontak batinku.

Namun, ulah “negatif” bus lansiran awal 2010 ini lumayan menggunting waktu tempuh. Apalagi mengaspali “jalan bebas hambatan” Juwana-Pati, cukup ditebas dalam hitungan 15 menit. Alhasil, pukul 15.45, akupun didaratkan di runway Stamplat Pati.

Ah, ternyata masih sepi. Hanya Selamet, Teguh Muda dan Bayu Megah yang sudah merapat. Lainnya diisi bus-bus medium Purwodadi-Pati dan dua bus lokalan, Sumber Larees.

“Mana, Mas? Gadung, Bulus, Merak, Bitung…” rayu sekawanan calo informal saat mengerubutiku yang lagi berjalan.
“Maaf Mas, saya mau ketemu teman dulu.” kilahku.

Dan teman yang aku maksud, pastilah gampang diterka. Dialah “Eric Cantona”, pemain asing yang dibajak Persipa sekaligus empunya kawasan terminal. Hehehe…Piss ya Mas Ferdy.

“Ayo, Mas, minum-minum dulu…” ajak Mas Ferdy sebagai jamuan seremonial selamat datang di kampung asal para leluhurku dan tentu saja, tanah kelahiran ayahanda-ku, Pati.

Selanjutnya, bergabung dua lagi member BMC Pati. Jadinya, kami berempat cangkrukan sore di warung pojok Mak Ni, sembari menunggu keberangkatan bus yang nantinya kupilih untuk membawaku pulang kandang ke ibukota.

Kamis, 29 Juli 2010

Dari Pulogadung, “Mendaki” Dieng (4)


Indahnya “Sejatinipun Seduluran”

Tuntas sudah jerih payah kami “merangkak” sejauh 500 km dari emplasemen Pulogadung menuju ujung atas Dataran Dieng. Lelah, capai, busleg, badan meriang serta masuk angin, sirna dan menguap dari kamus perjalanan kami. Yang tertulis cuma frasa-frasa keceriaan, kebahagiaan dan kegembiraan. Kami habiskan durasi kebersamaan, kemesraan, canda tawa, serta keakraban sesama Dieng-ers dengan menikmati beragam pesona alam yang ditawarkan.

Inilah tempat-tempat monumental yang menjadi saksi bisu aktualisasi bidak-bidak BMC dalam mengibarkan slogan “Sejatinipun Seduluran”.

1. Dieng Plateu Theatre

Dengan waktu tayang kurang lebih 30 menit, kami disuguhi pemutaran film dokumenter tentang kegunungapian Dieng.





2. Telaga Warna, Telaga Pengilon dan Gua Semar

Sasaran kedua yang kami visit adalah kawasan Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Kedua tandon air ini letaknya berdampingan. Dinamai Telaga Warna karena telaga ini memantulkan berbagai warna. Kandungan belerang yang ada di dalamnya memantulkan warna kehijauan, sedangkan ganggang merah yang ada didasar telaga memantulkan cahaya kemerahan dan jernihnya air telaga yang berwarna biru muncul dari pantulan gradasi sinar matahari. Nama Telaga Pengilon sendiri berarti telaga cermin. Air di telaga ini sangat jernih dan bisa memantulkan bayangan benda yang ada di sekitarnya.





Di kawasan obyek wisata Telaga Warna dan Telaga Pengilon juga terdapat beberapa gua. Salah satu di antaranya adalah Gua Semar. Panjangnya kira-kira 4 m dengan dinding batu, dan biasanya digunakan untuk bermeditasi. Selain Gua Semar, ada bebarapa gua lain yaitu, Gua Sumur dan Gua Jaran. Di dalam Gua Sumur terdapat satu mata air yang disebut “Tirta Prawitasari”.



3. Kawah Sikidang
Selanjutnya Kawah Sikidang. Sikidang adalah nama kawah di Dataran Tinggi Dieng yang paling terkenal karena lubang keluarnya gas selalu berpindah-pindah di dalam suatu kawasan luas. Karena seringnya berpindah-pindah seperti rusa/ kidang, maka orang-orang sekitar menyebutnya kawah sikidang (anak kijang).



4. Kompleks Candi Dieng
Lokasi terakhir yang kami singgahi adalah Kompleks Candi Dieng. Di area ini berdiri lima candi, yakni Candi Semar, Arjuna, Srikandi, Sembadra, dan Puntadewa. Candi-candi yang tersebar di kawasan ini bercorak Hindu.

Menurut cerita yang beredar di masyarakat, pada abad ke-7 Masehi, ada seorang putri bernama Dewi Sima. Ia adalah keturunan Dinasti Sanjaya yang memerintah Kerajaan Kalingga, dengan gelar Ratu Sima. Kerajaan ini dikenal sebagai kerajaan yang bernafaskan Hindu. Pada masa pemerintahannya, Ratu Sima mendirikan candi-candi yang ada di tempat ini sebagai bentuk pemujaan.

Ratu Sima tidak hanya mendirikan satu kompleks candi. Tetapi ia juga mendirikan beberapa candi lain, di antaranya Candi Gatotkaca yang terletak di bukit Pangonan, Candi Dwarawati yang berada di kaki Gunung Prahu, dan Candi Bima yang merupakan candi terbesar di kawasan wisata Dieng Plateu. Candi-candi yang berada di luar kompleks pada umumnya letaknya menyendiri dan dikelilingi pepohonan.




