Rabu, 01 April 2009

Pak Naim, Berkah Setetes Air Legen (3)

Selaksa Makna Air Legen


Peluh keringat yang membanjiri permukaan kulitnya tak dirasakan, keletihan dan kepenatan tak dihiraukannya, dan bayang-bayang kekhawatiran bahwa rejeki yang diterimanya hari ini tidak halal tak bakal menghantuinya.  


 


Hanya senyum mengembang mengisyaratkan kebahagiaan menyaksikan belasan bumbung-bumbung yang telah penuh terisi air legen yang seolah menjadi saksi buah kerja keras dan keikhlasannya menjalani profesi yang terkadang dipandang sebelah mata.


 


Matahari telah di sepertiga perjalanannya. Pak Naim pun beranjak pulang, memikul beban berat puluhan liter air legen. Dalam benaknya membayang, betapa Maha Pengasih Dzat Yang di Atas. Mendiam di bumi Dologan nan gersang, di saat sawah dan ladang cuma jadi pengangguran, dibelenggu krisis air bersih sehingga seteguk air menjadi barang yang tidak murah, di tengah ketidakpastian kapan mongso labuh akan datang, seakan air legen menjadi dewa penolong, penyumbang materi yang sebelumnya seret bahkan mampet karena ketiadaan panenan padi maupun palawijo, penyambung kelangsungan denyut nafas kehidupan Pak Naim sekeluarga. 


 


Sesampai di rumah, istrinya yang sedari tadi setia menunggu segera menyambut ‘oleh-oleh gratisan’ Pak Naim dengan wajah berbinar. Kolaborasi nan indah sebuah household relationship, mencitrakan keharmonisan dan kemesraan rumah tangga Pak Naim. Oleh Bu Naim,-yang terbiasa dipanggil Mbah, panggilan kesayangan dari pak Naim-, dituangnya air legen ‘sejuta makna’ ini ke dalam wadah kuali secara perlahan-lahan, agar tidak berceceran untuk menghargai hasil kerja suami, dicucinya hingga bersih bumbung-bumbung yang habis terpakai untuk persiapan Pak Naim menek kembali nanti sore. Dan Pak Naim pun mengisi waktu luangnya dengan sejenak beristirahat, momong putu, mengurus ternaknya, ndarus Al Quran dan mengaji atau sekedar tilik-tilik tegal, karena di saat musim kemarau seperti ini, tak banyak yang bisa dikerjakan di sawah ladangnya.


 


Tak lama kemudian, Lek Sukir, tetangganya dari Dusun Ngemplak, muncul di depan pintu, kulakan air legen hasil ladang Pak Naim, dibarter dengan sekian lembar uang rupiah, untuk nantinya dijual ke kota, menyusur pasar komunitas legeners yang tersebar luas di Blora, Cepu, Juana, Pati, Kudus, Jepon, Japah, Wirosari, Randublatung bahkan sampai ke Ngawi.


 


Dari hasil usaha sampingannya ini, Pak Naim pantas dijadikan guru kehidupan. Bagi kita mungkin jumlah rupiah per harinya tak seberapa. Namun bermodal sikap bersahaja, sabar dan nrimo menjalani hidup keseharian, gemi lan nastiti, disisihkannya sebagian hasil transaksi air legennya, sedikit sedikit lama-lama membukit, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, dan berkat ke-Maha Kasih dan Maha Sayang dari-Nya, hingga akhirnya Pak Naim diundang bertandang ke bumi Mekah, menjadi tamu Allah,  menyempurnakan rukun islam kelima di tanah suci,  diangkat derajatnya, naik pangkat menyandang gelar seorang haji, di tahun 2000 silam. Hal yang tak pernah diangankan Pak Naim bakal kesampaian, namun bila Gusti Kang Murbeng Dumadi berkehendak lewat setetes air legen, siapa yang tak bersukacita menyambut uluran tangan-Nya.  


 


Inilah potret kehidupan seorang penyadap air legen, yang menyiratkan sebuah pelajaran bahwa selama kita taat, manut dan munduk-munduk kepada-Nya, pandai sebagai hamba yang tak pernah putus mengucap kata syukur, di mana, kapan saja dan kondisi apapaun, bakal ada jalan rejeki yang tiada terduga, sebagai penggenap keberkahan perjalanan hidup manusia.


 


 


Thanks for all Pak Naim, you’re my inspiration,  teacher of my life…

Pak Naim, Berkah Setetes Air Legen (2)

[gallery columns="2"]



Pohon yang ‘Bertuah’

Kemudian ditolah-tolehkan mukanya ke atas seolah menelusuri setiap jengkal bentangan awang-awang sambil terus menghisap rokok ‘generik’nya yang masih tersisa, dan untuk selanjutnya kuikuti tatapannya. Sejauh mataku memandang, vegetasi darat khas pesisir yang jumlahnya tak banyak di bumi nusantara tampak begitu mendominasi. Puluhan pohon berbatang tunggal sejenis palem dengan kontur kulit pohonnya yang kasap, agak kehitam-hitaman, dengan penebalan sisa pelepah daun di bagian bawah, yang kokoh menjulang hingga ketinggian 25 m, tajuk nan rimbun dan membulat, daunnya sekilas mirip kipas, bundar, kaku, bercangap berjari dan berwarna hijau keabu-abuan,  bentuk pelepahnya pendek, menghitam, bercelah di pangkal, berijuk dan bergerigi di tepiannya.


