Rabu, 01 Juli 2009

Karina; Cinta Lamaku Bersemi Kembali (3)

Pak Jajang, Ustadz yang Membawa Kedamaian


 


Kemudi diambil alih oleh driver kedua. Namanya Pak Jajang, eks sopir Sinar Jaya. Beda dengan Pak Samir, Pak Jajang lebih garang dalam menginjak gas dan mode safe dalam mentake over kendaraan lain. Bawanya tak kalah lembut dan setiap kali bergoyang, bodyroll bis tidak membuat penumpang terguncang. Saya menduga, dilihat dari keterampilannya, sopir yang akrab dipanggil Pak Haji ini pastilah sopir senior dan berjam terbang tinggi.


 


Jalan pantura yang tak rata dan berlubang, tak menghilangkan ayunan lembut suspensi leaf spring dari kaki-kaki bis ini. Bagi Pak Jajang, sebelum menapaki medan jalan di hadapannya, dihitung dengan hati-hati, matang dan cermat. Tidak asal main libas.


 


Tetap, kisaran kecepatan bis di angka 80 km/jam, karena inilah rentang kecepatan ekonomis, agar nanti tidak tekor dalam penggunaan solar. Namun, untuk jalan non tol dengan kondisi lalu lintas yang ramai, kecepatan ini sangatlah high speed dan membuat jantungku berdebar-debar. Aku memang memprioritaskan kenyamanan daripada kecepatan bis, makanya jalan cuma “segitu”, sudah terasa kencang dan mengkhawatirkan. 


 


Satu kursi yang tersisa, diisi penumpang dari agen Terminal Tegal. Full seat, yang berarti, meski kecil, kru akan mendapat limpahan komisi dari kantor.


 


Bis yang baru 10 bulan beredar ini pun berhenti di Polsek Subah. Ada satu bis Karina diamankan polisi, karena malam sebelumnya terlibat insiden dengan bis Solo. Konon, tidak ada kata sepakat antar pengurus PO, sehingga jalan mediasi ditempuh lewat jalur hukum. Pak Jajang berniat menemui kru bis Karina yang naas, sekedar mendrop perbekalan serta unjuk solidaritas sesama kru.


 


Mulai dari sini, kuisi waktu perjalanku dengan ngobrol bersama Mas Amat dan sesekali ditimpali Pak Jajang. Banyak hal yang mereka ceritakan, termasuk status Lorena-Karina yang saat ini dibilang “terlena” dan over confidence menghadapi persaingan bisnis transportasi darat yang kian sengit. Nyala sinar si Ijo yang meredup pun dirasakan oleh para kru. Hanya mereka yang berloyalitas dan berdedikasi tinggi yang masih setia bergabung dengan PO yang sekarang dipimpin Pak Ryanta ini. Termasuk Pak Jajang dan Mas Amat ini.


 


“Bos kami sudah lolos masuk dewan dan nantinya sibuk di sono, Mas. Rencananya bakal ada perombakan manajemen. Isunya Pak John (divisi ESL) yang akan menjalankan bisnis AKAP. Semoga, bakal ada angin segar dan perubahan berbekal segudang pengalaman Pak John”, kata Mas Amat dengan optimis tentang masa depan PO Lorena-Karina.


 


 


“Untuk sekarang, tidak usah berharap jalannya bakal seperti Lorena dulu, Mas. Prinsip kita, bisa mengantarkan penumpang dengan selamat dan tepat waktu, adalah kebanggaan tersendiri. Toh, buat apa jalan banter. Enakan bawa bis ya gini. Tenang tapi pasti. Coba Mas liat, penumpang saya pulas tidur kan Mas?” imbuh Pak Jajang dengan bijak. Saat kutoleh ke belakang, semua penumpang terbuai oleh mimpinya masing-masing. Inilah buah dari gaya menyetir Pak Samir dan Pak Jajang, elegan dan calm.


 


 


Selanjutnya, Pak Jajang banyak membagi ilmu dan cerita tentang kehidupan. Pengetahuan dan wawasannya begitu luas, perjalanan hidupnya di jalan raya begitu panjang. Aku hanya mengangguk-angguk saja saat beliau memberi nasehat dengan kalimat yang mencerahkan dan menginspirasi hidup. Layaknya motivator ulung sekelas Mario Teguh. Sebenarnya bukan maksudku mengajak bicara dengan sopir, tetapi Pak Jajang sendiri yang senang bertemu teman ngobrol, sehingga bisa membunuh kebosanan dalam menjalankan profesinya.   


 


Dari Subah hingga Demak, tak putus kami bertiga melakukan “konferensi”. Ternyata, ganasnya hidup di jalanan melahirkan sosok-sosok arif dan bijak seperti yang ditunjukkan Pak Jajang dan Mas Amat. Aku jadi merenung, bisakah hidupku sedewasa mereka nantinya?


