Kamis, 21 Oktober 2010

Sumpah! Jadi Sarkawi Itu Bukan Mauku…(1)



Semestinya, aku menuruti kaidah berpikir yang sederhana menyikapi “episode hitam” kisahku kali ini. “Bungkam seribu bahasa, itu saja…,” demikian hasut logikaku. Bukan karena aku pelit berbagi cerita, namun ada semacam kegentaran psikis ketika nanti menghadapi ragam tanggapan di penghujung tulisan yang kutuai dari teman-teman serumpun; busmania.

Andai aku mau, lembar catatan ini lebih aman kulipat rapi lalu kusimpan dalam laci pribadi, terlarang kubeberkan kepada publik. Rahasia negara tak bakal bocor oleh pembobolan. Dan imbasnya, tingkah polah berikut rapor biru-ku sebagai duta anti sarkawi (setidaknya) bagi diri sendiri, citra serta reputasinya lestari terjaga.

Kegetiran nasib sebagai penumpang haram atau kaprahnya dijuluki sarkawi, sudah kapok kupungkasi bersama Tri Sumber Urip. “Ke depannya, aku tak lagi bermain api menjadi sarkawi…”, demikian tekadku kala itu.



Sayangnya, aku bukanlah orang yang pandai berlagak sok suci demi memendam cela. Aku lebih suka blak-blakan menceritakan lika-liku perjalanan, terlepas dampaknya akan mencoreng kapasitasku sebagai busmania. Biarlah, aku sedia dihimpit risikonya. Aku siap menerima sanksi sosial, cibiran sinis, nota protes ataupun tendensi negatif, dan tentu saja, berlapang dada untuk menanggung malu.

Segalanya ini aku niatkan agar kita-kita yang mengaku pencinta bus lebih membuka mata, bahwa di tengah hingar bingar bisnis gelinding ban, bersarang “lintah transportasi” yang terus menghisap darah induk semangnya, yakni operasional PO, sekaligus jadi “pupuk organik”, penyubur sesaat kesejahteraan kru.

Sarkawi, sang “makhluk gaib” yang fenomenal dan penuh kontroversi memang lambang keabadian. Seolah, keberadaannya tak mampu dimatikan oleh kebijakan setegas apapun.

Budaya mudik menjelang akhir pekan, perjalanan Pulogadung – Rembang dengan transit di Kudus yang belum lama kutunaikan adalah refleksi bahwa momok itu terus menebar perangkap sehingga begitu gampangnya insan lemah sekaliber aku berpaling sumpah, cidro ing janji untuk “Say No to Sarkawi”.


“Turun di dalam apa di luar terminal, Mas?” tanya tukang ojek yang mengantarku dari Semper menuju Pulogadung, saat corong knalpot motornya menderu di depan Pulogadung Trade Center (PTC).
“Di dalam saja, Pak!”

Sepengetahuanku, tak ada slot, baik tempat, kesempatan maupun waktu bagi bus Muria-an untuk ngetem di luar terminal. Yang punya “hak” ya bus Cirebon-an, Tegal-an dan Solo-an. Wajar saja, kuperintahkan si penjaja jasa hantaran itu untuk langsung “menusuk jantung” terminal AKAP paling uzur di “lapak”nya Fauzi Wibowo, agar aku lebih leluasa memilih bus.

Dipacunya kuda Nippon berspesies Suzuki Smash, larut dalam lalu lalang kendaraan yang menyemut di salah satu jalan arteri kawasan Jakarta Timur. Matahari telah menyembul sepenggalah dari ufuk timur. Dengan energi terik sebagai tajinya, mencoba menghalau gumpalan awan mendung yang bulan-bulan ini terus merecoki fase kemarau di langit Pulau Jawa.

Saat “taksi roda dua”ku menyerobot traffic light pertemuan exit terminal dan Jalan Raya Bekasi- Pulogadung, dari sisi kiri terlihat sosok yang tak asing lagi bagiku. Sebuah bus berbalur latar “deep purple” yang ngglondhang tengah tergesa-gesa melaju ke arah Cakung, sebab didorong-dorong oleh “lawan main”nya, bus berkode HM 17. Di balik kaca depannya nan bening, terlihat jelas tiga penggawanya, yakni driver beserta asistennya, dan satu lagi “Mbak Agen”, yang sedang sibuk mengkalkulasi pendapatan dari tiket.

Ah, buat apa aku buang-buang waktu ke dalam terminal? Mengapa tak naik bis itu saja? Toh, banyak kursi yang tak berpenghuni. Aku pun berdalih dan jadinya berubah pikiran.

“Pak…Pak…putar arah!” kutepuk bahu Pak Ojek.
“Ada apa, Mas?”
“Kejar bus itu, Pak!” instruksiku sambil jari telunjuk menuding target bidikan.

Setelah melakukan u-turn, dan dengan gesit selap-selip membelah keruwetan lalu lintas akibat banyak angkutan kota yang mangkal, naga-naganya, armada berplat X 1867 AX bisa tersusul, persis di depan pul PO Muncul, Pulogadung.

Aku pun mendarat di samping markas Garuda Mas untuk mengambil jeda, menunggu bus berbodi New Travego Adi Putro versi pertama itu mendekat. Segera kulambaikan tangan, dan direspon oleh pramudinya.

“Kudus kan, Mas?” basa-basiku.
“Ayo, Kudus…Jepara…” balas sang “pemilik bangku CB” sambil membuka gerbang depan.

Kutiti permadani berundak menuju singgasana Alldila. Kuedarkan pandangan sekeliling dan selanjutnya kususuri lorong menuju lokasi di baris ke-6 sebelah kiri. Duh, nyaris kosong melompong, cuma terisi 8 nyawa dari 34 seat yang tersedia. Apa gara-gara arus balik baru saja berlalu, bus-bus ke timur terpercik getahnya, sepi penumpang.

Saat badanku menekan punggung kursi, tiba-tiba aku tersadar, mana “Mbak Agen”? Kuamati lebih jeli ke segenap penjuru, tapi kok nihil. Nah lo…jangan-jangan, waktu di tengah kemacetan, “Si Mbak” turun, lantaran jobdesk-nya telah usai. Kukira dia akan mengawal bus hingga entry Cakung, seperti yang dilakukan ticketing girl busnya Bah Do waktu itu.

Astaghfirullah… benar-benar di luar skenarioku. Roman-romannya, aku kena jerat sarkawi. Pintu transaksi resmi dengan agen praktis tertutup, dan kini, klienku adalah kru. Ceruk kalbuku meradang, meski sejatinya ragaku juga ambigu harus berbuat apa. Mosok aku membalas budi baik Bapak Sopir dengan meminta aku diturunkan kembali demi seutas nilai kejujuran? Aku pengecut, belum punya kegagah-beranian untuk itu.

“Ah, mengapa aku menganulir keputusan untuk turun di dalam terminal? Ya Tuhan, mengapa Engkau jodohkan hamba-Mu dengan situasi yang serba sulit ini?” kesahku.

Mpfuh… nasi sudah menjadi bubur, telur sudah jadi martabak, apel sudah menjadi jus, apalagi yang perlu kusesali. Biarlah, sekarang aku jadi pendosa dan mau tak mau, kudu secara jantan, lahir-batin memikul potensi kesengsaraan jilid II sebagai seorang sarkawi.

Minggu, 05 September 2010

Ganjaran Bagi Yang Ngga Neko-Neko (3)


Pinggir dan Tengah Seragam

“Biarlah pemain pertama “kurang bergairah”, whow knows, tandemnya tampil menawan…,” aku meretas asa, saat pendulum waktu berayun di angka 15.38, sesaat sebelum bus meninggalkan RM Taman Sari, Pamanukan.

Belum mencapai 1 mil darat memulai petualangan, sudah bisa ditebak performanya. Setali tiga uang dengan starter-nya. Laksana pewaris tahta, hanya jadi pelanjut tradisi adem ayem, semengalirnya saja, tak punya gen agresor, langka ulah neko-nekonya, very-very polite serta lembek dalam mengelola permainan. Istilah rada kasarnya, berhenti segan, berjalan pun tak mau.

Ya wis…enjoy aja. Biar hambar, masak aku harus menolak citarasa yang disajikan. Kusambung lagi pembicaraan dialogis antara wong abangan ini dengan Kyai Jember itu.

Sementara itu, jauh di depan, terlihat Akas Asri yang baru saja keluar dari kedai Singgalang Raya, Losarang. Bagus, siapa tahu jadi pemacu spirit of race LE-440 ini.

Setelah berhasil menyebelahi, oleh driver coba dikembangkan potensi tenaga 250 HP untuk membenamkan puing-puing kekuatan OH King. Namun, bus berpaspor N 7023 US jauh trengginas. Tak butuh lama, seolah dilecut, makin lama makin menghentak. Imbasnya, Lorena kembali tercecer dari persaingan dan hanya jadi pengamat “pantat” Jeng Asri di kala memamerkan sensualitasnya, meliuk-liuk bak penari ular manggung di mimbar catwalk Pantura.