 


Sebagian pohon berbuah, berbentuk bulat peluru berdiameter 7-20 cm,-yang sekilas mirip buah kelapa, namun dalam bentuk yang lebih kecil-, berwarna ungu tua sampai hitam, dan pucuk buahnya kekuningan, dalam poros bulir dengan daun pelindung yang besar,  yang apabila dibelah akan terlihat dinding buah tengah berserabut dengan buah keras berjumlah selalu tiga,  dengan daging buah putih transparan dan sedikit berair. Dan sebagian pohon lagi hanya tampak tangkai-tangkai kembang yang bercabang, serupa tanduk rusa, menjulur-julur di sela kuncup bunganya.  


 


Dialah pohon siwalan, dalam bahasa latin Borassus flabellifer, yang di-Dologan-kan bogor, di-Indonesia-kan menjadi lontar dan di-english-kan sebagai toddy palm, wine palm atau palmyra Palm.  Dan bagi masyarakat Sulang khususnya, pohon yang berbuah diistilahkan ‘bogor wedok’, yang buahnya sendiri dinamai siwalan dan pohon yang ‘bertanduk’, hanya sempat berbunga tanpa pernah berbuah, dinamai  ‘bogor lanang’,  penghasil air nira, yang tak asing disebut legen, yang sebenarnya hanya ‘akal-akalan’ wong ndeso untuk membedakan jenis kelamin betina dan jantan pohon Siwalan.


 


Tanaman ini hanya cocok tumbuh di daerah yang beriklim kering, di ketinggian 0-800 m dpal, bercurah hujan rendah (rata-rata 63-117 hari/ tahun), bersuhu optimum 30 deg C dan hidup di tanah yang mengandung pasir, sesuai karakteristik kondisi alam Kabupaten Rembang, khususnya Kecamatan Sulang. Desa Jatimudo adalah salah satu sentra habitat pohon Siwalan di wilayah Kecamatan Sulang, bersama Desa Tanjung dan Desa Bogorame. Bila kita berkesempatan njajah deso Jatimudo, yang tampak adalah hamparan pohon siwalan yang ngrembuyung, tumbuh subur di galeng-galeng, yang keberadaannya multifungsi, sebagai pelestari dan penjaga ekosistem lingkungan, glugu-nya pun dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, daun lontar sebagai bahan kerajinan tangan yang bernilai seni tinggi, sekedar patok pembatas tanah, sekaligus produk buahnya berperan utama dalam menambah penghasilan dari usaha sampingan para petani desaku.


 


Berkah yang dibawa ‘pohon langka’ sebagai second business bagi petani tentulah buah siwalan itu sendiri, yang laku jual dan banyak diburu. Buah siwalan enak dimakan langsung, atau pelengkap isi menu es buah. Rasanya yang manis, kenyal, dan bertekstur lembut, tidak jauh beda dengan kolang-kaling, begitu menggoda dan memanjalan lidah penyantapnya. Bogor Lanang pun tak ketinggalan memberikan kontribusi ekonomis sebagai penghasil air legen. Citarasa air legen yang manis, berpadu tarikan rasa masam yang kuat, dengan backing aroma bersoda, sangat segar dan nikmat sewaktu membasahi lidah dan kerongkongan, menuntaskan dahaga penimumnya setelah bergelut dalam panasnya alam Rembang.. Bila ingin mendapatkan kadar soda yang tinggi, air legen cukup diisikan ke dalam kendi dari tanah liat, ditutup rapat-rapat, didiamkan hingga beberapa minggu, jadilah minuman kontroversial, tuak. Dan konon, air legen dipercaya meningkatkan vitalitas, pencegah sakit maag dan doping alami untuk menjaga stamina tubuh.


 


Kalau di Amrik sono perlu bantuan mesin produksi yang mahal untuk menghasilkan minuman bersoda, atas kemurahan-Nya, di bumi Sulang langsung disediakan oleh alam lewat ‘kebaikan’ pohon siwalan. Biarlah negeri Paman Sam bangga dengan merek Coca Cola yang mendunia, namun negeri Lek Karjo cs ini pun tak kalah bangga dengan minuman legennya. Hanya saja, kekurangan air legen dan siwalan adalah barang musiman, hanya bisa dijumpai ketika musim kemarau tengah melanda, di rentang  Bulan Maret hingga Bulan September setiap tahunnya.


