Senin, 06 April 2009

Menjinakkan Arus Liar Citarik

[gallery columns="2"]

 

 

Di era serba modern seperti sekarang ini, refreshing tak bisa dipisahkan dari kebutuhan dasar warga perkotaan. Terutama bagi sebagian orang yang larut dalam hiruk pikuk  dunia kerja. Rutinitas harian yang “itu-itu saja” dan pressing beban pekerjaan yang menghimpit  lama-lama membuat kinerja otak  mampet dan otot tubuh kian menegang. Bila kondisi psikis berada pada titik kulminasi kejenuhan, efeknya para pekerja  akan dihinggapi penurunan produktivitas, demotivasi, kepenatan yang amat sangat  dan matinya ide dan kreativitas untuk menunjang bidang pekerjaannya.


 


Berangkat dari pemikiran di atas, pada tanggal 04 April 2009 kemarin, divisi teknik perusahaan tempatku bekerja mengadakan acara outing rafting (arung jeram). Selain untuk menjernihkan pikiran, sekaligus dijadikan sarana mempererat tali pertemanan dan menambah kesolidan teamwork bila nanti bekerja kembali.


 


Dengan pertimbangan sebelumnya pernah merasai jeram Sungai Citatih, maka panitia merencanakan mencari lokasi arung jeram yang baru. Akhirnya satu yang dipilih adalah Sungai Citarik, Sukabumi. Event Organizer (EO)-nya dipercayakan kepada Caldera, yang berkantor pusat di Menteng, Jakarta. Konon, bagi kalangan adventurer, sungai yang berhulu di Taman Nasional Gunung Halimun ini memiliki trek yang lebih menantang, memacu adrenalin dan jeram-jeramnya lebih terjal dibanding Sungai Citatih. Selain itu view yang mengapit kanan kiri Sungai Citarik lebih indah serta airnya  terbebas dari polusi limbah buangan industri dan rumah tangga.   


 


Berhubung rencana arung jeram diperkiraan berlangsung dalam masa peralihan musim, berdasar voting terbanyak, maka arung jeram akan dilaksanakan pada pagi hari untuk menghindari kondisi cuaca yang tidak menentu.  Mengingat jarak kantor dengan daerah lokasi rafting cukup jauh, dan terlebih jalur mulai Ciawi hingga Cicurug rawan kemacetan, maka aku bersama dua puluh lima orang karyawan teknik yang lain memilih untuk menginap di Resort Caldera River di daerah Cikidang.


 


Setelah menempuh perjalanan melelahkan hampir 5 jam lamanya, kamipun sampai di tempat yang dituju. Bermalam di tepian Sungai Citarik menghadirkan nuansa alam pedesaan Sunda yang khas. Debur riak air sungai yang tercipta oleh halangan batu-batu besar, suasana kampung yang sepi jauh dari hingar bingar keramaian, hanya suara serangga-serangga hutan serta hawa sejuk khas pegunungan memberi tambahan semangat baru, bahwa besok kami semua akan melakukan kegiatan menantang penuh resiko. Setelah menikmati jamuan barbeque, kami mengistirahatkan diri di saung ala Pulau Lombok. Yakni bangunan tradisional model panggung dari kayu beratap ilalang, dengan dinding terbuka.   


 


Esok paginya, setelah menyantap hidangan  berupa nasi goreng ayam, kegiatan arung jeram bersiap dimulai. 25 orang dibagi menjadi lima grup plus satu instruktur. Setelah mengenakan piranti keselamatan yakni pelampung dan helm pengaman, serta dayung sebagai alat kayuh, kami dikumpulkan dan di-briefing tentang cara mengendalikan perahu serta prosedur keselamatan. Tampak wajah-wajah riang ceria dan diseling canda rekan-rekan kerjaku meski sebentar lagi kami akan menghadapi ganasnya arus liar Sungai Citarik. Mungkin, inilah trik dari rekanku yang sudah berpengalaman untuk mengubur stress dan ketegangan bagi yang baru pertama kali ikut acara rafting.


 


Ada beberapa istilah sebagai kode komando instruktur yang harus dipahami oleh rafter. Antara lain boom, yaitu posisi menunduk dengan tangan memegang ujung dayung di atas perahu, dancing, bila perahu stuck tersangkut sehingga harus digoyang-goyang agar terlepas, maju untuk mengayuh ke depan, mundur jika sebaliknya, rapat kanan/kiri untuk menyeimbangkan perahu agar tidak oleng kehilangan posisi dan stop yang berarti diam tanpa mengayuh.  


 


Pukul 9 pagi, bendera start dikibarkan dan kami bersiap mengarungi jalur Sungai Citarik sepanjang 13 km, sesuai paket yang kami ambil yakni Crocodile. Tidak lama dari titik permulaan, kami langsung dihadapkan pada jeram yang lumayan terjal sebagai test case dan menaikkan adrenalin. Namun, pengalaman berarung jeram di Citatih sebelumnya membuat kami bisa menikmati kegiatan ini tanpa perasaan was-was dan cemas yang berlebihan.


 


Uniknya, setiap jeram yang kami lalui mempunyai nama tersendiri sesuai sejarahnya dan bentuk bebatuan. Semisal jeram TVRI, karena di sini seorang pegawai TVRI pernah pingsan sewaktu berarung jeram. Jeram Hiu karena batu besar menyerupai punggung dan kepala ikan hiu menghalangi aliran air, jeram susu karena ada dua buah batu seukuran yang sejajar mirip (maaf) payudara dan jeram piramida karena terdapat sebongkah batu besar seperti  piramida mesir. Dan jeram yang paling menegangkan adalah jeram panjang, karena aliran air sangat deras ketika melewati alur sungai berbentuk huruf “Z” dengan turunan curam, sehingga pada saat menuking perahu terkadang terpelanting atau terbentur dinding tebing sungai. Itu semua tantangan yang mesti dihadapi.