 


Karena sudah didera kantuk, aku pamit kepada Pak Jajang dan Mas Amat. Mas Amat sendiri langsung menggelar lapak di smooking room, meninggalkan Pak Jajang dalam kesendirian bertugas.


 


Dalam tidur ayamku, terdengar lirih kalimat dzikir yang dilafalkan Pak Jajang. Itulah cara beliau mengisi waktu dalam bekerja, selalu mengingat Sang Pencipta. Membawa suasana kedamaian di tengah malam.


 


“Kita tidak tahu apa yang bakal terjadi di jalan Mas. Musibah itu dekat, hanya berpasrah diri kepada-Nya yang membuat saya tenang saat mengemudi”, terngiang kembali kata-kata beliau saat pembicaraan tadi.


 


Hiks… aku jadi terharu dan trenyuh dengan kata-kata beliau. Andai semua kru bis bersikap dan berpikiran jernih seperti Pak Jajang, nafas temparen dan hawa keras jalan raya hanya akan menjadi kisah masa lalu yang terkubur dalam-dalam.


 


 


Ah, tanggung daripada tidur. Kunikmati perjalanan akhir sebelum mencapai Kota Rembang dengan menikmati kelihaian Pak Jajang dalam menerbangkan MB OH 1525 ini. Sayang kalau miss it. Dan satu yang tetap lestari, Royal Coach E ini tetap berlari, berlari dan berlari.  


 


Rembang (6/6), Virus CLBK itu Datang


 


Tepat pukul 00.45, Karina berhenti di depan Taman Rekreasi Pantai Kartini. Kuucapkan kata terima kasih kepada Pak Jajang yang telah selamat mengantarkan kerinduanku pulang ke rumah.


 


Saat deru mesin OM 906LA hilang di kesunyian malam Kota Rembang, sejenak aku tertegun. Normal, waktu tempuh Jakarta-Rembang 13 jam, dengan pelayanan yang tidak setengah-setengah dalam memuliakan penumpang. Bukan hanya pesona armada yang kurengkuh sepanjang perjalanan, tapi bis inilah yang mempertemukanku dengan ustadz sesaat bagiku, Pak Jajang.


 


Andai saat ini aku ditanya, benarkan armada Lorena-Karina turun pamor dan service bintang lima-nya mengalami degradasi? Dengan tegas akan kujawab, “Absolutely, not…Masih ada armada yang memancarkan pesona dan aura legenda kejayaan masa silam Lorena-Karina.” Itulah yang ditegaskan oleh KE-552 ini, yang baru saja berpisah denganku.


15



Cinta Lama-ku, bersemi kembali. Sinyal kebangkitan si Ijo dari Tajur? Semoga...

Karina, Cinta Lamaku Bersemi Kembali (2)

Jumat siang (5/6), Armada Hadirkan Pesona


Karena tinggal 5 menit lagi Karina diberangkatkan (jam 11.30 WIB), dengan tergesa-gesa kuturun dari angkot KWK 06. Dengan setengah berlari, kutuju agen Karina. Sayang, parkiran bis Madura-an ditutupi lautan armada PO Primajasa. Kuputar arah lewat jalan belakang, sambil melewati deretan bis yang masih satu grup dengan Mayasari Bhakti ini. Tampak pantat Pahala Kencana putih berlivery kupu-kupu. Selangkah lagi terlihat Hino RG Kramat Djati. Dan…Olala…!!!


 


Tampak list kaca belakang melengkung ala Adi Putro, bentuk tonjolan velg khas OH 1525 serta buritan belakang berkelir hijau, merah, kuning tertangkap mata. Inilah bis yang aku impi-impikan, New Travego Adi Putro. Bergantian rasa suka cita, gembira dan eforia yang menyemburat dari lubuk hati.


 


Setelah check in dan boarding di agen…


 


Sejenak kunikmati detail lekuk eksterior bis berplat nomor B 7966 IW ini. Body masih mulus, wetlook dan perfect, mengusung chasis MB OH 1725, eh…1525 bermesin OM 906LA. Berpendingin udara Thermo King Mark IV yang tersembunyi di antara panel bodi ala jepitan rambut. Suara khas mesinnya yang serak-serak kering, seolah berkoar-koar tentang kenyamanan armada Mercedes Benz.


 


Bismillah…saat kujejakkan kaki ke tangga bis. Wow…!!!


 


Tiba-tiba takjub. Inilah bis Madura yang paling lux yang pernah aku naiki. Interior bertema Go Green Go, cocok dengan sebutan Si Ijo. Mulai corak roof, kain gorden dan permadani yang terhampar di sepanjang selasar. Ruang kabin begitu rapi, so clean dan terkesan mewah.  Hiburan audio video memanjakan indra penglihatan dan pendengaran, dengan kelengkapan LCD TV Sharp Aquos, DVD Player dan Speaker. Full Music.


