Tampilkan postingan dengan label All About Transportation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label All About Transportation. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Februari 2010

Artha Jaya, Pencipta “Virus Muria”?


Dalam persepsi entitas pengguna bus, armada bus malam dari ranah Muria Raya (Jepara, Kudus, Demak, Pati dan Rembang) identik dengan kemewahan armada, good service, speedfull, high determination, aksi demonstratif di jalan serta gengsi gede-gedean sesama pengusaha PO. Inilah karakter unik yang tak dipunya daerah lain, yang kerap disebut “virus muria”.

Menanggapi virus ganas yang bersifat regeneratif dan akhirnya memberi warna deru operasional bus-bus dari lereng Gunung Muria, di dalam hati ini tergelitik pertanyaan, siapa pertama kali pencipta virus penyebab bus-bus Kudus-an terkesan glamour, wah dan tak ada matinya? Siapa peletak dasar standar minimal pelayanan bagi penumpang, untuk mengakomodir karakter sosial budaya masyarakat pesisir timur Jawa Tengah?

Saya tidak tahu persis jawabannya, karena tak satupun dokumen sejarah atau artefak monumental yang mencatatnya. Namun, obrolan dengan tetangga sebelah rumah yang 25 tahun silam pernah menjalani komuter Rembang-Jakarta, bisa sedikit mendatangkan pencerahan.

Teman saya bercerita, awal tahun 80-an jalur Kudus-Jakarta masih kategori sepi. Bukan karena sepi penumpang, – karena waktu itu sudah banyak warga yang merantau ke ibukota - tapi sepi armada. Justru yang ramai adalah jalur jarak jauh, Jakarta-Surabaya atau Jakarta-Malang. Imbasnya, calon penumpang harus “lari” ke Semarang, bila hendak ke Jakarta, karena jumlah bus sangatlah terbatas. Begitu pun sebaliknya.

Pelan tapi pasti, peluang ini diendus oleh salah seorang pengusaha dari Lasem, bernama Bing Soenarso. Pengusaha etnis Tiongha ini mendirikan PO yang dilabeli nama Artha Jaya, yang artinya uang (dikonotasikan rejeki) yang akan terus berjaya. Membuka bus malam dengan trayek Lasem-Jakarta dan Cepu-Jakarta. Bekal Om Bing sendiri adalah modal pengalaman mengelola bisnis transportasi angkutan ekspedisi barang.

Awalnya, Artha Jaya hanya menyediakan bis malam non AC, dengan mesin Mercedes Benz mesin depan (seri OF) berkaroseri Morodadi. Namun, penyediaan armada seperti ini kurang mendapat respon positif dari pasar, karena aspek sosio-cultural masyarakat Jawa Tengah bagian timur yang maunya kelihatan begaya saat pulang kampung atau balik ke Jakarta, termasuk pula dalam urusan armada yang akan dinaikinya.

Akhirnya, era mesin depan diakhiri dan digantikan mesin belakang (OH Prima), dilengkapi pendingin udara dan toilet, serta urusan karoseri tetap mempercayakan pihak Morodadi. Livery-nya pun masih gampang diingat sampai sekarang, berupa garis-garis tegas berwarna coklat tua dikombinasikan coklat muda, dengan background warna aurora white. Logo Artha Jaya mirip logo maskapai penerbangan Singapura, SIA.

Inilah era dimulainya bus malam Kudus-an bermesin belakang, produk Eropa dengan fasilitas AC dan toilet, dengan busana dari karoseri berkelas dan corak body mesti goodlooking.

Sohib saya juga menuturkan, dulu, soal attitude, driver-driver Artha Jaya tak kalah pamor bila head to head dengan penguasa jalur Jakarta-Surabaya, PO Lorena. Mereka berani adu kencang, bahkan meladeni setiap aksi penuh kecepatan PO yang melegenda tersebut. Toh, soal mesin dan karoseri tak kalah. Hasilnya, selalu tiba di tempat sebelum matahari terbit, baik saat di Jakarta atau di Rembang. Bahkan kabarnya Artha Jaya cukup disegani di jalan, sebagai raja kecil dari Lasem. Style driver yang suka ngebut pun tak lepas dari “kompor meleduk” para penumpang, yang tak ingin busnnya kalah bersaing dengan bus jarak jauh.

Inilah poin kedua, yang meninggalkan warisan bagi sopir-sopir generasi berikutnya bahwa bus Kudus-an kudu banter dan siap untuk adu kebolehan keterampilan di jalan raya.

Dan tambahan terakhir dari teman saya, PO Artha Jaya adalah PO yang terbaik dalam menjunjung service kepada penumpang. Selain perlengkapan armada berupa bantal dan selimut tebal, diberikan juga snack saat perjalanan. Layanan makan malamnya juga bagus, nikmat dan lengkap. Dan rumah makannya tetap lestari hingga sekarang, dan dipakai sampai saat ini oleh Tri Sumber Urip, yakni RM Kota Sari, Gringsing. Bahkan saat PO Artha Jaya berulang tahun, pada hari H diadakan acara kecil-kecilan, penumpang diberikan jamuan makan “cuma-cuma” dan diseling pembagian doorprize. Mirip acara ultah Nusantara ke-40 di RM Sari Rasa yang saya hadiri dua tahun silam.

Jaringan agennya hingga ke Kota Cepu dan Blora, dengan disediakan kendaraan feeder, mikro bus, yang akan menjemput dan mengantar penumpang. Penumpang cukup terbantu, apalagi saat itu masih jarang angkutan yang beroperasi di jalur Rembang-Blora-Cepu.

Inilah karakter virus ketiga yang akhirnya menjadi standar pelayanan minimal yang selanjutnya dianut PO-PO Kudus-an yang eksis sekarang.

Sayang, kejayaan PO Artha Jaya runtuh di akhir tahun 90-an. Bukan karena missmanagement dan ditinggal pelanggannya, namun tiada generasi penerus Om Bing yang mau melanjutkan usaha PO-nya, di saat Om Bing ingin pensiun menikmati hari tuanya. At last, PO Artha Jaya dijual kepada Tri Sumber Urip, yang ownernya masih punya hubungan saudara dengan Om Bing.

Namun, berkat kesuksesannya, Om Bing (panggilan akrabnya) berhasil menyekolahkan ketiga anaknya di perguruan tinggi di luar negeri. Dan setelah lulus, ketiganya memutuskan tinggal di luar negeri. Sekarang ini, “hanya” bisnis ekspedisi dan bengkel sparepart yang masih dijalankan.

Sekali kali tulisan ini bukan jawaban yang tepat atas pertanyaan “siapa pencipta virus muria”, ini hanya konklusi pribadi berdasar wawancara dengan seorang narasumber, mantan loyalis PO Artha Jaya.


Silahkan kalau ada yang berpendapat beda…

Senin, 07 Desember 2009

New Line dari PO Haryanto

Sekedar sharing temuan di lapangan.

Di balik ramai riuhnya pembicaraan tentang langkah fantastis PO Haryanto merintis line Jakarta-Madura, ada berita gembira lain yang tak kalah menggebrak.

Ternyata, hampir berbarengan dengan pelepasan armada perdana yang melintasi “jalur sakera” , The Blues dari Tangerang ini juga mengawali trayek anyarnya, Cepu-Jakarta via Rembang, melengkapi rintisan trayek Cepu-Jakarta via Purwodadi, yang telah dilaunching setengah tahun yang lalu. Berbekal karakter heroik yang selalu melekat dalam menjalankan bisnis transportasi, sang owner, Pak Haryanto, terlihat “gagah berani” bersaing dengan penguasa Cepu-Jakarta, PO Pahala Kencana dan bis terfavorit pilihan penumpang Cepu, Blora, Rembang, PO Nusantara.

Sinyal awal yang saya tangkap, adanya pembukaan agen PO Haryanto di Kota Sulang ( kota kecamatan yang berada di jalur Rembang-Blora, 12 km selatan Kota Rembang) akhir Oktober silam. Saya kira hanya "agen pembantu" untuk menjaring penumpang, tanpa adanya bis yang singgah di tempat ini. Penumpang tetap dinaikkan dari Terminal Rembang, "dititipkan” bis Bangilan-Lasem-Jakarta, pikir saya kala itu.

- Sebagai tambahan, daerah eks kawedanan Sulang (Kec. Bulu, Kec. Sumber, dan Kec. Sulang) merupakan penghasil "tambang penumpang" yang potensial. Yang pertama mengeksplorasi dan mengeksploitasi kekayaan ini adalah Pahala Kencana, yang membuka agen di daerah ini lima tahun silam. Dan kemudian, disusul oleh PO Lorena-Karina, yang membuka biro ticketing, yang berdiri berseberangan jalan dengan loket Pahala Kencana -

Bahkan saat saya hearing dengan petugas agen PO Haryanto Terminal Rembang, dan beliau mengiyakan ada amunisi baru untuk Cepu-Rembang-Pulogadung, sayapun tetap ragu. Jangan-jangan ini bahasa agen sebagai alat promosi dan propaganda, sekedar test case dan psywar bagi kompetitornya. Bukannya tidak percaya, karena sejauh ini belum pernah sekalipun saya memergoki bis ini melenggang di jalan raya Rembang-Blora.

Mencomot pepatah Cak Aam, “I believe it when I see it”, akhirnya keraguan saya terjawab.

Sabtu sore kemarin (5/12), dengan mata kepala sendiri saya menjadi saksi satu armada Setra Morodadi Prima MB OH 1521 PO Haryanto meluncur dari arah selatan menuju Kota Rembang. Namun, demi menyiasati pasar eksekutif yang masif, celah yang dimainkan “cukup” menghadirkan kelas VIP, agar tidak bersinggungan head to head dengan pemain lama. Ride is cheap, begitu slogan yang selalu diusung...

Meski masih mengandalkan unit lawas, akankah trayek Cepu-Rembang-Jakarta yang digenggam PO Haryanto ini juga akan berkibar, mengekor jalur Jakarta-Madura yang belum genap dua bulan dilewati ini telah mendapatkan tempat di hati masyarakat Pulau Garam?

Biarlah waktu yang akan menjawabnya…

Senin, 10 Agustus 2009

NS 39; Setahun 3X Suksesi

Setelah sekian tahun “dianaktirikan” sejak PO Nusantara membuka trayek Cepu- Pulogadung di awal tahun 2000-an, satu tahun terakhir ini, NS 39 (kode armada untuk trayek tersebut) mulai dielus-elus, digadang-gadang, dan menjadi point of concern dalam tata kelola operasional PO yang ber-basecamp di Kudus tersebut.


 


Banyaknya pelanggan loyalis yang tiap Jumat sore atau Minggu malam mempercayakan NS 39 sebagai armada tunggangan, yang serta merta mengusung karakter “sok high class” ala masyarakat pesisir timur Jateng, men-trigger regenerasi armada yang kontinyu.


 


Menjelang bulan puasa setahun yang lalu, NS 39 masih “digawangi” oleh HS 131 dan HS 133. Masih jelas terpatri di memori, ciri khas armadanya dengan model Setra Adi Putro MB OH 1521, dengan gambar tubuh berupa sekawanan kuda binal yang berlarian di pinggir telaga. Bahkan, HS 131 adalah armada wah di jamannya, lungsuran dari bis super eksekutif, sebelum datangnya Sang Scania, yang memaksa bis ini turun kelas.


 


Setelah masa lebaran 2008 berlalu, kedua armada dilengserkan karena sudah out of date untuk ukuran bis eksekutif (sekarang kedua bis tersebut sudah berpindah tangan ke PO lain). Digantikan dua armada ber-number tag HS 172 dan HS 188. Bentuk fisik ekserior masih mengunggah Setra Adi Putro, dengan new livery, Manhattan View.


