Senin, 18 Januari 2010

Café Trio-G, Ikan Bakar feat Degan Bakar Ala Pesisir Rembang


Kalau bukan karena dua akhir pekan terakhir aku sekeluarga meng-klik kedai ini untuk menunaikan ritual makan siang, tentu tak ada keistimewaan yang perlu diwartakan.

Di pertengahan jalur Semarang-Surabaya, tepatnya di Desa Kalipang, Sarang, -- kota kecamatan di ujung paling timur Kabupaten Rembang -- ada satu warung makan berkonsep kampung di atas air, dengan menu andalan berupa ikan bakar dan kelapa muda (degan) bakar. Letaknya persis diapit jalan pantura dan Laut Jawa, berseberangan jalan dengan kompleks masjid kuno peninggalan Wali Blitung. Sebagai tambahan, menurut cerita getok tular yang beredar di masyarakat setempat, artefak monumental ini dibangun oleh seorang wali dari Pulau Belitung. Dan tempat peribadatan ini adalah masjid pertama yang berdiri di daerah Sarang, yang tahun pembuatannya bertuliskan 1484 M, seperti yang tertera pada tugu prasasti.

Sebelum membahas soal menu, bicara tentang letak geografis kedai makan yang dinamai Café Trio-G, posisi ini jelas mendatangkan kelebihan. Bisa difungsikan sebagai tempat rehat saat perjalanan, sembari menikmati semilir angin laut dan view debur ombak bentangan Laut Jawa, memandang hilir mudik kendaraan sambil memantau kondisi lalu lintas, tentunya kalau mau berwisata sejarah dengan mengunjungi Masjid Wali Blitung, dalam kemasan wisata kuliner ikan bakar.



Tema kampung di atas air nyata saat kita memasuki ruang makan, berupa saung-saung dengan struktur rangka dari bahan kayu kelapa (glugu), beratapkan rumbia padi, yang “nangkring” di atas areal tambak kepunyaan Bu Yuyun, nama pemilik café ini. Kalau beruntung, saat menyantap makanan yang disajikan, kita bisa menyaksikan ikan bandeng yang bermunculan di permukaan air. Di kanan kiri, nuansa alam diisi hamparan tambak bandeng dan udang, diseling vegetasi pohon nyiur dan hutan bakau serta kampung nelayan yang tertata rapi. Mengesankan sebuah warung makan lesehan yang sederhana namun cukup asri dan nyaman, kental dengan nuansa alam pedesaan daerah pesisir.


Karena kemasyhuran lokal akan menu ikan bakar dan degan bakar, kedua “obyek jualan” inilah yang aku pesan. Untuk jenis ikannya bisa kita pilih mulai ikan kerapu, baronang, bawal atau kakap. Meski dalam daftar menu yang disodorkan kepada pengunjung, bukan hanya terbatas sajian andalan di atas. Selainnya ada ikan goreng, cumi bakar/goreng, udang bakar/ goreng, ayam bakar/ goreng atau menu sederhana, semisal mi rebus atau mi goreng. Sedangkan, untuk minumannya, tidak banyak macamnya. Di luar degan bakar atau degan original, cuma disediakan teh manis, jeruk manis atau minuman ringan lainnya.

Tidak perlu menunggu lama, ikan bakar terhidang. Aromanya begitu menggelitik hidung, disebar hembusan angin laut yang kencang mendera kami saat itu. Terlebih cara penyajiannya menggunakan peralatan makan tradisional, yakni piring bambu yang dilembari daun pisang dan cobek tanah liat tempat sambal dihidangkan, semakin menggugah selera makan penyukanya.


Ikan kakap bakar berlumur bumbu kecap hasil racikan rempah-rempah nusantara, begitu menggoda untuk dicicipi. Untuk sambal disediakan dua pilihan, disesuaikan dengan kemampuan indra pengecap, yakni sambal terasi nan pedas mengguncang lidah serta sambal kecap manis yang ditaburi irisan bawang merah, buah tomat dan cabe rawit. Sebagai lalapannya, terdiri dari mentimun, kol, kacang panjang dan daun kemangi. Nasi putih yang pulen serta hangat, begitu klop sebagai penyempurna sajian makan siang kali ini. Sebuah sajian sempurna yang layak dimasukkan khasanah kuliner kota garam, Rembang. Mantap tenan…

Diiring buaian musik nostalgia dalam versi dangdut koplo yang pelan mengalun dari piranti audiotainment, saat daging ikan singgah di mulut, begitu lembut dikunyah dan bumbunya benar-benar meresap. Dicocolkan dengan sambal terasi, sensasi pedasnya luar biasa tersurat. Dengan sedikit semburat tipis rasa asam dari jeruk nipis, semakin menggenapi cita rasa masakan ala pesisir ini. Tidak aneh bila sepiring nasi akan kurang menuntaskan nafsu makan, bila terlewatkan untuk “nambah” lagi.