11


6


Kursi buatan Restindo, dibenamkan  piranti legrest, dengan kapasitas 34 seat, plus selimut tebal dan bantal. Di belakang, disisakan space ruang untuk smooking area. Toilet bersih dan jauh dari bau-bauan yang menyengat hidung. Tak ketinggalan alat APAR (Alat Pemadam Api Ringan) dan palu penyelamat. Meski jalur Madura hanyalah anak tiri, tapi benar-benar Karina ini mengedepankan kenyaman, keamanan dan keselamatan penumpang.  


9


Saat itu juga, runtuh bayangan kelam tentang armada Si Ijo, khususnya Karina KE 460/1 Jakarta-Bojonegoro, yang seringnya “dianugrahi” bis-bis berkostum lama dan terlihat kusam. Bagiku, bis Madura ini jauh di atas segala-galanya.


 


Sungguh Karina…armada-mu yang ini menghadirkan seribu pesona. 


 


On Board, Karina Makin Mengkilap.


 


Lagi-lagi, kursi IC paling akhir terjual, tak beda dengan Pahala Kencana Madura yang tempo hari aku naiki. Angka 3 membawa sial bagi orang-orang Madura? Hehehe…


 


Setelah terisi 31 penumpang, terlambat 10 menit dari seharusnya, bis berkode KE-552 ini take off dengan driver ber-tagname Pak Samir Fuadi. Bis langsung melenggang perlahan, hingga masuk pintu tol pelabuhan, di depan Polres Metro Jakut.


 


Uniknya, baru1 km bis berjalan, Mas Amat (kenek) telah mencetak rekor. Menegur dan mengingatkan tiga orang penumpang yang ketahuan merokok bukan di tempat semestinya. “Ck ck ck…, armada sebagus ini kurang dihargai penumpang,” bisik batinku.


 


Dan kembali, aku mengucapkan “Bismillah…,” adegan di jalan raya inilah yang paling menyita perhatian dan rasa harap-harap cemasku.


 


Pak Samir langsung mengeksekusi pijakan gas dengan mengurut. Dari perlahan, sedikit sedikit makin bertambah, hingga kecepatan di angka 80-90 km/ jam. Sepanjang tol Wiyoto Wiyono hingga Jatibening, bis meluncur cukup smooth, tidak ekstrim dalam bermanuver kanan-kiri dan senantiasa berada di jalur 1 dan 2. Lumayan…, meski sempat diasapi Mayasari Bhakti P9, Agung Bhakti P89, dan Primajasa Kalideres-Bandung.


 


Yang aku dengar dari obrolan Pak Samir dengan Mas Amat, saat jam siang, banyak PJR (Polisi Jalan Raya) mengintai dan siap menyergap kendaraan yang melanggar rules jalan raya. Makanya, meski lajur kanan (lajur 3 dan 4) kosong, beliau tidak akan mengambilnya. “Bis dan truk di lajur kiri (1 dan 2)”, itu rambu-rambu yang ditaatinya. Bukan sayang uangnya andai kena tilang, namun yang dikhawatirkan penilaian penumpang terhadap kinerja tim jalan. Para kru Karina ini tampak berusaha menjaga kondite. Memang terbukti, sepanjang tol Cikampek, terhitung 5 buah sedan ber-rotary lamp milik Polisi Metro ini mengintip, mencari pelaku pelanggaran.


 


Sebuah sikap kehati-kehatian dan kewaspadaan yang patut diapresiasi.


 


Antrian panjang terjadi di Km 50-an, saat sebuah trailer bermuatan petikemas terguling di pinggir tol. Semua kendaraan merayap pelan. Saat lepas dari kemacetan dan kecepatan mulai dipacu kembali, tak dinyana PO Sari Giri bermesin mercy tua mencundangi adiknya ini. Tak sampai lima kedipan mata, bis Wonogiri-Jakarta ini langsung hilang ditelan kepadatan arus lau lintas. Hebat…


 


Hanya perlu 1 jam 30 menit, Karina menuntaskan rute panjang tol Cikampek. Jomin hingga Pamanukan lancar meski jalan tersisa dua jalur. Jalan arah Jakarta sedang dilapis ulang untuk perbaikan menghadapi arus mudik lebaran 2009. Melintas di jalan pantura, bis ini tetap mempertahankan larinya. Seolah, jatah 570 liter Jakarta-Madura PP tidak jadi penghalang driver untuk menginjak gas. Meski RPM engine selalu ditahan di greenline (15.000-20.000), seakan tidak mengurangi putaran yang dihembuskan flywheel mesin untuk menggerakkan roda bis. Tak ada kesan irit solar, melambatkan ritme dan mengulur waktu perjalanan. Mantap dan membuatku tak berhasrat untuk tidur. Sebisa mungkin setiap kilometer aku lewatkan bersama Karina.


 


Jam 16.30, adik Lorena ini mampir di agen Plered, Cirebon untuk menghampiri 2 penumpang tambahan dan paket barang. Menurut Mas Amat, divisi ESL sedang berkibar. Tak bisa dipungkiri, divisi AKAP Lorena-Karina sedang redup, tapi tidak bagi ekspedisinya. Meski bis-bis Banyuwangi, Jember, Malang, Surabaya dan Denpasar belakangan ini kurang bagus okupansi penumpangnya, tapi pendapatan paketnya cukup profitable.


