Tampilkan postingan dengan label Kuliner Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner Nusantara. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Januari 2010

Café Trio-G, Ikan Bakar feat Degan Bakar Ala Pesisir Rembang


Kalau bukan karena dua akhir pekan terakhir aku sekeluarga meng-klik kedai ini untuk menunaikan ritual makan siang, tentu tak ada keistimewaan yang perlu diwartakan.

Di pertengahan jalur Semarang-Surabaya, tepatnya di Desa Kalipang, Sarang, -- kota kecamatan di ujung paling timur Kabupaten Rembang -- ada satu warung makan berkonsep kampung di atas air, dengan menu andalan berupa ikan bakar dan kelapa muda (degan) bakar. Letaknya persis diapit jalan pantura dan Laut Jawa, berseberangan jalan dengan kompleks masjid kuno peninggalan Wali Blitung. Sebagai tambahan, menurut cerita getok tular yang beredar di masyarakat setempat, artefak monumental ini dibangun oleh seorang wali dari Pulau Belitung. Dan tempat peribadatan ini adalah masjid pertama yang berdiri di daerah Sarang, yang tahun pembuatannya bertuliskan 1484 M, seperti yang tertera pada tugu prasasti.

Sebelum membahas soal menu, bicara tentang letak geografis kedai makan yang dinamai Café Trio-G, posisi ini jelas mendatangkan kelebihan. Bisa difungsikan sebagai tempat rehat saat perjalanan, sembari menikmati semilir angin laut dan view debur ombak bentangan Laut Jawa, memandang hilir mudik kendaraan sambil memantau kondisi lalu lintas, tentunya kalau mau berwisata sejarah dengan mengunjungi Masjid Wali Blitung, dalam kemasan wisata kuliner ikan bakar.



Tema kampung di atas air nyata saat kita memasuki ruang makan, berupa saung-saung dengan struktur rangka dari bahan kayu kelapa (glugu), beratapkan rumbia padi, yang “nangkring” di atas areal tambak kepunyaan Bu Yuyun, nama pemilik café ini. Kalau beruntung, saat menyantap makanan yang disajikan, kita bisa menyaksikan ikan bandeng yang bermunculan di permukaan air. Di kanan kiri, nuansa alam diisi hamparan tambak bandeng dan udang, diseling vegetasi pohon nyiur dan hutan bakau serta kampung nelayan yang tertata rapi. Mengesankan sebuah warung makan lesehan yang sederhana namun cukup asri dan nyaman, kental dengan nuansa alam pedesaan daerah pesisir.


Karena kemasyhuran lokal akan menu ikan bakar dan degan bakar, kedua “obyek jualan” inilah yang aku pesan. Untuk jenis ikannya bisa kita pilih mulai ikan kerapu, baronang, bawal atau kakap. Meski dalam daftar menu yang disodorkan kepada pengunjung, bukan hanya terbatas sajian andalan di atas. Selainnya ada ikan goreng, cumi bakar/goreng, udang bakar/ goreng, ayam bakar/ goreng atau menu sederhana, semisal mi rebus atau mi goreng. Sedangkan, untuk minumannya, tidak banyak macamnya. Di luar degan bakar atau degan original, cuma disediakan teh manis, jeruk manis atau minuman ringan lainnya.

Tidak perlu menunggu lama, ikan bakar terhidang. Aromanya begitu menggelitik hidung, disebar hembusan angin laut yang kencang mendera kami saat itu. Terlebih cara penyajiannya menggunakan peralatan makan tradisional, yakni piring bambu yang dilembari daun pisang dan cobek tanah liat tempat sambal dihidangkan, semakin menggugah selera makan penyukanya.


Ikan kakap bakar berlumur bumbu kecap hasil racikan rempah-rempah nusantara, begitu menggoda untuk dicicipi. Untuk sambal disediakan dua pilihan, disesuaikan dengan kemampuan indra pengecap, yakni sambal terasi nan pedas mengguncang lidah serta sambal kecap manis yang ditaburi irisan bawang merah, buah tomat dan cabe rawit. Sebagai lalapannya, terdiri dari mentimun, kol, kacang panjang dan daun kemangi. Nasi putih yang pulen serta hangat, begitu klop sebagai penyempurna sajian makan siang kali ini. Sebuah sajian sempurna yang layak dimasukkan khasanah kuliner kota garam, Rembang. Mantap tenan…

Diiring buaian musik nostalgia dalam versi dangdut koplo yang pelan mengalun dari piranti audiotainment, saat daging ikan singgah di mulut, begitu lembut dikunyah dan bumbunya benar-benar meresap. Dicocolkan dengan sambal terasi, sensasi pedasnya luar biasa tersurat. Dengan sedikit semburat tipis rasa asam dari jeruk nipis, semakin menggenapi cita rasa masakan ala pesisir ini. Tidak aneh bila sepiring nasi akan kurang menuntaskan nafsu makan, bila terlewatkan untuk “nambah” lagi.

Menurut penuturan salah satu pramusaji, ikan-ikan yang dimasak bukan ikan sembarangan. Bukan ikan produk tangkapan (menawur) para nelayan, melainkan hasil pancingan dari pulau-pulau karang yang tersebar di pantai Sarang. Konon, tekstur dan cita rasa ikan karang ini lebih unggul dibanding ikan sejenis dari tangkapan di lepas pantai. Dan itulah jawaban mengapa ikan bakar café Trio-G ini spesial, rasanya beda dengan warung makan kebanyakan yang menyediakan menu serupa. Pantas saja, Naura-ku begitu lahap menikmatinya, padahal anakku yang masih semata wayang ini agak susah bersentuhan dengan daging, termasuk ikan.


Usai menyantap, tenggorokan yang tersekat dilancarkan dengan bantuan degan bakar yang menggiurkan. Dicampur jahe dan susu, air kelapa mudanya begitu sedap, hangat dan segar ketika direguk. Daging buahnya yang kenyal dan gurih, membuat siapapun akan ketagihan untuk mencobanya kembali. Proses pembakarannya sendiri membutuhkan waktu dua jam, dengan bahan bakar kayu atau arang, agar didapat degan bakar yang benar matang-matang. Ada anggapan, khasiat minuman isotonik alami ini multifungsi. Selain menjaga stamina dan vitalitas tubuh, degan bakar bisa membantu menurunkan kadar gula darah, mengurai kolesterol dalam darah, menormalkan otot yang pegal-pegal, mengikis asam urat dan men-detoksifikasi racun-racun yang tak berguna di dalam tubuh.