 


Kuamati Pak Naim yang bersiap menjalankan profesi sampingannya sebagai penyadap air legen. Digantungkannya sebagian bumbung kosong di pelepah anakan pohon siwalan yang masih ‘balita’,  sedang bumbung yang lain disangkutkan di lengan kirinya. Diselipkannya pisau gores untuk ‘menggarap’ tangkai bunga bogor lanang di belakang punggungnya. Dengan cekatan dipanjatnya pohon siwalan di dekatnya dia berdiri, kakinya dijejakkan di takik-takik berundak yang sengaja dibuat di batang pohon siwalan, sembari alat bantu tali panjatnya dijulurkan hingga melingkari batang sebagai tumpuan kekuatan sewaktu memanjat. Dengan kelihaiannya bak mountain side climber, tak perlu waktu sampai dua menit untuk menaklukkan ketinggian 15 m pohon siwalannya. Bapak yang bernama lengkap Nyono Naim ini pun telah nangkring di atas tajuk pohon siwalan, memulai jobdesk utamanya.


 


Dilihatnya beberapa bumbung yang dipasang kemarin sore telah penuh oleh tetesan air legen. Dengan telaten dilepas dari kaitnya dan disisihkan, digantinya dengan bumbung baru sambil tangkai kembang lama dipotong dan digores baru di bawahnya dengan pisau kerjanya nan tandes, cresh…cresh…Air legen pun lambat laun menetes dari ujung tangkai bunga yang baru saja dipotong, seakan lewat getah bunga pohon siwalan inilah rejeki Pak Naim mengalir, memenuhi pundi-pundi nafkahnya. Satu per satu bumbung yang telah terisi diambil, hingga semuanya dituntaskan, digantikan dengan bumbung baru. Tak satupun ‘kembang siwalan’ yang terlewat digarapnya.


 


Pak Naim pun menjalani alur kerja keduanya, menuruni pohon siwalan. Meski lebih gampang dibandingkan sewaktu naik, namun beban berat dari bumbung-bumbung yang sarat air legen menuntut ekstra kehati-hatian. Namun bagi Pak Naim yang hampir 30 tahun menekuni dan berpengalaman dengan pekerjaan menyadap air legen, tidaklah susah dan ribet melakukannya. Cukup hanya 15 menit leadtime yang dibutuhkan untuk ‘mencumbui’ satu pohon siwalan, dari foreplay hingga endplay. Tak perlu rehat lama, selang berikutnya pohon keduanya pun digarapnya, seterusnya dan seterusnya, hingga pohon siwalan ke-12 miliknya yang terakhir memanggilnya, bersiap diri kembang siwalannya untuk di’sunat’.

Pak Naim, Berkah Setetes Air Legen (1)

Menepis Mimpi, Membuka Hari


Tatkala kokok ayam jantan saling bersahutan membangunkan fajar untuk membuka pintu menyambut tibanya pesona pagi. Dan gaung kumandang ayat-ayat suci dari pengeras suara Musholla Nurul Huda mendayu-dayu ke setiap sudut dusun Dologan nan permai hingga menembus dinding hati setiap insan yang mendengarnya. Seolah rangkaian kata-kata rayuan mesra dari langit bagi yang beriman untuk bersegera bersimpuh di hadapan sang Khalik. Bergegas pula Pak Naim beranjak dari pembaringannya nan hangat. Diusirnya aura kemalasan, diagungkannya nilai ketakwaan, ditinggalkannya mimpi indah namun sejatinya semu, bergegas menuju kiwan nan sederhana di belakang rumah, untuk membersihkan badan, berwudhu mensucikan diri.  


 


Lalu dipakai busana religiusitasnya,  baju koko hijau pupus, polos tanpa ornamen, dipadu bawahan sarung tenun warna putih dengan corak lembut garis kecoklatan, yang warnanya pun mulai memudar dimakan guliran waktu. Disematkannya di atas kepala peci putih  favoritnya, yang berbahan rajutan  benang-benang yang direnda secara apik oleh pembuatnya. Dan tak lupa dibelitkannya surban merah maroon barunya di leher, surban tanda cinta dari istrinya.


 


Langkah kakinya pun diarahkan ke musholla yang tak seberapa jauh dari rumah. Bangunan peninggalan leluhur bumi Dologan, yang belum lama ini selesai dipugar. Muadzin pun melafalkan kalimat adzan, memanggil setiap hamba Allah untuk cepat-cepat memenuhi shaf musholla yang masih kosong, yang biasanyapun hanya dua baris yang terisi. Sembari menunggu sebagian jamaah mengerjakan sholat sunah fajar, disambungnya  dengan menyanyikan syair-syair lagu pujian buat pemimpin agung yang  dijunjung umat Islam, Nabi Muhammad SAW.