Meski tak terlalu signifikan, tapi usaha penggawa Akas II tersebut berhasil menarik keluar “kemelimpahruahan” daya dorong OM906LA. Tak ingin kehilangan “sex appeal” nan sintal dan putih mulus, dikuntitnya secara lekat dari jarak yang aman. Tapi sayang, semakin dikejar, justru semakin jauh dan akhirnya hilang di tengah temaram senja Tol Cirebon.

Acung dua jempol. Busnya tukang cuci Bi Marpuah yang kadang nyambi jadi ojeknya Jeng Asri (eh, atau kebalik ya?), Si Budi jejaka Ambulu itu, memang tampil impresif dan memukau.

Deal or No Deal

Di atas beton jalan bebas hambatan Pejagan, saat magrib tiba, terpentaskan adegan drama yang bisa “bersayap” ketika nanti dievaluasi keabsahannya.

“Mas, gantiin dulu, mau berbuka…” kata pramudi kepada asistennya, yang sedang duduk manis di kursi CB, sebagai prolog cerita itu.

Dalam hitungan detik, barter posisi terjadi. Meski seribu satu, adalah hal lumrah terjadi subtisusi jabatan antara sopir ke-1 dan sopir ke-2 saat kondisi keenam ban “berpusing”. Tapi kasus yang satu ini, antara sopir dan kenek?

Aku hanya bisa tersentak, termangu. Speechless….

Di tengah beratnya memanggul profesi sebagai “Sopir Antar Kota Antar Propinsi”, tak mengganjal niat driver tengah ini untuk tetap menjalankan kewajiban menyempurnakan rukun Islam ketiga. Betapa dalam kepatuhan religiusitasnya. Sangat jarang kutemukan para abdi jalanan yang rela “tersiksa”, memelihara haus lapar di balik kemudi.

Dan siapa sih kaum shaimin shaimat yang tak ingin menyegerakan berbuka, di saat lonceng penandanya tiba.

Namun, di tengah tol-nya Bakrie yang belum dilengkapi tempat ngaso, mana mungkin untuk menepikan bus yang dibawanya. Dan alternatifnya, adalah mengkaryakan kru ketiga yang lebih sering leyeh-leyeh sepanjang perjalanan. Tapi…apa iya dibenarkan menyerahkan kedudukan bukan pada yang berkompeten?

Penumpang telah menebus harga, dan berangan pula sepadan dengan pelayanannya. Namun apa yang didapat? Apa tidak membahayakan, lingkar setir dipasrahkan bukan kepada ahlinya?

Di sisi yang lain, perasaan Mas Kenek (mungkin) juga senang hati menerima tongkat estafet ini. Apa iya…sepanjang hayat masih mampu, akan selamanya jadi navigator? Apakah salah berharap pangkat karirnya akan gemilang, dari cuma barisan pendukung, ke depannya berubah jadi garda terdepan operasional sebuah PO? Kalau bukan momen seperti ini, kapan lagi mematangkan keterampilan tangannya.

Ah…deal or no deal. Benar-benar konflik batin untuk menetapkan ukuran kepatutannya. Semoga kenek ini adalah mantan pengemudi, sehingga keselamatan bus tetap terjaga dan terlindungi dari hal yang tidak diinginkan. Hanya doa itu yang kutengadahkan.

Dalam suasana jantung deg-degan, harapanku terkabul. Meski sesekali telat “oper transmisi”, tapi kelihaiannya menyetir lumayan meyakinkan. Tapi, tak lantas sopir utama “cuci tangan”. Sambil menyantap isi “kardus nasi”, beliau acapkali memberikan arahan dan aba-aba, agar pilot dadakan ini tetap melaju di rel yang benar. Buktinya, hingga lampu merah Kota Tegal, anomali pengaplikasian sebuah SOP (Standar Operasional Prosedur) di dunia per-bus-an ini terselenggara dengan safe, aman serta sentosa.

Ganjaran Sebanding

Aku terbangun saat dapur pacu B 7136 XA ini meraung-raung memanjat tanjakan Banyu Putih. Efek kekenyangan takjil, kesejukan angin yang dihembuskan louver Mark IV Thermo King, serta dininabobokan oleh bunyi mesin yang berirama dan beritme monoton, rupanya mengajakku melayang-layang dalam peraduan, mengeksplorasi alam mimpi yang membentang antara Petarukan hingga Alas Roban.

Tetap, tak ada yang spesial. Bus yang disemati sertifikasi ISO 9001:2000 dari UKAS Quality Management dan AJA Registrans ini tetap berderak sepeti biasa. Iming-iming jalan sepi tak juga membuat tertarik Pak Kusir untuk menyantapnya bulat-bulat. Hingga akhirnya…wuss…wuss…Lorena Denpasar minta permisi lewat, saat “mengoyak” emas hitam di ringroad Kaliwungu.

Mungkin karena alasan “ngga sopan ngelunjak” pada seniornya, dia pun menunggu kompatriotnya di check point Krapyak, saat diadakan sidak “pengontrolan”. Di sisa etape, Semarang-Rembang, sama-sama klan OH 1525 itu -- LE-610 dan LE-440 -- jadi teman seiring sepenanggungan. Dengan posisi di depan, New Travego memandu sesepuhnya, Setra Selendang, agar tak perlu kerja keras memelototi jalan. Cukup berkomunikasi lewat bahasa isyarat lampu sein dan hazzard, kondisi jalan bisa terbaca.

Tapi, solidaritas dan laku tepo seliro itu pun terlukai. Setelah melewati pabrik kacang Garuda, Pati, tiba-tiba disorong mobil F1 seri MP-24 McLaren-Mercedes yang menempel di lambung PO Coyo, eksekutif Cirebon-Malang. Secepat kilat, bus adikarya New Armada, Magelang, itu membenamkan duo Lorena yang tengah terlena dalam romantisme berpacaran. Seakan tak mau diremehkan ataukah hilang kesabaran, B 7636 IV segera keluar arena membidik G 1686 AA yang berlari secepat cheetah. Tak diacuhkannya lagi nasib bus yang bangkunya cuma laku separuh ini. Yang tak punya ghirah memeragakan determinasi level tinggi, mempertontonkan nama prestisius sebuah perusahaan otobus, PT Sari Lorena. Dan samar-samar, pandangan kedua armada beda karoseri itu makin tenggelam di kegelapan malam areal tambak Kaliori. Dan Lorena-ku, sendiri lagi…Pantura alone…

Tak lama berselang, aku pun turun di seberang Satlantas Polres Rembang, lokasi tunggu penjemputku. Kurogoh telepon genggam, sekedar ingin memastikan, “Lorena Tiba Pukul Berapa?”. Sebab, sepanjang perjalanan, aku tak mempedulikan soal hour by hour, karena di awal sudah underestimate terhadap kinerja LE-440 ini.

00.25. Jam nol nol lebih 25 menit, dinihari.

00.25 dikurang 12.43. Tak sampai 12 jam??? Ah, yang benar? Mosok bis leuleut punya prestasi yang spektakuler? Bercermin pengalamanku, jarang bus yang bisa menundukkan target waktu.

Kugali penyebabnya…Hmm, apa ya? Oh, pantas. Sepanjang rute yang “didaki”, nyaris tanpa halang rintang yang berarti. H-14, infrastruktur jalan mulai halus rata, bersih dari gangguan, minim bopeng-bopeng, karena memang – siap tidak siap --- dipaksa untuk siaga menampung aliran para pemudik lebaran. Berbekal cruising speed yang cenderung konstan dan stabil, di ceruk kecepatan ekonomis, nyatanya mudah bagi another member of “Keong Stroke” ini menggapai rekor best lap-nya. Inilah buah keuntungan, namanya.

“Kok cepet, Pa? Belum jam satu sudah sampai rumah…,” sambut “menteri keuangan”ku saat membukakan pintu.

Ternyata tak keliru. Versi cepatku sama sepemahaman dengan yang dirasakan pendampingku. Kecepatan boleh lambat, namun LE-440 terhitung tak lambat secara raihan waktu.

Ku-rewind perjalanan dua kali terakhirku selama Ramadan ini.

Dengan Haryanto Avant Garde Madunten, hasilnya menjulang hingga 13 jam lebih. Tentu bukan faktor internal, (siapa yang meragukan Kudus-an’s habit) namun perbaikan jalan Sukamandi dan sekitarnya, serta istirahat tambahan berbuka puasa di rest area Tol Palimanan, berpengaruh banyak meng-extend waktu tempuh.



Pun saat naik Pahala Kencana Denpasar seminggu setelahnya. Dengan gaya ngeblong-nya tak sanggup menembus 12 jam, dikarenakan kemacetan parah di km 30-an Cikarang dan sedikit ketersendatan di Kota Tegal.

Coba compare dengan LE-440 ini. Tanpa ngotot, tanpa bedigasan, tanpa slonang-slonong, tanpa selap selip atau ringkasnya tanpa neko-neko, limit setengah hari Jakarta-Rembang pun bisa ditumbangkannya. Apa tidak hebat?