Apakah perlu mengocek rupiah dalam-dalam untuk menebus menu extraordinary café Trio-G, yang “G” sendiri diambil dari huruf terdepan ketiga anak Bu Yun, Galih-Gilang-Galang?

Jawabanya bisa terlihat dari jumlah pengunjung. Warung ini jarang sepi karena selain dikenal enak dan lezat, harga adalah poin lebih berikutnya. Dijamin ramah di kantong, takkan rugi untuk membayar kemewahan rasa yang ditawarkan. Seporsi ikan bakar yang cukup untuk disantap dua orang dewasa, termasuk paket nasi dan lalapan serta tambahan dua biji degan bakar, hanya perlu dikonversi dengan empat lembar uang sepuluh ribuan.


Sungguh tawaran yang menarik, bukan?

Kamis, 16 Juli 2009

Garang Asem, Absolutely Garang and Makes You Kesengsem…

[gallery]

Bangunan bercat hijau dominan itu sangatlah sederhana. Sederhana dalam hal penataan ruang, soal penyajian menu masakan dan cara pramusaji melayani tamu.  Tidak terlihat sebuah modernitas. Bahkan kurang cocok kalau disebut restoran, cukup warung atau kedai makan saja.  


 


Namun, dibalik ke-konservatif-an yang masih dipertahankan, jangan ditanya soal traffic visitor. Terlebih di saat jam-jam makan siang ataupun di kala long holiday. Penuh sesak. Konfigurasi kursi yang ditata saling berhadapan dengan kapasitas 50 seat tak akan mampu menampung membludaknya calon pembeli.


 


Apa yang menjadi magnet penarik sehingga tempat ini so special di mata pengunjung?


 


Inilah warung pertama di Kudus yang menjual menu garang asem. Dari istilahnya, orang tentu bisa mudah menebak cita rasa masakan khas kota kretek ini, yakni garang yang berkonotasi pedas dan asem yang merujuk paduan rasa asam (kecut) dan manis. Lokasinya persis di seberang gedung Yayasan Jamaah Haji Kudus, sekitar 500 m ke arah barat dari Kudus Plaza. Kedai makan yang menempati lahan 200 m2 ini bernama rumah makan Sari Rasa. Meski menyediakan beragam menu lain, semisal pindang ayam, soto kudus, nasi rames dan opor ayam, namun garang asem tetaplah menjadi primadona para pemburu kuliner nusantara.


 


Sebagai menu unggulan, kedai yang sekarang dikelola H. Ri’fan ini menawarkan dua pilihan olahan garang asem, yaitu jeroan ayam dan daging ayam. Namun, pilihan terakhirlah yang laris dipesan.


 


Menu ini sewaktu dihidangkan dalam keadaan hangat-hangat kuku, pertanda baru saja diangkat dari kukusan. “Bothok raksana” dengan daun pisang muda sebagai bungkusnya, menebarkan aroma wangi. Saat kemasan dibuka, potongan belimbing wuluh, irisan tomat,  puluhan cabe rawit utuh dan serta 4 sampai 5 keratan daging ayam kampung,  dalam genangan kuah santan menggenapkan komposisi garang asem. Komponen santan inilah pembeda garang asem Sari Rasa dengan menu yang sama di tempat lain. Begitu menggoda air liur sebelum dicicipi.


 


Ditemani sepiring nasi putih, berlaukkan tempe goreng dan es teh manis sebagai minuman penyegar, hidangan ini cocok disantap di saat panas siang sedang terik.  Perpaduan rasa cabe, belimbing wuluh dan tomat muda menghadirkan cita rasa segar, asam dan pedas di indra pengecap.  Tekstur daging ayamnya dijamin empuk, karena pengukusan dilakukan selama 2 sampai 3 jam. Tasty dan mantap. Dengan harga Rp13.000 seporsi, garang asem memang rekomen sebagai target pemuas dahaga wisata kuliner di pantura timur Jawa Tengah. Begitu pas di lidah, begitu nyaman di kantong, begitu cocok di hati….


 


Itulah testimoni singkatku saat singgah di RM Sari Rasa ini. Kudus adalah tempat favorit keluargaku dalam menghabiskan akhir pekan. Dan daya tarik kota di lereng Gunung Muria ini tak akan sempurna  dinikmati, tanpa mengecap sajian wisata kulinernya.

Senin, 04 Mei 2009

Sate Kerbau, Manifestasi Nilai Toleransi

[gallery columns="2"]

Dalam perjalanan pulang ke Rembang selepas acara “BMC for Nusantara’s 41 Anniversary”, tiba-tiba terbesit keinginan untuk “mengenal” sate kerbau. Semenjak dulu aku mengincar menu eklusif ini, dan belum lega hati kalau belum kesampaian. Pasti cocok dijadikan menu makan siang kali ini. 


 


“Pak, dekat-dekat sini yang jualan sate kerbau di mana?”, tanyaku pada petugas parkir Toserba Matahari, saat menjemput anak dan istriku di tempat penitipan sementara tersebut  sewaktu aku tinggal pesta potong tumpeng di Pool PO Nusantara, Karanganyar, Kudus. 


 


“Kalau siang, di seberang jalan ada Mas, cuma biasanya jam segini sudah tutup. Ada satu lagi, warung Maju, di dekat stasiun.”, jelasnya. 


 


Yup, Warung Makan Maju adalah target buruanku. Tak perlu bersusah payah, kedai kuliner Maju (singkatan dari 57) berhasil kutemukan. Sebuah warung kecil dan sederhana, terjepit di antara jajaran kios-kios toko di sepanjang jalan stasiun. 


 


“Pesan sate 2 porsi ya, Bu!”, pintaku kepada pemilik warung Maju, setelah duduk di kursi. 


 


Kota Kudus sendiri sangat mengagungkan dan mengeramatkan hewan sapi. Meski mayoritas penduduknya memeluk agama Islam --yang menghalalkan daging sapi --, tapi masyarakat Kudus terlanjur tunduk dan patuh melaksanakan pesan suci Sunan Kudus. Pesan salah satu Wali Songo tersebut adalah pelarangan menyembelih hewan sapi demi menghormati tradisi ajaran Hindu. Sate kerbau adalah pengejawantahan sikap toleransi dan menjunjung nilai pluralisme antar umat beragama. Dari sekedar wejangan, akhirnya seolah menjadi “dalil shahih” yang dipegang erat, meski sekarang pemeluk agama Hindu di Kudus adalah kaum minoritas. Hingga sekarang, tidak ada tukang jagal sapi dari Kudus, karena “takut” kena tuah “kata larangan” Sunan Kudus. Jangan harap di kota ini akan mudah menemukan menu makanan berbahan sapi, karena telah disubstitusi oleh daging kerbau. 