 


Tidak lama berdinas, di awal tahun 2009 ini, dua armada generasi pertama NS 39  yang bersenjata MB OH 1525 kembali direnggut dari singgasana, dipensiundinikan dari kelas eksekutif dan demosi menjadi kelas VIP untuk trayek Tayu dan Jepara. Suksesornya adalah HS 205 dan 206. Sebenarnya, tidak ada yang spesial dari dua armada baru ini dari bis sebelumnya, selain tahun langsiran mesin OM 906LA yang lebih muda, 2008.


 


Seolah tak mau kalah dari kompetitornya, dan terus fight bertaruh mengambil pasar penumpang Cepu dan Blora, di awal Bulan Agustus ini, NS 39 kembali tampil baru. Penjualan armada lawas PO Nusantara secara besar-besaran, berimbas armada anyar diterjunkan mengaspal. Meski sementara baru satu armada yang menggantikan dan masih mempercayakan pada kemampuan mesin Mercy Electric, -- HS 206 disubtisusi oleh HS 211, HS 205 masih bertahan -- , tapi setidaknya menegaskan keseriusan PO Nusantara menggarap ladang emas, trayek Pulogadung-Blora-Cepu.


 


Mengapa disebut ladang emas?


 


Mulai menggeliatnya kegiatan eksplorasi minyak di seputaran daerah Cepu, baik oleh Perusahaan Petrocina maupun Exxon yang banyak mempekerjakan ekspertis dari Jakarta, serta sarana mobilisasi tugas kantor Cepu-Jakarta para pegawai Pertamina dan BP Migas, membuat kue penumpang dari Cepu terasa legit untuk diperebutkan.


 


Sampai kapan masa edar armada New Marcopolo HS 211 akan berakhir? Berkaca pada pengalaman, aku kok yakin, satu tahun mendatang HS 211 sudah down grade, hilang karier sebagai punggawa NS 39. Semoga…


 


Ingin menikmati layanan eksekutif, dengan armada “selalu baru” yang nyaman, berkelas dan speed oriented, namun dikemas dalam tiket yang murah, NS 39 adalah jawabnya.  


 


Inilah NS 39 terbaru PO Nusantara, dengan body coach kelas Royal Coach SE yang aku cicipi Hari Jumat (7/8) kemarin. Dunia memang cepat berbalik. Dulu, NS 39 hanyalah “langkah buang” bila tidak kebagian tiket NS 19, namun sekarang, justru armada Scania Rawamangun adalah alternatif kesekian bila tiket Pulogadung sold out.  



 [gallery]

 


Kira-kira, adakah dedicated bus untuk satu trayek yang lebih rajin meng-update armadanya lebih banyak dari HS 39 ini, setidaknya dalam setahun empat kali berganti armada?

Selasa, 21 Juli 2009

Shiatsu Massage On the Roads, Why Not?

 [gallery]

Belum genap dua tahun menggawangi kelas eksekutif, medio Juli ini, dua armada incumbent Garuda Mas B 7582 IW dan B 7583 IW dilengserkan dari tampuk pimpinan trayek Pulogadung-Purwodadi-Cepu.  Manajemen PO Garuda Mas me-renewal kedua armada ”smiley” tersebut, digantikan dua armada terbaru, yakni E 7937 HA dan E 7527 HA.


 


Duo armada inilah generasi kesepuluh armada numero one Garuda Mas, yang mulai dikenalkan ke publik transportasi per tanggal 9 Juli 2009 kemarin.  Sejak membuka kelas eksekutif di tahun 1990, dengan armada Hino AK berkaroseri IKA (Internasional Karoseri), beragam mesin dan karoseri pernah dicicipi. Mulai Hino RK, MB OH 1113 Prima, MB OH 1521 Intercooler, Hino RG, Hino RK8 dan yang terakhir MB OH 1525 Electric.  Setelah mempercayakan karoseri IKA yang telah almarhum untuk dua armada generasi awal, dan sempat memiliki model patriot ala Laksana, nyaris selama 15 tahun terakhir, armada eksekutif Garuda Mas bercirikan Rahayu Sentosa taste. Mulai era Setra, Milenium, Concerto, Celcius dan New Evolution. Namun, semenjak tidak puas dengan performa armada bermesin Hino RK8, dan berpaling pada produk Mercedes Benz OM 906 LA, Garuda Mas mulai Adi Putro minded.


 


Apa nilai plus plus armada gres Garuda Mas ini?


 


Selain berwajah New Marcopolo, dengan kelengkapan standar kelas eksekutif, dibenamkan fasilitas yang ekslusif, yakni kursi pijat. Dua kursi pijat bermerk Ogawa Smartmate ini diletakkan di dalam smooking area, memanjakan penumpang yang ingin melakukan relaksasi, membebaskan diri dari rasa pegal-pegal dan mengendurkan otot-otot tubuh yang tegang.


 


Meski terkesan kursi tambahan dari kapasitas tempat duduk yang ada (28 seat), namun kursi ini tidaklah dijual. Hanya dikhususkan untuk service bagi penumpang.


 


“Kami tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan pelanggan setia kami. Kami akan terus berimprovisasi, agar armada kami semakin nyaman dan berkelas,” janji salah satu petinggi pool Garuda Mas Pulogadung, yang sering dipanggil bos kecil oleh bawahannya. “Untuk layanan istimewa ini, kami tidak membebankan harga tambahan untuk tiket. Free untuk menikmatinya,”


 


Sewaktu penulis berkesempatan merasakan pijatan shiatsu dari robotical massage chair Garuda Mas, memang benar-benar sensasional. Saat tubuh terayun-ayun buaian suspensi bis, tubuh terasa rileks dengan pijatan lembut di sekujur punggung. Darah terasa lancar mengalir dan titik-titik akupuntur yang terstimulus memperkuat sistem syaraf dan otot bekerja. Worth untuk terapi kelelahan yang diakibatkan oleh perjalanan panjang. Layak kalau fasilitas bis-bis AKAP disempurnakan dengan layanan ekstra ini.


 


Tak bisa dipungkiri, lima tahun terakhir ini lompatan prestasi Garuda Mas terbilang spektakuler. Setelah membangunan kemudian mengkokohkan wilayah bisnisnya di daerah timur tenggara Jawa Tengah, perlahan tapi pasti hegemoni PO yang berhomebase di Kedaung Cirebon ini semakin nyata.


 


Soal pemilihan mesin untuk armada terbaru, Garuda Mas aspiratif terhadap karakter penumpang, yang terlanjur berfatwa “mau nyaman ya naik mercy”. Seolah tidak mau berhenti melakukan inovasi dalam menebar pesona kepada penumpang, armada kelas Bisnis dan VIP diupgrade sosoknya, dengan mesin buatan Jerman berkaroseri New Marcopolo Adi Putro.


 


Termasuk penambahan kursi pijat untuk kelas eksekutif. Bahkan, dalam sepengetahun penulis, Garuda Mas adalah bis AKAP pertama di Indoensia yang memberikan fasilitas “wah” ini. Bisa jadi, ke depannya, tren shiatsu on the roads akan diikuti PO-PO lain. Sedang untuk kelas ekonomi, sekarang ini Garuda Mas memberangkatkan hampir sepanjang malam saat weekend. Hampir tiap jam diberangkatkan armada ekonomi plus toilet, dengan beragam jurusan semisal Gemolong, Tayu, Sukolilo, Purwodadi, Blora dan Cepu.


 


Hasil kerja dan tetes keringat segenap keluarga besar Garuda Mas berbuah manis. Faktanya jalur Purwodadi-an telah dihijaukan oleh kepak-kepak sayap burung Garuda.


 


Bagaimana dengan nasib bis B 7582 IW dan B 7583 IW? Downgrade-kah? Dilegokah? Ganti status jadi armada cadangankah?


 


“Garuda Mas akan menambah armada eksekutif untuk Cepu Mas. Akan ada dua armada untuk sekali pemberangkatan. Meski untuk sementara, hanya saat hari-hari ramai penumpang, seperti menjelang weekend, libur sekolah atau lebaran. Rencananya, bis kedua akan berangkat jam 4 sore, baik arah Jakarta atau Cepu. Ini demi menanggapi keluhan penumpang, yang menganggap pemberangkatan Garuda Mas terlalu “siang”, papar Pak Alan, sopir senior yang menerbangkan Garuda Mas flight number 7937 HA, saat armadanya penulis tunggangi dalam perjalanan ke Blora, hari Jumat (17/7) kemarin.


 


Great news!!! Setelah beredar berita Pahala Kencana menutup kelas eksekutif Bojonegoro-Cepu-Pulogadung, lahirlah Garuda Mas yang akan menambal jumlah kursi yang ditinggalkan Si Ombak Biru.


 


 


Garuda di dadaku


Garuda kebanggaanku


Kuyakin hari ini pasti menang…


 


 



Kobarkan semangatmu
Tunjukkan keinginanmu
Ku yakin hari ini pasti menang…

Kamis, 16 Juli 2009

Big Bird; BMC Tandang Ke “Sarang Burung Biru”

[gallery]

Bicara soal transportasi umum di Jakarta, rasanya sebagian besar warga Jabodetabek tak asing dengan nama Blue Bird (Group). Ketenaran nama besar yang disandang Blue Bird tentu tak luput dari kerja keras dan perjuangan tak kenal henti para founding fathers, pewaris sesudahnya dan segenap karyawan lintas generasi, dalam membirukan jalanan ibukota dengan armada taksinya. Dari pengoperasian perdana berupa mobil bemo, raihan prestasi Blue Bird sekarang ini seolah menjadi cerita indah dongeng 1001 malam.  Dengan mencitrakan diri sebagai taksi andalan yang nyaman, aman, friendly, good service dan berorientasi pada kepuasaan pelanggan, membuat taksi ini menjadi pilihan utama para calon penumpang. Alhasil, 50% pangsa pasar kota metropolitan telah dipegang, walaupun perusahaan taksi yang lain tumbuh menghimpit.


 


Meski image Blue Bird  lekat sebagai armada taksi, namun sesungguhnya sepak terjangnya bukan hanya di bisnis per-taksi-an. Dalam usianya yang menapak 37 tahun, usaha yang awalnya dirintis oleh mendiang Ibu Mutiara Djokosoetono SH, kini rentang sayap Sang Burung Biru semakin melebar dan terbang kian jauh. Jangkauan bidang usahanya meliputi Pusaka Group dan Cendrawasih (regular taxi), Silver Bird (executive taxi), Golden Bird (limousine and luxury taxi), Big Bird (charter bus), Iron Bird (expedition truck) dan Restu Ibu (Carrosserie). Bukan hanya jago kandang di bumi ondel-ondel, perusahaan yang berlogo siluet burung biru terbang ini pun go public dalam skala nasional. Tercatat kota-kota besar di Indonesia -- Denpasar, Yogyakarta, Banten, Bandung, Surabaya, Semarang, Lombok, Manado -- telah dirambah. Seolah semakin menegaskan supremasi taksi yang berslogan “kejujuran kunci kesuksesan” ini sebagai  perusahaan taksi terbesar di tanah persada.


 


Dalam rangka menggali sejarah, wawasan dan pengetahuan tentang kiprah dan karir perusahaan transportasi Blue Bird, khususnya manajerial divisi charter bus, Big Bird, pada tanggal 7 Juli 2009 kemarin, Bismania Community (BMC) menyambangi pool Blue Bird di bilangan Mampang, Jakarta Selatan. Selaku wakil manajemen Blue Bird Group, yang hadir menyambut antara lain Bapak Tony Liandouw (Manager Corporate Image), Bapak Teguh Wijayanto ( Head of Public Relations), Ibu Istiqo Jakariyah (Manager Transportation Consultant), Ibu Sabar (Human Resource Development) dan beberapa staf Big Bird. Sedang dari pihak komunitas bismania terbesar di Indonesia, sekurang-kurangnya 20 anggota yang turut bergabung, dimotori oleh Sdr. Prima Wahyu.