 


Setelah 2 jam bergelut dengan derasnya air, bebatuan, jeram dan alur sungai, kami mampu menjinakkan ganasnya arus Sungai Citarik. Asyik, penuh challenge dan pengalaman yang mendebarkan menaklukan grade III tingkat kesulitan jeram sungai yang bermuara di pantai Pelabuhan Ratu ini.


 


Sayang, berkaca pada timku, para rafter  terkadang lebih asyik dengan sensasi arung jeram tetapi terlewat menikmati pesona alam di sekitarnya. Sejatinya, di sepanjang tepian sungai kita akan disuguhi pemandangan yang eksotis. Hamparan sawah dan ladang para petani dusun, jajaran bukit Caldera yang membentang membiru, hutan rimba yang dipenuhi vegetasi dataran tinggi dan dinding bebatuan alami sebagai tebing sungai  menciptakan pemandangan yang menyegarkan. Terkadang ditemui fauna sejenis biawak berjemur diri di atas bebatuan pinggir sungai. Kicauan dan kepakan sayang burung berpadu dengan gemuruh debit sungai menciptakan simponi alam yang merdu di telinga. Kami sempat melewati sebuah kampung di pelosok yang kehidupan warganya bersahaja dan ramah. Anak-anak kecil yang sedang mandi dan bermain-main di kali, menyapa kami dengan hangat saat perahu kami berlalu. Inilah nilai plus dari kegiatan arung jeram Citarik yang jarang diekspose.  


 


Bila kebosanan melanda dan refreshing adalah jalan keluarnya, rafting di Sungai Citarik bisa dijadikan alternatif untuk mencairkan kebekuan pikiran dari monotonitas pekerjaan.


 


Citarik, someday I’ll be back…

Lentog, Sajian Selamat Pagi Kota Kudus

[gallery columns="2"]


 


Saat menunggu member Bismania Community dari Jakarta tiba di pool Nusantara dalam rangka test road armada Scania Irizar, saya yang lebih tiba dahulu di Kudus dengan PO Muji Jaya memutuskan untuk menunggu sembari hunting lentog. Menu sarapan pagi ini adalah salah satu khasanah kuliner kondang produk kota kretek.


 


Berbekal informasi dari sopir angkot, ternyata sentra warung lentog ada di daerah Tanjung, di dekat RS Mardi Rahayu. Tak sabar kaki ini untuk menelusuri Jalan  Tanjung, mencari makanan lentog untuk memenuhi rongga perut yang semalaman terkuras menempuh perjalanan jauh Jakarta-Kudus.


 


Akhirnya, tak jauh dari PB Djarum, saya temukan warung tenda pinggir jalan yang menjajakan menu lentog. Namanya lentog tanjung Mas Ud. Warung sederhana namun ramai. Silih berganti para pengunjung, baik yang mengudap di tempat atau membungkus lentog sebagai bekal penghimpun tenaga sebelum menjalankan aktivitas. Biasanya kalau warung ramai, dipastikan citarasa masakannya cocok di lidah para pelanggan. Itulah hipotesis saya.


 


Awalnya saya mengira penjualnya adalah laki-laki sesuai nama di spanduk kain  “Mas Ud”, namun ternyata seorang ibu paruh baya.  Ah, apalah arti seorang penjual. J


 


Setelah duduk di bangku kayu panjang, segera saya pesan satu porsi lentog. Sepiring lentog yang dihidangkan terdiri dari lontong yang diiris tipis-tipis, disiram kuah sayur santan nangka muda (tewel/gori) yang berisi potongan kecil tahu dan tempe serta ditaburi bawang goreng sebagai penyedapnya.. Untuk pilihan lauk disediakan sate semur telur puyuh, sate usus ataupun kerupuk. Dilengkapi juga sambal cair ataupun cabe rawit, agar penikmat lentog dapat menentukan sendiri kadar pedasnya. Cara penyajianya cukup unik. Lentog dihidangkan di dalam piring yang lembari daun pisang. Rasanya lezat serta gurih, kaya racikan bumbu rempah nusantara khas masakan pesisir utara.


 


Sayang, menurut ukuran lambung orang dewasa, seporsi lentog sangatlah sedikit. Sehingga banyak pembeli yang menambah porsi makannya. Namun jangan risau masalah harga. Karena sepiring lentog hanya dibandrol Rp2000,00. Murah dam meriah, namun dahaga mencicipi menu lentog bisa terpuaskan.     


 


Bila ketoprak adalah menu sarapan pagi warga ibukota, maka lentog adalah  ketoprak-nya masyarakat Kudus.

Minggu, 05 April 2009

Sarasehan Hinomania, Sebuah Pencerahan

[gallery columns="2"]


 




Dalam riwayat sejarah transportasi bis, Hino turut memberi “warna dominan” bagi operasional PO-PO yang bertebaran mulai ujung barat hingga ujung timur Nusantara. Meski selama ini persepsi para pengguna bis masih menempatkan mesin Mercedes Benz sebagai bis nomor wahid dalam urusan kenyamanan, kemewahan dan gengsi, tapi sosok Hino tak boleh diremehkan. Bagi kalangan yang bergelut di dunia bis, piranti penghasil energi gerak buatan negeri matahari terbit ini diagungkan sebagai mesin yang handal, reliable, berakselerasi responsif dan tangguh di tanjakan. Semua kelebihan ini dikemas dengan harga yang lebih “ramah” di kantong pengusaha, dibanding bis-bis buatan benua Eropa, semisal Scania, MAN, Ikarus maupun Mercedes Benz sendiri.




 


Tak mengherankan, PO-PO besar semacam Hiba Utama, Sinar Jaya, Mayasari Bhakti, Primajasa, Sumber Kencono dan Garuda Mas menjatuhkan pilihan kepada Hino untuk menggerakkan roda bisnis transportasinya. PO-PO yang selama ini minded ke Mercedes Benz-pun mulai goyah dan  mulai menyicip taste mesin keluaran pabrikan dari Tokyo, Jepang.  Big Bird, Pahala Kencana, Nusantara, Kramat Djati, Shantika, dan Harapan Jaya adalah sebagian PO yang mulai “berselingkuh” dari produk Jerman.