 


Semenjak ditunjuk menjadi imam musholla, sudah menjadi kewajiban Pak Naim untuk mengemban amanah menjadi warasatul anbiya, pengayom kaum muslimin muslimat di kampungnya. Dijadikan panutan dan teladan, sandaran pertanyaan masalah keagamaan, atau konselor problematika hidup warga Dologan. Pemimpin spiritual. Beliau merupakan etalase berjalan seorang hamba Allah yang berbalut baju keislaman nan tebal. Di kala goda dunia makin nyata adanya, hanya ulama-lah yang mampu mengingatkan dan membimbing umatnya dengan petuah bijak dan kata-kata penyejuk. Tak terkecuali di ambang pagi ini, kakek satu cucu ini memikul tugas menjadi imam sholat shubuh di musholla tempat masa kecilnya belajar mengaji, yang dari namanya bermakna sang cahaya petunjuk.


 


Semuanya larut dalam kekhusyukan ibadah sholat shubuh yang dipimpin pria paruh baya ini. Disempurnakan dengan dzikir panjang sesudahnya, ngudo roso mencurahkan isi hati di altar Sang Pencipta, penuh doa dan pengharapan agar dimantapkan niat mengisi hari ini dengan amal ibadah, dilapangkan  jalan penghidupannya, dikaruniai kesehatan lahir dan batin serta dianugrahi keberkahan hidup.  


 


Saat mentari mulai meninggi dan sinarannya mendatangkan terang bagi bumi, Pak Naim pun bersiaga menjemput jatah rejeki. Ditanggalkannya baju dan sarung simbol pengakuan sebagai hamba yang lemah, terkecuali peci putih kebanggaan, oleh-oleh adik iparnya dari tanah Arab, berganti kaos oblong nan usang, bercelana kulot hingga batas bawah lutut,- lengkap dengan rokok kretek dan korek api di sakunya-, yang seakan menjelma menjadi pakaian dinasnya hari ini


 


Diraihnya belasan bumbung-bumbung bambu kosong tanpa isi yang teronggok di dapur, disatukan menjadi dua bagian agar pikulannya sanggup membawanya secara seimbang. Tak ketinggalan arit kecil yang telah direkayasa menjadi pisau tajam dan seutas tali made in sendiri berbahan  daun lontar yang dipilin hingga padat, singset dan kuat sebagai alat bantu panjat nantinya, dimasukkan ke dalam salah satu bumbung. Lengkap sudah peralatan yang dipersiapkan untuk ‘berperang’, menggugurkan kewajiban menafkahi keluarga.    


 


Dengan tumpuan pundak yang terlihat masih kekar di usianya, ditentengnya sejumlah potongan ruas bambu petung yang telah berubah wujud menjadi bumbung dengan sebatang pikulan dari bongkotan pohon bambu. Sebatang rokok terjepit di sela bibirnya yang hitam sembari dihisap dalam-dalam dan sejurus kemudian dihembuskannya secara kuat-kuat asapnya untuk membuang kejenuhan rutinitas. Ditapakinya rute tanah berbatu dengan kaki-kaki telanjangnya menuju lahan pencahariaan, yang terhampar di pojok dusun. Jalur setapak yang dilewatinya tiap hari seperti dipayungi rimbunnya rumpun bambu yang menguasai  kerajaan flora di kanan kiri jalan. Sebagian batang hijaunya nan panjang melambai hampir berebahan, tak kuasa melawaan kencangnya terpaan angin.  Dan bunyi gegesekan antar batang bambu akibat hempasan udara yang mengalir, diiring senandung kicau burung-burung emprit dan tekukur yang berloncat-loncatan di dahan jati, menciptakan simponi musik kampung nan merdu merindu, menggambarkan suasana pagi yang riang di ujung jalan desa.


 


Jangkauan langkah Pak Naim pun terhenti di pematang yang tak rata. Dipandanginya ladang luas miliknya yang garing kemringking pertanda kemarau sedang puncak-puncaknya. Tanah pun nelo-nelo, seakan menyerah melawan sengatan panas  matahari yang membakar. Rumput-rumput pun tampak kuning layu, merana, mengiba kepada cucuran rinai hujan, dan seketika pula Pak Naim teringat akan ternaknya di kandang. Sedih membayangkan nasib tiga ekor sapinya, yang hanya mendapat asupan makanan ala kadarnya. Hanya jerami kering residu panenan padi kemarin, dan terkadang diimbuhi daun pohon pisang sebagai tambahan vitamin, agar hewan kesayangannya bisa survive mengarungi musim kering yang diperkirakan akan berlangsung lama.. Berkali-kali Pak Naim menghela nafas, mengusap keringat yang membahasi wajahnya yang mulai keriput, mengusir hawa panas meski pagi baru saja memulai peredarannya. Seolah semua yang tampak di depan matanya adalah korban bisu dari ganasnya efek degradasi lingkungan.


 


“Hidup jangan mudah menyerah Dik. Derita karena alam bukan tanda Tuhan tak sayang abdi-Nya, petaka kecil seperti ini bukan untuk diratapi, justru harus menambah rasa syukur. Ini adalah ujian tak tertulis dari Gusti Allah, untuk menilai seberapa besar kualitas penghambaan awakke dhewe. Yakin ae, dibalik kesulitan, pasti ada kemudahan, selama kita berpegang teguh kepada simpul ajaran-Nya. Kita makhluk yang sempurna, kita dibekali akal, pasti ada jalan keluar selama kita mau berpikir ”,  itulah nasehat arif yang dilontarkan Pak Naim sewaktu aku temui di ladangnya.

