Kamis, 09 Juli 2009

Special One dari Laksana

Tahukah BMCers, ternyata karoseri Laksana pernah mengkreasi satu model spesial, unique dan ekslusif.  Model ini muncul saat tren karoseri tanah air condong ke gaya minimizing over elegance. Pasti bismania tidak asing dan sangatlah familiar dengan aliran kontemporer ini. Berbasis model setra dengan aksen minimalis, yang diperkenalkan pertama kali oleh Adi Putro ber-brandname Sprinter, selanjutnya disusul Tri Sakti, mengusung tag Marcopolo. Laksana sendiri menyebut produk massalnya ini dengan penamaan seperti Adi Putro, Sprinter.


Efi


 Marcopolo-TS


Konon kabarnya, Laksana membuatnya dengan status limited edition, bahkan diklaim satu-satunya unit yang dirilis di pasar. Boleh disamakan dengan kendaraan milik Sultan Hassnanah Bolkiah, Ferrari seri FX. Mobil wah yang mengadopsi  teknologi mesin Flat 12 dari Ferarri Testarossa dan transmisi 7-speed sequential dari Williams BMW Formula 1 team. Sultan Brunei merupakan satu-satunya pemangku mobil hi-tech ini.


 


Mengapa dinilai istimewa dan dianggap “masterpiece”nya Laksana?


 


Kalau diamati secara detail, produk Laksana era pertengahan 2000-an ini, untuk sektor muka, lekuk buritan, sentuhan eksterior samping dan kelengkapan interior sebenarnya tidak jauh berbeda dengan model Sprinter. Namun, yang membuat model dengan ciri khas ornamen curve untuk mempermanis titik pertemuan kaca samping dan kaca pintu depan  ini bernilai tinggi ini adalah soal penamaan produk. Karoseri yang berhome base di Ungaran ini melekatkan nama Columbus untuk mecitrakan model special one kebanggaannya.


SSM 213


 Nah, yang menjadi pertanyaan, apakah Columbus ini adalah Royal Coach SE-nya Laksana Sprinter? Dan mengapa pihak Laksana mempercayakaan special one yang diambil dari nama tokoh penjelajah dunia penemu benua Amerika, Columbus, untuk dibajukan pada armada Sindoro Satria Mas berkode lambung 213 ini?  Bukan PO Sumber Alam atau PO Raya yang dikenal loyalis dan addict to Laksana? :)

French Defence, Finally Demolished

Saban ketemu lawan yang menjawab pembukaan 1. e2-e4 dengan balasan 1. … e7-e6, --mengarahkan ke pembukaan Prancis--, seringkali tercipta posisi yang kompleks dan rumit. Pertarungan akan menjurus frontal, terbuka dan menarik untuk dianalisa.  

 

Partai berikut melukiskan kekokohan pertahan Prancis yang akhirnya runtuh dengan kesolidan posisi putih.

 

Event "Chess Online, July 9, 2009"]

[White "D12K"]

[Black "invisible000"]

[Result "1-0"]

 

1. e4 e6 2. d4 d5 3. e5 c5 4. c3 Nc6 5. a3 cxd4 6. cxd4 Qa5+ 7. Nc3 Nge7 8. Nf3 Nf5 9. g4 Nfe7 10. Bd3 a6 11. Be3 b5 12. Kf1

diagramik17

... h6 13. h4 Bb7 14. Kg2 0-0-0 15. b4 Qb6 16. Qb3

diagramik18

... f6 17. a4 bxa4 18. Rxa4 fxe5 19. b5

diagramik19

... exd4 20. Nxd4 Na5 21. Qa2 Nc4 22. bxa6 Bc6 23. a7 Ba8 24. Rb1

diagramik20

1-0

Rabu, 08 Juli 2009

Catur Contreng

Di saat warga ibukota sibuk nyontreng di TPS, dan sebab DPT-ku jauh di kampung sono, jadinya aku ya golput untuk pemilu capres putaran I kali ini. Biarpun keputusan Mahkamah Konstitusi mensahkan calon pemilih yang hanya bermodal KTP untuk ikut pemilu, tapi ribet ah. Nanti dicurigai yang enggak-enggak. Hehehe...