 


Tidak lama berjalan, bis berhenti di RM Aroma, Cirebon. Service makannya biasa-biasa saja, dan soal citarasa dan kuantitas, aku lebih prefer RM Taman Sari, Pamanukan. Ransum kemarin hanya nasi putih, opor ayam, sambal tahu dan sayur sop, serta segelas air mineral. Untuk urusan ganjal lambung, yah…fifty fifty lah.


 


Saat memenuhi rongga perut, terlihat dari dalam ruang makan, wow…!!!


 


Oleh cleaning sercive, Bis Karina ini dibersihkan luar dalam. Mulai pengelapan bodi dan penjernihan kaca depan, pembersihan toilet, lantai bis disapu dari kotoran dan tempat sampah yang menggunung dibuang. Selimut dan bantal dirapikan kembali, persis saat bis akan diberangkatkan. Kabin pun wangi kembali semprotan penyegar ruangan khas aroma lemon. Pengecekan mesin juga dilakukan oleh kru, untuk memastikan segala sesuatunya tetap on track. Baru kali ini aku mengalami service yang luar biasa dari sebuah bis.


 


Akankah pesona yang baru saja kurengkuh, akan kembali berlanjut?


 


(bersambung)

Karina; Cinta Lamaku Bersemi Kembali (1)

Apakah wabah virus CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) juga tengah melandaku?


 


Selasa pagi (2/6), Mendadak Kangen


 


Sudah hampir dua minggu ini aku mendekam di ibukota. Rasa kangen berjumpa keluarga menumpuk-numpuk memenuhi ruang rindu. Bagaimana membunuh ke-bete-an saat perjalanan Jumat depan, saat angan-angan keceriaan anakku menyambut bapaknya datang bergelayut di pelupuk mata?


 


Pasti…kunci jawabannya cuma satu. Bis yang membawaku pulang kampung nanti harus istimewa, spesial, mengesankan dan penuh sensasi.


 


Seketika terlintas bayangan Lorena-Karina. Sudah lama tak lagi mencumbui dua sosok manis ini. Sejatinya, bis-bis inilah bis sejuta kenangan bagiku. Awal mula pertaruhanku menjalani hidup sebagai seorang komuter, duo green ini yang kupercaya untuk sandaran ritual wira wiri Rembang-Jakarta. Gara-gara specdown kualitas pelayanan dan ketidakpastian waktu tempuh, yang membuatku ingkar dari kesetiaan.


 


Bahkan, hingga tahun keempat aku menjauhinya, image negatif bis ini belum juga berubah. Masih saja didekap penyakit lamanya. Molornya jam keberangkatan, waktu tempuh seringkali meleset jauh dari  average, pengetatan jatah solar, armada yang semakin menua dan minim peremajaan, hingga sempat tersiar kabar krisis driver gara-gara eksodus-nya para sopir senior.


 


Hmm…tak mengapa bagiku. Yang kukedepankan melepas kangen, bukan mengeluhkan celah kekurangan si Ijo. Tekad sudah membulat, aku ingin naik PO yang melambungkan nama Bapak GT Soerbakti ini.


 


Alam khayalanku langsung diselimuti Karina Tanjung Priok-Sumenep. Berkali-kali aku memergokinya menyusuri Jalan Enggano, Jakarta Utara, bis ini seakan ajeg dan fixed, bermesin MB OH 1525 karoseri New Travego Adi Putro. Ah, siapa tahu ini bis reguler?


 


Rabu siang (3/6), Membuka Selubung


Saat memarkir motor di sudut terminal, yang terletak tepat di seberang kantor PT Pelindo II, tampak terjepit di antara PK berbaju New Travego Centralindo dan Kramat Djati Setra Adi Putro, terparkir manis wajah smiley sentuhan Adi Putro. Aku semakin yakin, memang bis ini jatah harian Karina Madura dari Tanjung Priok.


 


“Mbak, bisa pesan tiket ke Rembang?”, tanyaku saat tiba di depan loket agen Karina.


“Boleh Mas, berapa orang dan kapan?”, jawabnya sembari balik bertanya.


“Cuma satu sih Mbak. Tapi saya ingin mastiin, benar ngga mercy terbaru untuk Jumat nanti?”, tanyaku kembali untuk mengorek jawaban.


 


Sebenarnya pertanyaan bodoh, bukankah aku ingin mengendapkan kerinduan bermesraan dengan Si Ijo, mengapa pakai acara pilah-pilih armada?


 


“Saya tidak menjamin Mas, tapi seringnya bis baru kok untuk armada pertama ke Madura. Tapi itu kebijakan kantor, bisa jadi berubah. Jadi sekali lagi, saya tidak berani menjamin Mas,” timpal agen dengan jujur.