Selasa, 31 Maret 2009

Lontong Tahu, Blora tak Sekedar Sate dan Soto Ayam

lontong-tahu1Selain soto dan sate ayam yang cukup kondang seantero tanah jawa, Blora memiliki satu lagi khasanah kuliner yang menjadi foodmark kota kelahiran budayawan Pramoedya Ananta Tour, yakni Lontong Tahu.


 


Salah satu kedai makan yang menjual Lontong Tahu adalah warung tenda “Arumdalu”. Posisinya terletak di ujung jalan Arumdalu, di pojok pertigaan Kantor Dipenda,  kira-kira 500 m di sebelah timur alun-alun Kota Blora. Warung yang buka mulai jam 17.00 ini selalu ramai pengunjung yang ingin menikmati kelezatan masakan nusantara.  Meski tempatnya sederhana, namun memiliki penggemar fanatik. Rentang waktu 8 tahun semenjak warung ini pertama dibuka adalah bukti “kepintaran” penjualnya dalam memaintain kepuasaan pelanggan. 


 


Komposisi utama seporsi menu lontong tahu adalah potongan tahu goreng dan telur dadar, di atas potongan lontong nasi. Ditambahkan irisan kol mentah, tauge dan kacang tanah goreng, ditaburi cacahan daun seledri dan bawang goreng, dan terakhir disiram bumbu kacang. Cara penyajiannya, cabe merah (jumlahnya sesuai kadar pedas yang diinginkan pembeli), kencur, garam dan bawang putih dihancurkan/ diuleg hingga setengah hancur. Kemudian dicampur dengan  bumbu kacang yang telah ditumbuk halus hingga benar-benar merata, dicairkan dengan air kecap manis, sembari diberi tetes jeruk nipis untuk mendapatkan rasa sedikit asam. Dijamin segar dan tasty. Dan konon rahasia dapur Lontong Tahu  asli Blora, sehingga rasanya berbeda dengan daerah lain, adalah citarasa kecap yang dipakai. Para penjual hanya menggunakan satu merek kecap dari sebuah home industry, tak mau berpaling dengan merek dari pabrik, yang terbukti kemurnian bahan-bahan yang digunakan serta bebas media pengawet. Sebagai pelengkap hidangan, disediakan tempe goreng dan krupuk ikan agar sewaktu menyantapnya terasa gurih di lidah.


 


Ditemani teh hangat atau minuman istimewa warung ini, yaitu wedang kacang ijo, cukup untuk mengisi perut kita sambil menikmati nuansa sore langit Kota Blora, sekaligus mengecap pesona wisata kuliner kota pemilik blok minyak Cepu ini.

Sok Tau itu Boleh, Asalkan…

[gallery columns="2"]

Kisah mengesankan penuh sindiran sosial ini saya dapatkan dari teman seperjalanan di dalam HS 206 NS 39 Cepu-Pulogadung Hari Minggu (29/03) kemarin. Cerita tentang kekritisan, ke-sok tau-an, dan fanatisme daerah yang sempit dari penumpang Jepara dalam memilih bis yang akan dinaiki, yang terkadang menjadi boomerang kekonyolan bagi dirinya sendiri.

 


Kelucuan ini terjadi ketika awal-awal bis Shantika membuka trayek Rawamangun-Jepara.


Lazimnya pemain baru, PO Shantika belum banyak dikenal dan mesti agresif dalam menjaring calon penumpang.


 


Ceritanya saat itu ada seorang ibu setengah baya yang hendak melakukan perjalanan pulang ke Jepara. Dilihat dari wajah, cara berbusana, dialek bahasa dan tingkahnya, jelas si ibu ini orang dusun (ndeso) yang jarang melakukan perjalanan jarak jauh ke ibukota. Ketika turun dari angkot dengan barang bawaan yang bejibun di tangan kanan kirinya, para calopun tanggap bahwa ibu ini hendak keluar kota. 


 


Datanglah pertama calo bis Shantika menghampiri.


Calo I   : “Mau kemana Bu?”


Ibu       : “(n)Jeporo Mas.”


Calo II : “Naik itu saja nggih Bu!”


 


Sambil diraihnya barang bawaan si ibu menuju armada Shantika yang telah di jalur pemberangkatan. Saat lewat di depan bis…


 


Ibu       : “Lho…lhopiye iki Mas. Ini bukan bis Jepara. Sampeyan jangan bohong sama aku ya!. Dikira saya ndak tahu ya!”


Calo I   : “Bu, ini bis Jepara, kok ibu bilang saya berbohong?”, jawabnya penuh keheranan.


 


Ibu       : ”Bis Jepara piye? Platnya saja Semarang (H) kok bilang ke Jepara”


Calo I   : ”Ini tiketnya Bu, sampai Jepara kan?”


