Tampilkan postingan dengan label Wisata Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juli 2009

Prataan; Mandi Sauna di Tengah Belantara

[gallery]

Dalam perjalanan pulang dari rumah eyang putri-nya Naura di Bojonegoro, kuputuskan untuk mengaspal melalui rute Bojonegoro-Jatirogo-Rembang. Sengaja jalur ini aku pilih karena bisa memangkas jarak Bojonegoro-Rembang dibanding via Cepu-Blora. Memang, kondisi jalanan cukup sempit, namun lumayan mulus karena sebagian besar permukaan jalan sudah di-hot mix. Meski menyisakan kontur bergelombang --karena katakterisitik tanah di sekitar pegunungan kapur yang memanjang mulai dari Lasem-Pamotan-Sale-Jatirogo-Parengan yang labil-- namun  tak signifikan menghambat laju kendaraan. Bis AKAP semacam Pahala Kencana, Tri Sumber Urip, Dali Mas dan Haryanto pun membuka trayek Bangilan-Jatirogo-Jakarta, karena ditunjang infrastruktur yang memadai. Tidak bisa dipungkiri, daerah seputar Senori dan Bangilan adalah salah satu pemasok tenaga kerja informal di Jakarta. Sehingga keberadaan moda transportasi ke ibukota sangat membantu mobilisasi warga di sekitar perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini.


 


Sesaat setelah melewati jantung kota kecamatan Parengan, kurang lebih 10 km dari pusat kabupaten yang identik dengan jajanan ledre ini, terlihat papan penunjuk arah bertuliskan “Wana Wisata Air Panas Prataan, 6 km”. Untuk mengobati rasa penasaran akan haus menikmati pesona alam, akhirnya kuarahkan mobil 1300 cc menyusuri jalan kecil yang membelah hutan jati, berbelok ke kanan dari jalur utama. Cuaca siang itu begitu panas karena fase musim sedang menapaki pancaroba, masa transisi dari penghujan beringsut ke kemarau. Dedaunan di ranting-ranting tectona grandis mulai mengering, menguning dan selanjutnya berguguran, tanda perilaku alami tanaman bernilai jual tinggi ini dalam mengakali cadangan makanannya sebagai bekal menghadapi kemarau panjang. Untunglah, angin perbukitan “bersedia” bersemilir sepoi-sepoi, mengeliminir hawa sengatan mentari nan terik. Andai saja saat berada di tempat ini bertepatan musin hujan, pasti kesan hijau, lembab, segar serta teduh yang akan melingkupi acara plesiran keluargaku.


 


Biarpun ketidakramahan alam mengemuka, soal keindahan panorama Parengan tak serta merta sirna. Jalanan yang berliku-liku, dengan sajian bukit yang didominasi vegetasi jati yang tumbuh raksasa seakan menjadi penghibur mata. Terlebih saat melewati perkampungan di tengah hutan, sawah-sawah padi menghijau, mengisi bulir-bulir kembangnya, menyeruakkan asa para petani dengan hasil panenan yang sepadan dengan kerja kerasnya. Tidak seperti daerah lain di sekitar hutan yang biasanya krisis air di kala kemarau datang, air di desa kecil cukup melimpah. Sungai berkelok-kelok yang mengalirkan ratusan kubik air jernih dan anti polusi, ibarat oase di padang tandus lereng bukit kapur. Keberkahan Yang Kuasa tidak pernah memilih tempat, di setiap titik di jagad raya, sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim selalu bertaburan.


 


Tak jauh dari kampuang nan jauh di mato ini, gerbang obyek wisata Prataan berdiri menyongsong.  Petugas membukakan portal sebagai akses masuk, setelah ketebus tiket seharga Rp1.500,00 per kepala dan Rp3.000,00 untuk bea parkir roda empat. Kami langsung di hadang tanjakan tinggi untuk mencapai lokasi sebenarnya. Gigi transmisi hanya berkutat di posisi satu, karena terjalnya lereng. Tidak sampai 100 m dari gateway, pusat wisata air panas Prataan terhampar.


 


Lokasi wana wisata pemandian air panas  Prataan ini terletak di Dukuh Ngaget, Desa Wukirharjo, Kecamatan Parengan, Tuban. Tepat berada di area hutan lindung Parengan, pada ketinggian 400 m di atas permukaan air laut. Hutan jati berusia rata-rata 50 tahun, dengan diameter batang hingga mencapai 2 meter, berjajar di kanan kiri obyek wisata unggulan kota tuak ini. Secara administratif, kawasan hutan ini masuk Kesatuan Pemangkuan Hutan Parengan dan secara pengelolaan dilakukan oleh Kesatuan Bisnis Mandiri Wisata, Usaha, dan Benih Perhutani Unit II Jawa Timur. 


 


Karena daya tarik obyek ini sendiri adalah pemandian air panas, kucoba mencicipi mandi sauna di tengah belantara. Secara total, disediakan 12 bilik kamar mandi, yang dilengkapi kran air panas dan air dingin untuk mengatur level kehangatannya. Mata air sumber air panas ada di sumur kecil yang terletak di samping bilik-bilik ini. Airnya di dalamnya tampak mendidih, bergejolak dan mengeluarkan asap tipis.


 


Dan salah satu kekhasan air panas Parengan, kadar belerangnya cukup tinggi. Pihak pengelola membatasi waktu mandi maksimal 15 menit, mengantisipasi tingginya kadar belerang dan bahaya panas. Terdapat warning high alert bagi yang memiliki riwayat sakit jantung, epilepsi dan ibu hamil. Selain itu, tidak disarankan mandi dengan perut belum terisi.


 


Benar terbukti. Saat kusiapkan air panas di bak kamar mandi, luasan udara seketika berubah pengap dengan bau tajam belerang.  Untuk meredam “ancaman”nya, air panas perlu dipadukan dengan campuran air dingin. Ketika berendam, terasa menikmati mandi uap di tempat sauna. Kehangatan air 50diserati kepulan asap, membuat keringat bercucuran. Air dengan kandungan belerang dipercaya menyembuhkan banyak penyakit kulit, seperti gatal-gatal dan eksim. Selain itu, bisa digunakan sarana relaksasi, menghilangkan kepenatan dari rutinitas harian pengunjung. Itulah sumbangsih alam, yang tak pernah lekang bersahabat dengan penghuninya selama diperlakukan dengan bijak dan berwawasan lingkungan.


 


Disediakan pula fasilitas kolam renang air dingin yang bersumber dari mata air di sekitar lokasi, dengan tiga tingkat kedalaman. Di sini, visitor tak usah khawatir dengan bahaya air panas. Bisa berlama-lama bermain air, dipayungi lebatnya dedaunan di sekitar kolam renang.  


 


Andai kita berkesempatan naik ke lereng lebih atas lagi, terdapat area bumi perkemahan dan kegiatan outdoor. Di saat libur sekolah, tempat ini selalu ramai para petualang alam berkemah, camping atau mengadakan tadabur alam.


 


Dan hebatnya, untuk menikmati semua fasilitas yang ada, pengelola mematok tarif dengan harga terjangkau. Untuk mandi sauna, hanya perlu membayar Rp2.000,00 dan menikmati kolam renang cukup selembar uang seribuan + sekeping uang logam lima ratusan. “Kalau ada yang lebih baik, buat apa bayar lebih”. Mungkin itulah falsafah pengelola dalam merayu calon pengunjung.


 


Sayang, maksud hati ingin berlama-lama bercengkerama dengan kecantikan alam Parengan terhalang rencanaku bepergian ke Jakarta sore harinya. Menjelang waktu dhuhur, kutinggalkan  Prataan Natural Hot Spring ini. Rasa kagum dan bersyukur atas anugrah alam ciptaan-Nya tertengadah dari kekerdilan jiwa insan manusia. Suatu keajaiban alam, sumber air panas keluar dari perut bumi yang jauh dari jalur gunung berapi.


 


Maha Suci Engkau Ya Allah…

Selasa, 24 Maret 2009

Srambang (3)

Perjalanan ke Srambang Ngawi (3)


Saat Tekad dan Aksi Nekat Berjabat Erat


 


Baru beberapa langkah…


 


Subhanallah…gambaran alam nan eksotik menghampar di depan mata. Hutan pinus, kabut tipis, udara dingin, ladang ketela, kampuang nan jauh di mato dan semburat tipis cahaya siang menembus mendung di atas langit Srambang menggenapkan kesempurnaan “masterpiece” ciptaan-Nya. Terucap syukur dan tafakur-ku sembari kususuri setiap sisi lereng Lawu, berharap air terjun terlihat dari tempatku berdiri. Nihil, hanya vegetasi hutan tropis yang merajai.


31



 


Kulangkahkan kaki menuruni jalan terjal dan berbatu. Terlihat sepasang muda mudi bersiap pulang. Nuansa Srambang saat itu sangat sepi dari hiruk pikuk kehidupan manusia, hanya terdengar lengkingan serangga hutan dan gemericik air bening di hilir sungai, sesekali diiringi gelegar petir. Tampak sebuah loket di kejauhan, dan dari sanalah sebenarnya kawasan wisata air terjun Srambang ini dimulai. Rute kembali menanjak menuju loket masuk, di sela-sela hutan pinus yang lebat dan tinggi menjulang. Akupun terengah-engah, tak beda saat hiking naik gunung Gede tahun 2002 silam. Semula aku kira posisi air terjun tak jauh dari loket, namun tak terdengar debur air menghujam. Dugaanku meleset.


