Mutiara dari Timur itu Bernama “Subur Jaya”
“Selamat siang, tamu dari mana ini?”, sapa Om Kenang saat kami beramai-ramai memasuki kantor PO Subur Jaya yang berlokasi di Jl. Pemuda No. 31A Rembang.
Sebagai tamu, kami pun mengenalkan diri beserta komunitas BMC dan menjelaskan maksud serta tujuan kunjungan ke PO Subur Jaya.
Kami sendiri ditemui Om Kenang dan adiknya Om Ari selaku tuan rumah, saat bertandang perdana ke pool. Mereka berdua adalah penggiat otomotif dan penggila modifikasi kendaraan. Sekarang ini, keduanya saling bahu membahu menggawangi pucuk pimpinan secara kolektif PO Subur Jaya.
“Wah, ternyata ada komunitas bismania Indonesia. Dan banyak lagi anggotanya. Hmm…tapi sayang, semua armada kami sedang jalan wisata. Mau tidak, kami ajak melihat armada terbaru kami? Baru tiga hari kami ambil dari karoseri. Hanya inilah yang tersisa, karena sedang menunggu surat-surat resmi dari samsat keluar. Kalau berkenan, mari langsung ke garasi belakang saja!” ajak Om Kenang yang disambut suka cita rombongan BMC. Siapa yang tidak tergiur ditawari penampakkan armada baru.
Dan yang membuat kami takjub, sosok Hino RK8 dibalut busana Marcopolo buah karya Adi Putro masih fresh from oven, kinyis-kinyis dan wetlook serta plat nomor masih berlatar warna putih. Sangat-sangat menawan dan memanjakan indra penglihatan.
“Inilah armada kedelapan kami yang baru Mas. Armada kami sebelumnya campuran, mulai Hino RK8, MB 1525 dan XBC-1518. Dan rencananya, tahun ini kami akan membeli 4 atau 5 unit lagi, karena kami selalu kekurangan bis akibat order yang melimpah untuk wisata," jelas Om Kenang. "Namun, tinggal dua pilihan mesin. Untuk XBC-1518, saya menilai lemah power, kurang tenaga dan minim dalam hal kenyamanan. Apalagi ditugaskan untuk wisata yang membawa penumpang bisa sampai 60 orang, Mercy ini kurang bisa diandalkan."
“Untuk urusan karoseri, untuk bis baru kami percayakan kepada Adi Putro dan Morodadi Prima. Adi Putro unggul soal model, finishing dan kerapihan interor, sedang Morodadi menang dalam handling kendaraan saat dikendarai, kekokohan dan life time,” imbuhnya.
Kebetulan PO Subur Jaya masih satu kampung dengan penulis. Di tahun 80-an, cikal bakal Subur Jaya diawali dari bisnis angkutan dengan membuka rental kendaraan, dengan armada Mitsubishi jenis station wagon. Usaha awal didirikan oleh Kim Swie, ayah Om Kenang dan Om Ari. Kemudian berkembang dan terus mendiversifikasi usaha hingga angkutan micro bus Rembang-Blora dan medium Bus Sarang-Tayu. Ditopang bisnis lain berupa toko bahan bangunan, warung fotokopi dan alat tulis kantor, dan bisnis jual beli mobil bekas, sekarang bisnis Kiem Swie semakin menggurita di kota garam. Dan seakan tidak puas dengan raihan bisnis yang telah ada, Subur Jaya mendirikan usaha big bus.
PO Subur Jaya baru berdiri pada tahun 2007. Armada terbaru pertamanya adalah MB OH 1525 model Setra Selendang Adi Putro. Tidak hanya menyandarkan unit baru, Om Kenang juga rajin menyambangi leasing yang menangani bis-bis bermasalah dalam pembayaran dan selanjutnya dibeli secara lelang. Harga yang didapat jauh lebih murah daripada membeli dari pemilik PO langsung. Hasilnya, satu persatu armada seken datang untuk memperkuat jajaran “amunisi”nya. Dan yang membuat kami mengacungkan jempol, bis-bis barunya pun di-costumized dengan kemewahan dan kenyaman armada. Tidak ada bis yang asal jalan, semua telah disulap dengan taste yang berbeda dengan bis lain. Dalam rentang dua tahun, sudah 20 bis besar yang digenggam. Belum termasuk armada medium, bis kecil dan sejumlah L300. Tak salah, kalau PO ini disanjung ibarat sang fenomenal.