 


Si calo tak mau kalah beragumentasi dengan menunjukkan selembar tiket.


 


Ibu       : ”Bis Jepara itu KaCe Mas (maksudnya berplat nomor K xxxx C). Aku ndak percaya sama sampeyan!”         


Calo I   :  “Sumpah Bu, ini bis ke Jepara juga!”, jawabnya dengan sumpah segala sembari menahan rasa geram.


Ibu       : ”Pokoknya ndak, bis Jepara itu KaCe…”, ngeyel si ibu tak kalah gertak.


 


Beruntung pembicaraan ini sampai di telinga calo bis Muji Jaya, yang bisnya sedang mengantri di sebelah bis Shantika. Melihat adegan ini, didekatinya si calo dan si ibu yang sedang berdebat kusir.


 


Calo II : “Bu, ini yang benar, bis ke Jepara. Lihat platnya, KaCe kan?”


Ibu       : “Nah, ini baru bis Jepara. Masak saya mau dibohongi orang ini Mas…”


 


Sambil ujung jari telunjuknya mengarah ke wajah calo PO Shantika. Si calo apes ini hanya diam termangu, kehilangan kata-kata untuk menjelaskan lagi. Dan akhirnya hanya bisa menyesal serta pasrah, calon penumpangnya digaet PO tetangganya secara mudah gara-gara masalah plat nomor kendaraan.


 


Oalah…alah…

Selasa, 24 Maret 2009

Sate Srepeh, Mutiara Terpendam Kuliner Kota Rembang

11Tak kalah dengan Kota Blora yang “bangga” dengan sate ayam-nya, Rembang pun memiliki sajian sate khas pesisir yang tak kalah lezatnya, yang akrab di lidah masyarakat Rembang dengan sebutan sate srepeh.


 


Salah satu tempat makan yang menyuguhkan menu sate srepeh adalah warung “Bu Slamet”, yang berlokasi di Jl. Dr. Wahidin No. 9 Rembang. Warungnya boleh dibilang sangat sederhana, bahkan tak ada papan nama yang mencolok. Hanya spanduk kain usang bertuliskan daftar menu sebagai penanda bahwa Bu Slamet masih setia berjualan sate srepeh, profesi yang digelutinya selama lebih dari 60 tahun.


 


Kendati tidak begitu luas,-hanya terdiri dari tiga bangku kursi panjang-, namun warung ini selalu ramai pengunjung, sehingga mereka harus rela antre bila ingin makan di tempat. Jam buka warung yang “nangkring” di tengah hutan beton daerah Pecinan Rembang ini dimulai sejak jam 06.00 WIB, menawarkan jasa bagi warga yang mencari makan pagi atau sarapan. Saking larisnya, sebelum jam 09.00 WIB, jatah jualannya telah ludes tak tersisa. Sebagian besar pelangganannya adalah masyarakat Rembang sendiri, khususnya etnis Tiongha, dan para penggiat kuliner dari luar kota Rembang, yang “jatuh hati” pada menu andalan kota yang memiliki pantai terpanjang di Pulau Jawa ini.


 


Uniknya, warung ini hanya menyediakan 500 tusuk setiap harinya. Meski sedang berlangsung momen-momen ramai di Kota Rembang, semisal lebaran dan tradisi syawalan, Bu Slamet tidak pernah menambah jumlah dagangannya. Jika ada pengunjung yang datang ketika tusuk terakhir telah disajikan, dengan ramah ia mengatakan permohonan maaf karena dagangannya telah habis. "Tenang, besok kita buka lagi kok Mas," rajuknya dengan tersenyum manis khas simbok-simbok Jawa.


 


Berbeda dengan menu ayam lainnya, sate srepeh buatan Bu Slamet ini menggunakan bumbu kacang, dikombinasikan dengan saus santan dan gula merah, sehingga berwarna merah kecoklatan dan lebih encer, dengan citarasa yang gurih, asin dan pedas. Konon,  dari warna merah bumbu ini kemudian dinamakan srepeh. Sebagai pendampingnya adalah nasi tahu lengkap dengan kecambah, yang diguyur bumbu kacang. Tak ketinggalan, sayur lodeh dengan isi labu sebagai pelengkapnya, menjadikan menu ini lezat dijadikan santapan pembuka hari. Akan lebih nikmat lagi jika dimakan dengan krupuk ikan atau udang yang digoreng dengan pasir, sehingga mereduksi kadar kolesterol.


 


Untuk penyajiannya juga masih “primitif”. Bila nasi gandul khas Pati cara penyuguhannya dengan piring beralas daun pisang, untuk sate srepeh cukup dilembari dengan daun jati. Sehingga terasa kita menikmati makan pagi layaknya manusia djaman doeleo.  Menurut Bu Slamet, aroma yang dimunculkan oleh daun jati akan menambah selera makan penyantapnya. Boleh dipercaya boleh tidak.