 


“Pak, mau masuk ke air terjun!”, kataku kepada penjaga loket


“Berapa orang Mas?”


“Cuma satu Pak”


“Berapa Mas?”


“Cuma satu.”


 


Duh, aku ini dianggap orang mencurigakan atau gimana sih, lha wong cuma sendirian masak ngga percaya. Atau dinilai orang aneh, hujan-hujan malah nekat ke air terjun.


 


“Berapa jauh ke lokasi Pak?”


“Kira-kira 1 km Mas”


 


Ha??? 1 km??? Kalau 1 km di kota itu dekat. Lha ini, menjelajah daerah baru dan asing dalam rimba belantara, 1 km serasa 10 km. Hmmkok sesusah ini cuma untuk melihat air terjun. Loket masuk Tawangmangu dan air terjun yang berjarak 300 m bagiku sudah menyiksa, apalagi ini…


 


Ah…sudah kepalang tanggung. Setelah menebus dengan Rp2.500,00, kususuri jalan setapak di bibir jurang yang dalam. Jalannya licin dan berbatu, sehingga perlu ekstra kehati-hatian. Tidak banyak pengunjung, sunyi, serasa hidup di kota mati. Langkah demi langkah kutapak, sambil melambungkan asa, banyak pengunjung yang memiliki rencana sama denganku,  mendaratkan kaki di area air terjun.


 


Namun, tak satupun pelancong kutemui. Padahal aku sudah “menebar” ratusan langkah. Tampak dua atau tiga penjual makanan dan minuman yang membuka lapak di tengah jalan, mencoba mengadu nasib, menjemput jatah rejeki.


 


“Maaf Mas, air terjun masih jauh?”, tanyaku pada salah seorang pedagang


“Masih Mas.”


 


Kok aku jadi pengecut begini ya? Mengapa aku mulai ragu untuk menembus lebatnya hutan Srambang. Ah…aku tak boleh kalah dengan perasaan yang menghantuiku.


 


Kulanjutkan langkah kembali. Lonely road, serasa berjalan di tengah areal pemakaman. Andai muncul  hewan buas, atau diganggu hantu penunggu hutan Srambang, atau kena tuah negatif yang Mbahurekso kawasan ini, ihh…seram membuatku bergidik. Bismillah (telat ya bacanya!) …aku tak boleh menyerah.


 


Pohon-pohon tua berusia ratusan tahun, batu-batu raksasa, sungai kecil berkelok-kelok, dan kabut tipis seakan menjadi pagar ayu yang menyambut kedatanganku. Berkali-kali rute setapak tak selamanya mulus. Ketika terhalang batu besar atau batang pohon tumbang, terpaksa menyeberang sungai, yang airnya deras mengalir, dengan menapak di batu-batu alam yang licin serta konon banyak pacet (lintah) hidup berkoloni di dalam sungai. Hi…jijik!


4


 


“Mas, mau ke air terjun ya?”.


Aku kaget ketika seorang ibu-ibu dengan bakul dagangan yang tengah turun dari atas membuyarkan lamunanku.


 


“Iya Bu, kemana lagi!”


“Buat apa Mas, masih jauh. Sepi di atas dan sekarang lagi hujan Mas. Hati-hati Mas, rawan longsor. Baiknya balik saja Mas”, ingatnya.


Ah, ngga Bu, pengen sekali ke air terjun”


 


Siapa dia ya? Jangan-jangan dia jelmaan peri Srambang? Eh, kok malah menghayal.Hehehe…


 


Kembali aku teringat dengan papan peringatan di dekat loket masuk. “Dilarang Masuk ketika Hujan, Rawan Longsor”.  Ah…aku sudah maju sejauh ini, masak harus mundur kembali. “Lanjut Gan!!!”, hardik kata hatiku.


 


Langkah demi langkah kugulirkan kembali. Semakin dalam, semakin jauh arah yang susuri. Sampai akhirnya di satu tempat yang redup sinarnya, karena kanan kiri diapit oleh tebing tinggi, setinggi hampir 50 m. Duh…bergidik bulu roma ini, andai yang aku khawatirkan terjadi longsor, tamat riwayat perjalananku di sini. “Ya Allah, lindungilah aku dalam perjalanan ini. Hidup dan matiku ada di kuasa-Mu.” , terucap doa tulus sebagai pengakuan aku ini hamba yang lemah, hanya noktah kecil di luasnya jagad raya.


 


Alhamdullilah, doaku langsung terkabul. Di titik ini kutemui lima anak muda yang hendak menuju air terjun. Lumayan, ada temannya. Kalau sekiranya terjadi apa-apa dan aku butuh bantuan, aku bisa menyandarkan bantuan kepada mereka.


 


Mulai dari sini, rute jalan sudah tak ramah lagi. Batu-batu besar, aliran air yang deras dan tebing di kanan kiri tanpa menyisakan jalan setapak di pinggir kali. Kita perlu berjalan di tengah sungai dengan menapak batu-batu hitam yang seolah telah tersusun rapi secara alami. Gemuruh air sayup-saypu terdengar, pertanda air terjun sudah dekat. Kuikuti jejak para anak-anak muda di depanku, meski aku tidak sampai bertegur sapa. Mereka asyik bercengkerama dan bercanda dengan temannya, tak mengindahkan ada orang lain yang sebenarnya butuh teman untuk menemani dalam perjalanan. Hehehe…


 


Akhirnya, tampak di depan mata air terjun deras mengalir dari ketinggian. Meski harus bersusah payah menaiki tangga kayu buatan agar bisa mendekat ke air terjun, tapi tak akan sia-sia pengorbanan, tekat dan aksi nekad, memuaskan dahaga penasaran untuk melihat air terjun kebanggaan Ngawi ini. Rasa khawatir, takut, terasing dan merinding terbayar sudah melihat keelokan pemandangan air di sisi utara lereng Lawu. So amazing, so exciting, so exotic… tak ada ibarat yang dapat melukiskannya. Aku yakin, air terjun ini pesona nan amat sangat mahal, karena tak mudah untuk menggapainya. Hanya orang yang teguh baja dan bermental kuat yang bisa mencumbuinya.


 


Kupuaskan hasil perjuangan dengan mengabadikan keindahan air terjun Srambang. Setiap sudut jangan sampai terlewatkan. Namun, tampias air terjun menghalang lensa kameraku. Tidak banyak gambar bagus yang bisa kurekam. Tak apalah, yang penting aku punya bukti bahwa aku pernah menaklukkan Srambang.


5


 


Kutadabur-i gemilang karya Yang Kuasa yang digoreskan di kanvas lereng Lawu. “Tuhan, sebagian keindahan alam abadi-Mu kau hadirkan dunia. Seakan engkau menyajikan iming-iming kepada umat-Mu, bahwa ada puncak kesempurnaan keindahan di arsy-Mu. Engkau telah menunjukkan jalan untuk meraihnya. Karena engkau begitu menyanyangi hamba-Mu. Semoga kelak, aku menjadi salah satu insan yang engkau ijinkan meraihnya. Amin…”


 


Hari beranjak sore. Kabut tebal mulai turun dan hujan semakin deras membahasi bumi Srambang. Secepatnya kutinggalkan air terjun, menyusuri kembali jalan tempatku mendaki. Aku tak mau terlambat tiba kembali di Kota Ngawi, pasti istri dan anakku sudah tak sabar menanti kedatanganku.


 


Terima kasih Srambang, untuk elok alammu dan pelajaran tentang kehidupan yang telah kau ajarkan. Bila ada ruang waktu, akan kutengok kembali pesonamu…    


 


 


 

Srambang (2)

Perjalanan ke Srambang Ngawi (2)


Saat Tekad dan Aksi Nekat Berjabat Erat


 “Ma, aku berangkat ke Srambang ya, Mama dan Naura ngga usah ikut.”, pintaku sewaktu berpamitan, selepas waktu dhuhur saat telah tiba di rumah Bulik di daerah Karangasri, Ngawi. Memang sih, rencanaku berubah. Mulanya aku pengen mengajak keluarga, tapi mendung gelap di sisi selatan Ngawi dan kerepotan istriku membantu persiapan acara keluarga, membuatku me-revisi planning awal.


 


Setelah permit terucap, kupacu kendaraanku ke  jantung kota Ngawi untuk menuju ke arah Sragen. Hanya solorun, sorangan wae. Setelah lampu merah perempatan Kertonyono, kupelankan laju si Aquablue, karena aku bersiap berbelok ke arah kiri, menyusuri jalan ke arah Kec. Jogorogo. Sebuah papan penunjuk jalan ke arah Paron, -daerah yang dilalui jalur menuju Jogorogo-, aku temukan. Dapat juga akhirnya jalan utama menuju lokasi air terjun Srambang. Jalannya relatif mulus dan lebar meski kontur tanah agak bergelombang. Suasana lalu lintas juga sepi, karena hujan gerimis sedari tadi turun, sehingga membuat malas orang untuk bepergian. Hawa gunung yang sejuk segar mulai terasa. Di kejauhan tampak Gunung Lawu kokoh membenam di permukaan bumi. Mendung gelap beringsut pergi, meski hujan kecil tidak juga kunjung berhenti. Untung, kabut di atas gunung masih tipis, sehingga guratan lereng Lawu masih jelas tertangkap di relung mata. 