 


Bertempat di aula meeting lantai IV head office Blue Bird, tepatnya di Jalan Mampang Prapatan Raya, No. 60, perhelatan “buka jalur silaturahmi” antara BMC dengan Blue Bird Group resmi dibuka. Acara ini sendiri dimoderatori oleh Bapak Tony, agar forum formal berlangsung menarik dan tertata. Sebelum pembahasan mendalam tentang Big Bird, kami diminta memperkenalkan diri oleh pihak Blue Bird, agar komunitas bismania semakin dikenal oleh insan-insan pengelola bisnis transportasi. Tak kenal maka tak sayang. Mewakili para pengurus dan anggota BMC, penulis didaulat sedikit “menguliti” sosok BMC. Meski tidak secara detail,  setidaknya tujuan pendirian BMC, visi dan misi yang diemban, keanggotaan komunitas, serta kegiatan-kegiatan yang membawa manfaat bagi masyarakat transportasi yang pernah diadakan, bisa tersampaikan. 


 


 


Tiba pada inti acara, kami dipandu langsung Ibu Istiqo, selaku manager konsultan Big Bird. Wanita berjilbab ini mengisahkan sejarah pendirian divisi charter bus, Big Bird. PT Big Bird lahir setelah 7 tahun berdirinya PT Sewindu Taksi, nama perusahaan resmi dari Blue Bird, pada tahun 1979.  Cikal bakal Big Bird justru dipantik oleh permintaan JIS (Jakarta International School) yang  saat itu berencana menyediakan sarana antar jemput bagi guru dan staf sekolah. Menindaklanjuti request JIS, akhirnya Blue Bird mencoba-coba bermain di kelas charter bus. Agar mandiri, independen dan tidak campur aduk dengan pengelolaan taksi, divisi ini dibuat terpisah, dengan bendera  PT Big Bird.  Ternyata, kala itu kue untuk charter angkutan massal  masih terbuka lapang, sehingga PT Big Bird serius menggarap peluang ini. Dengan sistem  pengelolaan, pengoperasionalan dan pelayanan mengadopsi divisi taksi yang well managed dan well operated, lambat laun Big Bird makin berkembang. Setelah mendapat suntikan baru dengan digandengnya konsultan transportasi agar PT Big Bird siap dan tangguh bersaing dengan charter bus yang semakin banyak bermunculan, pada tahun 2000 silam nama perusahaan diimbuhkan Pusaka, menjelma menjadi PT Big Bird Pusaka.


 


“Saat ini, kami memiliki ratusan armada untuk bis, terdiri dari bis kecil dengan kapasitas 10/11 kursi, yang kami istilahkan Bravo, bus medium 25 seat dengan kode Delta dan Alpha untuk bis besar, dengan konfigurasi tempat duduk hingga 54 orang.  Khusus big bus, selain piranti keselamatan seperti palu penyelamat, tabung pemadam dan pintu darurat, armada juga dilengkapi fasilitas penunjang yang akan memanjakan penyewa. Semisal AC, Radio Panggil, Tape Recorder, DVD, Microphone, dan TV. Rencana ke depan, akan kami sempurnakan dengan cool box, alat monitor GPS dan Wifi,” papar Ibu Istiqo dengan gamblang.


 


“Kami membatasi usia kendaraan tidak lebih dari 5 tahun, demi meminimalisir hal yang tidak diinginkan akibat umur armada. Sekarang, kami tidak lagi minded dengan mesin dan karoseri tertentu. Semua kami customized sesuaikan dengan keinginan penumpang. Komitmen Big Bird, armada kami harus aman, nyaman, tepat waktu, dengan profesionalitas pengemudi agar tercapai kepuasaan pelanggan”, tambahnya menyuarakan tekat perusahaan Big Bird. 


 


Sesi berikutnya dilanjutkan oleh Bapak Teguh Wijayanto, dengan topik Pengendalian Operasi Big Bird. Secara menyeluruh, Beliau menjelaskan bagaimana proses reservasi, perencanaan, eksekusi dan terakhir evaluasi saat armada Big Bird mendapat purchase order, sepanjang bis keluar markas hingga balik kandang kembali.


 


“Kami menerapkan FIFO (First In First Out), memprioritaskan pembooking yang jauh-jauh hari telah menentukan waktu perjalanannya. Ini memudahkan kami dalam menyiapkan armada dan kru, pemetaan jalan yang akan dilalui dan bisa membantu merekomendasikan tempat wisata dan akomodasi andai diperuntukkan bagi wisata. Bahkan kami bisa melayani permintaan mereka, untuk armada yang dipakai dan kru mana yang hendak dipercayakan”, ujar pria murah senyum ini.


 


“Selama perjalanan, armada akan kami pantau. Baik soal attitude kru, performa kendaraan, pemanfaatan fasilitas armada dan kondisi jalan. Pengemudi kami minta menginformasikan dengan segera bila menemui masalah di jalan, agar kami responsif mengambil langkah antisipatif. Jangan sampai, kenyamanan penumpang berkurang karena kinerja kami,” kata Pak Teguh dengan berapi-api.


 


 


Dan saat rantai acara indoor terakhir, kami mendapat pencerahan dari Ibu Sabar bab pembinaan dan pengembangan SDM, khususnya para pengemudi taxi dan bis. Mulai dari tahap requitment, tes seleksi, pembekalan safety driving dan economic driving, kursus bahasa inggris, reward and punishment atas hasil kerja dan pengembangan karir.


 


“Mereka (pengemudi-pen) ibarat ujung tombak pengelolaan bisnis transportasi. Penumpang adalah sumber pendapatan dan kelangsungan perusahaan. Para pengemudilah yang bertatap muka langsung dalam melayani mereka. Pengurus pool, pejabat direksi dan karyawan kantor tak pernah bertemu penumpang Kalau hanya membandingkan sisi armada, antar perusahaan taxi dan charter bus tak jauh beda. Bahkan untuk taxi reguler, banyak armadanya yang lebih baru dari kami. Namun, kami mempunyai keunggulan dalam membina dan me-menej para pengemudi. Inilah aset kami. Kami tak mau larut dengan banting harga, namun kami harus bisa melayani lebih baik lagi.” jelentrehnya penuh filsuf dalam membagi rahasia mengapa Blue Bird bisa berjaya sampai detik ini. “Kami tak pernah memandang mereka sebagai bawahan atau orang lapangan. Hubungan yang terjalin dalam perusahaan menganut asas kekeluargaan, saling mencintai, toleran, saling asah, asih dan asuh, sehingga terbentuk team work yang kuat untuk maju dan sejahtera bersama.”


 


BMCers pun tampak tekun menyimak kuliah sarat ilmu dari para petinggi PT Big Bird Pusaka tentang dunia usaha di bidang transportasi. Dari uraian panjang lebar dari beliau-beliau, dapat ditarik kesimpulan, kekuatan dahsyat yang menggerakkan roda Blue Bird Group adalah kerja keras, disiplin dan kejujuran, dalam koridor rasa cinta dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Dengan sentuhan moral dan tanggung jawab para pemegang saham, direksi, pengemudi dan karyawan,  kesuksesan pun bisa diraih. Bukan faktor modal dan kedekatan dengan penguasa semata.


 


Layaknya tamu agung, kami sangat dimuliakan oleh keluarga besar Blue Bird. Mereka menerima kami dengan keramahantamahan, kehangatan dan sikap terbuka. Cerminan budaya Blue Bird Families  yang bermurah hati dalam menebar cinta kepada sesama. Sebagai fase penutup, kami diajak makan siang bersama di dalam ruangan dengan menu masakan ala Jepang, dibagikan tanda apresiasi atas kedatangan bismania ke sarang burung biru berupa goodie bag, diberi kesempatan melongok kesibukan yang luar biasa para karyawan di main reservation room dan mendapatkan jalan-jalan gratis menengok pool bis Big Bird di daerah Ciputat dengan armada Skania Big Bird B 7851 XB produk Restu Ibu.


 


Wahai Burung Biru, kepakkan sayapmu lebih lebar, terbanglah makin tinggi. Songsonglah kejayaan yang membentang di angkasa biru…

Kamis, 02 Juli 2009

Spesies-Spesies Bis Built Up Kota Kembang

Spesies-Spesies Bis Built Up Kota Kembang


Oleh : Bismania Community Bandung



[gallery]

 


Saat ini, tidak banyak populasi bis built up yang beredar di jalanan. Tercatat yang masih rajin mengaspal adalah bis kota PPD, bermesin Mitsubishi, Isuzu dan Hino, beberapa unit Hino milik PO Agra Mas untuk trayek Tanjung Priok-Bogor dan yang akhir-akhir ini menjadi sorotan para penggemar bis, Scania Irizar K9IB yang dipangku oleh PO Nusantara, Kudus. Regulasi yang ketat dan rumit untuk impor kendaraan built up, mengakali para pelaku pasar dengan metode mendatangkan unit bis secara telanjang, hanya berupa chasis berikut mesin. Sedang urusan “baju”, cukup diserahkan bengkel karoseri yang tersebar di tanah air, khususnya Pulau Jawa.


 


Namun dibalik sisa-sisa armada utuh buatan luar negeri yang masih “relatif belum lama”, jika ditelusuri, ternyata ada bis built up yang datang ke Indonesia pada era sebelumnya.




Berbekal informasi dari Mas Adhie Bageur tentang bis bulit up berbentuk seperti toyota buaya berikut nomor ponsel driver-nya, Pak Donald, kami pun berburu keberadaan bis antik ini. Setelah melakukan kontak dengan beliau, kami diijinkan mengunjungi garasi armada jadoel ini, tepatnya di kompleks Universitas Advent Indonesia (UNAI), di Desa Parompong, Lembang,  Bandung


Saat kami memasuki pintu garasi, hanya ada tiga bis yang bagi kami sudah tidak asing lagi, yaitu 1 unit Mercy 306, dan 2 unit Hino RK Built Up. Namun, kami merasa asing dengan keberadaan dua unit bis dengan model era 70-an, yang biasa digunakan sebagai bis sekolah dalam tayangan film asing.

 


 




International Navystar

 


Species langka ini bermesin International, dengan kapasitas mesin 6.000 cc turbo dan mampu menyemburkan tenaga mencapai 170 HP, bertransmisi automatic, memiliki gross weight hingga 12 ton, serta dengan balutan body dari karoseri Navystar. Ada dua unit bis International, dan cuma ada dua di Indonesia. Bis ini buatan tahun 1990, dan didatangkan ke Indonesia pada tahun 1999 (bis berwarna putih bernopol B B7216 NN) dan tahun 2000 (bis hitam, B7019AX). Bis ini merupakan eks kendaraan militer tentara Amerika Serikat saat bertugas di Jepang.




Bis ini menggunakan AC gantung. Blower pendingin udara berada di bawah body bagian belakang. Dengan demikian, tangki solar yang dimiliki juga ada dua, satu untuk solar mesin dan lainnya untuk AC. Namun saat ini AC dalam kondisi mati, karena evaporator AC sudah keropos dan tidak dapat ditangani lagi.


Kaki-kaki depan bis ini sudah dimodif menggunakan komponen mercy, karena rem aslinya kurang pakem. Sementara komponen aslinya disimpan di gudang.


Awal mula kedatangan bis ini ke Indonesia dilatari ketidakmampuan rekotrat UNAI menyediakan armada yang mencukupi untuk antar-jemput tenaga perawat. Akhirnya Pak Yusuf, kepala bagian otomotif, mengajukan bantuan kepada mantan rektor UNAI yang berada di negeri Paman Sam. Kebetulan mantan atasannya tersebut dekat dengan salah satu pejabat militer di Dinas Pertahanan USA.