---
Penanda waktu telah menunjuk angka 12.30, yang berarti warning bagi kami untuk segera meninggalkan Dieng. Ada satu obyek lagi yang tadi tertunda dikunjungi sebelum memburu waktu kedatangan armada Nusantara yang akan menghantar Mas Riko ke Semarang, yakni Kalianget.

5. Taman Rekreasi Kalianget

Dengan bus yang sama, kita di-dropping ke Kalianget, yang lokasinya persis di pinggir jalur wisata Wonosobo-Dieng.



Taman Rekreasi Kalianget menyediakan pemandian air panas alami, dimana air tersebut mengandung asam sulfat yang cukup tinggi sehingga berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit kulit. (Bukan berarti, kami punya penyakit kulit lho…hehe)

Di sini Dieng-ers melakukan relaksasi badan setelah hampir seharian penuh berkutat dengan aktifitas fisik, dengan berendam di dalam bathup yang dituangi air panas. Tubuh pun segar serta rileks kembali, hilang sudah kepenatan karena kami harus on fire lagi sebelum menjalani turing balik ke Jakarta.

Jarum jam semakin mendekati setengah tiga. Kami pun beres-beres dari acara mandi ini demi Mas Riko, yang sudah tak sabar dan khawatir ketinggalan kereta, eh, bus.

Saat “melantai” kembali ke Wonosobo, Mas Riko dan Mas Yanuar turun di jalan yang terdekat dengan agen Nusantara. Sementara yang lainnya melanjutkan perjalanan menuju terminal.

Dan di Mendolo ini, berakhir pula pendakian bersejarah ke Dieng yang diemban “massa akar rumput” organisasi BMC ini.

Mie Ongklok, Penggenap Ritual Turing

Turing takkan lengkap tanpa melewatkan wisata kuliner. Demikian prinsip travelers sejati.

Beruntung, sekembalinya mengantar kepergian Mas Riko, Mas Yanuar membawa armada Suzuki Carry pick up-nya. Atas referensi dia pula, kami diusung beramai-ramai untuk menikmati kuliner trade mark Kota Wonosobo. Apalagi kalau bukan Mie Ongklok Pak Muhadi.



Mie Ongklok adalah salah satu makanan khas daerah Wonosobo yang memiliki cita rasa unik. Mie dengan kuah kental dan sayur kubis ini sangat enak untuk disantap apalagi dengan tambahan beberapa tusuk sate sapi.



Oh iya, ada beberapa selebriti pernah singgah di kedai Mie Ongklok Pak Muhadi, sebut saja Angelina Sondakh dan Mario Lawalata. Cukup populer, kan?



Akhir Kebersamaan

Halimun pekat telah turun, menyembunyikan keteduhan Dataran Dieng. Hawa dingin mulai merasuk kulit, mengusik tubuh untuk segera beraksi mengusirnya. Siang telah menuntaskan garis edarnya, dan senja bersiap menyambut kedatangan malam.

Cahaya matahari mulai redup duka mengiringi kesepian yang menyelimuti setiap jengkal tanah Terminal Mendolo, setelah ditinggal sebagian penghuninya.

Mas Hans, Mas Himawan, Mbak Asti plus Mas Hadi, Mbak Tya dan Mas Rifky telah bersiap di dalam armada 18 J. Armada yang sama, yang akan membawa mereka merapat kembali ke ibukota. Tak selang lama, tangan-tangan dilambaikan seirama “cambuk” Mas Agung menghela pedati Batavia Express untuk meninggalkan Mendolo.

Betapa kejamnya seorang algojo yang bernama sang waktu itu. Belum puas kami merasakan damainya nilai kebersamaan, begitu cepat ia memenggal kemesraan kami. Baru saja kemarin malam bertemu, malam ini kami harus berpisah kembali.

Tinggal penulis bersama Mas Adit dan Kang Asep yang masih tertinggal, menanti bus Budiman Wonosobo-Tasik-Bandung sebagai tunggangan estafet perdana trip menuju Jakarta.



Sembari menunggu jam keberangkatan, kami bertiga mengisinya dengan saling mencurahkan isi hati. Betapa momen-momen indah ini begitu singkat berlalu. Kami tak ingin, kesan mendalam pendakian ke Dieng hanya cukup sampai di sini.

Sebisa mungkin, ritual turing bersama ini akan kami rutinkan, tentunya tanpa ikatan interval berkalanya. Cukup insidental saja.

Kemudian, bertiga menajamkan rencana yang telah diwacanakan sebelumnya. Turing berikutnya akan kita sodorkan. Cijulang ataukah Ujung Kulon?

Biarlah sementara waktu jawaban itu mengambang, belum ada ketok palu keputusan. Toh, ada forum KPK Pulogadung, tempat di mana kami boleh bermimpi dan berangan-angan selaku bocah bismania.

Bukankah turing bareng ke Dieng berawal dari mimpi-mimpi sederhana itu, dan selanjutnya, kita pun sanggup mewujudkannya?

