Selasa, 03 Desember 2013

Denpasar Noon (1)

02.15 WITA


“Om ini orang aneh dan kurang kerjaan!” celetuk anak muda itu memotong tutur ceritaku. ”Jauh-jauh dari Jakarta, bukan urusan bisnis, bukan berwisata, malah cuma transit untuk pulang lagi ke Jawa,” gugatnya.

Hmm…logis saja dia mengajukan pertanyaan bernada memprotes. Barangkali, melihat aku bepergian dengan tangan kosong, hanya berbekal tas punggung tipis nyaris tanpa isi ‘peralatan tempur’, serta ditambah fakta, seturunnya dari pesawat bukannya berlekas mengarah tujuan yang dirujuk, justru malah tidur-tiduran di terminal kedatangan domestik, muncul konklusi yang demikian.


IMG_1946

Namun aku bersyukur mendapatkan teman ngobrol seasyik Bli Galih (panggilan anak muda itu). Berkat hospitality-nya, airport alone yang siap-siap kulakoni berujung batal. Sudah satu jam lebih dia merecoki kesepianku dalam kesendirian, ketika di luar skenario, flight Air Asia Airbus A320 kode QZ 7520 yang sedianya pagi hari di-reschedule jadi penerbangan tengah malam karena sedang ada gawe KTT APEC sehingga membuatku keleleran di bandara menunggu pagi.


IMG_1928


“Ayo, Om, saya antar ke Kuta. Tengah malam seperti ini meriah lo. Café-café ramai!” bujuknya setengah berpromosi akan daya magnet kawasan yang terkenal akan diorama sunset-nya itu.


Aku menggeleng pelan. “Maaf, Bli, saya tidak tertarik dengan dunia malam.”


“Apa mau cari oleh-oleh, Om? Masak ngga bawa sesuatu buat yang di rumah?” rayunya lagi, berharap aku meluluskan tawarannya.


“Memang jam segini ada yang jualan?” tanyaku.


Ngga jauh dari sini ada toko yang buka 24 jam, Om, Krisna namanya!”


Dengan bantuan motor Yamaha Mio kesayangannya, kami berdua melaju membelah dinginnya hawa dinihari.


“Ini tempatnya, Om,” ujar dia setibanya di parkiran sebuah pusat oleh-oleh di Jalan Tuban.


IMG_1953


“Saya tunggu di sini, silahkan belanja sepuasnya. Dan jangan khawatir, nanti saya antar lagi ke bandara!” dia mengingatkan.


Ketika memilah dan memilih ragam jenis buah tangan, ternyata aku baru paham, penganan dari Pulau Dewata kebanyakan berbahan kacang. Dan satu di antaranya punya sebutan unik, kacang disco. Menilik namanya, jenis jajanan ini telah mengalami detradisionalisasi, disesuaikan dengan modernitas zaman. Mana ada indeks kosakata ‘disco’ dalam bahasa daerah Bali?


Aku pun hanya membeli barang dengan kuantitas yang tak seberapa, yang penting keluarga di rumah bisa mencicipi kue-kue bikinan ‘Ida Ayu Komang’ ini.


Swalayan Krisna terbilang cukup besar dan megah. Dan konon, empunya hanyalah tamatan sekolah dasar. Tapi lazimnya cerita di negeri dongeng, kini dia sukses jadi enterprenuer kondang, raja kecil dalam kosmos perekonomian Pulau Bali.


Saat melewati teras gerai ini, melihat bangku-bangku panjang tanpa penghuni, pikiranku mendadak berubah. Aha!? Mengapa harus balik ke bandara, toh esok aku pasti kudu keluar dari sana juga kan? Mengapa tak tidur di sini saja, meniru beberapa pria pelayan toko yang rebahan di ruang tunggu? Lumayan, bisa merem barang dua atau tiga jam. Bodo amat andai ada yang mengolok-olok aku sebagai pelancong gembel, karena untuk keperluan bobok pun mesti numpang di emperan toko. Hehe…


IMG_1954


 “Bli, kamu langsung pulang saja ke rumah! Saya biar di sini saja. Terima kasih banyak atas kebaikannya!” kataku membuka pintu perpisahan dengan Bli Galih, seorang tenaga outsourcing di Bagian Cleaning Service Bandara Ngurah Rai, yang dari pribadinya telah memberi kesan sangat positif bagi visitor yang baru pertama kali menginjak tanah Bali. Aku merasa ‘diuwongke’, dimuliakan laksana bintang tamu, meski berstatus alien yang terdampar di galaksi bima sakti.


Aku terkagum-kagum dengan personal penduduk suku Bali. Keramahtamahannya, sifat supel, sense of brotherhood serta sikap egaliter mereka luar biasa.


07.15


Sang surya telah merangkaki segalah bentang langit Kota Denpasar. Binarnya mulai menjalar menghangati keteduhan pagi.


Sementara itu, suasana sekitar bandara tak seperti biasanya. Ada gelaran sterilisasi jalur ke arah Ngurah Rai International Air Port, dengan disiagakannya begitu banyak aparat keamanan. Ratusan anak sekolah didaulat sebagai pagar ayu untuk memberi penghormatan melepas kepulangan tamu-tamu VVIP kembali ke negara masing-masing. Sementara sirine voojrider meraung-raung ke awang-awang, bak bunyi lonceng isyarat bahwa situasi keamanan tengah dalam bahaya perang.


IMG_1964


 IMG_1967


Di tengah kesibukan mereka, langkah kakiku tersaruk, menyusuri trotoar Jalan Bypass Ngurah Rai, demi mencari keberadaan shelter bus kota.


IMG_1972


Perjuangan  sejauh 2 kilometer selama 20 menit untuk menemukan spot naik-turun penumpang  itu tak dibarengi dengan availabilty (ketersediaan) armada yang memadai. Setengah jam sudah aku termangu, sebelum bus tanggung ber-letter DK 9266 xx datang menghampiri. Duhdek, susahnya mencari alat transportasi pelat kuning di sini!


Inilah sebagian dari rencanaku. Mengisi slottime antara jam 07.00 s.d 12.00 dengan ber-happyhours mengecap bus kota yang belum lama ini diluncurkan oleh Pemerintah Provinsi Bali, dengan cap Sarbagita.


IMG_1975


 “Batu Bulan ya, Mbak!” request-ku saat pramugari moda yang berkoridor Kota - GWK itu memungut ongkos tarif perjalanan setara Rp3.500,00, sesuai petunjuk Bli Dewa Anom yang sebelumnya aku mintakan pedomannya soal rute-rute bus Sarbagita.


IMG_1973


“Maaf, Bapak, tujuan bus ini bukan ke sana.  Nanti bisa turun Halte Pesanggaran, oper bus Sarbagita yang ke Batu  Bulan,” urainya gamblang.


Kerepotan kedua menghadang. Sarbagita -- akronim dari Denpasar-Badung-Gianyar-Tabanan --, jurusan Nusa Dua - Batu Bulan PP benar-benar sukses memubazirkan waktu, saat kutunggu-tunggu di Pesanggaran.


IMG_1977


IMG_1978Bus berpostur Nucleus 3 dengan nomor identitas 02 ini seakan menjadi potret kurang welcome-nya pencanangan penggunaan angkutan umum terhadap animo masyarakat. Meski dilengkapi fasilitas pendingin udara, hiburan full audio, usia kendaraan yang  relatif baru, tidak ngetem di sembarang tempat,  kru yang berpenampilan rapi, nyatanya kurang menarik minat dan terkesan tidak laku jual. Tercatat hanya lima sewa yang bisa maksimal didapat, padahal rute dari Nusa Dua ke Batu Bulan membujur sepanjang 30 km.


“Bus ini kalau dikelola swasta, bukan pemerintah, pasti sudah gulung tikar, Mas!” simpul warga Bali yang aku ajak berbincang tentang prospek mass transportation di sini.


Tidak seperti busway di ibukota yang terintegrasi di tiap koridor dengan sistem tiket terusan, serta pembelian melalui loket-loket yang ada di tiap halte, sebaliknya Sarbagita menerapkan karcis lepas. Tiap kali berpindah antar armada Sarbagita, terdapat kondektur on board yang menarik karcis dari tangan per penumpang.


Berturut-turut disinggahinya halte-halte Serangan, Danau Poso Sanur, Sindhu Sanur, Matahari Terbit, Padanggalak, Prof. IB. Mantra, Tohpati dan terakhir Terminal Batu Bulan.


Meski moncer sebagai destinasi wisata kelas internasional, yang berimplikasi serbuan life style dan peradaban yang dibawa para traveller dari berbagai belahan dunia, namun tidak serta merta membuat masyarakat Bali menanggalkan jati diri, identitas budaya dan adat istiadat leluhurnya. Konsep tata kota dengan memberi sentuhan etnik warisan luhur nenek moyang terlihat apik. Arca-arca bercorak ke-Hindu-an berikut pura peribadatan mematung  hampir di setiap sudut kota.


IMG_2000


 IMG_2001


45 menit kemudian, sampailah Sarbagita beregistrasi DK 9194 JE di Terminal Batu Bulan.


IMG_1983


Sebuah landscape stanplat yang jauh dari sangkaanku semula, dan semakin menegaskan bahwa angkutan umum berikut fasilitas penunjangnya bak anak tiri di tengah gemerlap bisnis pariwisata Pulau Bali.


