Rabu, 17 November 2010

Gajah Kebayoran On The Move... (Bagian ke-3)


Lonceng waktu tepat berdentang di angka 14.35, ketika Sang Gajah yang baru tiga bulan mbrojol dari kandungan ini mengawali migrasinya. Dan joki yang mengekang kendali dipegang seorang bapak yang secara umur terhitung paruh baya.

Sebagai prolog, sesuai karakter gajah, bus berjalan glinak-glinuk. Dan itu didukung fakta, ketika Warga Baru 321 dan Bhineka “Dempa” tanpa susah payah melabraknya di km-km awal tol Cikampek.

Namun, pelan tapi pasti, torehan positif mulai dicatatnya. Sambil menikmati roti olahan Holand Bakery sebagai snack yang dihidangkan, kusaksikan Gardena Wisata B103 berarmor Galaxy EXL serta Warga Baru 461 didepaknya sebelum tersendat oleh proyek pembangunan gerbang tol baru Cikarang.



Tertib antrian pun dilakukan, sementara bus bumel Diana Utama Garut-Bekasi serta Hiba Utama Proteus ber-ID 125 seperti kesetanan menyusup di bahu jalan untuk menerobos kemacetan yang mengular.

Timangan suspensi OH 1526 yang masih kurang ramah bagi pinggang, tak bisa menghentikan serangan musuh kemanusiaan berupa kantuk. Jam begadang semalam kutebus dengan tidur pulas. Setelah terakhir melihat Tunggal Daya Purwantoro yang tengah mogok di km. 35, alam sadar ini terbang menghilang, berganti fantasi semu yang memabukkan.

Aku terbangun kembali ketika menapak daerah Sukamandi dan sesaat kemudian kres dengan OBL Denpasar, yang sedang memburu waktu untuk tiba sebelum senja di bumi Si Pitung. Rupanya, “lawan arah”nya adalah MB OH 1526 berkaroseri model “NN(?)” tempaan Adi Putro.

Mulai sinilah, kebenaran bahwa gajah adalah binatang lamban terbantahkan. Jangankan berlari, meloncat di tempat saja tidak sanggup, demikian penelitian pakar zoologi.

New Travego Series ini memutarbalikkan realita. Setali tiga uang dengan Setra Sprinter, kaki-kaki nan kekar bukan sekedar menuntunnya berlari, tapi sanggup membawa badan bongsornya melayang. Gas dibejek dalam-dalam, RPM dapur pacu digeber pada zona kuning (2200-2500), merefleksikan bahwa pengemudinya memang tampil trengginas dan all out.

Korban pertama yang sekaligus paling alot memberikan perlawanan adalah KE-554 Sumenep. Meski beda dua generasi, selisih daya hingga 50 tenaga kuda, tak menggaransi bahwa sekelas Intercooler akan gampang diredamnya. Gajah Kebayoran ngos-ngosan juga mengejar “pagupon doro” yang seolah jadi rambut sanggul Tante Karina, saat menyibak kepadatan lalu lintas yang dijejali angkutan berat. Barulah, di jalan lurus dan sepi, Ijo Celcius B 7736 WV dipaksa menyerah.



Selanjutnya, hanya camilan ringan yang dilahapnya. Yakni Harapan Jaya Galaxy AirS AG 7682 UR, sebelum OBL mengambil time out, menepi dari lapangan, rehat di Rumah Makan Taman Sari. Tak lama kemudian, disusul kompatriotnya, B 7788 BK, Sprinter kembaran B 7168 XT, yang mengisi trayek Banyuwangi.

35 menit kemudian, kemudi pun beralih. Kali ini, aku masih ingat betul siapa suksesor sopir pinggir. Dia adalah Pak Yongki, yang dulu kondang sebagai tandem Pak Tessy di armada Sprinter XT. Tentu gampang ditebak, bagaimana habitnya saat di balik lingkar setir. Driver balap sekaligus agresif pula.

Baru saja dalam upaya pencapaian kecepatan jelajahnya, wuss...wuss...disusul secara serampangan oleh Setia Negara 24 beriringin dengan Putra Luragung Sindang Laut. Dan pertarungan klasik antarpendekar Gunung Ceremai tersuguhkan. Dua-duanya saling ngeyel, tak mau ngalah dan sebisa mungkin menutup celah agar yang belakang tak punya kans untuk mendahului. Masing-masing kenek, ibarat mayoret yang didapuk sebagai tukang sapu jalan, dengan semangat 45 memberikan aba-aba kepada Pak Kusir sekaligus membersihkan kendaraan yang mengganggu laju bus yang dibawa koleganya.

Aku dan penumpang yang lain hanya jadi penikmat tontonan Tom & Jerry ala Pantura, meski endingnya harus berakhir di Pasar Patrol, saat keduanya menurunkan penumpang, dan Pak Yongki memanfaatkan keunggulan armada lintas pulau yang tak perlu mikir uang setoran lagi.

Bus yang “baru” berkilometer di bilangan 38.000-an ini pun unjuk agresivitas. Tunggal Dara Celcius B 7733 WV dan Bhineka berbadan Laksana Comfort dilumatnya. Di sisi berlawanan, deretan kendaraan tampak merayap hampir sepanjang 5 km, terganggu oleh proyek perbaikan jembatan di Kandanghaur.

Di atas rute Eretan-Arjawinangun, mangsa-mangsa pun bergelimpangan, ditombak ujung gading The Elephant ini. Kembali bus Tunggal Dara B 7214 PV, Kramat Djati Madura B 7956 XA, Sinar Jaya 2 WX, DMI 30Y, Bogor Indah Proteus B 7164 XA, Laskar Pelangi 90 VX, Luragung Jaya Setra Laksana serta Purwo Widodo AD 1546 FG disungkurkan.

Menggilas jalan bebas hambatan Palimanan-Pejagan, speedometer jarang terbaca pada skala dua digit. Seringkali kulirik jarum kecepatan, hanya bergeser di range 100-120 km/ jam. Cukup cepat dan harmonis pergantian rotasi kerja 6 silinder hingga aliran darahku berdesir dan nyaliku bergidik dibuatnya. Alhasil, Safari H 1615 BC, Maju Lancar AB 2775 AC Marcopolo Tri Sakti, Gajah Mungkur Integra, Bus Wisata Plat E (kurang jelas namanya), Pahala Kencana Jupiter trayek Banyuwangi, berikut Harapan Jaya Scania “Be Groovy” dibabatnya.

Sebelum perlintasan KA Pejagan, disempurnakan dengan mengasapi LE-420 Marcopolo dan Tri Sumber Urip model Galaxy.

Dan daftar menu yang disantap mesin berkapasitas 6.374 cc terus memanjang. Tak usah menghitung kendaraan non bus, cukup “ban enam” saja yang dijadikan bukti kedigdayaan Gajah Kebayoran.

Sahabat Panorama 2 E 7615 AB, Sedya Mulya kode 33, Harapan Jaya AG 7034 UR, Sindoro Satria Mas 210, Lorena Denpasar LE-610, Coyo G 1665 AA, Purwo Widodo powered by Volvo B7R dicaplok di ruas Klampok hingga SPBU Muri Tegal.