Special thanks to :
- Allah SWT, atas segala kemudahan
- Keluarga besar BMC
- Poniman Gengs : Mas Adit, Mas Hans, Mas Asep, Mas Bugi, Mas Hadi, Mas Pamuji, Mas Rifky, Mas Himawan, Mas Andi, Mas Prima, Mas Rully, Mbak Asti, Mbak Tya dll, terus jaga kesolidan dan kekompakan
- Mas Yanuar dan Mas Faisal, BMC Wonosobo, atas sambutan hangatnya
- Mas Agung dan Mas Agus, kru 18 J atas pembelajaran hidup
- Pak Royan, pengemudi bus mini
- Pak Bambang, agen SJ Wonosobo
- Bu Dedeh, agen Budiman Wonosobo
- Dan semua pihak yang membantu kelancaran turing ke Dieng

Dari Pulogadung, “Mendaki” Dieng (3)


Dieng, We’re Coming…

Matahari telah menyembul sepenggalah dari balik pegunungan di sisi timur Wonosobo. Fajar baru saja berlalu, menyisakan kabut tipis di atas awang-awang kota. Gunung Sindoro begitu kekar tertancap di bumi, sementara dari tempat kami berdiri, terlihat jelas dataran tinggi Dieng berikut puncak Gunung Prahu di sisi utara. Kesejukan udara Kota Asri ini seakan menjadi obat peluruh letih bagi Dieng-ers setelah 10 jam menyusuri etape panjang Pulogadung-Wonosobo.

Kami rehat sejenak, me-refresh pikiran, menata stamina, serta membersihkan badan ala kadarnya dan selanjutnya menikmati sarapan pagi bersama di Warung Makan Mbak Bin, yang lokasinya masih di dalam Terminal Mendolo.



Menu unggulannya adalah nasi gudeg, meski ditawarkan juga sajian lain. Sop, brongkos, gule dan rames sebagai pelengkapnya. Tak lupa kami memesan lauk gorengan khas bumi barat daya Propinsi Jawa Tengah, tempe mendoan.

Saat kami menyantap hidangan olahan Mbak Bin, datanglah Mas Yanuar, anggota BMC yang berdomisili di Wonosobo, yang sekaligus akan menjadi tour guide kami. Inilah tuah institusi sekaliber BMC. Membernya berserak di seantero Nusantara.

Dan kami sungguh beruntung, 18 J bersedia mengantar kami ke obyek wisata pertama yang kami tuju, pemandian air panas Kalianget, yang letaknya tak begitu jauh dari pusat kota. Selain kami bersepuluh, tercatat Mas Yanuar, Mas Agus (Bruno) dan seorang bapak pengurus agen SJ, turut ke “atas”.

Namun, di tengah perjalanan ke Kalianget, kami berembuk kembali dan mesti merevisi rencana awal. Sebab, kami harus berdamai dengan request Mas Riko, yang ingin mengejar The Phoenix Haryanto jam 7 malam dari Semarang untuk kembali ke Jakarta. Setidaknya, jadwal Nusantara Patas Purwokerto-Semarang, pemberangkatan jam 14.30 dari Wonosobo harus diburu.

Mau tak mau, kami membalik rencana. Dieng sebagai prioritas pertama, dan pulangnya baru mampir Kalianget. Selain itu, mumpung kondisi cuaca lagi cerah, akan lebih enjoy menikmati pesona Dieng di pagi hari hingga menjelang siang.

Kami menghentikan sebuah bus mini, yang akan ditunjuk sebagai pengawal rute pendakian kedua, Wonosobo-Dieng. Setelah negosiasi harga, deal di angka Rp250.000,00 dengan kompensasi jasa hantaran ke semua obyek wisata yang tersebar di Dataran Tinggi Dieng.

Saat kami pindah armada, dari PO Sinar Jaya ke PO HR Utama –nama micro bus tersebut-, bergabung lagi Mas Faisal, member BMC yang secara umur seangkatan dengan Rayyan BBG.



Jadilah, kami berempat belas mendaki Dieng.

Mitsubishi 120 PS berkaroseri Raendo Semoyo itu membelah jalan yang terus menanjak dan berliku menuju Dieng. Jeritan mesin nyaring terdengar, nafasnya ngos-ngosan, menandakan keempat silindernya memeras keringat untuk memproduksi energi gerak demi mendorong bis engkel ini.

Di sepanjang jalan yang diapit Gunung Sindoro dan deretan Dataran Tinggi Dieng, pemandangan begitu elok, hijau dan segar. Lahan-lahan pertanian menumbuhkan tanaman yang mempunyai nilai profit, semacam kentang, kubis, carica, purwaceng, terong belanda, cabai dan jamur. Menandakan bahwa Dieng, Sindoro, dan Sumbing adalah emas hijau bagi alam Wonosobo.

Kami sempat melewati jalan yang longsor Januari silam, yang memutus jalur Wonosobo-Dieng dan meruntuhkan batu segede micro bus ini, yang kemudian terjun bebas ratusan meter dan menimpa kampung di bawahnya. Saat ini, badan jalan sedang dilakukan perbaikan dan penguatan talud. Penulis sempat bergidik menyaksikan posisi jalan di pinggir jurang yang begitu dalam. Saking dalamnya, pedesaan di bawahnya terlihat mungil dan nyaris tak terlihat karena terhalang awan tipis.

Setelah menempuh jarak 30-an km dengan waktu tempuh satu jam lebih, kami tiba di dataran yang berketinggian 2093 m dpl, Dieng.

