Senin, 11 Februari 2013

Sssttt…Tarif Kencan “Dara” Cuma 130 Ribu Semalam. Mau!? (Eps 4)

Season of Dating 


“49… 49…” instruksi dari kenek menyeru  pada penumpang.


Bergegas aku dan seorang Bapak yang mengaku pelanggan setia Tunggal Dara Putera (TDP) memanjat tangga singgasana peninggalan Restu Ibu, yang dirancang-bangun beberapa tahun silam.


Dalam temaram lampu kabin, kucari bangku nomor 7.


”Lo, kok sudah berpenghuni?”aku setengah terperanjat.


“Mas, nyuwun sewu, pindah ke nomor 6 ya!” bujuk Mas Kenek, dengan sopan lagi ramah.


Kurebahkan punggung, kuatur badan dan kaki agar selaras dengan posisi nyaman. Tas kutaruh di bawah jok , sembari kuinvestigasi, jok buatan mana yang dipakai. Ah, casing penutup tuas reclining menghilang, jadi tak kuasa kuidentifikasi mereknya. Tapi, secara model, aku yakin, 40 buah kursi yang ditanam itu hasil kerajinan industri Karya Logam.


Kulit busanya pun kusam, senada dengan warna merah kecoklat-coklatan, menandakan “lapak punggung” sudah cukup berumur. Beruntung, dari segi keempukan, masih bersahabat dengan anggota tubuh bagian belakang.


Cess…cess…nggrrengg…nggrrengg…


Deru mesin dipadu siulan air brake system tak bisa membohongi feelingku bahwa armada ini termasuk silsilah keluarga Mercedes Benz.  Tanpa ba-bi-bu, hanya perlu tempo dua menit untuk berhenti, bus yang mengorbit di lintasan Ngadirojo-Wonogiri-Solo-Cibitung-Lebakbulus memulai foreplay.


Kulirik sebelahku. Dari cahaya lampu kota yang menembus dinding kaca, sinaran remangnya mampu menyapu permukaan kulit wajahnya. Ops…ayu plus bening. Kuperhatikan kulitnya yang putih bersih. Inikah mutiara yang tergolong kriteria “makhluk halus”?


Dia sangat-sangat pulas, sembari memeluk jaket, meringkuk dalam peraduan.


Sayang, mengapa saat ini yang duduk di sebelahnya justru aku, bukan Lek Ponirin, misalnya? Pasti, yang lajang akan berbunga-bunga, setidaknya ada kans untuk mengenalnya, mengakrabinya, tukar nocan atau foto dan selanjutnya…terserah anda.


Bukan faseku lagi untuk berpikir “Bagaimana menikahi orang yang aku cintai” namun kini sudah pada tahapan “Bagaimana (selamanya) mencintai orang yang aku nikahi”.


Jadi sebenarnya, aku duduk di sini, di malam ini, adalah sebuah keterlambatan yang amat sangat. Mestinya belasan tahun yang lalu momen ini terjadi. Hehe…


Ah, malah ngelantur.


Menggilas permadani hitam jalan tol, bus yang mengkalim diri berkelas Bisnis AC itu langsung mengasapi Sri Mulyo, AD 1735 AA.


Menyusuri turunan panjang Jatingaleh, driver yang bernama Pak Ruslan terkesan hati-hati, sesekali memainkan pedal rem dan mengoptimalkan peran engine brake dalam membimbing kendaraan berbobot 11 ton agar dapat meluncur terkendali.


Menapak simpang susun Jatingaleh, yang merupakan noktah pertemuan dengan jalur timur, bersualah dengan Selamet Scorpion King yang seolah mengajaknya untuk berlari. Namun tak pelak, OH 1113 lawan OH 1526 bukanlah lawan sepadan, beda generasi, beda kekuatan. Bus yang ditukangi Haji Aris itu menghilang dari pandangan.


Di tanjakan Manyaran, nafas pun ngos-ngosan, dan jalannya mulai tertatih-tatih. Imbasnya, duet Ramayana “Sang Penari”, masing-masing Setra dan New Travego, mempermalukannya.


Pertigaan Krapyak macet panjang. Lantaran telat mengoper gigi, space kecil di depan antrian diserobot oleh Sri Mulyo berbodi Skania.


Pak No (CMIIW), joki kedua yang saat itu memposisikan diri sebagai navigator, memandu Pak Ruslan. The man behind steering wheel ternyata belum lama jalan malam Jakarta-an, sehingga masih perlu arahan serta tutorial.


“Ayo, ambil tengah. Yak…kiri masuk, tahan, tunggu sampai lampu merah tinggal 15 detik, baru gas…”


Itulah salah satu perintah dari sopir senior itu.


Alhasil, Sari Lorena Concerto, Bogor Indah B 7849 XB, Selamet Tayu-Jakarta, serta Laju Prima 49 ditelikungnya.


Rupanya, causa prima keruwetan lalu lintas adalah mogoknya truk bermuatan besi di tengah-tengah pertigaan Jrakah.


Sepanjang ruas Jrakah-Mangkang, PO yang bernaung di bawah PT Tunggal Dara Indoensia (TDI) ini berjalan seiring seirama dengan PO Sumber Harapan K 1509 FA, sebelum terminal Mangkang memutus persahabatan mereka.


19.20


Naiklah 8-10 penumpang tambahan dan yang luar biasa, ada satu lagi bidadari cantik yang melabuhkan harapannya kepada bus lawas ini.


“Bus kaya begini digandrungi para bidadari?” aku hanya tersenyum kecut sambil geleng-geleng kepala.


Di lingkar Kaliwungu, “Dara” pun jadi bulan-bulanan Era Trans bernomor punggung 067 serta Haryanto Kopi Susu B 7788 VGA. Kemudian, insiden hangat terjadi di depan, ketika Pahala Kencana New Travego make over-an bodybuilder Tri Sakti mencium pantat truk boks, yang menyebabkan Fuso Canter 120 PS itu hilang arah dan menghantam median jalan.


Busku melaju kembali, dengan kecepatan fluktuatif antara 60-80 kph. Minim gereget, tak ada aksi banter-banteran atau memforsir kerja enam batang silinder demi mengejar fajar sampai ibukota.


Hembusan AC yang hanya sepoi-sepoi sedikit mengurangi nilai kenyamanan. Saat kusebar pandangan ke seisi bus, nyaris tak ada yang menjulurkan selimut. Bahkan, jarang ada yang mengenakan jaket sebagai penangkal hawa dingin yang diproduksi mesin Thermo King model Trapesium.


Riting kiri dinyalakan, saat baliho besar bertuliskan “Sari Rasa” begitu dominan memayungi jalan.


Cakep! Semenjak mencampakkan bus berkode HS-xxx sebagai armada langganan Minggu sore dua tahun silam, aku tak pernah lagi merasai layanan makan malam di kedai yang berdiri di kawasan Jenarsari, Kendal. Kinilah saatnya bernostalgia.


Tapi apa daya, keinginanku itu pupus, saat….


“Pak, Ibu…jangan turun ya, bus ini cuma kontrol, nanti makannya di sana.” cegah Mas Ambon, nickname dari kru 3 Tunggal Dara Putera.


Tak sampai lima menit, bus diberangkatkan kembali. Tapi nahas, saat akan menjejak aspal Pantura, mesin mendadak mati. Switch AC dimatikan, saklar lampu-lampu di-off-kan agar accu tak keberatan saat starting.


Cukup mendebarkan bagiku, lantaran OH Prima sedikit melintang di jalan besar. Terlebih, dua kali kontak starter dinyalakan, mesin tetap ngadat. Barulah, di percobaan ketiga, proses penyalaan kembali itu membuahkan hasil.


“Elegi bus tua…, ” keluhku.


Bus bernomor punggung 20 ini memilih jalur lama Weleri, karena stasiun pengisian solar rujukan terletak di sana. Terekam sebanyak 70.000 cc digelontorkan ke dalam silinder penampungan solar yang terbenam di dalam badannya.


Menjelang pertigaan Gringsing, kembali Gunung Mulia AD 1632 AB memaksa “Dara” “memungut bola dari gawangnya”. Bus yang aku kencani cuma jadi sansak hidup. Hiks… 


Dari deretan rumah makan, Sendang Wungu, Bukit Indah, Kota Sari, Indorasa, Telaga Asri, dan Raos Eco, ternyata yang bontotlah yang dipercaya menyajikan service makan malam bagi penumpang.