Giliran selanjutnya Gajah Mungkur Fajar VIP AD 1516 EG, Harapan Jaya 15 AG 7494 UR, Rosalia Indah 216 OH 1521, dan Sumba Putra Hino AD 1506 CG.

Jam 21.15, saat armada bertenaga 260 HP ini singgah di agen Terminal Pemalang. Menurut penuturan kru, pasar penumpang OBL di Kota Nasi Grombyang ini lumayan prospektif, khususnya untuk tujuan Mataram. Pantas saja, meski cuma menempati kios sederhana, namun agen OBL terlihat paling informatif dengan mencantumkan jam-jam keberangkatan jurusan Mataram dan Denpasar.

Tak sampai 10 menit, bus ber-GVW 15 ton ini “berlayar” kembali, dan kini tercecer dari parade bus malam yang tadi sempat disalipnya.

Tensi yang meluap-luap dan determinasi tingkat tinggi tetap diperagakan oleh Pak Yongki. Tanpa kenal lelah terus menghela kemelimpahruahan tenaga yang didukung teknologi Intercooler Turbocharger sehingga berhasil mengasapi Harapan Jaya AG 7555 UR dan Damri 3142 beregistrasi AB 7354 US.

Di Kota Batik, bus berhenti kembali, memunggut tiga lagi penumpang yang mengatrol load factor mendekati 100%, hanya mengosongkan nomor kursi #01 yang tak laku. Luar biasa memang, di saat PO-PO berjuang keluar dari fase paceklik, OBL tetap stabil dalam memenetrasi pangsa penumpang.

Nothing is perfect, tak ada apapun yang sempurna...

Setelah mencundangi “kawan-kawan main” di sirkuit Deandels, keperkasaan itu ada tepiannya. Justru di habitat sesungguhnya binatang Gajah, di jalan lama Alas Roban, dia gantian dijadikan bulan-bulanan dua pasukan Wonogiren, yakni Sumba Putra Sprinter Laksana dan Serba Mulya A.06. Gara-garanya, Euro III ini terlambat mengintip situasi lalu lintas depan yang terhalang konvoi truk-truk bertonase berat.

Mengutip semboyan “Jangan tukar nyawamu dengan waktu sedetik”, rasanya tepat bila dicamkan juga “Jangan abaikan waktu sedetik, karena yang lain akan menghabisimu”.

Beruntung, peluit akhir pertandingan belum berbunyi. Di balasnya kelakuan nakal mereka di trek lurus Gringsing, sebagai isyarat agar jangan menyepelekan kecepatan lari Elephas Maximus.

Di Ringroad Kaliwungu, susbtitusi driver tanpa menghentikan putaran roda bus diperagakan, persis yang dilakukan penggawa Akas Asri tempo kemarin. Menurutku, inilah aksi akrobatik sopir-sopir bus Indonesia yang tiada duanya di alam raya ini. Top…

Malam kian luruh dalam kegelapan. Langit teduh berselimutkan permadani pekat. Dewi malam menebar senyum pesona padaku, mengerlingkan sudut matanya sebagai bahasa kemesraan untuk mengajakku bergumul badan dalam bilik peraduan. Lidahku tercekat dipameri lekuk indah tubuh yang bersembunyi di balik keanggunan busana tipis terawang.

Sungguh, tak kuasa aku menolak bujuk rayunya. Kelopak mata ini mengatup rapat, tatkala usapan lembut jemari lentik menerpa kulit punggungku. Hasrat bercinta semakin menyesak dada saat kuhirup aroma harum semerbak bunga-bunga cinta yang dihembuskan olehnya. Desah nafas kian memburu, saat bibir merah merekah menempel di ujung telingaku, seraya berbisik “Reguklah aku demi menuntaskan dahaga kasih asmaramu, Arjunaku…” (Hayah…mau cerita tidur molor saja pakai lebay-lebay-an segala?)

Tet…tet…tet…

Rentetan suara klakson itu sontak menutup layar mimpiku. Ugh, sialan…

Bus tak bergerak sama sekali. Kukucek-kucek mata untuk memastikan posisiku sekarang. Di depan, truk-truk berhenti, menutup dua jalur beralaskan aspal hitam nan mulus. Aku hafal, pasti lingkar luar Kota Demak.

Kuedarkan pandangan ke samping, lhadalah…ada HT 614. Wah, jangan-jangan ini Pahala Kencana Jember, favorit Pak Didik SS, yang populer aksi ngejosnya itu?

Ada apa gerangan, kecelakaankah?

Ngeng…ngeng..ngeng…Deru knalpot sepeda motor riuh terdengar. Ya ampun, jalan penyangga perekonomian nasional ini dijadikan arena balap liar para ababil (istilah untuk ABG labil). Edan!!!

Berani-beraninya mereka merintangi pengguna jalan yang memang punya hak penuh untuk memanfaatkan keberadaan properti negara ini. Kemanakah engkau Pak Polisi? Sudah tak adakah pranata hukum dan pewenang keadilan di bumi pertiwi ini? Semuanya melempem. Seolah tanah ini negeri tak bertuan.

Kepada siapa lagi harus mengadu?

Barulah 5 menit kemudian, host acara track-track-an tengah malam memberi haluan kepada kendaraan untuk lewat. Dan kibaran bendera yang digenggamnya seakan jadi lampu hijau untuk lomba adu sprint antara Gajah Kebayoran vs Ombak Biru. Armada gres tidak pernah berbohong. Proteus itu tertinggal, tak mampu mengimbangi daya sembur mesin OM-906LA nan powerfull.

Sayang, OBL harus minggir karena kehausan dan menenggak cairan ber-cetane number 48 dari “waduk solar” Wono Ketingal, yang masih satu wilayah dengan markas PO Nusantara, Karanganyar. Diberikannya waktu 20 menit kepada para penumpang untuk sekedar melepas penat atau melepaskan hajat biologisnya.

Di penutup etape, antara Kudus-Rembang, “belalai Gajah” masih sempat mengaspirasi rasa laparnya. Lagi dan lagi, Karina Madura dan satu bus bumel Sinar Mandiri Mulia “Big Boss” ditelannya. Dan hampir saja, PO Ezri G 1504 AA Setra Morodadi Prima yang lekat dibuntuti mulai dari Kaliori juga ditumbangkannya sebelum aku menghentikan upayanya karena Pantai Kartini, Rembang, sudah tampak bentuk rupanya. Dialah area penanda bahwa aku bersiap-siap untuk lengser dari singgasana “satu malam”.

Pukul 01.55 atau 11 jam 20 menit, durasi yang dibutuhkan untuk mendekatkan jarak Rawamangun-Rembang. Not bad…

Berkaca pada perjalanan-perjalananku bersama Gajah Kebayoran, baik Sprinter, V-engine B 7168 MK maupun Neoplan “NR”, semuanya bergenre streetfighter dan greget dalam berlaga di jalan raya. Meski aku bukan penyuka kecepatan semata, namun trip bersama OBL, Safari Dharma Raya atau Gajah Kebayoran selalu menjadi “kemewahan” yang menggairahkan untuk dikenang, bahkan pula untuk diulang, diulang dan diulang.