Konklusinya, tak selamanya bus banter itu identik dan berbanding lurus dengan torehan catatan waktu yang positif. Tak dapat disangkal, aspek keleluasaan, kemulusan dan kelancaran jalan raya adalah kunci di atas segala-galanya.

Slowly or Speedy, just 11-12, a slim difference…

------
Moral of The Lesson buatku pribadi.

“Dik, mengisi hidup ini, berteladanlah pada LE-440. Jauhi berbuat zalim, baik pada dirimu sendiri, lebih-lebih pada sesama. Berjalanlah selaras dengan norma-norma yang telah diundangkan untukmu. Gusti Allah ora sare. Yang Maha Kuasa niscaya berbelas kasih, memberi ganjaran setimpal. Dia akan membukakan jalan bagimu, memudahkanmu melewati onak-duri penghalang, serta meringankan pergeseran langkahmu dalam menggapai cita-cita akhir kehidupanmu, selama kamu tidak berbuat neko-neko.
Camkan sekali lagi, tak perlu neko-neko*!”

*neko-neko : berulah negatif

------

Lorena, don’t you know that I still care for you…

Ganjaran Bagi Yang Ngga Neko-Neko (2)


Sabar Tiada Berbatas

Tak sampai 15 menit dari start pemberangkatan pada jam 12.43, LE-440 mulai menggilas Tol Wiyoto Wiyono. Setelah mendaki entry gate Pedati, jalan layang terlihat ramai lancar.

“Ini kesempatan untuk show off sesungguhnya...” harapku.

Sedikit demi sedikit, pedal gas dibejek driver pinggir dan secara perlahan mengangkat derajat kecepatannya. 30...40...50...terus-terus, aku bersorak menyemangatinya. 60...70…ayo, terus!!! Lho…lho???

Ahhh...aku meremas rambut. Tak ada lagi gelagat injakan kaki untuk menambah kucuran solar. Cuma mentok di angka 70+1 km/jam.

Pun mirip saat menyusuri Tol Cikampek. Jarum speedometer malas untuk bergeser dari range 60-70. Sesekali saja menembus 80 km/jam saat mendahului pengguna jalan yang lain, sesudahnya, arah tapak roda berpulang ke lajur 2 atau 3, dan kembali ke selera asal, eco-speed.

Tanpa ampun, mendekati “gerbang tol baru” Cikarang, Centrium “Buruk Rupa” B 7494 WB memuntahkan residu bahan bakarnya untuk dihirup hidung Mercy Electric lansiran 2004 ini. Tak selang lama, gantian skuad Madura-an yang lain, Haryanto B 7589 IG membuatnya terjengkang. Bahkan, tanpa sopan, langsung “melipat” jalan produk 263 ini sebelum masuk SPBU km 39. Gila, Laskar Sakera ngacir, sementara tungganganku malah melakukan ritual “sai”, lari-lari kecil.

Tiba-tiba..sliutt…bus sedikit oleh ke kanan. Haaa??? Jelas terlihat Pak Sopir didera kantuk yang luar biasa. Matanya kuyu dan mukanya sedikit pucat, sambil tangan kirinya terus memukul-mukul tengkuknya.

“Ngantuk ya, Pak?” tanyaku, yang bersinggasana 1B.
“Eh…iya. Aneh Mas, setiap lewat tol antara Cikarang-Karawang, kok jadi gampang ngantuk ya?” jawabnya agak kaget. “Tapi, kalau sudah sadar gini, lha terus ilang begitu saja…”
“Jangan-jangan ya saking pelannya ini yang membuat engkau mengantuk, Pak?” selorohku.

Menjelang exit Cikampek hingga seputaran Jomin, hujan mengguyur dengan lebatnya, seakan meniadakan kemarau di peredaran tahun shio macan ini. Jarak pandang terbatas, tak kuat menerobos jarak 50 m. Denyut putaran roda bus pun semakin melemah.

Kemungkinan, serangan titik-titik air yang impulsif itu jadi causa prima kecelakaan beruntun yang melibatkan lima kendaraan di daerah Jomin, masing-masing antara pick up, avanza, grand max, truk trailer serta bus Dedy Jaya. Keuntungan fisik menentukan kadar kerusakaan. Bus dan truk hanya lecet di bumper depan, avanza dan grand max ringsek, sementara mobil box terguling. Meski terhitung accident frontal, tapi tak sampai memacetkan jalan.






Mengaspal ruas Kopo-Pamanukan yang relatif lengang, derap langkah properti Ibu Eka Sari ini seolah tak ada greget dan kurang stamina. Jangankan mempertontonkan naluri membunuh aktor “The Legend”, memanfaatkan keunggulan postur dan tenaga pun tak ditampakkannya. Beberapa light truk berdaya 120-135 PS malah dengan enteng mengasapinya. Pokok-e alon-alon waton kelakon, kelewat sabar dan selalu “istiqomah” mengekang kecepatan jelajah di kisaran 65 km/jam. Masih beruntung, tak menganut aliran “gigi 8” atau netralisme.

Mengurai arus lalu lintas, pun setitahnya. Ada kesempatan ya nyalip, tidak ada pun tak pernah memaksa meminta jalan pada yang lain. Kalem, melow, nuwani, mlaku thimik-thimik, taat aturan, serta tak banyak tingkah alias tak neko-neko.

Kurang cocok dengan budaya dan karakterku sebagai warga Muria Raya. Hehehe…

Tapi, justru di situlah letak tantangan, “How I can find where is the beauty of this bus?”

Belum juga memulai pencarian “keindahan” bus berkonfigurasi 30 seat ini, Kopral “Blue Marcopolo” yang tadi menendangnya di tol Cikampek, mencampakkannya kembali di depan RM Sari Wijaya Rasa.

Pufh…aku hanya menghela napas. “Biar bermodal kaki-kaki modern OH 1525, rasanya masih kekar punyamu yang dulu, Ren, saat mengampu generasi OH1113.”

Bersanding dengan Kyai

“Tujuannya mana, Pak?” tanyaku pada seorang bapak (mungkin tepatnya malah kakek) di sebelahku, untuk mengalihkan fokus dari pemandangan yang menjemukan.

“Jember, Mas. Lha Sampeyan ini turun mana?” balasnya dengan pitch yang agak susah dicerna. Maklum, beliau sudah cukup sepuh.
“Rembang, Pak…”
“Rembangnya mana?” beliau terus mencecar pertanyaan.
“Sulang” jawabku sambil berbisik “Palingan beliau juga tidak tahu kota “Sulang” itu persisnya di mana.”
“Hahaha…,” tunggu...tunggu, mengapa beliau malah tertawa, dan sejurus kemudian berujar, “Sampeyan itu wong ndeso, Mas.”

Asem ik…Bukannya memungkiri kalau aku ini orang dusun, tapi please deh, mbok yao jangan diverbalkan gitu deh, Pak. Sudah busnya “memprihatinkan” begini, masih saja diri ini dihina dina sebagai wong ndeso. Kurang apa biru dukaku ini?

“Bapak kok tahu Sulang itu ndeso?” aku masih habis tak mengerti, penasaran.
“Lha gimana ngga tahu, biar saya lahir di Jember, tapi alm. kakek dan nenek saya kan asalnya dari Lasem. Jadi saya ya sedikit paham soal Rembang…”

Wow…bukan hal aneh bin ajaib. Aku pun terdiam, tak menyanggah lagi.

Berawal dari “olok-olok” kecil inilah, kami berdua kian akrab. Aku pun berusaha mengorek tentang siapa sosok dirinya, sampai akhirnya terbuka “selimutnya”. Beliau adalah salah satu pengasuh Pondok Pesantren As-Shidiqy Putri Jember. Wajar saja, dari gaya bicaranya, keilmuwan agama yang mendalam serta guyonan cerdasnya khas kyai NU, aku menduga pasti beliau seorang ulama kharismatik di sono.

Berbekal aji mumpung, mumpung berdampingan dengan seorang kyai, banyak hal-hal yang kutanyakan terkait ajaran Islam, khususon ilmu fiqh. Mulai polemik jumlah rakaat salat tarawih, tata cara bersuci dan salat shubuh di atas bus, masalah jamak taqdim dan jamak takhir ketika safar dan lain sebagainya.

Beliau pun bermurah budi dan secara gamblang membeberkan semuanya, memberikan pencerahan pada santri anyar tanpa kopiah ini. Hehehe…

Tak cuma itu, beliau juga membagi cerita dan pengalaman me-manage pondok pesantren dan sekolah (Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah) yang dikelolanya. Bagaimana mengasuh 500-an santriwatinya, mencari sumber pendanaan bagi operasional kegiatan belajar mengajar hingga mengajari anak didiknya berwirausaha di dalam lingkungan pesantren.

Meski telingaku sedikit terganggu dengan logat Banyuwangi-an yang kental, tetapi enak juga menyimak penjelasan beliau yang runut saat bertutur. Serasa mendapat tambahan ganjaran pahala, “itikaf” di atas bus, seraya mendapat tausiyah dari narasumber yang mumpuni.