 


Ah, biar ngga boring saat libur nasional, iseng-iseng main catur online di internet, dengan EO-nya www.chesspark.com. Ketemu lawan sepadan dari sesama Indonesia, yang berdomisili di Banten. Idnya unik, ja-blay. Berharap yang punya nama itu Si Titi Kamal, pembawa lirik lagu Jablay, ternyata bukan.


 


Lewat langkah-langkah yang penuh jebakan dan tipu muslihat, akhirnya aku berhasil menaklukkannya. Inilah partai indah di hari pemilu capres 2009.  


 


 


Event "Online games, July 8, 2009"]


[White "ja-blay"]


[Black "D12K"]


[Result "0-1"]


 


1. e4 c5 2. Bc4 d6 3. Nc3 Nf6 4. h3 e6 5. Nf3 Be7 6. a3 0-0 7. d3 a6 8. Bd2 Nc6 9. g4 b5 10. Ba2 b4 11. axb4 Nxb4 12. Bb3 Bd7 13. g5 Ne8 14. Rg1 a5 15. Nh4 g6 16. f4 Ng7


diagramik12


 


17. Qf3 Qe8 18. Kd1 a4 19. Bc4 Bc6 20. Qg4 d5 21. exd5 exd5 22. f5 diagramik13


 


... gxf5 23. Nxf5 dxc4 24. Nh6+ Kh8 25. Qxc4 Ne6 26. h4 Qd7 27. Qg4 Nd4 28. Qf4 Qe6 29. Re1 Bf3+ 30. Kc1


diagramik14


Nxd3+ 31. cxd3 Nb3+ 32. Kc2 Nxa1+ 33. Rxa1 Bh5 34. Re1 Qb3+ 35. Kb1 a3 36. Bc1 Bg6 37. Re3 c4


diagramik15


38. Qe5+ f6 39. gxf6 Bxf6 40. Qb5 Bxd3+ 41. Rxd3 Qxb5+ 42. Nxb5 cxd3 43. Nxa3 Bxh4 44. Nc4 Rf1 45. b3 Bg5


diagramik16


0-1


 


Exciting Game...!!!

Senin, 06 Juli 2009

Prataan; Mandi Sauna di Tengah Belantara

[gallery]

Dalam perjalanan pulang dari rumah eyang putri-nya Naura di Bojonegoro, kuputuskan untuk mengaspal melalui rute Bojonegoro-Jatirogo-Rembang. Sengaja jalur ini aku pilih karena bisa memangkas jarak Bojonegoro-Rembang dibanding via Cepu-Blora. Memang, kondisi jalanan cukup sempit, namun lumayan mulus karena sebagian besar permukaan jalan sudah di-hot mix. Meski menyisakan kontur bergelombang --karena katakterisitik tanah di sekitar pegunungan kapur yang memanjang mulai dari Lasem-Pamotan-Sale-Jatirogo-Parengan yang labil-- namun  tak signifikan menghambat laju kendaraan. Bis AKAP semacam Pahala Kencana, Tri Sumber Urip, Dali Mas dan Haryanto pun membuka trayek Bangilan-Jatirogo-Jakarta, karena ditunjang infrastruktur yang memadai. Tidak bisa dipungkiri, daerah seputar Senori dan Bangilan adalah salah satu pemasok tenaga kerja informal di Jakarta. Sehingga keberadaan moda transportasi ke ibukota sangat membantu mobilisasi warga di sekitar perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini.


 


Sesaat setelah melewati jantung kota kecamatan Parengan, kurang lebih 10 km dari pusat kabupaten yang identik dengan jajanan ledre ini, terlihat papan penunjuk arah bertuliskan “Wana Wisata Air Panas Prataan, 6 km”. Untuk mengobati rasa penasaran akan haus menikmati pesona alam, akhirnya kuarahkan mobil 1300 cc menyusuri jalan kecil yang membelah hutan jati, berbelok ke kanan dari jalur utama. Cuaca siang itu begitu panas karena fase musim sedang menapaki pancaroba, masa transisi dari penghujan beringsut ke kemarau. Dedaunan di ranting-ranting tectona grandis mulai mengering, menguning dan selanjutnya berguguran, tanda perilaku alami tanaman bernilai jual tinggi ini dalam mengakali cadangan makanannya sebagai bekal menghadapi kemarau panjang. Untunglah, angin perbukitan “bersedia” bersemilir sepoi-sepoi, mengeliminir hawa sengatan mentari nan terik. Andai saja saat berada di tempat ini bertepatan musin hujan, pasti kesan hijau, lembab, segar serta teduh yang akan melingkupi acara plesiran keluargaku.