IMG_1985


Terminal yang dikelola oleh Pemkab Gianyar ini pemandangannya kotor, kurang terawat, sepi penumpang serta minus soal estetika dan keindahan bangunan sebuah maha karya manusia.


IMG_1986


Bahkan, di sinilah aku dapat menyaksikan puing-puing kebesaran PO Simpatik yang tinggal menyisakan bus ukuran 7/8 dengan layanan rute Padang Bai- Batu Bulan.


IMG_1996


Warung Makan Wong Malang di depan Pasar Pudak, di seberang Terminal Batu Bulan, cukup menggugah nafsu sarapan pagi karena aku minim referensi akan menu masakan Bali yang cocok berdamai dengan lidah orang Jawa.


Aku pun rehat sejenak, mengisi amunisi sebagai bahan penggerak organ tubuh, sebelum meneruskan trip selanjutnya, menggapai Terminal Ubung.


 

 

Rabu, 02 Oktober 2013

Tentang Hijau; Layu, Menguning, Royo-Royo Kemudian (3)


Tersaruk Usia


20.26


“Yang makan…yang makan…!” instruksi kenek saat laju bus ajrut-ajrutan menapaki halaman sebuah rumah makan.


Aku pun tersadar dan membelalakkan mata. Layout bangunan gampang terbaca oleh sensor penglihatan.


Dan baru kali inilah, aku merasakan kompleks rumah makan yang terletak di km. 50 ruas Semarang - Cirebon ini laksana ‘kota mati’. Pelataran depan kosong melompong, sementara parkiran belakang hanya berisi Pahala Kencana B 7789 ZX dan kameradnya, berbaju New Travego garapan Tri Jaya Union. Duo GMS, ‘Commando’ dan ‘Fighter’, sedikit menambal kesunyian dan kelengangan area Gringsing, yang diakibatkan ulah sistemik pengelola jalan Pantura.


Kemanakah Lorena, Sindoro Satria Mas, OBL, Gajah Mungkur, Muncul, Tunggal Daya, Mulyo Indah, Rajawali dkk, yang biasanya riuh memeriahkan suasana RM Sendang Wungu?


Justru yang menambah hawa merinding adalah teronggoknya sesosok Jetbus HD OH 1626 milik Pahala Kencana dengan wajah yang tak keruan di sudut belakang, tak jauh dari Safari Ijo melego jangkar. Dari warta yang kukorek lewat media massa, bus nahas bernopol B 7827 IZ tersebut sebelumnya terlibat kecelakaan dengan truk di jalur Alas Roban, hingga menewaskan dua kru angkutan barang tersebut.


Karena alasan lambung masih terisi sisa makan sore dan buat mendapatkan layanan gala dinner tidaklah gratis atau bayar sendiri, aku pun menafikan prosesi makan malam.


20 menit kemudian, penumpang dikomando untuk segera kembali menduduki tempat masing-masing. Cekat-ceket, itulah kesan yang aku tangkap.


Televisi jadoel model tabung dinyalakan, mempertontonkan konser seorang dara bergoyang erotis memeragakan tari tiang. Sementara hingar bingar iringan house music tak mampu terdeteksi telinga dengan baik, karena kualitas speaker yang tertanam di kabin ala kadarnya. Suguhan yang tidak membawa manfaat tentunya, baik dari aspek kesusilaan maupun entertain.


Mendaki tanjakan Plelen dengan tertatih-tatih, efek alami dari daya mesin yang pas-pasan dan mulai menapaki tahap uzur. Aku pun dibikin deg-degan, cemas membayangkan bus akan kandas menyelesaikan trek paling berat yang kudu dilalui. Seketika itu pula, Pahala Kencana Evonext menistakannya.


Banyu Putih jadi batu sandungan kembali. Giliran GMS ‘Zonda’ gubahan Satrio Body Builder, Magelang, yang mempermalukannya.


Tapi harus kuakui, bukan masalah skill, determinasi dan nyali pramudi engkel ini yang jadi penyebab. Justru acungan jempol layak disematkan atas karakter telapak kakinya kala membesut oto kesayangan. Umpama default engine OH Prima sudah di-swapping ke Mercy Elektrik, aku yakin, dia kuasa menyesakki hidung bus lain dengan polutan hasil pembakaran dapur pacunya.


Tampil ngotot, tanpa mengendurkan tensi, tak peduli berapapun solar yang diasup, cuek dengan komponen-komponen usia lanjut yang merakit armadanya, konvoi Putra Remaja, Zentrum dan Sedya Mulya mulai didekati. Tak kenal lelah membangkitkan puing-puing gairahnya, meski akhirnya, tanpa dinyana, Garuda Mas Evolution non AC tanpa basa-basi menyalipnya dari samping kiri.


Keempatnya akur, seiring sejalan, senada seirama, nyaris tak pernah tercerai berai, ibarat rangkaian kereta. Putra Remaja sebagai lokonya, sementara yang lain jadi gerbongnya. Quartet tersebut menjadi saksi terjadinya stagnasi aliran pada arus kendaraan yang menyudut ke penjuru timur, di daerah Tulis. Kira-kira hampir mencapai 5 km panjang grek-nya.


Menjelang gerbang selamat datang Kota Batang, meluncur dengan derasnya GMS Scorpion King ‘Commando’ OH 1525. Disusul kemudian Nusantara ‘Manhattan’ New Marcopolo dan Pahala Kencana ‘Nano-Nano’ rombakan Triun.


Sein kiri dinyalakan persis di depan alun-alun. Kru serentak turun dan memeriksa kondisi keenam bannya.


“Jakarta…Jakarta…” teriak kenek kencang, hingga terdengar di telingaku.


Ahaa!!! Rupanya time out ini modus untuk menyeser penumpang ilegal. Lima menit tak ada hasil,  bus berbasis karoseri Laksana, Ungaran, ini meneruskan kilometernya.


Duo laskar Purbosemi, Garuda Mas ‘Lanange Jagat’ serta Zentrum K 1717 GP giliran mempecundanginya. Busku makin tersaruk-saruk menghadapi rivalitas dengan ‘the young guns’. Hiks…


Kerumunan orang-orang yang berdiri di pinggir perempatan Ponolawen jadi iming-iming buat mendongkrak income. Bus bernama lengkap Safari Eka Kapti ini berhenti lagi.


“Jakarta…Jakarta!!!”


Nihil…


“Jakarta…Jakarta…Gadung…Bulus…” reffrain itu kembali menggema, saat putaran roda dikunci parking brake di depan Gudang Pusri, Kota Pekalongan.


Belasan ABS alias Anak Buah Sarkawi bergeming, sama sekali tak tergiur untuk memfaedahkan dagangannya.  Awak kabin pun gigit jari.


Hmm…ada rasa iba yang mengusik palung hati. Tapi mengingat hanya ada space di kandang macan buat menjejalkan tambahan penumpang, aku bersyukur menyikapinya.


Habitat sarkawi era kekinian semakin jual mahal, tambah belagu, sok borjou. Nyari ‘bus haram’ pun pilih-pilih, selektif. Heheno offense lo ya.


Atau mereka tahu reputasi PO Safari, sehingga untuk menyuntingnya pun ogah?


Kembali Menghijau


“Ambil kanan…ambil kanan!” pandu kenek setengah lantang, membangunkanku dari tidur sesaat.


00.15


Distrik Cimohong digelar untuk ajang pembuktian fase keroyo-royoan Si Ijo. Meski lebih banyak menelan kekalahan, jadi bulan-bulanan, terdampar di dasar klasemen sementara, kini saatnya melakukan langkah brilian untuk mengerek posisi.


Mendapat kabar tengah terjadi keruwetan akut di pertigaan Pejagan, serta mengandalkan intuisi bahwa spot tersebut steril dari pengawasan korps baju coklat, dikangkanginya jalur berlawanan. Dia melakukannya sendirian, munfarid, tanpa imam, apalagi makmum.


Tak usah dipersoalkan urusan pelanggaran aturan dan undang-undang, pencederaan etika serta keselamatan berlalu-lintas. Selama para pemegang kekuasaan lebih tekun memikirkan kepentingan masing-masing, tak becus dalam memimpin 250 juta rakyatnya, lebih suka memamerkan politik culas lagi kotor, berlaku koruptif dan manipulatif, jauh dari sosok yang patut diteladani, jangan berharap banyak akan tegaknya hukum pidana di tengah masyarakat.


Sudahlah…capai memperdebatkan hal yang demikian.


Belasan bus malam yang didominasi line Tegal/ Pekalongan dan sebagian entitas ranah Wonogiren, ratusan truk-truk ekspedisi serta puluhan mobil pribadi dibuat terkesima dengan aksi gagah beraninya.


Tak perlu terkurung dalam kemacetan, bus bertenaga 170 HP ini  pun gesit melepaskan diri, sukses dengan kenekatannya sehingga berhasil menggunting deretan panjang kendaraan untuk menggapai cita-citanya selekas mungkin mencapai akses masuk Tol Kanci.


Tettt…tett…tett…


Aku melonjak bangun, terkaget-kaget saat Agra Mas yang mengusung model New Travego Morodadi Prima menyalip secara kasar.