Akhirnya terjawab, ini tho yang konon taman nirwana para dewa-dewi itu?


Dari Pulogadung, “Mendaki” Dieng (2)


Anomali Spesies “Keong”

Salah satu poin mengapa kami pasrah menyerahkan diri pada 18 J adalah faktor the man behind steering wheel. Mengacu iklan promosi para SJM, Mas Agung –pengemudi batangan 18 J- adalah sosok anomali di keluarga besar PO terbaik se-Indonesia ini. Mantan driver bus kota PAC 26 Bekasi-Grogol seolah memutarbalikkan olok-olok sosial bahwa bus Sinar Jaya tak ubahnya keong sedang melangkah alias “Keong Stroke”, untuk menggambarkan saking pelannya bus Sinar Jaya saat berjalan.

Bukti kecil tentang kelihaian tangan dan kaki Mas Agung memang nyata saat menyusuri ruas Pulogadung-Cakung. Menurut penulis, Mas Agung adalah etalase ideal seorang pengendara kendaraan besar. Halus cara pembawaanya, mahir mengharmonisasikan kerja pedal akselerasi, tuas kopling, piranti pengereman serta me-manuver-kan roda-roda bus saat menyibak kepadatan lalu lintas.

Hal demikian bisa penulis rasakan saat mulai meninggalkan apron terminal. Boleh dibilang, bus nyaris tanpa hentakan ketika posisi stop and go, pengeremannya pun lembut dan pandai me-menej rpm di kala shift-up maupun shift down.

“Ah, itu semua belum cukup memadai,” batin penulis. “I believe when I see it on Pantura…”

Menginjak aspal jalan tol Cakung-Jatibening-Cikampek, meluaplah karakter asli Mas Agung dibalik kemudi. Pembawaannya kalem, tak ada kesan grusa grusu dan jauh dari sikap agresifitas yang bar-bar. Biarpun hanya membawa armada ekonomi, Mas Agung begitu menjaga kenyamanan para penumpang fanatiknya.

Ketenangannya itu terlihat saat di Km. 10 ketika di-overtake Gunung Mulia Panorama DX dan Menara Jaya cap Thoyibah di lajur empat. Dia tetap aja cool sambil terus membejek gas secara smooth, dikuntitnya kedua bus tersebut dan ketika speed sudah mumpuni, aksi balas pun dilakukan.

Di SPBU Bekasi Timur, bus ber-jersey Travego Panorama 2 hasil tempaan Mpu Laksana ini singgah untuk keperluan kontrol dan meminum asupan gizi, bersamaan dengan belasan Sinar Jaya dan DMI yang lain.


Lepas dari Km. 19, kinerja mesin RG1JSKA generasi pertama ini terus dioptimalkan. Setingan mesin dan karakter pribadi Mas Agung memang duet yang klop. Apalagi saat itu, Mas Chandra (adik kandung Mas Himawan), tukang seting RG Built Up ini, turut serta di dalamnya. Sepertinya dia ingin mengobservasi hasil pekerjaannya sendiri sembari menjalankan tugas kantor untuk menangani armada Sinar Jaya yang lagi storing di Banjarnegara.

Yang membuat penulis heran, bus-bus AKAP tak terlihat sama sekali, termasuk bus-bus Sinar Jaya dan DMI yang berangkat lebih dulu. Apakah memang malam ini, koloni keong itu menjelma menjadi sekawanan cheetah, gesit dan cepat dalam berlari?

Hiburan audio non visual diperdengarkan untuk membunuh “kesunyian” di dalam kabin, sekaligus membangkitan spirit touring para Dieng-ers. Tembang-tembang western semi oldies macam I Want to Break Free, Hotel California, You’re All I Need, Heaven, Temple of The King, Zombie, You Give Love A Bad Name dll bergantian menyapa lembut sensor pendengaran. Serasa kami naik bus double decker buatan Jepang yang sedang melaju di highway US Route 93, Nevada, Amrik. Hehe…

Barulah di Km. 47, pemandangan menarik terlihat. Tanpa perlu ngotot, Gunung Mulia 61 dan tiga chasis gelondongan MB OH 1526 direnggut posisinya.

Menjelang exit Dawuan, lagi-lagi bus lain dilangkahi. Jaya Mulya Utama dengan lambung berhiaskan gambar burung, kompatriot 18 J, Sinar Jaya Proteus jurusan Pekalongan serta lagi, dua chasis Mercedes Benz terbaru mesti mengalah memberi jalan.

Cikampek. Inilah sesungguhnya ujian buat Mas Agung. Dengan lincah, dia mencari celah kosong di tengah keramaian truk-truk angkutan berat yang bergerak lambat. Sempat mendapat perlawanan alot saat hendak mendahului bus Damri ber-ID number 3450, AB 7333 AK, yang malam itu tampak perkasa, meski berbekal armada lawas.

Menyusul berikutnya SJ 8 Y Panorama 2, Bhineka Ragil, dan Harta Sanjaya AD 1409 CE dilempar dari persaingan.

Dan penulis mendapat satu catatan positif lagi. Cara Mas Agung berbicara dengan pengemudi lain lewat bahasa lampu, cukup ciamik. Lampu sein, hazzard, dim difungsikan sebagaimana konsensus antar pengemudi bus malam tentang penggunaan kode lampu untuk berkomunikasi. Sampai-sampai penulis yakin, jikalau ada kendaraan di belakang membuntuti 18 J ini, akan dipandu sepenuhnya oleh Mas Agung, tanpa perlu khawatir bakal terjerumus.