 


Gini aja Mas, pesan dulu aja. Andai nanti salah, ngga jadi naik ngga papa kok”, rayu Mbak agen agar aku tidak beringsut ke agen bis sebelahnya. (Pahala Kencana atau Kramat Djati)


 


“Ya sudah. Berapa ke Rembang, Mbak,” sambil kulirik price list tiket per kota yang disinggahi trayek Lorena-Karina, terpampang di kaca loket.


“Rp.140.000,00 Mas”, jelasnya sesuai harga yang telah dibandrol.


“Kalau boleh Rp.130.000,00, saya ambil deh Mbak”, kucoba untuk menawar harga.


 


Sesaat setelah berpikir.


 


“Ok deh kalau buat Mas”, balasnya sambil tersenyum.


 


Yup, tiket sudah kugenggam, posisi duduk di seat 1B sudah kublock, dan peluang hingga 95% armada baru kemungkinan kudapat. Hanya tinggal doa pengharapan, semoga perjalananku dengan Karina akan so impressed.


 


(bersambung)

Benarkah Kursi Depan Favorit?

Mumpung lagi hangat di milis tentang bahasan posisi duduk paling favorit di dalam bis, yang hasil sementara menunjukkan elektabilitas kursi depan mayoritas dipilih, saya pernah punya pengalaman kontraproduktif dengan kesimpulan para khalayak bismania.


 


Ini cerita yang tertinggal dari perjalanan saya ke Adi Putro, Malang, saat naik Pahala Kencana HT 519 Tanjung Priok-Bangkalan.


 


Waktu menunjukkan pukul 12.15, sementara jam keberangkatan bis berkaroseri Panorama DX ini --sesuai yang tertera di tiket-- pada jam 12.00. Bis Pahala Kencana Travego make over by Centralindo di belakangnya sudah masuk terminal. Agen segera memerintahkan sopir dan kenek untuk bersiap berangkat, meminta menggeser posisi parkir bis hingga ke ujung exit terminal Tanjung Priok, sambil dia sendiri duduk di kursi kenek, merekap hasil pendapatan dari penjualan tiket serta mengisi formulir Daftar Penumpang (DP) yang nantinya akan dibawa kru.


 


“Isi berapa?” tanya sopir kepada Mbak agen


“Minus satu” jelasnya. (Maksudnya hanya satu yang tidak terisi)


 


Saat bis bergerak perlahan, ada calon penumpang berlari-lari mengejar bis. Bis pun berhenti.


 


“Mbak, masih ada tempat?” tanyanya.


“Masih Mas”, jawab agen lewat jendela, seraya kenek membukakan pintu.


 


Mbak agen segera menyiapkan tiket.


 


“Kemana, Cak?”


“Bangkalan”


 


Kemudian menuliskan nama penumpang, tujuan, nomor bis dan seterusnya seterusnya, sebagaimana tugas seorang agen tiket.


 


“Ini Cak, duduk-e sampeyan di depan,” kata agen menutup transaksi.


 


Saya yang menempati jok 1B, segera melirik kursi kosong di seberang lorong, sejajar yang saya dudukki, ternyata itu kursi terakhir yang laku jual.


 


Saya hanya tersenyum kecut dalam hati. Saat rombongan Bismania Community (BMC)  turing bareng, jatah kursi depan selalu jadi rebutan sehingga perlu diambil jalan mediasi dengan mengundi, bahkan ada wacana dilelang segala, justru kursi 1C (no.3) ini malah disiriki (dijauhi) penumpang.


 


He he he…

Sejarah Sarkawi

Lagi asyik baca-baca email yang lolos sensor di mailing list Bismania, timbul lagi tema lama, fenomena sarkawi. Jadi ingat, dulu ada member Bismania Community (BMC) pernah bertanya tentang asal muasal istilah sarkawi. Tepat rasanya, waktu acara “BMC for 41th Nusantara Anniversary”, Mas Andi Nusantara membagi kisah sejarah penamaan penumpang gelap yang dikenal dengan sebutan Sarkawi.  


Sejarah sarkawi dibidani oleh salah seorang kenek PO Pahala Kencana Kudus, yang bernama Sarkawi. Sebelumnya, penumpang tak resmi seringkali diistilahkan R-R-an atau penumpang gelap.  


Awal tahun 90-an adalah golden time-nya PO Pahala Kencana, saat mulai mengibarkan bendera di jalur Cepu-Kudus-Jakarta. Terlebih setelah redupnya PO Artha Jaya. Sebagai pendatang baru, tentu PO Pahala Kencana all out menggarap pasar penumpang. Selain menggelontorkan bis-bis dengan kelas eksekutif dengan service bintang lima, pihak manajemen juga bercita-cita menebarkan image bis yang aman dan nyaman dengan me-release kebijakan menghilangkan penumpang tak resmi, budaya kotor para kru sebelumnya.  


