Kamis, 30 April 2009

Ojeg vs Bis

nusantara-bunga


Kisah tukang ojeg mengejar bis bukan sekali saya alami. Setelah kejadian menggelikan di dalam bis Kramat Djati, tak selang lama terjadi kembali kisah “dramatis” saat sepeda motor 100 cc adu balap dengan bis bermesin 6.000 cc. Tempat Kejadian Perkara (TKP) sendiri “lahir” di Kota Pati, Jawa Tengah. 


 


Kala itu, saya dalam perjalanan pulang dari Jakarta ke Rembang, dengan bis Nusantara. Mercy Intercooler disopiri oleh Mas Hendro, yang kabarnya saat saya menulis kisah ini pindah kerja di PO Shantika. Saat jarum jam merujuk waktu ½ 4 dinihari, Old Travego Adi Putro ini masuk Kota Pati. Dan penumpang sepertinya sudah mafhum, sopir-sopir bis NS 39 yang ditugasi nge-line Pulogadung-Cepu seringkali mampir untuk “makan shubuh” di Terminal Puri, Pati. Tentu bisa ditebak, pasti ada warung favorit para kru bis untuk memenuhi hak lambung yang kosong setelah 7 jam tak terisi semenjak lepas dari Rumah Makan Taman Sari, Pamanukan. Yup, warung makan Mbak Sri namanya. Sajian utamanya adalah kuliner khas Bumi Minatani, yakni Nasi Gandul.


 


Demikian pula Mas Hendro, langsung memarkir armadanya di depan eks Terminal Pati itu.


 


Bis tinggal menyisakan kurang lebih 10 orang, dengan tujuan kota-kota di timur Kota Pati.  Mas Hendro pun ijin dahulu kepada penumpang.


 


“Pak/Bu, badhe nyarap rumiyin. Monggo, ingkang badhe nderek njajan, ning yarwe (mbayar dewe) nggih!”, ujarnya dengan sopan. (Pak/Bu, kita sarapan dulu. Silahkan yang ingin jajan, tapi bayar sendiri ya!)


 


Akhirnya, ada beberapa penumpang ikut “sarapan terlalu pagi”, termasuk saya. Memang cocok, di saat perut sudah mulai keroncongan, mengecap menu nasi gandul yang hangat, sedap dan menyegarkan.


 


Tak lebih dari 15 menit, semua selesai dengan  urusan perutnya. Semua masuk ke dalam bis, bersiap meneruskan perjalanan. Pak Hendro kembali ke ruang kemudi sambil asyik menghisap rokok, sedang si kenek duduk manis di kursi sebelah sopir. Berhubung warung Mbak Sri bukan pemberhentian resmi PO Nusantara, jadi tidak ada “ritual” pengecekan penumpang sebelum bis diberangkatkan kembali.


 


Bis kembali berjalan, pelan-pelan dan makin lama makin kencang melaju di jalanan Kota Pati yang masih sepi. Kira-kira 2 km dari tempat jajan tadi dan kecepatan bis setidaknya 70 km/jam, tiba-tiba ada orang naik sepeda motor berboncengan menyalip secara ugal-ugalan. Setelah sejajar dengan posisi pengemudi bis, sang rider justru memainkan gas sambil gigi persneling motornya ditahan (mem-bleyer). Suara knalpotnya yang cempreng cukup membuat telinga kaget.


 


Tak sabar Mas Hendro sampai mengumpat : “As*, numpak motor wae ugal-ugalan, tak pepet m*d*r kowe!” (An***ng, naek motor saja ugal-ugalan, aku pepet mampus kamu!)


 


Akhirnya sepeda motor butut itu bersalip menyalip sembari  telunjuk kiri pengendara motor menunjuk-nunjuk pembonceng.  Kemudian tangannya melambai, memberi kode supaya bis berhenti.


 


Oalah…ternyata itu tukang ojeg beserta penyewanya.


 


Barulah Mas Hendro tersadar : “Waduh, kuwi penumpang langgananku. Wong Cepu…” , sambil mengerem bisnya. (Waduh, itu penumpang langgananku. Orang Cepu…)


 


Gerrr…seisi bis langsung terpingkal-pingkal, seolah menonton tayangan komedi yang menghibur di televisi.