Sedianya, pihak UNAI akan diberikan bantuan sebanyak 4 unit bis International. Berhubung masih berstatus commisioning, atas permintaan Pak Yusuf, pada tahap pengiriman, akan diterima satu unit terlebih dulu. Baru setelah dinilai “layak jalan”, para kru mulai familiar cara handlingnya serta paham masalah mesin dan perawatannya,  sisanya akan diambil. Namun satu tahun kemudian, armada lain yang akan diambil ternyata sudah dihibahkan ke Yayasan Advent yang berada di Filipina sebanyak 2 unit. Dari satu unit yang tersisa, oleh mantan rektor UNAI ini, kemudian dimintakan bantuan sebanyak 15 unit kendaraann, diantaranya adalah 1 unit International Navystar, 2 unit Hino RK built up dan mobil-mobil lainnya.

 




Bis International yang sekarang ber-livery hitam, pada awal kedatangannya memiliki warna cat seperti bis International yang pertama. Namun karena ada kesalahan pada BPKB dan STNK, yakni tertulis warna kendaraan hitam padahal pada dokumen import tertulis putih, maka oleh Pak Yusuf “disulaplah” bis ini dengan warna hitam. Ini untuk mengakali kesalahan pihak Samsat dikarenakan dalam pengurusan BPKB dan STNK terlalu berbelit-belit.


Pernah Jadi Artis


Bis international ini pernah menjadi artis pada video klip lagu Peterpan “Di Atas Awan”, dan stripping pada dinding bis ini merupakan kenang-kenangan pada saat shooting . Tak sekedar itu, bis ini juga pernah main film “Sumpah Pocong”. Stiker “Eidelweis” merupakan stiker yang digunakan pada saat take picture untuk sumpah pocong. Kami pun tidak mau kalah dengan para produser rekaman, dengan memberi kenang-kenangan stiker yang kami tempel bagian pintu belakang bis langka dan berharga ini.



Hino Built Up sebelum PPD


Selain dua unit International Navystar, di pool kampus juga terdapat dua hino RK bulit up dari Jepang, dengan kapasitas mesin 10.000 cc. Bis ini dirakit pada tahun 1984, datang ke Indonesia bersama dengan bis International yang kedua. Bis ini datang sebelum Perum PPD mendatangkan Hino built up. Pada saat uji KIR di Jakarta, petugas berwenang mengira bis ini adalah milik PPD. Wajar saja, karena PPD sudah melakukan lobi terlebih dahulu dengan rencana menghadirkan bis built up seken untuk memperkuat armada bis kota. Padahal, faktanya bis ini bukan milik PPD, melainkan milik UNAI. Bis milik PPD baru datang 2 bulan setelah bis ini datang.


”Bis ini juga bekas kendaraan angkut para prajurit perang. Hal ini dapat dilihat pada derajat kemiringan jok --jok bersandaran tegak--, dengan fungsi agar penumpang tidak mudah mengantuk,” tutur Pak Yusuf menyampaikan ilmu berantai dari mantan rektor UNAI.


Pada pintu darurat ada sesuatu yang menarik, terdapat foto sebuah kursi lipat yang tersedia di dalam kabin bis. Namun dalam kenyataan barang ini sudah tidak ada. Ternyata kursi ini hilang pada saat proses bongkar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Tidak hanya kursi yang raib, banyak kelengkapan tambahan yang hilang, satu diantaranya manual book  dari pabriknya, International Navystar. Memang patut disayangkan.

.





Berguru Ilmu dari Pak Yusuf


Sewaktu acara “sowan”, kami mendapatkan banyak ilmu tentang per-bis-an.  Pengetahuan yang sangat berharga adalah ketika mendapatkan ilmu tentang bis International, bis yang hanya ada dua unit di Indonesia. Pak Yusuf dengan senang hati menyambut kami, berbagi ilmu tentang sejarah bis International dan Hino RK built Up.

Yang kami kagumi dari Pak Yusuf adalah pada saat kami tanya, “Bapak disini di bagian apa?”. Dengan rendah hati bapak yang asli Malang ini mengatakan, “Saya disini sebagai kepala otomotif, tapi juga sebagai supir, kadang kernet, montir, tukang cuci. Pekerjaan merawat bis-bis ini adalah pekerjaan saya, Pak Donald dan rekan-rekan disini semua.”

 


“Seorang pemimping seharusnya berada di depan, bukan dibelakang dan berpangku tangan saja. Saat memperbaiki bis saya juga ikut, kadang juga harus “ngolong” sampai rambut ini oli semua,” imbuhnya dengan bijak.


 


Demikianlah sosok armada built up yang dipunya UNAI. Berkat sentuhan dingin Pak Yusuf, Pak Donald dkk, bis-bis ini seakan sehati dengan kemauan dan harapan beliau-beliau. Tetap terawat mesinnya, laik jalan, terjaga kebersihan interior eksteriornya serta lestari keunikan dan eklusivitasnya.  

Rabu, 01 Juli 2009

BMC Jelajah Bumi Rembang (2); Geliat PO-PO Kota Garam

Mutiara dari Timur itu Bernama “Subur Jaya”


 


“Selamat siang, tamu dari mana ini?”, sapa Om Kenang saat kami beramai-ramai memasuki kantor PO Subur Jaya yang berlokasi di Jl. Pemuda No. 31A Rembang.


 


Sebagai tamu, kami pun mengenalkan diri beserta komunitas BMC dan menjelaskan maksud serta tujuan kunjungan ke PO Subur Jaya.


 


Kami sendiri ditemui Om Kenang dan adiknya Om Ari selaku tuan rumah, saat bertandang perdana ke pool. Mereka berdua adalah penggiat otomotif dan penggila modifikasi kendaraan. Sekarang ini, keduanya saling bahu membahu menggawangi pucuk pimpinan secara kolektif PO Subur Jaya. 


 


“Wah, ternyata ada komunitas bismania Indonesia. Dan banyak lagi anggotanya. Hmm…tapi sayang, semua armada kami sedang jalan wisata. Mau tidak, kami ajak melihat armada terbaru kami? Baru tiga hari kami ambil dari karoseri. Hanya inilah yang tersisa, karena sedang menunggu surat-surat resmi dari samsat keluar. Kalau berkenan, mari langsung ke garasi belakang saja!” ajak Om Kenang yang disambut suka cita rombongan BMC. Siapa yang tidak tergiur ditawari penampakkan armada baru.


 


Dan yang membuat kami takjub, sosok Hino RK8 dibalut busana Marcopolo buah karya Adi Putro masih fresh from oven, kinyis-kinyis dan wetlook serta plat nomor masih berlatar warna putih. Sangat-sangat menawan dan memanjakan indra penglihatan.


Armada Subur Jaya



 

“Inilah armada kedelapan kami yang baru Mas. Armada kami sebelumnya campuran, mulai Hino RK8, MB 1525 dan XBC-1518. Dan rencananya, tahun ini kami akan membeli 4 atau 5 unit lagi, karena kami selalu kekurangan bis akibat order yang melimpah untuk wisata,"  jelas Om Kenang. "Namun, tinggal dua pilihan mesin. Untuk XBC-1518, saya menilai lemah power, kurang tenaga dan minim dalam hal kenyamanan. Apalagi ditugaskan untuk wisata yang membawa penumpang bisa sampai 60 orang, Mercy ini kurang bisa diandalkan." 


 


“Untuk urusan karoseri, untuk bis baru kami percayakan kepada Adi Putro dan Morodadi Prima. Adi Putro unggul soal model, finishing dan kerapihan interor, sedang Morodadi menang dalam handling kendaraan saat dikendarai, kekokohan dan life time,” imbuhnya.


 


Kebetulan PO Subur Jaya masih satu kampung dengan penulis. Di tahun 80-an, cikal bakal Subur Jaya diawali dari bisnis angkutan dengan membuka rental kendaraan, dengan armada Mitsubishi jenis station wagon. Usaha awal didirikan oleh Kim Swie, ayah Om Kenang dan Om Ari. Kemudian berkembang dan terus mendiversifikasi usaha hingga angkutan micro bus Rembang-Blora dan medium Bus Sarang-Tayu. Ditopang bisnis lain berupa toko bahan bangunan, warung fotokopi dan alat tulis kantor, dan bisnis jual beli mobil bekas, sekarang bisnis Kiem Swie semakin menggurita di kota garam.  Dan seakan tidak puas dengan raihan bisnis yang telah ada, Subur Jaya mendirikan usaha big bus.


 


PO Subur Jaya baru berdiri pada tahun 2007. Armada terbaru pertamanya adalah MB OH 1525 model Setra Selendang Adi Putro. Tidak hanya menyandarkan unit baru, Om Kenang juga rajin menyambangi leasing yang menangani bis-bis bermasalah dalam pembayaran dan selanjutnya dibeli secara lelang. Harga yang didapat jauh lebih murah daripada membeli dari pemilik PO langsung. Hasilnya, satu persatu armada seken datang untuk memperkuat jajaran “amunisi”nya. Dan yang membuat kami mengacungkan jempol, bis-bis barunya pun di-costumized dengan kemewahan dan kenyaman armada. Tidak ada bis yang asal jalan, semua telah disulap dengan taste yang berbeda dengan bis lain. Dalam rentang dua tahun, sudah 20 bis besar yang digenggam. Belum termasuk armada medium, bis kecil dan sejumlah L300. Tak salah, kalau PO ini disanjung ibarat sang fenomenal.


 


“Kami tidak akan setengah-setengah mengelola PO Mas. Kami bosen otak atik mobil-mobil kecil, mainan kita sekarang kendaraan besar (baca : bis),” tekat Om Ari dengan bangga.


 


Kami pun mengamini semangat beliau, saat dipertontonkan armada barunya. Karoseri berkelas Royal Coach SE, dengan tambahan modifikasi berupa rangka support yang melekat pada chasis agar kendaraan tidak limbung, seperti yang dikeluhkan sopir saat membawa Hino edisi terbaru ini. Dengan corak bodi laksana colourmark telkom fleksi, yang menggugah hasrat dan selera bepergian bersamanya.


 


Saat menjajal piranti audio visual, kami tambah berdecak kagum. Suaranya menggeledar tapi tetap lembut di telinga. Setingan audio begitu pas dengan dimensi kabin dan media peredaman berfungsi secara nyata. Perlengkapan power audio, penambahan kapasitor bank hingga penempatan speaker dihitung secara cermat hingga menghasilkan kualitas suara yang jauh di atas standar, melebihi ekspektasi penumpang itu sendiri. 


Subur-Jaya-Interior


Dan sesuai janji Om Ari, nantinya semua armada terbarunya memiliki spesifikasi minimal seperti armada “Green Fleksi” ini. Untuk yang bermesin Hino, ke depannya semuanya akan dibenamkan piranti balon udara (air suspension) untuk menunjang kenyamanan.


 


Saat kami singgung tentang langkah bisnis ke depan, terutama rencana membuka bis AKAP reguler, Om Kenang menjawab dengan realistis.


 


“Sementara kami concern ke pariwisata Mas. Itupun kami masih keteteran menyediakan armada. Agen-agen wisata mulai dari Semarang, Kudus, Purwodadi, Tuban hingga Solo banyak yang telah menjalin kerjasama dengan kami. Kami sendiri tak pernah membayangkan, dalam jangka waktu dua tahun, nama kami telah dikenal luas. Justru ini semakin melecut kami, untuk selalu memperbaiki pelayanan yang kami berikan,” katanya berapi-api.


 


“Nah, beruntung ada BMC datang ke sini. Open saja, kami telah mengantongi ijin trayek Bangilan-Jakarta dan Cepu-Jakarta. Cuma kami tidak mau gegabah terjun ke bisnis AKAP. Kami sadari, bis wisata juga ada musim sepinya, demikian juga bis reguler. Kami ingin memadukan dua usaha ini, saling bergantian untuk mengisi. Kami masih perlu waktu. Kami balik menodong BMC, apa masukan, gagasan dan saran buat PO Subur Jaya dalam persiapan merambah pasar bis malam? Kami paham soal teknis kendaraan tapi kami buta dengan kondisi di lapangan!” tantangnya saat mengakhiri kunjungan kami. 