Yang unik di sini, sesaat setelah menyerahkan kupon makan, pramusaji menyodorkan piring yang telah diisi sepotong ayam. Bagaimana coba cara meloloskan potongan ayam yang lain ke dalam wadah kita? Serahkan pada ahlinya. (Colek penduduk Lasem wannabe, ah. Haha…)


Soal citarasa menurutkan lumayan santun di indera pengecap, better than Bukit Indah, yang hampir tiap penghujung pekan tak terlewatkan kukudap hidangannya.


Saat menanti re-start, ada pemandangan aneh, yakni hidupnya arwah Dwi Jaya. Bus yang konon sudah almarhum itu tiba-tiba masuk ke parkiran dengan tingkat okupansi mencapai 100%. Kecurigaanku, jangan-jangan embel-embel Sari Giri setelah nama Dwi Jaya lah yang me-re live keberadaan bus yang pernah jadi favorit warga Surokarto itu. 

Sssttt…Tarif Kencan “Dara” Cuma 130 Ribu Semalam. Mau!? (Eps. 3)

Pre-Season


Kuisi amunisi bagi tubuh di sebuah warung di dalam kompleks BanyumanikBus Port, dan setelahnya kuayunkan kaki menuju jalur penurunan penumpang di luar terminal.


Ingin kunikmati view sore berikut aktivitas warga di atas jalan penghubung antara kantornya Pak Bibit Waluyo dengan kotanya Pak Jokowi serta keratonnya Sri Sultan, sembari menghabiskan waktu dua jam menanti bus yang kuimpikan datang.


Tapi, kian lama jarum menit seakan berotasi sangat lambat.  Bus-bus yang bersliweran datang dan pergi, mendidihkan darah ke-busmanian-ku. Maju Makmur, Sumeh, Wolu, Sumber Waras, Safari, Sumber Kencono, Ramayana, Tri Sulatama, Nita, Patas Nusantara, Patas Rajawali, Damri, Immanuel, serta Taruna seolah ngawe-awe, merayu-rayu agar aku tak hanya berdiam diri di tempat. Mereka berkonspirasi membangkitkan hasratku untuk setidaknya melakukan trip jarak pendek.


Tapi kemana?


“Banyumanik, yang kota…yang kota siap turun…” lantang suara kondektur PO Safari saat bus AC jurusan Solo-Semarang H 1543 AB itu akan berhenti.


Tiba-tiba menyeruak ide untuk TTM aka Turing Tanpa Maksud dengan rute Banyumanik-Terboyo PP. Daripada ke Ungaran atau tengah kota semisal Simpang Lima-Tugu Muda, khawatir ancaman crwoded di saat jam pulang kerja.


Tanpa banyak cingcong dan pilah-pilih, kunaiki bus berdaya 250 tenaga kuda dalam balutan gaun Setra Adi Putro itu, meski sebenarnya monoton juga dengan apa yang aku putuskan. Seringkali NS-39 langgananku dilayani OM-906LA, tapi kok tak ada bosan-bosannya nangkring di atas chasis OH-1525. Sesudah menebus nominal tiga ribu rupiah, dibawanya aku menikmati efek bodi limbung di atas jok bermerek Perfect di ruas Tol Tembalang-Jatingaleh-Kaligawe.


IMG00173-20120409-1508


Sesampai di Terboyo, aku pun menimbang-nimbang kembali, dengan bus apa aku kembali ke tempat semula.


Eh, mengapa tak membidik yang berspesies unik binti jadoel saja?


“Jogja…Jogja…Magelang…terakhir…terakhir…”


Sebuah bus Sumber Waras Putra menghampiri dan yang aku suka, bidang selongsong chasisnya yang pendek lagi mungil. “Ini pasti barang langka,” tebakku.


Segera kumelompat  ke dalam kabin dan mengambil duduk di baris kedua. Shahih, Mercy OF dengan simbol “kijing kuburan” di samping ruang kemudi. Di ujung tongkat persneling masih   jelas terlihat skema shift up/down, yang melambangkan bahwa bus ini hanya memiliki empat gigi maju dan satu  mundur.


IMG00174-20120409-1534

 Bagaimana performanya dalam upaya pendakian perbukitan Jatingaleh?


Bus dengan slogan “Hilang Naluri” ini langsung unjuk nafas tua di atas jalan tol. Attitude sang juru hela sepertinya sudah sejiwa, selahir dan sebatin dengan karakter mesin lama.


Baru sebentar, deru raungan knalpot OF-1113 (CMIIW) itu melesakkan prestasi setimpal. Dikombigaya mengemudi yang visioner dan reaksioner, keperkasaan Delman Bavaria angkatan 80-an itu sungguh-sunggu perkasa.


Empat bus yang lebih muda seolah digurui bagaimana memaksimalkan kemampuan dapur pacu yang telah renta. Adalah PO Safari bermesin OH Prima H 1477 AB berikut kompatriotnya H 1701 AB, PO Damri dengan papan trayek Lampung-Blitar-Malang-Banyuwangi serta PO Muncul Patas Semarang-Solo berjubah Celcius ala Suryana yang bertindak sebagai murid bagi AB 7104 JN itu.


“Terminal Banyumanik, Mas” request-ku saat kuserahkan tiga lembar kertas seribuan.


“Ngga bisa turun situ, Sukun bisanya…” jawabnya ketus sembari merenggut uang dariku, merefleksikan perasaan tak senang dengan kehadiran penumpang jarak pendek.


Ah, tebal muka saja, sudah acapkali menerima perlakuan tak santun dari kru, meski sekedar pelecehan yang bersifat verbal saja.  


“Jogja…Jogja…Magelang…”


Reffrain itu diulang lagi, kala bus menyentuh tanah Sukun. Aku tak mau larut dengan perasaan dongkol akibat tindakan “rasis” dari awak bus.


 IMG00175-20120409-1552


Everywhere, everytime, everymoment, I must positive thinking. 


Tak apalah turun di depan swalayan ADA lagi, toh aku ingat, di dekatnya ada pom bensin, yang bisa kukaryakan sebagai tempat rehat sekaligus penyedia sarana buat bersih-bersih diri.


---


Seconds From Dating 


Kaki-kaki sang mentari tinggal sejangkah lagi menuntaskan peredarannya. Para penjemput rezeki pun tercerai-berai di jalanan, mencari jalan pulang masing-masing demi menemui orang-orang terkasih yang seharian telah ditinggalkan.


Aku masih termangu di bawah emperan terminal, menanti calon pujaan hati yang tak kunjung tiba. Resah dan gelisah, menyikapi kenyataan sudah 30 menit  “si dia” ngaret dari waktu yang tertulis di kolom jam keberangkatan pada secarik tiket yang kupegang.


Pukul 16.55


PO Agra Mas, yang mendelegasikan pada armada merah ferrari berkode BM004, jadi pembuka gerbang terminal Banyumanik menjelang senja itu. Tunggal Daya AD 1585 DG adalah penyusulnya kemudian. Sepuluh menit berselang, datang prajurit Mangkunegaran yang lain, PO Putera Mulya, dengan tagline “Badai Pasti Berlalu”.


Parade bus malam mulai berduyun-duyun mengarah ke pintu tol. Hanya segelintir yang bersilaturahmi ke terminal yang tegak berdiri di Jalan Perintis Kemerdekaan, selebihnya “cuek bebek”. Memang, penumpang di spot mini ini tak seramai Mangkang atau Kalibanteng-Siliwangi tempo doeloe. Rata-rata bus pun tak sampai tiga menit setiap kali menaikkan penumpang atau loading paket. Harap maklum, keterbatasan lahan terminal tak memberi kesempatan berlama-lama, harus tepo seliro pada sesama lantaran yang di belakangnya lambat laun akan menyundul.


 IMG00176-20120409-1608


Teett…tettt…


Bunyi klakson lirih digaungkan PO Armada Jaya Perkasa B 7071 XA dengan armor kebesaran Marcopolo buatan Tri Sakti. Moda darat yang hendak mencapai tujuan akhir Merak itu lalu “diusir” oleh Tunggal Daya kelas Bisnis AC Panorama 2.


IMG00182-20120409-1713


Setelahnya hadir PO Gunung Mulia model Proteus AD 1450 BB.


Dari jauh terlihat kotak bongsor ber-colormark Tunggal Dara Putera. Wow…supercantik dalam balutan busana garapan sendiri, yang disemati mahkota Revolution. Semoga inilah jodohku.