Menurut penuturan salah satu pramusaji, ikan-ikan yang dimasak bukan ikan sembarangan. Bukan ikan produk tangkapan (menawur) para nelayan, melainkan hasil pancingan dari pulau-pulau karang yang tersebar di pantai Sarang. Konon, tekstur dan cita rasa ikan karang ini lebih unggul dibanding ikan sejenis dari tangkapan di lepas pantai. Dan itulah jawaban mengapa ikan bakar café Trio-G ini spesial, rasanya beda dengan warung makan kebanyakan yang menyediakan menu serupa. Pantas saja, Naura-ku begitu lahap menikmatinya, padahal anakku yang masih semata wayang ini agak susah bersentuhan dengan daging, termasuk ikan.


Usai menyantap, tenggorokan yang tersekat dilancarkan dengan bantuan degan bakar yang menggiurkan. Dicampur jahe dan susu, air kelapa mudanya begitu sedap, hangat dan segar ketika direguk. Daging buahnya yang kenyal dan gurih, membuat siapapun akan ketagihan untuk mencobanya kembali. Proses pembakarannya sendiri membutuhkan waktu dua jam, dengan bahan bakar kayu atau arang, agar didapat degan bakar yang benar matang-matang. Ada anggapan, khasiat minuman isotonik alami ini multifungsi. Selain menjaga stamina dan vitalitas tubuh, degan bakar bisa membantu menurunkan kadar gula darah, mengurai kolesterol dalam darah, menormalkan otot yang pegal-pegal, mengikis asam urat dan men-detoksifikasi racun-racun yang tak berguna di dalam tubuh.

Apakah perlu mengocek rupiah dalam-dalam untuk menebus menu extraordinary café Trio-G, yang “G” sendiri diambil dari huruf terdepan ketiga anak Bu Yun, Galih-Gilang-Galang?

Jawabanya bisa terlihat dari jumlah pengunjung. Warung ini jarang sepi karena selain dikenal enak dan lezat, harga adalah poin lebih berikutnya. Dijamin ramah di kantong, takkan rugi untuk membayar kemewahan rasa yang ditawarkan. Seporsi ikan bakar yang cukup untuk disantap dua orang dewasa, termasuk paket nasi dan lalapan serta tambahan dua biji degan bakar, hanya perlu dikonversi dengan empat lembar uang sepuluh ribuan.


Sungguh tawaran yang menarik, bukan?

Café Trio-G, Ikan Bakar feat Degan Bakar Ala Pesisir Rembang

Kalau bukan karena dua akhir pekan terakhir aku sekeluarga meng-klik kedai ini untuk menunaikan ritual makan siang, tentu tak ada keistimewaan yang perlu diwartakan.

Di pertengahan jalur Semarang-Surabaya, tepatnya di Desa Kalipang, Sarang, -- kota kecamatan di ujung paling timur Kabupaten Rembang -- ada satu warung makan berkonsep kampung di atas air, dengan menu andalan berupa ikan bakar dan kelapa muda (degan) bakar. Letaknya persis diapit jalan pantura dan Laut Jawa, berseberangan jalan dengan kompleks masjid kuno peninggalan Wali Blitung. Sebagai tambahan, menurut cerita getok tular yang beredar di masyarakat setempat, artefak monumental ini dibangun oleh seorang wali dari Pulau Belitung. Dan tempat peribadatan ini adalah masjid pertama yang berdiri di daerah Sarang, yang tahun pembuatannya bertuliskan 1484 M, seperti yang tertera pada tugu prasasti.

Sebelum membahas soal menu, bicara tentang letak geografis kedai makan yang dinamai Café Trio-G, posisi ini jelas mendatangkan kelebihan. Bisa difungsikan sebagai tempat rehat saat perjalanan, sembari menikmati semilir angin laut dan view debur ombak bentangan Laut Jawa, memandang hilir mudik kendaraan sambil memantau kondisi lalu lintas, tentunya kalau mau berwisata sejarah dengan mengunjungi Masjid Wali Blitung, dalam kemasan wisata kuliner ikan bakar.