 


Biarpun ketidakramahan alam mengemuka, soal keindahan panorama Parengan tak serta merta sirna. Jalanan yang berliku-liku, dengan sajian bukit yang didominasi vegetasi jati yang tumbuh raksasa seakan menjadi penghibur mata. Terlebih saat melewati perkampungan di tengah hutan, sawah-sawah padi menghijau, mengisi bulir-bulir kembangnya, menyeruakkan asa para petani dengan hasil panenan yang sepadan dengan kerja kerasnya. Tidak seperti daerah lain di sekitar hutan yang biasanya krisis air di kala kemarau datang, air di desa kecil cukup melimpah. Sungai berkelok-kelok yang mengalirkan ratusan kubik air jernih dan anti polusi, ibarat oase di padang tandus lereng bukit kapur. Keberkahan Yang Kuasa tidak pernah memilih tempat, di setiap titik di jagad raya, sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim selalu bertaburan.


 


Tak jauh dari kampuang nan jauh di mato ini, gerbang obyek wisata Prataan berdiri menyongsong.  Petugas membukakan portal sebagai akses masuk, setelah ketebus tiket seharga Rp1.500,00 per kepala dan Rp3.000,00 untuk bea parkir roda empat. Kami langsung di hadang tanjakan tinggi untuk mencapai lokasi sebenarnya. Gigi transmisi hanya berkutat di posisi satu, karena terjalnya lereng. Tidak sampai 100 m dari gateway, pusat wisata air panas Prataan terhampar.


 


Lokasi wana wisata pemandian air panas  Prataan ini terletak di Dukuh Ngaget, Desa Wukirharjo, Kecamatan Parengan, Tuban. Tepat berada di area hutan lindung Parengan, pada ketinggian 400 m di atas permukaan air laut. Hutan jati berusia rata-rata 50 tahun, dengan diameter batang hingga mencapai 2 meter, berjajar di kanan kiri obyek wisata unggulan kota tuak ini. Secara administratif, kawasan hutan ini masuk Kesatuan Pemangkuan Hutan Parengan dan secara pengelolaan dilakukan oleh Kesatuan Bisnis Mandiri Wisata, Usaha, dan Benih Perhutani Unit II Jawa Timur. 


 


Karena daya tarik obyek ini sendiri adalah pemandian air panas, kucoba mencicipi mandi sauna di tengah belantara. Secara total, disediakan 12 bilik kamar mandi, yang dilengkapi kran air panas dan air dingin untuk mengatur level kehangatannya. Mata air sumber air panas ada di sumur kecil yang terletak di samping bilik-bilik ini. Airnya di dalamnya tampak mendidih, bergejolak dan mengeluarkan asap tipis.


 


Dan salah satu kekhasan air panas Parengan, kadar belerangnya cukup tinggi. Pihak pengelola membatasi waktu mandi maksimal 15 menit, mengantisipasi tingginya kadar belerang dan bahaya panas. Terdapat warning high alert bagi yang memiliki riwayat sakit jantung, epilepsi dan ibu hamil. Selain itu, tidak disarankan mandi dengan perut belum terisi.


 


Benar terbukti. Saat kusiapkan air panas di bak kamar mandi, luasan udara seketika berubah pengap dengan bau tajam belerang.  Untuk meredam “ancaman”nya, air panas perlu dipadukan dengan campuran air dingin. Ketika berendam, terasa menikmati mandi uap di tempat sauna. Kehangatan air 50o  diserati kepulan asap, membuat keringat bercucuran. Air dengan kandungan belerang dipercaya menyembuhkan banyak penyakit kulit, seperti gatal-gatal dan eksim. Selain itu, bisa digunakan sarana relaksasi, menghilangkan kepenatan dari rutinitas harian pengunjung. Itulah sumbangsih alam, yang tak pernah lekang bersahabat dengan penghuninya selama diperlakukan dengan bijak dan berwawasan lingkungan.


 


Disediakan pula fasilitas kolam renang air dingin yang bersumber dari mata air di sekitar lokasi, dengan tiga tingkat kedalaman. Di sini, visitor tak usah khawatir dengan bahaya air panas. Bisa berlama-lama bermain air, dipayungi lebatnya dedaunan di sekitar kolam renang.  