Tapi, setelah mendekat, kuamati lekat pelat nomornya, AD 1472 DG. Bukan…bukan busku!


IMG00186-20120409-1736


Azan magrib sayup berkumandang, saat Putra Remaja AB 7019 AS dengan tungku bakar berkapasitas 12 liter secara sopan mengetuk pintu, diikuti koleganya Putra Remaja berbasis bentuk Avant Garde bikinan New Armada, Magelang. Tak luput juga, Laju Prima 30 Marcopolo, KD Setra Smiley, “Si Yellow Wish” New Ismo Premiere Line Service, serta Pahala Kencana VIP Wonogiri New Travego rombakan Centrium turut mengharu-biru memenuhi parkiran.


Hufft…Aku semakin cemas, geregetan dan lelah hati menunggu makhluk yang kuidam-idamkan tak jua setor muka. Setiap kali bertanya pada “Om Agen”, jawabannya selalu idem ditto, “Sabar, macet di Bawen, Mas!”


Pemain-pemain lain pun bergiliran mengisi absen kehadiran. Tercatat OBL berwajah Integra B 7722 IV, Pahala Kencana Purwantoro-Jakarta, Gunung Mulia Nucleus 3, Safari Galadong alias Galaxy odong-odong H 1583 BC serta Kramat Djati B 7479 IS.


Dan penantian itu sweet ending, tatkala tiga bus berkonvoi merapat. Adalah Tunggal Dara Putera AD 1589 DG, dikuntit Kramat Djati Marcopolo B 7249 IS dan akhirnya…balon pasangan kencanku menampakkan paras. Tunggal Dara Putera AD 1449 DG, yang selanjutnya aku panggil dengan sebutan sayang, si “Dara”, itu.


 

 

 

Sssttt…Tarif Kencan “Dara” Cuma 130 Ribu Semalam. Mau!? (Eps. 2)

Preambule II


Kuedarkan pandangan ke sekeliling, mencari-cari keberadaan agen bus malam.


Lo, kok nihil?


Aduh!? Apa aku missinfo, saat ber-BBM-an dengan Mas Doni Prast belum lama ini. Cah Salatiga itu berujar, banyak biro jasa penjual tiket bus malam di Banyumanik. Jangan-jangan, yang dimaksud beliau adanya di terminal, bukan di pertigaan Sukun, sesuai persepsiku.


Dengan langkah pantang menyerah dibarengi elan ‘45, kuseberangi jalan, menyusuri trotoar di tengah siang nan terik dan menyegat. Siapa tahu, aku menemukan adanya kantor atau agen perwakilan salah satu PO di sana. Mall Carefour aku lewati, disambung pabrik jamu dengan trademark Jago dan kantor produsen mesin diesel asal Jepang, Kubota.


Ya Allah, ternyata jauh juga jarak antara Sukun hingga terminal. Barangkali hampir dua km-an ruang selanya. Aku pun bermandikan peluh, langkah kaki kian gontai dibebani isi tas backpacker, karena lambung belum disarati asupan makan siang.


Tapi semangat kembali menyala tatkala kujumpai sebuah bangunan mewah yang merupakan agen Rosalia Indah.


Inikah yang kucari?


“Oh, no…”  sergah nuraniku. “Itu bus pasaran, singkirkan dulu,” imbuhnya.


Stop…Bukannya aku memicingkan mata terhadap kedahsyatan Palur Epicentrum, meski aku sendiri belum sekalipun mencobanya. Probabilitas andai aku ingin mencumbui corak biru-merah-kuning-nya sangatlah besar lagi mudah, lantaran populasi armada yang bejibun serta jaringan agennya tersebar luas di seantero wilayah Jakarta.


Sreett…kucoret PO yang konon namanya memodifikasi jenis varian bunga, dalam daftar buruanku.


Jembatan penyebarangan pertama yang membujur di atas jalan raya Semarang-Bawen, kian terlihat jelas. Itulah ciri penanda, bahwa Terminal Banyumanik ada di “bawahnya”.


Kupijak terminal kecil yang jika panjang dikali lebar-nya mungkin hanya sekitar setengah hektar. Kuitari luasnya, serta kupandangi semarak plang nama-nama perusahaan otobus, yang menandakan inilah salah satu kawasan surga bagi busmania dalam hunting benda incarannya.


Puji syukur, setengah perjuanganku berbuah manis. Terminal asing serta belantara sukses kujajaki, tinggal kujatuhkan palu vonis, bus apa yang hendak kukencani malam ini.


IMG00178-20120409-1611


Kumasuki salah satu agen dengan papan mencolok PO Raya, dihiasi papan-papan kecil PO lainnya.


“Masih ada tiket ke Jakarta sore ini, Mas?” tanyaku memulai pembicaraan.


“Jakarta-nya mana, Mas?” balasnya dengan ramah.


“Mana saja boleh…” responku.


Aku tak mau, misalkan menyebut nama salah satu tempat di Jakarta, justru malah menciutkan pilihan armada yang hendak kuburu.


“Untuk Raya tinggal Lebak bulus, Mas.” jawabnya.”Cuma adanya kursi belakang.”


Aku membisu sambil melirik PO-PO lain yang ada dalam buku katalognya .


“Sumba Putra masih ada, Mas?” telisikku setelah melihat potret armada yang nama depannya merupakan inisial dari pemiliknya, SUManto BAnyakprodo.


“Adanya yang eksekutif Mas, tinggal kursi samping toilet. Tiket 150 ribu.” jelasnya setelah melakukan tele-konference dengan agen Sumba Putra yang lain.


“Yang agak depan, ngga ada, Mas?”


“Mau kursi samping sopir (CD), Mas? Harga selisih sepuluh ribu,”.


Aduh, bagaimana ya? Jujur, aku bukan penyuka last seat selling itu. Kurang nyaman, demikian dalihku. Aku lebih senang kursi legal di baris pertama. (Ya iyalah…)


“Sindoro (Satria Mas) gimana, Mas?” usutku sekali lagi, who knows yang jatah Tanjung Priok masih menyisakan bangku.


“Itu malah sudah habis dari kemarin, Mas.”


Oh me…Dalam juga palung pasar penumpang Wonogiri-an. Pantas saja, kue legitnya diperebutkan puluhan PO, dari level kakap, medioker hingga liliput.


Kuucapkan terima kasih kepadanya sebagai bentuk penolakan halus, dan aku berjanji akan kembali andai tak mendapatkan bus yang sesuai requirement.


Aku pun bergeser ke sebuah counter yang terletak di pojok terminal. Dari iklan marketingnya, begitu kentara kalau itu adalah agen resmi PO Gunung Mulia.


IMG00181-20120409-1707

“Siang! Masih ada tiket ke Jakarta, Om? Jurusannya mana saja boleh…” basa-basiku membuka transaksi. 


“Banyak Mas, ini Gunung Mulia masih pada kosong,” gamblang seorang bapak paruh baya. “160 harganya.”


Yah…Gunung Mulia. Entah mengapa, aura bus yang sering disingkat “GuMul” itu belum mampu membangun rasa ketertarikanku untuk mencicipinya.


“Kalau yang lain, adanya apa, Om?” kualihkan tawarannya meski beliau mulai gusar lantaran gagal membujuk calon sewa.


“Lorena eksekutif 155, OBL  eksekutif 150, dan Handoyo Ekonomi 65 ribu, Mas.”


Uh…tak satupun yang bisa mengunci interest-ku. Dari ekspresi manyun, Bapak agen tahu bahwa aku tak sekalipun kesengsem dengan alternatif yang disodorkan.


“Mau Tunggal Dara Putera, Mas?VIP, tiketnya 130 ribu” rajuknya.


“Plus service makan itu, Om?”


“Iya, Mas”


“Ke Pulogadung bisa ngga?”


“Bisa Mas, tapi nanti oper di Cibitung.”


Aha!!! Boljug alias boleh juga nih.


Ruang memoriku langsung memutar dokumentasi tentang bus berbalur cat merah kombinasi kuning, yang  terkesan ranum dan nikmat untuk direguk pesonanya. Dipercantik sketsa-sketsa grafis tak beraturan, goresan-goresan warna yang dimainkan semakin mempermanis tampilan luar. Seringkali perhatianku tercuri saat menatap kulit tubuhnya, yang menurutku anggun dan menawan, bak seorang Dara.


Tak apalah nanti berepot-repot ria, yang utama dan sakral, nafsu liarku untuk mencumbui Tunggal Dara Putera tak bertepuk sebelah tangan.


Apa sih istimewanya bus itu?