Jatiwangi. Itulah yang terbaca pada papan nama sebuah minimarket asuhan PT HM Sampoerna. Berarti rute yang diambil adalah jalur tengah, melipir dari Pantura Jawa Barat, yang disinyalir makin getol diberdayagunakan pemerintah sebagai lumbung proyek abadi.


Di tengah kegelapan alam yang dikelilingi bukit barisan Subang, Asli Prima Pekalongan-Merak yang berkolaborasi dengan PO letter K, Selamet, berjamaah menenggelamkan pelayaran Safari. Namun, kelihaian bus keluaran dekade 80-an meng-overtake Damri kode 3352 pantas dicatatkan sebagai prestasi spesial.


Dug…dug…dug…dug…


Bunyi dentuman antara ban dengan kunci roda yang dipukulkan kenek ke sidewall seolah isyarat bahwa bus tengah kelelahan dan perlu break barang sejenak. Bisa jadi, tenaga bus yang digeber habis-habisan, hampir tanpa jeda istirahat, butuh perhatian ekstra pula.


Tapi sejauh tripmeter menunjuk angka 400-an km ini, performa mesin bervolume 6.000 cc memang handal luar bisa, meski harus menguras energi untuk mentransfer output hasil jerih payahnya. 85% untuk mengembangkan kecepatan, selebihnya untuk menggerakkan kompressor perangkat pendingin dan kelistrikkan.


Kesempatan ini digunakan kaum lelaki untuk membasahi bumi Cikamurang dengan air sisa metabolisme yang sudah tak terbendung lagi oleh organ kandung kemih.


05.15


Kukucek-kucek mata, lamur menyaksikan sosok dua armada Blue Pearl yang bermarkas di Karanganyar, Kudus, tengah asyik berdansa. Applause untuk mereka, meski sebenarnya sudah bukan hal yang aneh bin ajaib memandang fenomena skuad gugus Muria dengan entengnya menyusul jam Solo-an.


Sementara itu, jiwa korsa mesti ditinggikan armada Sari Giri AD 1660 AG tatkala berempati dengan penderitaan kompatriotnya bernopol B 7178 PN, yang tengah berkutat dengan trouble, di pinggir perkebunan karet Kalijati.


Usaha mempercepat derap kinerja OM 366A terhadang oleh lagak kemayu Purwo Widodo ‘Kian Santang’, AD 1490 AG. Perlu taktik dan strategi cermat saat menyalip, mengingat ruas jalan yang sempit dan kian ramai oleh lalu-lalang aktivitas pekerja pabrik garmen yang hendak masuk kerja.


Karena nyaris tak ada kans untuk mencuri momen, cara bar-bar terpaksa diperankan. Dump truck dikorbankan untuk turun ke bahu jalan, sementara bus berdaya dorong Volvo seri B7R itu dipepet sangat tipis, demi membangun ruang terbuka untuk menyusulnya.


Dengan modus operandi yang identik, Dieng Indah Scorpin King AA 1439 CF serta bus karyawan Parahyangan BHA-188 dibuat senasib. Mereka dilengserkan dengan metode ngawur, hingga umpatan dan caci maki terlontar dari mulut pengguna jalan yang lain.


Percobaan yang sama hendak dilakukan pada armada Sinar Jaya 43 ZX. Hanya saja gagal menuai poin agresivitas lantaran perempatan Sadang telah menghalang di depan.


“Lebak Bulus…Pulogadung…Palmerah…Mampang…PAL Depok…Cibinong…”


Sayup-sayup, suara-suara itu kembali menggenangi ingatanku. Tak ingin meniru ‘kedunguan’ keledai -- terperosok dua kali pada liang yang sama --, daripada bahaya laten ‘Rukun Agawe Bubrah’ berpotensi de javu, aku lantas mengambil keputusan cepat.


06.20


“Saya turun sini, Pak!” pintaku pada kenek yang sedang terkantuk-kantuk di bangku kebesarannya.


Finally…


Aku pun duduk terpekur di atas bibir trotoar, di seberang Mal STS (Sadang Terminal Square), menunggu hadirnya angkutan direct line ke Tanjung Priok. Compact disc tentang rekam jejak Safari yang baru saja aku ajak pisahan, berputar ulang di alam sadarku.



IMG00940-20130624-0630


Tentu, me-review hasil pamungkas, realitas sangat njomplang dengan ekspektasi. Aku tetap lestari menjaga status quo, sebagai karyawan yang rajin terlambat absen di Senin pagi.


Namun, sepak terjang serta kiprah Si Ijo gaek setidaknya telah membungkam anggapan - anggapanku.


Yang layu tidak seterusnya layu. Yang menguning tak akan abadi bergrafis kuning. Asal ada kemauan dan kesadaran untuk mengubahnya, dia kelak bertransformasi menjadi royo-royo.


Umur niscaya susut, namun semangat tak serta merta surut. Usia boleh bertambah, tapi daya gedor tak boleh goyah. Meski berkalang nilai-nilai minus, tak mengerdilkan sekeping kesalutanku pada Safari Ijo, H 1480 AB.


IMG00939-20130624-0621


*******


Kubaca berita di portal detik.com sebagai ‘koran pagi’ yang setia mendampingi saat menanti  Warga Baru atau Kramat Djati jurusan Subang-Tanjung Priok yang tak kunjung tiba.


“Akibat Longsor di Km 47, Kemacetan Telah Mencapai Km 58.”


Ya ampun…rupanya, perjuanganku untuk mencapai ladang pencaharian terus saja berlanjut. To be continued


Kini, aku harus berjibaku menyeberangi lautan kemacetan sepanjang 11.000 meter, dengan fisik yang tak lagi seratus persen bugar dan mulai dibekap buslag yang mulai menyiksa raga.


Ah…telat maningmaning-maning telat!


Mpufh…Ongkos hidup apa lagi yang mesti diirit sebagai punishment atas terpangkasnya uang transport-ku bulan Juni ini?


Bingung…bingung…kumemikirnya!


 

Tentang Hijau; Layu, Menguning, Royo-Royo Kemudian (2)

Off Target


“Sepengetahuanku, Safari Group terdiri dari tiga manajemen yang berbeda. Blue Star untuk divisi wisata, Royal Safari yang membawahi bumel/ AC Lux Semarang-Solo serta Safari AKAP, yang lumrah dijuluki Safari Hijau (Ijo).”


Begitulah sekelumit ilmu tentang per-Safari-an yang dijelenterehkan Mas Doni Prast lewat Blackberry Messenger untuk membantuku menyingkap tabir PO besar yang babar di Kota Salatiga itu.


“Sayang, untuk bus malamnya sama sekali tidak rekomen. Saya yang sekampung aja kapok, emoh naik lagi, Mas. Cukup sekali saja dan itu pun sudah lima tahun silam!”


What!? Now, am  I on the right time but on the wrong bus?


“Oh iya, Mas. Royal Safari belum lama ini juga merintis Jakarta-an. Pelayanannya lumayan bagus. Berdoa saja, semoga dapat yang Royal Safari, bukan Safari Ijo!” petuahnya sedikit menenteramkan.”Untuk membedakannya gampang, simak saja livery-nya.” paparnya lagi.


Meski probabilitas Royal versus Hijau pada rasio 50%-50%, tak kuasa nyali merambat gentar membayangkan umpama Si Ijo adalah persembahan dewi fortuna untukku. Aku memburu pagi, bertekad mengolok-olok mesin absensi, mencoba merubah image negatif sebagai karyawan telatan, tapi jikalau ‘kuda perang’ku saja kelabu, jadi samsak pem-bully-an, punya elektabilitas rendah, dipandang sebelah mata, apa yang aku harapkan darinya?


18.20


“Ayo, penumpang Safari bersiap! Bus sudah datang!” seru Mbak Agen.


Kurang dari 10 menit dari waktu kick off yang semestinya, di antara guyuran pendar sinar lampu yang menerangi kawasan Terminal Banyumanik, munculah sosok yang akan menentukan nasib pertaruhanku.


And then…


Duh…getir rasanya seusai menyaksikan spesies dengan model bodi gado-gado, hasil transplantasi tambal sulam, datang menghampiri. Entah garapan tangan-tangan siapa, yang terang secara kasat mata kurang memenuhi nilai estetika, kegagahan dan eleganitas sebuah bus malam. Dimensi bangunan karoseri kurang proporsional dengan panjang sasis. Terkesan bantet. Dan yang menambah sayatan luka perasaan ini, kelir yang mejeng di dinding lambung,  colormark khas Safari Ijo.


Alamak


Aku bakal merajut kisah satu malam dengan bus yang diblacklist oleh pemangku area Tingkir sekaligus ‘tetangga lima langkah’ dari markas besarnya, Mas Doni Prast.


Sebenarnya, apa sih yang membuat Safari Ijo termarginalkan dari daftar referensi dan list rujukan para traveller jalur Solo-an ini? Aku pun kian penasaran untuk membuktikannya dengan indera tubuh sendiri.


Bismillah…aku kudu jadi pejantan tangguh, tak boleh cengeng, bersikap inferior, terlepas sepahit apapun alur cerita yang akan terangkai selama belasan jam ke muka.