 


Akhirnya kru bis meminta maaf kepada penumpang tersebut karena keteledorannya. Beruntung “penumpang ketinggalan kereta” ini sadar akan kekeliruannya sendiri. Saat membalasnya, dengan tersenyum dia berujar, “Rego tiket-e nambah 10ewu Mas…” (Harga tiketnya tambah 10 ribu Mas...)


 


“Sepurane Mas, ngene iki yen kepikiran Mbak Sri (pemilik warung),” canda  Mas Hendro untuk melupakan kekecewaannya.  (Maaf Mas, begini kalau kepikiran sama Mbak Sri.)

Kenek Ketinggalan Armada

kramat-djati1

Kenek Ketinggalan Armada


 


Penumpang ketinggalan bis itu lumrah. Tetapi, bagaimana kalau justru kru yang ketinggalan armadanya sendiri?


 


Cerita lucu berikut saya alami ketika naik bis Kramat Djati jurusan Jakarta-Kudus-Bojonegoro. Kisah konyol ini terjadi pada paruh tahun 2005. Sekedar informasi, sekarang trayek Kramat Djati Jakarta-Bojonegoro dalam status “tidur”.


 


Waktu menunjuk angka 16.00, ketika bis Kramat Djati siap diberangkatkan dari terminal Rawamangun. Agen memerintahkan checker untuk mencocokkan jumlah penumpang dengan daftar yang tertera di surat jalan. Sementara si sopir sudah siap di balik stir kemudi. Tak lama berselang,  sopir dikasih kode go, silahkan berangkat, oleh checker. Bis pun melenggang meninggalkan terminal.


 


Sesampai di Jalan Pemuda, sopir kelihatan bingung, celingukan ke kiri ke belakang, mengintip dari kaca spion di atas tempatnya duduk. Mungkin perasaannya ada something wrong. Para penumpang belum ada yang ngeh tentang masalah yang muncul.


 


Sedetik berlalu, dipanggilnya sopir kedua yang sedang istirahat di belakang dengan setengah berteriak.


 


Sopir I  : “Hey, kenekmu endi?” (Hey, kenekmu mana?)


Sopir II : “Lho, durung numpak ta?”, sambil berjalan ke depan.  (Lho, belum naik apa?)


Sopir I : “Wah, iki piye? Pantesan kok ora ono snack kanggo penumpang. Wis, telpon agen wae, kon nyusul mrene, tak tunggu ning kene!” (Wah, ini gimana? Pantas saja  tidak ada snack buat penumpang.  Sudah, telepon agen, kita tunggu di sini!)


 


Bis segera dipinggirkan untuk berhenti. Eh, saat baru saja sopir II hendak menelepon, mendadak ada motor berhenti di depan bis. Ternyata adalah tukang ojeg yang mengantar kenek bis, yang terlihat kepayahan menenteng puluhan kardus berisi makanan kecil. Para penumpang langsung tertawa menyaksikan kejadian tersebut.


 


Saat sudah di dalam bis,


 


Sopir I : “Walah, kowe ki ning ngendi wae?” (Walah, kamu dari mana saja?)


Kenek : “Lagi njupuk snack kok malah ditinggal?”, sambil menggerutu.  (Lagi ambil snack kok malah ditinggal?)


Sopir I : “Lha aku dikon mangkat karo petugase, nganti ga eling kowe wis numpak opo durung.” (Aku disuruh berangkat sama petugas, tidak  ingat kamu sudah naik apa belum.)


Kenek : “Goror-goro ngene, dadine aku kelangan cemban kanggo ngojeg!” (Gara-gara begini, aku kehilangan duit sepuluh ribu untuk ongkos ojeg.)


 


Hahaha...lucu juga melihat sopir I dan kenek  saling menyalahkan. Namun, akhirnya mereka juga menertawakan keteledoran yang dibuat sendiri.

Rabu, 29 April 2009

Bis Masuk Jembatan Timbang

[gallery columns="2"]

 

 

 

Di balik panasnya persaingan bisnis angkutan bis, seringkali lahir cerita-cerita menarik. Dinamika harian berputarnya roda bis melibatkan banyak manusia, beragam aktivitas dan semrawutnya kondisi jalan raya, sehingga memunculkan kejadian-kejadian lucu, unik, aneh-aneh, menyentuh dan segar.


 


Salah satunya seperti yang dituturkan oleh kru PO Dahlia Indah, trayek Tulungagung-Jakarta, sewaktu menunggu armadanya perpal di Terminal Pulogadung.