Tema kampung di atas air nyata saat kita memasuki ruang makan, berupa saung-saung dengan struktur rangka dari bahan kayu kelapa (glugu), beratapkan rumbia padi, yang “nangkring” di atas areal tambak kepunyaan Bu Yuyun, nama pemilik café ini. Kalau beruntung, saat menyantap makanan yang disajikan, kita bisa menyaksikan ikan bandeng yang bermunculan di permukaan air. Di kanan kiri, nuansa alam diisi hamparan tambak bandeng dan udang, diseling vegetasi pohon nyiur dan hutan bakau serta kampung nelayan yang tertata rapi. Mengesankan sebuah warung makan lesehan yang sederhana namun cukup asri dan nyaman, kental dengan nuansa alam pedesaan daerah pesisir.
Karena kemasyhuran lokal akan menu ikan bakar dan degan bakar, kedua “obyek jualan” inilah yang aku pesan. Untuk jenis ikannya bisa kita pilih mulai ikan kerapu, baronang, bawal atau kakap. Meski dalam daftar menu yang disodorkan kepada pengunjung, bukan hanya terbatas sajian andalan di atas. Selainnya ada ikan goreng, cumi bakar/goreng, udang bakar/ goreng, ayam bakar/ goreng atau menu sederhana, semisal mi rebus atau mi goreng. Sedangkan, untuk minumannya, tidak banyak macamnya. Di luar degan bakar atau degan original, cuma disediakan teh manis, jeruk manis atau minuman ringan lainnya.

Tidak perlu menunggu lama, ikan bakar terhidang. Aromanya begitu menggelitik hidung, disebar hembusan angin laut yang kencang mendera kami saat itu. Terlebih cara penyajiannya menggunakan peralatan makan tradisional, yakni piring bambu yang dilembari daun pisang dan cobek tanah liat tempat sambal dihidangkan, semakin menggugah selera makan penyukanya.


Ikan kakap bakar berlumur bumbu kecap hasil racikan rempah-rempah nusantara, begitu menggoda untuk dicicipi. Untuk sambal disediakan dua pilihan, disesuaikan dengan kemampuan indra pengecap, yakni sambal terasi nan pedas mengguncang lidah serta sambal kecap manis yang ditaburi irisan bawang merah, buah tomat dan cabe rawit. Sebagai lalapannya, terdiri dari mentimun, kol, kacang panjang dan daun kemangi. Nasi putih yang pulen serta hangat, begitu klop sebagai penyempurna sajian makan siang kali ini. Sebuah sajian sempurna yang layak dimasukkan khasanah kuliner kota garam, Rembang. Mantap tenan…

Diiring buaian musik nostalgia dalam versi dangdut koplo yang pelan mengalun dari piranti audiotainment, saat daging ikan singgah di mulut, begitu lembut dikunyah dan bumbunya benar-benar meresap. Dicocolkan dengan sambal terasi, sensasi pedasnya luar biasa tersurat. Dengan sedikit semburat tipis rasa asam dari jeruk nipis, semakin menggenapi cita rasa masakan ala pesisir ini. Tidak aneh bila sepiring nasi akan kurang menuntaskan nafsu makan, bila terlewatkan untuk “nambah” lagi.

Menurut penuturan salah satu pramusaji, ikan-ikan yang dimasak bukan ikan sembarangan. Bukan ikan produk tangkapan (menawur) para nelayan, melainkan hasil pancingan dari pulau-pulau karang yang tersebar di pantai Sarang. Konon, tekstur dan cita rasa ikan karang ini lebih unggul dibanding ikan sejenis dari tangkapan di lepas pantai. Dan itulah jawaban mengapa ikan bakar café Trio-G ini spesial, rasanya beda dengan warung makan kebanyakan yang menyediakan menu serupa. Pantas saja, Naura-ku begitu lahap menikmatinya, padahal anakku yang masih semata wayang ini agak susah bersentuhan dengan daging, termasuk ikan.



Usai menyantap, tenggorokan yang tersekat dilancarkan dengan bantuan degan bakar yang menggiurkan. Dicampur jahe dan susu, air kelapa mudanya begitu sedap, hangat dan segar ketika direguk. Daging buahnya yang kenyal dan gurih, membuat siapapun akan ketagihan untuk mencobanya kembali. Proses pembakarannya sendiri membutuhkan waktu dua jam, dengan bahan bakar kayu atau arang, agar didapat degan bakar yang benar matang-matang. Ada anggapan, khasiat minuman isotonik alami ini multifungsi. Selain menjaga stamina dan vitalitas tubuh, degan bakar bisa membantu menurunkan kadar gula darah, mengurai kolesterol dalam darah, menormalkan otot yang pegal-pegal, mengikis asam urat dan men-detoksifikasi racun-racun yang tak berguna di dalam tubuh.