 


Tak lama berselang, sate kerbau siap dikudap. Melihat cara penyajian maupun setelah mencicipinya, memang beda dengan sate sapi atau sate kambing. Lazimnya, sate berasal dari daging mentah yang dibakar langsung. Namun untuk sate kerbau, daging dijadikan dendeng, yakni dimemarkan, dihaluskan untuk selanjutnya dibumbui dengan racikan jinten, ketumbar, bawang putih dan gula, kemudian dibalutkan di tusuk satenya. Tanpa treatmen demikian, pasti daging kerbau akan alot. Hasilnya, tekstur daging jadi lembut dan halus di lidah. Sedang bumbu satenya adalah gilingan kacang tanah dan srundeng (parutan kelapa yang disangrai). Hmm…unik memang bumbunya. Nasi putih dihidangkan di atas piring yang dilembari daun jati. Mengingatkan cara penyajian sate srepeh, Rembang dan sate jagal, Blora. Untuk rasa pedas, kita bisa menambahkan sambal uleg atau mencomot cabe rebus yang disediakan. 


 


“Kalau aku ngga suka Pa, terlalu manis bumbunya.”, begitu testimoni istriku setelah mengecapnya. 


 


Yah…kalau menurutku sate kerbau lezat dan goodtasting juga . Maklum, darah yang mengalir dalam nadiku adalah paduan asam di gunung (alm. ibu asli Jogja) dan garam di laut (kampung bapak Pati). Mau citarasa pedas khas pantai utara ayuk…mau manis ala masakan gunung no problemo. 


 


Dibanding sepiring soto kerbau yang “hanya” setara enam lembar uang seribuan, harga 10 tusuk sate lumayan “mengerdilkan” isi kantong. Situasi ekonomi yang tidak menentu, melambungkan harga seporsi sate kerbau mencapai Rp.12.000/ porsi. 


 


“Sakniki sekilo daging kirang langkung seket ewu, sakwisipun BBM mundhak. Kepekso, kulo kedah mundhakke regi sadean sate kebo meniki, Mas!”, pasrah si Ibu seakan bergargumentasi sewaktu aku membayar. (Sekarang satu kilo daging kerbau kurang lebih 50ribu, setelah BBM naik. Terpaksa, saya harus menaikkan harga jual sate kerbau ini, Mas) 


 



Namun bagiku, dalam usaha pencarian menu masakan langka dari bumi nusantara, apalah arti nilai rupiah.   Hehehe… 

 

Salam kuliner!

Rabu, 15 April 2009

Mas Yono, Pewaris Resep Sate Jagal Mbah Soe


[gallery columns="2"]


Ada satu hal yang aku sukai bila jalan-jalan di Kota Blora. Kendati hanya kota kecil, tapi hampir di setiap sudut gampang ditemui warung-warung yang menyajikan kuliner daerah petrorupiah ini. Inilah yang selalu menjadi target buruan bila aku berkesempatan mengunjungi kota yang jauhnya 25 km dari rumah tinggalku.


 


Sekian lama yang aku bidik adalah sate jagal Mbah Soe. Nah, beruntung sewaktu pulang berbelanja bulanan dari toko swalayan Alfim bersama putri dan istriku tercinta, ketika melintasi Jalan Arumdalu, ada sebuah warung yang menjual sate jagal ini. Padahal selama ini aku juga tidak tahu persis, lokasi dan nama warung yang dimiliki Mbah Soe. Tapi setelah melihat spanduk bertuliskan “Sate Daging Sapi (Jagal) Mbah Soe Blora”, dengan style yakin, kusinggahi warung sederhana ini. Meski kadarnya tak sampai 100%, aku masih percaya kejujuran orang-orang kampung dalam berdagang. Termasuk kepada pemilik warung ini, yang akrab dipanggil Mas Yono.


 


Saat disapa oleh Mas Yono selaku tuan rumah, kesan pertama yang aku tangkap, si empunya sangat-sangat ramah, murah senyum dan supel. Wah, sepertinya enak diajak ngobrol. Sembari menunggu sate sapi siap dihidangkan, kucoba mengorek keterangan tentang sate jagal.


 


“Kok Mas Yono dipanggil Mbah Soe, bagaimana ceritanya Mas?”, tanyaku sok bodo. Padahal dari wajah dan fisik, jelas Mas Yono ini masih muda.


Dengan tersenyum, lelaki yang selalu memakai peci hitam identitas tukang sate ini menjawab,


“Saya cucunya Mas, Mbah Soe sudah meninggal dua tahun yang lalu. Saya hanya meneruskan usahanya. Ini peninggalan yang harus saya jaga Mas.”


 


Wow…sebuah amal mulia dan perlu dicatat dalam daftar para pahlawan kuliner! (Andai ada).


 


Menurutnya, ada banyak warung sate jagal yang mengatasnamakan Mbah Soe. Tak heran, karena Mbah Soe kondang sebagai generasi pertama “pencipta” menu sate jagal. Kurang afdol bila berjualan sate sapi tanpa embel-embel nama Mbah Soe. Inilah trik dan strategi dagang agar dikenal oleh calon pembeli, meski penjualnya bukan keturunan dari Mbah Soe.


 


Tapi tak apalah. Toh, meski aku belum mencoba meng-compare citarasa dari setiap warung sate jagal, paling juga cuma beti (beda tipis). Apalagi Mas Yono ini adalah generasi ketiga Mbah Soe, pastilah resep rahasia warisan Mbah Soe ada di tangannya.


 


Tak sampai 10 menit, sate pun terhidang. Sebenarnya wujud satenya biasa-biasa saja, hanya daging sapi muda. Namun, kalau diexplore mendetail, setidaknya ada empat hal yang menurutku unik dan menarik dari sosok sate jagal ini.


 


Pertama, bumbu sate. Umumnya, sate sapi atau kambing disajikan dengan sambal kecap manis, dengan irisan bawang, cabe rawit dan tomat sebagai pelengkapnya. Namun sate jagal Blora justru menggunakan bumbu kacang berwarna kuning kecoklatan. Sebagai bahan pengencernya adalah kuah santan. Menurutku hampir sama dengan bumbu sate srepeh Kota Rembang. Namun soal rasa jangan ditanya, kombinasi gurih, manis dan pedas saling berpadu.