 


Selepas Paron menuju Jogorogo, jalan mulai menyempit. Pemandangan di kanan kiri jalan dipenuhi areal persawahan padi yang sedang menguning dan kebun tebu rakyat yang sedang tumbuh mengisi, pertanda daerah ini subur dan mendekatkan berkah bagi para petani. 1



Sampai akhirnya tiba di pusat kota Kecamatan Jogorogo, yang hampir berjarak 25 km dari Kota Ngawi. Cukup jauh juga. Jalan yang mulus berakhir di pertigaan Pasar Jogorogo. Di sini aku sempat bingung, kok tidak ada plang nama petunjuk ke arah Srambang. Akupun bimbang, apabila lurus, jalannya berkualitas murahan, hanya beraspal curah, bukan hotmix lagi, sedang belok ke kiri (sesuai papan petunjuk) adalah jalur alternatif ke Maospati. Coba berspekulasi ambil jalan lurus, percaya saja sama instingku.


 


Mulai dari sini, medan mulai berat, naik turun penuh kelokan tajam. Apalagi kondisi jalan yang rusak, penuh lubang akibat perbuatan air hujan dan mengelupasnya aspal jalan, membuat kendaraan semakin kesulitan untuk melaju. Jalur ini tepat berada di tengah-tengah perkampungan yang (maaf), istilah kami ndeso, jauh dari hingar bingar kehidupan modern. Rumah-rumah wargapun sangat sederhana dan wajah-wajah penghuninya bersahaja.


 


Dalam batinku, “Kok tidak sampai-sampai ya, padahal kaki Gunung Lawu sudah kudaki.” Bahkan timbul keraguan, jangan-jangan bukan jalan ini yang dimaksud. Malu bertanya, sesat di jalan. Itulah peribahasa yang tepat bila aku terjerumus oleh sikap sok tau. Akhirnya aku bertanya kepada pemilik warung makan kecil-kecil di pinggir jalan. “Inggih Mas, leres niki redine. Kirang langkung 4 km malih,” ujar seorang kakek. (Iya Mas, benar ini jalannya. Kurang lebih 4 km lagi).



Kulanjutkan kembali perjalanku. Ah…mengapa aku tidak membeli penganan di warung kakek tadi? Belaiu sudah banyak membantu, semestinya aku berterima kasih dengan cara membeli jualannya. Duh…menyesal, ternyata aku belum ngeh cara halus untuk membalas budi. 


 


Jalanan semakin parah, sempit dan terjal. Ditambah hujan yang turun semakin deras, seakan mencurahkan semua isi langit. Ugh…kalau hanya untuk bersenang-senang, pasti akan kuputar balik kendaraanku menuju Ngawi. Bagiku, daerah ini terlalu asing dan serasa di ujung dunia. Buat apa sengsara seperti ini?


2


 


But…apa yang kulihat di depan? Hore!!! Empat buah medium bus PO Widji Lestari membawa rombongan anak-anak SMP di Tuban siap berpas-pasan denganku. Pasti mereka perjalanan pulang dari Srambang. Hehehe…masak aku kalah sama anak-anak sekolah.


 


Akhirnya tiba di satu perempatan jalan dengan tugu kecil, monumen kelompok persilatan Setia Hati Teratai, di tengahnya. Alamat bingung kembali. Celingak celinguk, tak ada arah petunjuk ke arah air terjun Srambang. Bertanya lagi kepada ibu-ibu penjaga warung kelontong. “Belok ke kiri Mas, 100 m lagi,” jelasnya. “Ya ampun, gimana orang mau ke Srambang, papan penunjuk jalan dan penanda lokasi air terjun Srambang aja ngga ada. Belum lagi jalan yang amburadul, pasti orang malas untuk berkunjung”, gumamku.


 


Setelah membayar pass masuk sebesar Rp5.000,00 untuk mobil (mahal bener ya???), langsung turunan tajam menghadang. Jalan aspal telah berakhir, yang tersisa hanya jalan makadam. Kuparkir kendaraanku di sebuah rumah penitipan, yang di dalamnya tampak beberapa buah motor pengunjung. Segera kukunci sambil berpesan kepada pemilik rumah untuk menjaganya. Tapi herannya, Pak Penjaga Mobil ini orangnya cool, jaim banget dan jauh dari keramahan. Hanya ngomong ketika ditanya, itupun hanya satu dua patah kata.


 


Buktinya, ketika aku tanya,


 


“Pak, air terjun masih jauh?”


“Masih”


“Seberapa jauh Pak?”


“Pokoknya jauh Mas.”


 


Duh…kalau sudah bilang ‘pokoknya’, susah deh…Sudahlah. Semoga itu hanya karakter dia saja, bukan keseluruhan masyarakat Srambang.


 


Namun, apakah sikap demikian yang seharusnya ditunjukkan kepada orang yang baru pertama hendak menginjak bumi Srambang?  Jadinya memberi kesan kepada pengunjung bahwa Srambang hutan larangan dan penuh misteri.


 


 


Hujan mulai reda, meski masih gerimis kecil. Untung, di dalam mobil tersedia payung, sehingga banyak membantuku agar nantinya tidak berbasah-basahan dengan air hujan. Kukembang piranti pelindung hujan, bersiap-siap memulai petualangan baru.

Srambang (1)

Perjalanan ke Srambang Ngawi (1)


Saat Tekad dan Aksi Nekat Berjabat Erat


 


Awalnya, di dalam benakku, Ngawi bukanlah daerah yang kaya akan wisata alam yang menarik untuk dikunjungi. Meski rajin bertandang ke kota keripik tempe ini, belum pernah sekalipun aku menemukan daerah  yang “sedikit layak” dijadikan pilihan untuk merengkuh aura kesegaran baru buat membebaskan pikiran.


 


Apalagi selama ini seringkali melalui jalur Cepu-Ngawi, yang didominasi lahan tandus, tanah berkapur dan sengatan cuaca panas, yang membuat silau dan kurang sedap dipandang mata. Kalaupun ada sedikit keindahan, bagiku hanyalah alas Mantingan, yang memberi warna hijau oleh rindangnya daun-daun jati yang menjadi pagar hidup jalur selatan, penghubung Kota Sragen dan Kota Ngawi. Pernah sekali waktu melewati jalur Ngawi-Karangjati, hmm….sama saja. Hanya hamparan persawahan diseling perkampungan penduduk. Standar-standar saja tanpa keistimewaan, mudah menemukan panorama model beginian di tempat lain.


 


Tapi aku yakin, di setiap kota yang pernah aku singgahi, pasti ada daya tarik unik. Yang entah karena kurang promosi atau kekurangpedulian dinas terkait untuk mengorbitkannya di jajaran obyek wisata unggulan, sehingga jarang terpublish di ranah  wisata nusantara.


 


Mendengar akan ada acara keluarga di Ngawi, bergegas aku minta tolong Paman Google mencari informasi obyek wisata kota Ngawi. Toh acaranya digelar malam hari, siangnya aku punya waktu leluasa untuk menggelorakan jiwa petualangku. Searching…searching…benar kan, ternyata lumayan ada juga. Mulai  Waduk Pondok, Pemandian Tawun, Kebun Teh Jamus, Air Terjun Srambang, situs purbakala Trinil, dan Gunung Liliran. Tapi kuputuskan men”centrang” Srambang sebagai target yang aku bidik. Hanya alasan simpel, aku ingin mengkomparasikan dengan air terjun Tawangmangu, yang akhir tahun kemarin aku sambangi.


 


Namun sayang, berita “keberadaan” tentang air terjun ini sangatlah minim. Bahkan sampai aku mengkorek-korek blog-blog pribadi para netters, tidak banyak kutemukan. Kesimpulanku, tempat ini memang kurang laku jual. Ibarat kata, bukan karena Srambang tidak punya nilai, melainkan  “orang marketingnya” kurang greget menawarkan barang dagangannya. Untuk informasi rute ke arah obyek ini saja juga kurang memadai bagi yang buta peta Kabupaten Ngawi. Sampai-sampai kupasang satus “Didik, butuh petunjuk jalan ke Srambang, Ngawi” di Facebook, siapa tau ada FBers yang bisa meng-assist. Untunglah, Mas Habib, anggota komunitas Bismania yang asli orang Ngawi, merespon “peluit SOS”-ku. Akhirnya lewat chatting di room privacy, dia memberi ancer-ancer ke arah Srambang dan sedikit berbagi cerita bahwa dia pernah ke sono sewaktu masih bersekolah di SMA. 


 


Yup, tekadku mulai membuncah. Aku harus sampai di kompleks air terjun Srambang. Dunia ini luas untuk dijelajahi, tetapi akan terasa sempit bagi tekad seorang petualang.


 


 

Rabu, 18 Februari 2009

Waduk Tempuran, “Oase Buatan” Di Bumi Tandus

42Blora, -sebuah kabupaten di sisi timur tenggara Propinsi Jawa Tengah-, merupakan daerah berhawa panas dengan karakteristik tanah yang relatif tandus. Posisi geografis kabupaten yang berbatasan langsung dengan wilayah selatan Kota Rembang ini berada di dataran rendah dan perbukitan dengan ketinggian 20-300 m dpal, sehingga turut mempengaruhi iklim kehidupan alam Blora yang  terkenal keras. Meskipun topografi daerah kaya minyak ini didominasi  hutan jati, namun faktanya Blora berstatus “pelanggan tetap” korban derita alam akibat degradasi fungsi dan kualitas lingkungan, ulah  tangan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Belitan krisis air di saat musin kemarau serta ancaman banjir dan longsor seakan menjadi sahabat tahunan warga Blora. Sungguh ironis.