Di depan, kemacetan Sukamandi menghadang. Rupanya, “peningkatan” jalan di daerah Subang ini masih berpotensi menjadi bom waktu, yang siap-siap meledak dan melumpuhkan jalur Pantura. Lautan night bus terjerembab di dalamnya. Di antaranya Sinar Jaya 27 VX berbodi Concerto, Nusantara Courier Service, DMI 13 A, Dedy Jaya G 1429 GR, dan bus Mataram-Septi Jaya EA 7264 XA.

Dua bus lain, Damri Wonosobo 3132 dengan tulisan “Merpati” di kaca belakang dan Sahabat Esa pemberangkatan Lebak Bulus nekat menerjang bahu jalan.

Mas Agung pun hanya bisa mengekor kendaraan di muka dan sempat mencicipi lajur pinggir, sebelum akhirnya kembali ke posisi aman, setelah merasakan goyangan bus yang tak nyaman bagi penumpang saat menjejak jalan tanah.

Setelah 30 menit-an terdampar dalam traffic jam, bus bernopol B 7534 XB kembali dihela dengan kekuatan jelajahnya. Tak terdengar mesin meraung keras, meski kecepatan dipacu di kisaran 80-100 km/ jam. Tak ada demo “transmisi netral” atau kalkulasi njlimet soal penggunaan bahan bakar. Sepertinya, semuanya let it flow saja.

Menyandang gelar “sapu jagat”, bus harus fight dalam memangkas waktu. Meski dikategorikan bus cepat, menurut obrolan dengan Mas Agung, setiap kali PP, dia masih bisa menge-save lebihan dana solar, tak kalah dengan sopir-sopir lain yang memilih karakter keong untuk mengirit uang jalan. Mas Agung kaya akan trik dan tips bagaimana bus bisa berlari tanpa banyak menenggak cairan solar. Satu lagi tipikal Mas Agung mengemuka, economical driving. Ternyata, banter tak selalu identik dengan boros.

Fakta itu semakin kuat, saat Mas Agung membuka selubung. Ketika training mengemudi sebagai wakil Mayasari Bhakti di workshop Hino Jatake, dia adalah lulusan terbaik dalam hal the most economical for fuel usage.

Kembali on track, satu lagi bus dipecundangi tepat di atas fly over Pamanukan, yaitu Dewi Sri berjudul Janur Kuning.

Usai menyeberang jembatan Cipunegara, tertangkap mata buritan Dewi Sri yang lain. Setelah saling berdekatan, kedua bus pun mempertontonkan laku solidaritas dan gotong royong saat roda menggelinding. Soal permainan kode lampu, bus yang berhomebase di Tegal dan mengusung slogan “Bule Pulang Kampung” tak kalah elegan. Lampu sein, lampu segitiga dan lampu dim berkedip bergantian, membimbing Batavia Express agar tak perlu melotot memantau kondisi lalu lintas dari depan akibat ruang pandang terbatas. Cukup mengawasi isyarat sinar lampu, niscaya akan terbantu meski bus dalam kondisi kecepatan tinggi.

Melihat “kebaikan” Dewi Sri varian Intercooler itu, 18 J pun mengacungkan jempol. Tak ada niat untuk menyalip, hanya menempel dari jarak yang aman atau menyejajarkan diri saat jalanan kosong. Mas Agung juga tak terlihat egois dan maunya menang sendiri. Bahkan, dia terlihat merajut pertemanan dengan kawan senasib sepenanggungan. Sopan di jalan, bakal banyak teman. Itulah prinsip pria kelahiran kulon, Banten, itu.

Pantas saja, Mas Hans dan Mas Hadi memonopoli kursi CD dan CB. Ternyata memang mengasyikan menjadi saksi mata show off Mas Agung yang agung itu.

Sayang, proyek “pengrusakan” jalan di Pusakanagara menghentikan keindahan aspek humanis di jalan raya. 18 J perlahan ke depan, sementara Dewi Sri G 1431 GR itu tertahan di sisi kanan. Tampak bus-bus lain sedang mengantri memasuki jalur arah Jakarta yang difungsikan untuk dua arah. Terlihat Sinar Jaya 75 DX, bus wisata Gunung Harta Hino Setra RG dan Sumber Alam 306209.

Jarum jam menunjuk angka 00.35 saat tiba di Rumah Makan Taman Selera, Losarang. Halamannya nan luas dijejali skuad Sinar Jaya dan DMI. Hal ini semakin meneguhkan realita bahwa populasi bus AKAP terbanyak di lintasan Pantura tetap lestari dipegang Sinar Jaya Group.

Kesempatan makan malam kami digunakan untuk mengakrabkan diri sesama Dieng-ers. Maklum, baru kali mengadakan trip bersama. Tema utama obrolan tetap seputar Mas Agung, Dieng, Mas Agung dan Dieng kembali. Hehehe…

“Hey, ayo…berangkat!!!” perintah Bruno (nama panggilan Mas Agus), memecah keasyikan paguyuban kami, yang tanpa disadari sudah melebihi ambang waktu istirahat bus.