Punishment-nya pun tegas, ketahuan mengangkut penumpang gelap, kru kena skorsing, jatah nge-line pulang pergi (PP) dipangkas dan bakalan mengantongi surat peringatan. Untuk itulah, ditempatkanlah controller di beberapa titik di sepanjang pantura, untuk melakukan tugas inspeksi, mencocokkan jumlah penumpang dengan manifes surat jalan.  


Imbasnya, kebijakan ini tentu memberatkan para kru yang terbiasa berharap seseran dari penumpang tak resmi. Dan tentu saja, namanya aturan dibuat untuk dilanggar. Berbagai cara ditempuh kru, bagaimana bisa membawa penumpang tak resmi tapi luput dari pengawasan kantor. Terciptalah aksi kucing-kucingan yang terkadang membuat kita tertawa geli ketika mendengar testimoni seseorang yang pernah menjadi penumpang gelap. Sewaktu pemeriksaan, ada yang ngumpet di toilet, disuruh turun-jalan kaki-naik lagi setelah pos kontrol, disuruh tiduran dan ditutup selimut di area kandang macan (tempat istirahat kru) hingga metode yang paling ekstrim, disatukan dengan barang di ruang bagasi samping.  


Salah satu yang merasa dikecewakan kebijakan ini adalah Pak Sarkawi. Diputarlah akalnya, meski ada kebijakan yang “tidak manusiawi” baginya, tapi penghasilan tambahan harus tetap dapat diraih. Nekatlah dia. Sekali membawa lolos. Dua kali luput.  Dan seterusnya seterusnya hingga berkali-kali “titipannya” tak terendus sergapan petugas kontrol. Di kalangan para kru, Pak Sarkawi disanjung sebagai orang yang jago membawa penumpang gelap.


Tapi sayang, daya tarik magnet materi  terlalu kuat untuk memburamkan nurani. Pak Sarkawi kurang puas kalau hanya mengangkut segelintir penumpang. Alhasil, dia tersihir goda dunia dan lupa diri.  


Tak ada kejahatan yang sempurna. Pak Sarkawi akhirnya terkena batunya ketika dengan perjuangan heroik membawa penumpang tak resmi hingga berjumlah 17 orang. Bahkan ada guyonan, kalau aksinya patut dicatat oleh rekor MURI, sebagai kru bis dengan membawa penumpang tak resmi terbanyak sejauh ini. Bahkan dipastikan sebagai rekor abadi. Entah ditaruh di mana saja para klien-nya tersebut. Sehingga aksinya ke-gap oleh controller dan dilaporkan ke kantor.   


Pak Sarkawi pun dipanggil pengurus dan mendapatkan sangsi berat. Esoknya, di garasi Pahala Kencana Kudus dipampang  banner peringatan dari manajemen yang dialamatkan kepada para kru jalan, bertuliskan “JANGAN BERKELAKUAN SEPERTI SARKAWI!!!” 


Nah, semenjak itu nama Sarkawi terkenal di buku kamus pembicaraan antara kru bis, menggantikan istilah penumpang gelap.


 


Say No To Sarkawi…

Selasa, 26 Mei 2009

Ada Cerita dari Balik Gubuk Derita (2)

Pukul 21.30, bis yang bertrayek Tuban-Jakarta ini selesai diperbaiki. Mas Waris baru saja mengirim sms, mengabarkan bis Nusa NS 51 yang dinaikinya baru saja diberangkatkan dari rumah makan. Duh, nikmatnya eksekutif NS 39 langgananku membayang!


 


Ah, aku tidak boleh menyesal telah memilih bis ini sebagai tunggangan perjalanan malam ini. Konsekuensi apapun mesti kuterima dengan lapang dada. Sejelek-jeleknya kualitas armada dan pelayanan bis ini, masih terbesit rasa bangga di hati sebagai wong Rembang. Tanpa TSU, kotaku tak akan memiliki bis AKAP lagi semenjak PO Artha Jaya yang dulu cukup disegani mati beroperasi.


 


Bis berjalan kembali. Sekali lagi, bukan kenyamanan yang ditempatkan sebagai prioritas, tapi bagaimana bisa mengejar waktu ketertinggalan. Semua rute jalan seenaknya dilibas, tanpa mengindahkan munculnya bunyi-bunyian yang cukup menganggu di dalam kabin. Saking tergesa-gesanya,  singgah di rumah makan cukup 15 menit,  sehingga banyak penumpang yang asyik dengan kegiatan mengasap menggerutu.


 


Arep ngoyak opo to Pir?”, tanya salah seorang penumpang. (Hendak mengejar apa sih Pir)


“Macet…macet…Losari, Jatisari. Ayo, cepat…!”  dalih Pak Sopir.


 


Semenjak lepas dari rumah makan Kota Sari, Gringsing, kupaksakan diri untuk tidur agar kekesalanku terkubur. Tentu bukan dalam artian tidur yang sebenar-benarnya tidur. Zzz…


 


Kurasakan bis ini berhenti. Kubuka mata, benar apa yang ditakutkan. Marcopolo terjerembab dalam kemacetan parah di Pejagan, Brebes. Di depan tampak Pahala Kencana Madura, sedang di samping kiri Harapan Jaya Tulungagung. Yang jelas, kedua bis adalah bis kloter termalam, sehingga aku pesimis, sebelum jam kerja besok, aku sudah sampai di kantor.