“Kami tidak akan setengah-setengah mengelola PO Mas. Kami bosen otak atik mobil-mobil kecil, mainan kita sekarang kendaraan besar (baca : bis),” tekat Om Ari dengan bangga.
Kami pun mengamini semangat beliau, saat dipertontonkan armada barunya. Karoseri berkelas Royal Coach SE, dengan tambahan modifikasi berupa rangka support yang melekat pada chasis agar kendaraan tidak limbung, seperti yang dikeluhkan sopir saat membawa Hino edisi terbaru ini. Dengan corak bodi laksana colourmark telkom fleksi, yang menggugah hasrat dan selera bepergian bersamanya.
Saat menjajal piranti audio visual, kami tambah berdecak kagum. Suaranya menggeledar tapi tetap lembut di telinga. Setingan audio begitu pas dengan dimensi kabin dan media peredaman berfungsi secara nyata. Perlengkapan power audio, penambahan kapasitor bank hingga penempatan speaker dihitung secara cermat hingga menghasilkan kualitas suara yang jauh di atas standar, melebihi ekspektasi penumpang itu sendiri.
Dan sesuai janji Om Ari, nantinya semua armada terbarunya memiliki spesifikasi minimal seperti armada “Green Fleksi” ini. Untuk yang bermesin Hino, ke depannya semuanya akan dibenamkan piranti balon udara (air suspension) untuk menunjang kenyamanan.
Saat kami singgung tentang langkah bisnis ke depan, terutama rencana membuka bis AKAP reguler, Om Kenang menjawab dengan realistis.
“Sementara kami concern ke pariwisata Mas. Itupun kami masih keteteran menyediakan armada. Agen-agen wisata mulai dari Semarang, Kudus, Purwodadi, Tuban hingga Solo banyak yang telah menjalin kerjasama dengan kami. Kami sendiri tak pernah membayangkan, dalam jangka waktu dua tahun, nama kami telah dikenal luas. Justru ini semakin melecut kami, untuk selalu memperbaiki pelayanan yang kami berikan,” katanya berapi-api.
“Nah, beruntung ada BMC datang ke sini. Open saja, kami telah mengantongi ijin trayek Bangilan-Jakarta dan Cepu-Jakarta. Cuma kami tidak mau gegabah terjun ke bisnis AKAP. Kami sadari, bis wisata juga ada musim sepinya, demikian juga bis reguler. Kami ingin memadukan dua usaha ini, saling bergantian untuk mengisi. Kami masih perlu waktu. Kami balik menodong BMC, apa masukan, gagasan dan saran buat PO Subur Jaya dalam persiapan merambah pasar bis malam? Kami paham soal teknis kendaraan tapi kami buta dengan kondisi di lapangan!” tantangnya saat mengakhiri kunjungan kami.
Berikut ringkasan testimoni beberapa member BMC sesaat setelah kunjungan ke PO Subur Jaya.
Mas Hary : Ini bukan sekedar PO, ini sebuah kesempurnaan
Mas Indra : Kalau nanti nge-line, bisa membuat ketar ketir PO lain dan pasar penumpang bakal terkoreksi
Mas Ferry : Ck…ck…ck…pesona bis-bis Plat K tak pernah ada habisnya.
Akankah mutiara terpendam dari timur ini akan menggeliat muncul ke permukaan?
Akhir Penjelajahan
Menjelang waktu ashar, rangkaian acara BMC Jelajah Bumi Rembang pun berakhir. Setelah setengah hari bertemu, kami pun berpisah, kembali dengan kepentingan dan keperluan masing-masing.
Konklusi yang kami dapat, hasil didikan alam Rembang yang keras dan panas, melahirkan sosok pengusaha bis yang handal, mumpuni dan tahan banting, seperti yang ditunjukkan Bapak Paryono, Om Kenang dan Om Ari.
Semoga kembali berjaya PO-PO Plat K xxxx D, berprestasilah selayaknya kejayaan yang pernah dicapai PO Artha Jaya puluhan tahun silam!
Rembang, 14th June, 2009
Unforgettable moment with BMC.