Dalam alam imajiku, bisa jadi itu nota protes yang dilayangkan para speed hunter atau comfort seeker untuk meminta klarifikasi mengapa aku lebih memilih bus yang bermarkas di Ngadirojo itu.


Aku hanya bisa ngeles, kadar ke-subyektifitas-anku dalam memilih dan mencoba “bus baru” dalam perbendaharaan turingku lebih menonjol. Hanya lantaran coretan bodi, hal sesepele itu lantas memburamkan nalar sehatku.


“Stop berpolemik mengapa mesti bus anu atau armada itu. Itu hak prerogatif seseorang, jangan diganggu gugat.” kilahku tegas. Hehe…


“Boleh, Om. Adanya bangku nomor berapa?” lanjutku  mengiyakan.


“Maaf Mas, kalau bus sudah lewat kantor pusat, tiket dijual tanpa nomor kursi. Tergantung mana yang kosong”.


Lo, kok aneh, ingkar dari adat kebiasan SOP ticketing bus malam.


“Jadi, minta jatah bangku bukan ke kantor lagi ya, Om?” tanyaku keheranan.


“Langsung sama kru bus Mas. Untung-untungan juga, bisa dapat kursi depan, tengah, bisa juga belakang”.


Aduh, kok nyeleneh begini. Kru merangkap agen berjalan?


Ah, tak apalah. Semakin aku banyak menuntut, justru semakin mempersempit pengeksekusian rencanaku. To the point saja.


“Saya pesan satu ya, Om?” pintaku.


Kemudian diteleponnya awak bus dan tiba-tiba kabar gembira itu datang…


“Mas, ada penumpang Wonogiri nyancel tiket, bangku nomor 7. Itu buat Mas ya,” 


“Alhamdulillah ya Allah, Engkau berkenan memberi kemudahan dalam acara-acara pra-turingku,” lirihku bersyukur.


 

Sssttt…Tarif Kencan “Dara” Cuma 130 Ribu Semalam. Mau!? (Eps. I)

Preambule I 


 “Pak, ini tanda terimanya. Saya usahakan perbaikan mobil Bapak cepat selesai. Mudah-mudahan Sabtu ini bisa Bapak ambil”.


Demikian janji dari sebuah workshop body repair di bilangan Mlati Lor, Kudus, memungkasi proses klaim kendaraan yang kuajukan pada Senin siang, hari kesembilan di bulan empat.


Dan sesuai prediksiku semula, “mediasi perkara tripartit” antara nasabah, pihak asuransi serta bengkel rekanan begitu simpel, gampang dan tak bertele-tele. Tak sampai satu jam, prosedur yang kata orang ribet bin nyusahin itu paripurna.


Jam 12.15, aku pun sudah mematung di seberang terminal kebanggaan kota kretek. Tak ada niatan untuk pulang ke Rembang --tempat domisiliku-- sebelum balik ke Jakarta hari itu juga.


“Buang-buang waktu dan duit saja,” pikirku.


Aku telah berbulat tekad dan tentu saja, sebelumnya mengiba sign acc pada sang belahan jiwa, bahwa aku akan bablas ngulon pascaurusan asuransi itu kelar. Dan inilah misiku, mencetak peta baru menembus  pekatnya malam menuju ibukota.


Teetttt…teettt…nggrrengg…ngrrengg…


Dari arah perempatan Tanjung, sekelebat sebuah bus dalam keadaan “terbang rendah” bergerak mendekat. Kulambaikan tangan, sebagai isyarat bahwa aku butuh jasa angkutnya. Sayang, driver kurang jeli melihatku dan telat mengerem tunggangannya. Alhasil, dia berhenti agak jauh dari posisiku berdiri dan membuatku tergopoh-gopoh mengejarnya. Belum sempurna jari ini menggenggam erat handle pintu belakang, pedal gas langsung diinjak dalam-dalam. Aku pun terhuyung-huyung menaiki tangga berundak dan hampir tersungkur mencari tempat duduk.


“Alamak, apa sih ini maksudnya, serasa dikejar-kejar setan?” batinku.


Tak lama kemudian, di tikungan lampu merah Jati, armada dengan ciri “dwi warna – merah putih” itu meng-KO lawan entengnya yang tengah bermalas-malasan. CN-040 Maskapai Nusantara dengan livery siluet burung elang dijinakkan sebab dituding menghambat laju derasnya.


Selepas jembatan Tanggulangin, bus dengan registrasi L 7015 UY itu kian lari lintang pukang. Berondongan klakson pun diobral mengatrol derajat kebisingan di dalam kabin hingga di atas 80 desibel, menenggelamkan suara syahdu biduanita OM Monata yang disemburkan perangkat audio. Erangan moncong muffler yang telah robek dinding salurannya semakin memekakkan telinga, seakan jadi senjata pemusnah massal bagi para perintang.


Nggrrenngg…nggrrengg…


Sekonyong-konyong dari sisi kanan muncul rival sejalur, Sinar Mandiri Mulia (SMM) berbodi Nucleus 3. Pantura Grand Prix pun tersuguhkan antarkontestan liga Terboyo-Bungurasih Cup. Dalam rabaanku, tanding kecepatan nyaris mencium skala 100 km/ jam.


Oh ini rupanya, biang keladi yang membuat busku tergesa-gesa memusingkan roda?


Salah satu penggawa Kerajaan Restu hampir saja kuasa menyalip, tinggal menyisakan ¼ panjang bodi dan mulai menyalakan sein kiri untuk merampas jalan. Tapi, Prestige bikinan Tri Sakti tak mau mengalah dan bertindak curang ketika berusaha menyangkutkan moda N 7584 UG pada pantat truk gandeng yang bergeming di lajur kanan.


Dia pun kandas meng-overtake, dan kembali mengekor di belakang. Dengan lincah dan gesit, PO yang memiliki asma agung “Indonesia” meninggalkan seteru abadinya itu.


Laku urakan dan goyang zig-zig sampai membahayakan truk tronton bernomor polisi W 8665 UB. Terlibatlah cekcok mulut antar keduanya, saat pengemudi truk bertindak emosional, lalu menyejajarinya dan sengaja menipiskan gap tubuh antar dua kendaraan besar.


Wow…layaknya film koboi jalanan.


Apa yang aku takutkan sirna. Momok macet parah ekses peninggian badan jalan di daerah Trengguli tak jadi menyergap. Lalu lintas yang mengarah ke barat bergerak lancar, berbanding 180 derajat dengan jalur ke ke timur yang ketersendatannya telah mencapai 3 km.  Bus bumel PO Harum dan medium bus Shamita Semarang-Jepara sukses meninggalkan antrian dengan trik menjajah area berlawanan. Talenta, karakter serta nyali yang demikian seakan jadi prasyarat mutlak andai mereka naik grade jadi pramudi bus malam Muria-an.


Di lingkar kota wali, Jetbus HD “ijo pupus” PO Subur Jaya menghadapi kenyataan pahit, disembur emisi hitam HinoAK. Di lain soal, jurang posisi dengan Sinar Mandiri melebar, tak tampak lagi “obyek yang dibenci” itu nongol di sudut kaca spion.


Tensi dan determinasi pun dikendorkan, saat tapak roda menggesek aspal di seputaran Sayung. Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum berkode 44.50103, selanjutnya disinggahi bus yang hanya diminati belasan penumpang, menuntaskan dahaga akan segarnya minuman berenergi. Sebanyak 100 liter cairan bercetan number 48 ditenggak mulut tangki solar, sebagai cadangan bahan bakar untuk return to base nanti sore. Tiga menit kemudian, SMM 84, julukan bebuyutannya itu, sukses menyuksesi pole positionnya, menjadikan aksi nyepeed sepanjang 40 km jadi percuma.


Tapi, catatan waktu yang dilahap bus berkewarganegaraan Kalianak dalam menuntaskan etape Jati-Terboyo, bagiku cukup menjulang. Timer di gadget selularku mencatat 51 menit, minus 5 menit untuk pengisian BBM, yang jika dikalkulasi akan memampangkan data speed average  di atas 65 kph.


IMG00168-20120409-1226


Ngebut mode : on, bukan?


----


“Sukun bisa, Pak?” teriakku pada kenek PO Royal Safari, yang tengah bersiap meninggalkan akses keluar Terminal Terboyo.


Dibukanya pintu depan, dan aku memilih bangku di belakang ruang kemudi yang kosong.