 


Andai kita berkesempatan naik ke lereng lebih atas lagi, terdapat area bumi perkemahan dan kegiatan outdoor. Di saat libur sekolah, tempat ini selalu ramai para petualang alam berkemah, camping atau mengadakan tadabur alam.


 


Dan hebatnya, untuk menikmati semua fasilitas yang ada, pengelola mematok tarif dengan harga terjangkau. Untuk mandi sauna, hanya perlu membayar Rp2.000,00 dan menikmati kolam renang cukup selembar uang seribuan + sekeping uang logam lima ratusan. “Kalau ada yang lebih baik, buat apa bayar lebih”. Mungkin itulah falsafah pengelola dalam merayu calon pengunjung.


 


Sayang, maksud hati ingin berlama-lama bercengkerama dengan kecantikan alam Parengan terhalang rencanaku bepergian ke Jakarta sore harinya. Menjelang waktu dhuhur, kutinggalkan  Prataan Natural Hot Spring ini. Rasa kagum dan bersyukur atas anugrah alam ciptaan-Nya tertengadah dari kekerdilan jiwa insan manusia. Suatu keajaiban alam, sumber air panas keluar dari perut bumi yang jauh dari jalur gunung berapi.


 


Maha Suci Engkau Ya Allah…

Kamis, 02 Juli 2009

Spesies-Spesies Bis Built Up Kota Kembang

Spesies-Spesies Bis Built Up Kota Kembang


Oleh : Bismania Community Bandung



[gallery]

 


Saat ini, tidak banyak populasi bis built up yang beredar di jalanan. Tercatat yang masih rajin mengaspal adalah bis kota PPD, bermesin Mitsubishi, Isuzu dan Hino, beberapa unit Hino milik PO Agra Mas untuk trayek Tanjung Priok-Bogor dan yang akhir-akhir ini menjadi sorotan para penggemar bis, Scania Irizar K9IB yang dipangku oleh PO Nusantara, Kudus. Regulasi yang ketat dan rumit untuk impor kendaraan built up, mengakali para pelaku pasar dengan metode mendatangkan unit bis secara telanjang, hanya berupa chasis berikut mesin. Sedang urusan “baju”, cukup diserahkan bengkel karoseri yang tersebar di tanah air, khususnya Pulau Jawa.


 


Namun dibalik sisa-sisa armada utuh buatan luar negeri yang masih “relatif belum lama”, jika ditelusuri, ternyata ada bis built up yang datang ke Indonesia pada era sebelumnya.




Berbekal informasi dari Mas Adhie Bageur tentang bis bulit up berbentuk seperti toyota buaya berikut nomor ponsel driver-nya, Pak Donald, kami pun berburu keberadaan bis antik ini. Setelah melakukan kontak dengan beliau, kami diijinkan mengunjungi garasi armada jadoel ini, tepatnya di kompleks Universitas Advent Indonesia (UNAI), di Desa Parompong, Lembang,  Bandung


Saat kami memasuki pintu garasi, hanya ada tiga bis yang bagi kami sudah tidak asing lagi, yaitu 1 unit Mercy 306, dan 2 unit Hino RK Built Up. Namun, kami merasa asing dengan keberadaan dua unit bis dengan model era 70-an, yang biasa digunakan sebagai bis sekolah dalam tayangan film asing.

 


 




International Navystar

 


Species langka ini bermesin International, dengan kapasitas mesin 6.000 cc turbo dan mampu menyemburkan tenaga mencapai 170 HP, bertransmisi automatic, memiliki gross weight hingga 12 ton, serta dengan balutan body dari karoseri Navystar. Ada dua unit bis International, dan cuma ada dua di Indonesia. Bis ini buatan tahun 1990, dan didatangkan ke Indonesia pada tahun 1999 (bis berwarna putih bernopol B B7216 NN) dan tahun 2000 (bis hitam, B7019AX). Bis ini merupakan eks kendaraan militer tentara Amerika Serikat saat bertugas di Jepang.




Bis ini menggunakan AC gantung. Blower pendingin udara berada di bawah body bagian belakang. Dengan demikian, tangki solar yang dimiliki juga ada dua, satu untuk solar mesin dan lainnya untuk AC. Namun saat ini AC dalam kondisi mati, karena evaporator AC sudah keropos dan tidak dapat ditangani lagi.