Subur-Jaya-Foto Bersama


Berikut ringkasan testimoni beberapa member BMC sesaat setelah kunjungan ke PO Subur Jaya.


 


Mas Hary : Ini bukan sekedar PO, ini sebuah kesempurnaan


Mas Indra : Kalau nanti nge-line, bisa membuat ketar ketir PO lain dan pasar penumpang bakal terkoreksi


Mas Ferry :  Ck…ck…ck…pesona bis-bis Plat K tak pernah ada habisnya.


 


Akankah mutiara terpendam dari timur ini akan menggeliat muncul ke permukaan?


 


Akhir Penjelajahan


Menjelang waktu ashar, rangkaian acara BMC Jelajah Bumi Rembang pun berakhir. Setelah setengah hari bertemu, kami pun berpisah, kembali dengan kepentingan dan keperluan masing-masing.


 


Konklusi yang kami dapat, hasil didikan alam Rembang yang keras dan panas, melahirkan sosok pengusaha bis yang handal, mumpuni dan tahan banting, seperti yang ditunjukkan Bapak Paryono, Om Kenang dan Om Ari.


 


Semoga kembali berjaya PO-PO Plat K xxxx D, berprestasilah selayaknya kejayaan yang pernah dicapai PO Artha Jaya puluhan tahun silam!   


 


 


Rembang, 14th  June, 2009 


Unforgettable moment with BMC.


 

BMC Jelajah Bumi Rembang (1); Geliat PO-PO Kota Garam

Hawa segar semilir angin dari puncak Argopuro dengan ramah menyapa rombongan Bismania Community (BMC) saat menjejakkan kaki di pusat kota Lasem.  Kota kecamatan di sebelah timur Kota Rembang ini sengaja dipilih sebagai tujuan kunjungan BMC, karena Lasem turut memberikan andil sejarah bagi perkembangan dunia transportasi darat di tanah air. Kota yang berjuluk “Litle Cantoon”  merupakan tempat kelahiran PO yang cukup legendaris, yaitu PO Artha Jaya, PO Indonesia, PO Kaloka serta PO Tri Sumber Urip, disamping angkutan ekspedisi, Hasil Lasem.  


 


Berawal dari chatting room antara penulis dengan Mas Hary Budi Wijaya saat membahas caper Ada Cerita dari Balik Gubuk Derita, akhirnya terbesit niat kami berdua untuk “mengetuk pintu”, bertamu ke pool PO Tri Sumber Urip (TSU). Bukan hal yang sulit, sebab arek Suroboyo ini memiliki kemudahan akses dengan owner TSU karena tidak lama lagi Mas Hary akan menjadi bagian dari keluarga besar PO TSU.


 


Setelah mendapatkan permit dari pemilik TSU, meski “proposal kunjungan” hanya secara lisan, kami sepakat menaikkan acara dadakan ini menjadi agenda kegiatan BMC, khususnya BMC Jateng Utara (Jatut). Bak gayung bersambut, Mas Ferry selaku Ketum BMC Jatut merespon dan memasukkan kunjungan ke TSU ini sebagai gawe resmi BMC.


 


Berdasar persetujuan dari pihak TSU, acara ini  dihelat pada hari Minggu, tanggal 14 Juni 2009.


 


Tri Sumber Urip, “Survive” Berkat Persaingan


 


Pintu gerbang bercat hijau pudar seakan hangat menyambut langkah kaki kami ketika memasuki areal pelataran pool TSU yang berada di pinggir daerah pecinan, Karangturi, Lasem. Sebelumnya kami sempat diwanti-wanti Bapak Paryono-selaku pemilik TSU- via Mas Hary, bahwa kemungkinan besar kami kurang beruntung menangkap fisik armada TSU karena sowan kami menjelang musim liburan sekolah, sehingga banyak bis yang di-charter wisata. Namun, Dewi Fortuna memayungi kunjungan kami. Tampak tiga armada TSU sedang standby, masing-masing bis bumel Lasem-Semarang yang dikaryakan sementara untuk pariwisata berbaju Laksana tipe Panorama, bis AKAP Tuban-Jakarta berwajah Sprinter produk Laksana dan “Si Pinky” dengan kostum Jupiter Li sentuhan Karoseri Tentrem.


 


Pertama kali, kami diterima oleh Om Ang dan Pak Kasimin, yang berprofesi sebagai mandor lapangan. Dalam acara ramah tamah dengan wakil TSU, kami mendapatkan informasi bahwa sekarang ini, kekuatan armadanya mencapai 40-an unit, meliputi 18 unit bermesin Hino baik dari generasi AK, RG hingga RK8 dan selebihnya Mercedes Benz, mulai era OH King, OH Intercooler dan “armada generik”, XBC-1518. Bahkan, Om Aang membeberkan berita, bahwa TSU sedang menunggu kiriman chasis MB 1525 dari pihak dealer MB.


 


Keponakan dari owner TSU juga menambahkan, saat ini pengoperasian bisnis angkutan bis tinggal menyisakan trayek bumel Lasem-Semarang, AKAP Bangilan/Tuban-Jakarta serta divisi pariwisata.


 


Tak berselang lama, seorang Bapak nan bersahaja datang dengan sepeda motor butut. Penampilannya pun sederhana, mengenakan kaos kasual dan beralas kaki sandal jepit. Kami dikenalkan Pak Kasimin, bahwa beliau adalah Bapak Paryono. Kami tak menyangka, sungguh low profil, sederhana dan jauh dari kesan seorang bos PO.  Beliau tak segan berbaur dengan karyawannya di pool dan turun langsung di lapangan.


 


Setelah berjabat tangan dan perkenalan, kami pun menjelaskan maksud kunjungan, mempromosikan BMC dan menjalankan salah satu misi BMC yakni menjalin kerjasama dan berpartner dengan para pemilik PO. 


 


Bapak Paryono, yang kerap dipanggil Koh Tho (baca : do) dengan antusias menjamu rombongan BMC.


Owner TSU





 

“Saya kaget saat Mas Hary menyampaikan rencana, dia dan teman-temannya berkunjung ke TSU. Ya…maklum, kondisi pool kita acak-acakan dan kotor begini. Jauh dari bayangan teman-teman Bismania, pool yang bersih, rapi dan tertata. Kita sedang melakukan renovasi bangunan ini. Harapan saya, semoga nanti saat kunjungan berikutnya, pool ini semakin cantik”, paparnya dengan gaya bercanda.


 


Seperti yang dituturkan, awal rintisan usaha TSU adalah bisnis angkutan truk barang yang didirikan oleh ayahanda Koh Tho. Pada tahun 1976, oleh Koh Tho, perusahaan ekspedisi dilebarkan sayapnya merambah usaha angkutan bis dengan nama PO Sumber Urip. Armada yang dipunya saat itu adalah Ford tipe D yang berbodi kayu dan melayani jurusan Kudus-Surabaya.  Jalur Pantura kala itu masih sepi dari hingar bingar persaingan bis. Kompetitornya hanya PO Marsadam, Indonesia, Adam dan Kaloka. Semua bis hanya beroperasi siang, karena belum jamak lumrah penumpang bepergian malam hari. 


 


Langkah selanjutnya adalah penambahan armada dengan Mercy LP 911. Termasuk saat di-launching OF 1113, TSU termasuk PO pertama yang  mencicipi.  Tak bisa dibantah, saat itu TSU boleh berbangga diri, karena inilah PO dengan trayek pendek pertama yang memakai mesin buatan Jerman dilengkapi dengan pendingin udara. Lebih maju selangkah dibanding dengan PO Artha Jaya, bis malam Lasem-Jakarta, yang belum mengaplikasikan Air Conditioned (AP). Dengan tambahan armada ini, trayek baru pun digulirkan, yakni Lasem-Tegal. Puas mencicipi armada Mercedes Benz, di tahun 1982, TSU mencoba pertaruhan dengan melirik Mesin Hino seri mesin BX.


 


“Sejak itu, kita hanya mengandalkan mesin Hino dan Mercy. Dahulu, saya sengaja mengadu dua mesin ini, dan kesimpulannya, ada nilai plus serta minus. Demikian pula untuk urusan karoseri. Kami telah merasai buatan Morodadi Prima, Laksana, Tri Sakti dan Tentrem. Tentu dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.  Kami tengah menjajaki karoseri Rahayu Sentosa untuk unit teranyar. Yang saya dengar, pengerjaannya tidak terlampau lama dan secara model, saya juga suka, luwes dan elegan, apalagi yang model Evolution. Kami ingin, sebelum lebaran, armada baru kami sudah siap”, ujarnya berbagi ilmu dan wawasan secara terbuka kepada BMC, berbekal pengalaman selama 30 tahun lebih menangani PO kebanggaannya.


 


Seiring berjalannya waktu, PO-PO bermunculan dan karena kekurangsinergian antar propinsi dalam  pengaturan jam keberangkatan bis dari terminal, membuat persaingan trayek Kudus-Surabaya tak terkendali.


 


“Contohnya bis saya yang telah mendapatkan prime time, jam-jam bagus. Tahu-tahu PO dari propinsi lain mendapatkan trayek dengan jam yang nyaris sama, bahkan hanya beda satu menit. Kita dipepet depan belakang secara rapat, sehingga feeling saya, terjadi persaingan tidak sehat. Apalagi TSU ini terhitung PO kecil, sehingga susah bertahan dalam desakan PO besar. Senasib pula dengan bis bumel Lasem-Semarang sekarang ini, yang tak kebagian penumpang. Semua diseser bis AKAP Surabaya-Semarang. Kami tetap paksakan jalan, karena saya juga harus memikirkan nasib kru bis. Soal keuntungan tidak perlu dibicarakan,” kenangnya dengan ekspresi muram.


 


“Akhirnya kami memutuskan menutup trayek Surabaya dan membuka trayek Jakarta di akhir tahun 1990. Dan nama Sumber Urip kita imbuhkan kata Tri di depannya, menjadi Tri Sumber Urip. Sebagai penanda, tahun itu kita tampil dengan semangat baru. Itupun sebenarnya langkah nekat, karena jalur tersebut juga telah dijejali trayek PO lain. Bisnis bis pun tak kalah sengit. Kalau tidak membunuh, ya bakal dibunuh. Namun saya yakin, selalu ada jalan dalam sengitnya persaingan,” tandasnya penuh optimis.


 


Bisa dinilai, periode saat ini adalah masa keemasan PO TSU. Setelah mengakuisi trayek dan armada tetangganya, PO Artha Jaya dan PO dari Tayu, Pati, Madu Kismo, dua tahun ini, PO ini rajin meremajakan armada lamanya dengan pembelian bis-bis tambahan, baik yang 0 kilometer maupun bis seken. Divisi pariwisatanya juga sedang berkibar. Banyak agen dan biro wisata menjadikan TSU sebagai mitra dalam menyediakan armada untuk paket wisata yang ditawarkan. Terlebih sekarang livery PO yang memiliki karyawan hampir mencapai 100 orang ini makin eyecatching dengan label “Pinky”, merayu mata calon pengguna jasa TSU, ikon moderen “kota dua budaya” ini.   


 


Kami pun dipersilahkan untuk menjelah isi pool dan melihat detail armada yang sedang “off tugas”. Kami tak melewatkan kesempatan ini dengan berfoto bersama, mencumbui armada dan memasang sticker BMC di armada TSU. Di hangar raksasa yang sedang tahap dibangun, kami menyaksikan sebuah armada model Celcius RS eks PO Efisiensi yang sedang menjalani proses air brushing, ganti stripping.