 


Curah hujan yang rendah, rata-rata “hanya” 105 hari atau 1566 mm per tahun cukup membuat “kewalahan” pihak terkait untuk menyediakan kebutuhan air bersih. Salah satu solusi yang digagas adalah pembangunan tandon-tandon air, semisal embung, waduk ataupun kolam penampungan air, memanfaatkan air hujan yang biasanya turun di rentang bulan November hingga bulan Februari.


 


Dan salah satu karya “masterpiece”  Pemda Kabupaten Blora adalah Waduk Tempuran. Wadah air raksasa ini terletak Desa Tempuran, Kecamatan Blora Kota, berjarak 15 km arah utara jantung Kota Blora. Luasan air yang menggenang seolah-olah melingkari Dusun Juwet sehingga kampung kecil nan permai ini tampak mengapung di tengah-tengah waduk. Sebuah miniatur Danau Toba dihiasi Pulau Samosir di tengahnya.


 


Waduk yang dibangun di awal tahun 2000 ini seakan menjadi “obat pintar” menyiasati gersangnya alam bumi Blora. Selain memainkan peran utama sebagai sumber ketersediaan air bersih, air waduk dimanfaatkan pula sebagai sarana irigasi pertanian, tempat budidaya ikan air tawar, arena pemancingan, sarana even olahraga dayung tingkat lokal hingga nasional, serta dikreasikan menjadi tempat wisata berkonsep “duo tourism objects”, yaitu paket wisata alam digabung dengan wisata kuliner.   


 


Rute utama yang ditempuh untuk mencapai lokasi adalah jalan raya Rembang-Blora. Bila kita dari arah Rembang, sesampai di perempatan Pasar Medang  langsung berbelok kiri, menyusuri jalan sempit di tengah areal persawahan. Sewaktu kami sekeluarga ke sana, kami bertiga disuguhi pemandangan nan eksotis di kanan kiri jalan. Tunas muda pucuk-pucuk batang padi yang sedang  tumbuh mengembang menghampar laksana permadani hijau royo-royo yang menyejukkan. Rimbunnya daun-daun jati seakan menjadi “kamuflase” untuk menyembunyikan ketidakramahan iklim kering daerah ini. Jajaran perbukitan kapur semakin menggenapi panorama indah lukisan alam,  memanjakan setiap mata untuk meliriknya.


 


Sebelum memasuki kawasan wisata, kita akan menjumpai sebuah stasiun klimatologi kecil, yang dipakai untuk memantau keadaan cuaca di sekitar waduk. Stasiun ini mencatat setiap perubahan kecil dari temperatur udara, kelembaban udara, dan curah hujan. Data-data ini sangat penting untuk pengaturan air waduk.


 


Melihat animo masyarakat yang cukup tinggi untuk berkunjung, Dinas Pariwisata Kabupaten Blora pun menggandeng mitra swasta untuk mengelola secara profesional keberadaan Waduk Tempuran. Bukan sekedar untuk memanfaatkan pesona air waduk, namun dipadukan dengan wisata kuliner. Maka dibangunlah semacam kedai makan, -yang lebih cocok disebut café-, yang menyajikan wisata kuliner khas Waduk Tempuran, yaitu ikan bakar. Untuk menjaring lebih banyak wisatawan, disediakan fasilitas tambahan berupa taman bermain plus kolam renang bagi anak-anak, wahana bebek air, homestay, gedung pertemuan dan panggung live music khusus hari Minggu dan  libur besar.


 


Di cafe yang dinamai “ Café In” ini, menu utama yang ditawarkan adalah ikan bakar, dengan pilihan ikan bawal ataupun gurami.  Dengan paduan bahan rempah-rempah bawang putih, garam dan merica dengan komposisi yang klop sewaktu memasaknya, dilumuri kecap manis, bumbunya pun terasa meresap sampai ke dalam tekstur daging ikan. Dicocolkan ke dalam sambal terasi pedas yang menyengat indra perasa, dengan lalapan segar daun kemangi, irisan mentimun, sayuran kol dan terong ungu, serta nasi pulen yang mengepul hangat, semakin pas untuk menyempurnakan salah satu hidangan khasanah dunia boga nusantara. Menghabiskan acara bersantap siang  bareng keluarga di saung-saung yang mengapung di atas air yang melimpah ruah, menjanjikan nafsu makan kian bergelora dan semakin menambah kenikmatan mengecap hidangan identitas Waduk Tempuran ini. Selembar uang 50 ribu-an pun masih tersisa untuk menebus 1 kg ikan gurami bakar, komplit dengan kondimennya, sebakul nasi putih dan minuman teh manis.   Sepadan dengan kepuasaan mencumbui keindahan wisata alam sekaligus menuntaskan demam kerinduan mencicipi wisata kuliner .




201


 


Siapa yang tidak tergoda untuk mencobanya?


 

Senin, 09 Februari 2009

Eksotisme di Lereng Lawu

[gallery]



Berawal dari Sebuah Angan-Angan

Mengisi libur panjang Natal tahun ini, kuputuskan untuk menjelajah rute Magetan-Cemoro Sewu-Karanganyar yang konon menantang skill dan adrenalin para adventurer dengan jalurnya yang sempit, terjal, curam, dan penuh kelokan yang berbahaya di lereng Gunung Lawu. Sekaligus ingin mencicipi pesona wisata air Telaga Sarangan dan Air Terjun Tawangmangu.


Sebenarnya angan-angan ini sudah lama kupendam dalam hati. Apalagi setelah membaca testimoni dan kesan-kesan para pendahulu yang pernah mencumbui indahnya pesona lereng Lawu, membuat hati ini menggebu-gebu dan tidak bersabar lagi untuk membuktikannya.  Dan Dewi Fortuna memihakku, liburan di penghujung tahun 2008 adalah momen yang pas untuk mewujudkannya.


 


26 Desember 2008, Bendera Start pun Dikibarkan


Perjalanan bersama putri kecil dan permaisuriku kali ini kuawali dari rumah Eyang Putri di Kota Ngawi. Selesai menunaikan sholat Jumat, akhirnya perjalanan liburan kali ini kumulai. Menyusuri jalan Ngawi-Maospati-Magetan, tampak di kejauhan mata biru dan teduhnya Gunung Lawu seolah-olah melambaikan tangan untuk menyambut kedatangan kami. Kabut tebal seakan menjadi selimut sementara untuk menyembunyikan pesona alam di kaki gunung, agar kami semakin penasaran dan berdebar hati untuk menyibak apa yang terkandung di dalamnya.. Hawa semilir angin gunung pun tak luput menyapa kami dengan belaian lembut di ujung rambut dan menerpa dengan mesra permukaan kulit tubuh, yang jarang kami rasakan di gersangnya tempat alam kami tinggal.   Tampak kanan kiri  hijaunya daun padi dan kemuning bulirnya seperti dekorasi nan indah di hamparan permadani alam ciptaan-Nya. Hutan pinus dan cemara yang tinggi menjulang di perbukitan lereng Gunung Lawu memberi kesan merekalah para punggawa kerajaan Lawu yang siap menjaga perjalanan waktu gunung tertinggi keenam di Pulau Jawa ini. Jalan raya nan mulus berkelok-kelok seirama kontur alam pegunungan, terlihat belasan kendaraan roda dua maupun empat seolah merangkak kepayahan mendaki bukit untuk menaklukan ketinggian yang dipunyainya. Sungguh, pesona alam yang sayang untuk tidak dilirik.


 


Sarangan, I’m Coming…


Setelah satu jam lebih perjalanan, tampaklah papan nama besar besar bertuliskan “Telaga Sarangan”. Tepat pukul 14.15, tibalah kami di komplek wisata yang berjarak 17 km dari Kota Magetan. Setelah membayar tiket yang per orang dikenakan bea masuk sebesar Rp5.000,00, tampak sebuah telaga nan hijau dengan air yang melimpah ruah. Hmm…ini ternyata yang dimaksud Telaga Pasir Sarangan.


 


Situasi telaga cukup ramai oleh pengunjung yang menghabiskan liburan panjang di telaga yang terletak di tengah perbukitan Sidoramping. Area parkir tampak penuh sesak oleh jumlah besar kendaraan pengunjung. Ratusan keluarga dengan membawa banyak ‘pasukan’ dan perbekalan tampak bercengkerama, nongkrong, berlesehan dan bersendau gurau di tepian telaga menikmati pesona air telaga yang bersumber dari Air Terjun Tirtosari. Puluhan calo hotel/ losmen dengan agresif menawarkan kamar bagi pengunjung yang baru saja tiba yang membutuhkan tempat menginap. Tak kalah juga para  penyewa kuda dan speedboat menawarkan jasanya bagi pengunjung untuk berkeliling rawa dengan obyek jualannya. Para tukang foto amatiran namun tak kalah profesional dengan tukang foto media massa pun tak bosan-bosannya merayu pengunjung untuk mengabadikan momen indah berwisata di telaga yang berluas 30 ha dan berkedalaman 28 m ini.  Ratusan pedagang cinderamata, sayur-sayuran  dan buah-buahaan turut mengadu nasib, menjejali setiap lorong jalan menggelar lapak jualan, bertaruh siapa tahu liburan kali ini membawa berkah dengan memberi sedikit keuntungan kepada mereka. 