 


Sebenarnya, mesin Hino yang di-release di tanah air tidak kalah dengan teknologi mesin kompetitornya. Hanya saja, karakter konsumen (baca : penumpang) terlanjur mempercayai bahwa produk pertama yang masuk ke pasar adalah produk terbaik, sedang produk belakangan adalah follower. Hal inilah yang membuat konsumen Indonesia dianggap pasar subyektif, sehingga pemain baru harus berjuang keras agar jualannya acceptable.


 


Termasuk dalam hal ini Hino. Usaha dan kerja keras tim ahli dalam pemutakhiran, riset, pengembangan dan improvisasi produk akhirnya mampu merebut kue penjualan mesin big bus dari pesaingnya, bahkan mampu mengungguli di urutan pertama. Apa kunci sukses Hino dari aspek teknologi hingga berhasil merebut hati para konsumen Indonesia yang sebelumnya terkenal loyal terhadap produk Mercedes Benz?  


 


Akhirnya jawaban tersebut terungkap pada saat acara sarasehan Hinomania yang digelar oleh Bismania Community (BMC) di Ruko Taman Pondok Labu, Jakarta Selatan, tanggal 05 April 2009. Menghadirkan narasumber Bapak Priyanto -yang memahami seluk beluk sejarah dan mesin Hino- acara ini berlangsung semarak dihadiri oleh sekitar 25 anggota BMC. Bapak Riyanto dengan gamblang menjelaskan dari awal Hino memulai kiprah perdananya mengusung Hino BT (mesin tengah) di era 60-an hingga RG1JS, yang lebih dikenal dengan nama pasar Hino RG. Dari segi mesin, bapak kelahiran Tegal, Jawa Tengah, juga detail menerangkan teknologi yang diterapkan pada mesin depan (Seri AK) hingga mesin belakang (Seri R). Bukan sekedar masalah “jeroan mesin”, bahkan chasis, sistem pengereman, bagian dan komponen kaki-kaki bis, mekanisme gardan, sistem kerja transmisi dan perfoma karoseri  juga tak luput dari pembahasannya. Tak diragukan lagi kapasitas Pak Priyanto sebagai salah satu pakar Hino. Pengalaman kerja hampir sepuluh tahun di Hino Motor Indonesia telah memberikan wawasan luas dan pengetahuan mendalam bagi beliau. Ditunjang sebagai mantan tim teknik salah satu PO terkemuka dan pernah menjadi trainer workshop otomotif, teori yang didapat selama bekerja dan praktek nyata di lapangan membuat pria yang sekarang berwirausaha membuka bengkel di daerah Kalimalang ini  mumpuni di bidang permesinan.


 


Acara semakin hangat ketika disediakan space waktu untuk sesi tanya jawab antara narasumber dengan audience. Sehingga ganjalan, keawaman, teka-teki dan ke-gaptek-an yang selama ini menyisakan pertanyaan bisa disampaikan kepada Pak Priyanto, agar mendapatkan pencerahan dan tambahan pengetahuan bagi para bismania. Termasuk berbagi tips dan trik bagaimana sebuah PO dalam mengelola perawatan armada dan mendidik para sopir agar  menjalankan bis secara baik dan benar, ekonomis dan memperpanjang lifetime komponen kendaraan. Acara formal namun dalam suasana santai seakan menjadi forum interaktif antara kepala mekanik PO dengan para pecinta bis.


 


Sarasehan sederhana yang telah berlangsung 5 jam akhirnya ditutup  pada pukul 15.00 WIB. Para peserta terpuaskan dan mulai well educated soal mesin, khususnya Hino. Tak lupa, ucapan salut dan acungan jempol dialamatkan kepada Pak Didik Sasono selaku host acara, yang menjembatani keinginan para Hinomania agar bisa bertemu dengan pakarnya. Sebagai wujud tanda terima kasih dan penghargaan atas kemurahan Pak Priyanto membagi ilmu per-Hino-an, Bismania Community menyerahkan merchandise sebagai kenang-kenangan, sebagai simbol bahwa silaturahmi yang tercipta akan dilanjutkan dengan acara-acara yang lebih bermanfaat di hari-hari mendatang.  


 


Bravo Hino, Bravo Bismania…

Kamis, 02 April 2009

Friday The 13th, Really Really Nightmare


Selama ini, dalam kamus hidupku tak ada kata-kata hantu-berikut derivasi-nya-, arwah gentayangan, roh jahat, demit, mistik, wingit, angker ataupun keramat. Menurutku, itu hanyalah halusinasi alam pikiran, yang telah menjadi korban ketakutan berlebihan, sehingga mengubur logika dan akal sehat manusia.  Aku hanya yakin tentang alam ghaib, sebuah kawasan teritorial yang tidak mungkin terjangkau oleh indra manusia namun sejatinya ada. 


 


Jujur saja, acapkali aku juga merinding bulu roma bila menginjak di satu daerah yang asing, atau berada di tempat yang konon dipercaya beraura negatif. Terlebih hidup di tanah jawa yang masih kental nuansa klenik, ilmu santet atau persekongkolan jahat manusia dan jin untuk tujuan tertentu, membuat nyali keberanian gampang menciut. Sehingga terbesit bahwa memang ada sosok-sosok menyeramkan di kanan kiri kita, yang hendak menampakkan diri untuk menakut-nakuti kita, bersiap mengelincirkan nilai keimanan.  


 


Inilah yang kadang menjadi meracuni jiwa, seakan-akan dunia supranatural memang nyata adanya. Namun sejauh ini aku masih bisa menguasai diri, phasmophobia yang membelenggu diri harus kulawan. Aku tidak boleh kalah pada hal yang jelas-jelas tiada.