Foto Bersama Owner TSU


 


Di ruang belakang, kami menemukan chasis armada jadoel yang dipakai PO Artha Jaya dan beberapa bangkai komponen bis. Seolah melukiskan rangkaian waktu nan panjang dalam menemani kiprah PO TSU dalam kancah bisnis angkutan bis di bumi Jawa.


 


Saat kami berpamitan, ada perasaan bangga dan satu ucapan kata “salut” yang pantas dialamatkan kepada PO TSU. Meskipun PO dengan status medioker yang dimiliki orang kampung, tapi cara Om Tho menangani perusahaannya dengan penuh totalitas, pantang menyerah dan tak gentar menghadapi ketatnya persaingan dengan usaha sejenis, membuat kami  menyanjungkan apresiasi, bahwa Bapak Paryono layak ditokohkan menjadi pengusaha bis yang sukses mempertahankan kerajaan bisnisnya.


 


 


Lontong Tuyuhan, BMC meng-klik www.selalulapar.com.


 


Perlahan tapi pasti, hari merambat siang. Dan saat itu kami harus aspiratif terhadap tuntutan perut yang berangsur berteriak, “Lapar…!!!”. Perjalanan rombongan BMC diarahkan ke tempat wisata kuliner Kota Lasem, yaitu lontong tuyuhan. Wisata PO takkan lengkap tanpa wisata kuliner. Begitu dalih kami.


 


Di kedai nan sederhana yang terletak di kaki bukit Bugel, Lasem, di tengah areal persawahan dan kebun tebu, rombongan BMC mencicipi warisan masakan jaman Sunan Bonang saat menyebarkan ajaran Islam di daerah pantura timur Jawa Tengah.


 


 


Sedikit menginformasikan. Sebenarnya, lontong tuyuhan tidaklah jauh berbeda dengan opor ayam. Kekuatannya berada pada kuah santan yang lebih kental, gurih dan pedas hasil olah tumis cabai merah dan jahe, dengan sedikit tambahan kecap manis, serta perpaduan rasa rempah-rempah kemiri, bawang merah, bawang putih, lengkuas, kemiri, ketumbar, kencur, pala, dan kunyit.


 


 


 


Namun, dengan menikmatinya sambil berwisata alam, menghadirkan citarasa dan kelezatan yang lebih dengan opor ayam biasa.


 


“Maknyuss…” komentar Mas Ferdy, BMC dari Kota Pati, saat selesai melahapnya.


Selalu Lapar


 


Dalam suasana menyantap lontong tuyuhan yang kenikmatannya khas dan unik ini, kami semua berembug dan spontan lahir gagasan untuk berkunjung ke PO fenomenal “Subur Jaya”.


 

Benarkah Kursi Depan Favorit?

Mumpung lagi hangat di milis tentang bahasan posisi duduk paling favorit di dalam bis, yang hasil sementara menunjukkan elektabilitas kursi depan mayoritas dipilih, saya pernah punya pengalaman kontraproduktif dengan kesimpulan para khalayak bismania.


 


Ini cerita yang tertinggal dari perjalanan saya ke Adi Putro, Malang, saat naik Pahala Kencana HT 519 Tanjung Priok-Bangkalan.


 


Waktu menunjukkan pukul 12.15, sementara jam keberangkatan bis berkaroseri Panorama DX ini --sesuai yang tertera di tiket-- pada jam 12.00. Bis Pahala Kencana Travego make over by Centralindo di belakangnya sudah masuk terminal. Agen segera memerintahkan sopir dan kenek untuk bersiap berangkat, meminta menggeser posisi parkir bis hingga ke ujung exit terminal Tanjung Priok, sambil dia sendiri duduk di kursi kenek, merekap hasil pendapatan dari penjualan tiket serta mengisi formulir Daftar Penumpang (DP) yang nantinya akan dibawa kru.


 


“Isi berapa?” tanya sopir kepada Mbak agen


“Minus satu” jelasnya. (Maksudnya hanya satu yang tidak terisi)


 


Saat bis bergerak perlahan, ada calon penumpang berlari-lari mengejar bis. Bis pun berhenti.


 


“Mbak, masih ada tempat?” tanyanya.


“Masih Mas”, jawab agen lewat jendela, seraya kenek membukakan pintu.


 


Mbak agen segera menyiapkan tiket.


 


“Kemana, Cak?”


“Bangkalan”


 


Kemudian menuliskan nama penumpang, tujuan, nomor bis dan seterusnya seterusnya, sebagaimana tugas seorang agen tiket.


 


“Ini Cak, duduk-e sampeyan di depan,” kata agen menutup transaksi.


 


Saya yang menempati jok 1B, segera melirik kursi kosong di seberang lorong, sejajar yang saya dudukki, ternyata itu kursi terakhir yang laku jual.


 


Saya hanya tersenyum kecut dalam hati. Saat rombongan Bismania Community (BMC)  turing bareng, jatah kursi depan selalu jadi rebutan sehingga perlu diambil jalan mediasi dengan mengundi, bahkan ada wacana dilelang segala, justru kursi 1C (no.3) ini malah disiriki (dijauhi) penumpang.


 


He he he…

Sejarah Sarkawi

Lagi asyik baca-baca email yang lolos sensor di mailing list Bismania, timbul lagi tema lama, fenomena sarkawi. Jadi ingat, dulu ada member Bismania Community (BMC) pernah bertanya tentang asal muasal istilah sarkawi. Tepat rasanya, waktu acara “BMC for 41th Nusantara Anniversary”, Mas Andi Nusantara membagi kisah sejarah penamaan penumpang gelap yang dikenal dengan sebutan Sarkawi.  


Sejarah sarkawi dibidani oleh salah seorang kenek PO Pahala Kencana Kudus, yang bernama Sarkawi. Sebelumnya, penumpang tak resmi seringkali diistilahkan R-R-an atau penumpang gelap.  


Awal tahun 90-an adalah golden time-nya PO Pahala Kencana, saat mulai mengibarkan bendera di jalur Cepu-Kudus-Jakarta. Terlebih setelah redupnya PO Artha Jaya. Sebagai pendatang baru, tentu PO Pahala Kencana all out menggarap pasar penumpang. Selain menggelontorkan bis-bis dengan kelas eksekutif dengan service bintang lima, pihak manajemen juga bercita-cita menebarkan image bis yang aman dan nyaman dengan me-release kebijakan menghilangkan penumpang tak resmi, budaya kotor para kru sebelumnya.  


Punishment-nya pun tegas, ketahuan mengangkut penumpang gelap, kru kena skorsing, jatah nge-line pulang pergi (PP) dipangkas dan bakalan mengantongi surat peringatan. Untuk itulah, ditempatkanlah controller di beberapa titik di sepanjang pantura, untuk melakukan tugas inspeksi, mencocokkan jumlah penumpang dengan manifes surat jalan.  


Imbasnya, kebijakan ini tentu memberatkan para kru yang terbiasa berharap seseran dari penumpang tak resmi. Dan tentu saja, namanya aturan dibuat untuk dilanggar. Berbagai cara ditempuh kru, bagaimana bisa membawa penumpang tak resmi tapi luput dari pengawasan kantor. Terciptalah aksi kucing-kucingan yang terkadang membuat kita tertawa geli ketika mendengar testimoni seseorang yang pernah menjadi penumpang gelap. Sewaktu pemeriksaan, ada yang ngumpet di toilet, disuruh turun-jalan kaki-naik lagi setelah pos kontrol, disuruh tiduran dan ditutup selimut di area kandang macan (tempat istirahat kru) hingga metode yang paling ekstrim, disatukan dengan barang di ruang bagasi samping.  


Salah satu yang merasa dikecewakan kebijakan ini adalah Pak Sarkawi. Diputarlah akalnya, meski ada kebijakan yang “tidak manusiawi” baginya, tapi penghasilan tambahan harus tetap dapat diraih. Nekatlah dia. Sekali membawa lolos. Dua kali luput.  Dan seterusnya seterusnya hingga berkali-kali “titipannya” tak terendus sergapan petugas kontrol. Di kalangan para kru, Pak Sarkawi disanjung sebagai orang yang jago membawa penumpang gelap.


Tapi sayang, daya tarik magnet materi  terlalu kuat untuk memburamkan nurani. Pak Sarkawi kurang puas kalau hanya mengangkut segelintir penumpang. Alhasil, dia tersihir goda dunia dan lupa diri.  


Tak ada kejahatan yang sempurna. Pak Sarkawi akhirnya terkena batunya ketika dengan perjuangan heroik membawa penumpang tak resmi hingga berjumlah 17 orang. Bahkan ada guyonan, kalau aksinya patut dicatat oleh rekor MURI, sebagai kru bis dengan membawa penumpang tak resmi terbanyak sejauh ini. Bahkan dipastikan sebagai rekor abadi. Entah ditaruh di mana saja para klien-nya tersebut. Sehingga aksinya ke-gap oleh controller dan dilaporkan ke kantor.   


Pak Sarkawi pun dipanggil pengurus dan mendapatkan sangsi berat. Esoknya, di garasi Pahala Kencana Kudus dipampang  banner peringatan dari manajemen yang dialamatkan kepada para kru jalan, bertuliskan “JANGAN BERKELAKUAN SEPERTI SARKAWI!!!” 


Nah, semenjak itu nama Sarkawi terkenal di buku kamus pembicaraan antara kru bis, menggantikan istilah penumpang gelap.


 


Say No To Sarkawi…

Senin, 18 Mei 2009

BMC ke Malang; Mlaku-Mlaku Tambah Ilmu (2)

[gallery]

 

Simpang Raya, Malang Rasa Padang


 


Berhubung kegiatan mlaku-mlaku diadakan pada hari Jumat, panitia memberi space waktu kepada member BMC yang hendak menunaikan kewajiban sholat Jumat. Sebagai tempat “break” dipilihlah Rumah Makan Simpang Raya, yang terletak di Jalan Mondoroko No. 999 Singosari, Malang. Rupanya, di sini anak-anak BMC Jatut sudah menunggu, sesaat setelah datang dengan bis yang berhome base di Purworejo, PO Sumber Alam berbaju Proteus Laksana.


 


Selepas waktu sholat Jumat, pihak restoran telah menyediakan sajian khas ranah Sumatra Barat yakni nasi padang dengan lauk daging rendang dan gulai ayam. Dengan tambahan peserta dari Jateng Utara, gawe makan siang semakin semarak. Semua tumplek blek dalam antrian untuk mengecap lezatnya menu racikan dan olahan tangan koki Simpang Raya. Kala menyantapnya, masing-masing duduk berkelompok, bertegur sapa dan hanyut dalam pembicaraan ringan tentang bis. Tidak ada batas-batas kedaerahan, tanpa dikotomi member senior yunior dan tak perlu rasa jengah soal status sosial, semua saling menjalin silaturahmi yang diikat oleh tali berwujud hobi,  sesama penggemar bis.


 


Indahnya nilai kebersamaan!


 


Udara siang Malang nan terik, yang tak seperti biasanya, tak menyurutkan semangat dan antusiasme para peserta karena sebentar lagi akan mengawali acara puncak “Uklam-Uklam ke Malang”,  factory visit ke Adi Putro.


 


Menu makan siang ala padang yang nikmat dan  terasa pas di lidah, membuat lupa bahwa  saat ini kami sedang menginjak bumi Kera Ngalam.


 


 


PT Adi Putro Wira Sejati,  Jawaban Terkuak Sudah 


 


Keempat bis perlahan memasuki tempat parkir di depan kantor PT Adi Putro Wira Sejati, sesudah mendapat permit dari pos keamanan. Di area ini pula, berjajar rapi bis-bis yang siap diambil oleh pemiliknya setelah selesai di-karoseri. Salah satunya  adalah luxury bus Partai Demokrat (PD), yang kemarin digunakan sebagai sarana mobilisasi Ketua Dewan Pembina PD sekaligus Presiden RI, Bapak SBY, selama masa kampanye Pemilu Legislatif (Pileg).