 


 


Sudah menjadi rahasia umum, sebagai PO yang menganut sistem setoran, bis Dahlia Indah siap menaikkan apa saja. Tak hanya manusia, paket barang, kendaraan, tanaman, bahkan binatang piaraan pun sah-sah saja. Yang penting cocok soal harga.


 


Ada kisah guyonan tapi benar-benar membuat kru Dahlia Indah tersinggung berat.


 


Suatu hari, sebut saja Pak Bongkek, sopir Dahlia Indah, dan krunya mengangkut aneka barang bawaan penumpang di kabin bisnya. Saking banyaknya, barang-barang tersebut menggunung sampai ke jendela dan dinding kaca bis. Sementara, kaca samping bis tidak dipasang pelapis kaca film. Alhasil, sebagian barang  terlihat mencolok dari luar.


 


Saat bis Dahlia Indah melaju di sebuah ruas jalan, bis ini sengaja disejajari oleh bis malam Rosalia Indah jurusan Solo-Jakarta  yang berjalan searah. Terjadilah dialog antar kru. Kurang lebih pembicaraan mereka sebagai berikut :


 


Kenek Rosalia Indah:


"Bos, bismu iku ngko mlebu jembatan timbang tah?” (Bos, bismu nanti masuk jembatan timbang nggak?) 


 


Pak Bongkek terdiam sejenak, lalu menjawab.


 


"Dianc**, nek ngomong sik enak Rek. Elek-elek ngene ngasilke. Awakmu karo juraganmu dikongkon klambi necis, bayarmu piro seh?”


(Kalau ngomong yang enak. Jelek-jelek begini bisku menghasilkan rejeki. Kamu disuruh majikanmu tampil dengan baju rapi, tapi gaji yang sebenarnya kamu terima berapa?)


 


Kenek Rosalia Indah mukanya merah padam dan meminta sopir untuk langsung menginjak gas, meninggalkan Dahlia Indah di belakang.


 


Bercanda itu boleh-boleh saja, sepanjang tidak menyinggung harga diri. Hehehe…


 


Sumber : milis bismania community


 

BMC for Nusantara’s 41th Anniversary

[gallery]

Tepat pada Hari Sabtu, 25 April 2009, kiprah PO Nusantara dalam blantika transportasi bis Indonesia genap menapak usai 41 tahun. Rangkaian perjalanan yang panjang, berliku,  diwarnai era pasang surut, serta penuh tantangan dan hawa kompetisi,  untuk mematangkan sebuah bisnis transportasi hingga berkembang menjadi besar.  Dari rintisan awal berupa pengoperasian 2 unit armada merk GAZ buatan Uni Sovyet pada tahun 1968, kini PO Nusantara memiliki “kekuatan” mencapai 400-an unit armada.


 


Core businessnya bukan semata mengelola bis AKDP dan AKAP, namun merambah pula bis pariwisata (dengan nama Symphonie) hingga usaha ekspedisi barang (di bawah bendera Nusantara Courrier Service). Perjuangan pantang menyerah dan kerja keras tanpa lelah dalam mengutamakan pelayanan kepada pengguna jasa menghantarkan hasil nan gemilang. Nama Nusantara kian lekat dan tertanam di hati masyarakat pengguna moda transportasi bis. Berkali-kali gelar PO terbaik versi Dinas Perhubungan berhasil digenggam, sebagai bukti bahwa citra dan eksistensi PO yang sekarang dipimpin oleh Bapak Handojo Budianto ini layak mendapat award dari pemerintah.  


 


Sebagai wujud apresiasi dan penghargaan bagi PO Nusantara, di hari ulang tahunnya kemarin, Bismania Community (BMC) menyerahkan nasi tumpeng dan karangan bunga kepada manajemen. Selain sebagai bentuk ucapan selamat atas ulang tahun yang ke-41, acara ini sekaligus sebagai simbol bahwa kerjasama yang telah terjalin antara BMC dan PO Nusantara akan terus dilanjutkan.