IMG00170-20120409-1321


“Wah…konfigurasi seat 2-2 kapasitas 47 orang minus pendingin udara,” simpulku saat kutelisik daleman bus berkaroseri Laksana itu. “Bolehlah disebut kelas Bisnis Non AC Yunior.” Hehe…


Yup, Sukun. Sukun adalah destinasiku.


Sukun yang dipangku Kecamatan Banyumanik, Semarang Kota adalah tujuan awal sekaligus titik keberangkatanku meladang kembali ke bumi Si Pitung. Lapangnya kesempatan, unlimited budget untuk “weekly wira-wiri” serta rasa penasaran merasai taste bus Solo-an jadi pemicu serta pemacu mengapa aku benar-benar fight untuk pertaruhanku kali ini.


Awalnya, bus ber-STNK H 1586 BC beringsut perlahan sembari mengais penumpang, di belakang Ramayana model Clurit, Jogja-Semarang. Terlihat truk yang memanggul bongkahan kayu, muatannya miring ke kanan dan hendak tumpah, tak mampu meredam imbas gaya sentrifugal dari tikungan tajam sebelum masuk jalan bebas hambatan.


Belum satu kilometer melahap tol yang dikelola PT Jasa Marga itu, daya gedor Mercy OH 6 speed nampak, kala meninggalkan Adi Mulia “New Bento” Bandung-Kudus. Prestasi positif kembali ditorehkan, sesaat setelah membayar karcis senilai Rp2.500,00 di gerbang Muktiharjo. Dua bus wisata asal Bumi Pesantenan, PO Budi Jaya, masing-masing K 1593 GA dan K 1698 GA, disalipnya.


Mendaki tanjakan Jatingaleh,  bus yang piranti pencatat rpm mesin dan kecepatannya blank out itu tampak kepayahan, dan mesti geal-geol kanan kiri agar tak kehilangan torsi, sebelum akhirnya dilangkahi microbus Sumber Alam AA 1647 DC.


Namun, selepas gate Tembalang,  Hino Dutro long chasis dengan baju jahitan Adi Putro meradang, didului kembali oleh bus yang nge-rit Semarang-Solo tiga atau empat kali dalam sehari itu.


Finally, pukul 14.10, aku pun mendarat di pertigaan Sukun, yang kini berubah fungsi menjadi terminal bayangan bagi bus-bus jurusan Jogja, Solo serta Purwokerto, sejak diberlakukannya larangan bus AKDP/ AKAP menusuk jantung kota.

Separuh Rinduku Pergi (3)

“Payah tenan si A, si B, si C itu. Mosok jumlah penumpang sampai 48, yang dimasukkan ke DP (manifest) cuma 32. Ngapusi (berbohong) kok ngga kira-kira,” cerocos petugas kontrol bercurhat kepada awak ‘Sumber Urip’ saat dia melakukan sidak di atas kabin bersuhu 21.5 derajat Celcius. ‘Cik Noni’, yang juga merangkap sebagai checker Budi Jaya itu tampak geram atas ulah nakal kru dan agen bus beregistrasi K 1408 H, yang baru saja angkat jangkar dari pelataran rumah makan.


“Edan, sebanyak itu!? Ditumpuk dimana mereka?” aku bingung keheranan. Dua sapu jagat Pulogadung dengan slottime pemberangkatan dan kelas yang nyaris sama, tapi soal okupansi penumpang benar-benar njomplang. 25 versus 48. ‘Singa berkacamata’ benar-benar handal!


Dari perkara sarkawi tersebut, aku baru paham kalau Budi Jaya dan Tri Sumber Urip ternyata masih memiliki ‘hubungan kekerabatan’. Dan tebakanku dibenarkan oleh driver tengah. Pantas saja, mereka bergandeng tangan dalam menempatkan controller bersama. Secuil bukti yang lain, salah satu ‘RK Ungu’ Koh Paryono dengan mudah di-take over oleh PO yang baraknya terhampar di Margorejo, Pati. Dua hal itu seakan merefleksikan bahwa kedekatan antar keduanya cukup intim.


22.40


Bus yang mengusung livery bertema ‘cakar garuda’ itu memulai re-start. Tak ada beda signifikan dengan pemain pinggir, pramudi kedua yang kuharap jadi goalgetter malah melempem, cenderung memeragakan slow motion. Kecepatan dikurung antara batas 60-80 kph, tak ada aksi yang mampu menggolakkan enzim adrenalin hingga merambat mencapai titik didih. Seolah kevalidan akan cerita bus banter Muria-an diganggu gugat sendiri oleh salah satu follower-nya.


Bahkan ‘sekaliber’ 19A jurusan Tanjung Priok-Bobotsari dengan mudah menaklukannya.


Demikian juga koleganya, 56B, yang sedang mlaku thimik-thimik. Ia saja kuasa menyalip bus yang odometernya baru menunjuk angka 35 ribu kilometer, saat bersama-sama menjejak bumi Patrol.


“Benar-benar AKAP  rasa pariwisata.” gerutuku sambil garuk-garuk kepala.


Belum layu bibit-bibit kekecewaan, mukaku dibuat pucat pasi menatap Shantika ‘Kebo’ dan tandemnya, Masterbus, yang bersiap da da da da pada Rumah Makan Barokah Indah.


“Rawamangun mulai menyusul. Hancurrr…” bisikku dengan pahit.


Kegetiran itu bertambah tatkala Sinar Jaya 20S trayek Purworejo kian menenggelamkan busku di dasar klasemen. Barulah menjelang Rumah Makan Taman Selera melesakkan gol hiburan saat menyalip 70VX bodi evolution yang tengah menyalakan sein kiri. Hehe… 


Sebenarnya ingin kupejamkan mata selelap-lelapnya ketimbang menyaksikan ‘hewan Oktopoda’ jadi wahana bulan-bulanan yang lain. Namun, jok dengan brand Creative hasil prakarya pabrik C71 sangatlah menyiksa punggung. Aspek ergonomisnya tidak bisa kurasakan, dan itu diamini juga oleh partner sebelahku. Belum lagi semprotan hawa dingin AC yang dibiarkan leluasa merasuki lapisan bawah kulit, tanpa disediakan tameng berupa selimut sebagai pengusirnya. Sebuah nilai minus, tentunya.


IMG00197-20120413-1738

Kupaksakan tidur-tidur ayam.


Dan kesadaranku kembali pulih saat terperanjat menatap HR-07 “Yang Santun” yang  dikekang Mas Budi pamer kedigdayaan di daerah Arjawinangun. Luar biasa memang skill, naluri dan nyali  arek Tayu itu, saat menggempur barisan kendaraan yang padat, berjibaku mencari sejengkal celah untuk berkelahi dengan putaran waktu yang kian menghimpit. Benar-benar total driving.


Scorpion King dengan lampu buritan ala jetbus ini hanya bisa menjaga jarak dengannya hingga gerbang tol Ciperna. Setelahnya, kres-kresan “Midnight” itu hilang ditelan kosmos Pantura nan pekat oleh kepulan asap penghuninya.


Gegar prestasi sedikit demi sedikit mulai diperbaiki. Tercatat Raharja Putra Mulya (RPM) ‘Raga Suci’,  Sumber Alam Comfort AA 1620 AC serta Sinar Jaya 28S didepak dari posisi terdepan saat menggilas karpet hitam yang membujur sepanjang bentang tol Palimanan-Kanci.


Baru saja disanjung, bus yang berportal di trisumberurip@gmail.com melorot kembali, disingkirkan oleh Handoyo ‘Clurit’ AA 1412 CA di km 217. Tak lama berselang, duet Phoebus ‘Prestigious Bus’ dan HM 16 ‘Logis’ membabatnya. Si Kuning menyalip dari sisi kiri, sedang Red Titans melibasnya dari kanan. Komplit sudah penderitaan saudara tua PO Madu Kismo ini.


“Wis kono…balapan dhewe. Mengko njur der-deran maneh…” ledek anak muda yang berposisi sebagai kenek, mengacu kejadian saling sodomi yang kerap menimpa armada Haryanto. (Sudah sana…balapan sendiri-sendiri. Nanti terus der-deran lagi)


Dalam hitungan detik, Budi Jaya juga melaju kencang dari bahu jalan.  Bus yang tadi sempat diblacklist oleh checker Taman Sari berlari kesetanan, seakan-akan solar di dalam tak bakalan cekak, mengingat pendapatan non resmi begitu bejibun.


“Kenapa bus ini juga baru sampai sini? Mogokkah?”