 


Segera kuparkir kendaraanku-ku, untuk turun menikmati riuhnya ombak telaga oleh sibakan lambung speedboat yang disewa pengunjung untuk menikmati melimpahnya air telaga, yang sebagian besar dimanfaatkan untuk irigasi areal sawah di sekitarnya. Tampak Pulau Putri di tengah telaga nan rimbun oleh vegetasi hutan, yang di dalamnnya terdapat punden sebagai tempat sesaji dalam acara larung tahunan yang diselenggarakan tiap Jumat Pon di Bulan Ruwah. Terlihat pula anak-anak dan orang tuanya dengan dipandu “pawang kuda” menunggang kendaraan hidup ini mengitari telaga, menjadikan liburan di telaga ini akan berkesan baginya. Sebuah dinamika kehidupan di sore nan cerah di lereng Lawu, di ketinggian 1.267 m dpal.


 


Segera terpikir olehku untuk mencicipi kuliner khas Sarangan, yaitu sate kelinci. Kebetulan di dekat tempat parkir ada tukang sate kelinci lesehan, karena memang banyak tukang sate kelinci bertebaran di pinggir telaga, baik yang berjualan keliling maupun menetap. Kupesan 2 porsi sate kelinci dan 1 porsi sate ayam dengan lontong sebagai pengganti nasinya (he he…maruk amat yak). Tidak perlu menunggu lama, menu sate kelinci pun terhidang. Setelah kucicipi…hmm, maknyuss tenan, begitu kata Pak Bondan. Dengan tekstur daging yang lembut, disiram bumbu kacang yang manis, dengan irisan bawang merah dan cabe kuning sebagai pelengkapnya, terasa khas citarasa yang ditawarkan oleh salah satu keanekaragaman menu masakan daerah Sarangan. Perlu enam lembar uang seribuan untuk menebus satu porsinya. Cukup murah bukan?


 


Karena berbahaya dan sangat riskan menembus tebalnya kabut sepanjang jalan tembus ke Tawangmangu di malam hari dan akupun belum menguasai medan, kuputuskan untuk bermalam di Sarangan. Banyak penginapan yang tersedia berikut dengan kelasnya. Berbekal referensi dari teman, kupilih hotel Telaga Mas. Meski musim liburan anak sekolah, masih banyak kamar yang tersedia. Dan kupesan kamar yang menghadap langsung ke arah telaga. Bertarif Rp350.000,00 semalam, dengan fasilitas double bed, TV, Shower, Bathup, view telaga, non-AC (dingin-dingin kok minta AC?), kuhabiskan malam bersama keluarga di tepian telaga yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini.


Malam hari di Sarangan kutemukan kehidupan nan damai, tentram dan nyaman. Riak-riak kecil air telaga, dinginnya tiupan angin gunung yang bersuhu di bawah 20 derajat Celcius, segar dan sejuknya semilir udara, nyala redup lampu malam di tepian telaga, tebalnya kabut putih bukit Sidoramping, suasana malam yang hening serta tenang, dan keramahan penduduk asli Sarangan sungguh-sungguh memberi makna bagi hidup ini. Betapa semua ini menjadi barang langka dan mahal untuk ditemukan di kehidupan perkotaan.  Kuhabiskan malamku dalam peraduan, dalam dinginnya hawa gunung yang berhembus di awal musim penghujan di lereng Lawu.


Esoknya, menikmati sunrise di Sarangan, semakin menambah kesan mendalam terhadap obyek wisata yang terletak di Kecamatan Plaosan, Magetan ini. Dari tempat parkir hotel, tampak di kejauhan mata kota Magetan yang tertata rapi yang bersiap menjalani hari bersama warganya. Puncak Gunung Lawu begitu jelas terlihat, karena tiadanya kabut penghalang. Jajaran perbukitan Sidoramping di sekeliling rawa seolah menjadi tebing raksasa bagi telaga ini agar air bisa tertahan dan bisa dikaryakan keberadaannya.


Mengisi pagi sebelum melanjutkan perjalanan, kuajak bidadari kecilku naik kuda yang dinamai oleh empunya “Hunter” untuk berkeliling telaga. Puas memang naik kuda sejauh 3,2 km dikawal oleh pawangnya, meski awalnya terasa tak nyaman. Mirip naik kendaraan tanpa shock absorber, keras sekali goncangannya. He he …


Dengan membayar Rp30.000,00 untuk sekali berkeliling, terasa tak sepadan dengan kepuasan dan sensasi menaiki si kuda gagah perkasa yang berbalutkan kulit coklat muda ini. 


Selesai berkuda, karena kasihan sama permaisuriku yang belum mencicipi fasilitas yang disediakan pengelola obyek wisata Sarangan, kuajak naik kapal cepat. Awalnya putri kecilku takut, tetapi setelah dibujuk-bujuk nanti dibelikan kaos bergambar kuda, akhirnya dia luluh juga. Wah…ternyata asyik juga naik kapal cepat dengan nama “Compaq” dan bermesin Yamaha S-25 ini sambil diombang-ambing ombak telaga yang ternyata cukup lumayan juga deburan ombaknya. Untuk fasilitas ini, kami mesti merelakan Rp40.000,00 untuk membayar jasanya.


Terasa kurang puas menikmati pagi tanpa mencicipi nasi pecel Madiun yang berjualan mangkal di depan hotel. Sip…betapa nikmatnya menikmati sarapan pagi di tepian telaga dengan lezatnya pecel Madiun yang kondang seantero bumi Jawa, dengan lauk bakwan jagung dan peyek kacang. Sudah enak, murah meriah lagi. Andai aku memiliki waktu panjang buat berlibur, pastilah akan kuurungkan perjalanan ke Tawangmangu hari ini. Masih banyak tawaran kuliner Sarangan yang belum sepenuhnya aku nikmati.


Sebelum beranjak pulang, tak lupa permaisuriku berbelanja cinderamata berupa kaos “Sarangan”, sayur-sayuran dan penganan khas daerah ini, seperti carang, brem, rengginan, keripik ubi rambat dan enting-enting kacang. Yah, itung-itung wisata alam sekaligus wisata belanja.


Tapi apa dikata, waktu terus bergulir. Tepat pukul 10 pagi, saatnya aku sekeluarga check out untuk meneruskan perjalanan.


Terima kasih Sarangan atas segala elok dan pesona keindahanmu, atas keramahtamahan pendudukmu, atas kesan yang engkau berikan, bahwa kita ini kecil, tak ada apa-apanya di muka jagad alam ini,  atas semua pelajaran yang engkau sampaikan, bahwa engkau sebagai alam adalah bagian dari kehidupan kami, engkau adalah ‘soulmate’ kami.


 


Cemoro Sewu, Serasa Begitu Dekat dengan Puncak Lawu


Selepas pintu keluar dari Telaga Sarangan, kami langsung berhadapan dengan tanjakan curam nan panjang hampir 45 derajat. Jalanan yang lebar hingga pintu masuk area Telaga Serangan, langsung menyempit, penuh kelokan tajam dan mesti ekstra hati-hati dengan efek blind spot. Tanjakan sepanjang 5 km membujur hingga daerah Cemoro Sewu. Dan menurut informasi dari tukang speedboat yang kami sewa, sedang dibangun jalur baru yang lebih landai dan lebar, hanya saja kemarin sewaktu kami melihatnya kondisinya masih dalam tahap pembangunan.


Pesona alam semakin indah di sepanjang jalan ini. Hutan pinus dan cemara, jurang-jurang terjal yang dalam, kabur putih nan tebal dan seolah hidup, jalan berkelok-kelok naik turun, dan puncak Gunung Lawu yang gagah menjulang adalah pemandangan abadi di jalur Sarangan-Cemoro Sewu.


Mesin 1.300 cc-ku pun meraung-raung, hanya bisa bermain di gigi persneling 1 dan 2 dengan jarum rpm mesin yang hampir menyentuh redline di tachometer. Dibutuhkan ketrampilan mengemudi yang memadai untuk menaklukannya. Jangan sedetikpun lengah apalagi sembrono membawa kendaraan. Beratnya medan membuat sebuah Mitsubishi Kuda dan dua unit angkudes terkapar di tanjakan karena overheat. Pantas saja, di papan peringatan sebelum masuk jalur ini terpampang jelas peringatan “Sehat Mobil, Sehat Pengemudi”. Ck ck ck… jangan coba-coba menundukkan jalur ini tanpa kedua syarat ini terpenuhi.


Kuberhentikan kendaraanku, melepas penat (baru sebentar kok penat!) sambil memandang salah satu sudut alam di Cemoro Sewu, yang masih masuk wilayah Kabupaten Magetan. Wuih..wuih…mantap benar dengan segar dan hawa dinginnya. Pantas saja banyak pasangan muda-mudi bercengkerama duduk-duduk di tebing jalan mencari kehangatan. Hmm…jadi mupeng deh!


Di ketinggian kurang lebih 1.600 m dpal ini serasa kita  melayang di angkasa di puncak ketinggian alam raya. Tampak kota Karanganyar dan Solo di sisi barat yang terlihat kecil di luasnya hamparan Pulau Jawa.  Di areal perbukitan terlihat ladang sayuran, mulai dari selada, kubis, kol, sawi dan wortel yang dibudidayakan oleh petani gunung, yang tampak menunggu waktu untuk dipanen. Antena Pemancar TVRI terlihat menjulang di antara hamparan bukit, sebagai penanda titik balik pendakian dari puncak menuju Cemorosewu. Menghadap ke atas sisi utara, puncak Lawu terasa so close so real, seolah tinggal beberapa langkah lagi untuk menggapainya. Padahal menurut para pendaki gunung, masih dibutuhkan waktu enam jam pendakian dari Cemorosewu. Batuan gunung hasil lelehan magma yang membeku begitu jelas menandakan bahwa gunung Lawu pernah aktif berpijar. Kabut pekat yang bergerak dan berlari naik turun nyata begitu dekat, seolah bermain-bermain di depan pandangan kita. Rombongan para pendaki gunung dan pecinta alam dengan backpacker yang sarat perbekalan tampak bernafsu untuk meraih puncak Lawu yang konon katanya waktu jaman baheula adalah kawah candra dimuka bagi jawara dan pendekar di Pulau Jawa untuk menggodok ilmu dan olah kanuragan.