 


Pas tengah hari, acara potong tumpengan dihelat. Acara dibuka langsung oleh Mas Ferry “Gus Gopenk”, yang membeberkan maksud dan tujuan kunjungan BMC ke Pool Karanganyar. Mas Andi, selaku wakil dari pihak Nusantara, yang menerima “paket penghargaan” ini mengaku cukup surprise. Di saat PO Nusantara tidak menggelar acara khusus untuk merayakan ulang tahun yang ke-41, kepedulian dan antusiasme member BMC untuk berbagi kebahagiaan, membuat keluarga besar PO Nusantara merasa tersanjung dan bersuka cita.


 


“Saya sampai membatalkan satu acara, setelah dikabari kalau anak-anak Bismania datang ke sini. Bagi saya, bertemu dengan Bismania adalah waktu berharga, karena saya bisa mendapat masukkan, saran maupun keluhan tentang kondisi di lapangan tentang PO Nusantara”, tandasnya.


 


Sebelum dimulai acara puncak, doa bersama digelar. Doa pengharapan semoga PO Nusantara makin berjaya dan sukses dalam menjalankan roda bisnisnya, menjadi PO yang makin diperhitungkan perannya dalam menunjang perekonomian nasional. Selanjutnya pucuk tumpengan dipotong sendiri oleh ketua BMC Jateng Utara untuk selanjutnya diserahkan kepada Mas Andi. Dengan senyum bahagia, wakil tuan rumah ini menerima potong tumpeng seraya menghaturkan ucapan terima kasih kepada BMC atas prakarsa untuk merayakan ulang tahun bersama pihak Nusantara.


 


 


Akhirnya, sebagai bentuk kebersamaan, tumpeng dan hidangan pelengkapnya dinikmati bareng-bareng. Dari pihak PO Nusantara, selain  Mas Andi, hadir pula Mas Kiki “Patas”, sehingga acara makan siang dijadikan ajang ramah tamah, dengar pendapat, tanya jawab dan “pertemuan bilateral” antara PO Nusantara dan BMC. Banyak berita dan kabar terbaru dari PO Nusantara yang diwartakan Mas Andi dalam menghadapi sengitnya kompetisi antar PO. Sedang dari pihak BMC tak lupa menyampaikan ucapan terima kasih kepada PO Nusantara, karena selama ini telah banyak membantu dan membimbing komunitas Bismania agar menjadi komunitas yang “bernilai” dan bisa memberikan peran positif bagi kemajuan dan perkembangan dunia transportasi darat, khususnya moda bis. Meski dilangsungkan dalam suasana sederhana dan santai ini,namun tidak mengurangi kekhidmatan dan kemeriahan acara.


 


“Di tengah persaingan yang kian kompetitif, PO Nusantara akan all out, tidak cukup hanya berpuas diri dengan pencapaian sekarang, kita akan terus fight”, tekat Mas Andi sebelum mengakhiri even BMC for Nusantara’s 41th Anniversary.


 


Selamat Ulang Tahun ke- 41  Nusantara!!! Selamat dan sukses, semoga tetap berkibar sebagai PO terbaik, terunggul dan terdepan dalam pelayanan dan inovasi.

Senin, 20 April 2009

Tak Selamanya Sarkawi itu Indah (III)

Voice from The Sky, “Say No to Sarkawi”


 


Minggu pagi menjelang siang (01/03) di Terminal Rembang


“Bu, pesan tiket Sumber Urip ke Pulogadung buat nanti sore ya!”, kataku kepada seorang ibu penjaga loket Tri Sumber Urip.


“Mau yang jam berapa Mas,  4 apa 5?”


 


Wah…ternyata ada bis yang lebih malam berangkatnya dari Rembang. Lumayan, menambah sedikit waktu di rumah, mengganti kerugian kemarin yang dirampas kerusakan jalan pantura.


 


“Yang paling sore saja ya Bu. Dapat bis yang baru ngga Bu?”


“Tergantung Mas, bisnya sering diputar-putar antara trayek Tuban-Jakarta dan Bangilan-Jakarta. Yang jam 5 bis dari Tuban”


“Pesan satu ya Bu. Harga tiket berapa?”


“Seratus Mas, dapat makan”


 


Sorenya, tepat pukul 17.15, dia datang kembali. New Travego Morodadi Prima K 1548 AD, bermesin Hino. Ini bis yang tempo hari menjadi ajang transaksi haramku dengan kru. Tepat sasaran…aku bisa menebus dosaku dengan kebaikan di tempat yang sama.