Jadi, siapa yang masih sangsi bahwa Gajah pun sebenarnya bisa berlari?

-- The End --


Gajah Kebayoran On The Move... (Bagian ke-2)


“Kepada satu lagi penumpang OBL tujuan Denpasar atas nama Bapak A***, dimohon segera naik armadanya karena armada akan segera diberangkatkan!”

Itulah “olah vokal” petugas lewat corong TOA, seakan jadi “nyanyian” penyambut kedatanganku saat menginjak pelataran Terminal Rawamangun.

Wah, OBL mau take off? Duh, aku harus cepat-cepat kalau tak ingin buruanku terlepas. Tak kugubris lagi binar kemolekan Pahala Kencana Marcopolo Denpasar, Kramat Djati Malang ber-air suspension atau Lorena OH 1525 Banyuwangi.

OBL, Safari Dharma Raya dan Gajah Kebayoran. Hanya nama-nama itu yang mengerucut dalam benakku. Mumpung dia masih di sini, sedapat mungkin aku harus bisa menangkapnya. Tak kutimbang-timbang lagi dapat “jenis”nya seperti apa, yang penting Gajah. Itu saja. Titik…

Mengapa harus bus itu, sih?

Kubuka selubung saja. Salah satu PO yang selalu menggoda untuk kubidik sekaligus jadi “targetman”adalah Safari Dharma Raya, menyisihkan legenda-legenda yang lain semacam Pahala Kencana, Kramat Djati atau Lorena.

Alasannya, “kerajaan otobus” yang dikomandoi Pak Hendro Darmoyuwono adalah PO “kaya” dan “dinamis”. Tentu bukan semata kaya modal dan armada, melainkan pula kaya akan ragam mesin, model karoseri, hal-hal yang berbau modifikasi, dan tentu saja, selalu terdepan dalam meng-update jajaran line-up nya.

Yang bergelayut di benak pikiranku; Mercy, MAN, Scania, Hino, Sprinter, Neoplan, Legacy, New Celcius, Integra, B 7168 VK, B 7168 IS, Allison Automatic Transmission, V-engine, Yuchai, Wechai, Kinglong, Tessy, Yongki, Johny, Denpasar, Mataram hingga angkutan TKI Indonesia Timur adalah sederet variabel yang menggambarkan keunikan keluarga Gajah Kebayoran.

Jadi, setiap kali jam 2-an aku telah berdiri di “showroom bus” yang berlokasi di Jalan Perserikatan, seringnya OBL yang kutempatkan di rack pertama pilihanku. Karena, kemungkinan kecil aku bakal mendapatkan “spesies gajah” yang sama dengan yang telah kunaiki sebelumnya, karena saking “kaya”nya PO yang lahir di lembah Sindoro-Sumbing tersebut.

Apalagi, dengar-dengar OBL mendandani 7 unit OH 1526 dengan “jubah” terbaru dari 7 karoseri yang berbeda, kian menebalkan niat pencarianku. Siapa tahu, salah satu dari mereka, hari ini ditugaskan mengantarkan “tamu” ke kampung I Nyoman dan Ni Ketut.

“Mas, boleh ikut OBL?” sesaat setelah kudekati dua “Mas Agen” berdresscode batik OBL yang tengah berjalan berdampingan.
“Tujuan mana, Mas?” balas salah satunya.
“Rembang.”
“Mau?? Tapi tiket agak mahal, Mas!” cegahnya skeptis bahwa aku bakalan mau.
“Ga papa Mas, lha wong saya pengin naik OBL.” aku hanya tertawa kecil dalam hati.
“Alhamdulillah. Terima kasih Mas, ini rejeki saya hari ini….” papar singkatnya penuh bijak.

Hmm…baru kali ini aku menemui personel agen yang seketika mengucap kata syukur di depan penumpang yang sukses dijaringnya.

“Ayo, ke loket Mas…” ajaknya sembari memberi kode temannya, agar bus ditunda dulu keberangkatannya.

Sip, aku berjodoh dengan obyek incaranku.

“Berapa, Mbak?” tanyaku setelah diserahkan kepada Mbak Agen di ruang loket No. 10.
“165 Mas. Mau no 1 apa 2? Kosong dua-duanya…”
“2 saja Mbak.”

Langsung saja kubayar tunai, toh, nominal itu pula yang dibebankan padaku saat naik Sprinter B 7168 XT beberapa bulan yang lalu. Bahkan kali ini, aku dapat satu kursi ekstra.

“Busnya di jalur 3 paling depan ya, Mas!” imbuhnya sebagai pemungkas transaksi.

Dengan setengah berlari, kucari gajah-gajah yang seringkali jadi pemicu perselingkuhanku. Armada apa yang akan “kugauli” kini? Degup jantung ini semakin tak menentu dibuat penasaran olehnya.

Eng…ing…eng…



Mpfuh…rupanya bus ini, yang dahulu (kalau tidak salah) direnggut keperawanannya oleh BMCers ketika assestment armada kinclong ke Anyer. Hii…dapat barang bekas. Hehe…

“Hei, buat apa mengeluh? Beda jauh lho rasa road test sama ngelen?Mana ada macam-macam PO berbarengan ngetes armada baru, terus memeragakan aksi blong-blongan di jalan?Itu adanya di dunia bus malam.” hiburku mencari pembelaan diri.

Benar juga!

Kucoba menelisik hasil rancang bangun tangan-tangan terampil Morodadi Prima dalam membungkus kemutakhiran teknologi “adik Mercy Elektrik” ini. Tiga kali ini aku nge-klik engine varian terbaru Mercedes Benz, masing-masing Red Phoenix Haryanto B 7689 VGA,



Garuda Mas E 7552 HA



dan Budiman 3E 21,


semuanya “handmade” Adi Putro. Sore ini, tampil dalam balutan baju bikinan “tukang jahit” yang lain.

Bicara sisi luar, aku layak acungi jempol. Mengusung genre H-deck, dengan minor change di sektor buritan dan haluan, membenamkan hi-beam original Travego, benar-benar membuat maskulin, kekar dan berwibawa. Menurutku, dibanding saat masih menggunakan lampu depan model Marcopolo atau Smiley, inilah produk New Travego karya anak bangsa yang nyaris mirip versi eropa-nya sono.



Terlebih, corak livery coklat susu yang dilukis di permukaan lambungnya benar-benar fresh, keluar dari jalur pakem OBL yang berbackground gradasi warna biru langit dan putih dihiasi tarikan garis merah-biru. Hanya menyisakan kesamaan berupa sekawanan gajah yang sedang menjalani kehidupan yang rukun, akur dan bersinergi dalam berkomunitas. Kita patut belajar dari mereka ya? Hehe…

Soal interior pun tak kalah sentuhan. Langit-langit terlihat wah dengan permainan lekuk atap kabin dan penataan cahaya dari lampu-lampu ruangan. Ditambah panel-panel bermotif wooden panel di dashboard dan sudut-sudut atas, menambah keekslusifan moda B 7799 TK ini.

Tema bus jangkung benar-benar ditunjukkan. Beda altitude dudukan seat pengemudi dan penumpang cukup lumayan, sekitar 40-50 cm. Penumpang yang duduk tampak menjulang hingga kepala “mendekat” pada louver AC. Harus bersiap terpapar tiupan hawa dingin Nippon Denso yang nangkring di luar sebagai kreatornya.