 


Demikian pula istilah Friday The 13th. Hanyalah legenda sejarah asal Eropa sono mengenai keramatnya Hari Jumat jika bertepatan dengan tanggal kalender menunjuk di angka 13. Buat apa aku mempercayai kebenarannya.


 


Namun terrible incident saat Jumat dinihari, 13 Maret 2009, sempat membuat goyah pendirianku. Entah kebetulan semata, kena tuah Friday The 13th, ataukah aku digoda setan untuk membenarkan mitos yang aku anggap sesat sebelumnya.


 


Ceritanya diawali pada Kamis malam ketika aku bersiap pulang kantor. Aku melihat teman kerjaku (sebut saja Pak Joko) masih asyik ngenet di meja kerjanya. Kondisi kantorku sendiri sudah sepi senyap karena semua karyawan telah kembali ke rumah masing-masing. Kulihat jam dinding di atas dinding ruanganku, jarum jam menyimbolkan huruf V, jam 22.10. Segera kukemasi alat tulis kantor, kurapikan berkas-berkas di meja tugas dan kumatikan komputer.


 


Kupamiti Pak Joko, yang wajahnya masih terlihat muda meski usianya jauh di atasku.


 


“Pak Joko belum pulang?”, tanyaku berbasa-basi


Ngga Ed, aku lagi males. Mendung di selatan Jakarta. Nanti malah kehujanan kalau nekat.”


 


Memang, rumah Pak Joko sendiri hampir 30 km jauhnya. Jadi aku maklum, dia berniat numpang tidur di kantor.


 


“Kalau begitu saya balik dulu ya Pak!”


“Eh Ed…temenin aku ya. Nginep saja di sini!”


 


Duh…sempat bimbang meluluskan pintanya. Tapi karena aku juga sedang  “home alone”, dan rasa iba melihat Pak Joko hanya sendirian, akhirnya kubatalkan rencana pulang.


 


“Baiklah Pak. Kalau begitu, saya ke belakang dulu ya Pak. Saya sudah ngantuk, mau tidur duluan”.


 


Beruntung di bagian belakang kantor tersedia ruang istirahat. Biasanya kalau siang menjadi tempat BBS teman-teman kantor untuk sejenak melepas penat. Hanyalah ruang yang tak begitu besar, kira-kira berdimensi 5 X 5 m. Tersedia tikar dan bantal, sehingga memang layak dijadikan lapak untuk rebahan. 


 


Namun, menurut cerita getok tular dari mulut ke mulut, kantorku sendiri ditahbiskan sebagai tempat yang menyeramkan. Konon, tempat kantorku berdiri adalah bekas area pemakaman, yang kemudian digusur demi pembangunan perusahaan. Seringkali kudengar kisah-kisah ganjil dari para satpam yang pernah mendapat jatah bertugas standby di ruanganku. Mulai munculnya bunyi-bungi aneh, kuntilanak, genderuwo atau riuh anak-anak kecil bermain-main di dalam ruangan. Makanya tak heran, satpam malam sekarang enggan stay di ruanganku, lebih memilih berkumpul dengan satpam lainnya di pos jaga depan.  Tapi sekali lagi, aku kurang concern dengan masalah beginian, sehingga aku boleh dibilang cuek tentang keangkeran kantorku.


 


 


Tak perlu butuh waktu lama, akupun tertidur karena capai yang amat sangat didera rutinitas pekerjaan.


 


Dalam peraduan nyenyakku, tiba-tiba…


 


Agh…agh…aghhhh…


Agh…agh…aghhhh…


 


Jeritan lemah seseorang membahama, membelah kesunyian malam. Kondisi ruangannya sendiri remang-remang, hanya diterangi sinaran lampu dari luar jendela. Suaranya lirih menyayat hati, layaknya orang merintih kesakitan dihimpit ketakutan. Temponya lambat, ritmenya mengalun pelan terus meninggi. Sontak aku terbangun sebab kaget dibuatnya. Yang membuatku terperanjat setengah mati, warna suaranya bukan mirip Pak Joko. Tapi lebih menyerupai suara hantu dalam tayangan film-film produksi anak-anak negri. Darimana suara ini gerangan, padahal hanya aku dan Pak Joko di dalam ruangan ini?


 


Kulihat Pak Joko tidur pulas tak jauh di sampingku.  Yang membuat aku keder, badannya telentang membujur kaku, kakinya rapat dan kedua tangannya dilipat di atas dada, seperti mayat yang belum dikafani. Tapi, ya Allah…mulutnya komat-kamit mengeluarkan suara menyeramkan berulang-ulang.


 


Agh…agh…aghhhh…


Agh…agh…aghhhh…


 


 


Pasti Pak Joko sedang mengalami mimpi buruk hingga mengigau (hereup-hereup istilah bahasa sundanya). Tapi kok suaranya lain, bukan milik Pak Joko? Bergegas kubangunkan, kugoyang-goyang pundaknya. Bukannya bagun, tapi malah mengeluarkan suara lebih keras.


 


Agh…agh…aghhhh…


Agh…agh…aghhhh…


 


Shit…aku serasa berada di dunia yang asing. Kucoba kukuasai diri. Ah…aku harus membantu Pak Joko agar tersadar dan bangun dari mimpinya.


 


Kugoncangkan lebih keras lagi badannya, sambil kupanggil-panggil namanya.


 


“Pak Joko, bangun Pak. Bapak mimpi buruk. Bangun Pak…”


 


Sejurus kemudian, dia merespon dan beranjak bangun lalu membalikkan tubuh ke arahku. Bukannya sadar, dia malah berulah seperti macan buas yang bersiap menyerang musuhnya. Suara erangannyapun tak kunjung berhenti meski matanya sudah terbuka lebar. Masya Allah…wajah yang kulihat bukan wajah Pak Joko lagi. Justru yang aku tangkap wajah menyeramkan, bola matanya berubah merah dan mulutnya menyeringai, seolah bentuk muka setan laknat yang hendak menyergap seteru abadinya, manusia.