 


Selanjutnya adalah cara penyajian. Nasi putih tidaklah dihidangkan di atas piring, melainkan dalam bungkus daun jati. Nasi pun bukan “polosan”, melainkan diguyur oleh kuah soto, berisikan mie hun, daun seledri serta ditaburi bawang goreng. Sehingga kesan sebagai sajian tradisional sangat kentara.


 


Yang ketiga adalah cara memasak. Tungku arang malah diletakkan di depan meja pembeli, sehingga asap pembakaran seolah mengurung dan wangi tubuh langsung berubah fase menjadi aroma daging bakar. Bagi yang mementingkan penampilan, pasti dibuat menyingkir. Namun bagi penggiat kuliner, justru bau asap aroma rempah-rempah ini meningkatkan gairah dan nafsu makan. Mungkin itulah alasan mengapa cara memasaknya dibuat sedemikian rupa.


 


Dan yang terakhir adalah cara bertransaksi. Sisi keunikannya, berapa rupiah yang kita bayarkan bukan berdasar seporsi sate (yang biasanya berisi 10 tusuk), melainkan dihitung berapa jumlah tusuk sate yang telah dihabiskan. Makanya, untuk diingat sebelum mencicipi sate jagal blora. Setelah menyantap hidangan, tusuk sate jangan sekali-kali dibuang, karena akan menyulitkan penjual dalam menghitungnya. Dan penjual tidak akan pernah membeberkan harga per tusuk sate, sepiring nasi dan minumannya, karena dia langsung menyebutkan grand total harga yang harus ditebus.  


 


Itulah eksentriksitas menu andalan  Blora ini. Tak akan lengkap kalau hanya selintas lalu atau numpang lewat Kota Blora tanpa menjajal sajian nusantara warisan Mbah Soe, Sate Jagal.

Senin, 06 April 2009

Lentog, Sajian Selamat Pagi Kota Kudus

[gallery columns="2"]


 


Saat menunggu member Bismania Community dari Jakarta tiba di pool Nusantara dalam rangka test road armada Scania Irizar, saya yang lebih tiba dahulu di Kudus dengan PO Muji Jaya memutuskan untuk menunggu sembari hunting lentog. Menu sarapan pagi ini adalah salah satu khasanah kuliner kondang produk kota kretek.


 


Berbekal informasi dari sopir angkot, ternyata sentra warung lentog ada di daerah Tanjung, di dekat RS Mardi Rahayu. Tak sabar kaki ini untuk menelusuri Jalan  Tanjung, mencari makanan lentog untuk memenuhi rongga perut yang semalaman terkuras menempuh perjalanan jauh Jakarta-Kudus.


 


Akhirnya, tak jauh dari PB Djarum, saya temukan warung tenda pinggir jalan yang menjajakan menu lentog. Namanya lentog tanjung Mas Ud. Warung sederhana namun ramai. Silih berganti para pengunjung, baik yang mengudap di tempat atau membungkus lentog sebagai bekal penghimpun tenaga sebelum menjalankan aktivitas. Biasanya kalau warung ramai, dipastikan citarasa masakannya cocok di lidah para pelanggan. Itulah hipotesis saya.


 


Awalnya saya mengira penjualnya adalah laki-laki sesuai nama di spanduk kain  “Mas Ud”, namun ternyata seorang ibu paruh baya.  Ah, apalah arti seorang penjual. J


 


Setelah duduk di bangku kayu panjang, segera saya pesan satu porsi lentog. Sepiring lentog yang dihidangkan terdiri dari lontong yang diiris tipis-tipis, disiram kuah sayur santan nangka muda (tewel/gori) yang berisi potongan kecil tahu dan tempe serta ditaburi bawang goreng sebagai penyedapnya.. Untuk pilihan lauk disediakan sate semur telur puyuh, sate usus ataupun kerupuk. Dilengkapi juga sambal cair ataupun cabe rawit, agar penikmat lentog dapat menentukan sendiri kadar pedasnya. Cara penyajianya cukup unik. Lentog dihidangkan di dalam piring yang lembari daun pisang. Rasanya lezat serta gurih, kaya racikan bumbu rempah nusantara khas masakan pesisir utara.


 


Sayang, menurut ukuran lambung orang dewasa, seporsi lentog sangatlah sedikit. Sehingga banyak pembeli yang menambah porsi makannya. Namun jangan risau masalah harga. Karena sepiring lentog hanya dibandrol Rp2000,00. Murah dam meriah, namun dahaga mencicipi menu lentog bisa terpuaskan.     


 


Bila ketoprak adalah menu sarapan pagi warga ibukota, maka lentog adalah  ketoprak-nya masyarakat Kudus.

Selasa, 31 Maret 2009

Lontong Tahu, Blora tak Sekedar Sate dan Soto Ayam

lontong-tahu1Selain soto dan sate ayam yang cukup kondang seantero tanah jawa, Blora memiliki satu lagi khasanah kuliner yang menjadi foodmark kota kelahiran budayawan Pramoedya Ananta Tour, yakni Lontong Tahu.


 


Salah satu kedai makan yang menjual Lontong Tahu adalah warung tenda “Arumdalu”. Posisinya terletak di ujung jalan Arumdalu, di pojok pertigaan Kantor Dipenda,  kira-kira 500 m di sebelah timur alun-alun Kota Blora. Warung yang buka mulai jam 17.00 ini selalu ramai pengunjung yang ingin menikmati kelezatan masakan nusantara.  Meski tempatnya sederhana, namun memiliki penggemar fanatik. Rentang waktu 8 tahun semenjak warung ini pertama dibuka adalah bukti “kepintaran” penjualnya dalam memaintain kepuasaan pelanggan. 


 


Komposisi utama seporsi menu lontong tahu adalah potongan tahu goreng dan telur dadar, di atas potongan lontong nasi. Ditambahkan irisan kol mentah, tauge dan kacang tanah goreng, ditaburi cacahan daun seledri dan bawang goreng, dan terakhir disiram bumbu kacang. Cara penyajiannya, cabe merah (jumlahnya sesuai kadar pedas yang diinginkan pembeli), kencur, garam dan bawang putih dihancurkan/ diuleg hingga setengah hancur. Kemudian dicampur dengan  bumbu kacang yang telah ditumbuk halus hingga benar-benar merata, dicairkan dengan air kecap manis, sembari diberi tetes jeruk nipis untuk mendapatkan rasa sedikit asam. Dijamin segar dan tasty. Dan konon rahasia dapur Lontong Tahu  asli Blora, sehingga rasanya berbeda dengan daerah lain, adalah citarasa kecap yang dipakai. Para penjual hanya menggunakan satu merek kecap dari sebuah home industry, tak mau berpaling dengan merek dari pabrik, yang terbukti kemurnian bahan-bahan yang digunakan serta bebas media pengawet. Sebagai pelengkap hidangan, disediakan tempe goreng dan krupuk ikan agar sewaktu menyantapnya terasa gurih di lidah.