00.32


Moda yang dilengkapi LCD TV LG 19’, Head Unit Kenwood serta Speaker X-site sebagai perangkat audio-video memilih way out  Kanci untuk meneruskan tripnya ke arah timur.


IMG00195-20120413-1732


Dewi Sri ‘Lebakbulus Kebayoran Lama’ sempat menemani Tri Sumber Urip yang sedang dalam kesendirian. Namun, kesetiaan menguntit si pelaners berbuah ketidaksabaran. Si Putih Mutiara berbusana garapan Equator itu kemudian meninggalkannya.


Sementara, di salah satu rumah makan daerah Gebang, terbaring PO Sanjaya yang tengah rehat. Kotak roda enam yang dulu pernah aku  naiki, dan masih membekas di memoriku, bagaimana kru bersedia mengangkut anak sekolah jarak dekat dengan alasan kemanusiaan. Benar-benar sebuah bus yang humanis.


Di Losari, switching terjadi, ketika Dewi Sri ‘Black’ diovertake, membalas kelakuan Dewi Sri G 1452 BE sebelumnya. Dan kemudian giliran Menara Jaya ‘Toyibah’ dilancangi ayunan kaki-kakinya.


Kota Tegal menyisakan catatan buruk, saat bus plesiran AB 7529 AS bergambar maestro musikus Beethoven dengan sentuhan karoseri Tugas Anda menggagahinya.


Fragmen seru terjadi di ruas Maribaya-Pemalang, ketika arak-arakan enam ekor bus, masing-masing Sang Putra Rembang, Sinar Jaya Hino RG Pekalongan, Budi Jaya New Travego K 1405 H, PO Kemenangan, yang mengkaryakan eks armada Subur Jaya K 1688 DD, Bandung Ekspress D 7849 AA serta Gunung Mulia Nucleus 3 saling bergantian bertukar posisi. Rukun dan saling mengusung asas gotong royong sebagai sesama entitas big bus.


Satu persatu penumpang mulai banyak yang turun. Di ringroad Pemalang, 50% penghuni telah hengkang dari lapaknya. Bahkan, nyaris setiap penumpang bisa mengakuisi sebaris konfigurasi tempat duduk yang berisi empat bangku. Tak terkecuali aku, yang bisa ndeprok dan selonjoran di deret kedua. Inilah yang lumayan membantu mengistirahatkan diri.


Hanya dua momen yang sanggup kuingat di antara peraduan semu. Yakni saat ‘menerjang’ area terlarang alias verbodden Turunan Plelen serta pergantian shift pengemudi di Lingkar Weleri.


Tet…tet…tettt…


Isyarat minta jalan dari klakson New Shantika membangunkanku, saat tapak roda menciumi aspal Mangkang, Semarang. Beriringan dengan Marcopolo Ungu, hadir pula PO Raya bernomor punggung 05 dengan jersey Panorama 3. Dan bertiga kemudian menelikung PO Sari Indah AE 7903 UB di wilayah Randu Garut, sebelum merangsek masuk Tol Krapyak.


05.04


Terminal Terboyo mulai menggeliat. Bus bumel, patas dan bus kota kompak semburat di pintu keluar, saling berlomba-lomba menjemput rezeki.


Busku mulai tampak keletihan dan semakin meng-keong. Lebih trengginas dua armada PO Cipaganti divisi Jogja masing-masing AB 7535 JN dan AB 7538 JN yang terlihat bersemangat mengantar rombongan peziarah. Namun lebih cepat dibanding Sumber Larees H 1458 CA Semarang-Lasem yang rajin memungut sewa.


“Kok selambat ini ya, Mas?” sesal sekondanku, abdi negara yang nyangkul di sebuah departemen pemerintahan di bilangan Utan Kayu itu.”Biasanya aku masih kebagian subuhan di rumah (Pati; pen) lo, Mas.” 


Mungkin perjalanan ini sebuah anomali.


Pemandangan bernuansa go green begitu kentara di etape Demak-Kudus. Proyek yang digagas salah satu perusahaan rokok dengan judul “Penanaman 1 Juta Pohon” mulai menampakkan hijau. Ribuan trembesi, samanea saman, dengan lebatnya daun-daun yang menempel pada dahan-dahan yang menjuntai, seakan membawa pesan, bahwa penduduk bumi pun masih punya aware terhadap kemerosotan mutu lingkungan. Program yang layak diapresiasi.


Aku pun melangkah ke depan, bersiap untuk turun, saat tugu selamat datang Kota Kudus mempersempit sudut pandang mata. Sekilas kutemukan Shantika Oranye didampingi PO GS Guvilli masih kongkow-kongkow di depan mushola kecil, di seberang pul Nusantara, Karanganyar.


06.10


Aku pun menghirup udara segar, membebaskan diri dari jerat kesumpekkan hati dan perasaan. 12 jam, hanya untuk merapatkan jarak Pulogadung-Kudus tanpa ada kendalan berarti di jalanan, bagiku terlalu lama untuk ukuran orang yang sungguh-sungguh menghargai waktu.


Untung, kali ini aku sekadar pelancong yang sesuka hati memainkan waktu. Andai aku berposisi dalam perjalanan ‘ibadah’ mingguan, bisa-bisa 2-3 jam terlambat tiba di rumah. Dan kudu siap-siap, menerima kartu kuning yang dilayangkan permaisuriku.


Seperti yang sudah-sudah, aku bakal kena sindir lagi, “Bismania kok keliru milih bus…”


___


Bicara ekspektasi, bagiku baru separuh yang bisa dipenuhi oleh penerus tahta Artha Jaya. Sebatas kualitas armada. Setengahnya lagi, terkait pelayanan on board dan off board , entah kapan bakal ditingkatkan, lebih-lebih disempurnakan olehnya.


Biarlah sementara waktu kubiarkan separuh rinduku pergi, hingga ada selentingan atau kabar bahwa Tri Sumber Urip selangkah demi selangkah mulai disegani, diidolai bahkan digilai. Barulah aku kembali kepadanya, menuntaskan dendam kerinduanku yang dulu sempat menghilang.


Bukanlah harapan yang muluk-muluk, bukan?


___


 Come on my neighbour, I believe that you can fly…higher…higher…more…and more…


IMG00194-20120413-1731


You’ll never walk alone, Meriam Lasem!There are many lovers that deeply care and always missing you! Include me… 


 


T – a – m – a - t

Separuh Rinduku Pergi (2)

Kucumbu menit-menit mendekati keberangkatan dengan ngobrol ngalor-ngidul bersama komuter dari Kota Pati, yang sepanjang malam akan jadi seatmate-ku. 


Dari sisi kanan bus yang dimanajeri Bah Do, melengganglah Nusantara HS 188, sembari mengais-ngais penumpang, mengisi sisa-sisa kursi yang belum terjual. Dan tampaklah special one, Mbak Tini, yang sibuk menghitung lembaran-lembaran rupiah di atas kursi CB, menyiapkan setoran sekaligus uang jalan bagi kru.


“So sorry ya, Mbak, kali ini aku menduakanmu. Hanya sementara kok, Mbak! Swear…someday, aku akan kembali ke pelukanmu eh…pelukan NS 39-mu.” iba batinku.


Di belakang NS-52 jurusan Jepara itu, menguntit PO Sido Rukun berhulu ledak Mercy nyeleneh, ‘OH 1559’. Moda darat berpaspor Semarang, menurut penuturan temanku, adalah bus yang paling istikamah dengan jam take off-nya dari Pulogadung, dibanding yang lain.


IMG00203-20120413-1757


Azan magrib telah diundangkan, gelap mulai melingkupi bumi. Belasan ‘kunang-kunang raksasa’ mencucurkan sinarannya, menjadikan kawasan terminal yang tak pernah tidur itu bermandikan cahaya.


Bus-bus jarak menengah semakin riuh berebut penumpang. Dewi Sri, Dedy Jaya, dan Sinar Jaya semakin agresif menjaring incaran, bersaing menunjukkan eksistensinya masing-masing. Semburan terompet khas Cirebonan ala Luragung Jaya cs yang memekakkan kuping pun turut memeriahkan suasana senja merona.


Sumber Alam AA 1503 CL, Pahala Kencana ’Nirwana’ B 7273 WV jurusan Bobotsari dan Sanjaya N 7058 UG telah menyelesaikan aktivitas muat, meninggalkan rombongan Muria-an yang diwakili busku, Selamet K 1564 FA - dengan ciri klasik kaca elips garapan Laksana-, Budi Jaya New Travego Morodadi Prima serta bus fenomenal dan penuh kontroversi, Setia Bakti, yang memajang trayek Pulogadung-Pati.