 


Sebuah  lukisan alam nan eksotik tanpa campur tangan manusia, yang tak kalah indahnya dengan Telaga Sarangan.


 


Tawangmangu, Refreshing Sekaligus Uji Stamina


Perjalanan kulanjutkan ke Air Terjun Tawangmangu, yang berjarak 12 km dari Cemoro Sewu. Sebenarnya ini bukan kali pertama ke Tawangmangu, hanya saja kunjungan terakhir saat masih duduk di bangku SD seakan merupakan rentang waktu yang lama untuk tidak ‘membezuknya’ kembali.


Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp6.000,00 per kepala, kami langsung disambut puluhan ekor monyet yang hidup bebas dan terawat di komplek air terjun yang dipangku oleh Pemkab Karanganyar ini. Kawanan monyet tampak asyik bermain-main di tengah pengunjung dan sesekali mencoba merebut bekal makanan yang dibawanya. Tak ketinggalan, para pengunjung ‘berbagi kasih’ dengannya dengan memberikan makanan yang dipunyainya, mencoba menjadi sahabat sesaat bagi monyet-monyet liar ini. Sebuah sinergi indah antara manusia, alam dan margasatwa.


Area air terjun alami ini terletak kurang lebih 300 m dari pintu masuk. Itupun mesti menuruni tebing terjal yang telah dibuatkan jalan berundak oleh pengelolanya. Berkali-kali si kecilku terpaksa aku gendong, karena memang rute ke tempat air terjun ini kurang cocok buat anak kecil. Terlalu curam. (Hmm…air terjun saja belum sampai, sudah terpikir kuat tidak naiknya nanti. Sudah susah membawa badan sendiri, harus ditambah beban memanggul anakku. He…he…Demi anak kok  perhitungan).


Setelah menuruni jalan berbatu, sampailah di lokasi air terjun. Butir-butir tetesan air jatuh menderu dari derasnya aliran air di ketinggian 81 m, membuih di dasar sungai di antara bebatuan solid sebesar badan gajah di tengah rimbunnya pohon-pohon besar seperti beringin, bendo dan cemara yang berumur ratusan tahun, memberi warna dan corak tersendiri bagi obyek wisata yang terletak di lereng barat Gunung Lawu. Banyak pengunjung bermain-main di bawah air terjun, berbasah-basah ria menikmati segar dan dinginnya air pegunungan. Inilah daya tarik dan nilai jual obyek wisata yang kerap disebut Grojogan Sewu ini.


Kubiarkan putri kecilku bermain-main air, berbasah-basah ria, kecek di sungai yang bersumber dari air terjun ini. Begitu enjoy-nya dia, menikmati dunia kecil yang indah dan penuh keceriaan.


Kesempatan ini aku gunakan untuk rehat, menghimpun tenaga menjaga stamina untuk mendaki pulang sembari menikmati elok alam bumi Tawangmangu. Sayup-sayup terdengar klonengan gamelan uyon-uyon khas Surakarta mengalun dari perkampungan di sekitar obyek wisata Tawangmangu. Kuhirup dalam-dalam hawa segar gunung, agar paru-paruku kuat mengikat senyawa oksigen sebagai bekal tenaga untuk pulang.


Tak terasa perut lapar mendera. Segera kupesan sate kelinci (lagi-lagi sate kelinci…), untuk menganjal perut sekaligus sumber tenaga karena perjalanan berat sudah di depan mata. Makan siang di tengah alam, sungguh memberi satu kenikmatan sendiri.


Berhubung awan tebal telah menggantung, kuputuskan untuk segera pulang. Dengan sisa-sisa tenaga, aku harus menaklukan jalur pendakian yang terjal sambil memanggul putri kecilku. Memang mesti stop go agar bisa sampai pintu keluar. Tak apalah, alon-alon waton kelakon, begitu prinsipku. Tiap mendapat 20 m, mesti berhenti ambil nafas, lanjut berjalan kembali, ambil nafas mengatur ritme lagi, setapak demi setapak naik…dan akhirnya, sampai juga di pelataran parkir tempat mobil kami berada. Benar-benar menguras tenaga dan menguji ketangguhan stamina. Hugh…sungguh-sungguh melelahkan.


 


Pukul satu siang, di titik Tawangmangu akhirnya perjalanan Magetan-Cemoro Sewu-Tawangmangu ini kuakhiri. Untuk segera melanjutkan perjalanan pulang ke kotaku tercinta, Rembang.


 


Tutur Penutup


Begitu banyak hikmah dan pembelajaran yang kupetik dari perjalanan Magetan-Cemoro Sewu-Tawangmangu ini. Tentang rasa syukur kepada Pencipta Alam Semesta, tentang arti penting keberadaan alam bagi eksistensi kehidupan manusia, tentang arti cinta lingkungan, dan bagaimana kita memperlakukan alam dengan selayaknya.  Alam tercipta bukan untuk dieksploitasi tanpa batas, namun jadikanlah dia sahabat, karena alam akan menawarkan manfaat yang tak terhingga selama kita bijak dan santun mengakrabinya.


 


 


 


 


 

Minggu, 08 Februari 2009

Benteng Portugis Jepara, Imperialisme Harus Dilawan!!!




[gallery columns="4"]

 
Mumpung masih ada sedikit waktu libur di awal tahun 2009, kuputuskan untuk mengisinya dengan mengunjungi tempat wisata yang tak jauh dari rumah. Setelah memilah-milah daftar interesting places yang belum pernah dikunjungi, akhirnya jatuh pilihan ke Benteng Portugis Jepara sekaligus berlanjut jalan-jalan ke kotanya.


Sudah lama nian tidak menjejakkan kaki di kota ukir, setelah terakhir kali waktu masih duduk di bangku SD berwisata ke Pantai Kartini. Hmm…kira-kira seperti apa ya kemajuan bumi Kartini sekarang?


 


Benteng Portugis, 02 Januari 2009; Membuka Lembar Sejarah


Sekitar jam 8 pagi, perjalanan kami sekeluarga pun dimulai. Dengan rencana mengambil rute Rembang-Kaliori-Juana-Tayu-Dukuhseti-Keling selanjutnya singgah di Benteng Portugis. Di sepanjang jalur Juana-Tayu, tampaklah suasana alam yang sangat kontras. Selepas Kota Juwana hingga Desa Kepoh, Kec. Wedarijaksa lahan di kanan kiri jalan didominasi oleh petak-petak tambak ikan bandeng yang dikelola masyarakat dan selebihnya mulai Margoyoso hingga Kecamatan Tayu dikelilingi areal persawahan dan ladang. Mengingat daerah ini  adalah kawasan yang terletak di lereng Gunung Muria yang subur, berkecukupan air dan berudara sejuk, sehingga lebih cocok dijadikan lahan pertanian.


 


Setelah melewati Kota Kecamatan Tayu, kuarahkan perjalanan ke arah Jepara. Di km 7, ruas jalan Tayu-Jepara bercabang dua, arah lurus melewati Kec. Cluwak, sedangkan yang berbelok ke kanan menuju Kec. Dukuhseti. Dan jalur inilah yang kupilih, karena relatif lebih dekat menuju Benteng Portugis.


 


Selepas kota Kecamatan Dukuhseti, kami dihadang kondisi jalan yang sempit, berdebu, rusak dan bopeng di sana sini. Kami membatin, apakah karena ini hanya jalur alternatif menuju Jepara, keberadaan jalan ini seolah dianaktirikan, sehingga kerusakan yang menahun didiamkan tanpa perawatan ?


 


Memasuki Kecamatan Keling, dimana posisi benteng Portugis sudah semakin dekat, Jajaran pegunungan Rengas, yang terletak Gunung Muria, semakin terlihat jelas di depan mata. Hawa sejuk khas pegunungan mengalir segar, perkebunan karet yang diusahakan PT Perkebunan Nusantara IX Jateng yang rindang menghijau, areal persawahan yang sedang memasuki musim bercocok tanam, antena relay TVRI yang sudah puluhan tahun mendiam di salah satu puncak bukit  dan hamparan pesisir pantai dengan ombak membuih adalah nuansa alam di sekitar obyek wisata yang merupakan peninggalan Kerajaan Mataram abad XVII.


 


Dan tampak satu pemandangan mencolok, yaitu Bukit  Ujung Watu yang dikepras untuk diresize menjadi area pembangunan PLTN. Bukit yang semula hijau tampak memutih oleh warna batu kapur setelah dipapas, seolah terbengkalai, tak tampak satu aktivitas apapun. Apakah proyek ini  terkatung-katung tanpa kejelasan arah akibat aksi keberatan sebagian besar warga Jepara atas pembangunan PLTN di daerahnya?


 


Setelah dua jam perjalanan dari Rembang, sampailah kami di kawasan wisata Benteng Portugis. Tugu yang menggambarkan simbol sebuah benteng berdiri di depan pintu masuk, sekilas mirip buah catur benteng dalam bentuk raksasa. Dengan tiket Rp3.000,00 per kepala dan bea parkir Rp2.000,00 untuk kendaraan roda empat, akhirnya kami mendapat permit memasuki obyek wisata sejarah yang dikelola oleh Pemkab Jepara ini.