 


Ditemani teh hangat atau minuman istimewa warung ini, yaitu wedang kacang ijo, cukup untuk mengisi perut kita sambil menikmati nuansa sore langit Kota Blora, sekaligus mengecap pesona wisata kuliner kota pemilik blok minyak Cepu ini.

Selasa, 24 Maret 2009

Sate Srepeh, Mutiara Terpendam Kuliner Kota Rembang

11Tak kalah dengan Kota Blora yang “bangga” dengan sate ayam-nya, Rembang pun memiliki sajian sate khas pesisir yang tak kalah lezatnya, yang akrab di lidah masyarakat Rembang dengan sebutan sate srepeh.


 


Salah satu tempat makan yang menyuguhkan menu sate srepeh adalah warung “Bu Slamet”, yang berlokasi di Jl. Dr. Wahidin No. 9 Rembang. Warungnya boleh dibilang sangat sederhana, bahkan tak ada papan nama yang mencolok. Hanya spanduk kain usang bertuliskan daftar menu sebagai penanda bahwa Bu Slamet masih setia berjualan sate srepeh, profesi yang digelutinya selama lebih dari 60 tahun.


 


Kendati tidak begitu luas,-hanya terdiri dari tiga bangku kursi panjang-, namun warung ini selalu ramai pengunjung, sehingga mereka harus rela antre bila ingin makan di tempat. Jam buka warung yang “nangkring” di tengah hutan beton daerah Pecinan Rembang ini dimulai sejak jam 06.00 WIB, menawarkan jasa bagi warga yang mencari makan pagi atau sarapan. Saking larisnya, sebelum jam 09.00 WIB, jatah jualannya telah ludes tak tersisa. Sebagian besar pelangganannya adalah masyarakat Rembang sendiri, khususnya etnis Tiongha, dan para penggiat kuliner dari luar kota Rembang, yang “jatuh hati” pada menu andalan kota yang memiliki pantai terpanjang di Pulau Jawa ini.


 


Uniknya, warung ini hanya menyediakan 500 tusuk setiap harinya. Meski sedang berlangsung momen-momen ramai di Kota Rembang, semisal lebaran dan tradisi syawalan, Bu Slamet tidak pernah menambah jumlah dagangannya. Jika ada pengunjung yang datang ketika tusuk terakhir telah disajikan, dengan ramah ia mengatakan permohonan maaf karena dagangannya telah habis. "Tenang, besok kita buka lagi kok Mas," rajuknya dengan tersenyum manis khas simbok-simbok Jawa.


 


Berbeda dengan menu ayam lainnya, sate srepeh buatan Bu Slamet ini menggunakan bumbu kacang, dikombinasikan dengan saus santan dan gula merah, sehingga berwarna merah kecoklatan dan lebih encer, dengan citarasa yang gurih, asin dan pedas. Konon,  dari warna merah bumbu ini kemudian dinamakan srepeh. Sebagai pendampingnya adalah nasi tahu lengkap dengan kecambah, yang diguyur bumbu kacang. Tak ketinggalan, sayur lodeh dengan isi labu sebagai pelengkapnya, menjadikan menu ini lezat dijadikan santapan pembuka hari. Akan lebih nikmat lagi jika dimakan dengan krupuk ikan atau udang yang digoreng dengan pasir, sehingga mereduksi kadar kolesterol.


 


Untuk penyajiannya juga masih “primitif”. Bila nasi gandul khas Pati cara penyuguhannya dengan piring beralas daun pisang, untuk sate srepeh cukup dilembari dengan daun jati. Sehingga terasa kita menikmati makan pagi layaknya manusia djaman doeleo.  Menurut Bu Slamet, aroma yang dimunculkan oleh daun jati akan menambah selera makan penyantapnya. Boleh dipercaya boleh tidak.





Di warung ini, Bu Slamet -yang diambil dari nama suaminya Slamet Gunarso-  dibantu satu orang karyawannya yang bernama Lasmi. Kedua wanita berusia 60-an tahun itu selalu memakai kostum kebaya, sehingga mengesankan sebagai warung tradisional. Meski demikian, gerakan kedua wanita itu tetap lincah dan terampil melayani para tamu-tamu pengunjungnya.

 


Kelezatan sate srepeh ala Bu Slamet sendiri telah diakui Pak Bondan Winarno. "Mak nyuuuus!!!" kata Bondan ketika menikmati sate itu beberapa waktu lalu, ketika beliau napak tilas perjalanan RA Kartini. Bila sang maestro kuliner telah mem”fatwa”kan kelezatan sate srepeh, siapa yang berkehendak menyanggahnya?

Kamis, 26 Februari 2009

Bakso Balungan, “Sentuhan Baru” Menu Bakso

Mencari jajanan bakso di persada tanah air relatif mudah. Meski masakan ini asal muasalnya dari daratan Cina, namun cukup “meng-Indonesia” dan “menyatu di lidah”  segala lapisan masyarakat. Tak terkecuali bagi kota kecil di ujung timur pantai utara Jawa Tengah, Rembang. Ada beberapa warung makan yang menyediakan bakso sebagai obyek dagangannya. Tentu saja dengan citarasa dan rahasia dapur yang unik dari setiap penjualnya.


 


Yang populer adalah bakso “Goyang Lidah” di seputaran Tugu Lilin dan bakso “Pak Joko”, yang menempati kios di Jalan RA. Kartini. Sekilas memang sama saja dengan menu bakso di tempat lain. Ada pentol daging, mie bihun atau mie kuning, serta kuah  dengan taste hasil kolaborasi bumbu rempah-rempah khas nusantara. 


 


Namun, ada satu yang lain daripada yang lain. Di warung  lesehan nan sederhana di Jalan HOS Cokroaminoto, bakal kita jumpai sebuah sentuhan baru dari menu bakso, yakni bakso balungan.