Keramat seorang ulama memang luar biasa. Di tengah pelayaran bahtera LE-440 yang membikin bete, di tangan beliau, kebosanan ini dikreasikan menjadi sesuatu yang menyenangkan, dihadirkannya keberkahan waktu dan (insya Allah) forum empat mata ini akan berkacamata ibadah.

Menurutku, beliaulah the beauty of this bus, oase di tengah tandusnya gurun Pantai Utara Jawa hari itu.

Ganjaran Bagi Yang Ngga Neko-Neko (1)



Ini Soal Syahwat, Bung!

Pernah dalam suatu kajian yang kuikuti, Pak Ustadz melontarkan nasihat kebajikan.

“Hikmah puasa bukan semata berlapar-dahaga ria, namun di balik “penderitaan” itu, ada perjuangan akbar untuk diraup maknanya. Yakni pengendalikan hawa nafsu.”

Bisa jadi -- meski dalam kapasitas yang seujung kuku -- godaan hawa nafsu juga tak lelah menari-nari di atas altar “kealiman” seorang busmania sepertiku. Dari detik pertama permulaan Ramadan bergulir hingga pertengahan bulan suci ini, tak jua berhenti merayu “iman” untuk asyik bermasyuk di pangkuannya.

Sebut saja muslihat penjerumus itu “Syahwat Lorena”.

Entah karena alasan apa, mendadak ada dorongan berahi yang kuat dari dalam diri untuk “meminang” Lorena demi melakukan perburuan tempo 12 jam perjalanan Jakarta-Rembang. Ini bukan “perjudian” main-main, karena di ujung sana kupatok deadline berupa zona batas imsakiyah, yang kudu mampu disergapnya.

Sejujurnya, aku sendiri tidak pede saat menampik advice para pakar turing yang menyarankan agar berpikir ulang sebelum melakukan trip bersama Lorena. Dengan indeks prestasi yang menukik tajam, dari grade cumlaude di awal 80-an hingga medio 90-an, lalu menyurut dan sekarang bertahan di angka 2.5 dari skala 4.0, plus omongan miring terhadap reputasinya yang saat ini pas-pasan, sepertinya kok lebay andaikata kubebani kerja praktek bertema “600 km; Seberapa Perkasa Waktu Tempuhmu?”

Namun, lantaran tak nyaman bersengketa panjang dengan hasrat yang menggebu-gebu ini, mau tak mau, aku harus lancang melawan gelombang realita kebenaran yang ada. Aksi tutup kuping dan merem mata pun tak aku tabukan.

“Apa tugas berat ini tidak dilimpahkan ke bus lain, yang lebih mentereng kehandalannya?” sergah akal sehatku, berupaya menyeretku kembali ke jalan yang lurus.

Aku menggeleng. Tak apalah, aku takluk dan “menjual” syahwat rendahan ini ke dalam pelukan Lorena.

Rawamangun, Hari Ke-20 Bulan Ke-8

Tanggal itu adalah simpulan betapa jiwaku ini labil, masih terkungkung paham dilematis, gampang diombang-ambingkan bisikan kanan-kiri, yang kadang tak jelas dari mana sumbernya.

Mulanya, aku tak begitu menghiraukan jikalau nanti “bersetubuh” dengan LE-440, LE-450 ataukah LE-610, terlepas apapun daleman dan busana yang membebatnya. Semenjak setengah langkah meninggalkan ladang pencaharian, diri ini sudah berbulat tekad untuk mengerucutkan Lorena sebagai tambatan.

Namun, berdiri di pelataran terminal, aku pun drop menjadi insan lemah, tak cukup tangguh saat “dikeroyok” pasukan negeri timur. Pukulan tinju bakbikbuk bertubi-tubi dilancarkan Pahala Kencana Denpasar, sekondannya, Jupiter Banyuwangi dan Proteus Malang serta dibombardir jab-jab ringan Akas Asri yang mengenakan sarung cap Dafi Putra. Mereka seakan berkonspirasi tingkat tinggi untuk menjauhkanku dari Lorena LE-450 Banyuwangi, yang siang itu tampil tak kalah ayu, menyembunyikan keuzuran Mercy Intercooler dalam jubah kebesaran Adi Putro, New Marcopolo.

Dan akhirnya aku terkapar, KO, diterjang upper cut telak Ombak Biru Pulau Dewata, B 7689 IZ, yang kembali melabuhkan pilihan hati sekaligus melanggengkan slogan untuk “Say No to Ijo”.




Uh...sekali lagi pemeo “keramik rumah tetangga lebih mengkilap”, mutlak adanya.

“Maafkan aku Ren! Masih saja diri ini diliputi seribu keraguan untuk mengandalkan perjalanan di bawah ketiak sayapmu sebelum ada revolusi besar-besaran di markasmu. Aku mengaku khilaf, kali ini kembali memalingkan kepala dari penghibaanmu…,” aku bersimpuh memohon maaf kepada Tuan Putri Kerajaan Tajur.

Sebagai bentuk penyesalan, kumampatkan tujuh hari kemudian sebagai durasi peruncingan niat dan keyakinan bahwa Jumat depan, Lorena adalah satu-satunya peluncur andalan untuk mengejar waktu sahur di kampung. Aku berikrar, tak mau berkompromi dan tergelitik mengelus “binatang” yang lain lagi. Lorena adalah harga mati.

“Di Indonesia ini cuma ada dua PO, Lorena dan yang lainnya…” aku pun latah, sok-sok-an jadi POmania. Hehehe…

Bukannya aku ngeyel, berani berseberangan dengan koreksi para penggemar bus, bahwa saat ini eman-eman duitnya kalau hanya “dibuang” untuk membayar jasa Lorena.

Kendati kini berkutat dalam pusaran masa suram, namun ada tonggak sejarah yang takkan sanggup kuhapus jejaknya. Enam tahun silam, Lorena adalah satu di antara sekian saksi bisu yang kelak bisa beriwayat tentang rajutan tali asmara antara aku dan istriku, di kala mengecap manisnya “kehidupan asing” sebagai pengantin baru. Meski pertamanya kami berdua gagap menghadapi pola long distance relationship, akan tetapi, setiap kali “Sang Permaisuri” da-da-da-da melepas kepergianku kembali ke ibukota, dari balik dinding kaca bus LE-381 Bojonegoro-Pulogadung (sebelum diubah LE-461), kupandang dan kutemukan sorot mata teduh tegar, raut muka nan tabah ikhlas serta senyum mengembang merefleksikan semangat yang berkobar, bahwa kami memang harus lillahi ta’ala menjalani konsekuensi sebuah keputusan yang tak mudah ini.

Lorena adalah “kereta kencana”ku waktu itu, yang mengantarku memasuki gerbang jagat wira-wiri. Yang selanjutnya mengenalkan lebih mendalam tentang arti cinta dan kepercayaan, beratnya tanggung jawab yang dipikul kepala keluarga, pergumulan eksistensi antar manusia yang begitu masif dan tentu, Lorena adalah “guru spiritual” pertamaku di atas jalan raya. Tak akan lekang dari ingatan tentang keluhurannya dalam membimbingku, menempatkan Pantura sebagai kaca benggala yang mengajarkan moralitas dan hakikat kehidupan, berbahan tingkah polah para penghuninya.

Walaupun kini aku jarang menggandeng tangannya lagi, namun kenangan manis berkimpoi dengan Lorena terprasastikan lestari di lubuk sanubari, hingga tak terasa kami telah “berbuntut” dua.

Jadi, jangan didebat bila aku senantiasa mengucap kalimat sakral “Selalu ada cinta buat Lorena…”.

Sepekan kemudian…

Kupercepat jangkahku dari front row parkiran Pahala Kencana, di sisi barat Terminal Rawamangun, setelah turun melantai dari Metro Mini 03. Aku hanya sempat menoleh, tapi tak sampai menatap detail ragam armadanya. Takut kena goda.

Akas Asri pun kuperlakukan tak jauh beda. Meski sempat kulirik, no…no…apa istimewanya travego usang? Aku mencari pembenaran sendiri agar tak gampang goyah.

Terlihat di depan, “calon kekasih” buruanku. Kutuju dan kuhampiri dua green armada yang sedang berpose di grid keberangkatan. Berderet dari sisi belakang, terbujur MB OH 1521 Celcius yang menggawangi trayek Banyuwangi, LE-450, dan di depannya sosok Setra Adi Putro yang memajang papan jurusan LE-440, Jakarta-Jember.

Yup, sesuai janji, jiwa raga ini sudah madep mantep. Dengan style yakin, kusambangi loket Lorena.

“Masih ada yang kosong, Mas?”
“Banyak Mas. Tujuan mana?”
“Cuma Rembang. Bisa, kan?”
“Boleh, pek go ya harganya...”

Aku mengangguk setuju, tak ada kemauan untuk menego besaran tarif.

“Diikutkan bus yang mana, Mas?”
“Jember Mas, itu sudah mau berangkat…”

Transaksi di pasar resmi itulah pemungkas dari episode kebimbanganku antara mengiyakan atau menidakkan untuk memfasilitasi test case “kehebatan” Lorena di tengah taraf “kesehatannya” yang sedang meriang. Berbarengan itu pula, keabadian ungkapan “Katakan Tidak untuk Si Ijo” yang selama ini kupegang erat, tercederai.