Selepas Rumah Makan, steering wheel tetap dicengkeram Mas Agung, karena Sinar Jaya memberlakukan sistem engkel untuk jurusan Wonosobo. Penulis sempat menyaksikan sebentar keanggunan persahabatan sesama bus malam yang terulang kembali. Kali ini dengan teman satu garasi, 49 E. Jalan ceritanya mirip Sinar jaya-Dewi Sri yang belum lama berselang. Namun, karena daya tempel 18 J begitu lekatnya, driver 49 E pun menyerah. Mungkin takut tekor solar, diberikannya jalan buat Batavia Express untuk ke depan.

Sejak itu pula, kantuk berat mendera. Karena pagi harinya sederet acara masih menunggu, penulis rebahkan diri di jok sebelah kanan, mengangkangi tiga kursi untuk menyelonjorkan badan.

Masih terdengar guyonan antara Mas Adit, Mas Rifki, Mas Hans, Mas Himawan dan Mas Hadi, dan sebenarnya masih ada keinginan penulis untuk terus bergabung, namun energi ini sudah habis untuk melek. Tak kuasa…Zzz…zzz…zzz…

“Penumpang Bumiayu siap-siap…” teriak kenek yang mantan driver Dahlia Indah, kepada para penumpang tujuan Bumiayu, sekaligus membangunkan tidur nyenyak penulis.

Hans pun mundur dari singgasana dan menghibahkan tempatnya kepada penulis. Di ruas Bumiayu-Purwokerto, penulis bertambah takjub dengan style Mas Agung. Bagaimana metode dia mengambil tipis sang legenda, Lorena B 7646 WB kelas bisnis jurusan Purwokerto, sembari melahap tikungan. Begitupun saat memundurkan Sinar Jaya 20 AC dan 38 VX di daerah Paguyangan serta 55 B menjelang Ajibarang, yang merupakan jalur sempit dan hanya safe untuk kres-kresan kendaraan kecil saat melaju kencang.

Penulis menghidupkan waktu dengan berbincang ringan bersama Mas Agung saat 18 J menyusuri kota-kota Cilongok, Purwokerto, Sokaraja, Bojong, Purbalingga hingga Banjarnegara. Yang tersisa dan masih sadar cuma Mas Adit, sedangkan yang lainnya meringkuk dalam kehangatan bus ekonomi. Dari obrolan akrab, lama kelamaan penulis pun tahu bahwa Mas Agung ternyata pribadi yang terbuka, supel dan menyenangkan. Semua persoalan tentang dunia bus yang dia ketahui, dibeberkan. Hal ini tentu menambah wawasan dan ilmu seorang bismania.

Raja siang mulai bersolek menampakkan diri. Hawa dingin menerobos kaca jendela bus yang terbuka, memberi kesejukan pada kulit ketika bersinggungan. Pemandangan di luar sungguh elok. Di sisi kiri, tampak Sungai Serayu mengalirkan berjuta kubik air, dengan batu-batu besar sebagai penghalangnya. Dedaunan dan sawah yang menghijau, laksana permadani alam yang dibentangkan Penguasa Jagat Raya, agar hamba-Nya pandai men-tadabur-inya. Sementara, di kejauhan puncak Gunung Sindoro berwarna keemasan, terkena sorot cahaya mentari pagi. Betapa indahnya pagi ini…

Di rute pamungkas, Banjarnegara-Leksono-Selomerto-Wonosobo, kondisi jalan didominasi dengan tanjakan panjang dan berkelok-kelok. Hampir 9 jam Mas Agung duduk di belakang kemudi, namun kebugaran dan konsentrasi tinggi masih tergambar jelas di raut mukanya.

Dicambuknya mesin bus yang kuasa menyemburkan daya hingga 240 HP ini menaklukan jalur berat menuju tujuan akhir perjalanan kami. Tapi sekali lagi, tak ada pemforsiran putaran mesin, tak ada bunyi ngeden atau over running. Seakan serba “auto pilot”, kapan waktunya gas ditekan dan kapan bus butuh torsi - tambah gigi ataupun turun gigi -, semua bekerja secara otomatis.

“Orang itu kalau sehati sama kendaraanya, bakal punya feeling tajam, Mas. Tidak perlu lihat rpm mesin di spedometer, kita bisa merasai kapan tenaga mesin “berkumpul” dan kapan mengatur rasio presneling…” terangnya bijak, sesaat setelah menyalip Sinar Jaya jurusan Wonosobo yang lain, 13 D.

Sementara itu, jalanan semakin ramai, dan kanan kiri didominasi bangunan-bangunan beton sebagai penanda telah masuk kawasan kota. Wonosobo pun menyambut para Dieng-ers dengan segala pesonanya. Di pinggir jalan, dipenuhi baliho dan spanduk kampanye calon bupati dan wakil bupati periode 2010-2015, yang akan beradu nasib pada Pilkada tanggal 2 Agustus nanti.

Pukul 05.35, 24 Juli 2010, etape pertama pendakian menuju Dieng paripurna di Terminal Mendolo, Wonosobo. Rangkaian kisah semalam sungguh mengesankan, terutama tentang attitude driver 18 J, Mas Agung. Bagaimana defensive driving, safety driving, polite driving dan economical driving secara komplit berpadu dalam diri, determinasi serta keterampilannya saat di belakang lingkar setir.