 


Kuteruskan tidur kembali, sampai kurasakan udara di dalam cukup pengap. Tak tahunya, bis yang berhome base di Lasem ini kembali mogok dan mesin dimatikan. Posisi persis di seberang pos jaga Polsek Gebang, Cirebon. Untung, sebelum aku memutuskan turun untuk menghirup udara segar, bis kembali dinyalakan. Kulihat jam di HP menunjuk angka 02.15. Sudah habis harapanku, alamat tengah hari baru sampai Pulogadung. Pasrah…


 


Dan aku tertidur kembali, hingga…


 


“Tarahu…tarahu…!”, teriakan salah satu pedagang asongan membuyarkan mimpiku. Mimpi tentang TSU ini mengantarku langsung ke Tanjung Priok. Aneh, dalam ketidaknyaman bis seperti ini, aku bisa bermimpi indah.


 


Ternyata bis kelas VIP ini sedang mengisi solar di SPBU Cikampek.


 


Aku terbelalak saat kulihat jam. Pukul 05.30. Maha Suci Allah! Tol Panci-Cikampek cuma 3 jam? Lancarkah jalur pantura mulai Pamanukan hingga Jomin, yang tiap hari hampir dipastikan macet  akibat perbaikan jalan?


 


Ck…ck…ck…Hanya satu kata salut dan pujian kuucapkan untuk “si gubuk reyot” ini, Amazing…!!!


Marcopolo-TS


 


Belum genap aku mengakui kehebatannya, tiba-tiba seorang sopir truk barang yang mengisi solar  bersebelahan dengan TSU, berteriak kepada Pak Sopir.


 


“Kang, temanmu kecelakaan di Jatisari. Nabrak rumah di tepi jalan. Kok ngga berhenti tadi?” katanya mengabarkan.


 


“Bis yang mana, Kang?” tanya sopir dengan penuh keheranan.


“Yang biru (maksudnya ungu) Kang.”


 


Bergegas dipanggilnya sopir kedua yang sedang istirahat di belakang.


 


“Pak, RG-nya laka di Jatisari”, kata sopir dengan lemas, saat mem-forward beritanya kepada sopir kedua.  


 


Masya Allah! Andai dari Rembang aku diikutkan naik si Hino RG ini, kemalangan apa yang bakal menimpaku ?


 


Sudah dua kali aku dikecewakan oleh TSU, tapi dua kali itu juga aku luput dari musibah.


 


Biarpun banyak derita yang kurasakan bersamamu, aku akan tetap mengagumimu, Tri Sumber Urip!   

Ada Cerita dari Balik Gubuk Derita (1)

Dret…dret…dret…nada getar HP-ku aktif. Pasti dari agen Tri Sumber Urip (TSU), pikirku. Segera kupelankan laju roda duaku untuk menepi dan berhenti.


 


“Halo…”,


“Mas, bisnya sudah menunggu. Sudah sampai mana?” suara seorang ibu-ibu di ujung telepon.


“Tunggu sebentar Bu, 5 menit lagi!”


 


Let’s get the beat! Segera kularikan motor menuju Terminal Rembang, karena aku mesti berpacu dengan waktu agar tidak ketinggalan bis.


 


Dret…dret…dret…”dia” bergetar kembali. Kuberikan gadget jadul ini ke istriku untuk menjawabnya, sambil tangan kananku terus memelintir putaran gas.


 


“Mbak, tolong ditunggu. Ini sudah mau masuk terminal”, terdengar istriku memohon agen untuk bersabar.


 


Ugh, jam pemberangkatan di tiket tertulis jam 17.00. Mengapa agen mesti terburu-buru, padahal jam digital di Sony Ericson-ku baru  menunjuk angka 16.40


 


Masuk pelataran terminal Rembang, langsung kutemui agen untuk meminta nomor bis dan kupon makan.


 


“Mas ini bisnya, cuma ACnya lagi problem. Nanti akan diperbaiki di Semarang!”, jelas si agen memohon pengertianku.


 


Ya ampun, seketika segala ekspekstasi dan angan-anganku runtuh melihat sosok bis di hadapanku. Dari rumah berharap si ‘Pinky’ Morodadi Prima atau Tentrem yang nge-line, ternyata Marcopolo Tri Sakti yang kudapat. Memang, untuk mesin mengusung MB OH 1521 Intercooler. Tapi dilihat dari bodi, bis ini layak dipensiunkankan dari garis orbit bis malam.  Dempulan banyak yang terkelupas, tumbuh karat di permukaan bodi, cover kondensor AC hampir “terbang”, ban belakang vulkanisiran sehingga lapisan karetnya hendak lepas dan ih…kaca samping model kelas ekonomi yang bisa dibuka tutup. Gambar dunia bawah laut nan eksotik tak bisa menyembunyikan wajah bopeng armada ini.


