Jumat, 27 Februari 2009

Langgam Sarkawi

Langgam Sarkawi



Aura senja mulai menyergap langit sore Pulogadung


Bersiap melengserkan siang, mendudukkan malam di singgasana waktu


 


Dan dari keremangan cahaya


Muncul sosok yang tak asing bagi petualang kota


Menyeruak di antara rakyat republik aspal


Yang menyemut di ujung jalan Perintis Kemerdekaan


 


Makhluk jalan raya berbalur warna ungu la viola


Tubuhnya molek nian, menyembunyikan sisi maskulin


Smiling facenya perlambang sikap legowo menjalani tugas


Lelah menempuh  ribuan kilo bukanlah keluh kesah


Jalanan berlubang dan penuh debu sebentuk pertemanan sejati


 


Kian lama  dia semakin mendekat


Segera kulambaikan tangan


Terunggah bahasa sandi, agar dia memahamiku


Samar di balik kaca pria paruh baya menatap


Teettt…teettt…dia membalas pengharapanku


Lalu  menepi dan berhenti


 


Dan seorang penjaga gerbang tanggap kendali


Dilongoknya kepala keluar jendela


Siapa tahu ini jalan datangnya rejeki


Dia pun bertanya, “Kemana Mas?”


Ngetan (ke timur)”, jawabku singkat.


 


Bergegas dibuka pintu utama dengan semangat bergelora


Secepat kilat kutapakki alas permadani kerajaan armada


“Mari Mas, masih banyak yang kosong”


Sapaan lembut dara ayu dengan ramah menyambutku


 


Hmm…aroma  kegirangan terpancar dari rona wajah mereka


 


Kulangkahkan kaki mencari lapak punggung yang tersisa


Sembari diikuti tatapan tajam dan nanar belasan penduduk resmi


Bahasa tubuh jauh dari sikap pemuliaan


Tak acuh akan hadirnya pengemis rasa iba


Senyum menjadi barang mahal bagi warga baru


Yang ada guratan kecurigaan di benak mereka


Setiap gerikku tak luput dari perhatian


Seolah aku ini seorang pesakitan


Salahkah aku?


Apakah aku ini seorang pendosa?


 


Kusandarkan letihku di tampuk ala kadarnya


Di pojok belakang, menempel pada dinding ruang


 


“Kemana Mas?”, tiba-tiba gadis tadi menghampiri


“Rembang Mbak, berapa?”


“Delapan Mas…”


“Tujuh ya Mbak!”, tawarku sambil kukerlingkan mata


Berharap dia mengerti dan mengasihaniku


Kepalanya mengangguk, meluluskan permintaan


 


Tanpa kugenggam tiket, tanpa ada jaminan perlindungan


Hanya berasas rasa percaya dan saling membutuhkan


Secuil transaksi “haram” di pasar gelap


 


Dan di tampuk ini pula aku  tercenung


Sungguh…sekian lama menjalani ritual hidup di atas roda


Hampir menjelang sewindu mengarungi samudra pantura


Inilah awal pertamaku mempertaruhkan diri


Menyandang status penumpang tak resmi


 


Namun, apa yang aku rengkuh?


Dua sisi pandang yang saling bertolak belakang mengemuka


Ibarat kutub utara dan selatan magnet yang diadu


 


Aku diharap, sekaligus ditolak


Aku dibutuhkan, sekaligus dikucilkan


Aku dicitrakan sejumput pendapatan, sekaligus disimbolkan syak wasangka


Aku membawa keberkahan, sekaligus mendatangkan kebencian


Aku disanjung laksana emas berlian, namun mereka menahbisku seonggok sampah


 


Aku penyambung nafas bagi kru


Yang bergaji kecil, tak sepadan dengan tanggung jawab nan besar


 


Aku penyesak nafas bagi penumpang berduit


Yang berharap pelayanan istimewa, bak seorang maha diraja


 


Aku tak menyalahkan yang berbaju legal


Nilaiku tak lebih dari benalu transportasi, aku terima apa adanya


 


Andai mereka mau mengerti


Wira wiri kampung-ibukota setiap minggu


Hanya untuk sesuap nasi, menggugurkan kewajiban


Dan tidak setiap perjalanan lembar rupiah menyokongku


 


Namun, siapa yang berani menghalangi arti pertemuan?