Kaki-kaki depan bis ini sudah dimodif menggunakan komponen mercy, karena rem aslinya kurang pakem. Sementara komponen aslinya disimpan di gudang.


Awal mula kedatangan bis ini ke Indonesia dilatari ketidakmampuan rekotrat UNAI menyediakan armada yang mencukupi untuk antar-jemput tenaga perawat. Akhirnya Pak Yusuf, kepala bagian otomotif, mengajukan bantuan kepada mantan rektor UNAI yang berada di negeri Paman Sam. Kebetulan mantan atasannya tersebut dekat dengan salah satu pejabat militer di Dinas Pertahanan USA.


Sedianya, pihak UNAI akan diberikan bantuan sebanyak 4 unit bis International. Berhubung masih berstatus commisioning, atas permintaan Pak Yusuf, pada tahap pengiriman, akan diterima satu unit terlebih dulu. Baru setelah dinilai “layak jalan”, para kru mulai familiar cara handlingnya serta paham masalah mesin dan perawatannya,  sisanya akan diambil. Namun satu tahun kemudian, armada lain yang akan diambil ternyata sudah dihibahkan ke Yayasan Advent yang berada di Filipina sebanyak 2 unit. Dari satu unit yang tersisa, oleh mantan rektor UNAI ini, kemudian dimintakan bantuan sebanyak 15 unit kendaraann, diantaranya adalah 1 unit International Navystar, 2 unit Hino RK built up dan mobil-mobil lainnya.

 




Bis International yang sekarang ber-livery hitam, pada awal kedatangannya memiliki warna cat seperti bis International yang pertama. Namun karena ada kesalahan pada BPKB dan STNK, yakni tertulis warna kendaraan hitam padahal pada dokumen import tertulis putih, maka oleh Pak Yusuf “disulaplah” bis ini dengan warna hitam. Ini untuk mengakali kesalahan pihak Samsat dikarenakan dalam pengurusan BPKB dan STNK terlalu berbelit-belit.


Pernah Jadi Artis


Bis international ini pernah menjadi artis pada video klip lagu Peterpan “Di Atas Awan”, dan stripping pada dinding bis ini merupakan kenang-kenangan pada saat shooting . Tak sekedar itu, bis ini juga pernah main film “Sumpah Pocong”. Stiker “Eidelweis” merupakan stiker yang digunakan pada saat take picture untuk sumpah pocong. Kami pun tidak mau kalah dengan para produser rekaman, dengan memberi kenang-kenangan stiker yang kami tempel bagian pintu belakang bis langka dan berharga ini.



Hino Built Up sebelum PPD


Selain dua unit International Navystar, di pool kampus juga terdapat dua hino RK bulit up dari Jepang, dengan kapasitas mesin 10.000 cc. Bis ini dirakit pada tahun 1984, datang ke Indonesia bersama dengan bis International yang kedua. Bis ini datang sebelum Perum PPD mendatangkan Hino built up. Pada saat uji KIR di Jakarta, petugas berwenang mengira bis ini adalah milik PPD. Wajar saja, karena PPD sudah melakukan lobi terlebih dahulu dengan rencana menghadirkan bis built up seken untuk memperkuat armada bis kota. Padahal, faktanya bis ini bukan milik PPD, melainkan milik UNAI. Bis milik PPD baru datang 2 bulan setelah bis ini datang.


”Bis ini juga bekas kendaraan angkut para prajurit perang. Hal ini dapat dilihat pada derajat kemiringan jok --jok bersandaran tegak--, dengan fungsi agar penumpang tidak mudah mengantuk,” tutur Pak Yusuf menyampaikan ilmu berantai dari mantan rektor UNAI.


Pada pintu darurat ada sesuatu yang menarik, terdapat foto sebuah kursi lipat yang tersedia di dalam kabin bis. Namun dalam kenyataan barang ini sudah tidak ada. Ternyata kursi ini hilang pada saat proses bongkar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Tidak hanya kursi yang raib, banyak kelengkapan tambahan yang hilang, satu diantaranya manual book  dari pabriknya, International Navystar. Memang patut disayangkan.

.