 


Jari-jari tangannya melebar, tak ubahnya seekor harimau hendak memangsa rusa dengan penuh nafsu. Gigi-giginya gemeretak siap melumat buruannya. Nafasnya tak beraturan memburu. Astaghfirullah…aku yakin dia kesurupan, bukan mimpi buruk. Entah makhluk apa yang masuk ke dalam raganya?


 


Karena ada gelagat tidak baik, akupun pasang kuda-kuda. Andai dia menyentuh kulitku, aku bertekat akan kupukul dia. Tak peduli dia teman kerjaku, bagiku dia telah dikuasai kekuatan di luar dirinya. Sambil terus kupanggil namanya dan meminta dia untuk beristighfar, siapa tahu dengan begitu akan menyadarkannya.


 


“Pak Joko, ini aku Pak. Pak, nyebut Pak, sadar Pak…”, kataku berulang-ulang.


 


Dia lalu terdiam, meski nafasnya masih terengah-engah. Tatapan nanarnya kubalas dengan pandangan tajam mataku. Meski aku mulai gentar, tapi aku tak boleh menyerah. Kepalan tanganku siap kuhujamkan andai terjadi hal yang di luar dugaan. Akan “kuladeni” ulahnya, hingga dia kembali “normal” seperti semula.


 


Kemudian…


“Masya Allah…”, Pak Jokopun tersadar. Amarahnya langsung padam. Sedetik berlalu, dia langsung merebahkan diri, tidur kembali dan tak lama kemudian mendengkur. Aneh dan aneh…


 


Aku hanya terpaku di tempatku. Kaki ini susah digerakkan meski hanya untuk menggeser sedikit posisiku. Cerita-cerita horor dan kisah mula berdirinya kantorku berloncatan dalam benakku. Campur aduk rasa di hati, takut, merinding, deg-degan, cemas, khawatir hingga mati bicara. Aku ngeri, kalau-kalau aku tertular kesurupannya. Suasana ruangan langsung mencekam.


 


Kuraih HP yang tergolek di sampingku. Jam 02.29. Hmm…1/3 malam yang terakhir. Degup jantungku berlarian cepat, pikiran tambah kacau dan peristiwa yang baru saja terjadi terus menghantui. Mata ini sudah susah diajak tidur kembali. Hendak pindah tempat, ke mana? Mau pulang ke rumah, jam segini. Andai aku memaksa tidur, terus Pak Joko kesurupan kembali dan menyerangku, bisa babak belur tubuhku. Sudahlah…kuputuskan aku tetap di sini hingga pagi menjelang. Aku harus terus siaga mengawasi setiap gerak-gerik Pak Joko. Akhirnya, baru jam 05.00  aku bisa memejamkan mata, membayar jatah tidur malamku yang berkurang.


 


Pagi harinya, kuberanikan diri untuk bertanya,


“Pak Joko mimpi buruk ya tadi malam?”, pancingku dengan halus agar dia membuka cerita.


Masak Ed, aku ngga ingat apa-apa tuh? Semalaman hanya tidur saja kok!”


 


Ha??? Kejadian luar biasa semalam di luar kendali alam sadarnya?


 


Seringkali peristiwa malam Jumat silam menggangu otakku untuk membuka tanya, misteri apa yang sebenarnya terjadi di hari Friday The 13th itu? Namun, sampai sekarang aku tak tahu jawabnya…

Rabu, 01 April 2009

Pak Naim, Berkah Setetes Air Legen (3)

Selaksa Makna Air Legen


Peluh keringat yang membanjiri permukaan kulitnya tak dirasakan, keletihan dan kepenatan tak dihiraukannya, dan bayang-bayang kekhawatiran bahwa rejeki yang diterimanya hari ini tidak halal tak bakal menghantuinya.  


 


Hanya senyum mengembang mengisyaratkan kebahagiaan menyaksikan belasan bumbung-bumbung yang telah penuh terisi air legen yang seolah menjadi saksi buah kerja keras dan keikhlasannya menjalani profesi yang terkadang dipandang sebelah mata.


 


Matahari telah di sepertiga perjalanannya. Pak Naim pun beranjak pulang, memikul beban berat puluhan liter air legen. Dalam benaknya membayang, betapa Maha Pengasih Dzat Yang di Atas. Mendiam di bumi Dologan nan gersang, di saat sawah dan ladang cuma jadi pengangguran, dibelenggu krisis air bersih sehingga seteguk air menjadi barang yang tidak murah, di tengah ketidakpastian kapan mongso labuh akan datang, seakan air legen menjadi dewa penolong, penyumbang materi yang sebelumnya seret bahkan mampet karena ketiadaan panenan padi maupun palawijo, penyambung kelangsungan denyut nafas kehidupan Pak Naim sekeluarga. 


 


Sesampai di rumah, istrinya yang sedari tadi setia menunggu segera menyambut ‘oleh-oleh gratisan’ Pak Naim dengan wajah berbinar. Kolaborasi nan indah sebuah household relationship, mencitrakan keharmonisan dan kemesraan rumah tangga Pak Naim. Oleh Bu Naim,-yang terbiasa dipanggil Mbah, panggilan kesayangan dari pak Naim-, dituangnya air legen ‘sejuta makna’ ini ke dalam wadah kuali secara perlahan-lahan, agar tidak berceceran untuk menghargai hasil kerja suami, dicucinya hingga bersih bumbung-bumbung yang habis terpakai untuk persiapan Pak Naim menek kembali nanti sore. Dan Pak Naim pun mengisi waktu luangnya dengan sejenak beristirahat, momong putu, mengurus ternaknya, ndarus Al Quran dan mengaji atau sekedar tilik-tilik tegal, karena di saat musim kemarau seperti ini, tak banyak yang bisa dikerjakan di sawah ladangnya.