 


Setelah turun dari bis, kami diterima langsung oleh para petinggi PT Adi Putro. Antara lain Bapak Simon Jethrokusumo selaku Presiden Direktur, Bapak Andreas Jethrokusumo sebagai Direktur Produksi, Wakil Bagian Pemasaran, Bapak Rendy serta Bapak Quanmo, serta jajaran staff manajemen Adi Putro.


 


Acara formal dibuka dengan kalimat penerimaan dari Bapak Andreas selaku pihak yang kedatangan tamu. Layaknya seorang tamu, Mas Alone Sutanto selaku Bagian Humas BMC juga mengenalkan tentang komunitas bismania, baik soal sejarah berdirinya, visi dan misi BMC, masalah keanggotaan, kegiatan rutin baik yang bersifat internal maupun sosial serta acara-acara yang telah sukses diadakan untuk memberi setitik manfaat buat kemajuan moda transportasi bis . 


 


“Saya cukup tercengang dengan kedatangan para bismania ke AP. Karena, baru kesempatan inilah kami kedatangan tamu dalam jumlah besar. Bahkan seingat saya yang terbesar, “ ujar Bapak Andreas yang diikuti applause panjang peserta yang hadir.


 


Dikarenakan jumlah peserta mencapai angka 200-an --yang terdiri dari 174 member BMC dan 15 perwakilan PO-- untuk mengefektifkan waktu dan memudahkan penjelasan materi saat melihat secara dekat proses pembuatan bis, peserta dibagi menjadi 4 kelompok dengan satu orang AP sebagai koordinator. Kami dilengkapi alat pengaman berupa masker, untuk mengantisipasi dampak polutan udara yang beterbangan dalam ruang kerja, seperti debu, cat maupun thiner.


 


Kami mendapat penjelasan gamblang dari para koordinator bagaimana proses bis itu dibuat. Dari pertama mencetak panel-panel bodi dengan bantuan mesin press (master cetakan dibuat sendiri oleh AP), pembuatan rangka model dengan proses pengelasan, dan perakitan rangka model di atas chasis. Di sini kami sempat mengamati para karyawan Adi Putro yang sedang meng-custom sistem suspensi  (per daun)  untuk digubah menjadi air suspension.   


 


Langkah selanjutnya “pembajuan” rangka baik sisi depan, belakang maupun kanan kiri, proses pendempulan bodi, pengecatan dengan sistem oven untuk bagian eksterior, penggrafisan livery baik dengan teknologi air brush maupun sticker printing,  penginstalan ulang sistem kelistrikan (wiring), pemasangan unit AC, pengerjaan bagian interior termasuk kaca dan pemasangan jok serta tahap akhir berupa finishing touch pada permukaan bodi dan quality control


 


Untuk final check, bis  menjalani pengecekan fungsi-fungsi kelistrikan, AC serta mesin, water resistant test (test kekedapan air) serta road test untuk menjamin bahwa armada memenuhi syarat laik jalan dan mematuhi regulasi keselamatan yang telah digariskan oleh regulator (Dinas Perhubungan).


 


Menurut penjelasan Bapak Rendy, produk AP memang berkiblat pada model-model yang sedang in di belahan benua Eropa. Dari era setra, new setra, travego hingga new travego. Meski AP sebenarnya memiliki model tersendiri, namun sesuai deal dengan user yang menginginkan model bis dengan Europe taste, khususnya Jerman, dan sesuai jargon costumer approach,  AP merespon keinginan pasar. Itulah poin yang kami dapat, mengapa AP bersikap realistis dan kompromis dalam mengembangkan produknya.


 


Setelah menjelajah setiap ruang produksi, kami pun kembali ke tempat semula. Acara diisi presentasi dari pihak BMC tentang hasil kuisioner soal produk AP yang telah disebar dan diisi oleh para responden, yang terdiri dari kru bis dan pengguna bis. Semua detail diungkap, mulai bagian eksterior, interior, toilet, tata letak ruang di dalam kabin, mutu produk, dan tingkat kepuasan penumpang. Berdasar hasil kuisioner, secara overall, produk AP dikatakan sangat memuaskan, meski banyak celah-celah yang mesti di”tambal” untuk memperbaiki kualitas produk AP. Kelemahan inilah yang disampaikan BMC kepada pihak AP, dengan harapan penilaian dari pengguna bis bisa dijadikan masukan untuk menyempurnakan sentuhan adikarya AP.


 


Pihak AP tak menyia-nyiakan kredit point berharga dari BMC. Dan berjanji, segala masukan, kritik, saran dan usulan terhadap produk AP akan di-follow up, karena hasil kuisioner adalah gambaran nyata di lapangan dari orang-orang yang bergelut dengan dunia bis.


 


Acara semakin meriah sewaktu diadakan sesi tanya jawab. Ganjalan, keawaman, dan teka-teki yang terkait dengan produk Adi Putro terjawab sudah. Dengan segala kerendahan hati berbagi ilmu para punggawa PT Adi Putro, semua dibeberkan secara jelas, agar bismania bukan sekedar mencintai bis, namun paham juga bagaimana bis itu sendiri dibuat. 


 


Seperti kunjungan ke PT Rimba Kencana, ritual tutup acara berupa foto dan penyerahan merchandise miniatur bis PO Bismania hand made Niki Kayoe Malang, digelar. Sedang pihak AP memberikan miniatur bis volvo New Marcopolo, sebagai kenang-kenangan, simbol bahwa BMC dan PT Adi Putro akan  berpartner mutualisme dalam memajukan transportasi bis di Indonesia. Tepat pukul 16.30 WIB, acara kunjungan ke Adi Putro diakhiri, dan berarti paripurna sudah rangkaian acara “BMC Uklam-Uklam ke Malang”.


 


Kesan bahwa dinding Adi Putro susah ditembus, terbalas oleh sikap welcome dan kemurahan dalam transfer ilmu tentang karoseri yang ditunjukkan oleh para pemilik Adi Putro.


 


Sukses dan jayalah Adi Putro!  Semoga akan selalu menjadi trendsetter dan barometer model karoseri bis di bumi nusantara.

Kamis, 14 Mei 2009

BMC ke Malang; Mlaku-Mlaku Tambah Ilmu (1)

[gallery]

Dalam benak para pengguna bis, bahkan seorang bismania pun, setidaknya pernah terlintas pertanyaan, “Bagaimana sebuah bis itu dibuat?”. Tahapan apa yang mesti dilalui oleh unit chasis berikut engine-nya, hingga menjadi produk akhir berwujud bis utuh? 


 


Berbekal hutang jawaban inilah, para pengurus BMC menggagas kunjungan ke perusahaan karoseri untuk menyaksikan langsung proses produksi bis. Beruntung, PT Adi Putro Wira Sejati mengulurkan tangan untuk mewujudkan keinginan dan harapan tersebut. Setelah melalui fase pembentukan panitia, pengajuan proposal kunjungan, penentuan waktu bersama pihak Adi Putro, pembahasan rundown acara, penyebaran kuisioner tentang produk Adi Putro, pengumpulan data untuk bahan presentasi, penyediaan  akodomasi dan transportasi selama kunjungan, dan berbagai macam persiapan lainnya, maka acara bertajuk “BMC Uklam-Uklam ke Malang” diputuskan untuk dihelat pada hari Jumat, tanggal 8 Mei 2009. Ada dua agenda yang ditetapkan, yaitu kunjungan ke PT Rimba Kencana, produsen jok bis dan factory visit PT Adi Putro Wira Sejati sebagai puncak acaranya. 


 


Makan Pagi, Menjalin Silaturahmi 


 


Pagi merekah berhias langit cerah, saat 3 rombongan bis tiba di Rumah Makan Bakpo Waluh. Masing-masing adalah kontingen BMC Jakarta dengan tunggangan New Travego Blue Star-nya, chapter Jogja dengan armada Setra Adi Putro Gege Transport dan skuad BMC Jatimers yang men-charter Setra New Armada Cahaya Mandiri. Sedang rombongan BMC Jateng Utara memberi kabar bakal terlambat karena ada satu hal di luar rencana, sehingga dipastikan tengah hari baru masuk Malang.


 


Rumah makan di daerah Lawang ini ditunjuk sebagai meeting point, sebelum rangkaian panjang acara “Uklam-Uklam ke Malang” dimulai. Sembari menikmati hidangan  menu nasi pecel khas Jawa Timur,  makan pagi secara berjamaah ini sekaligus dijadikan ajang beramah tamah dengan member BMC  yang berjumlah sekitar 125-an orang untuk saling mengenal lebih dekat. Karena selama ini hanya sebatas kenal lewat milis di dunia maya, sehingga pertemuan face to face ini mengendapkan keingintahuan bertemu wajah antar sesama member BMC, yang tersebar di seantero Nusantara. Wajah-wajah kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh tak lagi tampak, berganti keceriaan dalam suasana penuh kekeluargaan.


 


Setelah rehat sebentar di Rumah Makan yang terletak persis di pinggir jalan raya Surabaya-Malang ini, pukul 09.00 rombongan meluncur ke PT Rimba Kencana.


 


PT Rimba Kencana, Kompleksitas Pembuatan Jok Bis


 


Pintu gerbang di Jalan Janti Barat No. 1 dibuka saat  trio bis yang membawa rombongan BMC dipersilahkan masuk ke pelataran PT Rimba Kencana. Tampak deretan bangunan workshop besar, tumpukan batangan-batangan besi dan logam serta riuh rendah suara mesin produksi sedang bekerja mengiringi kedatangan BMC, untuk melihat dekat proses pembuatan jok bis. Kami disambut oleh Bapak Permadi dan Bapak  Tanto, selaku pimpinan PT Rimba Kencana.


 


Bagi penggemar bis, PT Rimba Kencana bukanlah nama asing. Jok bis dengan brand mark Hai adalah ikon produk PT Rimba Kencana. Jok empuknya telah banyak dipakai oleh PO-PO besar untuk dibenamkan di dalam kabin bis sebagai piranti tempat duduk penumpang. Tercatat PO Harapan Jaya, PO Bejeu, PO Shantika, dan PO Budi Jaya telah meyakini kualitas produk PT Rimba Kencana, sehingga armada-armada terbarunya menggunakan jok bermerek Hai.


 


Kami langsung disambut tuan rumah dengan aneka jamuan, dalam ruang dadakan yang di desain demikian rupa di area pabrik, dengan tempat duduk tamu berupa jok Hai yang siap kirim. Setelah saling memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kunjungan, kami langsung menuju line produksi jok Hai. Tampak kesibukan para karyawan dengan kompetensi bidangnya masing-masing. Mulai perancangan desain, pembuatan rangka dan komponen (onderdil), pengerjaan cetakan, proses moulding,  pengecatan, perakitan dan bagian quality control. Cukup rumit, kompleks dan tidak sederhana dalam proses pembuatan jok bis.


 



“Kelebihan merk Hai, semua komponen kami buat dan kerjakan sendiri. Hanya penjahitan kulit (kain) jok yang masih mengandeng mitra luar karena keterbatasan area pabrik. Untuk itulah, kami menjamin garansi produk kami seumur hidup. Bila konsumen klaim produk kami, kami langsung siap memperbaiki bahkan menggantinya. Karena kami sediakan juga suku cadangnya,”, jelas Bapak Permadi dengan bangga.   

 


“Kami selalu mengintip produk-produk jok dari luar negeri, khususnya buatan Eropa. Tiap tahun kami selalu mengikuti pameran bis dan produk-produk penunjangnya di Jerman. Sehingga produk kami selalu update, baik soal model, aspek ergonomis maupun sisi kualitas, “ imbuh lulusan S2 dari salah satu universitas di USA.  Ternyata nama Hai sendiri adalah nama Tiongha Bapak Permadi, sebagai branding jok buatannya.