Berguru Ilmu dari Pak Yusuf


Sewaktu acara “sowan”, kami mendapatkan banyak ilmu tentang per-bis-an.  Pengetahuan yang sangat berharga adalah ketika mendapatkan ilmu tentang bis International, bis yang hanya ada dua unit di Indonesia. Pak Yusuf dengan senang hati menyambut kami, berbagi ilmu tentang sejarah bis International dan Hino RK built Up.

Yang kami kagumi dari Pak Yusuf adalah pada saat kami tanya, “Bapak disini di bagian apa?”. Dengan rendah hati bapak yang asli Malang ini mengatakan, “Saya disini sebagai kepala otomotif, tapi juga sebagai supir, kadang kernet, montir, tukang cuci. Pekerjaan merawat bis-bis ini adalah pekerjaan saya, Pak Donald dan rekan-rekan disini semua.”

 


“Seorang pemimping seharusnya berada di depan, bukan dibelakang dan berpangku tangan saja. Saat memperbaiki bis saya juga ikut, kadang juga harus “ngolong” sampai rambut ini oli semua,” imbuhnya dengan bijak.


 


Demikianlah sosok armada built up yang dipunya UNAI. Berkat sentuhan dingin Pak Yusuf, Pak Donald dkk, bis-bis ini seakan sehati dengan kemauan dan harapan beliau-beliau. Tetap terawat mesinnya, laik jalan, terjaga kebersihan interior eksteriornya serta lestari keunikan dan eklusivitasnya.  

Rabu, 01 Juli 2009

Smiley Lamp Menuju Meja Hijau

Baru-baru ini, PT Busacc Prima Enterprises, produsen dan vendor aksesoris untuk kendaraan bis di seluruh dunia, mendaftarkan laporan pengaduan di Pengadilan Niaga Jakarta . Korban merasa  terusik, setelah salah satu produknya, yakni rear lamp model smile dijiplak sembarangan oleh PT Busrepair Sejati Limited, sebuah karoseri bis yang berhome base di Kota Solo, Jawa Tengah.


 


Perusahaan asing asal Taiwan ini merasa “lampu senyum” ciptaannya –yang telah menghabiskan gocek yang tidak sedikit untuk research and development, investasi dan promosi-- persis dengan buah olah kreativitas yang dibuat oleh bengkel rumahan spesialis body repair tersebut. PT Busacc menilai, produk barangnya telah dimanfaatkan pihak-pihak tertentu dengan cara mencontek modelnya, meski secara dimensi, bahan dan kualitas jelas jauh berbeda.


 


Kasus perselisihan kepemilikan model produk barang antara perusahaan asing dan lokal ini, bisa jadi menjadi sinyal pertama penegakaan hukum atas Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) di ranah perdagangan yang bersinggungan dengan dunia transportasi darat bis.


 


Memang belum jelas apakah tergugat menggunakan imajinasinya sendiri, atau memiliki itikad tidak baik memdompleng ketenaran ketika menciptakan model rear lamp smiley tandingan. Namun nyatanya, kasus ini telah bergulir dan sedang tahap pemeriksaan oleh aparat pengadilan.


 


Namun semua tuduhan yang dialamatkan kepada PT Busrepair tersebut dibantah oleh kuasa hukumnya, John Nggedhebuz. "Gugatan penggugat tidak dapat diterima," kata John dalam dokumen pembelaannya pada pertengahan pekan lalu.


 


Menurut John, aduan Busacc itu kabur. "Penggugat menyatakan modelnya lebih dahulu dikenal, namun alasan dan atau kriteria keterkenalan smiley lamp itu tidak didalilkan," katanya.


 


Alasan penggugat yang menyebutkan pendaftaran model produk milik kliennya di pelbagai negara telah memberi kesan suatu model terkenal, menurut pengacara handal ini, debatable.


 


Alhasil, genderang perang antara Bussacc dan Busrepair untuk menentukan siapa sebenarnya yang berhak atas “lampu senyum” sudah ditabuh. Masing-masing kuasa hukumnya sudah menyiapkan dalil-dalil dan fakta-fakta hukum ke muka persidangan nantinya.


 


Siapa yang lebih berhak atas model dagang tersebut, akan tergantung pada keputusan hakim Pengadilan Niaga Jakarta.


 


Inilah kedua model Smiley Lamp yang tengah jadi polemik.