 


Kondisi bis hampir penuh penumpang. Dan menurut penumpang sebelahku, sambutan para calon penumpang di daerah Tuban terhadap Tri Sumber Urip cukup baik. Bis asal Karangturi, Lasem ini memberikan alternatif perjalanan yang murah tapi tidak murahan. Harga tiket “hanya” Rp.140.000,00 dari Tuban, selisih jauh dengan tiket bis-bis pendahulunya seperti Pahala Kencana, Kramat Djati dan Lorena, yang menawarkan harga menyentuh angka dua ratus.


 


Demikian pula dengan penumpang daerah Juana. Bis ini favorit sebagai “angkutan ekspedisi” barang-barang hasil kerajinan kuningan dan tembaga, yang dibawa ke Jakarta dan sekitarnya. Disamping harga ekonomis per koli-nya, kru Tri Sumber Urip pintar mengambil hati para pengusaha home industry kuningan yang tersebar di daerah Juana. Selama puluhan tahun, hampir tidak pernah ada barang paket yang bermasalah bila dibawa oleh bis ini. Mereka terpuaskan atas pelayanannya.


 


Tiba di salah satu rumah makan di seputaran Gringsing, saatnya penumpang untuk menukar kupon makan malam. Saat menyantap menu ala Rumah Makan Kota Sari, kulihat sebuah bis Tri Sumber Urip, saudara kembar bis yang aku naiki, teronggok di pojok rumah makan. Sama-sama berkaroseri Morodadi Prima New Travego. Tak tampak tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Sehabis makan dan menunaikan sholat, kucoba kudekati bis “mati” ini.


 


Ya ampun… bis berplat nomor K 1580 AD ini bagian depannya hancur berantakan. Kaca besar, lampu-lampu utama, TV LCD 19’, spion dan aksesoris smiling lamp pecah, serta bodi depan tak berbentuk lagi.


tsu-laka


Sedang asyik “mencumbui bangkai” ini, tiba-tiba datang menghampiri seorang kru Tri Sumber Urip yang begitu akrab aku kenal. Beliau adalah Pak Yusman, driver yang aku dan Mas Fathur pernah temui di Terminal Pulogadung, yang malam itu bertugas menjadi menjadi sopir pertama.


 


“Pak, apa yang terjadi dengan bis ini?”, tanyaku penuh selidik.


“Kecelakaan beruntun di Banyu Putih Mas. Ada truk menyundul belakang bis Rajawali, dan karena jarak kurang aman, bis ini menabrak truk naas itu”, kata Pak Yus, sopir yang sudah 25 tahun menjadi pengemudi bis, yang merintis profesinya di PO Artha Jaya.


 


Masya Allah…tiba-tiba terlintas dalam ingatan tentang kecelakaan yang terjadi hari Sabtu pagi di tanjakan Banyu Putih. Jadi Si Ungu ini pun terlibat di dalamnya. 


 


“Bis ini berangkat dari terminal mana Pak?”


“Pulogadung Mas”


“Ah…Jumat sore tidak ada bis Tri Sumber Urip dari Pulogadung Pak. Saya sampai jam 6 sore menunggu, nihil Pak”, tungkasku.


“Ada kok Mas. Bis ini keluar terminal jam setengah tujuh, berhubung penumpang sepi”


 


Astaghfirullah…andai aku “bersabar” 30 menit lagi menunggu, bisa jadi aku naik bis celaka ini. Andai garis Tuhan tetap seperti skenario awal, aku pasti turut di dalam kecelakaan Alas Roban. Berapa banyak lagi waktuku terbuang percuma di jalan. Betapa susahnya terlunta-lunta di jalanan, sementara tujuan akhirku masih jauh. Andai hingga aku mengalami cedera fisik, ah…ngeri membayangkannya.  


 


Seketika air mataku berlinang.


 


Ya Allah...Engkau masih menyanyangiku, dengan memberi teguran lembut. Aku memang tidak Engkau ridhoi untuk berkolusi dengan kru. Engkau tak merestui transaksi abu-abu antara aku dan kenek. Engkau menyadarkanku, bahwa tak selayaknya aku menjadi sarkawi. Langit-Mu telah menggemuruhkan suara berisi peringatan.Sekarang bola di tanganku, berani tidak aku selanjutnya berkata “Say No to Sarkawi”.