Selesai mendaki undakan pintu depan, asaku seketika layu melirik ruang kokpit yang lusuh, kusam, buluk dan tak ada nuansa rapi sedikitpun. Melihat setir segede tampah, dengan panel-panel dashboard yang buram, dan beberapa utas kabel yang menjuntai keluar dari casing-nya, kian menegaskan kerentaan dan ke-jablai-an armada ini.


“Eh, Pir, mana tanggung jawabmu? Kursiku ditempatin orang, double, dan sekarang seenaknya saja kenekmu nyuruh-nyuruh pindah belakang!” tiba-tiba terdengar dampratan keras dari seorang bapak-bapak  yang ditujukan kepada kru.


Lha, adanya yang kosong itu, Pak, ditempatin aja!” jawab sopir dengan ketus tanpa terbebani sangsi moral dari rasa berdosa.


Mbok kalau ngomong dipikir dulu! Aku ini beli tiketnya beneran, jangan seenaknya kamu memperlakukan penumpang!” sergah lelaki itu semakin naik pitam.


“Mestinya Bapak itu protes ke agen, jangan ke saya!” respon si pengemudi tak kalah sengit.


“Bodoh amat dengan kamu semua! Kembalikan uangku atau kamu aku laporin ke polisi!” bentaknya tak kalah gertak.


Mati aku! Kesan pertama yang kutangkup, betapa amburadulnya pengaturan bangku, manajemen konflik di lapangan, serta attitude para penggawa PO Safari kepada manusia-manusia yang sejatinya menafkahi hidup dan keluarganya.


Lantas mereka berdua turun untuk menyelesaikan masalah, sementara aku terus menelusuri lorong remang-remang dan sumpek, menyongsong singgasana. Kucacah label penomoran yang tertempel asal-asalan pada rack roof.


Alah!


Kok posisi seat 41-42 tertanam di rel sebelah kanan, tak cocok dengan denah konfigurasi yang ditunjukkan agen!? Dan keterkejutanku kian bertambah, sudah ada orang yang ngejogrok di atasnya.


“Maaf, kursi Bapak nomor berapa?”


Dia yang kutanya malah celingak-celinguk, salah tingkah, lalu berucap lirih…


“Mboten mangertos, Mas, lha kulo nderek sopire…”


(Tidak tahu, Mas, saya ikut sopir)


Blaik, sarkawi detected!


 “Sudah, Mas, duduk saja di belakang, kalau ngga mau ya urus sendiri saja ke agen.” ultimatum Pak Kenek yang kebetulan lagi mengecek jumlah penumpang, kepadaku.


Hmm…rupanya aku jadi korban yang kesekian dari kekisruhan pembagian nomor urut kursi.


Yo wis…mending mengalah, toh, duduk di row paling buncit di belakang pintu malah menghamparkan area pitch yang amat luas dan bisa sekehendak kaki untuk selonjoran.


“Mbok yo sampun Mas, angsal kursi pun piro-piro, sing penting saged mangkat!” mendadak lembut terdengar suara ibu-ibu yang bersumber dari kandang macan, membantu meluruhkan kekecewaanku.


(Ya sudah, Mas, dapat kursi saja sudah untung, yang penting bisa berangkat!)


Ya ampun…bench buat driver pengganti itu diisi dua wanita paruh baya!? Bagaimana repotnya ibu-ibu itu saat menaiki ‘takhta daruratnya’, sementara baris paling belakang dijejali 6 kursi tanpa menyisakan ‘jalan setapak’!?


Demikianlah perkara-perkara yang memupus spektrum warna hijau kebanggaan PO Safari, menjadikannya berangsur menguning, mengartikulasikan makna bahwa PO Safari kurang pupuk, kering air, pucat merana dan terancam gagal panen untuk tumbuh di lahan persawahan bus-bus tanah Mangkunegaran.


18.35                                


Tak ingin berlama-lama delay akibat berantakannya distribusi seat, kusir Safari pun mulai mengekang tali kendalinya. Simponi yang dihasilkan exhaust manifold benar-benar gahar dan menggelegar menyelinap ke dalam ruang kabin lantaran silincer knalpot mengalami kebocoran. Lengkingan kipas turbo mencekik kuping seiring bertambahnya pancalan pedal akselerasi.


Gendeng ways langsung dipanggungkan kala menganeksasi jalur berlawanan, tergesa-gesa menyerobot traffic light pertigaan Sukun saat menyemburatkan cahaya merah. Kendaraan lain dipaksa minggir, disuruh memberi hormat kepada ‘orang tua’.


PO Sedya Mulya dengan nafas mudanya diajak berpacu sebelum gerbang Tembalang, dan terus diladeni hingga interchange Jatingaleh. Umur tak bisa berbohong. Mercy OH 1113 ini pun akhirnya kembang-kempis, kewalahan diajak lari jet darat berteknologi Hino RG.


“Turun mana, Pak/ Bu/ Mas/ Mbak?” tanya asisten sopir menyensus destinasi akhir tiap sewa, saat batangannya melaju menuntaskan bentang seksi A Jalan Tol Semarang.


“Lebak Bulus…”


“Pulogadung…”


“Mampang…”


“Palmerah…”


“Cibinong bisa!?”


“PAL Depok ya!”


Ha!? Ini mah oplosan, campur aduk, serupa dengan sapu jagat, ingkar dari keterangan agen yang menyatakan bus ini khusus melayani jurusan Pulogadung-Rawamangun. Mana nanti yang akan didroping duluan, hanya kru dan Tuhan yang tahu.


Selepas simpang Krapyak,  Si Ijo mulai unjuk taring. Dewi Sri G 1730 BE disungkurkan, meski sesudahnya harus menghibahkan jalan pada Tunggal Daya berbalut busana Legacy SR-1.


Lambaian petugas Terminal Mangkang untuk menyetor upeti di loket tak digubris, main selonong saja di hadapan mereka untuk merangsek ke lingkar Kaliwungu. Di bawah panduan Garuda Mas bergaun Celcius, ruas protokol Kota Kendal disusuri.


Proyek perbaikan petak Cepiring jadi wahana pertama melatih kesabaran juru mudi. Antrian lalu lintas mulai mengular, dan rasa-rasanya akan memanjang saat arus ke barat mencapai peak-nya menjelang tengah malam.


Langsung Jaya bertagline Anugrah jadi teman seiring sejalan merayapi kemacetan yang dipicu oleh pengecoran badan jalan yang tanggung jawabnya dipegang oleh Kementerian PU Pusat itu.


Meski armada terkesan serba defisit, ada variabel yang layak diapresiasi. Bus tanpa kelengkapan selimut dan toilet ini tak pelit dalam menciptakan kondisi lingkungan yang cozy bagi penduduknya. Kondisi full seat serta hangatnya ruang kabin bagian belakang yang terkena efek radiasi yang ditimbulkan panas mesin dilawan dengan hembusan angin AC yang amat meluap-luap. Fungsi gas freon sebagai refrigerant cukup memukai menjaga sejuknya sirkulasi udara. Bahkan menerutku cenderung mubazir, membuat sebagian penumpang perlu mengenakan pakaian lapis kedua alias jaket untuk mengeliminir suhu dingin.


Pemanjaan itulah yang membuatku terkulai dalam peraduan, meski agenda makan malam sebentar lagi bakal diselenggarakan.


Kantuk menyerang tak kenal waktu, tempat dan keadaan. 

Tentang Hijau; Layu, Menguning, Royo-Royo Kemudian (1)

Tak Segampang Yang Dikira


16.10


“Habis, Mas!”


Epilog ringkas yang menyuratkan kata maaf itu jelas-jelas menohok upaya taking profit. Dua penjaja jasa PO Agra Mas tak punya daulat untuk mengaspirasi aksi spekulasiku, yang berprakarsa tergabung dalam kloter awal bus malam yang mengarah ke ibukota.


“Lagi liburan sekolah, Mas, susah kalau beli dadakan begini!” tandas mereka mencari dalih.


Bukannya aku tidak well informed soal almanak pendidikan, tapi rasa optimis yang berlebihan bahwa ‘masak cuma mengais secarik tiket kagak bisa dapat’ akhirnya jadi bumerang yang mencelakai diri. Bayang-bayang esok pagi bakal semringah saat melakukan absensi kedatangan di lobi kantor kian lamat-lamat. Rapor kedisiplinan yang selama dua atau tiga bulan terakhir selalu berwarna merah, dipastikan tak jua beringsut ke level biru. Entah berapa nominal rupiah yang telah terbuang percuma lantaran tunjangan transport terkena getahnya. Belum lagi trust dari atasan terhadap kondite kerja sebagai anak buah, bisa-bisa terjun bebas.


Akhir-akhir ini, langganan sekaligus andalanku -- serdadu-serdadu tempur Ngembal Kulon --  terkapar tak berdaya hingga akhirnya bertekuk lutut ditebas bilah pedang musuh yang berjuluk jalan Pantura. Berkhianat kepercayaan kepada PO tetangganya, Black Bus Community, pun setali tiga uang. Mencoba dengan usaha tangan dan kaki sendiri menggenjot tunggangan pelat hitam untuk menyungkurkan keramatnya warisan Gubjen Daendels, hasilnya sami mawon.


Medan Pantura bak mengadegankan aktor antagonis. Momok jahat, angkuh dan congkak, yang lagi merajuk men-takabur-kan peran vital yang diembannya. Ia seolah ngamuk, enggan lagi bersikap sebagai tuan rumah yang baik dan ramah terhadap para tetamunya. Dan tak seorang pun bisa menjawab secara eksak, termasuk para pemangku kebijakan republik tercinta, kapan silang-sengkarut tingkat nasional ini bakalan end.      