 


Tak lama kemudian, Lek Sukir, tetangganya dari Dusun Ngemplak, muncul di depan pintu, kulakan air legen hasil ladang Pak Naim, dibarter dengan sekian lembar uang rupiah, untuk nantinya dijual ke kota, menyusur pasar komunitas legeners yang tersebar luas di Blora, Cepu, Juana, Pati, Kudus, Jepon, Japah, Wirosari, Randublatung bahkan sampai ke Ngawi.


 


Dari hasil usaha sampingannya ini, Pak Naim pantas dijadikan guru kehidupan. Bagi kita mungkin jumlah rupiah per harinya tak seberapa. Namun bermodal sikap bersahaja, sabar dan nrimo menjalani hidup keseharian, gemi lan nastiti, disisihkannya sebagian hasil transaksi air legennya, sedikit sedikit lama-lama membukit, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, dan berkat ke-Maha Kasih dan Maha Sayang dari-Nya, hingga akhirnya Pak Naim diundang bertandang ke bumi Mekah, menjadi tamu Allah,  menyempurnakan rukun islam kelima di tanah suci,  diangkat derajatnya, naik pangkat menyandang gelar seorang haji, di tahun 2000 silam. Hal yang tak pernah diangankan Pak Naim bakal kesampaian, namun bila Gusti Kang Murbeng Dumadi berkehendak lewat setetes air legen, siapa yang tak bersukacita menyambut uluran tangan-Nya.  


 


Inilah potret kehidupan seorang penyadap air legen, yang menyiratkan sebuah pelajaran bahwa selama kita taat, manut dan munduk-munduk kepada-Nya, pandai sebagai hamba yang tak pernah putus mengucap kata syukur, di mana, kapan saja dan kondisi apapaun, bakal ada jalan rejeki yang tiada terduga, sebagai penggenap keberkahan perjalanan hidup manusia.


 


 


Thanks for all Pak Naim, you’re my inspiration,  teacher of my life…

Pak Naim, Berkah Setetes Air Legen (2)

[gallery columns="2"]



Pohon yang ‘Bertuah’

Kemudian ditolah-tolehkan mukanya ke atas seolah menelusuri setiap jengkal bentangan awang-awang sambil terus menghisap rokok ‘generik’nya yang masih tersisa, dan untuk selanjutnya kuikuti tatapannya. Sejauh mataku memandang, vegetasi darat khas pesisir yang jumlahnya tak banyak di bumi nusantara tampak begitu mendominasi. Puluhan pohon berbatang tunggal sejenis palem dengan kontur kulit pohonnya yang kasap, agak kehitam-hitaman, dengan penebalan sisa pelepah daun di bagian bawah, yang kokoh menjulang hingga ketinggian 25 m, tajuk nan rimbun dan membulat, daunnya sekilas mirip kipas, bundar, kaku, bercangap berjari dan berwarna hijau keabu-abuan,  bentuk pelepahnya pendek, menghitam, bercelah di pangkal, berijuk dan bergerigi di tepiannya.


 


Sebagian pohon berbuah, berbentuk bulat peluru berdiameter 7-20 cm,-yang sekilas mirip buah kelapa, namun dalam bentuk yang lebih kecil-, berwarna ungu tua sampai hitam, dan pucuk buahnya kekuningan, dalam poros bulir dengan daun pelindung yang besar,  yang apabila dibelah akan terlihat dinding buah tengah berserabut dengan buah keras berjumlah selalu tiga,  dengan daging buah putih transparan dan sedikit berair. Dan sebagian pohon lagi hanya tampak tangkai-tangkai kembang yang bercabang, serupa tanduk rusa, menjulur-julur di sela kuncup bunganya.  


 


Dialah pohon siwalan, dalam bahasa latin Borassus flabellifer, yang di-Dologan-kan bogor, di-Indonesia-kan menjadi lontar dan di-english-kan sebagai toddy palm, wine palm atau palmyra Palm.  Dan bagi masyarakat Sulang khususnya, pohon yang berbuah diistilahkan ‘bogor wedok’, yang buahnya sendiri dinamai siwalan dan pohon yang ‘bertanduk’, hanya sempat berbunga tanpa pernah berbuah, dinamai  ‘bogor lanang’,  penghasil air nira, yang tak asing disebut legen, yang sebenarnya hanya ‘akal-akalan’ wong ndeso untuk membedakan jenis kelamin betina dan jantan pohon Siwalan.


 


Tanaman ini hanya cocok tumbuh di daerah yang beriklim kering, di ketinggian 0-800 m dpal, bercurah hujan rendah (rata-rata 63-117 hari/ tahun), bersuhu optimum 30 deg C dan hidup di tanah yang mengandung pasir, sesuai karakteristik kondisi alam Kabupaten Rembang, khususnya Kecamatan Sulang. Desa Jatimudo adalah salah satu sentra habitat pohon Siwalan di wilayah Kecamatan Sulang, bersama Desa Tanjung dan Desa Bogorame. Bila kita berkesempatan njajah deso Jatimudo, yang tampak adalah hamparan pohon siwalan yang ngrembuyung, tumbuh subur di galeng-galeng, yang keberadaannya multifungsi, sebagai pelestari dan penjaga ekosistem lingkungan, glugu-nya pun dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, daun lontar sebagai bahan kerajinan tangan yang bernilai seni tinggi, sekedar patok pembatas tanah, sekaligus produk buahnya berperan utama dalam menambah penghasilan dari usaha sampingan para petani desaku.