Seberapa lamakah dia menghabiskan masa untuk “mendekatkan” dua kota, Jakarta-Rembang? Termasuk irit ataukah rakus memakan waktu? Luluskah dia menyempurnakan ekspektasiku untuk menikmati acara sahur mesra bersama ibunya anak-anak?

Selasa, 24 Agustus 2010

Ndilalah kok Apes! (2)

Kututup lembaran koran yang bersemboyan “Selalu Ada Yang Baru” tersebut. Kulempar kembali ke jok belakang, tak jadi meneruskan acara baca berita.Tanpa ragu, kupacu dan kudera “roda pedatiku” membelah keriuhan ruas jalan peninggalan Jenderal Deandels. Setelah melewati gerbang dan pos penjagaan, langsung kutuju kamar tahahan, tempat penitipan tersangka dalam kasus kecelakaan lalu lintas. Beruntung, aku sedikit paham layout bangunan berikut fungsinya di kompleks Satlantas Rembang, karena aku pernah mengalami hal yang hampir serupa dengan apa yang sedang menyiksa Mas Kun. Dari pengalaman pernah “berurusan” dengan Polantas, aku juga sedikit tahu juga cara-cara penyelesaian masalah pasca laka.

Tak jauh dari lokasi parkir kendaraanku, semakin terlihat jelas armada HS 150 yang tengah menjadi pesakitan. Sayang memang, belum sempat aku mencicipi “makhluk kloningan” irizar, kini bus berwarna biru donker dengan ciri “jidat jenong”nya terkapar menunggu bantuan.

Kudekati dan kulongok ruang penjara yang terdiri dari dua sel berukuran 2X3 m, tapi kok kosong melompong. Benar tidak Mas Kun disel?

Eh, rupanya ada seseorang yang tengah meringkuk bermalas-malasan di emperan penjara. Entah siapa dan keperluannya apa tidur-tiduran di situ, aku bersikap masa bodoh.

“Mas, orang Nusantara-nya mana?” tanyaku sok optimis bahwa kru bus ada di dalamnya.
“Mas pengurusnya?” balasnya balik bertanya.
“Bukan Mas, hanya teman dan pengin menengok.”
“Itu Mas…” sambil tangannya menunjuk jauh ke luar sana.

Kulihat dia…oh, itu kenek NS-19. Meski aku tak kenal namanya, tapi aku hafal betul wajahnya. Kuhampiri dia.

“Mas, kru Nusantara kan?” aku berbasa-basi.
“Iya Mas. Hmm…saya sering melihat Mas, tapi tak tahu namanya. Mas penumpang agen Rembang, kan?” dia berusaha mengingat-ingat tentang aku.
“Benar Mas. Mas Kun-nya mana?”
“Lagi di ruang penyidik, Mas”

Tak salah dugaanku, Mas Kun kini harus menjalani serangkaian penyidikan panjang karena kecelakaan ini pasti disangkakan sebagai human error.

“Mas, kita ngobrol di teras penjara aja ya, sambil nunggu Mas Kun selesai disidik…” ajak Mas Katno, nama asisten driver bus nahas tersebut.

Di ruang yang panas, pengap dan berdebu, kukorek kronologis musibah dari perspektif Mas Katno.

“Itu pintu sebelah mana yang menghantam korban, Mas?” tanyaku penuh selidik.
“Berita itu sebenarnya kurang pas Mas. Yang njeblak (lepas dari penguncinya), pintu tangki solar Mas,”
“Lho, yang nutup tangki solar? Yang kecil di samping pintu kiri depan itu, Mas?”
“Iya Mas, kalau punya Scania kan memang kecil tapi memanjang ke bawah. Ukuran lebar panjangnya 30X50 centi-an lah, Mas”

Kubayangkan sesaat, rasanya muskil barang sekecil itu bisa mendatangkan petaka.

“Ceritanya sesungguhnya gimana, Mas?” kurayu eks pegawai PO Tunggal Dara, Wonogiri, itu agar membeberkannya.

Mas Katno mengambil napas panjang sebelum mulai bercerita.

“Terakhir, bus ini isi solar di SPBU Kudus Mas, sekitar jam 5 pagi. Saya sempat membuka dan mengunci kembali pintu itu. Sebelumnya juga tidak ada masalah.

Pas mau kejadian, saya duduk di kursi kenek. Penumpang tinggal empat, dua Rembang dan dua lagi Lasem. Tiba-tiba, saya mendengar bunyi “dakkk…”, seperti ada sesuatu yang lepas. Saya intip dari kaca spion kiri, tahu-tahu di bahu jalan ada bapak dan anaknya tersungkur dari motor. Saya tambah kaget, melihat pintu tangki solar terpental di pinggir jalan. Pasti barang itu yang menghantam motor tadi.

Ini namanya apes, Mas. Biarlah saya dianggap ceroboh, tapi siapa sangka, pintu yang awalnya tidak kenapa-kenapa, ndilalah membuka dengan sendirinya. Sepertinya, posisi jalan yang sedikit menikung dan tak rata menjelang TKP, jadi penyebabnya, Mas.”

Aku hanya terpekur mendengar alur keterangannya.

“Mas, aku antar ke ruang penyidik ketemu Mas Kun, yuk…” ajaknya lagi.
“Apa ngga mengganggu, Mas?”
“Ngga papa Mas, biar Mas Kun tahu ada orang yang mencarinya. Toh, dia juga sudah lama di dalam…”

Aku pun mengiringi ayunan kaki Mas Katno, menuju ruang penyidik.

“Mas Edhi…!” sambut Mas Kun yang tengah santai menjalani proses investigasi dengan sedikit kaget.
“Mas Kun…,” aku pun meminta izin masuk kepada Pak Penyidik, lalu berjabat tangan dengan Mas Kun.
“Mas, tunggu ya. Ini tinggal sebentar lagi…” bisiknya.

Mas Katno dan aku pun kembali ke teras sel tahanan. Dan dalam hitungan menit, Mas Kun menyusul kami.

“Kok tahu saya di sini, Mas?” tanya Mas Kun penuh keheranan.

Akhirnya kubuka selubung bagaimana jasa Pak Dahlan Iskan lewat media cetaknya melambungkan nama Mas Kun menjadi figur sentral di Radar Rembang hari ini.

Kami bertiga pun larut dalam obrolan ringan serta informal meski tak bisa mengusir kedukaan yang tengah menyelimuti Mas Kun dan Mas Katno.

Penggawa PO Nusantara yang kerap dipanggil “Sinyo” di kalangan para kru memulai poin cerita, “Iya Mas. Kalau saya protes, salah saya apa? Tidak ada rambu yang dilanggar, saya nyetir juga pakai etika, namun gara-gara pintu solar lepas, saya jadi tahanan. Saya memang apes…”

“Awalnya…” Mas Kun meneruskan mengumbar perasaannya yang sedang galau. “Saya jalan dari barat, tidak kencang kok Mas. Hampir jam 7 pagi, jalan mulai ramai dan banyak anak sekolah, mana bisa ngebut. Dari arah timur, 100 m di depan bus ini, saya lihat seorang kakek memboncengkan dua cucunya. Satu duduk di depan dan satu lagi di belakang.

Kok ya ndilalah, kakek itu menyeberang jalan, terus turun di bahu jalan dan berjalan pelan berlawanan dengan bus ini di sisi kiri. Dan tak dinyana…”dakkk”, saya bisa merasakan bodi bis menyenggol dia, meski hitungan saya bus aman melenggang di samping motornya. Sejurus kemudian saya lihat spion kiri.

Ya ampun, pintu tangki solar terbuka dan ibarat senjata tajam, menyabet kepala anak kecil yang duduk di depan, kemudian merembet menghantam lengan kakeknya. Motor pun langsung ambruk.”

Terlihat ekspresi kesedihan mendalam terpancar di wajah Mas Kun.

“Saya sempat berhenti Mas. Namun, saya khawatir ada tindakan massa yang tidak diinginkan. Tahu sendiri daerah pesisir, orang-orangnya panasan Mas. Saya berketetapan jalan kembali dan berhenti di depan SMA Rembang (1,5 km dari TKP), karena di sana banyak polisi yang sedang mengatur lalu lintas. Saya menyerahkan diri. Kemudian, bus digiring ke Polres dan sekitar jam sembilan saya dapat kabar, bahwa si anak tersebut akhirnya meninggal setelah dirawat di RSU Rembang”

Kami pun terdiam. Atmosfer siang mendadak hening dan senyap.

Itulah kerasnya kehidupan di atas roda. Selain berada di lingkungan yang berstatus high risk accident, momok menakutkan yang berjuluk keapesan seringkali jadi penentu nasib buruk pengguna jalan. Keapesan sanggup memberangus nilai kehati-hatian, kewaspadaan serta kesantunan di jalan raya, menjadikannya tak berarti. Meaningless…

“Setidaknya, beberapa hari ke depan masih trauma untuk membawa bus lagi ya, Mas?” aku bertanya lagi untuk menghidupkan kebisuan.