 


Ini bis apa? Batinku tidak habis pikir. Selama menjadi pemudik mingguan Rembang-Jakarta, inilah bis berbodi terjelek yang pernah aku naiki. Hiks…


 


Kulihat kenek sedang membuka kap mesin.


Marcopolo-TS (2)


 


“Ada apa Pak?” tanyaku kepada sopir yang berdiri di belakang bis.


“Dinamo ampere bermasalah, Mas.”


 


Duh Gusti, derita apa lagi ini? Sudah AC megap-megap, mesin kurang meyakinkan. Mampukah bis ini melenggang hingga ke Jakarta?


 


Perlu 15 menit untuk perbaikan, dan bis pun siap diberangkatkan. Kujejakkan langkah pertama ke dalam kabin. Deg, serasa naik bis ekonomi. Interior begitu kusam, kursi buluk, TV 21’ hanya penghias semata, tanpa selimut, asap rokok menyebar di langit-langit, bau tak sedikitpun tercium wangi dan AC melempem untuk menyemburkan hawa dingin.


 


“Ya Allah, inikah balasan yang mesti kuterima untuk menuntaskan kerinduanku naik Tri Sumber Urip kembali,” kesahku kepada-Nya.


 


Sprinter ala Tri sakti ini langsung tancap gas. Rupanya, rencana perbaikan AC di Semarang memaksa sopir untuk sesingkat mungkin memangkas waktu tempuh Rembang-Semarang. Meski tidak smooth setiap pergantian gigi transmisi, tapi tarikan dan tenaganya ngacir juga. Dan yang bikin terperangah, bis ini tak sekalipun takut melahap sirkuit pantura. Goyang kanan goyang kiri irama pergerakannya, tak gentar sedikitpun bodinya akan terlepas dari chasis. Hehehe…


 


Blong kanan tipis seolah menjadi santapannya. Klakson setiap kali menyalak, memberi kode pengguna jalan lain untuk meminta jalan. Kontur jalan pantura yang bergelombang serta berlubang membuat tiap sudut bodi bis ini mengeluarkan nada riuh rendah, gemlodagan, setiap roda bis menapak jalan. Entah kualitas body builder atau memang life time bangunan karoseri ini sudah usai, sehingga menyisakan kereyotan. Telinga sampai budeg gara-gara orkestra tanpa irama gubahan komposer Marcopolo. Tak ada indah-indahnya pesona bis malam Muria Raya, seakan membenamkan pesona  aksi nekat sang driver. Serasa bermalam di gubuk derita. Tragis nasibku…


 


Juana mampir sebentar, Terminal Pati sekedar singgah. Di sini berbarengan dengan Tri Sumber Urip Hino RG Setra Morodadi Prima bergambar kupu-kupu yang jarang terlihat berdinas. Di Terminal Jati, Kudus, berhenti kembali dan bis langsung penuh. Wow, bis acak adut begini laku keras!


 


Tiba di bengkel AC di daerah Kaligawe, Semarang, bis pun masuk pit. Terlihat 3 pasien rawat inap, yakni Bus Kota Damri OH 1521, sebuah Bis wisata OH 1521 dan Sumber Alam OF 8000. Menurut informasi kenek, 2 buah kipas kondensor AC bis ber-nopol K 1585 AD ini mati, hanya sebuah kipas yang bekerja, sehingga tidak cukup untuk menghembuskan udara.


 


Segera kuturun dan kudekati si kenek yang sedang duduk di samping bis.


 


“Mas, bis-bis ungu kemana?”, tanyaku untuk mencari jawab rasa penasaran yang bergelayut.


 


“Ini repotnya kalau bos lebih mengurusi wisata, Mas. Semua armada merah (istilah kenek untuk menyebut warna pink) sedang jalan. Malam ini, bis cadangan yang keluar. Bis ini sebenarnya sudah dibeli PO lain Mas. Berhubung belum diambil oleh empunya, kita pinjam dulu buat bis malam,” jelasnya dengan gamblang.


 


Pantas saja, bagaimana diurus, status armada ini sudah hak milik orang lain.


 


“Kita (kru) juga pusing Mas, bagaimana dengan ke timur nantinya. Mana mau orang-orang Kudus-an naik bis jelek begini. Sudah mintanya tiket murah, bis bagus, armada harus ngejos. Bisa-bisa 2 atau 3 hari kita perpal di Jakarta. Bagaimana kita menjelaskan kepada bos, kalau setorannya nanti kurang,” curhatnya seolah pasrah dengan kebijakan kantor yang dianggap menganaktirikan bis reguler.


 


Inilah celah kekurangan bila manajemen PO mencampuradukkan divisi reguler dan wisata. Pendapatan yang pasti bila bis dicharter untuk wisata, membuat bis reguler terkadang dimarginalkan.