Kejulangan ini “didukung” juga fasilitas reclining seat yang hanya mampu berputar 30 degree dari posisi tegak. Dan menurutku, inilah salah satu kelemahan yang perlu dikritisi sebab mengurangi keergonomisan jok merek Hai ini. Susah mendapatkan mode PW saat rebahan.

Sekali lagi, ini penilaian subyektifku. Sah-sah saja, kan?

Gajah Kebayoran On The Move... (Bagian ke-1)


--- Long weekend, H-7 Lebaran hingga H+14, musim Haji, liburan sekolah, Natal dan Tahun Baru, plus Harpitnas (Hari Kejepit Nasional) ---

Dalam kalender tahunan imajinerku, tanggal-tanggal penyusun holiday seasons di atas sudah lazim kutimpa dengan ujung spidol warna merah, kugoreskan garis silang di dalam bingkai angkanya. Tanda yang berarti "terlarang" itu sebagai reminder, bahwa pada momen-momen tersebut, aku kudu mengebiri berahiku yang suka “berselingkuh” dari bus-bus yang selama ini jadi sandaran ritual wira-wiri.

Aku demen berselingkuh !?

Sebagai penglajo rutin, menyandang gelar loyalis satu PO alias POmania amatlah menjemukan. Semakin lama berkubang di dalamnya, kurasai monotonitas ritme berikut derap iramanya. Dunia bus yang begitu luas serasa menciut, wawasan serta pergaulan sosial terbatasi.

Bahkan kalau tidak hati-hati, “ia” bisa membunuh obyektifitas ke-busmania-anku dalam menyorot PO-PO lain. Handicap dalam diri seorang buslover inilah yang sedapat mungkin kueliminir.

Tak bisa kupungkiri, di awal perkenalan dengan entitas komuter, aku terjerumus pandangan sempit, terjebak dalam lingkaran POmania. Mengenakan “kacamata kuda”, membabi buta men-judge “my bus is the best, no other is like it...”.

Jadilah pulang pergi bersama PO yang sama, yang beda hanya kode bodi. Duduk di kursi yang bentuknya serupa, yang beda hanya posisi. Kedai makan singgahan tahunya di situ, di sana atau di sini, yang beda hanya harga menu yang tersaji. Bertemu kru itu-itu saja, yang beda hanya panggilan diri. Koleksi tiket sampulnya seragam, yang beda hanya nomor seri. Pun saat menjalin hubungan dengan agen, dia lagi dia lagi, yang beda hanya lokasi di mana lapaknya berdiri.

Kalau ditanya orang soal PO lain, “Pernah naik bus itu, Mas?”, “Bagaimana rasanya?”, “Bagus tidak pelayanannya?” dan lain dan sebagainya, aku cuma bisa menggeleng. Malu rasanya. Selaku insan yang dengan bangganya mengaku busmania, tapi tak berkutik ketika dijadikan sumber referensi bagi yang membutuhkan.

Ah, apa seninya berkelana di jalanan kalau begitu?

Lagi pula, dahulu aku juga acapkali menelan “pil pahit” yang dihadiahkan bus kesayanganku. Nama indah sebuah perusahaan transportasi yang tertanam dalam relung sanubari tak serta merta menjamin bahwa PO itu akan selalu mendekatkanku pada puncak kepuasan. Nyatanya, dia seringkali tergelincir sebelum sampai pada tujuan yang kuasakan. Nothing is perfect, tak ada apapun yang sempurna…

Itulah “cubitan pedas” yang akhirnya mendukung premisku bahwa “Setiap bus menyimpan “berlian” yang berbeda, tinggal bagaimana aku mendulang kemilaunya”.

So, kian lengkaplah dalih yang menjustifikasi “ulah ketidaksetiaanku” pada PO tertentu. Aku lebih merdeka jadi penumpang kutu loncat, yang bebas terbang kemudian mendarat dimanapun, lalu pindah hinggapan kemanapun yang hendak kutuju.

Beruntung Rembang -- kampung halamanku – disinggung beragam trayek serta bus dari/ ke ibukota. Di saat aku bosan, misalnya, dengan satu PO “Plat K”, aku bisa melirik PO tetangganya. Ketika aku “overdosis” dengan armada Cepu-Jakarta, aku bisa mengobatinya dengan armada timur-an. Atau tatkala dibekap ke-bete-an menunggang yang direct line, aku bisa melawannya dengan berestafet, transit Semarang atau Blora. Yang demikian caraku mengakali trip 600 km tiap akhir pekan, agar semakin lama, citarasa “bersetubuh” dengan bus tak kian hambar.

Nah, rentang Oktober sampai dengan permulaan November, bagiku adalah wadah pesta pora perselingkuhanku.

Bagaimana tidak?

Setelah ditinggal berlalu Idul Fitri, sementara bulan haji, Natal dan pergantian tahun masih jauh menghadang, slottime ini begitu menyenangkan untuk dilalui. Inilah saatnya melakukan perburuan sensasi serta petualangan anyar “memeluk” bus yang belum pernah kucicipi “kehangatan”nya.

Sudah lumrahnya, okupasi bus-bus jarak jauh melorot -- khususnya untuk jalur Malang, Madura, Jember, Banyuwangi, Surabaya, serta Denpasar -- lantaran penumpang non-reguler menahan diri untuk bepergian. Imbasnya, bus-bus seolah menghiba raga, menjual jasa lebih murah, membanting harga agar tetap terbeli dan tentu, penumpang “numpang jalur” sepertiku pun dengan gembira ria diangkutnya. Merekalah yang memajang pesona, mencari simpati serta menebar bujuk rayu kepada calon penumpang. Bukan konsumen yang repot dan kepayahan mencari armada selayaknya pada saat musim ramai.

Keleluasaan dalam memilih bus, keunggulan nilai tawar, fare yang negotiable, adanya peluang buy one get one free (beli 1 tiket dapat 2 kursi), ditambah laba immateriil, yakni “the new advanture” dengan bus asing adalah keuntungan dari aksi coba-cobaku. Biarpun kantong yang kurogoh lebih dalam ketimbang ongkos dedicated bus ke Rembang, bagiku, tetep jauh lebih murah dibanding selaksa makna yang kuraih.

Pengalaman merupakan barang yang tak bisa dinilai cost produksinya, bukan?

Dalam upaya hunting sensasi dan experience seeking, aku menerapkan metode sederhana. Tak perlu nge-book tiket sebelumnya, cukup on the spot atawa go show saja. Datang langsung ke terminal, lihat-lihat, pilih bus, nego, naik, berangkat dan tinggal menikmati suasana on board. Itu lebih menantang adrenalin, menguji keberanian, ada pertaruhan nasib di dalamnya, serta efek harap-harap cemasnya begitu nendang.

Tak ada kamus “kecewa, dongkol, kesal, geregetan, muak, gondok dkk” sesudah perjalanan. Sepahit-pahitnya perjalanan di kamar kabin bus “baru”, tetap akan jadi cerita manis untuk dikisahkan. Beda dengan “luka hati” akibat perbuatan tak mengenakkan bus langganan. Yang demikian justru sayatannya lebih pedih, dan butuh tempo lama untuk penyembuhan.