“Soal trauma, sih tidak begitu jadi masalah, Mas. Saya dulu juga pernah sekali terlibat kecelakaan, adu kambing dengan truk di Karawang, persis di depan pool Warga Baru. Gara-gara truk sayur itu nekat menyalip truk gandeng, sementara jarak dengan bus saya sudah dekat. Saya habis-habisan membanting setir ke kiri dan alhasil, meskipun muka bus selamat namun truk menabrak sisi kanan bus mulai depan hingga belakang. Sopir truk meninggal seketika, Mas,” kenangnya. “Saya diskors dua bulan tak bawa bus. Namun, saat kembali nyetir, rasanya biasa saja kok, seolah tak pernah terjadi apa-apa…”

“Justru, ada yang lebih membuat saya shock dari kejadian di Rembang ini, Mas?” imbuhnya.
“Karena korbannya anak kecil ya, Mas?”
“Itu yang pertama, Mas, dan yang kedua…” lidah Mas Kun seakan tercekat.

“Apa itu, Mas?” tanyaku dengan tak sabar.
“Lha kok ndilalah…”
“Maksudnya “ndilalah ?”

Sejurus kemudian, Mas Kun mengedarkan pandangan kosong ke sekeliling.

“Nama korban kok ndilalah persis nama anak saya…”

Kulirik kembali Radar Rembang yang mengabarkan kabar pilu tersebut, yang tadi kubawa dan kini teronggok di sampingku. “Berliana Tewas Terserempet Pintu”.

“Berliana ya, Mas?”
“Iya Mas, Berliana. Itu juga nama anak saya. Bagaimana nanti ya, apa saya tidak akan selalu terbayang-bayang wajah korban, setiap kali memanggil anak saya sendiri?” jawabnya sarat nada ketidakpercayaan dan ketidakmengertian.

Masya Allah. Di dunia memang ada beberapa sebab-akibat terjadinya peristiwa yang berbau kebetulan atau ndilalah. Kalau yang satu ini, memang ndilalah yang sendilalah-ndilalahnya.

Kudengar derap langkah kaki mendekati kami.

“Pak Kunardi, dipanggil Pak Kanit Laka. Mohon sekarang menghadap…” perintah salah satu anggota korps seragam coklat.

“Siap Pak…”

Lantas, aku pun segera berpamitan dengan Mas Kun dan Mas Katno, karena di sana, istriku pasti resah gelisah, lantaran penjemputnya belum juga menampakkan diri. Tak lupa kutinggalkan doa, semoga Mas Kun dan Mas Katno dipermudah urusannya, diberikan ketegaran menempuh ujian dari-Nya dan dapat segera kembali berkarya.

Saat berjalan menuju area parkiran, kucoba mengabadikan armada HS 150 yang tengah murung dan merana menunggu kejelasan nasibnya.

Namun, kok ndilalah…batere gadget usang ini juga meregang nyawa, mati suri. Apes…

Arghh…memang apes hidup di negeri ndilalah ini.

---

NB : Turut berbela sungkawa atas meninggalnya Adinda Berliana. Kamu bakal tenang di sisi-Nya, Dik...

*Disarikan dari perbincangan off board antara penumpang dan kru Nusantara di “paviliun” rumah tahanan Satlantas Polres Rembang.

Ndilalah kok Apes! (1)


“Salut...,” demikian kata sanjungan yang pantas kualamatkan, “Dengan sistem online, proses perpanjangan masa berlaku STNK tak lagi lama, berbelit, menjemukan dan relatif bersih dari ulah calo. Jauh dari prediksiku semula.”

Itulah testimonialku usai mengurus “usia produktif” sepeda motor plat K 28xx WD, di kantor Samsat Pemda Rembang, Hari Sabtu kemarin (21/8). Meski terdaftar di urutan 39 (kok ndilalah* sesuai kode jurusan bus langgananku, NS-39), nyatanya tak sampai 45 menit, rangkaian birokrasi dari meja ke meja tuntas terselesaikan.

“Hmm...baru pukul 09.23. Kini aku menanggung beban, bagaimana membuang waktu dua jam ke depan, di tengah terik mentari Ramadan yang membakar, menanti lonceng jam pulang kerja permaisuriku berdentang? Apa yang mesti kuperbuat?” aku setengah kelabakan.

Sambil mencari ide, kuhela perlahan tungganganku menggeluti aspal jalanan kota tempat gerakan emansipasi wanita yang digagas RA Kartini tumbuh berkembang. Pemandangan pagi menjelang siang itu terlihat ramai serta guyub. Hiruk pikuk warga pesisir timur seakan bergerak dinamis, teratur dan sesuai garis edarnya. Masing-masing menjalankan misi jihad menggedor pintu rezeki agar isinya luruh dari langit.

Saat tapak keempat roda menjejak ujung utara Jalan Kartini, tepatnya di traffic light Tugu Kapal Layar (depan gedung DPRD), kuarahkan setir berbelok ke kiri, menyusuri jalan nasional, Pantura. Maksud hati tak lain ingin “mengembara” menuju daerah Pecinan, Gambiran. Tentu saja bukan untuk berburu sate srepeh, menu favorit keponakan tersayang Bah Do, Koh Hary Intercooler, namun demi menyalurkan hasrat untuk mencumbui eksotisme kota tua yang tersisa di Kota Rembang.

Masih jauh dari dari “obyek wisata” yang kubidik, ketika hendak melintas di depan kantor Satlantas Polres Rembang, sontak indra penglihatan ini terbelalak. Dari sudut mata, tertangkap samar armada PO Nusantara berbaring di dalamnya, dengan papan mencolok NS-19 menempel di kaca depan, menempati ruang yang ditinggalkan Karina Super Eksekutif yang kini telah menghirup udara bebas kembali.

Ada apa gerangan? Mengapa bus bertrayek Daan Mogot-Rawamangun-Lasem terdampar di sana? Pasal berlalu lintas apa yang dicederai?

Mulanya, aku tak mengindahkannya dan meneruskan trip jarak pendek, menikmati “mini Canton”nya Bumi Dampo Awang. Sebuah kawasan yang berhiaskan bangunan bergaya oriental khas etnis Tiongha, dengan tata kelola wilayah yang tersusun apik. Lumayan puas melakukan plesiran domestik, kupungkasi perjalananku di alun-alun Kota Rembang.

Kuberhentikan kendaraanku di bawah pohon nan rindang. Kubuka jendela lebar-lebar agar semilir angin laut leluasa mengusik udara siang nan menyengat kulit. Aku sendiri tak beringsut, tetap duduk di balik kemudi, hanya menyetel kemiringan punggung kursi sembari memundurkan tuas pengatur posisi tempat duduk agar pitch-nya kian longgar.

Surat kabar dengan tiras terbesar di Jawa Timur yang tergeletak di jok belakang, kuraih. Koran “mancaprovinsi” yang tadi kubeli dari kios pinggir jalan, kini kuangkat selaku teman dadakanku. Kucerai-beraikan sub-sub beritanya dengan content berbeda, yakni berita nasional, internasional, sportivo, ekbis, radar Ramadan dan radar Kudus.



Dan prioritas utama, kurenggut suplemen berita lokal ala harian Jawa Pos, Radar Kudus, mengesampingkan lembaran-lembaran yang lain. Kubuka satu per satu halaman di dalamnya, dan ketemu juga apa yang kucari, Radar Rembang.



Headline yang terpampang mewartakan soal perbaikan jalan dan jembatan di sepanjang jalur Pantura Rembang yang akan dihentikan pada H-10. Selesai kubaca, pandangan ini turun pada kolom di bawahnya, karena ada judul yang menggelitik logika. “Berliana Tewas Terserempet Pintu”. Kok bisa, bagaimana ceritanya? Aku membatin.



Kusimak secara seksama “goresan pena” si kuli tinta. Ya Allah…diri ini terperanjat setengah mati, menelaah empat alinea pertama dari berita tersebut.

REMBANG- Seorang bocah di Desa Purworejo, Kecamatan Kaliori, Jumat pagi sekitar pukul 06.45 tewas kecelakaan. Diduga, Berliana Tiara, 8, terhantam pintu bagasi bus yang terbuka. Korban yang juga siswi SD Purworejo meninggal dunia setelah menjalani perawatan di BLUD Dr R Soetrasno Rembang.

Awal kejadian naas itu bermula Berliana Tiara akan berangkat ke sekolah yang diboncengkan kakeknya Sukadi. Namun, sepeda motor bernomor K 5668 FD yang dikendarai tiba-tiba terserempet bus.

Saat kejadian itu, posisi sepeda motor yang ditumpangi korban berada di bahu jalan dan melaju pelan dari arah timur. Tapi dari arah barat melumcur kencang Bus Nusantara K 1562 B yang dikemudikan Kunardi warga Kutoharjo, Kecamatan Pati, Pati. Sopir bus tersebut tidak menyadari kalau pintu mesin dekat bagasi masih terbuka, sehingga menghantam motor korban.