Di warung ini, Bu Slamet -yang diambil dari nama suaminya Slamet Gunarso-  dibantu satu orang karyawannya yang bernama Lasmi. Kedua wanita berusia 60-an tahun itu selalu memakai kostum kebaya, sehingga mengesankan sebagai warung tradisional. Meski demikian, gerakan kedua wanita itu tetap lincah dan terampil melayani para tamu-tamu pengunjungnya.

 


Kelezatan sate srepeh ala Bu Slamet sendiri telah diakui Pak Bondan Winarno. "Mak nyuuuus!!!" kata Bondan ketika menikmati sate itu beberapa waktu lalu, ketika beliau napak tilas perjalanan RA Kartini. Bila sang maestro kuliner telah mem”fatwa”kan kelezatan sate srepeh, siapa yang berkehendak menyanggahnya?

Srambang (3)

Perjalanan ke Srambang Ngawi (3)


Saat Tekad dan Aksi Nekat Berjabat Erat


 


Baru beberapa langkah…


 


Subhanallah…gambaran alam nan eksotik menghampar di depan mata. Hutan pinus, kabut tipis, udara dingin, ladang ketela, kampuang nan jauh di mato dan semburat tipis cahaya siang menembus mendung di atas langit Srambang menggenapkan kesempurnaan “masterpiece” ciptaan-Nya. Terucap syukur dan tafakur-ku sembari kususuri setiap sisi lereng Lawu, berharap air terjun terlihat dari tempatku berdiri. Nihil, hanya vegetasi hutan tropis yang merajai.


31



 


Kulangkahkan kaki menuruni jalan terjal dan berbatu. Terlihat sepasang muda mudi bersiap pulang. Nuansa Srambang saat itu sangat sepi dari hiruk pikuk kehidupan manusia, hanya terdengar lengkingan serangga hutan dan gemericik air bening di hilir sungai, sesekali diiringi gelegar petir. Tampak sebuah loket di kejauhan, dan dari sanalah sebenarnya kawasan wisata air terjun Srambang ini dimulai. Rute kembali menanjak menuju loket masuk, di sela-sela hutan pinus yang lebat dan tinggi menjulang. Akupun terengah-engah, tak beda saat hiking naik gunung Gede tahun 2002 silam. Semula aku kira posisi air terjun tak jauh dari loket, namun tak terdengar debur air menghujam. Dugaanku meleset.


 


“Pak, mau masuk ke air terjun!”, kataku kepada penjaga loket


“Berapa orang Mas?”


“Cuma satu Pak”


“Berapa Mas?”


“Cuma satu.”


 


Duh, aku ini dianggap orang mencurigakan atau gimana sih, lha wong cuma sendirian masak ngga percaya. Atau dinilai orang aneh, hujan-hujan malah nekat ke air terjun.


 


“Berapa jauh ke lokasi Pak?”


“Kira-kira 1 km Mas”


 


Ha??? 1 km??? Kalau 1 km di kota itu dekat. Lha ini, menjelajah daerah baru dan asing dalam rimba belantara, 1 km serasa 10 km. Hmmkok sesusah ini cuma untuk melihat air terjun. Loket masuk Tawangmangu dan air terjun yang berjarak 300 m bagiku sudah menyiksa, apalagi ini…


 


Ah…sudah kepalang tanggung. Setelah menebus dengan Rp2.500,00, kususuri jalan setapak di bibir jurang yang dalam. Jalannya licin dan berbatu, sehingga perlu ekstra kehati-hatian. Tidak banyak pengunjung, sunyi, serasa hidup di kota mati. Langkah demi langkah kutapak, sambil melambungkan asa, banyak pengunjung yang memiliki rencana sama denganku,  mendaratkan kaki di area air terjun.


 


Namun, tak satupun pelancong kutemui. Padahal aku sudah “menebar” ratusan langkah. Tampak dua atau tiga penjual makanan dan minuman yang membuka lapak di tengah jalan, mencoba mengadu nasib, menjemput jatah rejeki.


 


“Maaf Mas, air terjun masih jauh?”, tanyaku pada salah seorang pedagang


“Masih Mas.”


 


Kok aku jadi pengecut begini ya? Mengapa aku mulai ragu untuk menembus lebatnya hutan Srambang. Ah…aku tak boleh kalah dengan perasaan yang menghantuiku.


 


Kulanjutkan langkah kembali. Lonely road, serasa berjalan di tengah areal pemakaman. Andai muncul  hewan buas, atau diganggu hantu penunggu hutan Srambang, atau kena tuah negatif yang Mbahurekso kawasan ini, ihh…seram membuatku bergidik. Bismillah (telat ya bacanya!) …aku tak boleh menyerah.


 


Pohon-pohon tua berusia ratusan tahun, batu-batu raksasa, sungai kecil berkelok-kelok, dan kabut tipis seakan menjadi pagar ayu yang menyambut kedatanganku. Berkali-kali rute setapak tak selamanya mulus. Ketika terhalang batu besar atau batang pohon tumbang, terpaksa menyeberang sungai, yang airnya deras mengalir, dengan menapak di batu-batu alam yang licin serta konon banyak pacet (lintah) hidup berkoloni di dalam sungai. Hi…jijik!