Siapa yang dapat mencairkan gumpalan kerinduan?


Bersua orang-orang tercinta, pengisi kebahagiaan relung jiwa


 


Deminya…


Kenyamanan perjalanan terpaksa kukorbankan


Kantong sempit tak lagi kurasa mencekik


Suaka keselamatan menjadi piranti mahal


Anggapan miring keberadaanku tak membuat panas telinga


  


Harga diri tak malu kurendahkan


Harkat martabat kukerdilkan


Melangkah ke dalam lembah hitam yang berjuluk “Sarkawi”


 


tsu


 


Sepenggal kisah pengalaman pertama menjadi seorang sarkawi.


Latar : Perjalanan Pulogadung-Rembang (20/2) bersama PO Tri Sumber Urip Nopol K 1548 AD, Hino R260, New Travego Morodadi Prima.

Kamis, 26 Februari 2009

Negeri Kerajaan PO

Tertulis dalam kitab RAMAYANA karangan Mpu SANJAYA terbitan tahun WOLU PATMO (845), alkisah terdapat kerajaan KRAMAT DJATI yang MEGAH dan JAYA, terletak di lembah PARAHYANGAN di lereng bukit SINDORO SATRIA MAS. Negeri PERTIWI yang  kaya SUMBER ALAM, MAJU MAKMUR, AKAS, SANTOSO serta SUBUR JAYA, dalam tlatah BUMI NUSANTARA, INDONESIA. Diperintah raja AGUNG dan SABAR SUBUR namun sejatinya SUMEH, bernama EZRI HARYANTO, seorang PRIBUMI RAYA dengan garwa (istri) pendamping, PUTRI LURAGUNG ASLI, yakni ZENA SHANTIKA.


 


Permaisuri mendapat gelar sang HARUM PUSPA JAYA, karena kegemarannya akan KEMBANG.  Flora hias kesayangannya pun beragam, semacam ROSALIA INDAH, ANGGREK CEMPAKA, MUSTIKA LILY, CENDANA, SERUNI, MAWAR dan DAHLIA INDAH. Sedangkan raja sendiri penyuka ANEKA JAYA satwa, mulai GAJAH ASRI RAYA, GARUDA MAS, CENDRAWASIH, WALET BIRU, RAJAWALI dan DALI MAS. Raja mempunyai PUSAKA ampuh berbentuk LIMAS, bernama TRI SULATAMA PUTRA NUSA. Raja sendiri menyebutnya TRI SAKTI TRI MULIA.


 


Untuk menunjukkan RASA SAYANG, raja menyematkan TIARA MAS sebagai MUSTIKA untuk sang PUTRI JAYA, dan tak lupa limpahan ARTHA JAYA dan HARTA SANJAYA. Sedang sang Permaisuri,  menghadiahkan PAHALA KENCANA berupa pesawat APOLLO dan sebuah KARYA JAYA dari designer rancang bangun kondang Mr. BAGONG SUHARNO, yakni candi BOROBUDUR buat kekasihnya.


 


Raja diANUGRAHi tiga PUTRA REMAJA calon pewaris tahta. Yang pertama adalah EKA DHARMA PUTRA, adiknya DWI JAYA SETIAWAN, dan  anak bungsu TRI KUSUMA MANDALA.  Raja memberi julukan ketiganya TRI GAYA PUTRA. Berkat RESTU MULYA, PERMATA BUNDA dan DOA IBU, mereka tumbuh menjadi TARUNA yang BUDIMAN serta PERKASA, seakan menjadi SURYA LANGIT dan DUTA KARTIKA bagi negerinya. Sifat yang diturunkan dari pendahulunya, Eyang Kakung TINGOK dan Simbah Putri MADONA.