Kamis, 21 Oktober 2010

Sumpah! Jadi Sarkawi Itu Bukan Mauku…(4)


Dalam hitungan detik, hujan mengguyur hutan jati dengan lebatnya. Kabut tipis menyelimuti seantero Gringsing. Anomali musin di tahun ini memang di luar prakiraan pakar klimatologi. Lazimnya, bulan 10 adalah tahapan pancaroba. Tapi nyatanya, hampir tiap hari serangan peluru air dari angkasa secara masif membasahi bumi.

Sedang pw-pw-nya meringkuk dipeluk dinginnya udara yang dikreasi AC Thermo King, Mas Kenek kembali mendekat. Ada apa lagi ini?

“Mas, sebentar lagi ada kontrol. Kalau misal nanti ditanya, ngomong saja ‘Saya sopir Malino Putra, temannya Pak J**** (driver bus ini). Numpang ikut sampai Kendal’.” suruhnya laksana sutradara yang mengatur modelnya untuk casting sinetron terbaru.

Haa? Bergidik aku dibuatnya. Aku disuruh berbohong di hadapan controller? Aku jadi “boneka kebohongan” para kru? Aku dipaksa memerankan adegan pura-pura? Dan apa pula salah PO Malino Putra, sehingga namanya dicatut tanpa izin?

Duh…begini tragisnya takdir jadi “komoditas selundupan”.

Di saat itu pula, dua “penumpang tak jelas” yang sama-sama berpostur tambun bersembunyi ke belakang, ngumpet di balik tirai biru penyekat ruang istirahat pengemudi. Top, muslihat dan tipu daya yang jitu.

Rupanya, derai hujan benar-benar membantu sandiwara yang dipentaskan kru kabin. Ketika melenggang masuk halaman rumah makan yang bisa diakses dari jalan lingkar Alas Roban itu, dijauhkannya posisi bus dari check point.

Dan cara itu cukup ampuh. Mulanya, petugas kontrol keluar dari pintu kantor dan terlihat enggan masuk ke dalam bus yang bertujuan pol-pol-an hingga Kelet ini. Dari luar bus, dengan muka galaknya, dia berupaya mengamati secara seksama dari jarak yang tak memadai.

Hal ini dimanfaatkan betul oleh Mas Kenek untuk proaktif mengeksekusi modus operandinya.

“Isi delapan, tambah satu orang, sopir Malino, mau ambil storing-an di Kendal,” teriaknya kuat-kuat, agar modulasi vokalnya bisa menembus gemuruh rinai yang tak menurun juga intensitasnya.

Licik, cerdik dan brilian! Aku sampai acung jempol atas usaha Mas Kenek berkelit dari controlling yang berlapis.

Checker itu pun mendekat dan melantai ke dalam bus, hanya membubuhkan stempel dan tanda tangan di DP, lalu buru-buru turun tanpa memeriksa ulang jumlah penumpang secara teliti.

Selamet…selamet…aku tak sampai bersilat lidah jika saja tukang kontrol sempat menanyai kepentinganku di dalam bus.

Sungguh, kutukan sarkawi benar-benar mengancamku.

Ternyata bus tak berhenti lama dan meroda kembali, untuk selanjutnya justru malah mampir di Kedai Makan Sumber Rasa, Weleri. Inilah uniknya bus pagi dari Pulogadung. Tempat singgah keduanya tak lagi rumah makan rujukan bus malamnya, tetapi diserahkan kepada kebijakan kru. Dan hal itu dilakukan juga oleh “PO 5 langkah” dari rumah, Bejeu, yang saat itu diwakili armada OH 1521-nya, K 1665 BC.



Aku penasaran, bus ini jam berapa take off dari Pulogadung? Jangan-jangan, tadi di belakang bus-ku dan sekarang justru malah di depan?

Di lintasan Weleri-Semarang, prestasi bus bergambar stiker Motorcross-ers lagi bergulat di atas lumpur sedikit ternoda oleh kecekatanan the member of Black Bus Community itu. Unggul setengah menit-an saat start dari rumah makan, kemudian ditempel secara side by side dan lambat laun, armada B3 itu tanpa ampun menghabisinya tanpa bilang permisi di daerah Mangkang. Lincah dan elegan yang mengendalikannya...

Sontak, diri ini dibekap kerinduan, ingin bernostalgia naik bus ber-livery jilatan api itu. Bus yang berhomebase di Pengkol, Jepara, yang menurut subyektifitasku, masih sebagai bus banter di jajaran keluarga Muria Raya.

Dan ada satu momen lain yang selalu kutunggu, yakni memandang defile kavaleri roda enam yang bertolak menuju ibukota saat berhamburan di permukaan jalan raya.

Menjelang petang itu, berdasar urutan dari terdepan, pawai “kendaraan hias” dimeriahkan oleh Purwo Widodo, Puspa Jaya, Tunggal Dara, Tunggal Daya, Purwo Putro, Gunung Mulia, Sedya Mulya, Sumba Putra, Putra Mulya, dua Garuda Mas, Tunggal Daya, Gunung Mulia, Garuda Mas, Putra Mulya, Aneka Jaya dan tiga Garuda Mas.

Kesimpulan nisbiku, setiap sore, kloter pertama “penerbangan” Semarang-Jakarta didominasi oleh Si Ijo dari Kedaung, Cirebon, jawara jalur Purwodadi dan sekitarnya, Maskapai Garuda Mas.

Pukul 19.05, cengkeraman “Sarkawi” pun lepas saat kakiku merumput di pojok Kota Kudus. “The Five Star Bus” yang kutumpangi itu kian menghilang ditelan cahaya remang-remang lampu kota. Bagaimana aku mengucapkan terima kasih padanya, sementara kolaborasi rasa senang dan sedih bercampur aduk mencarut-maruti suasana sanubari?

Berbinar-binar itu pasti, karena 90% rentang jarak telah dipangkas, yang artinya, kediamanku berdiri tak jauh lagi. Sedangkan di bilik yang lain, batin ini meronta. Mengapa untuk tujuan kebahagiaan, aku harus menggapainya dengan sepak terjang yang kotor, terjaring dalam jeruji sarkawi?

Di atas bus Sinar Mandiri Mulia Nucleus 3 bertagname “Sexy” yang memanggulku menuju tanah kelahiran, Rembang, kugali pelajaran dari babak kelam ini.

Aku berpikir positif saja. Bisa jadi, Sang Pencipta memang “sengaja” menggiringku terjerumus ke dalam kubangan sarkawi. Dia ingin memperluas cakrawala ke-busmanian-ku dengan menghadirkan sensasi perjalanan yang baru dan berbeda, saat melakoni ritual wira-wiri mingguan.

Dia berkehendak menghiburku agar tak selalu monoton menikmati turing wajib dengan menyandang status penumpang halal, namun sesekali pula merasakan pahitnya “kenekatan” seorang begundal berlabel sarkawi.

Sekaligus, Dia pun menguji seberapa “kekuatan ikrar”-ku untuk memegang teguh fatwa “katakan tidak untuk sarkawi”, meskipun aku kandas melewati audisi ini.