18.19


“Ayo…ayo berangkat!!” seru kru kepada para pegawai tiket Tri Sumber Urip, menandakan bahwa masa ngetem sudah di ujung penghabisan.


Beriringan dengan Luragung Jaya ‘Taalun Habibie’, bus yang baru mengangkut 20-an penumpang itu memulai kick off. Disusurinya ruas Pulogadung-Igi-Cakung yang masih penuh sesak oleh gelombang balik para migran menuju sekitaran kota satelit, Bekasi.


Bersamaan itu pula bergabung Harta Sanjaya AD 1542 AE serta loyalis body builder Laksana berkode 287078. Dipandu oleh rombongan enam mobil pemadam kebakaran yang tengah tergesa-gesa keluar markas, lalu lintas sesaat dapat terurai. Saat berebut jalan, spion kiri Scorpion King rilisan 2011 sempat menanduk bodi medium bus Bekasi Trans Jaya B 7729 YM. Tapi itu bukanlah insiden berarti yang mesti diakhiri dengan percekcokan antar awak kabin.


“Semarang…Kudus…Tegal…Pekalongan…” teriak Mas Kenek setiap kali melihat kerumunan orang yang tengah menanti kendaraan umum di pinggir jalan. Adalah kemubaziran, bila separuh kapasitas bangku tak mampu dikaryakan sebagai piranti penghasil uang. Tenaga sebesar 260 HP dari output mesin sangatlah sia-sia bila hanya mengangkut kursi-kursi tak bertuan.


Tapi tak satupun ekstra di dapat, sebelum pos kontrol sebelum gate in Tol Cakung jadi ‘dewa penolong’. Lima penumpang berhasil diraup, sedikit mendongkrak komisi agen kendati pendapatan yang dipatok kantor masih di bawah level ideal.


19.02


Selebritis Bumi Dampo Awang yang mengenakan gaun jahitan Tentrem Taylor itu mengembangkan layar, bersiap menjelajahi bentang sejauh 620 km hingga tujuan akhir. Setelah membayar retribusi tol, hingga menjejak teritorial Bintara, aku bisa menilai karakter sang nakhoda. Safety player, hanya main aman di area greenline, di rentang 1500-1800 rpm dari indikator putaran engine yang dipampangkan dashboard varian Hino RK8. Tak pernah lebih dari itu. Laju bus pun lesu darah, kurang bersemangat, determinasi yang ditunjukkan hanya pantas diberi nilai 4 dari skala 10.


Dua angkutan tiger (tiga perempat) Cikarang-Pulogadung tanpa sopan mengolok-olok jalannya, yakni PO Moga Putra B 7944 YL serta Bungsu Java B 7269 YL.


Mengunyah aspal Tol Cikampek pun setali tiga uang. Ogah-ogahan,tak ada gereget, dan lebih suka bergabung dalam komunitas ‘lajur dua-tiga mania’. Panggung catwalk ‘pamer pantat’ dibuka bus tanggung Hiba Utama B 150 di km 16. Disusul kemudian Gapuraning Rahayu Sidareja-Jakarta Z 7605 TA, Dedy Jaya ‘Selega Wannabe’ G 1616 GC, medbus Cipaganti B 7004 CGA serta di km 25 oleh  P9BC Kampung Rambutan-Cikarang.


Beruntung Sinar Jaya 38VX dengan kondisi bumper belakang yang kroak ‘dimakan’ tanjakan Ciregol, Gapuraning Rahayu ‘smiley’, Laskar Pelangi 43VX serta 41VX, Hiba Utama berbodi Prestige, plus armada paket Rosalia Indah nomor lambung 716 sedikit menghapus rapor merahnya, lantaran dibantu ‘kebersihan’ court yang dipilih.


Kontestan lain bergiliran meliuk-liukkan ‘keseksian’ bidang buritan. Sebagai penggunting pita adalah pemadu moda Damri 4445 berkostum Proteus, lalu dilanjut oleh Dedy Jaya ‘Gucci’. Tak ketinggalan PO elite Prima Jasa mengirim dua amunisi untuk turut menyemburkan asap ke paras bus yang berpendingin udara merek Termo Air, masing-masing B 7421 YL Bandung-Bekasi serta Evo-X kelas ekonomi B 7920 YL.


Yang patut aku warnai stabilo, armada terakhir sungguh-sungguh sadis dan mengagetkan jantung ketika menyalip, karena disertai lengkingan putaran turbo yang desibelnya menyamai gemuruh suara turbin pesawat.


21.03 


Traffic merayap menjelang pangkal tol Cikampek, saling berebut jalan tak terelakkan. Andai saja tak ada kepentingan sarkawi, pastilah exit Dawuan yang ditunjuk untuk membebaskan diri dari keruwetan di spot simpang Kopo-simpang Mutiara-simpang Jomin.


Berempat bareng Sinar Jaya Sobo-Poris B 7442 IZ, new comer Hasta Putra Matesih-Cibinong, dan Lorena New Marcopolo saling adu lincah menyusup di antara kemacetan.


Dan lagi-lagi, spion tanduk Tri Sumber Urip ‘nyangkut’ di badan sebuah elf pariwisata asal Wonogiri.


Din…din… 


Corong ‘peluit’ dinyalakkan olehnya, sebagai bentuk protes karena dilecehkan kendaraan besar.


Tampak Pahala Kencana B 7909 IW dan legenda lain Lorena New Travego sedang masuk pitstop Cikampek untuk lapor atasan. Demikian pula Rosalia Indah bernomor punggung 129 yang membukakan pintu bagi masuknya last passanger  di agen Jomin.


Yang sedikit membuat tersenyum geli, ‘jagoanku’ selalu meng-idem ditto dengan apa yang diperbuat PO Hasta Putra. Seringkali bus berpelat AD 1412 BF mengadu untung menyeser penumpang, dan R260 pun melakukan hal yang sama di belakangnya. Tapi apes, dua-duanya seiya sekata, tak satupun bisa menggaet sewa ilegal.


Ritual sa’i alias lari-lari kecil dilanggengkan. Di daerah Jatisari, ‘anak didik’nya zaman baheula, PO Haryanto, dilangkahi. Tentu bukan secara jantan, karena rasanya musykil ‘kawula muda’ kalah performa ketimbang generasi tua. Bus bernopol B 7048 VGA itu lagi belanja di sebuah outlet cinderamata dan oleh-oleh khas tanah Pasundan.


Tak lama berselang, sebuah truk B 9735 NK yang menggendong chasis bugil OH 1830 didahuluinya. Dan sepertinya, Malang jadi muara akhir untuk mendandani produk terbaru Mercedes Benz  yang dilengkapi air suspension built in itu.


“Semarang…Tegal…Pekalongan…” tak kenal lelah kru #3 mencederai slogan say no to sarkawi, saat bus ber-arrangement seat strata VIP ini melintasi Pasar Ciasem.


“Tegal berapa?” sahut salah satu balon korban.


“Enam lima…”


“Tiga lima, ya!”


“Ngga ah, lima puluh kalau mau!”


“Emoh, tiga lima.”


No deal. Dan untuk kesekian kalinya, bus yang berlambang bola dunia itu gigit jari.


Wuss…sekelebat obyek yang kuidentifikasi sebagai aset Pahala Kencana, B 7717 VB, mendamparkannya tepat di atas jalan raya yang membelah kompleks ‘mini Doly’ Indramayu.


22.05


Kemacetan tetap saja terjadi, seakan jadi immortal disease di atas panggung Pantura. Berderet ke belakang, Sumber Alam ‘Sapajane’, obyek bergambar beruang kutub, Hasta Putra, Rosalia Indah jurusan Wonosari serta bus-ku dengan sabar mengantri. Sementara jalur berlawanan sudah dicaplok DMI 39J serta Dedy Jaya Panorama 3.


Namun, setelah berhasil meloloskan diri dari biang ketersendatan, revenge dilakukan ke tubuh saudara tua dari  Batavia Ekspress 41J itu, berikut menghempaskan Dedy Jaya G 1603 CG. Sesudahnya, ketiganya pun berlaga ‘sengit’ sebelum baliho bertuliskan Taman Sari 2 membelokkan arah kemudi ‘Yang Kurindu’ ini ke haluan kiri.