Berliana akhirnya meninggal dunia, sedang sang kakek mengalami luka parah. Sontak saja, kepergian Berliana mengundang derai tangis anggota keluarga yang menunggui perawatan bocah mungil tersebut.


Cukup…cukup…aku tak kuasa melanjutkan membacanya. Gambar raut muka tanpa dosa meregang ajal, tak mampu kutepis dari pelupuk mata. Sungguh tragis nasib yang dialami bocah SD tersebut. Anggapan bahwa trek Rembang adalah “utusan malaikat maut” yang terus berkeliaran menjerat korbannya, kian tak terbantahkan.

Astaghfirullah hal’adzim… aku tersadar dan tercenung sesaat. Jadi masalah pintu mesin dekat bagasi yang menghantarkan NS-19 masuk bui.

Kucoba menelisik deretan kalimat yang mencantumkan nama driver Nusantara tersebut. Kunardi…nama “si pelaku” tersebut.

Tak perlu waktu lama, proses searching file tentang Kunardi di dalam laci otakku muncul di atas display ingatanku.

Pasti dan tak salah lagi…Kunardi yang dimaksud adalah “Mas Kun”, panggilan akrabnya.

Mendadak, memoriku menyurutkan waktu, memutar peristiwa di medio 2000-an. Kisah tentang permulaan perkenalanku dengan Mas Kun.

Kala itu, para pelanggan NS-39 kedatangan “pelayan” baru. Kesan pertamaku saat pertama kali berjumpa dengan Mas Kun, orangnya sungguh tak selaras menyandang profesi driver bus malam. Postur tubuhnya agak kurus dan kecil untuk ukuran pengemudi kendaraan besar. Pembawannya kalem, selalu berpenampilan rapi, resikan, nada bicaranya pun datar dan tak punya pribadi temperamental, sifat negatif yang jamak dimiliki para abdi jalanan.

Namun, jangan ditanya saat mempermainkan lingkar kemudi. Halus, lincah, nyaman, quick respon, visioner serta bertipe speedy adalah sederet catatan positif, yang bagiku bisa digadang-gadang untuk mengangkat derajat Mas Kun menjadi “the legend” nantinya. Bisa jadi, setumpuk alasan inilah “kebintangan” Mas Kun di PO Nusantara terhitung melejit.

Pada tahun pertama bergabung di bawah manajemen Pak Hans, Mas Kun diamanati memegang armada NS-96, Semarang-Malang. Tak berselang lama, pria yang sekarang berumur 36 tahun itu hijrah ke NS-39, Pulogadung-Cepu, jadi tandemnya Pak Mintarso, dengan armada batangan MB OH 1521 berkode HS 133.

Tak sampai dua tahun, pria yang berkewarganegaraan Pati itu promosi, naik grade membesut unit Scania. Dan kabar terkininya, dia dipercaya menjadi penguasa tetap HS 150, sekaligus dipersiapkan pula sebagai pemain cadangan untuk kelas Super Eksekutif, bila ada yang berhalangan tugas.

Sejak menukangi Singa Swedia itulah, intensitas pertemuanku dengannya berkurang drastis. Paling-paling bersua lima menit-an di pool pusat PO Nusantara saat menunggu skuad malam Nusantara diberangkatkan ke Jakarta atau tak sengaja bertatap muka di Terminal Rawamangun.

Terakhir pertemuan dengan Mas Kun terjadi di markas Karanganyar, kurang lebih 6 bulan yang lalu. Yang membikin aku tak bakalan lupa, kala itu dia sempat mengucapkan selamat atas kelahiran putriku yang ke-2 sembari memberikan referensi dokter kandungan, dokter anak dan klinik bersalin yang recommended di Kota Pati. Wajar dia punya wawasan luas soal “begituan”, karena Mas Kun beristrikan seorang perawat di salah satu rumah sakit swasta di Kota-nya Mbah Roso, Sang Peramal Ulung itu.

Kubaca sekali lagi lebih teliti berita mengagetkan hari ini. Kejadiannya Jumat pagi, berarti bus itu baru mendekam sehari dan kemungkinan, Mas Kun juga ikutan ditahan.

Diri ini tersentil oleh kesimpulan singkat itu dan seketika nurani tergerak untuk berspekulasi datang ke Polres Rembang.

Aku ingin membesuk Mas Kun, sekedar menyampaikan rasa simpati atas nestapa yang menimpanya, demikian tekat yang kunyalakan. Kalau bertemu ya syukur, tidak pun malah aku lebih bersyukur lagi, berarti dia “selamat” dari kungkungan jeruji penjara sebagai tahanan sementara pihak kepolisian.

*ndilalah : suatu kebetulan yang susah dipahami nalar; suatu peristiwa yang terjadi di luar skenario.

Rabu, 18 Agustus 2010

Mutiara Yang Hilang Dulu, Jumpa Lagi…(4)


Ready for Show Off


“Gimana Mas, sudah siap perang?” tantang Mas Ferry, sebelum bus beregistrasi K 1555 BC meninggalkan RM Sendang Wungu.

“Ada-ada saja guyonan Mas Ferry. Memang siapa yang mau dilawan?” gumamku. Toh, reputasi dia sebagai driver balap juga tak terbantahkan. Didikan AAPP alias Akademi Angkatan Pagi Pulogadung, gitu lho…Hehehe…

Itulah candaan khas Mas Ferry. Seseorang yang memang spesial di mataku. Karena dalam dirinya terdapat “perkecualian” tentang stereotip seorang sopir bus malam yang selama ini tercetak rapi dalam bingkai pikiranku.

Bus malam yang memprioritaskan kenyamanan, pengemudinya haruslah tiyang sepuh, mriyayeni, selalu jaga image dan pajang wibawa di hadapan penumpang, sosialitas tertutup, berpaham konservatif, berpenampilan formal serta cenderung pendiam.

Namun, Mas Ferry mematahkan semua itu.

Pria kelahiran Jakarta 33 tahun silam ini tak ubahnya anak muda yang gaul, supel, metropolis, gokil, funky, stylish, mletek (melek teknologi), open minded, dan punya idealisme tinggi dalam bercita-cita. Bangku kuliah yang dienyamnya tak mampu memekakkan bisikan nuraninya, yang lebih memilih profesi sebagai abdi jalanan untuk mengaspirasikan kegemarannya duduk di belakang setir.

“Siap, Mas…” kukepal tanganku, tanda bahwa aku merestuinya berjuang maju ke medan laga.

Maaf, Anda-Anda Semua Di Belakang Kami


-- Gringsing – Alas Roban – Batang

Gringsing : 21.15

Awalnya, bus tidak begitu deras melaju. Mungkin, Mas Ferry masih mencari sentuhan handling yang pas dalam mengoptimalkan output varian RK8JSKA sembari membangunkan mood dalam misi menjalankan gerilya malam.

Namun, lambat laun, energi yang telah melimpah ruah hingga berdaya 260 HP sungguh-sungguh termanfaatkan. PO Selamet “Ironman” menjadi hidangan pembuka malam itu.

Adrenalin ini semakin terpompa tatkala PO yang rintisan awalnya ditopang bisnis meubeul dan seni ukiran ini melibas tikungan tajam sebelum memasuki tanjakan Plelen. Lalu lintas dua arah yang padat dibelahnya dengan menyalakkan klakson, meminta keleluasaan jalan.

Sepanjang 35 km antara Gringsing-Batang, tahap warming up dilakukan. Satu persatu, kontestan Pantura Race dipecundangi. Raya Panorama DX, disusul armada Kota Reog, PO Jaya, Bandung Express D7537AB, Mulyo Indah AD1654BA, Sahabat Comfort Semarang-Cirebon, Ramayana Setra Adi Putro, Handoyo Panorama 3 AA1630AA, dan pamungkasnya, Raya berbodi Laksana Comfort.

-- Batang – Pekalongan – Pemalang –Tegal

Gairah malam Modern Travego ala New Armada kian menyengat. Lepas traffic light di depan Polres Batang, memaksimalkan keunggulan dalam tarikan dan ruang yang lebih terbuka, dua kakak senior Yudha Express dari Lereng Muria diasapi. Masing-masing Shantika 1715 dan sejawatnya, Shantika berbalur Grey Colour.

Lari-lari sekuat tenaga, itulah karakter YE25 malam itu. Kurang dari 10 km hingga mendekat palang kereta api lingkar kota Pekalongan, berturut-turut Rosialia Indah kode 240, armada Andalas, PM Toh, Rosalia Indah 213, serta Bandung Express dalam balutan Setra BEC tak kuasa menghadang gelinding roda bus yang dijuragani Pak Haji Agus ini.

“Bendera kuning” dikibarkan, peserta race harus berderet dan mengantri teratur, tersendat oleh kereta api yang hendak pass by. Cocok, Mas Ferry berada di titik puncak gelombang bus malam arah Jakarta. Wadah untuk unjuk gigi terbentang luas di muka.