Hanya keteguhan hati ini yang masih bisa di-stabilo. Aku bergeming, tak beranjak untuk menggadaikan sel plasma yang bernama buslover yang berdenyut kencang di dalam pembuluh nadi. Sejauh ini, ‘akidah’ nyeleneh ini masih murni terjaga, tidak terbujuk untuk mempermak diri menjadi bismania penyembah kereta atau penghamba pesawat udara.


“Armada Jaya Perkasa yang siap berangkat ada, Mas?” tanyaku pada penjaga kios di pojok terminal, setelah moda berdarah Serang itu terpindai radar tergolong angkatan gasik.


“Kemarin ‘Armada’ datang jam 12 malam, Mas. Saya tidak yakin, sore ini bisa tepat waktu.” ujar dia pesimistis. ”Pantura sedang macet-macetnya, Mas, beberapa hari ini bus-bus dari Jakarta selalu telat masuk Solo!” imbuhnya informatif.


“Ini penumpang Gunung Harta dan Shantika kemungkinan baru bisa berangkat jam 11 nanti. Kramat Djati jurusan Bogor juga begitu, perkiraan jam 9 baru sampai sini, molor, tidak seperti biasanya!” ungkap ‘agen universal’ ini welo-welo.


Nah, lo…


“Masih tersedia tiket Putera Mulya, Gunung Mulia atau Tunggal Daya, Mas?” dengan roman ke-tidakputus-asaan, aku terus bergerilya mencungkil sisa-sisa kursi dari lapak satu ke lapak lainnya.


“Info dari kantor, sampai tengah hari tadi jarang sekali armada yang sudah kembali ke pul Wonogiri, Mas! Kita belum berani jual tiket!” ungkap satu di antaranya.


Ruarrr biasa memang polah North Beach Country Road kali ini. Tingkahnya sukses mengkreasi kegonjang-ganjingan dunia bus malam; mengacau-balaukan time departure/ arrival, membuyarkan hitungan-hitungan waktu tempuh, mem-black out modernnya sistem dan tata kelola PO-PO yang menghamparkan pendaringan di bawah ketiak Pantura, serta memperangkap para calon penumpang dalam ketidakmenentuan tentang eksekusi rundown acara yang telah mereka rumuskan sebelumnya.


“Asli Prima yang lagi parkir di depan itu gimana, Mas?” selidikku seraya menggaruk-garuk kepala, setelah menatap moda A 7553 KC dengan kode bodi E26 line Semarang-Merak yang tengah nyantai menyendiri di emplasemen.


IMG00937-20130623-1649


“Sudah penuh juga, Mas!” balasnya.


Tobat


“Mbak, yang duluan berangkat dan tiketnya masih ada, bus apa ya?” tanyaku memelas pada perempuan muda pengampu gerai yang berlokasi di dekat pintu masuk Pasar Banyumanik. Dialah agen yang terakhir kali aku sambati.


“Ada Safari, Mas!” bebernya. “Berangkat setengah tujuh.”


Wew…aku semestinya girang bukan kepalang mendengar kabar gembira yang demikian. Namun, seketika itu pula tercipta kericuhan di alam pikiran disodori opsi standar ganda alias ambigu. Di satu sisi, angkutan umum itu bisa didapuk sebagai dewa penolong, sementara di sisi yang lain, lubuk nurani meronta, belum siap mental dan psikis andai diperjalankan oleh bus berklasifikasi ‘unidentified object’ lantaran keawamanku tentang perangai dan tabiatnya.


“Benar jam segitu, Mbak? Saya dapat berita, bus-bus Solo pada terlambat sore ini,” timpalku untuk mengorek lagi kevalidan tawarannya.


“Betul kok, Mas. Yang lain berangkat dari Solo atau Wonogiri, ini langsung dari garasi Salatiga!”  ungkapnya pasti. “Misalkan tidak ada armada, biasanya pakai cadangan bus Solo-Semarang yang standby.”


Tanpa pikir panjang, jelimet dan bertele-tele, segera kupesan bangku nomor 41 dari empat bangku yang masih unsold, yang menurut sketsa kelas Patas VIP, nangkring di depan pintu belakang mepet window.


Sementara itu, kabut misteri tentang track record Safari selaku ‘pemain malam’ terus saja menggelapi labirin otakku. Boleh dibilang, nol kecil nilai pengetahuan dan brand awareness terhadapnya. Justru yang sedikit kuakrabi adalah sosok AC Luxury-nya yang kini menghegemoni tampuk Semarang-Solo dan menjadikan PO-PO lain ibarat semut kecil di hadapannya. Kira-kira, bagaimana bentuk dan rupa layanannya? Apakah akan sederajat dengan ‘bus siang’nya?


Kubunuh penantian waktu dua jam ke depan dengan mondok di warung angkringan dekat tem-tem-an taksi. Jauh di seberang jalan pada samping toko waralaba, sedang terbujur kaku Madjoe Utama, yang tempo hari mengalami brake failure sehingga menghantam barisan barrier yang membelah turunan Jalan Perintis Kemerdekaan.


Secara iseng, kudata kavaleri-kavaleri ranah Wonogiren yang melintas, apakah sahih sedang terjadi chaos seperti yang dikabarkan Mas Agen tadi?


Dan memang fakta tak terbantahkan. Di luar adatnya, tercatat hanya segilintir yang melakukan ‘cap jempol’, masing-masing barisan sempalan Giri Indah yang diwakili BM-012, BM-020, BM-015 dan BM-011, lalu PO Purwo Widodo menyumbang satu asetnya berbusana Prestige garapan Tri Sakti. Selanjutnya dua properti milik Gunung Mulia serta Langsung Jaya urun sebiji siluet hewan jaguar.


Sambil terus berkutat dengan keypad gadget lawas, kucolek teman-teman maya komunitas busmania, dan satu di antaranya adalah Mas Doni Prast yang ternyata tengah on broad di BM-012. Menurut penuturan sohib PJKA itu, hanya Agra Mas yang bisa berkelit dari siksa Pantura sehingga jam take off-nya boleh dibilang zero tolerance.


Andaikan bisa leles selembar tiket PO yang pernah memecahkan rekor abal-abal sebagai bus paling isuk menapak negeri Pak Jokowi, tentulah aku bisa tersenyum lebar dan tak perlu sirik dengan kenyamanan yang diperoleh Mas Doni sore itu.


Ah, sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna.


Dan kelangkaan ‘bidak-bidak’ penghubung antarpropinsi kian kentara hingga seruan magrib dikumandangkan. Hanya dua konsestan lagi yang mendaftarkan diri. Yakni Handoyo Setra New Armada dan Timbul Jaya ‘Dwi Saputra’, AD 1422 AG.


Pemandangan aneh yang bikin meradang calon penumpang…

Jumat, 21 Juni 2013

Oscar dot Eleven (3)

21.46


Menjelang persimpangan rel kereta Pejagan, lampu kabin Kramat Djati memancarkan silau, mengusik pelupuk mata para penghuninya. Rumah Makan dengan cap Kedung Roso disinggahi, sebagai tempat barter selembar kupon dengan seporsi menu makan malam. Restoran yang dijuluki Mbok Rame itu terkesan sempit dari luar, namun sebaliknya, memiliki parkiran yang amat luas di halaman belakang.


Oscar dot Eleven yang aku tumpangi mencari lokasi parkir, dan dipilihnya sebidang tanah di samping kiri PO Akas Asri, di belakang PO Lorena.


Aku seketika keheranan, mengapa Akas Asri dengan papan trayek Jakarta-Jember ‘kesasar’ di sini? Bukankah Singgalang Jaya, Losarang, adalah providernya untuk urusan men-service usus 12 jari? Ataukah warisan Pak Tingok itu sudah pindah ke lain piring? Hehe…


Terlepas dari keganjilan itu, asumsiku, bila N 7528 US ini take off dari Rawamangun jam 2-an, dipastikan waktu tempuhnya bakal molor. Delapan jam untuk memangkas jarak Rawamangun-Pejagan adalah pemborosan tempo.


Andai kemacetan Pantai Utara Jawa Barat yang membuat salah satu anggota keluarga Akas II ini terhambat, bisa jadi spekulasiku untuk menghindarinya dengan metode re-route via Bandung, tidaklah keliru.


Namun, bagaimana dengan status Lorena LE-110, yang mesinnya shut down, dengan lambung berbalut lumpur tebal?


Sepengetahuanku, bus jurusan Lampung-Banyuwangi ini adatnya jam 3 s.d jam 5 sore  sudah mendaftarkan ‘sidik jari’ di wilayah Rembang untuk mengarah ke timur. Mengapa jam segini masih di sini? Ikut terjebak dalam kerunyaman proyek perbaikan jalan Pantura kah?


Aku pun melangkah turun dan berniat menuju meja makan, tiba-tiba seorang Bapak menghampiri.


“Mas, krunya mana ya?” tanyanya.


“Sepertinya sudah pada turun, Pak,” jawabku. “Ada perlu apa, Pak?”