4


 


“Mas, mau ke air terjun ya?”.


Aku kaget ketika seorang ibu-ibu dengan bakul dagangan yang tengah turun dari atas membuyarkan lamunanku.


 


“Iya Bu, kemana lagi!”


“Buat apa Mas, masih jauh. Sepi di atas dan sekarang lagi hujan Mas. Hati-hati Mas, rawan longsor. Baiknya balik saja Mas”, ingatnya.


Ah, ngga Bu, pengen sekali ke air terjun”


 


Siapa dia ya? Jangan-jangan dia jelmaan peri Srambang? Eh, kok malah menghayal.Hehehe…


 


Kembali aku teringat dengan papan peringatan di dekat loket masuk. “Dilarang Masuk ketika Hujan, Rawan Longsor”.  Ah…aku sudah maju sejauh ini, masak harus mundur kembali. “Lanjut Gan!!!”, hardik kata hatiku.


 


Langkah demi langkah kugulirkan kembali. Semakin dalam, semakin jauh arah yang susuri. Sampai akhirnya di satu tempat yang redup sinarnya, karena kanan kiri diapit oleh tebing tinggi, setinggi hampir 50 m. Duh…bergidik bulu roma ini, andai yang aku khawatirkan terjadi longsor, tamat riwayat perjalananku di sini. “Ya Allah, lindungilah aku dalam perjalanan ini. Hidup dan matiku ada di kuasa-Mu.” , terucap doa tulus sebagai pengakuan aku ini hamba yang lemah, hanya noktah kecil di luasnya jagad raya.


 


Alhamdullilah, doaku langsung terkabul. Di titik ini kutemui lima anak muda yang hendak menuju air terjun. Lumayan, ada temannya. Kalau sekiranya terjadi apa-apa dan aku butuh bantuan, aku bisa menyandarkan bantuan kepada mereka.


 


Mulai dari sini, rute jalan sudah tak ramah lagi. Batu-batu besar, aliran air yang deras dan tebing di kanan kiri tanpa menyisakan jalan setapak di pinggir kali. Kita perlu berjalan di tengah sungai dengan menapak batu-batu hitam yang seolah telah tersusun rapi secara alami. Gemuruh air sayup-saypu terdengar, pertanda air terjun sudah dekat. Kuikuti jejak para anak-anak muda di depanku, meski aku tidak sampai bertegur sapa. Mereka asyik bercengkerama dan bercanda dengan temannya, tak mengindahkan ada orang lain yang sebenarnya butuh teman untuk menemani dalam perjalanan. Hehehe…


 


Akhirnya, tampak di depan mata air terjun deras mengalir dari ketinggian. Meski harus bersusah payah menaiki tangga kayu buatan agar bisa mendekat ke air terjun, tapi tak akan sia-sia pengorbanan, tekat dan aksi nekad, memuaskan dahaga penasaran untuk melihat air terjun kebanggaan Ngawi ini. Rasa khawatir, takut, terasing dan merinding terbayar sudah melihat keelokan pemandangan air di sisi utara lereng Lawu. So amazing, so exciting, so exotic… tak ada ibarat yang dapat melukiskannya. Aku yakin, air terjun ini pesona nan amat sangat mahal, karena tak mudah untuk menggapainya. Hanya orang yang teguh baja dan bermental kuat yang bisa mencumbuinya.


 


Kupuaskan hasil perjuangan dengan mengabadikan keindahan air terjun Srambang. Setiap sudut jangan sampai terlewatkan. Namun, tampias air terjun menghalang lensa kameraku. Tidak banyak gambar bagus yang bisa kurekam. Tak apalah, yang penting aku punya bukti bahwa aku pernah menaklukkan Srambang.


5


 


Kutadabur-i gemilang karya Yang Kuasa yang digoreskan di kanvas lereng Lawu. “Tuhan, sebagian keindahan alam abadi-Mu kau hadirkan dunia. Seakan engkau menyajikan iming-iming kepada umat-Mu, bahwa ada puncak kesempurnaan keindahan di arsy-Mu. Engkau telah menunjukkan jalan untuk meraihnya. Karena engkau begitu menyanyangi hamba-Mu. Semoga kelak, aku menjadi salah satu insan yang engkau ijinkan meraihnya. Amin…”


 


Hari beranjak sore. Kabut tebal mulai turun dan hujan semakin deras membahasi bumi Srambang. Secepatnya kutinggalkan air terjun, menyusuri kembali jalan tempatku mendaki. Aku tak mau terlambat tiba kembali di Kota Ngawi, pasti istri dan anakku sudah tak sabar menanti kedatanganku.


 


Terima kasih Srambang, untuk elok alammu dan pelajaran tentang kehidupan yang telah kau ajarkan. Bila ada ruang waktu, akan kutengok kembali pesonamu…