 


Mengapa  dinamai balungan? Karena di dalam penyajiannya ditambahkan tulang (balung; jawa). Tulang yang dimaksud bukan glondongan tulang keras dan utuh. Melainkan tulang sapi muda, dengan sedikit sisaan daging yang menempel,-yang kerap disebut tetelan. Dijamin tekstur dagingnya lunak dan kenyal setelah melalui proses perebusan.


 


Dengan semangkok bakso balungan, yang terdiri dari pentol daging, tahu goreng,  tetelan, mie kuning, mie bihun, ditaburi irisan daun seledri dan bawang goreng serta diguyur kuah panas aroma rasa bawang putih dipadu lemak sapi yang “tipis”, sangat cocok dan nikmat disantap di siang hari yang terik.


 


Apalagi  di kedai makan “Istana Bakso Balungan” ini menawarkan berbagai macam minuman pelengkapnya. Mulai dari jus buah, es soda gembira, sup buah, es kelapa muda, dan minuman kemasan. Ada minuman yang menjadi identitas “istana” di sebelah gerbang belakang pendopo Kabupaten Rembang, ini yaitu es teh buah eksotik. Minuman ini cukup menarik, karena es teh dikombinasikan dengan potongan buah segar, seperti apel, nanas, lecy, klengkeng, pepaya dan jambu. Sedang satu lagi adalah es siwalan, buah langka identitas kota garam.


 


 bakso-balungan


Dengan harga Rp6.000,00-Rp8.000,00 per porsi, bakso balungan “sanggup” menggoyang lidah dan memberi kesegaran di tengah terpaan hawa panas Kota Rembang. Layak untuk dicoba!

Senin, 09 Februari 2009

Sate Kelinci, Pelengkap Sajian Telaga Sarangan

sate-kelinci1


Selain menyajikan wisata air, Sarangan juga menawarkan satu menu makanan yang bercitarasa unik dan mengundang selera, yaitu sate kelinci. Di pinggir telaga yang airnya teduh menghijau, banyak bertebaran penjual yang menjajakan menu kuliner khas Sarangan ini, baik yang berdagang secara berkeliling atau menetap di kedai-kedai sederhana. Obyek wisata ini sendiri terletak di sisi timur lereng Gunung Lawu,  sehingga berhawa asrep, sejuk dan segar khas pegunungan, terasa begitu ‘ramah’ membelai kulit. Sangatlah cocok, lezat, nikmat dan berkesan mencumbui eksotisme telaga air yang dikelilingi pegunungan Sidoramping ini  sembari menyantap sate kelinci, yang konon bukan sekedar pengisi perut semata, melainkan memiliki efek memberi kehangatan bagi tubuh untuk melawan udara dingin pegunungan. 


 


Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan menu sate ayam, hanya saja daging kelinci bertekstur lebih lembut dengan taste yang lebih gurih. Disiram bumbu kacang  dan kecap yang manis sebagai kondimen serta disediakan tambahan irisan bawang merah dan cabe kuning untuk menunjang rasa pedasnya. Ada dua opsi sebagai makanan primernya, kita bisa memilih lontong atau nasi putih.


 


Menurut bapak penjual sate kelinci tempat kami jajan sewaktu berlibur di Sarangan, di sekitar obyek wisata ini banyak masyarakat yang beternak hewan kelinci untuk diambil manfaat dagingnya. Iklim yang sejuk, jauh dari polusi udara dan suara dan melimpahnya sumber makanan berupa sayuran merupakan habitat yang kondusif untuk pengembangbiakan kelinci. Sehingga para penjual sate kelinci tidak sampai kesulitan mendapatkan bahan baku daging kelinci, karena banyak dibudidayakan oleh peternak kelinci di sekitar Sarangan. 



Daging sate kelinci siap potong biasanya berumur 4-6 bulan, karena pada rentang usia ini didapat rasa daging yang empuk dan manis. Biasanya dari seekor kelinci, bisa dihasilkan 70-90 tusuk sate. Tidak perlu waktu lama untuk mengolah daging kelinci, sate kelinci dengan aroma yang harum menusuk hidung pun siap disajikan. Dengan harga jual Rp6.000,00/ porsi berikut lontong, ditemani wedang jahe atau teh manis, hidangan pun ‘rela mengorbankan diri’ untuk disantap.  Maknyuss tenan Pemirsa!


 


Jadi, jangan bercerita pernah ke Telaga Sarangan bila terlewat mencicipi menu wajib obyek wisata ikon kebanggaan Kabupaten Magetan ini.   


 

Sabtu, 07 Februari 2009

Soto Kerbau, “Makanan Suci” Orang Kudus


Setiap kali melewati jantung kota Kudus, ataupun sekedar jalan-jalan menikmati pesona daerah yang berjuluk kota kretek, ada satu “amalan wajib” buat aku sekeluarga, yaitu menyantap menu soto kerbau.


Pasti telinga kita merasa asing dan aneh mendengar menu masakan soto kerbau, karena yang biasa dijajakan adalah soto ayam atau soto sapi.


Akan tetapi, kalau kita melintas di Jln. AKBP Agil Kusumadya Kudus, bisa dijumpai satu kedai makan yang menjual menu soto kerbau sebagai sajian utamanya, dengan nama Warung Makan Karso Karsi. Warung yang terletak tidak jauh dari RS Mardi Rahayu dan sekarang dipegang generasi ketiga dari Karso Karsi, yakni Ny. Nanik Cahyani ,  selalu ramai oleh para pengunjung, khususnya pemburu kuliner. Karena selain kelezatannya, soto kerbau termasuk makanan langka, tak banyak warung makan ataupun restoran yang  menawarkan sebagai obyek jualannya.


Dengan jam buka menjelang waktu dhuhur, jelas segmen yang dibidik adalah para pencari makan siang. Meski warung belum dibuka, biasanya telah tampak orang-orang yang rela mengantri, karena soto kerbau Karso Karsi ini laris manis dan cepat habis dalam sekejap. Ketika menjadi pengunjung di ‘kloter’ pertama, setidaknya menu yang tersedia masih lengkap dan masih fresh dihidangkan.


foto


Semangkuk nasi soto, yang berisi irisan daging kerbau, mie putih, tauge, kol, butiran kacang kedelai,  yang ditaburi daun seledri dan bawang goreng, disiram kuah dari kaldu kerbau yang hangat, dengan bumbu dan aroma rempah-rempah yang khas, dijamin sajian ini menggoyang lidah. Bila ingin menikmati secara total cita rasa daging kerbau, kita bisa juga memesan lauk daging kerbau sebagai tambahan, baik empal maupun lidah, yang diolah menjadi daging lapis dengan tambahan taburan bawang goreng. Sebagai kondimen disediakan kecap, jeruk limau dan sambal.