Apakah perlu mengocek rupiah dalam-dalam untuk menebus menu extraordinary café Trio-G, yang “G” sendiri diambil dari huruf terdepan ketiga anak Bu Yun, Galih-Gilang-Galang?

Jawabanya bisa terlihat dari jumlah pengunjung. Warung ini jarang sepi karena selain dikenal enak dan lezat, harga adalah poin lebih berikutnya. Dijamin ramah di kantong, takkan rugi untuk membayar kemewahan rasa yang ditawarkan. Seporsi ikan bakar yang cukup untuk disantap dua orang dewasa, termasuk paket nasi dan lalapan serta tambahan dua biji degan bakar, hanya perlu dikonversi dengan empat lembar uang sepuluh ribuan.


Sungguh tawaran yang menarik, bukan?

Selasa, 12 Januari 2010

Game of The Day, 12 Januari 2010


Sekarang lagi keranjingan nge-game catur online kembali. Lewat tulisan berseri ini, akan kucoba menyusun partai-partai terbaik yang dari laga yang kujalani. Sengaja yang kutampilkan hanya notasi langkah dan diagram permainan, biarlah pembaca yang berkenan membaca tulisan ini memberikan hitung-hitungan analisisnya.

Game I, 04 Januari 2010

White : ptrvc59 (1483), serbia
Black : D12K (1670), indonesia

1.e4 c52.Nf3 d6 3.c3 Nf6 4.d3 e6 5.Be2 Be7 6.O-O O-O 7.Na3 a68.Nc2 Nc6 9.h3 Qc7 10.Be3 b5 11.Nh2 Bb712.f4 Rac8 13.Bf3 b414.cxb4 cxb4 15.b3 Qb8 16.Rc1 a5 17.Qe2 Na7 18.Qf2 Nb5 19.Bd2 Rc7 20.Ne3 Nc3


21.Rc2 d5 22.e5 Nd7 23.d4 Qa7 24.Bxc3 bxc3 25.Rd1 a4 26.bxa4 Qxa4 27.Nhf1 Ba6 28.f5 Bb5 29.f6


gxf630.Ng4 fxe5 31.Nh6+ Kh8 32.Ng3 f5

gxf630.Ng4 fxe5 31.Nh6+ Kh8 32.Ng3 f5 33.Bxd5 exd5 34.Ngxf5 Bg5 35.Qg3 Qxc2 36.Qxg5 Qxd1+ 37.Kh2 Nb6 38.Ne7 Qf1 39.Qxe5+ Qf640.Qxc7

Qf4+ 41.Qxf4 Rxf4 42.Nef5 Rxf5 43.Nxf5 c2 44.Nd6 Bc4 45.Nf7+ Kg7 46.Ne5 c1=Q 0-1

Senin, 11 Januari 2010

Mengapa Ada "PO Haryanto Motor"?



Sebenarnya, ada sedikit hal yang “mengganggu mata” saat melihat penampakan bis Haryanto akhir-akhir ini. Yakni ada beberapa armada yang bertulisan “PO Haryanto Motor” di lambung body-nya.

Namun, berkat pengamatan yang lumayan jeli, ternyata “anomali” hanya ditemui pada produk New Armada, baik yang model Grand Aristo maupun Avant Garde.

Demi kevalidan kesimpulanku itu, kutanyakan pada kru Haryanto Madura, yang armadanya kunaiki sewaktu perjalanan di malam penghujung tahun 2009.

Menurut penuturan beliau, penulisan PO Haryanto Motor adalah “murni kesalahan”, semestinya cukup “PO Haryanto” saja.

Siapa yang patut disalahkan?

Sebagaimana diceritakan, sewaktu chasis Hino RK8 maupun MB OH1521 (re-build) dikirim ke Magelang, basis lokasi New Armada berada, tak lupa si driver pengantar dibekali surat jalan dari manajemen Haryanto, sebagai bukti serah terima chasis baru/ lama ke pihak karoseri. Nah, di kop surat resmi tersebut tertulis nama “PO Haryanto Motor”, full name dari nama perusahaan yang kepemilikannya dipegang Pak Haji Haryanto.