 

Versi PT Busacc Prima Enterprises

4

 

Versi PT Busrepair Sejati Limited

LJ

 

:)

Kopdar Kebun Raya Bogor; BMC Punya Mbok Bariyah

Siapa bilang bismania hanya identik dengan armada bis semata? Cangkruk di terminal eta mah biasa. Ngebahas mesin adalah mata kuliah wajib. Bedah karoseri juga seringkali. Apalagi serunya saling share cerita turing, ngga ada bosannya.


 


Ternyata oh ternyata….Bismania punya taste yang lain. Bismania pun aware and care dengan aksi back to nature.


 


Untuk urusan yang satu ini, Bismania Community pantas berbangga memiliki member penggiat alam lingkungan berikut flora dan fauna yang ada di alamnya. Dialah Nick Ayu dan Asman Adi, anggota dari chapter Bogor.


 


Berawal dari ide mereka berdua untuk meng-host sebuah acara dengan kemasan yang berbeda, setelah melalui tahap pertimbangan, discusing, hearing dengan pengurus, hingga ketok palu untuk end decision, terbitlah SMS Broadcasting, “Kopdar BMC sambil makan rujak di Kebun Raya Bogor, tanggal 21 Juni 2009. CP : Nick Ayu”


 


Hiruk pikuk kehidupan hari Kota Bogor yang mulai menggeliat, menyambut kedatangan para bus lover dari segala penjuru mata angin. Kampung Rambutan, Serang, Tanjung Priok, Bekasi, Pulogadung, Cikarang bahkan Bandung. Sebagai meeting point dipusatkan di Botanical Square Pool Damri Baranang Siang. Tercatat 20 member mengcontreng absen kehadiran, menggenapkan bukti bahwa simpatisan Bismania Community cukup solid, menjunjung tinggi nilai pertemanan, penuh pengorbanan dan concern terhadap kelangsungan komunitas.  


 


Dalam rombongan besar, langkah kaki kami arahkan menuju pintu IV entry gate ke Kebun Raya Bogor (KRB), melewati tugu kujang yang tegak berdiri di Jalan Padjajaran. Meninggalkan Asman Adi yang sebelumnya diserahi tugas berbelanja buah sebagai bahan rujakan dan mengemban amanat sebagai pembawa amunisi dan perbekalan perang.  


 


Belum sampai masuk ke lokasi wisata, dikomandoi makhluk yang paling ayu, gerakan narcisme para calon perujak pun merambat muncul. Tak kenal tempat, tak kenal waktu dan tak kenal situasi. Di bangunan dome ala eropa, kita langsung mengabadikan momen berharga ini dengan berfoto-foto ria, dibawah jepretan tukang foto amatiran, Aam Bule.


KRB Dome



 

Puas berpose manis dan memajang camera face, kami ditodong Ibu Ketum Rujakan untuk menyerahkan sejumlah uang demi menebus tiket masuk dan sedikit sumbangan untuk mengisi kas. “Tamu bukannya dilayani, malah melayani tuan rumah, “ gerutu kami. (Hehehe…piss ya Nick.)


 


Dan di area pintu masuk ini, kami menjadi saksi keakraban dua sejoli yang selalu seiya sekata, diam-siam mesra dan menebarkan aura romantisme anak muda. So sweet…Terlihat mata Mas Yudi menerawang jauh ke awang-awang sesaat setelah menyaksikan adegan yang pernah dikecapnya masa silam. Alam ingatannya teringat kampung halaman di Malang. Mupeng ya Mas?


 


Hasil dari bujuk rayu Nick yang penuh hiba kepada petugas loket, kami beruntung dikenai tarif tiket batas bawah seharga Rp9.500,00,-seharusnya Rp11.500,00 untuk weekend-. Kami langsung dihadiahi teduh dan hijau daunnya pepohonan koleksi Kebun Raya Bogor. Hawa cukup segar, sejuk dan kaya O2, beda jauh dengan aroma solar, CO2 dan pengapnya udara di area terminal bis yang seolah menjadi konsumsi wajib hidung para bismania. Benar apa yang dikata Mas Fathur, bahwa inilah saatnya kita mencuci paru-paru  yang penuh polutan, untuk direfresh dengan udara bersih sebagai detergen-nya.


 


Saat berjalan di depan Café Dedaunan yang terletak di dalam kawasan peninggalan CGK Reinwardt ini, kami mendapat kabar bahwa sesepuh dan dewan pembina BMC, Om Harsono-nama online Blegur- dan Om Arga-momod milis- sedang final approaching menuju KRB untuk merapat.