 


Berkah yang dibawa ‘pohon langka’ sebagai second business bagi petani tentulah buah siwalan itu sendiri, yang laku jual dan banyak diburu. Buah siwalan enak dimakan langsung, atau pelengkap isi menu es buah. Rasanya yang manis, kenyal, dan bertekstur lembut, tidak jauh beda dengan kolang-kaling, begitu menggoda dan memanjalan lidah penyantapnya. Bogor Lanang pun tak ketinggalan memberikan kontribusi ekonomis sebagai penghasil air legen. Citarasa air legen yang manis, berpadu tarikan rasa masam yang kuat, dengan backing aroma bersoda, sangat segar dan nikmat sewaktu membasahi lidah dan kerongkongan, menuntaskan dahaga penimumnya setelah bergelut dalam panasnya alam Rembang.. Bila ingin mendapatkan kadar soda yang tinggi, air legen cukup diisikan ke dalam kendi dari tanah liat, ditutup rapat-rapat, didiamkan hingga beberapa minggu, jadilah minuman kontroversial, tuak. Dan konon, air legen dipercaya meningkatkan vitalitas, pencegah sakit maag dan doping alami untuk menjaga stamina tubuh.


 


Kalau di Amrik sono perlu bantuan mesin produksi yang mahal untuk menghasilkan minuman bersoda, atas kemurahan-Nya, di bumi Sulang langsung disediakan oleh alam lewat ‘kebaikan’ pohon siwalan. Biarlah negeri Paman Sam bangga dengan merek Coca Cola yang mendunia, namun negeri Lek Karjo cs ini pun tak kalah bangga dengan minuman legennya. Hanya saja, kekurangan air legen dan siwalan adalah barang musiman, hanya bisa dijumpai ketika musim kemarau tengah melanda, di rentang  Bulan Maret hingga Bulan September setiap tahunnya.


 


Kuamati Pak Naim yang bersiap menjalankan profesi sampingannya sebagai penyadap air legen. Digantungkannya sebagian bumbung kosong di pelepah anakan pohon siwalan yang masih ‘balita’,  sedang bumbung yang lain disangkutkan di lengan kirinya. Diselipkannya pisau gores untuk ‘menggarap’ tangkai bunga bogor lanang di belakang punggungnya. Dengan cekatan dipanjatnya pohon siwalan di dekatnya dia berdiri, kakinya dijejakkan di takik-takik berundak yang sengaja dibuat di batang pohon siwalan, sembari alat bantu tali panjatnya dijulurkan hingga melingkari batang sebagai tumpuan kekuatan sewaktu memanjat. Dengan kelihaiannya bak mountain side climber, tak perlu waktu sampai dua menit untuk menaklukkan ketinggian 15 m pohon siwalannya. Bapak yang bernama lengkap Nyono Naim ini pun telah nangkring di atas tajuk pohon siwalan, memulai jobdesk utamanya.


 


Dilihatnya beberapa bumbung yang dipasang kemarin sore telah penuh oleh tetesan air legen. Dengan telaten dilepas dari kaitnya dan disisihkan, digantinya dengan bumbung baru sambil tangkai kembang lama dipotong dan digores baru di bawahnya dengan pisau kerjanya nan tandes, cresh…cresh…Air legen pun lambat laun menetes dari ujung tangkai bunga yang baru saja dipotong, seakan lewat getah bunga pohon siwalan inilah rejeki Pak Naim mengalir, memenuhi pundi-pundi nafkahnya. Satu per satu bumbung yang telah terisi diambil, hingga semuanya dituntaskan, digantikan dengan bumbung baru. Tak satupun ‘kembang siwalan’ yang terlewat digarapnya.


 


Pak Naim pun menjalani alur kerja keduanya, menuruni pohon siwalan. Meski lebih gampang dibandingkan sewaktu naik, namun beban berat dari bumbung-bumbung yang sarat air legen menuntut ekstra kehati-hatian. Namun bagi Pak Naim yang hampir 30 tahun menekuni dan berpengalaman dengan pekerjaan menyadap air legen, tidaklah susah dan ribet melakukannya. Cukup hanya 15 menit leadtime yang dibutuhkan untuk ‘mencumbui’ satu pohon siwalan, dari foreplay hingga endplay. Tak perlu rehat lama, selang berikutnya pohon keduanya pun digarapnya, seterusnya dan seterusnya, hingga pohon siwalan ke-12 miliknya yang terakhir memanggilnya, bersiap diri kembang siwalannya untuk di’sunat’.

Pak Naim, Berkah Setetes Air Legen (1)

Menepis Mimpi, Membuka Hari


Tatkala kokok ayam jantan saling bersahutan membangunkan fajar untuk membuka pintu menyambut tibanya pesona pagi. Dan gaung kumandang ayat-ayat suci dari pengeras suara Musholla Nurul Huda mendayu-dayu ke setiap sudut dusun Dologan nan permai hingga menembus dinding hati setiap insan yang mendengarnya. Seolah rangkaian kata-kata rayuan mesra dari langit bagi yang beriman untuk bersegera bersimpuh di hadapan sang Khalik. Bergegas pula Pak Naim beranjak dari pembaringannya nan hangat. Diusirnya aura kemalasan, diagungkannya nilai ketakwaan, ditinggalkannya mimpi indah namun sejatinya semu, bergegas menuju kiwan nan sederhana di belakang rumah, untuk membersihkan badan, berwudhu mensucikan diri.  


 


Lalu dipakai busana religiusitasnya,  baju koko hijau pupus, polos tanpa ornamen, dipadu bawahan sarung tenun warna putih dengan corak lembut garis kecoklatan, yang warnanya pun mulai memudar dimakan guliran waktu. Disematkannya di atas kepala peci putih  favoritnya, yang berbahan rajutan  benang-benang yang direnda secara apik oleh pembuatnya. Dan tak lupa dibelitkannya surban merah maroon barunya di leher, surban tanda cinta dari istrinya.


 


Langkah kakinya pun diarahkan ke musholla yang tak seberapa jauh dari rumah. Bangunan peninggalan leluhur bumi Dologan, yang belum lama ini selesai dipugar. Muadzin pun melafalkan kalimat adzan, memanggil setiap hamba Allah untuk cepat-cepat memenuhi shaf musholla yang masih kosong, yang biasanyapun hanya dua baris yang terisi. Sembari menunggu sebagian jamaah mengerjakan sholat sunah fajar, disambungnya  dengan menyanyikan syair-syair lagu pujian buat pemimpin agung yang  dijunjung umat Islam, Nabi Muhammad SAW.