Tak Selamanya Sarkawi itu Indah (II)

Karma itu Kejam


Setiba di terminal yang terletak di Jalan Perserikatan No.1, tinggal bis-bis plat K yang mendominasi.  Setelah kubayar si penjaja jasa ojeg, bergegas kumenuju loket Nusantara. Wajah “awu-awu” resmi PO Shantika tersenyum melihatku berjalan terburu-buru.


 


“Ngga naik bis-ku Mas”, candanya, karena dia tahu aku hanya mau naik bis Jepara ini jika kehabisan tiket-nya Pak Hans.


 


Tiba-tiba petugas tiket PO Senja Furnindo menghentikan langkahku.


“Mas, Kudus cepek, dapat makan!”


“Haa…murah banget? Mana ini hari Jumat lagi”, gumamku.


“Benar Mas, Kudus dan Pati sama”, nyerocos dia untuk meyakinkanku, dan jari tangannya siap menuliskan namaku di selembar tiket.


“Mas, begini saja. Aku sebenarnya mau ke Rembang. Aku tanya ke loket Nusantara dulu. Kalau habis, aku beli tiketmu. Oke!”, jawabku untuk menurunkan tensi agresifnya.


 


Hmm…pasti ada something wrong sampai tiket bis dijual murah. Pasti penumpang sedang sepi. Yup…dan pasti tiket NS 19 masih ada yang dijual. Hatiku melonjak kegirangan.


 


“Mbak, ke Rembang satu ya”, pintaku pada Mbak Delima, ticketing girl from Medan.


“Masih banyak kursi kok Mas. Pilih yang mana? Tiket juga turun Mas, cukup seratus lima belas saja”.


Nah, benar kan? Penumpang sepi, tiketpun turun.


 


Kuambil seat no. 26, untuk menyusuri long road Rawamangun-Rembang bersama NS 19, bermesin “Raja Singa” K 124 IB. Berhubung kursi nomor 7 kosong saat pemberangkatan, akhirnya kupindah ke depan. Dengan harapan, pandanganku lebih luas ke depan, siapa tahu nanti di jalan bertemu Blue Star yang membawa rombongan BMC ke Jogja. Hehehe…


 


Namun, perjalanan dengan HS 151 kali ini kurasa menjemukan, sama sekali tak istimewa. Mungkin aku lelah hati dan kecewa mendalam dengan kegagalanku mengecap kembali Si Ungu La Viola. Bahkan kemacetan parah akibat perbaikan jalan di daerah Losari menghambat laju NS 19, jam 03.30 dinihari “baru” sampai Brebes. Semakin menjadi-jadi kekesalan dalam hati. Buyar sudah harapanku untuk segera segera bertemu putriku lebih cepat, dan kususun ulang rencana pertemuan dengan mitra kerja di kampung.  Lebih banyak kuhabiskan waktu di dalam bis untuk merenung dan berkontemplasi, menenangkan diri dan berpikir jernih. Bahwa tak selamanya sarkawi itu indah.


 


Andai aku tadi naik bis langgananku, Nusantara Pulogadung, tentu tak begini jadinya.  Andai aku memilih menjadi penumpang resmi, tentu tak perlu repot pontang panting ke sana – ke sini. Penyesalan pasti datangnya di akhir cerita. Huh…aku tak perlu meratap, toh keputusan apapun yang aku ambil, aku harus siap dengan konsekuensinya.


 


Aku bertekad, akan kubayar kekhilafanku nyarkawi di Tri Sumber Urip.


 


Bila kita berbuat salah di satu tempat, tutupilah dengan berbuat kebajikan di dalamnya.


 


Begitu petuah bijak guru mengaji-ku di kantor. Nanti pas perjalanan balik ke Jakarta, aku akan berbaju legal naik Tri Sumber Urip. Yes, I can…


 


Jam 05.30, lalu lintas merayap lagi di tanjakan Banyu Putih Alas Roban. Sebuah truk Mitsubishi Colt Diesel 120 PS menumbur dengan telak pantat bis Rajawali Bandung-Solo. Saking kerasnya hingga moncong truk ringsek, terlipat, seolah menyatu dengan baknya. Hanya tinggal kendaraan yang masih di TKP, para korban tampaknya sudah dievakuasi. Praktis cuma satu lajur ke arah Semarang yang bisa dilewati.