Harganya pun relatif murah, seporsi soto kerbau tidak lebih dari enam lembar uang seribuan untuk menebusnya. Ditambah minuman, baik teh maupun air jeruk yang harganya paling mentok di angka Rp2.000,00, masih cukup terjangkau oleh isi kantong. Harga yang sepadan, bila dibandingkan kenikmatan, kepuasan dan kelangkaan menu sajian khas pantura timur ini.


Sebenarnya, apa yang tersaji di dalam soto kerbau adalah gambaran budaya Kudus yang multiculture, yang diwarnai percampuran tradisi Hindu, Jawa dan Tiongha. Perbedaan budaya yang ada, bila berjalan berdampingan, akan menghasilkan paduan yang unik tiada duanya, termasuk dalam hal masakan.


Yang pertama adalah warisan budaya agama Hindu Jawa, dengan simbol berupa daging kerbau. Bagi masyarakat Kudus, yang notabene adalah masyarakat Jawa, hewan sapi dianggap sebagai hewan suci, sebuah larangan besar untuk disembelih dan dimakan. Pada masa penyebaran agama Islam di tanah Jawa, khususnya di daerah Kudus, untuk menghargai dan menjunjung tinggi sikap menghormati antar pemeluk agama Hindu dan umat Islam, Sunan Kudus pun “melarang” sapi untuk dijadikan santapan, meski dari sisi syariah Islam dihalalkan. Dan sebagai alternatifnya digantikan dengan hewan kerbau. Sebuah sikap toleransi yang indah. Meski budaya Hindu telah hilang pengaruhnya kurang lebih 700 tahun yang lalu, tetapi kebiasaan yang terlanjur terpatri dalam kehidupan masyarakat Kudus untuk tidak menyantap daging sapi diwariskan sampai sekarang.


Kuah adalah representasi budaya Jawa yang tampak mendominasi dalam semangkuk soto kerbau. Berwarna bening, sedikit berminyak dan tarikan rasa asam Jawa. Bumbu-bumbu yang digunakan pun bercitarasa Jawa, seperti penggunaan kemiri dan perasan jeruk limau. Cara penghidangannya pun bisa dipilih, nasi langsung dicampur dengan kuah sotonya atau terpisah. Penyajian yang asli adalah nasi langsung dicampur dengan soto kerbau, sesuai dengan selera Jawa yang selalu menjadikan nasi sebagai makanan pokok.


Unsur Tiongha secara eksplisit terlihat dari penggunanaan serbuk koya dan bawang putih goreng. Serbuk koya adalah budaya kuliner Tiongha peranakan. Serbuk ini terbuat dari santan kelapa yang dikeringkan, berfungsi sebagai penyedap rasa dan penambah tekstur. Masakan Jawa biasanya menggunakan bawang merah goreng, bukan bawang putih, untuk digoreng sebagai kodimen. Namun di soto kerbau, bawang putih gorenglah yang dijadikan campuran.


Alhasil, dari pertemuan tiga budaya yang saling melengkapi dalam semangkuk soto kerbau inilah, tercipta cita rasa yang khas dan membumi.


Soto kerbau adalah bukti bahwa perbedaan, bila berjalan selaras, akan menghasilkan ‘kreasi baru’ yang indah. Agar bisa selaras, tiap budaya harus diberi kesempatan hidup, berkembang dan berasimilasi dengan budaya lainnya, karena tiap-tiap budaya bisa menyumbangkan nilai-nilai positif  untuk masyarakat. Bukan untuk disingkirkan, apalagi dimusnahkan.

Lontong Tuyuhan, Kuliner di Kaki Bukit Bugel

Lokasi Menentukan Reputasi


Rembang, yang masyhur dikenal  Bumi Dampo Awang, pun tak luput dari daerah yang kaya akan khasanah kuliner Nusantara. Dan salah satu masakan yang kondang seantero ranah pantura timur adalah Lontong Tuyuhan.


 


Pusat wisata kuliner Lontong Tuyuhan sendiri terletak di pinggir jalan kabupaten yang mengubungkan Kota Kecamatan Lasem dan Kota Kecamatan Sulang via Japerejo, tepat berada di Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang.  Meski lokasi ini bukan di pinggir jalan raya pantura, namun tidak menghalangi niat para penggiat kuliner untuk singgah ke tempat wisata kuliner identitas Kota Rembang, yang berjarak 3 km dari jalur utama penghubung dua ibukota propinsi, yakni Surabaya dan Semarang.


 


Ada dua alasan mengapa Lontong Tuyuhan ‘menyihir’ insan perkulineran, yakni kolaborasi paket wisata kuliner sekaligus wisata alam. Letak Desa Tuyuhan yang berada di kaki bukit Bugel, di tengah hamparan tanaman padi nan subur dan ladang-ladang tebu yang diusahakan masyarakat, dinaungi pegunungan Lasem dengan puncak Argo di ketinggian 800 m dpal, diterpa udara semilir sejuk segar khas hawa angin gunung, sangatlah membantu menurunkan tensi denyut pikiran, melepas penat dari rutinitas kehidupan. Serasa kita menikmati wisata kuliner di tengah alam pedesaan nan permai, sehingga semakin menggelorakan nafsu makan dan hadirnya sebuah kebahagiaan di tengah acara makan bersama keluarga ataupun teman.


100_4475


 


Membedah keistimewaan lontong tuyuhan



lontong-tuyuhan2



 


Sebenarnya, lontong tuyuhan tidaklah jauh berbeda dengan opor ayam. Kekuatannya berada pada kuah santan yang lebih kental, gurih dan pedas hasil olah tumis cabai merah dan jahe, dengan sedikit tambahan kecap manis, serta perpaduan rasa rempah-rempah kemiri, bawang merah, bawang putih, lengkuas, kemiri, ketumbar, kencur, pala, dan kunyit.