Gini, Mas, kalau masih ada kursi kosong, saya mau pindah bus!” harapnya. “Tujuan saya ke Surabaya. Berapa pun saya bayar nanti.”


“Lho, busnya kenapa, Pak?” aku balik menyidik bus apa yang dinaiki.


“Lorena-nya dobol (mogok-pen) itu lho, Mas! Sudah berjam-jam menunggu, tapi ngga ada kejelasan!”


Wew…jadi Si Ijo Tajur ini lagi storing?


“Bus pertama dari Lampung rusak, diganti bus ini. Ehtaunya penggantinya sama saja, payah! Geregetan saya, Mas!” ungkapnya dengan raut kekesalan.


Lorena…Lorena…kapan akan berubah? Apakah aku ini ibarat menggantang asap mengukir langit, berharap Engkau kembali disegani seperti yang dulu lagi?


Ah, sudahlah…


Minus kedua Flying Eggs mencuat. Menurut hematku, untuk ukuran strata eksekutif, kualitas menu makan yang dihidangkan chapter Bandung sangatlah minimalis. Bahkan lauk pauk utamanya cuma telur kecap!? Kalau pun ada yang perlu dikasih poin plus, ya tentu saja teh manisnya, yang hangat mengguyur kering kerongkongan.



IMG00843-20130614-2147


Saat menyantap jamuan gala dinner, datanglah mobil UGD kepunyaan Lorena berjenis Isuzu Panther yang sepertinya didatangkan dari Jakarta. Para mekanik binaan langsung dari tim Mercedes Benz tekun mencari sumber permasalahan pada armada produk 255 itu, ketika aku melangkah  hendak menuju mushala. Terdapat masalah pada bagian roda sebelah kiri depan tampaknya.


Di ruang terbuka sisi belakang, berbaring white bus berbaju Evonext bersimbolkan bintang Mercy tanpa embel-embel nama PO dan guratan livery, dengan kondisi luluh lantak. Haluan depan remuk, lapisan pelat bodi kanan kiri terkelupas.


Memoriku menerawang jauh, mengingat-ingat, bangkai siapakah ini? Hmm…apakah Lorena jurusan Purwokerto yang tempo hari terguling di tol Pejagan, dan menewaskan dua penumpangnya? Sepertinya sih, iya…


Selesai mengambil air wudu, dan baru saja telapak kaki menginjak batas suci…


Ya ampun…kondisi ‘masjid mini’ itu tak ubahnya barak pengungsian. Belasan ibu-ibu dan anak-anak tidur tak beraturan, tas-tas pembawa perbekalan berserakan, memenuhi 80% isi saf salat. Menilik wajah-wajah dan keadaan jasmaniah mereka, tampak keletihan, air muka sayu, surut harapan, serta hilang semangat berbaur menjadi satu.


“Ayo…ayo…penumpang Lorena Banyuwangi bersiap. Bus sudah jadi. Ayo…ayo…cepet!!!”


Dengan lantang kenek membangunkan dan seketika mereka semburat meninggalkan lokasi leyeh-leyeh. Oh, rupanya ‘jamaah’ LE-110 ta? Hehe…


Alangkah naif juga, berjam-jam bus dibekap trouble, sekali datang dua/ tiga engineer, durasi perbaikan tak sampai 15 menit. Bak pepatah, panas setahun dibalas hujan sehari.


22.35


Setelah dilakukan pengecekkan mesin serta tekanan ban, D 7980 AI ini melakukan restart. Medan jalan yang membujur di kabupaten penghasil bawang terlihat lengang dari parade bus-bus AKAP. Ataukah memang gerombolan pelukis malam masih tercekik di Pantura Jabar?


Wuss…


Di Klampok, secara kasar, Nusantara HS 209 mengovertake dari sisi kanan, selanjutnya dengan cekatan menggulung-gulung aspal, dan dalam hitungan menit lenyap dari pandangan. Tebakanku, bus itu adalah angkatan jam 3 sore Pulogadung, menggawangi tugas sebagai armada VIP tujuan Tayu.


Sementara dari wetan memimpin dua Jetbus Agra Mas sebagai kloter pertama dari gugus Wonogiri yang mulai mendekat garis finish.


Pemali Bridge adalah potret buram proyek perbaikan infrastruktur transportasi yang tak kunjung kelar. Masih saja dilakukan pengerjaan pada pelat-pelat baja yang berfungsi sebagai material penyusun landasan jembatan.


Oh no…perbatasan Brebes-Tegal arah Jakarta macet total. Sementara mobil sedan PJR telah standby di sebuah u-turn, menutup kans kendaraan untuk menjajah jalur lawan.


Rupanya, terjadi kecelakaan tunggal yang menimpa truk gandeng. Ekor gandengannya lepas dan menumbur bak di depannya sendiri, dengan posisi akhir heavy duty truck itu melintang di badan jalan.


Lusinan makhluk yang digilai para bismania terjebak karenanya. Entah berapa banyak pastinya, namun yang sekilas tertangkap mata adalah Armada Jaya Perkasa, bus berikon ayam -- Putera Mulya --, Gajah Mungkur, Kramat Djati, Pahala Kencana Evonext dan yang tampak mendominasi adalah Laskar Kedawung, Cirebon, PO Garuda Mas.


Dibanding driver pinggir, midfielder (pemain tengah) ini lebih kalem, terkesan hati-hati dan menanggalkan image ‘bus malam harus banter’.


Bukti nyatanya, Rosalia Indah nomor lambung 325 melenggang kangkung tanpa perlawanan, seolah  dibiarkan pamer kedigdayaan.


Sementara itu, di distrik Dampyak, terpindai armada pelat K apa yang didapuk sebagai ‘amir rihlah’ bagi kontingen Muria-an yang tengah gigih bergerilya untuk memutus matahari saat tiba di ibukota. Dialah NS-46 yang didelegasikan pada armada model Setra Selendang. Lalu mengekor dengan lekat PO Sido Rukun berkaroseri Piala Mas.


Sayang…kantuk tak dapat ditolak, melek tak dapat diraih. Aku tundukkan hasrat diri untuk meng-cooling down otot raga dan sendi-sendi tubuh. Memejamkan mata, mengademkan tensi, menyandarkan letih, menghimpun tenaga buat mengisi aktifitas esok hari.


Zzz…zzz…zzz...


04.26


Ya ampun…


Tiba-tiba aku melonjak dari posisi tidur enak karena perasaan berbicara bahwa I was sleeping so beauty sehingga secara tak sadar Kota Rembang telah terlewati. Dengan nyawa baru terkumpul seperempat, kupandangi sisi luar kaca yang gelap, hanya diterangi lampu-lampu kota. Daerah manakah ini?


Raungan mesin ber-cc 7,7 liter ini terdengar pelan menelusup ke sela-sela kabin saat mendului bus bumel dari semenanjung Muria, Pulung Sari. Inilah yang jadi petunjuk dan sekaligus kelegaan bahwa aku masih aman dan terlindungi, belum sampai di mana aku seharusnya turun. Kiranya, Kramat Djati baru menginjak tanah Margorejo, Pati.


Disempurnakan lagi dengan pemandangan pantat PO Selamet K 1698 FA di depan, dengan baju gado-gado antara corak Setra dan Evobus, kian teredamlah ketidakkeruanku.


O.11 tetap melestarikan  woles style-nya. Tetap duku cilik cilik alias mlaku thimik-thimik, tak serampangan untuk memaksimalkan potensi kekuatan 260 energi kuda.


Dia bukan pemuja berhala yang bernama speed, bukan profil alat angkut yang rakus menghisap bahan bakar, dan bukan pula pengikut mahzab aggressive driving. Comfortability is numbero uno…


PO Selamet ber-engine OH King tak sampai membangkitkan birahi untuk dikangkangi, hingga ‘kavaleri’ milik Kaji Aris itu mengasup solar di SPBU Ngebruk, Juwana.


Di sebuah masjid daerah Batangan, terparkir Hino RK8 milik PO Surya Bali yang sedang menjatah kesempatan bagi penumpang untuk beribadah dua rakaat. Dan itulah secuil barang bukti bahwa  pada dinihari itu, Tambakboyo, Tuban, sedang jadi tuan rumah yang berbaik hati bagi para pelintasnya.


05.05


“Pantura lancar ya, Pak?” basa-basiku kepada Bapak Sopir saat bersiap touch down.


“Iya, Mas, lumayan lancar!” sahutnya seraya mengecilkan volume head unit yang sedang memutar lagu-lagu remix.


Gaul dan penyuka musik dugem juga nih, Bapak! Hehe…


“Turun di mana, Mas?” beliau bertanya balik.


“Taman Kartini depan ya, Pak! Hmm…masih berapa lama lagi perjalanan ke Denpasar, Pak?”


“Ya…kira-kira jam 8 malam baru sampai, Mas!” jelasnya sembari men-down grade kecepatan hingga menyentuh skala 0 km/ jam, sebelum aku benar-benar menjangkah keluar dari singgasana satu malam.


My beloved city, I’m coming…


DSC00472


“Thank you for being ‘sun breaker’, Oscar dot Eleven!” bisik lisanku lirih, dan kemudian luruh terbawa angin pesisir yang bertiup sepoi-sepoi.