 


Raja memiliki tiga selir untuk meLANGGENG MAJUkan kekuasaan yang dipimpinnya, masing-masing SRI LESTARI, WIDJI ITA HAFANA dan MIRA LORENA. Meski begitu, semua hidup TENTREM dan MULYO, BERSAMA sebagai FAMILY RAYA CERIA dalam TALI JAYA BERSAUDARA JAYA di lingkungan keraton BIANGLALA METROPOLITAN istana raja.


 


Tak ketinggalan, raja juga mengangkat COYO BIMO TJIPTO dan SELAMET MADU KISMO sebagai penasehat kerajaan, agar LADJU pemerintahan terus MAJU LANCAR. Dua-duanya adalah PUTRA RAFFLESIA. Raja RELA melanglang BUANA secara LANGSUNG ANTAR ARAH,  mengembara ANTAR LINTAS SUMATRA naik OMAH MLAKU, ARMADA JAYA PERKASA kerajaan, yakni kereta SENJA FURNINDO buatan karoseri LAKSANA ANDA, demi menjalin kedekataan dengan WARGA BARU. Dikunjunginya kota-kota besar, MEDAN JAYA, JAMBI TRANSPORT dan BENGKULU KITO. Dilanjutkan berSAFARI DHARMA RAYA ke pulau JAWA INDAH, berturut-turut menyinggahi daerah BANDUNG EXPRESS, TEGAL INDAH, JOGJA CEPAT, PACITAN JAYA PUTRA, MALANG INDAH serta JEMBER INDAH. Berlanjut menuju pulau BALI PERDANA, mampir di desa MALINO PUTRA, menyeberang hingga SUMBA PUTRA serta FLORES dan terakhir bertamu di negri jiran, MANILA JAYA.  Sebuah wujud sikap SEDYA MULYA seorang PATRIOT, SETIA BHAKTI kepada negara.


 


 


Meski penduduknya berBHINEKA, penuh warna PELANGI adat istiadatnya, namun dalam hidup kesehariaannya tetap berlaku SIDO RUKUN ,GEMBIRA RIA, GOTONG ROYONG JAYA dan menjunjung IKHA JAYA. Rakyatnya MAKMUR, RAHARJA, BAROKAH, SERBA MULYA, JAYA UTAMA dan penuh HARAPAN JAYA, di bawah naungan penguasa kahyangan MILA SEJAHTERA, yaitu DEWI SRI dan dewa KERUB. Tercukupinya TRI SUMBER URIP, yakni sandang, pangan dan papan adalah buktinya. SUMBER REJEKI utama penduduk negeri adalah mendulang MUTIARA INDAH MURNI di GUNUNG HARTA. Semua penduduk SETIA NEGARA dan meMUJI JAYA rajanya, yang disanjung bak PELITA INDAH di jagad RAYA.


 


Sayang, rentetan bencana alam letusan GUNUNG SEMBUNG dan banjir dahsyat KALISARI, diikuti serangan sporadis kerajaan tetangga yang sedang berSINAR JAYA, SILIWANGI ANTAR NUSA yang dikomandoi panglima perang PANGERAN BAKER SARGEDE yang bersekongkol dengan penjajah asing dari negara MENGGALA serta keMUNCULan ajaran NEW ISMO versi PUTRO WIDODO, semakin meluluhlantakkan dan selanjutnya menghapus kerajaan ini dari peta DUNIA MAS.


 

Bakso Balungan, “Sentuhan Baru” Menu Bakso

Mencari jajanan bakso di persada tanah air relatif mudah. Meski masakan ini asal muasalnya dari daratan Cina, namun cukup “meng-Indonesia” dan “menyatu di lidah”  segala lapisan masyarakat. Tak terkecuali bagi kota kecil di ujung timur pantai utara Jawa Tengah, Rembang. Ada beberapa warung makan yang menyediakan bakso sebagai obyek dagangannya. Tentu saja dengan citarasa dan rahasia dapur yang unik dari setiap penjualnya.


 


Yang populer adalah bakso “Goyang Lidah” di seputaran Tugu Lilin dan bakso “Pak Joko”, yang menempati kios di Jalan RA. Kartini. Sekilas memang sama saja dengan menu bakso di tempat lain. Ada pentol daging, mie bihun atau mie kuning, serta kuah  dengan taste hasil kolaborasi bumbu rempah-rempah khas nusantara. 