Dan kini, setelah aku mencicipi kembali kenistaan jadi penyusup gelap, Dia pun memberikan tambahan suntikan moral agar aku lebih lantang lagi mendengungkan kalimat sakral “say no to sarkawi” bagi diriku sendiri.

Semoga sederet hikmah itu yang bisa kurengkuh…

Kick sarkawism out of our land!

T – a – m – a - t


Sumpah! Jadi Sarkawi Itu Bukan Mauku…(3)



Hingga sesuap nasi terakhir yang tersisa, benar-benar kurasai legitnya fasilitas “wah” yang diperuntukkan bagi sarkawi. Bayang-bayang sindrom “tak selamanya sarkawi itu indah” kian menjauh dari anganku.

Tapi...

Dunia berubah drastis saat Mas Kenek menemuiku.

“Mas, sehabis makan, Mas jalan ke depan ya. Sampai ujung, terus belok kiri. Di situ ada toko, Mas menunggu bus di sana! Yang penting ngga kelihatan dari sini...”

Deg, aku hampir tersedak ditampar kata-katanya. Apa-apaan ini? Inikah awal derita “si benalu kutu kupret” itu?

Dengan langkah gontai, kususuri jalan tanah yang kering dan berdebu. Enam tahun sudah aku menjalani komuter mingguan, dan baru kali ini aku dijerembabkan oleh tindakan bodohku sendiri.

Kulewati segerombolan neng geulis bermake-up menor, menenteng tape recorder dan speaker yang di-casing-i box kayu, hendak menjual suara emasnya pada bus-bus yang keluar dari rumah makan.

Sungguh, harkat dan martabatku jatuh berkaca diri pada mereka. Begitu terhormat dan mulianya para pengamen tembang karaoke itu. Di tengah sengatan surya yang membakar, tak kenal malas menjemput setetes rezeki dengan “amalan” yang benar. Sedangkan aku, kini dihina-dinakan jagat alam sebagai budak sarkawi.

Tak sampai lima menit, “Smiling Face” Royal Coach E itu muncul dan menghampiriku. Tatapan tajam para penumpang yang lain menyorotku nanar saat menginjak tangga. Tengsin aku dibuatnya!

Saat duduk kembali, tiba-tiba dari balik gorden yang mempartisi bangku penumpang dan kandang macan, nongol dua orang yang tadi naik dari Cikampek. Oalah, begini trik untuk mengelabui petugas. Main kucing-kucingan. Enakan mereka berdua tetap di atas bus, sementara aku tersiksa, berjalan hampir 100 m.

“Ya Allah, cukup sekali ini saja, jangan tambahkan deritaku dengan derita-derita yang lain...” pintaku mesti aku pesimis doa itu bakal terkabul. Aku dekil dan itu jadi penghalang diluluskannya permohonanku.

Bus kembali “meroket”, tak meninggalkan speedy habit seperti di intermediete pertama. Namun, itu tak menciptakan daya tarik buatku lagi. Hatiku menyenandungkan kidung gundah gulana, nuraniku berbalut keresahan, sehingga kurasakan perjalanan ini begitu panjang, menjemukan dan lama.

Kuhapus eksotisme pantura yang membentang antara Widasari hingga Suradadi dengan metode pejam mata sepulas-pulasnya. Saat kelopak indra penghilatan terbelalak kembali, raja siang mulai tergelincir dari zona waktu ashar dan di belahan utara, perairan Laut Jawa terlihat teduh tenang, serasa menyejukkan jiwaku yang sedang tandus gersang dicakar kuku-kuku jahat setan sarkawi.

Back to the track, di seberang, kusaksikan konvoi Laskar Dewata, Lorena LE-613 dibuntuti secara ketat dua Marcopolo Pahala Kencana. Kira-kira mana yang duluan menjejak Jakarta, The Green Legend or Blue Waves?

Di bawah tugu perbatasan Tegal-Pemalang, berhenti bigbus bertuliskan Gading Mas. (Semoga tak salah lihat). Yang jelas, bus dengan papan trayek Solo-Wonogiri ini masuk perbendaharaan baru nama PO yang kukenal. Berangkat dari manakah gerangan bus ini? Jakarta, Bandung, Cirebon ataukah Tegal?

Predikat predator terus identik melekat pada bus yang telah merekrut sekitar 600-an followers di grup Facebook ini. Buruan yang dimangsanya sepanjang Pemalang hingga Batang berupa Dedy Jaya Kampung Melayu-Pekalongan serta duo Coyo, masing-masing berpaspor G 1639 AA dan G 1666 AA.

Ternyata oh ternyata… mitos sarkawi pembawa sial ada benarnya juga. Dan Alas Roban merupakan padang pembalasan atas dosa-dosa manusia.

Baru saja menyusuri rute lama yang penuh kelokan dan turunan tajam, tiba-tiba…prittt..pritt…peluit sangkakala berbunyi nyaring. Seseorang dari korps baju coklat yang berdiri di pinggir jalan berhasil mengerem laju bus.

Bergegas, Mas Kenek keluar dan sepertinya berdua menjunjung tinggi semboyan “TST=Tahu Sama Tahu”. Tanpa banyak cing-cong, diselipkannya selembar duit yang nominalnya tak seberapa, tapi sukses membopengkan wajah salah satu lembaga penegak hukum di Republik ini.

Belum tuntas melahap beberapa tikungan ekstrem di wilayah wingit yang diampu Kerajaan Batang ini…

Pritt…pritt…suara tengik itu terdengar riuh untuk kedua kalinya. Dari arah berlawanan, dua orang dengan pangkat di lengan yang sedang berboncengan berusaha menyetopnya. Ck…ck…ck…rajin-rajin sekali kerja mereka di sini.

“Sudah Pak, sama yang belakang!!!” ngotot Pak Sopir setelah membuka jendela geser, sambil terus berjalan perlahan.

Bukannya berlalu, sepeda motor dinas itu berbalik haluan dan menyuruh “bus bandel” ini untuk menepi.

Dan refrain “lagu lama” diputar lagi. Sekian puluh ribu melayang, terbang ke saku oknum aparat yang lebih senang “dilayani masyarakat” ketimbang melayani masyarakat itu. (No offense lho, ya…)

Deritaku menjalar dan sekarang dirasakan juga oleh kru. Secara beruntun, sebagian hasil praktik sarkawi mesti dihibahkan kepada pihak ketiga yang kewenangannya sama sekali tak pernah menyentuh urusan pelanggaran etika menjadi penumpang umum ini .

Ulah sarkawi yang patut dipersalahkan?

Sumpah! Jadi Sarkawi Itu Bukan Mauku…(2)


Meski perjalananku kini berlumur noda, namun tak akan kusia-siakan waktu hanya untuk meratapi kesialan hari ini. Kekhilafanku bukan karena kesengajaan, dan semoga Tuhan Yang Maha Pengasih memaafkan. Aku harus tetep enjoy menjiwai trip sejauh 600 km selama 12-13 jam dengan keceriaan dan sukacita, ibarat pemudik yang kangen akan kampung halaman.