 


Bila kita jajan menu ini, biasanya penjual menawarkan pilihan potongan ayam. Menurut Pak Katemin,-pemilik kedai di Pusat Jajan Lontong Tuyuhan-, langganan kami sekeluarga, seekor ayam dipotong menjadi 12 bagian, yaitu kepala (endas), leher (rongkong), dada (mentok), dua paha bawah (sempol), dua paha atas (gending), dua sayap kanan kiri (suwiwi), punggung (geger), ekor (brutu),  dan ati ampela (jeroan). Sengaja dipilih ayam kampung muda, istilah Jawanya kemanggang, agar didapat tekstur daging ayam nan  empuk, tidak terlampau keras, tidak terlalu lunak.


 


Ada satu kekhasan lagi dari menu yang resepnya ini diwariskan secara turun temurun dari para leluhur Desa Tuyuhan, yaitu bentuk lontongnya, yang dibungkus daun pisang dan berwujud prisma segitiga. Cara membuatnya pun tidak asal-asalan, ada resep khusus, sehingga lontong terasa empuk dan lembut di mulut. Salah satu rahasia dapurnya adalah diimbuhkan dengan sedikit daun pandan, agar aromanya bertemu dengan rasa nasi, sehingga semakin melengkapi kelezatan lontong tuyuhan.


 


Dan konon, citarasa lontong tuyuhan tidak lepas dari kepercayaan para penjualnya. Mereka meyakini lontong hanya akan terasa enak jika dimasak dengan air Desa Tuyuhan. Hal yang berbau klenik ini seolah menjadi pembenaran bahwa memang lontong tuyuhan tidak bisa disamakan dengan opor ayam dari daerah manapun.


 


Jangan dibayangkan menu ini dihidangkan oleh restoran/ warung makan kelas atas. Yang ada di Tuyuhan, hanyalah los-los sederhana berukuran 3m X 4m, dengan tempat duduk berupa bangku panjang, meja kayu beralas kain plastik dengan ornamen bunga dan bangunan semi terbuka, sehingga nuansa alam Tuyuhan bisa kita jelajahi. Dan penjualnya pun menggunakan angkringan yang terbuat dari bambu atau rotan, yang cara membawanya dengan dipikul, sebagai tempat meracik lontong dan opor ayam. Sebuah pencitraan sajian menu tempo doeloe, khas pedesaan pesisir pantai utara Jawa.


 


Sebelum digantikan teh botol atau es kelapa muda, dulu dihidangkangkan air kendi secara gratis sebagai minuman teman bersantap lontong tuyuhan. Tentu saja isi kendi adalah air yang berasal dari sumber pegunungan Lasem, yang segar dan higienis, tanpa terkontaminasi zat-zat polutan. Sayang, sekarang pembeli lebih menyukai modernitas dan gengsi, apa spesialnya jauh-jauh ke Tuyuhan hanya untuk minum air putih? Tidak aneh bila akhirnya peran kendi hampir tersingkirkan.  


 


Sejarah lontong tuyuhan


Menurut cerita Pak Katemin pula, sejarah lontong tuyuhan tidak bisa dipisahkan oleh sosok Sunan Bonang. Sunan Bonang, yang bernama asli Raden Makdum Ibrahim, kala itu sedang bergiat menyebarkan agama Islam di daerah Rembang. Namun karena satu hal, terpaksa berhadapan dengan Blancak Ngilo, yang terus menerus memusuhi beliau. Dengan jalan diplomasi tidak mempan, akhirnya ditempuh jalan yang sedikit represif, dalam koridor menegakkan syariah dan ajaran Islam. Di mana pun Blancak Ngilo berada, terus diburu oleh Sunan Bonang. Syahdan, sampai suatu ketika Blancak Ngilo sedang makan opor ayam dengan lontong  di tengah sawah, dipergoki oleh Sunan Bonang. Blancak Ngilo pun ambil langkah seribu, terbirit-birit ketakutan, sehingga tanpa disadari (maaf) terkencing-kencing di celana. Melihat adegan ini dan untuk mengenang daerah ini selanjutnya, Sunan Bonang mengeluarkan ‘fatwa’, kelak bila jaman telah ramai, daerah ini akan bernama Tuyuhan, yang artinya tempat Blancak Ngilo lari ketakutan hingga terkencing-kencing.  Dan cerita legenda turun temurun ini terpatri di hati masyarakat sekitar, dan sampai sekarang kekal menjadi Desa Tuyuhan.


 


Dulu, penjual lontong tuyuhan tidak menetap di satu tempat, melainkan berkeliling dengan pikulan, menawarkan dagangan dari kampung ke kampung, melewati hutan jati, sawah dan kebun hingga ke Kota Lasem. Mereka keluar selepas waktu duhur dan kembali menjelang tengah malam. Sebelum dikenal lontong tuyuhan, lebih dulu disebut lontong balap, karena jika waktunya berangkat kerja, para penjual lontong beriringan seolah-olah seperti balapan. Orang-orang biasa menyantap di pinggir jalan, di bawah pohon jati, di tepi sawah dan pasar sambil duduk di dingklik. Jikalau malam tiba, digunakanlan lampu teplok (sentir) yang dibalut pelepah pisang agar tidak padam tertiup angin.


 


Ke-kini-an lontong tuyuhan


tuyuhan2


 


Seiring dengan bertambahnya pelanggan, penyuka lontong tuyuhan, atas prakarsa Pemerintah Kabupaten Rembang, dibangunlah Pusat Jajan Lontong Tuyuhan, agar pedagang dan pembeli bisa bertemu dalam satu tempat permanen, yang rapi dan tertata, dilengkapi lahan parkir yang luas, ditambahkan fasilitas musholla dan toilet agar pengunjung merasa nyaman jajan lontong tuyuhan.   


 


Sekarang, Pusat Jajan Lontong Tuyuhan selalu ramai tiap hari. Ada puluhan pedagang, yang semuanya laki-laki, berjualan berjejeran di kedai-kedai kecil yang disediakan. Rata-rata para penjual di sini menggelar dagangan sejak pukul 12.00 hingga 20.00, dengan sistem bergantian antar penjual, ada yang membuka lapak siang hari dan ada yang menjelang sore. Tidak ada aroma persaingan bisnis antar penjual lontong tuyuhan meski mereka berjualan bareng dengan menu yang sama. Justru yang terlihat kompetisi sehat untuk menyempurnakan menu makanannya, menjaring sebanyak-banyak pelanggan, mengunci pilihan hati pembeli dengan sedap dan maknyus-nya menu masakannya. Semua yakin akan jatah rejeki masing-masing, tinggal bagaimana para penjual lontong tuyuhan memaintain daya tarik jualannya.  


 


Who knows, Semarang identik kota lumpia, kelak Rembang tersohor dengan sebutan  kota lontong.