“Mas, yang bawa Mas Ferry, ya?” tanya Bapak-Bapak sebelahku, yang telah puluhan tahun menjadi komuter dwi mingguan Pati-Indramayu.
“Iya, Pak. Bapak kenal?”
“Saya tahu dia sudah lama, Mas. Sejak dia di Gajah Asri. Bawanya kencang Mas, tipis-tipis kalau nyalip…”

Hmm…ternyata bukan karena aji mumpung ada busmania di kursi penumpang, lantas Mas Ferry memeragakan determinasi tingkat tinggi dalam berlaga di Sirkuit Deandels. Ternyata, memang demikian adanya, sudah bawaan bayi soal gaya balapnya.

Sesudah pintu lintasan dibuka, diseling manuver kanan kiri nan ajib saat injakan gas ditekan dalam-dalam, “korban” keganasan pendatang baru di blantika Pantura terus bergelimpangan. Tak asing dengan corak bodinya, Raya dengan nomor lambung 33, konvoi tiga Bandung Express D7823AA, D7633AC, dan D7568AC, Santoso Setra Tri Sakti, serta lawan yang paling alot, Senja Furnindo Green Hi-Deck K1712AC.

Musuh sepadan kembali didapatkan saat Dahlia Indah AG7155UR beradu speed di daerah Petarukan. Namun, dongeng 1001 malam berulang. Mas Ferry mampu merenggut tahta bus bertrayek Madiun-Solo-Jakarta itu.

Entah sebab apa, banyak bus mengambil jalur dalam kota Pemalang ketimbang lingkar luar. Trio Shantika kembali tertinggal langkahnya di ruas Pemalang-Tegal. Yakni Volvo 105, Si Kuning H1716BG dan Si Merah 110 H1742BG.

Di Suradadi, agresivitas bus berkelas VIP ini semakin menggila. Bus-bus yang dipelorotkan gridnya antara lain Rasa Sayang “Selimut Rindu”, menu yang paling dominan, Bandung Express D7645AA dan D7701AC. (Ternyata BE lumayan eksis juga, kukira kaum minoritas…)

Ditambah lagi Safari karoseri Laksana, Bogor Indah Proteus, dan Ramayana Setra Morodadi, membuat langkah Mas Ferry tersisa selangkah lagi untuk menjadi Raja Pantura.

-- Tegal-Brebes-Pejagan

Tegal : 23.35.

Kemacetan parah akibat dampak “pengobrak-abrikan” jalan nasional di wilayah Kota Tegal seolah tiada berujung.

Melihat Rosalia Indah 108 mengambil jalur alternatif Larangan, bus yang bermarkas di Tahunan, Jepara, ini membuntutinya. Tak lama berbelok, tampak armada GMS sedang mogok.

Ditempelnya secara tipis pantat Pendekar dari Palur tipe Concerto di jalan kelas III yang sempit dan nge-press bila dua armada besar berpas-pasan. Sebelum perempatan Balamoa, YE25 berhasil menumbangkannya.

Selanjutnya menyusuri daerah Banjaran-Talang-Pagongan. Di ruas inilah kisah klimaks perjuangan Mas Ferry terukir. Scania Touring Shantika H 1726 BG dikebirinya secara jantan, bersamaan dengan peng-overtake-an GMS Skania Restu Ibu, di ujung jalan Kapten Sudibyo, Tegal.

Setelah kembali ke jalur Pantura, kedigdayaan tak bosan-bosannya ditunjukkan. Kembali GMS B7511BO, Ramayana Setra, serta Rosalia Indah 299 jadi penghisap asap Euro III yang dihembuskan “tungku pacu” bervolume 8.000 cc ini.

Dan show off berlanjut di etape Brebes-Pejagan. Mangsa yang dilumat secara berurutan adalah Ramayana AA1603AB, Handoyo Clurit, Selamet K1602FA, Bus Pariwisata yang masih kinyis-kinyis, AA1600FW (Efisiensi?), Haryanto B7289IG serta Bayu Megah H1474BY.

Sayang, retina penglihatan ini sudah susah untuk diajak melotot. Sejak berangkat dari Rembang, hingga tengah malam saat menapak teritorial Pejagan, tak semenitpun mata ini terpejam. Padahal, belum puas rasanya menghitung berapa lagi bus malam yang disingkirkan Mas Ferry. Tanpa tersadar, diri ini hilang kesadaran. Zzzz…zzz…zzz…

-- Jatibarang-Pamanukan-Ciasem

“Mas, maaf saya mau persiapan turun…” colek penumpang sebelahku pada sisi window.

Akupun membuka kelopak mata kembali, dan mempersilahkan Bapak tersebut melangkahiku dan selanjutnya pindah ke ruang kemudi dan navigasi, karena tujuan beliau turun Jatibarang.

Lohbener : 02.14

Kutatap pemandangan di luar kaca. Ck ck ck… bus yang berslogan “Majesty of Transportation” sepertinya tidak punya lelah untuk terus mengambil langkah seribu secara kontinyu. Dan sejauh ini, Bapak dua putra yang bernama lengkap Ferry Johan Fonda ini masih mampu menjaga performa speedy-nya.

Seakan tak kenal kenyang melahap buruan, daftar bus-bus yang takluk tak berdaya karena gaya dorongnya kembali memenuhi notes kecilku.

Kramat Djati 7065, GMS Fajar Eksekutif, Damri 3236, medium bus Sari Mustika Prestige, PK Marcopolo Kudus K 1604 B dan K 1597 B (what an amazing night!),



Raya Panorama DX, OBL Jogja-Jakarta AA1661BY, Putera Mulya Wonogiri, Ramayana Seri D, Santoso “S” AA1748AA, Sinar Jaya Proteus Pekalongan, Blue Waves B7482WV, Ezri Wisata G1415AC, Puspa Jaya berlatar ondel-ondel, Jaya berbadan Nucleus, Sumber Alama Panorama DX, Rosalia Indah 327, Putra Remaja “Spiderman”, Garuda Mas “Vini Vidi Vici”, Rosalia Indah 264 dan terakhir sebelum terjerembab kemacetan Ciasem, Harum 6L.

Aku pun takjub dibuatnya. Dulu, sewaktu naik Bejeu-nya, terasa kurang kentara daya gedornya, karena perjalanan ditunaikan pada siang hari dengan rute Pulogadung-Kudus. Ternyata, di habitat semestinya bus malam, yakni sepanjang malam, ibarat permainan bola, YE25 boleh dibilang jadi top scores, membukukan donasi sebagai pencetak gol terbanyak dengan prestasi cleansheet yang nyaris sempurna, tanpa sekalipun pertahanannya dibobol kompetitornya. Rekor memasukkan-kemasukkan (50an – 0). Hehehe…

Mas Ferry pun bergantian shift, menyerahkan lingkar kemudi kepada Mas Imron, pramudi pinggir. Lalu lintas tampak stagnan, tak bisa menghindar dari kepadatan menjelang perbaikan jalan Ciasem.

Pria yang malam itu tampil layaknya mount climber, dengan tutup kepala dan jaket nan tebal, kemudian menyisihkan sebagian waktu istirahatnya dengan duduk di sampingku, melakukan perbincangan singkat penghantar tidur.

Akupun angkat topi, acung jempol, dan meninggikan apresiasi atas pertunjukan 6 jam non stop Mas Ferry tatkala “menggulung” aspal Pantura.

Tak disangka, balasan permintaan maaf meluncur dari lisannya sambil memohon izin untuk kembali meniduri area kandang macan.

“Mas Edhi, saya minta maaf karena tak mampu menyalip satu pun armada Bejeu. Jarak keberangkatan Yudha dan Bejeu dari Kudus terlalu jauh, 1 jam lebih. Berat itu Mas…”

“Hahaha…ada-ada saja Mas Ferry ini. Memang saya mematok target, kehebatan Mas Ferry terbukti jika mampu mendului Bejeu masuk Pulogadung?” redamku untuk mengobati kekecewaannya.

Pulogadung : 06.10.

Setelah berkutat di pusaran traffic jam Ciasem dan terhalang pembangunan Gerbang Tol Cikarang, tepat di depan rekan kerjanya, Yudha Express jurusan Purwodadi-Jakarta K1541BC, YE25 mendarat tak jauh dari lapak Pak Poniman Pulogadung yang saat itu tengah kosong.

Aku pun turun dan tak mau menggangu istirahat lelap Mas Ferry. Biarlah, kendati tak sempat berpamitan, persahabatan ini tak serta merta meluntur kadar kualitasnya. Kita berdua mesti paham akan kepentingan, urusan dan kerepotan masing-masing.

Sesaat sebelum menjauh menuju debarkasi bus kota P-51, kupandang lagi secara seksama bus berwajah legam metallic namun penuh kenangan itu. Sebuah armada yang membawa keberkahan di bawah ufuk timur Ramadhan, menggenapi ekspektasi perjalanan rutin mingguanku kali ini, khususnya ditatanya ruang pertemuan di dalamnya, tempat perjumpaanku dengan mutiara yang dulu hilang, Mas Ferry.



Di genggaman tangan Mas Ferry, PO “kecil” itu menjelma menjadi jawara sesaat jagat Pantura malam itu. Hebat, bukan?

Yudha Express, The Real Majesty of Transportation…

Selamat menjalankan ibadah puasa.

-T a m a t –