 


Kendaraan kami langsung disambut tanjakan curam dan kelokan tajam untuk mencapai puncak benteng. Hmm…jadi ingat tanjakan Cemorosewu, yang tempo hari kami daki. Anggap saja ini miniaturnya. He he he… Setelah kendaraan terpakir, kami masukki areal benteng yang kokoh, kekar dan tinggi menjulang dengan ketinggian kurang lebih 30 m di atas pantai Desa Banyumanis, Kec. Keling. Tampaklah perairan luas Laut Jawa yang begitu luas tak berujung, permukaan air tampak berkilauan diterpa cahaya mentari, hamparan batu karang  yang seolah menjadi pelindung benteng dari debur gelombang, rentetan ombak yang saling berkejaran tanpa henti, Pulau Mandalika dengan mercu suarnya yang seolah mengambang di atas laut, teduh langit dan awan tipis di bawahnya meng-assist suasana pagi yang cerah di atas semenanjung Jepara. Sungguh lukisan alam yang tiada bandingnya. Serasa kami berdiri jauh di atas laut, seolah dunia dalam genggaman kami.


 


 


Beberapa pohon asam jawa tumbuh menghijau dan asri di dalam benteng, dan bisa jadi usianya setua benteng ini. Berdasarkan catatan Dinas Pariwisata Jepara, panjang benteng sisi timur adalah 33,50 meter, sisi barat 37 meter. Lebar sisi selatan 28,50 meter dan  sisi utara 20,30 meter. Dilengkapi ruang rehat yang dibangun di atas benteng ini, sebagai tempat pengunjung beristirahat, sambil melepas pandangan ke laut luas. Tiga buah meriam masih terpasang di bibir dinding benteng mengarah ke pulau Mandalika. Dinding benteng berbatu nan kokoh menyiratkan bahwa dunia arsitektur pada masa itu telah berkembang dan maju. Di sekeliling benteng ditumbuhi tanaman perdu dan tumbuhan keras seperti beringin, wali kukun, krinyo, ketapang, kesambi, laban, pule, waru, karet alam, serta jrakah lo,  menjadikan benteng ini terhalang oleh rimbunnya daun dan tempat ideal untuk mengintai dan menghalau musuh. Sementara di bagian bawah benteng telah dibangun jalan berpaving melingkar rata-rata selebar 1,5 meter. Jalan ini hampir sejajar dengan tepian pantai Laut Jawa, sehingga bila muncul ombak besar jalan ini ‘tercium’ oleh deburan air laut.


 


 


Dilihat dari sisi geografisnya, benteng ini sangat strategis untuk kepentingan militer zaman dulu yang kemampuan jarak tembakan meriam hanya 2-3 km saja. Sehingga praktis selat yang dibatasi Pulau Mandalika dan Semenanjung Jepara ini di bawah kendali meriam benteng, sehingga berpengaruh kepada jalur pelayaran di laut Jawa. Konon, kapal-kapal mesti lewat selat ini, karena di sebelah utara Pulau Mandalika adalah daerah berbahaya untuk pelayaran karena terdapat pusaran air yang sering menenggelamkan kapal-kapal yang nekat melaluinya.


 


Merunut sejarah, benteng ini dibangun setelah kejatuhan Jayakarta/ Sunda Kelapa ke tangan VOC, yang namanya diubah menjadi Batavia agar lebih Nederland Taste. Inilah sinyal awal tumbuhnya imperialisme di tanah bumi pertiwi. Sultan Agung Raja Mataram pun gusar, merasakan ancaman dari jatuhnya Jayakarta ke pelukan Belanda dengan kamuflase bendera VOC-nya. Sultan Agung pun menetapkan dan mengagungkan tekat, “Penjajah harus dilawan, kolonialisme jangan dibiarkan hidup, Belanda harus angkat kaki dari tanah Jawa!”


 


Perlawanan laskar Mataram pun dinyalakan berturut-turut di tahun 1628 dan 1629 dengan kekalahan di pihak Mataram. Kejadian ini membuat Sultan Agung harus menggubah strategi peperangan baru, bahwa Belanda hanya bisa dikalahkan melalui serangan darat dan laut secara bersamaan. Sementara kelemahan di pihak Mataram, tidak memiliki armada laut yang tangguh, sehingga diputuskan untuk meminta bantuan kepada pihak ketiga yang berseteru juga dengan Belanda, yaitu Portugis.  Perjanjian kerja sama antara Mataram dan Portugis pun disepakai dan untuk tahap awal Portugis menempatkan tentaranya di benteng yang dibangun oleh Kerajaan Mataram pada tahun 1632. Benteng ini sangat efektif untuk menjaga traffic pelayaran ke kota Jepara yang menjadi bandar utama Mataram  untuk jalur perdagangan. Realitanya kerjasama antara Kerajaan Mataram dan Portugis tidak pernah bisa terealisir untuk tujuan mengusir Belanda di Batavia. Bahkan di tahun 1642 orang-orang Portugis angkat kaki dari benteng ini karena Malaka sebagai kota utama Portugis di Asia Tenggara justru direbut oleh Belanda pada tahun 1641.


 


Seonggok bangunan bersejarah yang cukup dijadikan bukti bahwa segala bentuk penjajahan harus dilawan dengan usaha sekecil apapun. Meski akhirnya Mataram gagal dalam mengenyahkan Belanda dari tanah Jawa, namun tekat penolakan terhadap penjajahan dan nilai perjuangannya patut diteladani oleh para penerus bangsa.


 


Imperialisme harus dilawan!!!


 


Akhirnya kami pun mesti angkat kaki dari benteng yang telah berusia 378 tahun ini. Waktu yang beranjak siang semakin mempersempit waktu kami untuk meneruskan perjalanan ke Kota Jepara mengharuskan kami mengakhiri kunjungan di salah satu obyek peninggalan sejarah yang begitu menggelorakan semangat patriotisme dan cinta bumi pertiwi nan permai, Indonesia.


 


 


 


 


 


 


 



Sabtu, 07 Februari 2009

Wonokromo, Miniatur Alam Kehidupan Margasatwa

wonokromo11


Di tengah wajah metropolis Kota Surabaya,  terdapat satu miniatur kehidupan satwa yang terjaga dan lestari, yang ‘dijunjung’ sebagai ikon kota pahlawan dan propinsi Jawa Timur, yakni Kebun Binatang Wonokromo Surabaya (KBS),-berikut monumen Sura dan Buaya di depannya-, sebagai kebanggaan dan identitas arek-arek Suroboyo. Terletak di Jl. Setail No. 1, tepat berada pada simpul pertemuan empat jalan utama, Darmo-Wonokromo-Joyoboyo-Diponegoro, tidak jauh dari Stasiun Wonokromo, Terminal Bungurasih dan Bandara Juanda, sehingga memudahkan pengunjung untuk mencapai daerah wisata ini .


 


 


Kebun binatang yang dikelola oleh  Perkumpulan Taman Flora & Satwa Surabaya (TFSS) memiliki misi dan visi sebagai kawasan konservasi alam, pendidikan dan laboratorium penelitian berbagai jenis flora dan fauna sekaligus sebagai sarana rekreasi edukatif. Tempatnya yang hijau rimbun, sejuk dan rindang,  ditumbuhi berbagai jenis vegetasi khas hutan hujan tropis yang telah berusia puluhan tahun, memberikan fungsi tambahan bagi KBS sebagai paru-paru kota terbesar kedua setelah DKI Jakarta, sedikit mereduksi hawa panas Surabaya, dikarenakan posisi geografis ibukota Jawa Timur ini tepat  berada di pesisir utara Laut Jawa. Zat oksigen hasil respirasi daun pepohonan dari hutan mini di kawasan KBS, berguna sebagai detergen pencuci udara kota dari polusi.   


 


Merunut sejarah, rintisan berdirinya KBS dimulai pada tahun 1916. Adalah HFK. Kommer dan JP. Moymaan, dua orang wartawan Belanda pecinta satwa, yang awalnya memelihara dan merawat beberapa satwa langka di kediamannya di daerah Kaliondo. Pada 31 Agustus 1917, mereka pindah tempat tinggal ke Jl. Tamanrindelan, Grudo (Pandegiling sekarang), yang pemindahan satwa-satwanya dilaksanakan pada Bulan April 1918. Pada tahun 1920 Perusahaan Kereta Api Uap Jawa Timur, -Oost Java Stoomtram Matschappiy (OJS)-, mengusahakan sebidang tanah seluas 8 Ha di sebelah Stasiun Trem Wonokromo sebagai area kebun binatang yang kemudian dinamai Soerabaiasche Dierentuin – Kebun Binatang Surabaya. Dan pada perkembangannya selanjutnya tempatnya diperluas hingga wilayah Darmo, seperti lokasinya sampai saat ini.


 


Dibanding kebun binatang lain di wilayah Indonesia, KBS terhitung memiliki koleksi hewan satwa paling lengkap. Tak kurang dari 350 spesies dengan jumlah individu sekitar 4000 ekor, baik kelas Mamalia (menyusui), Reptilia (melata), Aves (burung) dan Pisches (ikan), berhasil dikonversi dan dipelihara di areal seluas 15 Ha ini. Di bidang penangkaran satwa liar , pun berhasil dikembangbiakkan pelbagai jenis satwa langka asli ‘pribumi’ tanah air, antara lain Komodo, Jalak Bali, Anoa, Harimau Sumatra, Bekantan, Orang Utang dan Babi Rusa. Bahkan KBS juga ditetapkan sebagai Sentral Breeding International, yang hasil penangkarannya telah tersebar ke berbagai suaka margasatwa di dunia. Jenis binatang yang sukses pem’breeding’an adalah Pelikan Australia, Harimau Benggala (putih), Onta dan Singa Afrika.