Sayangnya, pengurus Haryanto yang berkompeten lupa menitip pesan kepada driver tersebut untuk di-forward ke New Armada, bila nanti armadanya sudah 98% jadi, cukup dilabeli PO Haryanto, tanpa embel-embel “Motor”.

Dan sayangnya berkelanjutan, berhubung New Armada juga baru pertama kali mendapat order untuk mem-body armada Haryanto, karyawan bagian painting pun menulis nama PO berdasarkan surat jalan, yakni “PO Haryanto Motor”. Dan ini baru disadari pihak Haryanto saat armada akan dikirim balik ke pool Kudus.

Karena sudah terlanjur terpampang, ya …the show must go on….

Jadi jelas, tak ada yang perlu dipersalahkan. Alih-alih membawa kerugian, justru bagi saya malah mendatangkan kebaikan. Saya demen melihat nama “PO Haryanto Motor”, kelihatan gagah dan garang penamaannya. Hehehe…

Tapi itu terjadi pada pengiriman chasis gelombang pertama, dan sekarang bis-bis ini peruntukannya untuk jalur Kudus-an. Untuk armada baru buatan New Armada, telah dikembalikan menjadi nama umumnya “PO Haryanto”, termasuk Avant Garde langsiran bulan September 2009 yang kutunggangi kemarin.

Game of The Day, 12 Januari 2010

Sekarang lagi keranjingan nge-game catur online kembali. Lewat tulisan berseri ini, akan kucoba menyusun partai-partai terbaik yang dari laga yang kujalani. Sengaja yang kutampilkan hanya notasi langkah dan diagram permainan, biarlah pembaca yang berkenan membaca tulisan ini memberikan hitung-hitungan analisisnya.

Game I, 04 Januari 2010
White : ptrvc59 (1483), serbia

Black : D12K (1670), indonesia

1.e4 c52.Nf3 d6 3.c3 Nf6 4.d3 e6 5.Be2 Be7 6.O-O O-O 7.Na3 a68.Nc2 Nc6 9.h3 Qc7 10.Be3 b5 11.Nh2 Bb712.f4 Rac8 13.Bf3 b414.cxb4 cxb4 15.b3 Qb8 16.Rc1 a5 17.Qe2 Na7 18.Qf2 Nb5 19.Bd2 Rc7 20.Ne3 Nc3



21.Rc2 d5 22.e5 Nd7 23.d4 Qa7 24.Bxc3 bxc3 25.Rd1 a4 26.bxa4 Qxa4 27.Nhf1 Ba6 28.f5 Bb5 29.f6

gxf630.Ng4 fxe5 31.Nh6+ Kh8 32.Ng3 f5



33.Bxd5 exd5 34.Ngxf5 Bg5 35.Qg3 Qxc2 36.Qxg5 Qxd1+ 37.Kh2 Nb6 38.Ne7 Qf1 39.Qxe5+ Qf640.Qxc7

Qf4+ 41.Qxf4 Rxf4 42.Nef5 Rxf5 43.Nxf5 c2 44.Nd6 Bc4 45.Nf7+ Kg7 46.Ne5 c1=Q 0-1

Mitos Buah Pembawa Sial




Dunia bis tanah air pun tak lepas dari namanya mitos. Di kalangan kru bis, ada semacam kepercayaan terhadap hal-hal yang irasional, yang asal muasal ceritanya tak jelas dan kebenarannya susah ditangkap dengan akal sehat, namun akhirnya dianggap sebuah keniscayaan.

Satu di antaranya adalah mitos tentang kesialan bila bis mengangkut buah durian. Yang konon katanya, sengatan bau harum yang disebarnya bisa membikin bis perpal (mogok) di jalan.

Namun, setelah mendengar cerita satu kru bis Kudus-an, ternyata bukan terbatas buah durian yang mendatangkan kesialan, buah mangga pun tak kalah jahat, juga menebarkan ancaman keapesan di jalan raya.

Tak percaya?

Selain Indramayu, kawasan Muria juga dikenal sebagai sentra penghasil buah mangga, khususnya mangga gadung. Berhubung sedang masa panen, sehingga overstock, tak ada pilihan lain kecuali mangga-mangga lokal ini “dibuang” ke luar daerah, termasuk Jakarta. Untuk partai besar, biasanya tengkulak membawanya menggunakan light truck.

Namun, bagi pedagang kecil dan musiman, yang sekedar ikut-ikutan mengadu nasib berjualan mangga ke ibukota, untuk menghemat ongkos pengiriman, diakali dengan jalan dititipkan ke bagasi bis. Tentu besaran bea kirim bisa cincay dengan kru.