Perlahan tapi pasti, saat bandul jam menunjuk angka 08.05, “Intercooler Jumbo” mulai melindas permukaan aspal tol Jakarta-Cikampek. Tak bisa kupungkiri, soal speed dan greget putaran flywheel-nya, bus ini memang luar biasa. Seolah fardhu ain hukumnya bagi armada-armada pesisir timur Jawa Tengah untuk tampil ofensif tatkala berlaga di panggung Deandels.

Meski aku tak berharap muluk “diorama malam” pantura tersuguhkan pula di siang hari, nyatanya “warna” bus siang ini tetaplah bus malam.

Poin keindahan pertama, ketika beberapa saat beradu kecepatan dengan armada D104 Hino RG milik Doa Ibu, Karangnunggal-Tasik-Jakarta. Dan itulah korban pertama yang ditumbangkannya. Menyusul kemudian Mayasari Bhakti PAC 124 Cikarang-Lebakbulus yang didepaknya sebelum masuk paddock di km. 19 untuk mengisi BBM.

Saat bus berkode trayek XX-039 -- dua bilangan terakhir sama plek dengan langgananku, NS-039 -- bergerak ke timur, acapkali berpas-pasan dengan bus-bus yang “bangun kesiangan”. Tercatat Raya Panorama DX, Pahala Kencana Galaxy, dua Pahala Kencana Proteus, Karina Evolution “vermakan”, OBL Old Travego, ALS Proteus dan sapu jagatnya Soloensis, Gaya Putra.

Sekeluarnya dari SBPU Bekasi Timur, menempel dengan rekat buritan Prima Jasa jurusan Harapan Indah Bekasi-Bandung, B 7962 YL. Namun apa daya, Hino “Semprong Kiri” (istilah Hans SJM) tak kuasa menandingi daya 210 HP dari output OM 366LA. Kemudian, disungkurkannya pula Dedy Jaya Nucleus 3 Cibinong-Pekalongan, Sinar Jaya 18WX, serta MGI Skania Restu Ibu, Bandung-Cibinong.

Kembali, bus-bus malam yang tercecer dari habitatnya terpindai. SAN Celcius, dua Pahala Kencana Marcopolo, Lorena LE-115 Banyuwangi-Lampung, dan Kramat Djati Malang. Sedangkan bus Sumatra-an ”paling pagi” yang bersiap mengarungi wahana Andalas adalah Bengkulu Kito, berkaroseri Galaxy Coach Restu Ibu.

Sedang asyik cuci mata, Mas Kenek undur ke belakang dan kemudian duduk di sebelahku. Aku semakin gemetaran, keringat dingin bergolak untuk dialirkan. Inilah detik-detik krusial penobatanku sebagai sarkawi.

“Mas, pakai tiket apa langsung ke sampeyan?” inisiatifku sebagai mukadimah gelaran acara jual-beli. Siapa tahu, dia membawa tiket dan didapuk selaku agen berjalan, meski itu mustahil karena di luar adat kebiasaan entitas “Plat K”.

Dibarengi senyum sumringah, karyawan berkemeja merah putih itu berujar, “Langsung saya, Mas.”

Kusodorkan selembar uang Rp 100.000,00, sembari aku mengunci tawaran, “Samakan dengan tarif resmi saja, Mas!”

To the point dan mengalah saja, itulah maksudku. Aku tak mau bertele-tele hingga alot dalam negosiasi. Diserahkannya kertas rupiah bergambar ibu-ibu pemetik daun teh sebagai kembalian. Tanpa ada tiket, tanpa kupon breakfast, tanpa payung hukum, tanpa jaminan asuransi keselamatan, serta tanpa legalitas sebagaimana jamaknya penumpang, itulah “barang berharga” yang tak kudapatkan.

“Nanti pas makan ikut saya ya, Mas!” pesannya saat menutup trafficking jahanam ini, diiring sorak-sorai serta gelak tawa sekawanan iblis di pundakku atas kesuksesan misi mereka. Asy*m…

Di luar perkiraanku, bus berkelas eksekutif ini keluar di gate out Karawang Timur untuk mencapai Terminal Klari. Pasalnya, ada satu orang penumpang yang telah mem-booking. Aku bersyukur, bus “berziarah” di tempat yang belum pernah aku jamah. Hitung-hitung pengalaman baru. Meskipun mini, tapi geliat kehidupan terminal ini cukup nyata. Berjejer agen-agen bus ke Jawa dan Sumatra, dihiasi armada Sumber Alam 298201, DMI Evolution, Danau Ranau Indah dan laskar Warga Baru serta Agra Mas yang berjejalan di dalamnya.



Sepulangnya dari Klari, ditutupnya aksi penuntasan etape Jakarta-Cikampek dengan meng-overtake Budiman Tasik-Cikarang.

Di pertigaan Mutiara, Jomin, bus yang konon punya trayek Jakarta-Madiun ini berhenti karena ada isyarat tangan dari pegawai toko oleh-oleh yang merangkap calo jalanan untuk menghadirkan “rezeki nomplok”. Masuklah dua orang penumpang yang statusnya setali tiga uang denganku.

Lumayan hasil seseran kali ini, mungkin itulah risalah kegirangan kru.

Kedigdayaan bus bernomor lambung XX-033 di jalur Cikopo-Pamanukan mencuat karena memang tiada musuh sepadan. Kondisi lalu lintas yang relatif sepi dari kendaraan berat, kian menambah gairah nge-gas drivernya. Apalah arti Sinar Jaya 52VX Air Suspension, teammatenya, Proteus 75S, Dewi Sri G 1415 CE, dua Dedy Jaya bersenjatakan Clurit bikinan Mpu Laksana, Bhineka bodi Celcius, Luragung Jaya berselendang Tri Jaya Union, Handoyo Setra New Armada, serta Damri Bogor-Bumiayu? Tak satupun yang menghalang-rintangi ayunan kaki OH 1521 ini.

10.25, tibalah di pelataran rumah makan terkenal di daerah Pamanukan dan selanjutnya bus diparkir bersebelahan dengan Pahala Kencana Marcopolo, K 1597 B. Inilah yang mencuri perhatianku. Faktanya, Ombak Biru divisi Kudus gerah juga dengan aroma persaingan sengit pemberangkatan pagi Pulogadung. Tak tanggung-tanggung, armada ter-update beremisi Euro 3 dikaryakan menggawangi trayek hingga pelosok Rembang-Lasem-Bangilan. Andai saja tadi aku dapat menangkap bus ini, pasti petang nanti tak perlu repot oper di Kota Kretek.

Kuikuti langkah Mas Kenek menuju ruang yang dikhususkan buat para kru. Tersaji hidangan yang serbaneka dan komplit, tanpa ada amar “Maaf, ambil satu potong!”, dengan bebas dipersilahkan mengambil sekehendak nafsu. Minumnya juga tinggal tunjuk, cukup bilang pramusaji sesuai selera. Sarkawi dimanjakan bak raja diraja. Penumpang non-ilegal kalah layanan segala-galanya.