 


Ku-SMS Mas Fathur untuk menanyakan posisi Blue Star, dan ternyata telah sampai di Gombong, setelah rombongan BMC memutuskan untuk lewat jalur selatan. Sebuah pilihan yang tepat. Jika saja lewat pantura, bisa-bisa tengah hari baru tiba di Jogja.


 


Jam 10.30, NS 19-ku mendarat di Kota Rembang. Ck ck ck…hampir 15 jam. Nuansa perjalanan hari biasa serasa arus mudik lebaran.


 


Karma yang kejam untuk membayar secuil niat menjadi seorang sarkawi.

Tak Selamanya Sarkawi itu Indah (I)

Jalan Buntu


Sudah hampir satu setengah jam aku hanya berdiri terpaku di emperan sebuah counter HP, di sebelah pool PO Dewi Sri, Pulogadung. Makhluk idamanku belum tampak juga batang moncongnya. Aku begitu melambungkan angan-angan dan bahkan sampai berani mempertaruhkan diri untuk kembali ke lembah sarkawi, dengan harapan mendapat armada Tri Sumber Urip yang berbalut baju Jupiter Tentrem. Aku tak mau repot ke Terminal Pulogadung, lebih banyak ribetnya daripada dapat mudahnya.  Jadi bukan hanya alasan dana pas-pasan seorang menjadi benalu transportasi, menyandang status sarkawi.


 


Sosok Setra Adi Putro Pahala Kencana New Butterfly Pulogadung-Bangilan, tak membuatku tergerak untuk menghentikannya. Disusul Karina Old Travego Adi Putro KE 530 Pulogadung-Sampang yang seatnya masih banyak tak laku, tak memalingkan mataku untuk meliriknya. Dan terakhir Sido Rukun Pulogadung-Blora berkaroseri Setra Piala Mas, --Pak Sopir sampai memberi kode dengan lampu dim ke arahku--, tak menggoyahkan pendirianku untuk menggenggam mimpi yang masih semu.


 


Jarum waktu tinggal berjalan 5 menit lagi untuk menggenapkan menjadi pukul 18.00 WIB. Keringat dingin mulai mengucur di dahiku, menunggu “kekasih baru” tak kunjung datang.


 


“Mas, kalau jam segini bis ke Kudus sudah tak ada lagi. Tinggal bis-bis Cirebon dan Tegal”, kata anak muda penjaga counter, yang seakan lebih tahu jadwal bis daripada petugas terminal Pulogadung.


 


Cepat-cepat kuhubungi teman komuterku,-yang apesnya,- sedang tidak berencana pulang ke Blora.


 


“Pak San,  sampai jam segini kok Sumber Urip ngga ada ya Pak”, tanyaku gemetaran.


“Oh iya Pak Edhi, kalau ngga ada, biasanya bisnya dipakai buat wisata. Tapi coba tunggu sebentar lagi, siapa tahu jalanan macet”, jawabnya.


 


Duh…semakin ciut nyaliku untuk menanti sebuah ketidakpastian. Teringat anakku yang masih butuh recovery pasca sakit, pasti menunggu bapaknya besok pagi lekas sampai di rumah. (Hal ini yang menggagalkan rencanaku turut Famgath Bismania Community di Jogja). Belum lagi ada rekan bisnis mendadak mengajak janjian bertemu di Sabtu pagi, yang berarti time is money (beuh…lagaknya). Bagaimana aku bisa mengejar waktu kalau menjelang malam begini belum mendapat bis yang membawaku pulang ke Rembang?


 


“Pak, tolong antar saya ke Rawamangun”, suruhku pada tukang ojeg yang mangkal di samping pool Garuda Mas.


 


Aku harus berpikir pragmatis dan bertindak cepat. Kutanggalkan perhitungan spekulatif. Kincir raksasa agendaku berubah 360 derajat. Nasibku kini kusandarkan di punggung Terminal Rawamangun. Kukembangkan “isi dompetku” menghadapi pilihan sulit. Alamak…ini juga hari Jumat menjelang weekend, alamat tiket Nusantara NS 19 sudah full booked. Sudahlah…apapun yang terjadi di Rawamangun, harus aku hadapi. Hampir delapan tahun menggelandang di jalanan, apa yang mesti aku takutkan.


 


Sejengkal lagi ufuk barat akan menenggelamkan raja siang, pertanda hiruk pikuk kehidupan malam akan segera di mulai. Rencana sarkawi-ku menemui jalan buntu.