 


Semenjak ditunjuk menjadi imam musholla, sudah menjadi kewajiban Pak Naim untuk mengemban amanah menjadi warasatul anbiya, pengayom kaum muslimin muslimat di kampungnya. Dijadikan panutan dan teladan, sandaran pertanyaan masalah keagamaan, atau konselor problematika hidup warga Dologan. Pemimpin spiritual. Beliau merupakan etalase berjalan seorang hamba Allah yang berbalut baju keislaman nan tebal. Di kala goda dunia makin nyata adanya, hanya ulama-lah yang mampu mengingatkan dan membimbing umatnya dengan petuah bijak dan kata-kata penyejuk. Tak terkecuali di ambang pagi ini, kakek satu cucu ini memikul tugas menjadi imam sholat shubuh di musholla tempat masa kecilnya belajar mengaji, yang dari namanya bermakna sang cahaya petunjuk.


 


Semuanya larut dalam kekhusyukan ibadah sholat shubuh yang dipimpin pria paruh baya ini. Disempurnakan dengan dzikir panjang sesudahnya, ngudo roso mencurahkan isi hati di altar Sang Pencipta, penuh doa dan pengharapan agar dimantapkan niat mengisi hari ini dengan amal ibadah, dilapangkan  jalan penghidupannya, dikaruniai kesehatan lahir dan batin serta dianugrahi keberkahan hidup.  


 


Saat mentari mulai meninggi dan sinarannya mendatangkan terang bagi bumi, Pak Naim pun bersiaga menjemput jatah rejeki. Ditanggalkannya baju dan sarung simbol pengakuan sebagai hamba yang lemah, terkecuali peci putih kebanggaan, oleh-oleh adik iparnya dari tanah Arab, berganti kaos oblong nan usang, bercelana kulot hingga batas bawah lutut,- lengkap dengan rokok kretek dan korek api di sakunya-, yang seakan menjelma menjadi pakaian dinasnya hari ini


 


Diraihnya belasan bumbung-bumbung bambu kosong tanpa isi yang teronggok di dapur, disatukan menjadi dua bagian agar pikulannya sanggup membawanya secara seimbang. Tak ketinggalan arit kecil yang telah direkayasa menjadi pisau tajam dan seutas tali made in sendiri berbahan  daun lontar yang dipilin hingga padat, singset dan kuat sebagai alat bantu panjat nantinya, dimasukkan ke dalam salah satu bumbung. Lengkap sudah peralatan yang dipersiapkan untuk ‘berperang’, menggugurkan kewajiban menafkahi keluarga.    


 


Dengan tumpuan pundak yang terlihat masih kekar di usianya, ditentengnya sejumlah potongan ruas bambu petung yang telah berubah wujud menjadi bumbung dengan sebatang pikulan dari bongkotan pohon bambu. Sebatang rokok terjepit di sela bibirnya yang hitam sembari dihisap dalam-dalam dan sejurus kemudian dihembuskannya secara kuat-kuat asapnya untuk membuang kejenuhan rutinitas. Ditapakinya rute tanah berbatu dengan kaki-kaki telanjangnya menuju lahan pencahariaan, yang terhampar di pojok dusun. Jalur setapak yang dilewatinya tiap hari seperti dipayungi rimbunnya rumpun bambu yang menguasai  kerajaan flora di kanan kiri jalan. Sebagian batang hijaunya nan panjang melambai hampir berebahan, tak kuasa melawaan kencangnya terpaan angin.  Dan bunyi gegesekan antar batang bambu akibat hempasan udara yang mengalir, diiring senandung kicau burung-burung emprit dan tekukur yang berloncat-loncatan di dahan jati, menciptakan simponi musik kampung nan merdu merindu, menggambarkan suasana pagi yang riang di ujung jalan desa.


 


Jangkauan langkah Pak Naim pun terhenti di pematang yang tak rata. Dipandanginya ladang luas miliknya yang garing kemringking pertanda kemarau sedang puncak-puncaknya. Tanah pun nelo-nelo, seakan menyerah melawan sengatan panas  matahari yang membakar. Rumput-rumput pun tampak kuning layu, merana, mengiba kepada cucuran rinai hujan, dan seketika pula Pak Naim teringat akan ternaknya di kandang. Sedih membayangkan nasib tiga ekor sapinya, yang hanya mendapat asupan makanan ala kadarnya. Hanya jerami kering residu panenan padi kemarin, dan terkadang diimbuhi daun pohon pisang sebagai tambahan vitamin, agar hewan kesayangannya bisa survive mengarungi musim kering yang diperkirakan akan berlangsung lama.. Berkali-kali Pak Naim menghela nafas, mengusap keringat yang membahasi wajahnya yang mulai keriput, mengusir hawa panas meski pagi baru saja memulai peredarannya. Seolah semua yang tampak di depan matanya adalah korban bisu dari ganasnya efek degradasi lingkungan.


 


“Hidup jangan mudah menyerah Dik. Derita karena alam bukan tanda Tuhan tak sayang abdi-Nya, petaka kecil seperti ini bukan untuk diratapi, justru harus menambah rasa syukur. Ini adalah ujian tak tertulis dari Gusti Allah, untuk menilai seberapa besar kualitas penghambaan awakke dhewe. Yakin ae, dibalik kesulitan, pasti ada kemudahan, selama kita berpegang teguh kepada simpul ajaran-Nya. Kita makhluk yang sempurna, kita dibekali akal, pasti ada jalan keluar selama kita mau berpikir ”,  itulah nasehat arif yang dilontarkan Pak Naim sewaktu aku temui di ladangnya.