Jikalau aku menilik satu sisi enaknya jabatan sarkawi, bolehlah aku berseloroh, “rumah makanmu adalah surgaku”. Hehehe…


Sumpah! Jadi Sarkawi Itu Bukan Mauku…(1)



Semestinya, aku menuruti kaidah berpikir yang sederhana menyikapi “episode hitam” kisahku kali ini. “Bungkam seribu bahasa, itu saja…,” demikian hasut logikaku. Bukan karena aku pelit berbagi cerita, namun ada semacam kegentaran psikis ketika nanti menghadapi ragam tanggapan di penghujung tulisan yang kutuai dari teman-teman serumpun; busmania.

Andai aku mau, lembar catatan ini lebih aman kulipat rapi lalu kusimpan dalam laci pribadi, terlarang kubeberkan kepada publik. Rahasia negara tak bakal bocor oleh pembobolan. Dan imbasnya, tingkah polah berikut rapor biru-ku sebagai duta anti sarkawi (setidaknya) bagi diri sendiri, citra serta reputasinya lestari terjaga.

Kegetiran nasib sebagai penumpang haram atau kaprahnya dijuluki sarkawi, sudah kapok kupungkasi bersama Tri Sumber Urip. “Ke depannya, aku tak lagi bermain api menjadi sarkawi…”, demikian tekadku kala itu.



Sayangnya, aku bukanlah orang yang pandai berlagak sok suci demi memendam cela. Aku lebih suka blak-blakan menceritakan lika-liku perjalanan, terlepas dampaknya akan mencoreng kapasitasku sebagai busmania. Biarlah, aku sedia dihimpit risikonya. Aku siap menerima sanksi sosial, cibiran sinis, nota protes ataupun tendensi negatif, dan tentu saja, berlapang dada untuk menanggung malu.

Segalanya ini aku niatkan agar kita-kita yang mengaku pencinta bus lebih membuka mata, bahwa di tengah hingar bingar bisnis gelinding ban, bersarang “lintah transportasi” yang terus menghisap darah induk semangnya, yakni operasional PO, sekaligus jadi “pupuk organik”, penyubur sesaat kesejahteraan kru.

Sarkawi, sang “makhluk gaib” yang fenomenal dan penuh kontroversi memang lambang keabadian. Seolah, keberadaannya tak mampu dimatikan oleh kebijakan setegas apapun.

Budaya mudik menjelang akhir pekan, perjalanan Pulogadung – Rembang dengan transit di Kudus yang belum lama kutunaikan adalah refleksi bahwa momok itu terus menebar perangkap sehingga begitu gampangnya insan lemah sekaliber aku berpaling sumpah, cidro ing janji untuk “Say No to Sarkawi”.


“Turun di dalam apa di luar terminal, Mas?” tanya tukang ojek yang mengantarku dari Semper menuju Pulogadung, saat corong knalpot motornya menderu di depan Pulogadung Trade Center (PTC).
“Di dalam saja, Pak!”

Sepengetahuanku, tak ada slot, baik tempat, kesempatan maupun waktu bagi bus Muria-an untuk ngetem di luar terminal. Yang punya “hak” ya bus Cirebon-an, Tegal-an dan Solo-an. Wajar saja, kuperintahkan si penjaja jasa hantaran itu untuk langsung “menusuk jantung” terminal AKAP paling uzur di “lapak”nya Fauzi Wibowo, agar aku lebih leluasa memilih bus.

Dipacunya kuda Nippon berspesies Suzuki Smash, larut dalam lalu lalang kendaraan yang menyemut di salah satu jalan arteri kawasan Jakarta Timur. Matahari telah menyembul sepenggalah dari ufuk timur. Dengan energi terik sebagai tajinya, mencoba menghalau gumpalan awan mendung yang bulan-bulan ini terus merecoki fase kemarau di langit Pulau Jawa.

Saat “taksi roda dua”ku menyerobot traffic light pertemuan exit terminal dan Jalan Raya Bekasi- Pulogadung, dari sisi kiri terlihat sosok yang tak asing lagi bagiku. Sebuah bus berbalur latar “deep purple” yang ngglondhang tengah tergesa-gesa melaju ke arah Cakung, sebab didorong-dorong oleh “lawan main”nya, bus berkode HM 17. Di balik kaca depannya nan bening, terlihat jelas tiga penggawanya, yakni driver beserta asistennya, dan satu lagi “Mbak Agen”, yang sedang sibuk mengkalkulasi pendapatan dari tiket.

Ah, buat apa aku buang-buang waktu ke dalam terminal? Mengapa tak naik bis itu saja? Toh, banyak kursi yang tak berpenghuni. Aku pun berdalih dan jadinya berubah pikiran.

“Pak…Pak…putar arah!” kutepuk bahu Pak Ojek.
“Ada apa, Mas?”
“Kejar bus itu, Pak!” instruksiku sambil jari telunjuk menuding target bidikan.

Setelah melakukan u-turn, dan dengan gesit selap-selip membelah keruwetan lalu lintas akibat banyak angkutan kota yang mangkal, naga-naganya, armada berplat X 1867 AX bisa tersusul, persis di depan pul PO Muncul, Pulogadung.

Aku pun mendarat di samping markas Garuda Mas untuk mengambil jeda, menunggu bus berbodi New Travego Adi Putro versi pertama itu mendekat. Segera kulambaikan tangan, dan direspon oleh pramudinya.

“Kudus kan, Mas?” basa-basiku.
“Ayo, Kudus…Jepara…” balas sang “pemilik bangku CB” sambil membuka gerbang depan.

Kutiti permadani berundak menuju singgasana Alldila. Kuedarkan pandangan sekeliling dan selanjutnya kususuri lorong menuju lokasi di baris ke-6 sebelah kiri. Duh, nyaris kosong melompong, cuma terisi 8 nyawa dari 34 seat yang tersedia. Apa gara-gara arus balik baru saja berlalu, bus-bus ke timur terpercik getahnya, sepi penumpang.

Saat badanku menekan punggung kursi, tiba-tiba aku tersadar, mana “Mbak Agen”? Kuamati lebih jeli ke segenap penjuru, tapi kok nihil. Nah lo…jangan-jangan, waktu di tengah kemacetan, “Si Mbak” turun, lantaran jobdesk-nya telah usai. Kukira dia akan mengawal bus hingga entry Cakung, seperti yang dilakukan ticketing girl busnya Bah Do waktu itu.

Astaghfirullah… benar-benar di luar skenarioku. Roman-romannya, aku kena jerat sarkawi. Pintu transaksi resmi dengan agen praktis tertutup, dan kini, klienku adalah kru. Ceruk kalbuku meradang, meski sejatinya ragaku juga ambigu harus berbuat apa. Mosok aku membalas budi baik Bapak Sopir dengan meminta aku diturunkan kembali demi seutas nilai kejujuran? Aku pengecut, belum punya kegagah-beranian untuk itu.

“Ah, mengapa aku menganulir keputusan untuk turun di dalam terminal? Ya Tuhan, mengapa Engkau jodohkan hamba-Mu dengan situasi yang serba sulit ini?” kesahku.

Mpfuh… nasi sudah menjadi bubur, telur sudah jadi martabak, apel sudah menjadi jus, apalagi yang perlu kusesali. Biarlah, sekarang aku jadi pendosa dan mau tak mau, kudu secara jantan, lahir-batin memikul potensi kesengsaraan jilid II sebagai seorang sarkawi.