 


T – a – m – a - T

 

Oscar dot Eleven (2)

Armada berbasis desain Jetbus non HD garapan tangan-tangan Adi Putro Wirasejati ini melanjutkan karirnya, seraya menata mental dan mengatur ritme sebelum mengakrabi lintasan berbahaya, Cadas Pangeran.


Pertemuan dengan PO Goodwill berlabel ‘Muslim’ di Cigendel, yang kata Mas Lurah Hans
Rindu Madura termasuk jajaran bumel sess, seakan mendudukkan bus yang menjumput rezeki di koridor Bandung-Cirebon-Semarang itu sebagai penjaga portal yang mempersilahkan para tamu untuk menjelajah teritorial kekuasaannya.


Sebenarnya inilah modusku lebih memilih bus agak gasik dari Cileunyi dan kudu merogoh kocek setara 156ribu. Aku belum pernah menyaksikan spot Cadas Pangeran di bawah sorot sinar mentari. Cerita keindahan dan pesona yang disajikan alam Sumedang selatan, khususnya hawa angker dan wingit kawasan ini, jangan hanya didengar semata tapi harus aku monumenkan melalui indera tubuh sendiri.


Sahih adanya! Ruas jalan sempit yang menempel di bibir jurang yang menganga, dipayungi rimbun dahan pohon pinus yang menjulang di sisi bukit, dan jauh di bawah sana mengalir deras air kali Cipeles, menghadirkan daya magis dan panorama yang sejuk serta menyegarkan retina mata. The Beauty of Indonesia!




IMG00841-20130614-1734


Konon, dasar sungai itulah yang menelan ratusan korban saat pembangunan jalan ini, akibat beban kerja sistem rodi di zaman pemerintahan Herman Willem Daendels. Para pekerja diperbudak untuk menatah bebatuan di bukit terjal dengan kedalaman jurang mencapai 500 m, tanpa kompensasi logistik yang memadai.


Tanpa kesulitan berarti, Hinomaru varian R 260 ini melibas setiap tikungan semi cilukba dan turunan tajam. Sempat terjadi  refleks ngerem paku, gara-gara ulah sepeda motor yang urakan, menyalip di chicane blind spot, sementara dari arah berlawanan sedang kepayahan truk besar lagi memanjat punggung bukit.


Dan saat memperhatikan lebih detail kontruksi ruas Cadas Pangeran dari balik kaca, ada yang membuatku terperanjat sekaligus bergidik. Ternyata lajur yang mengarah ke Bandung menggantung  (elevated) di birai lembah nan sangat dalam, ditopang pilar-pilar penyangga yang tertanam di bawahnya. Luar biasa dan sanjung apresiasi bagi siapapun yang telah membangun jalan dengan kerumitan tingkat dewa ini.


Ketika menapak area Ciherang, setelah melahap sebuah kelokan 90º, terlihat salah satu entitas bus malam yang membuntuti. Dialah Pahala Kencana OH 1525, yang busananya berpola New Marcopolo namun mengalami rombakan pada lampu dan fasia depan, mengikuti tren model Jetbus.


Lagi dan lagi, bodi bongsor berGVW 15 ton ini terhuyung saat medannya di Pasanggrahan direnggut secara paksa oleh angkutan Mitsubishi Canter yang ngeblong paksa kendaraan di depannya lantaran ditempel seterunya di trayek yang sama. Rasanya, meaningless dan buang-buang duit saja dengan spanduk-spanduk yang berisi slogan keselamatan dan etika berlalu lintas yang ditebar Kepolisian Resor Sumedang di sepanjang jalan, tanpa dibarengi law enforcement yang tegas bagi pelanggarnya.


Setelah melewati homebase PO Medal Sekarwangi, flow lalin kembali memadat.


Tarahu…tarahu…tarahu Pak…tarahu Bu


Seorang penjaja tahu dipersilahkan kru untuk mengasong jualannya di dalam bus. Karena berbelas iba sebab tak satupun penumpang yang merespon rayuannya, kupanggil Bapak itu. Teringat akan pesan bijak, ‘lebih baik membeli sesuatu meski tidak kita butuhkan, daripada memberi uang pada peminta-minta. Setidaknya pedagang itu punya semangat kerja dan tidak menistakan diri menjadi pengemis.’


“Beli sepuluh ribu ya, Pak!”


Dan sekeranjang kecil penganan khas dusun Mbak Rossa dengan bonus cabe yang super pedas pun berpindah tangan.


Finally, you show the magnificient of intercity night bus…


Skill dan jam terbang pramudi mulai terbuka selubungnya. Dengan sedikit radikal, tak kenal gentar, laju Bhinneka yang berdesain Legacy Legalight jurusan Bandung-Cirebon berhasil kena dropshort menyilang di ruas jalan Pangeran Kornel yang tengah ramai.


Applause for it!


18.15


Di bunderan Alam Sari, bus berbelok kiri menyusuri jalan kecil dan sepertinya menghindari jalur utama yang melewati pusat kota Kabupaten Sumedang.


Rumah Makan Sari Rasa mendiam di sisi kanan jalan. Sebuah rest area yang jadi rujukan Kramat Djati Bojonegoro melunasi kewajibannya menghidangkan makan malam gratis bagi penumpang. Ternyata, lain ladang lain belalang, lain jurusan lain pelayanan, melihat moda yang bersekutu dengan bus wisata Pakar Utama ini tak punya gelagat berhenti di Sari Rasa, dan langsung bablas mengarah ke Jalan Cimalaka.


Semburat senja telah terkikis kegelapan malam, terik cahaya siang telah pudar sengatnya. Dibuai kenyamanan piranti air suspension, terkulai oleh kelelahan perjalanan Tanjung Priok-Cileunyi serta keharusan membayar utang kurang tidur pada malam sebelumnya, mau tak mau aku kudu mempercepat jam biologis untuk beristirahat.


Pasar Legok adalah region terakhir sebelum aku disekap lelap dalam peraduan.


20.33


Palimaman, simpul tarung antara jalur Jakarta-Cirebon dengan jalur Bandung-Cirebon.


Dengan lembut gemulai, Flying Eggs menyusuri kota kecamatan tempat pabrik Indocement Plant-9 menancapkan kuku-kuku kapitalisnya. Pusingan roda tak bisa digolongkan pada level ngebut, tidak pula dikategorikan nge-slow. ‘Velocity Pasti Pas’, demikian aku menyebutnya.


Tollfare entry gate Plumbon 2 yang ekuivalen dengan nominal Rp2.500,00 merupakan biaya administrasi yang dibebankan pihak pengelola jalan tol bagi siapapun yang ingin menebus harga sirkuit Palikanci. Belum cukup waktu untuk mengunggah performa di jalan bebas hambatan, bus diarahkan exit Ciperna. Ada dua klien tambahan yang mesti dipungut di agen Terminal Harjamukti, Cirebon.


Babak sengit justru terjadi di pintu keluar terminal dengan peringkat keseraman mencapai bintang lima itu. Tanpa dinyana, dari sisi kiri muncul Langsung Jaya ‘Pandan Arum’ dan kemudian memotong jalur. Dengan wajah innocent, kemudian mengais-ngais penumpang dengan posisi menghalang busku. Berondongan vokal klakson tak digubris, tembakan lampu dim tak diacuhkan.


Tett…tett…dari sebelah kiri, menyerbu dengan deras Lorena Jember. LE-440 itu kemudian ngacir, seakan menyalakan api kompor LPG 3 kg agar pemain-pemain Pantura di belakangnya segera mengejar.


Setelah beringsut dari hadangan bus yang di-capil-kan oleh Samsat Kabupaten Karanganyar itu, Kramat Djati kerkode O.11 alias Oscar dot Eleven ini menghela kecepatannya. Kerja piston yang sedari tadi cuma nyante sekarang mulai diforsir. Dari kejauhan, buritan Euroliner aset Ibu Eka Sari itu sungguh mengundang nafsu, dengan irama flip flop kombinasi lampu rem dan sein yang genit menggoda.


Sungguh sayang, hanya utopia belaka menggembungkan asa bahwa OH 1626 itu bakal ‘menghunuskan pedang’ seperti era kejayaannya di tahun 90-an, yang dipemeokan ‘semakin dikejar semakin jauh, semakin didekati semakin lari’. Entah mengapa saat menggeluti flyover Pegambiran, sepak terjangnya mulai kedodoran dan akhirnya B 7586 XA itu mengerek bendera putih, menghibahkan ruang selapang-lapangnya agar disalip.


Huu…penonton kecewa. L


Adegan seru sempat juga terekam saat Ramayana AA 1651 AB mulai terdeteksi di daerah Gebang. Perjuangan bus yang bertangsi di Muntilan dalam mencerai-beraikan konvoi truk berat membuat jagoanku kewalahan meladeni polahnya.


Sampai datang masa di mana permukaan trek lurus, panjang dan sepi, lapang menghampar. Si Telur Terbang mulai kuasa menyusul. Hampir setengah bodi terlampaui, tiba-tiba Sang Pemanah nge-riting kiri lalu menepi.


“Ah, ujung busur panahnya sudah tumpul tuh!” cibirku karena sekali lagi kandas memperoleh hiburan ‘Opera van Tura’, ketika menanti makan malam yang tak kunjung tersaji.


 

Oscar dot Eleven (1)

 

“Ah, sayang! Pengembalian shuttlecock dari Mohammad Ahsan membentur bibir net, sehingga bertambah lagi poin bagi pasangan China, Cai Yun dan Fu Haifeng!”