 


Namun, ada satu yang lain daripada yang lain. Di warung  lesehan nan sederhana di Jalan HOS Cokroaminoto, bakal kita jumpai sebuah sentuhan baru dari menu bakso, yakni bakso balungan.


 


Mengapa  dinamai balungan? Karena di dalam penyajiannya ditambahkan tulang (balung; jawa). Tulang yang dimaksud bukan glondongan tulang keras dan utuh. Melainkan tulang sapi muda, dengan sedikit sisaan daging yang menempel,-yang kerap disebut tetelan. Dijamin tekstur dagingnya lunak dan kenyal setelah melalui proses perebusan.


 


Dengan semangkok bakso balungan, yang terdiri dari pentol daging, tahu goreng,  tetelan, mie kuning, mie bihun, ditaburi irisan daun seledri dan bawang goreng serta diguyur kuah panas aroma rasa bawang putih dipadu lemak sapi yang “tipis”, sangat cocok dan nikmat disantap di siang hari yang terik.


 


Apalagi  di kedai makan “Istana Bakso Balungan” ini menawarkan berbagai macam minuman pelengkapnya. Mulai dari jus buah, es soda gembira, sup buah, es kelapa muda, dan minuman kemasan. Ada minuman yang menjadi identitas “istana” di sebelah gerbang belakang pendopo Kabupaten Rembang, ini yaitu es teh buah eksotik. Minuman ini cukup menarik, karena es teh dikombinasikan dengan potongan buah segar, seperti apel, nanas, lecy, klengkeng, pepaya dan jambu. Sedang satu lagi adalah es siwalan, buah langka identitas kota garam.


 


 bakso-balungan


Dengan harga Rp6.000,00-Rp8.000,00 per porsi, bakso balungan “sanggup” menggoyang lidah dan memberi kesegaran di tengah terpaan hawa panas Kota Rembang. Layak untuk dicoba!

Rabu, 18 Februari 2009

Waduk Tempuran, “Oase Buatan” Di Bumi Tandus

42Blora, -sebuah kabupaten di sisi timur tenggara Propinsi Jawa Tengah-, merupakan daerah berhawa panas dengan karakteristik tanah yang relatif tandus. Posisi geografis kabupaten yang berbatasan langsung dengan wilayah selatan Kota Rembang ini berada di dataran rendah dan perbukitan dengan ketinggian 20-300 m dpal, sehingga turut mempengaruhi iklim kehidupan alam Blora yang  terkenal keras. Meskipun topografi daerah kaya minyak ini didominasi  hutan jati, namun faktanya Blora berstatus “pelanggan tetap” korban derita alam akibat degradasi fungsi dan kualitas lingkungan, ulah  tangan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Belitan krisis air di saat musin kemarau serta ancaman banjir dan longsor seakan menjadi sahabat tahunan warga Blora. Sungguh ironis.


 


Curah hujan yang rendah, rata-rata “hanya” 105 hari atau 1566 mm per tahun cukup membuat “kewalahan” pihak terkait untuk menyediakan kebutuhan air bersih. Salah satu solusi yang digagas adalah pembangunan tandon-tandon air, semisal embung, waduk ataupun kolam penampungan air, memanfaatkan air hujan yang biasanya turun di rentang bulan November hingga bulan Februari.


 


Dan salah satu karya “masterpiece”  Pemda Kabupaten Blora adalah Waduk Tempuran. Wadah air raksasa ini terletak Desa Tempuran, Kecamatan Blora Kota, berjarak 15 km arah utara jantung Kota Blora. Luasan air yang menggenang seolah-olah melingkari Dusun Juwet sehingga kampung kecil nan permai ini tampak mengapung di tengah-tengah waduk. Sebuah miniatur Danau Toba dihiasi Pulau Samosir di tengahnya.