 


Jadilah, masa iddah (tunggu) ini kembali diisi untuk mengekspresikan sifat narcis dan keganjenan. Kembali kami berfoto-foto dengan aneka gaya, cocok dijadikan model dadakan untuk sampul majalah dunia supranatural.


KRB Band


Tak selang lama, Om Blegur and family dan owner PO Mas Arga (bukan Agra) dengan istri tercintanya datang bergabung. Sekian lama tidak bersua sesepuh BMC, kami pun bersuka cita. Bagaikan anak ayam bertemu induknya. Kami merindukan wejangan dan nasehat dari beliau, untuk meng-assist langkah-langkah kami ke depan dalam memajukan komunitas.


 


Beramai-ramai kami menelusuri jalan-jalan kecil di dalam Kebun Raya, menikmati lukisan alam buatan yang disajikan. Ratusan pohon besar khas hutan tropis berumur seabad lebih tinggi menjulang mencakar langit, diseling dengan vegetasi flora dari keluarga palm, bamboo dan aneka bunga. Terlihat teratai raksasa yang konon mampu menahan beban anak kecil menghampar di atas kolam di depan café. Tak terhitung beragam satwa burung terbang dan hinggap di dahan-dahan pohon, menambah indahnya panorama pagi di Kebun Raya.


 


Dalam kacamata bismania, kami membayangkan andaikata terminal bis berkonsep 2 in 1, ruang hijau dan terminal dalam satu lahan, alangkah impresifnya program pembangunan saat bertema ramah lingkungan dan turut andil men-slow down pemanasan global. Kapan ya angan-angan liar ini terwujud?


 


Setelah dirasa cukup menggerakkan raga dan memacu kerja jantung untuk mengalirkan oksigen ke pembuluh-pembuluh darah, kami pun berhenti di tepian telaga Gunting. Menikmati gemiricik air mancur di telaga dengan background istana Bogor, kami menggelar lapak sederhana. Suasana di pinggir telaga cukup ramai, mengingat saat itu hari minggu dan bertepatan dengan musim liburan sekolah.


 


Neng geulis ini pun berubah peran menjadi Mbok Bariyah, si penjual rujak asal Pulau Madura. Sedang yang lain duduk manis, ngobrol ngalor ngidul, debat kusir bahkan perang opini dengan topik pembicaraan yang tidak OOT dari bis. Dibantu Mas Wahyu, Asman, Mas Yudi, Mas Awig, dengan cekatan cucu Ronggolawe ini menyiapkan hidangan pemanja perut kami yang mulai didera rasa lapar. Mulai mangga, nanas, mentimun, bengkoang, dan jambu air dikupas dan diiris kecil-kecil. Siang-siang begini, air liur siapa yang tidak menetes dihadapkan dengan menu rujak petis. 


KRB Rujak


Tak perlu waktu lama,-karena bumbu sudah homemade by istri Mas Wahyu dan Nyonya Mas Aziz-, menu rujak yang dinamai “Rujak Special BMC ala Cah Ayu” terhidang. Kami langsung menyerbu Cah Ayu…eh rujak bumbu kacang untuk membayar  air liur yang mulai mengering. Bergantian jari jemari kami mencomot irisan buah segar yang ada. Agar aspiratif dengan selera lidah, disediakan tiga opsi untuk bumbunya, pedas, manis dan original.  Dalam acara kumpul-kumpul, pasti sesi makan-makan adalah puncak meriahnya acara. Demikian pula berlaku untuk Kopdar Kebun Raya ini. Dalam sekejap, sajian ludes tak tersisa. Pedas, asam dan manis saling berpadu.


KRB Makan



 

Laris manis tanjung kimpul, yang jual manis, pujian terkumpul… 

 

Inilah indahnya kebersamaan dan buah sense of belonging terhadap komunitas yang ditunjukkan member BMC. Meski berbeda status sosial, asal daerah, profesi, suku, ras dan warna kulit, dengan tali simpul yang bernama hobi bis, nyatanya cukup kuat untuk mengikat kami dalam komunitas bismania.


 


Dari sekedar acara makan rujak, sejatinya sebuah kebersamaan besar Bismania Community  sedang kita pertontonkan.


KRB Telaga



 

Bogor sweet Bogor…

21 Juni 2009