Nah, ceritanya bis ini “ketiban sampur” membawa puluhan kardus ukuran besar yang berisi mangga siap kirim. Saking banyaknya, bagasi sebelah kiri full, hanya sedikit menyisakan space untuk barang lain.

So far, rute Kudus-Cirebon bis fine-fine saja. Masalah muncul saat bis menapak daerah Jatibarang. Saat itu ada kendaraan pribadi menyalip, memberi kode sopir untuk menepi sambil menunjuk arah belakang. Pengemudi pun merespon, dengan menghentikan kendaraan. Kenek segera turun dan melihat apa gerangan yang telah terjadi.

Setelah cek dan ricek, ternyata pintu bagasi kiri terbuka dan nun jauh di belakang terlihat beberapa kardus jatuh di jalan. Ratusan buah mangga tercecer dan berhamburan di jalan, karena tali ikatan lepas. Usut punya usut, ternyata kunci bagasi dalam keadaan setengah rusak, sehingga kurang tight dalam sewaktu digunakan

Walhasil, saat bis berjalan, karena goncangan ke kiri ke kanan, kardus-kardus tersebut mendesak pintu bagasi. Karena piranti pengunci kurang fix bekerja, akhirnya tak kuat menahan beban dan at last…terbuka dengan sendirinya.


Akhirnya kru ketiban sial, laju bis diistirahatkan sementara waktu. Bukan karena faktor teknis kendaraan, tapi non-teknis. Mereka terpaksa memunguti mangga-mangga yang masih bisa diselamatkan dan naga-naganya dikomplain si empunya.

Menurut saya, bukan masalah kebenaran mitos bahwa membawa buah adalah kesialan. Asal membawa sewajarnya, tidak overcapacity atau oversmell, tak akan berpengaruh dengan kenyamanan perjalanan.

Mengapa ada "PO Haryanto Motor"?

Sebenarnya, ada sedikit hal yang “mengganggu mata” saat melihat penampakan bis Haryanto akhir-akhir ini. Yakni ada beberapa armada yang bertulisan “PO Haryanto Motor” di lambung body-nya.
Namun, berkat pengamatan yang lumayan jeli, ternyata “anomali” hanya ditemui pada produk New Armada, baik yang model Grand Aristo maupun Avant Garde.

Demi kevalidan kesimpulanku itu, kutanyakan pada kru Haryanto Madura, yang armadanya kunaiki sewaktu perjalanan di malam penghujung tahun 2009.

Menurut penuturan beliau, penulisan PO Haryanto Motor adalah “murni kesalahan”, semestinya cukup “PO Haryanto” saja.

Siapa yang patut disalahkan?

Sebagaimana diceritakan, sewaktu chasis Hino RK8 maupun MB OH1521 (re-build) dikirim ke Magelang, basis lokasi New Armada berada, tak lupa si driver pengantar dibekali surat jalan dari manajemen Haryanto, sebagai bukti serah terima chasis baru/ lama ke pihak karoseri. Nah, di kop surat resmi tersebut tertulis nama “PO Haryanto Motor”, fullname dari nama perusahaan yang kepemilikannya dipegang Pak Haji Haryanto.

Sayangnya, pengurus Haryanto yang berkompeten lupa menitip pesan kepada driver tersebut untuk di-forward ke New Armada, bila nanti armadanya sudah 98% jadi, cukup dilabeli PO Haryanto, tanpa embel-embel “Motor”.

Dan sayangnya berkelanjutan, berhubung New Armada juga baru pertama kali mendapat order untuk "menjahit" armada Haryanto, karyawan bagian painting pun menulis nama PO berdasarkan surat jalan, yakni “PO Haryanto Motor”. Dan ini baru disadari pihak Haryanto saat armada akan dikirim balik ke pool Kudus.

Karena sudah terlanjur terpampang, ya …the show must go on….

Jadi jelas, tak ada yang perlu dipersalahkan. Alih-alih membawa kerugian, justru bagi saya malah mendatangkan kebaikan. Saya demen melihat nama “PO Haryanto Motor”, kelihatan gagah dan garang penamaannya. Hehehe…

Tapi itu terjadi pada pengiriman chasis gelombang pertama, dan sekarang bis-bis ini peruntukannya untuk jalur Kudus-an. Untuk armada baru buatan New Armada, telah dikembalikan menjadi nama umumnya “PO Haryanto”, termasuk Avant Garde langsiran bulan September 2009 yang kutunggangi kemarin.