Separuh Rinduku Pergi (1)

 

Entah berapa ‘lusin’ sudah raja kalajengking menetas di dalam sarang Karangturi, aku tak sanggup menerka angka pastinya. Dan entah senyawa warna-warni apa lagi yang bakal diguyur ke sekujur tubuh ‘jabang bayi’ barunya, aku juga tak punya daulat untuk mengira-ngira.


Adalah sebuah keniscayaan. Menyaksi gairah serta kebangkitan yang ditampakkan oleh ‘tetangga lima langkah dari rumah’, merekatkan serpihan-serpihan kerinduanku untuk mengacuhkanya kembali.  Sekian lama aku terkungkung dalam anggapan absurd, bahwa si dia kurang layak dijadikan penggedor pertahanan mesin absensi kantor yang jemawa terhadap nasib kaum buruh sepertiku ini.



Masih terpatri cerita tentang ‘gubuk gerita’ yang kulakoni dua tahun silam, seakan-akan membangun jeruji besi agar aku tak lagi-lagi memasuki ruangan kabin nan pengap serta sesak itu.


marcopolo-ts



Pun dalam rangka perjalanan pulang ngetan. Pendekar negeri litle Canton itu tak ubahnya liliput di antara gerombolan goliath yang berjuluk Pahala Kencana, Nusantara, Shantika ataupun Haryanto. Jurus-jurus yang dilayangkan belum mampu meluruhkan keengananku, kalah tangkas dengan sepak terjang jawara-jawara lokal yang lain.



Tapi, guliran masa merubah segalanya. Sebagai busmania, kudu kuberangus sikap antipati plus apriori terhadap satu PO. Babak-babak kehidupan tak ubahnya air laut, ada kalanya pasang, ada tahapan surut. Hal demikian berlaku pula dalam kelangsungan hayat suatu perusahaan otobus. Hari ini boleh terseok-seok, tapi, who knows, besok jadi kuda hitam nan mencemaskan pesaingnya.



Demikian celoteh alam pikiranku dalam menilai sosok sang jiran, Tri Sumber Urip, itu.



Tapi, kemudian timbul pertanyaan simpel. Kapan momen yang pas buat merasai sengat racun yang disuntikkan spesies Scorpion King, ngiras pantes (sekaligus) melepas kekangenanku padanya?


____



“Mas, sebenarnya sampeyan itu golongan orang yang menyia-nyiakan waktu,” kritik salah satu teman komuterku, pada suatu hari.



“Pulang ngantor jam setengah lima. Ngojek ke Pulogadung palingan butuh setengah jam. Kenapa ngga ngejar Kudus-an yang berangkat di atas jam lima? Misal nanti busnya habis Pati atau Kudus, kan tinggal nyambung. Setiap 10 menit sekali ada Surabaya-an.” imbuhnya berapi-api, tanpa kesan menggurui. “Daripada ke Rawamangun, eman-eman, buang-buang waktu dua jam-an, kan?”



“Syukur-syukur dapat ‘Tri’, langsung Rembang.” tandasnya lagi.



Wealah…pencerahan yang membikin melek keawamanku. Gumamku kala itu.



“Aku sering naik sapu jagat Kudus-an lo, Mas. Dan sepengalamanku, baru sekali disalip bus Rawamangun.” jaminnya bila suatu saat aku tunduk mengekor pada tradisi Jumat sore-nya.



Petromax dari sohib yang dipertemukan oleh ritual PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad) menebalkan keyakinanku, bahwa sejatinya ada ceruk untuk bersua dengan Tri Sumber Urip lagi. Tinggal bagaimana aku meng-arrange waktu dan tentu saja, sepenuhnya menyandarkan keberuntungan di ketiak Dewi Fortuna, tanpa embel-embel Anwar itu.



April - Friday, 13th 



“Tumben belum pulang, Mas, biasanya jam segini sudah tak ketahuan rimbanya”, canda rekan sejawatku, melihat aku masih berkutat dengan lembaran-lembaran kertas, saat pendulum waktu membandul menuju ambang senja.



Hmm…mungkin keberadaanku dianggap “keajaiban dunia” bagi mereka yang mafhum akan bad habitku, yang acapkali ngabur sebelum lonceng going home berdentang.



Yup, memang sore ini aku memutuskan untuk jadi karyawan teladan, pulang ontime. Toh, aku ngga dikejar waktu, fajar menyingsing kudu menjejak lantai rumah nun jauh di sana. Ada satu urusan yang wajib dipungkasi, sehingga destinasi kali ini bukanlah tanah kelahiranku, melainkan kota pencetak orang kaya nomor wahid Indonesia, Kudus. Jadi, aku full nyante, tak diburu target apapun.



17.15.



Segera kuturun dari jok roda dua, di pojok pertigaan yang ‘mengawinkan’ akses keluar terminal dengan jalan Bekasi Raya. Kulangkahkah kaki terburu-buru, diliputi rasa was-was akan kehabisan seat, lantaran inilah percobaan pertama pulang malam dari Pulogadung .



Dalam peneroponganku, sapu jagat Muria-an itu ibarat ababil, makhluk yang berkelakuan sesuka hati, sakpenak udele dhewe, tak punya aturan, lepas kendali, tak mau mengikatkan diri pada jam keberangkatan yang tentu. Sangat tergantung mood mereka sendiri. Angot-angotan istilah betawi-nya.



Saat situasi pasar tengah normal, beramai-ramai menampakkan diri. Ketika peak season, seringkali menghilang, bertolak belakang pada saat musim paceklik. Kebanyakan malah dihinggapi virus GALAU alias Gelisah Antara Lanjut Atau Udahan (udahan diperpalin saja, maksudnya), sehingga bukan barang aneh bus diinapkan barang sehari dua hari. 



“Situationally dan uniquely,” simpulku.



Untuk reason itulah, aku mencoba melakukan mapping time to travel secermat mungkin.



Pekan ini, dalam meterologi khayalku adalah masa pancaroba, kering tidak - basah pun tidak. Mengingat sebelumnya adalah long weekend, sehingga periode Sabtu-Minggu ini sepertinya tak banyak perantau yang mengagendakan acara bepergian. Ditambah realita bahwa akhir bulan masih jauh, setidaknya dua minggu ke depan adalah durasi tanggal tua. Pastilah demand akan kebutuhan bangku penumpang ajek, tak ada lonjakan.



Tapi itu hitung-hitungan matematis, fakta di lapangan bisa saja meleset. Harap dimaklumi, bila bayang-bayang tiket sold out sore itu tetap menghantuiku.



Saat pandangan mengerucut ke arah gate out terminal, tercenganglah aku pada sebuah wujud bercorak kopi susu, yang akhir-akhir ini masuk dalam salah satu DPO-ku.


IMG00193-20120413-1731



Wow…’enam kaki binatang melata’ itu seolah melambai-lambai ke arahku, bahwa ‘perjodohan’ yang kuidam-idamkan segera akan jadi kenyataan.



Segera kudekati, dan cepat-cepat kupanjati tangga menuju singgasana, tak sabar rasanya untuk lekas-lekas berteduh di dalam istananya nan sejuk.


“Kudus kan, Mbak?” basa-basiku pada seorang ibu yang tengah men-tiket-i seorang penumpang.



“Iya, Mas. Masih banyak yang kosong…”, jawabnya dengan penuh suka cita lantaran tak usah susah-susah nyari sewa, ini malah calon bidikannya sendiri yang datang menghampiri.



Sekilas kupandangi shaf-shaf bangku yang dijejalkan di atas chasis made in Japan. Memang melompong, hanya segilintir yang mengisi barisan depan. Shahih, episode ‘gagal panen’ penumpang.



Ayo, ada angin apa pulang dari sini?” sapa seseorang sambil mencolek lenganku, mengusik transaksi yang tengah berlangsung.



“Lho, Pak, naik bus ini juga?” aku pun terperanjat dibuatnya.



“Iya, Mas.” jawabnya dengan senyum keramahan.



Dunia memang tak selebar daun kelor. Beliau yang dulu jadi penasihat agar aku berani menjajal bus-bus kloter terakhir Pulogadung, kini malah jadi ‘sekondan’ bagi pertaruhan perdanaku. Beruntung sekali aku ini.



“Mas, sepertinya bus ini habis Maghrib baru berangkat. Maaf ya Mas, sepi…” kesah ticketing girl berbadan tambun terdengar parau di telinga, - yang belakangan kutahu namanya adalah Ibu May - setelah selembar tiket seharga Rp90.000,00 berpindah tangan.