 


Waduk yang dibangun di awal tahun 2000 ini seakan menjadi “obat pintar” menyiasati gersangnya alam bumi Blora. Selain memainkan peran utama sebagai sumber ketersediaan air bersih, air waduk dimanfaatkan pula sebagai sarana irigasi pertanian, tempat budidaya ikan air tawar, arena pemancingan, sarana even olahraga dayung tingkat lokal hingga nasional, serta dikreasikan menjadi tempat wisata berkonsep “duo tourism objects”, yaitu paket wisata alam digabung dengan wisata kuliner.   


 


Rute utama yang ditempuh untuk mencapai lokasi adalah jalan raya Rembang-Blora. Bila kita dari arah Rembang, sesampai di perempatan Pasar Medang  langsung berbelok kiri, menyusuri jalan sempit di tengah areal persawahan. Sewaktu kami sekeluarga ke sana, kami bertiga disuguhi pemandangan nan eksotis di kanan kiri jalan. Tunas muda pucuk-pucuk batang padi yang sedang  tumbuh mengembang menghampar laksana permadani hijau royo-royo yang menyejukkan. Rimbunnya daun-daun jati seakan menjadi “kamuflase” untuk menyembunyikan ketidakramahan iklim kering daerah ini. Jajaran perbukitan kapur semakin menggenapi panorama indah lukisan alam,  memanjakan setiap mata untuk meliriknya.


 


Sebelum memasuki kawasan wisata, kita akan menjumpai sebuah stasiun klimatologi kecil, yang dipakai untuk memantau keadaan cuaca di sekitar waduk. Stasiun ini mencatat setiap perubahan kecil dari temperatur udara, kelembaban udara, dan curah hujan. Data-data ini sangat penting untuk pengaturan air waduk.


 


Melihat animo masyarakat yang cukup tinggi untuk berkunjung, Dinas Pariwisata Kabupaten Blora pun menggandeng mitra swasta untuk mengelola secara profesional keberadaan Waduk Tempuran. Bukan sekedar untuk memanfaatkan pesona air waduk, namun dipadukan dengan wisata kuliner. Maka dibangunlah semacam kedai makan, -yang lebih cocok disebut café-, yang menyajikan wisata kuliner khas Waduk Tempuran, yaitu ikan bakar. Untuk menjaring lebih banyak wisatawan, disediakan fasilitas tambahan berupa taman bermain plus kolam renang bagi anak-anak, wahana bebek air, homestay, gedung pertemuan dan panggung live music khusus hari Minggu dan  libur besar.


 


Di cafe yang dinamai “ Café In” ini, menu utama yang ditawarkan adalah ikan bakar, dengan pilihan ikan bawal ataupun gurami.  Dengan paduan bahan rempah-rempah bawang putih, garam dan merica dengan komposisi yang klop sewaktu memasaknya, dilumuri kecap manis, bumbunya pun terasa meresap sampai ke dalam tekstur daging ikan. Dicocolkan ke dalam sambal terasi pedas yang menyengat indra perasa, dengan lalapan segar daun kemangi, irisan mentimun, sayuran kol dan terong ungu, serta nasi pulen yang mengepul hangat, semakin pas untuk menyempurnakan salah satu hidangan khasanah dunia boga nusantara. Menghabiskan acara bersantap siang  bareng keluarga di saung-saung yang mengapung di atas air yang melimpah ruah, menjanjikan nafsu makan kian bergelora dan semakin menambah kenikmatan mengecap hidangan identitas Waduk Tempuran ini. Selembar uang 50 ribu-an pun masih tersisa untuk menebus 1 kg ikan gurami bakar, komplit dengan kondimennya, sebakul nasi putih dan minuman teh manis.   Sepadan dengan kepuasaan mencumbui keindahan wisata alam sekaligus menuntaskan demam kerinduan mencicipi wisata kuliner .




201


 


Siapa yang tidak tergoda untuk mencobanya?


 

Selasa, 17 Februari 2009

Subur Jaya MB XBC-1518, 2nd Angel

Rembang, 16 November 2008, ketika sore menjelang senja.