Tak diragukan lagi, jika SJM berani memasang sticker “This Bus is Fully Recommended” di kaca depan armada ini.

18 J adalah sebuah anomali spesies keong…

Dari Pulogadung, “Mendaki” Dieng (1)



Poniman Plan

Menapak usianya di tahun ketiga, keberadaan berikut “tingkah polah” BMC (BisMania Community) secara tak langsung menyentuh pula kehidupan orang-orang yang awalnya tidak tahu menahu tentang the largest Indonesian bismania community ini. Beragam aktifitas yang digulirkan BMC secara intens rupanya mendatangkan berkah tersendiri bagi mereka, sehingga simbiosis mutualisme pun tercipta untuk menjembatani hubungan demand and supply antar keduanya.

Salah satu khalayak yang kecipratan untung adalah Pak Poniman. Pria kelahiran Delanggu, Klaten, 52 tahun silam semakin intim dengan member BMC dan seakan telah resmi menjadi bagian dari keluarga BMC itu sendiri.



Kakek dua cucu yang mengaku Harta Sanjaya Holic, menyumbangkan tikar lesehannya untuk dijadikan tempat cangkrukan favorit saat perhelatan kopi darat (kopdar), baik Kopdar Mingguan maupun Kopdar Pulang Kerja (KPK) di Terminal Pulogadung.

Sambil menikmati sajian menu yang dijajakan Pak Poniman, letak warung yang strategis, yakni di lokasi perpal-an dan menghadap area debarkasi, mengkreasi lanskap nan eksotis saat memandang jajaran serta hilir mudik bus yang sedang bergumul pamer “jatidiri” agar tetap survive di tengah tensi persaingan moda transportasi darat yang meninggi.

Meski jarang bisa “melebur” dalam setiap agenda yang diadakan BMC, namun ajang temu muka pada pertengahan Juni di lapak non permanen yang lebih dikenal sebagai Warung Sate Pak Poniman, penulis rasakan begitu istimewa. Dari sekedar obrolan ringan hingga berat, santai berujung serius, membicarakan never ending story yang dijalin oleh “kotak besi beroda enam”, tercetuslah ide dari Eko Prihantoro untuk mengadakan turing bareng ke Dieng.

Itulah hebatnya seorang yang berjuluk Hans SJM (Sinar Jaya Mania) beserta kroni-kroninya, antara lain Mas Adit, Mas Pamuji dan Mas Bugi Kurnia. Api kompor mereka begitu panasnya melumerkan “keengganan” penulis setiap kali di-invite untuk mengikuti gawe BMC yang digelar pada akhir pekan. Dengan pertimbangan Dataran Tinggi Dieng merupakan obyek wisata yang belum kesampaian dikunjungi, adanya hasrat laten untuk mencicipi atmosfer jalur selatan Purwokerto-Bandung-Jakarta serta adanya sedikit keleluasaan waktu dari urusan rumah tangga, tanpa berpikir panjang lagi, penulis menyanggupi gagasan tersebut.

Setelah mematangkan rencana dan finalisasi rundown acara tour ke Dieng di kesempatan KPK berikutnya, beberapa simpatisan BMC dan (tentu saja) penulis bersetuju bulat meng-eksekusinya di minggu ketiga bulan Juli, tepatnya tanggal 23-24 Juli 2010. Dan sifat acara ini terbuka untuk umum, dengan satu syarat, yang berminat ikut serta telah mengukir tiga huruf sakral secara berderet, “B-M-C-”, di lubuk hatinya. (Kena virus lebay deh…)

Dari cuap-cuap kecil di sudut terminal Pulogadung, lalu gaungnya menggema di ruang milis, akhirnya kami menelurkan kesepakatan bersama yang dinamai Poniman Plan (Rencana Poniman) berupa rencana menggelar hajatan informal BMC bertajuk “ Touring Batavia Goes To Dieng”.



The Advanture Begins

Selanjutnya, mungkin timbul pertanyaan, mengapa acara ini berlabel “Batavia”?

Nah, salah satu keputusan lain di dalam Poniman Plan adalah bab tentang bus yang akan membantu menuntaskan etape pertama pendakian Dieng, yakni rute Pulogadung-Wonosobo. Dan “Batavia” adalah pilihan aklamasi kami. (Sebenarnya ini untuk menutupi kenyataan, bahwa Si Hans lah yang memaksa kami naik bus kesayangannya ini…)

Kata “Batavia” berasal dari penggalan nama “Batavia Express”, tagline dari armada Sinar Jaya berkode lambung 18 J, kelas ekonomi, dengan trayek Pulogadung-Purwokerto-Wonosobo untuk jam keberangkatan 20.00 malam. Alias bus sapu jagat-nya Sinar Jaya di jalur Wonosobo, pemberangkatan dari Pulogadung.



Dan homonim dari Batavia yang lain, bisa juga berarti “lambang area” bahwa host turing kali ini adalah anggota BMC lingkup Jabodetabek.

Dalih sederhana mengapa kudu “Batavia”, terjawab sudah.

Jumat malam, 23 Juli.