 


Selain sebagai tujuan wisata edukatif dan informatif, oleh pengelola KBS, juga disediakan fasilitas penunjang yang bersifat entertain bagi wisatawan. Bila kita jelajahi setiap sudut KBS, banyak wahana tambahan seperti atraksi menunggang gajah, onta dan kuda, pentas satwa, perpustakaan dan taman bacaan, dongeng satwa, feeding time hewan komodo, arena bermain anak dan berlayar naik perahu mengitari pulau yang dihuni bekantan, owa jawa dan beberapa jenis satwa lainnya yang dibiarkan hidup di alam bebas.


 


 


Liburan Hari Imlek tahun 2009 kemarin, kusempatkan singgah bersama keluarga di Kebun Binatang Wonokromo. Dengan Harga Tiket Masuk (HTM) senilai Rp10.000,00 per kepala, terhitung tidak mahal dibanding dengan pesona dan keindahan yang disuguhkan. Sayang, momen mengisi waktu senggang kami dengan berwisata di Surabaya bertepatan dengan kalender hari libur pendidikan di Jawa Timur, sehingga KBS dijubeli melimpahnya pengunjung, sehingga mengurangi kenyamanan dan keleluasaan kami menjelajahi setiap daya tarik yang dimiliki oleh kompleks wisata  yang selalu siap menyambut tamu pengunjung setiap hari mulai pukul 08.00 sampai dengan pukul 17.00.


 


Di saat dunia mengalami degradasi kualitas lingkungan,  berjuang melawan pemanasan global, menyempitnya lahan hutan, aksi liar perburuan satwa, kerusakan ekosistem dan putusnya mata rantai makanan jejaring kehidupan, serta eksploitasi  alam yang tanpa kenal batas, melihat dan menikmati koleksi flora dan fauna di KBS, serasa menjadi obat dahaga kerinduan menyaksikan keanekaragaman satwa langka dan mengagungkan rasa syukur kepada-Nya karena kita masih diijinkan untuk menatap puing-puing kehidupan margasatwa yang masih tersisa di muka bumi ini.

Pantai Kartini, Rembang Bumi Bahari

trp-kartini 


Jikalau aku menghabiskan waktu berlibur akhir pekan di Hari Sabtu pagi, dan yang karena ‘terpaksa’ seketika menjadi single parent sementara buat putriku yang (sementara juga) masih semata wayang, sering kupilih Taman Rekreasi Pantai (TRP) Kartini, yang lebih akrab disebut Pantai Kartini, Rembang untuk bercengkerama berdua. Setelah men-drop ‘si dia’ di kantornya, segera kuputar arah kendaraanku menuju Pantai Kartini Rembang. Dengan tiket Rp2.000,00 per pengunjung plus bea parkir yang sama nominalnya, pintu gerbang sekunder pun dibuka, mempersilahkan kami menjelajahi setiap sudut obyek wisata di pesisir Laut Jawa ini. Sengaja kami memilih bukan gerbang utama, karena kami tak mau berpenat ria berjalan kaki menuju lokasi pantai yang masih lumayan jauhnya dari gerbang utama. Lebih enakan lewat pintu samping yang berbatasan langsung dengan Gedung DPRD Kabupaten Rembang, karena kendaraan pun bisa turut menikmati keindahan pantai. 


 


Berdasar catatan sejarah, keberadaan Pantai Kartini tidak bisa dipisahkan dari masa kolonialisme Belanda sewaktu masih bercokol di bumi Jawa. Ini terbukti ditemukannya catatan tahun di bangunan kuno di dalam kawasan wisata unggulan Kabupaten Rembang, yang konon dulu adalah tempat pesta dan gedung pertemuan Nederlander. Menurut informasi Dinas Pariwisata Rembang, di atap gedung tua ini tertulis tahun 1811, sebagai penanda kapan artefak bangunan peninggalan Gubernur Jendral HW Deandels didirikan. Gubernur yang berkuasa di rentang tahun 1808-1811 ini adalah pemrakarsa mega proyek Jalan Pantura Anyer-Panarukan. Berhubung Kota Rembang termasuk daerah yang terkena lintasan proyek prestisius di jamannya kala itu, maka ada beberapa peninggalan Belanda yang masih tegak berdiri, termasuk Pantai Kartini, yang saat itu difungsikan sebagai taman rekreasi bagi orang-orang Walondo yang bermukim di Rembang, sekaligus tempat untuk memantau situasi lalu lintas pelayaran di Laut Jawa.


 


Bisa dikatakan, Pantai Kartini adalah ikon kebanggaan Kota Rembang. Obyek wisata yang terletak Di Desa Tasikagung Kec. Rembang, semakin ramai oleh wisatawan, terlebih di hari libur nasional atapun kalender pendidikan. Posisinya yang  berada di jalur padat Semarang-Surabaya, menjadi tempat yang mengasyikkan untuk singgah mengistirahatkan diri bagi yang sedang melakukan perjalanan darat.  Meski namanya tidak setenar Pantai Pangandaran Jawa Barat, dan jumlah wisman pun bisa dihitung dengan jari setiap tahunnya, tapi bagi sebagian besar wisatawan ‘interlokal’ (maksudnya kota tetangga sekitar), keberadaan Pantai Kartini masuk nominasi kuat sebagai daerah tujuan wisata bagi  keluarga yang pergi berlibur. Apalagi beberapa tahun belakangan ini, Pantai Kartini terus berbenah, merias diri, menata ulang dan  menambah fasilitas bagi kenyamanan pengunjung sehingga betah berlama-lama menikmati setiap pesona yang dihidangkan obyek wisata yang pantas disebut situs sejarah ini.


 


Apa saja daya tarik TRP Kartini?


1. Wisata Bahari


Namanya wisata bahari, tentulah pemandangan laut lepas yang terbentang luas. Banyak pengunjung, terutama anak-anak menikmati suasana pantai dengan berenang sambil bersendau gurau, bermain ombak, berkotor ria dengan pasir, tanding bola, berlayar naik perahu atau terlihat sepasukan keluarga sekedar berteduh dan bersantai di bawah pepohonan nan rindang di tepian laut. Pantai yang berpasir bersih dengan debur ombaknya yang ramah, menjadikan kawasan pantai Kartini tempat yang cocok dan aman bagi berlibur.


2. Jangkar Dampo Awang


Di TRP Kartini terdapat jangkar kapal raksasa, yang sekarang dimuseumkan, ditempatkan di areal tersendiri di bangunan gardu di atas laut Jawa. Sebagai masyarakat Jawa yang kental nuansa cerita legenda dan olah pikir otak atik gatuk, keberadaan jangkar raksasa ini pun tak lepas dari kisah rakyat turun temurun. Konon, ketika Sam Phoo Kong (lebih dikenal dengan nama Dampo Awang), utusan dari Kerajaan Cina berlayar melintas di Perairan Rembang dalam rangka ekspedisi ke selatan, kapalnya diterjang badai gelombang sehingga rusak berat dan terhempas ke daratan. Rantai jangkar lepas dan terdampar di Pantai Rembang, sedang layarnya tertiup angin dan jatuh di Pantai Binangun, Sluke (20 km sebelah timur Pantai Rembang), dan dikenal dengan sebutan watu layar. Sedang badan kapal yang karam dan tertimbun lumpur dan tanah bebatuan di daerah Lasem, membentuk sebuah bukit yang sekilas mirip kapal terbalik, yang oleh masyarakat sekitar dinamai Bukit Bugel.


Demi mengingat peristiwa bersejarah itu,  Pengelola TRP Kartini menomumenkan jangkar Dampo Awang sebagai simbol semangat bahari dan jiwa pelaut masyarakat pesisir Rembang.


3. Wahana Bermain Anak


Demi memanjakan segmen pengunjung anak-anak, Pantai Kartini melengkapi diri dengan arena bermain anak, semisal wahana mandi bola, bebek air, ayunan, kereta mainan, komedi putar dan gardu pandang. Semenjak 2002, telah dibangun kolam renang “Putri Duyung” di dalam kompleks tempat wisata yang terletak tepat di jantung Kota Rembang.        


4. Syawalan


Setahun sekali, terdapat tradisi syawalan, tepat seminggu setelah Hari Raya Lebaran Idul Fitri, yang dipusatkan di Pantai Tasikagung. Momen inilah puncak keramaian Pantai Kartini,  di saat euphoria berlebaran warga Rembang dan kota-kota sekitarnya masih meluap-luap setelah menjalani ibadah puasa sebulan penuh. Area seluas 5 ha seakan tak mampu menampung pengunjung yang meluber, larut merayakan tradisi syawalan. Dan yang menjadi tujuan nomor wahid bersyawalan adalah lomban, naik perahu layar berjamaah hingga ke daratan nusa  nan eksotis, yakni Pulau Marongan, kurang lebih berjarak 5 mil dari pantai Kartini.


 


Maka, tepatlah jika aku memilih TRP Kartini Rembang sebagai tempat menjalin kedekatan dengan anak, mengentertain mengisi dunia kecilnya dengan bermain dan menghadirkan aura keceriaan, dan sekaligus mengenalkan buah hatiku terhadap alam lingkungan.