 


Puas berjalan-jalan di area produksi, dilanjutkan dengan acara tanya jawab. Pertanyaan-pertanyaan seputar jok bis dilontarkan oleh para member BMC. Seakan tak mau melewatkan kesempatan langka untuk mengggali ilmu dan wawasan dari Bapak Permadi dan Bapak Tanto, ayah Bapak Permadi.  Dari sesi ini, kami pun tahu bahwa PT Rimba Kencana sendiri bukan terbatas membuat jok bis, namun mendiversifikasi usahanya dengan memproduksi inverter dan spion elektrik untuk bis.


 


Tak terasa, waktu terus merambat siang. Berhubung keterbatasan waktu, acara kunjungan ke PT Rimba Kencana pun diakhiri dengan foto bersama serta penyerahan merchandise kepada Bapak Permadi sebagai bentuk apresiasi atas kerjasama yang terjalin. Tak lupa ucapan terima kasih dari Mas Dudi Bambang selaku panitia dan wakil BMC atas sambutan yang luar biasa oleh pihak PT Rimba Kencana.

Rabu, 29 April 2009

BMC for Nusantara’s 41th Anniversary

[gallery]

Tepat pada Hari Sabtu, 25 April 2009, kiprah PO Nusantara dalam blantika transportasi bis Indonesia genap menapak usai 41 tahun. Rangkaian perjalanan yang panjang, berliku,  diwarnai era pasang surut, serta penuh tantangan dan hawa kompetisi,  untuk mematangkan sebuah bisnis transportasi hingga berkembang menjadi besar.  Dari rintisan awal berupa pengoperasian 2 unit armada merk GAZ buatan Uni Sovyet pada tahun 1968, kini PO Nusantara memiliki “kekuatan” mencapai 400-an unit armada.


 


Core businessnya bukan semata mengelola bis AKDP dan AKAP, namun merambah pula bis pariwisata (dengan nama Symphonie) hingga usaha ekspedisi barang (di bawah bendera Nusantara Courrier Service). Perjuangan pantang menyerah dan kerja keras tanpa lelah dalam mengutamakan pelayanan kepada pengguna jasa menghantarkan hasil nan gemilang. Nama Nusantara kian lekat dan tertanam di hati masyarakat pengguna moda transportasi bis. Berkali-kali gelar PO terbaik versi Dinas Perhubungan berhasil digenggam, sebagai bukti bahwa citra dan eksistensi PO yang sekarang dipimpin oleh Bapak Handojo Budianto ini layak mendapat award dari pemerintah.  


 


Sebagai wujud apresiasi dan penghargaan bagi PO Nusantara, di hari ulang tahunnya kemarin, Bismania Community (BMC) menyerahkan nasi tumpeng dan karangan bunga kepada manajemen. Selain sebagai bentuk ucapan selamat atas ulang tahun yang ke-41, acara ini sekaligus sebagai simbol bahwa kerjasama yang telah terjalin antara BMC dan PO Nusantara akan terus dilanjutkan.


 


Pas tengah hari, acara potong tumpengan dihelat. Acara dibuka langsung oleh Mas Ferry “Gus Gopenk”, yang membeberkan maksud dan tujuan kunjungan BMC ke Pool Karanganyar. Mas Andi, selaku wakil dari pihak Nusantara, yang menerima “paket penghargaan” ini mengaku cukup surprise. Di saat PO Nusantara tidak menggelar acara khusus untuk merayakan ulang tahun yang ke-41, kepedulian dan antusiasme member BMC untuk berbagi kebahagiaan, membuat keluarga besar PO Nusantara merasa tersanjung dan bersuka cita.


 


“Saya sampai membatalkan satu acara, setelah dikabari kalau anak-anak Bismania datang ke sini. Bagi saya, bertemu dengan Bismania adalah waktu berharga, karena saya bisa mendapat masukkan, saran maupun keluhan tentang kondisi di lapangan tentang PO Nusantara”, tandasnya.


 


Sebelum dimulai acara puncak, doa bersama digelar. Doa pengharapan semoga PO Nusantara makin berjaya dan sukses dalam menjalankan roda bisnisnya, menjadi PO yang makin diperhitungkan perannya dalam menunjang perekonomian nasional. Selanjutnya pucuk tumpengan dipotong sendiri oleh ketua BMC Jateng Utara untuk selanjutnya diserahkan kepada Mas Andi. Dengan senyum bahagia, wakil tuan rumah ini menerima potong tumpeng seraya menghaturkan ucapan terima kasih kepada BMC atas prakarsa untuk merayakan ulang tahun bersama pihak Nusantara.


 


 


Akhirnya, sebagai bentuk kebersamaan, tumpeng dan hidangan pelengkapnya dinikmati bareng-bareng. Dari pihak PO Nusantara, selain  Mas Andi, hadir pula Mas Kiki “Patas”, sehingga acara makan siang dijadikan ajang ramah tamah, dengar pendapat, tanya jawab dan “pertemuan bilateral” antara PO Nusantara dan BMC. Banyak berita dan kabar terbaru dari PO Nusantara yang diwartakan Mas Andi dalam menghadapi sengitnya kompetisi antar PO. Sedang dari pihak BMC tak lupa menyampaikan ucapan terima kasih kepada PO Nusantara, karena selama ini telah banyak membantu dan membimbing komunitas Bismania agar menjadi komunitas yang “bernilai” dan bisa memberikan peran positif bagi kemajuan dan perkembangan dunia transportasi darat, khususnya moda bis. Meski dilangsungkan dalam suasana sederhana dan santai ini,namun tidak mengurangi kekhidmatan dan kemeriahan acara.


 


“Di tengah persaingan yang kian kompetitif, PO Nusantara akan all out, tidak cukup hanya berpuas diri dengan pencapaian sekarang, kita akan terus fight”, tekat Mas Andi sebelum mengakhiri even BMC for Nusantara’s 41th Anniversary.


 


Selamat Ulang Tahun ke- 41  Nusantara!!! Selamat dan sukses, semoga tetap berkibar sebagai PO terbaik, terunggul dan terdepan dalam pelayanan dan inovasi.

Minggu, 05 April 2009

Sarasehan Hinomania, Sebuah Pencerahan

[gallery columns="2"]


 




Dalam riwayat sejarah transportasi bis, Hino turut memberi “warna dominan” bagi operasional PO-PO yang bertebaran mulai ujung barat hingga ujung timur Nusantara. Meski selama ini persepsi para pengguna bis masih menempatkan mesin Mercedes Benz sebagai bis nomor wahid dalam urusan kenyamanan, kemewahan dan gengsi, tapi sosok Hino tak boleh diremehkan. Bagi kalangan yang bergelut di dunia bis, piranti penghasil energi gerak buatan negeri matahari terbit ini diagungkan sebagai mesin yang handal, reliable, berakselerasi responsif dan tangguh di tanjakan. Semua kelebihan ini dikemas dengan harga yang lebih “ramah” di kantong pengusaha, dibanding bis-bis buatan benua Eropa, semisal Scania, MAN, Ikarus maupun Mercedes Benz sendiri.




 


Tak mengherankan, PO-PO besar semacam Hiba Utama, Sinar Jaya, Mayasari Bhakti, Primajasa, Sumber Kencono dan Garuda Mas menjatuhkan pilihan kepada Hino untuk menggerakkan roda bisnis transportasinya. PO-PO yang selama ini minded ke Mercedes Benz-pun mulai goyah dan  mulai menyicip taste mesin keluaran pabrikan dari Tokyo, Jepang.  Big Bird, Pahala Kencana, Nusantara, Kramat Djati, Shantika, dan Harapan Jaya adalah sebagian PO yang mulai “berselingkuh” dari produk Jerman.


 


Sebenarnya, mesin Hino yang di-release di tanah air tidak kalah dengan teknologi mesin kompetitornya. Hanya saja, karakter konsumen (baca : penumpang) terlanjur mempercayai bahwa produk pertama yang masuk ke pasar adalah produk terbaik, sedang produk belakangan adalah follower. Hal inilah yang membuat konsumen Indonesia dianggap pasar subyektif, sehingga pemain baru harus berjuang keras agar jualannya acceptable.


 


Termasuk dalam hal ini Hino. Usaha dan kerja keras tim ahli dalam pemutakhiran, riset, pengembangan dan improvisasi produk akhirnya mampu merebut kue penjualan mesin big bus dari pesaingnya, bahkan mampu mengungguli di urutan pertama. Apa kunci sukses Hino dari aspek teknologi hingga berhasil merebut hati para konsumen Indonesia yang sebelumnya terkenal loyal terhadap produk Mercedes Benz?  


 


Akhirnya jawaban tersebut terungkap pada saat acara sarasehan Hinomania yang digelar oleh Bismania Community (BMC) di Ruko Taman Pondok Labu, Jakarta Selatan, tanggal 05 April 2009. Menghadirkan narasumber Bapak Priyanto -yang memahami seluk beluk sejarah dan mesin Hino- acara ini berlangsung semarak dihadiri oleh sekitar 25 anggota BMC. Bapak Riyanto dengan gamblang menjelaskan dari awal Hino memulai kiprah perdananya mengusung Hino BT (mesin tengah) di era 60-an hingga RG1JS, yang lebih dikenal dengan nama pasar Hino RG. Dari segi mesin, bapak kelahiran Tegal, Jawa Tengah, juga detail menerangkan teknologi yang diterapkan pada mesin depan (Seri AK) hingga mesin belakang (Seri R). Bukan sekedar masalah “jeroan mesin”, bahkan chasis, sistem pengereman, bagian dan komponen kaki-kaki bis, mekanisme gardan, sistem kerja transmisi dan perfoma karoseri  juga tak luput dari pembahasannya. Tak diragukan lagi kapasitas Pak Priyanto sebagai salah satu pakar Hino. Pengalaman kerja hampir sepuluh tahun di Hino Motor Indonesia telah memberikan wawasan luas dan pengetahuan mendalam bagi beliau. Ditunjang sebagai mantan tim teknik salah satu PO terkemuka dan pernah menjadi trainer workshop otomotif, teori yang didapat selama bekerja dan praktek nyata di lapangan membuat pria yang sekarang berwirausaha membuka bengkel di daerah Kalimalang ini  mumpuni di bidang permesinan.


 


Acara semakin hangat ketika disediakan space waktu untuk sesi tanya jawab antara narasumber dengan audience. Sehingga ganjalan, keawaman, teka-teki dan ke-gaptek-an yang selama ini menyisakan pertanyaan bisa disampaikan kepada Pak Priyanto, agar mendapatkan pencerahan dan tambahan pengetahuan bagi para bismania. Termasuk berbagi tips dan trik bagaimana sebuah PO dalam mengelola perawatan armada dan mendidik para sopir agar  menjalankan bis secara baik dan benar, ekonomis dan memperpanjang lifetime komponen kendaraan. Acara formal namun dalam suasana santai seakan menjadi forum interaktif antara kepala mekanik PO dengan para pecinta bis.


 


Sarasehan sederhana yang telah berlangsung 5 jam akhirnya ditutup  pada pukul 15.00 WIB. Para peserta terpuaskan dan mulai well educated soal mesin, khususnya Hino. Tak lupa, ucapan salut dan acungan jempol dialamatkan kepada Pak Didik Sasono selaku host acara, yang menjembatani keinginan para Hinomania agar bisa bertemu dengan pakarnya. Sebagai wujud tanda terima kasih dan penghargaan atas kemurahan Pak Priyanto membagi ilmu per-Hino-an, Bismania Community menyerahkan merchandise sebagai kenang-kenangan, sebagai simbol bahwa silaturahmi yang tercipta akan dilanjutkan dengan acara-acara yang lebih bermanfaat di hari-hari mendatang.  


 


Bravo Hino, Bravo Bismania…