Gulita mulai menyergap setiap penjuru Terminal Pulogadung. Malam menampakkan taringnya, menggantikan siang yang tengah lelap dalam peraduan. Lampu-lampu penerangan ratusan watt berkonspirasi untuk menghalau gelap, menyuguhkan nuansa remang-remang cahaya sebagai bukti keringat perjuangan. Lalu lalang para penjemput rejeki telah menyurut, seiring menjauhnya puncak kesibukan penghuni kota tatkala pulang kerja.

Di sudut belakang terminal, para Dieng-ers (penulis menyebutnya demikian) telah berkumpul di lapak usaha Pak Poniman, dengan perbekalan layaknya petualang backpackers. Penulis, Mas Adit, Mas Rifki, Mas Hans, Kang Asep, Mbak Agustina Setyawati aka Tya, Mas Hadi beserta couple setianya, Mbak Asti, dan Mas Himawan telah mengisi absen kehadiran.

Dan sangat disayangkan, saat injury time, kami menerima kabar kurang menggembirakan. Salah dua penggagasnya, Mas Bugi dan Mas Pamuji ter-diskualifikasi. Hiks…

Mas Bugi menjalankan dinas kantor ke Manado dan Mas Pamuji mendapat panggilan mendadak untuk job interview di Tangerang. (Okay guys, no matters, your future is your first priority…)

Wis gapapa, berapapun Dieng-ers… the show must go on.

Mas Bob Andi dan Mas Prima pun menyempatkan diri datang. Tugasnya tak lebih dari pemandu sorak, tim da-da-da-da yang akan melepas kepergian kami. (Maaf ya Mas Andi dan Mas Prima, selera kami rendahan, naiknya bukan bus kinyis-kinyis…). -- Hehe…j/k –

Waktu take off sempat tertunda 20 menit, lantaran menunggu Mas Riko yang masih terjebak macet di Matraman. Beruntung, kru bus dapat memaklumi.

Perlahan, bus “1/6 sewaan” kami keluar dari persembunyiannya, di pojok belakang terminal AKAP tertua di Jakarta. Disebut 1/6 sewaan karena kami memang bukan menyewa bus secara utuh, melainkan “menumpang” operasional reguler Batavia Express. Berdasarkan kapasitas penuh mencapai 60 seat, dengan perhitungan 1/6-nya, kami dilegalkan menguasai 10 kursi sebagai hak milik.

Di bawah kendali Mas Agung Kurniawan, 18 J langsung membelah kerumunan bus-bus Tegal-an, Cirebon-an serta kloter terakhir Solo-an di pelataran embarkasi dan mulut terminal untuk mencapai jalan raya Bekasi. Bis tanpa ngetem, dan sepertinya, hanya kami bersepuluh yang nantinya membayar jasa atas kerja lelah bus ber-livery pelangi ini.

Hal ini membuat kecele dan kaget Mas Andi serta Mas Prima yang mengira bus akan mengantri di jalur keberangkatan. Berdua bergegas turun dari bus. Khususon Mas Andi, tampaknya dia sedang mencari “feel” bagaimana naik bus ekonomi itu bisa “enjoy”. (Hehe…piss ah, Mas.)

“Sobo…sobo…kerto…kerto…marang…marang…solo…solo…” teriakan sarat sindiran yang dialamatkan pada bus sapu jagat terlontar dari lisan Mas Agus, navigator 18 J, menyeruak di antara deru kendaraan yang menyemut, saat berupaya mengais calon penumpang di sepanjang Pulogadung-gate entry Cakung.

“Semarang…Boyolali…Rampung nggoyang…Ojo lali…” imbuhnya. Kami pung tertawa ngakak menertawai gaya gokil, kocak dan heboh Mas Agus sehingga membuat semuanya terhibur sepanjang perjalanan.

Lumayan juga, beberapa pemudik bisa dijumput untuk menambah perbendaharaan jumlah penumpang.

Di mata penulis, ada kesamaan unik antara 18 J dengan The Phoenix Haryanto. Keduanya sama-sama mengkaryakan seorang pramugari, yang ber-jobdesk melayani keperluan penumpang, dan duduknya mendampingi driver selama bekerja. Sayangnya, pramugari 18 J ini kurang tampil cantik, karena tidak mengenakan pakaian wanita, tetapi malah berdandan gaya cowok. (Hayo Hans, ngga boleh protes…)



Menjelang bangjo Pasar Cakung, kemacetan panjang terjadi. Kami akhirnya bisa merasai fasilitas ekslusif yang disediakan bus kelas SE (Super Ekonomi) non AC, berupa mandi sauna. Jaket tebal ditanggalkan, kaca samping model geser dibuka lebar-lebar dan terlihat Mbak Tya mengeluarkan senjata konvensional, kipas angin manual, untuk mengusir hawa panas di sekelilingnya. (Mestinya Hans yang bertanggung jawab karena telah menyiksa perjalanan Mbak Tya nih…)

Sebelum memasuki gerbang Cakung, bus berhenti kembali untuk menaikkan belasan “sewa” yang telah mem-booking sebelumnya. Separuh kapasitas tempat duduk terisi, yang berarti, tiap penumpang mendapatkan bonus tambahan berupa satu seat kosong. Ujar Mas Agus, 18 J tak perlu singgah di pool Cibitung, sehingga tak ada lagi tambahan penumpang.

“Ini nih sejatinya bus SE 1-2, satu penumpang dapat dua kursi..” seloroh Mas Adit.