‘Kicauan’ presenter televisi itu terus nyerocos, seakan pantang lelah mendeskripsikan secara rinci jalannya duel dua ganda putra terbaik dunia di babak perempat final turnamen Badminton Indonesia Open 2013. Berkat suasana gempita yang dicipta oleh tingkah lidahnya, olahraga tepok bulu yang kusimak dari properti milik sebuah agen bus di bilangan Cileunyi tak ubahnya acara nonton live di tribun Istora Senayan. Atmosfer pertandingannya mengena.



“Kini Cai Yun akan melakukan serve…”



Aku pun semakin larut menjiwai elan duo pendekar lapangan hijau kebanggaan bangsa, yang dengan perasan keringat, keterampilan utak-atik taktik dan  permainan ultra offensive mencoba menyungkurkan lawan, berikhtiar merebut kembali supremasi Indonesia di kancah bulu tangkis internasional.



Namun, tiba-tiba…



“Mas, busnya sudah datang!” dengan setengah berteriak, agentkeeper yang sedari tadi mematung di luar membuyarkan kekhusyukanku.



Lhadalah…tanpa kusadari, obyek kotak persegi panjang telah berdiam di depan kios, nyaris memblokir sudut edar pandangan ke arah jalan besar. Arsiran merah menor setengah bodi serasa mencolok bola mata, mengaburkan siluet tiga warna bidang elips yang merefleksikan aura teduh, damai dan beku.



“Langsung naik ya, Mas, kursinya nomor 7!” pandunya sekali lagi, saat aku mulai berkemas, menenteng tas backpacker di atas bahu.



One Hour Ago



“Kang, aya tiket ka Rembang?” tanyaku kala bertandang ke lapak agen bus yang berdiri di tepi jalan raya penghubung Cileunyi-Cibiru.


IMG00824-20130614-1525



IMG00823-20130614-1524




“Rembang…!? Eta sabeulah mana, Mas?” balasnya balik dengan nada kebingungan.



Entah orang ke berapa ‘si akang’ ini, yang not well informed soal kampung halamanku. Dan pada akhirnya harus aku akui tanpa kemunafikan, Rembang memang bukanlah negeri yang masyhur di ‘pulau seberang’. RA. Kartini, sirup kawista, kuliner lontong tuyuhan, sate srepeh, sentra garam, klub bola PSIR -- yang pernah heboh lantaran sejumlah pemain terkena skorsing seumur hidup dari PSSI karena mem-bully wasit --,  serta pemangku kota budaya berjuluk ‘little Canton’, Lasem, yang elok akan perkampungan penduduk bergaya oriental berikut seni kerajinan batik, belumlah cukup untuk menggaungkan dan mengorbitkan nama Rembang agar lebih menasional.



“Kalau ke Surabaya lewat Pantura, pasti lewat Rembang, Kang.”  terangku pendek.



“Bukan Semarang arah Bojonegoro ya?“ selidiknya sekali lagi untuk menepis keraguan. Aku hanya menggeleng pelan.



Diraihnya alat komunikasi, dan sepertinya kantor pusat atau agen lain segera dihubungi.



“Mas, nanti ikut bus Malang ya!” dia pun memberi rekomendasi sembari menutup telepon.



“Jam sabaraha berangkat, Kang?”



“Sore ini agak telat, Mas. Busnya masih perbaikan di Cimahi. Kata kantor, kira-kira jam 6 baru dari Cicaheum.”



Aduh…terus sampai sono pukul berapa, sementara tema huntingku kali ini adalah mencari sosok ‘superhero’, yang berdaulat memerankan tokoh fiktif ‘sun breaker’ saat aku menginjak bumi Dampo Awang esok hari.



“Bisa ikut jurusan Denpasar yang lebih siang, Kang?” aku menego ulang tawarannya, meski berlagak agak ‘bismania’ karena sok tau dengan skedul bus-bus malam dari Bandung ke Jawa.



Mas Agen pun berkutat lagi dengan gadgetnya.



“Ada Mas, nomor 7!” ujarnya dan lantas kusambut dengan hati riang.



“Tiketnya berapa?” kukorek perhitungan ongkos untuk penarifan Cileunyi-Rembang.



Lelaki dengan aksen bicara sunda nan kental itu sibuk meneliti pricelist yang tertera pada katalog terbitan manajemen PO yang memperantarai nafkah hidupnya. Dan naga-naganya, ia kembali gamang.



“Adanya tarif untuk Kudus, Jepara, Pati, Lasem, Tuban, Babat itu, Mas. Rembang ikut mana ya?”



Oh me…awam lagi dia.



“Lasem saja, Mas. Itu jaraknya tak beda jauh dengan Rembang kok.” pungkasku mengakhiri polemik ‘di manakah Rembang berada?’ yang mengacaukan alam pikirannya. Hehe…



---



Kumasuki gerbang yang menyekat kabin penumpang dengan ruang kerja kru, dan kurebahkan luasan punggung melekat pada beludru jok bikinan Aldilla. Kesan bus eksekutif pun tak terdebatkan saat menilik nuansa interior kamar. Bersih, wangi, lapang, cozy, touching what passanger needs, dan iming-iming logo mickey mouse bobok-bobokan di atas gumpalan awan jelas membingkai nilai kenyamanan.



Kalau pun ada minusnya, tampak bejibun paket yang di-manusia-kan, berhak duduk manis di atas jok di deret belakang. Barangkali, menghisab jumlah sewa yang tak seberapa – terisi kurang lebih hanya separuh dari kapasitas 32 seat -- adanya barang-barang ekspedisi bisa menambal gedenya bea operasional untuk moda jarak jauh di kala musim paceklik.



16.11



Belasan menit lepas dari pukul 4 sore, reguler transporter yang merapatkan bentang Bandung-Denpasar itu menunaikan rukun tripnya. Hiburan audi non visual tersuguhkan berupa alunan tembang-tembang yang pernah hits hasil aransemen grup band yang lahir di gang Potlot, Pancoran, Jakarta Selatan. Siapa lagi kalau bukan SLANK.



Kemacetan langsung menyapa di depan kampus pencetak para aparatur negara, yang pernah bikin geger karena aksi kekerasan siswa senior terhadap juniornya, STPDN Jatinangor. Lembaga pendidikan tetangganya, Universitas Padjajaran, turut menyumbang berkah, dengan penambahan muatan bagasi dari seorang penitip.



Lalu lintas kembali tersendat dan hanya mampu jogging saat menekuni tanjakan Cileles, yang tersambung panjang dengan jalur pendakian Jatiroke. Sementara arus kendaraan yang turun relatif cair. Tampak Bahagia Ikhlas (BAIK) Semarang-Cirebon-Bandung, D 7526 AC, dengan nafas tuanya berusaha melanggengkan jatidiri sebagai PO tahan banting


IMG00830-20130614-1621


dan disusul kemudian dengan kontestan Patas Bandung-Cirebon, Bhinneka. Bus inilah yang membuka cakrawalaku, bahwa Bhinneka Grup punya cabang Bandung, dengan pelat nomor yang disandangnya berletter D, di muka deretan angka/ huruf 7943 AC.



Di Hegarmanah, bertemu muka dengan ‘kawan sekaligus lawan’, Pahala Kencana Denpasar-Bandung. Say hello dan cuap-cuap sebentar diselenggarakan, dan sepertinya juru mudiku cukup intim dengan driver bus beregistrasi N 7540 UA itu.



17.03



Kecamatan Tanjungsari adalah penggalan rute yang sangat merampas waktu. Trek ciut, kontur menanjak, truk yang berjubel, riuhnya pengguna jalan raya, banyak motor bersliweran tanpa kesantunan serta perilaku angkot Cileunyi-Sumedang yang berprinsip negatif ‘suka-suka saya’, membuat kaki kanan-kiri pengemudi giat bekerja, mengolah mode stop and go secara kontinyu.



Dengan tubuh yang kusam lagi kotor, teman sejawatnya berjurusan Malang-Bandung, D 7560 AE, mendekat dari sisi depan di titik Ciromed. Aksi bersulang klakson dan lampu besar diperagakan, sebagai isyarat donga dinonga (saling mendoakan) semoga keselamatan senantiasa menaungi para abdi jalanan.



Ternyata biang keroknya adalah pasar Tanjungsari. Bukan karena aktifitas penjual dan pembeli yang sedang berasyik masyuk dengan gawe transaksi, melainkan kehancuran badan jalan gara-gara ‘komplikasi’ yang diakibatkan oleh kualitas material yang underspec, tonase truk-truk yang melampaui ambang serta anomali cuaca.



Pertanyaan besar kemudian melingkupi diri saat mencium ketidaklaziman. Bus yang  dijuluki ‘Flying Eggs’ ini kembali bertemu dengan kompatriotnya. Masing-masing kres-kresannya di jalur Denpasar, D 7891 AI, yang dikuntit aktor Bojonegoro-Bandung, D 7596 AE. Sesama kru sempat berbincang singkat tatkala ruang kemudi berdampingan, dan dari body language sopir bus dari timur, mereka mewartakan ‘sesuatu’.



“Ada apa dengan kalian, my poolmates?” kesah Kramat Djati yang kunaiki ini membatin.