 


Sewaktu berkendara dalam perjalanan pulang dari JJS (Jalan-jalan Sore) dari alun-alun kota. Selintas tampak di depan relung mata si kembang perawan  sedang tergolek berbaring diri di atas hamparan permadani yang membujur di sepanjang Jalan Pemuda, baru saja pulang ke rumah dari pergi bersolek di Kota Malang. Meski terlihat lelah menempuh perjalanan nun jauh Malang-Rembang, tapi tak mengurangi sosok manis, bertenaga dan low profile yang bernama lengkap Miss Mercedes Benz XBC-1518 ini untuk selalu memancarkan pesonanya nan anggun. Berbalut baju “royal platinum class’ ala New Travego dari designer terkenal Mr. Morodadi Prima. Dengan setelan busana depan berkelir warna merah marron dipadu buritan dengan polesan warna biru kalem dihias gravity triwarna, kuning, hijau tosca dan abu-abu, semakin membuat terkesima siapa pun yang memandangnya.


dsc001491


 


Inilah calon primadona baru kota garam, setelah sang kakak Miss Mercedes Benz OH 1525 mengorbit di awal tahun 2008, memeragakan adi busana model Setra dari designer Mr. Adi Putro. Ibarat kata, sang adik, XBC-1518 inilah bidadari kedua yang turun ke bumi Rembang.


 


Lengkaplah sudah kebahagiaan Koh Kenang dan Koh Ari, sang owner Subur Jaya menghadirkan model-model cantik dari Jerman, memeragakan pentas busana dari perancang mode lokal di ‘panggung catwalk’ sepanjang Kaliori, Sarang hingga Blora, meramaikan dunia selebritis bis-bis pujaan Kota Rembang.


 


Aku ini termasuk hamba yang merugi andai melewatkan kesempatan untuk memerawani bunga desa ini meski hanya lewat jepretan kamera telepon genggam. Untuk sementara lupakan dahulu permaisuri dan putri kecilnya. Bergegas kuturun dari balik kemudi, diiringi nada keheranan dan penuh tanya dari penghuni surga kecilku di dunia tentang tabiat bapaknya melihat barang baru.


 


Tangan yang gatal, lirikan nakal penuh nafsu, mata yang takjub terkesima memandang, desiran hati untuk merengkuh cintanya bercampur aduk dalam sanubari. Akhirnya tak kuasa membendung hasrat menggebu-gebu diri ini untuk menikmati malam pertama untuk kali kedua dalam hidup ini. Andai aku sang pemilik waktu, putaran jarum detik akan kuhentikan agar tiada istilah waktu berlalu berdua dengannya.


 


Tapi apa daya. Lembayung senja telah menyemburat, temaram malam kian pekat. Dari kejauhan tampak lambaian ‘maut’ permaisuri yang penuh kecemburuan akan perasaan tidak terima diduakan. Pertanda saat bermasyuk ria menikmati pesona Miss Maria Mercedes ini mesti berakhir. Hiks

Selasa, 10 Februari 2009

Is This the Oldest Travego in Indonesia?

Alkisah, pas saya nongkrong sembari hunting foto bis di tempat embarkasi/debarkasi angkutan dalam kota Terminal Tanjung Priok, tiba-tiba di depan saya melintas dua orang backpacker dari Kanada. Sebenarnya saya tidak merasakan ada hal yang luar biasa dengan kehadiran wisman yang mengadakan ‘wisata generik’ ini. Namun sewaktu mereka berhenti dan mengamati secara seksama sebuah bis kota P89 jurusan Tanjung Priok-Blok M, saya pun menjadi tertarik melihat gerak-geriknya. Saya menduga pastilah bus lover, terlebih  setelah mendengar obrolan mereka berdua. Ini percakapan yang samar saya dengar.


 


Bule A  : Hey Man, it’s great!!! An unique bus!


Bule B  : Hmm…what makes ‘ugly bus’ looks so special, Brother?(Sambil garuk-garuk kepala)


Bule A : Man, see details this coach! It’s a travego…Even, the oldest travego in Indonesia I guess.


Bule B : Wow…!!!Oh yeah… that’s right Brother! The Oldest model of travego ! Before we find this one, I think Adi Putro is  the pioneer. Factually, Rahayu Santosa  was the first had.


 


Sontak batin saya berteriak “Fitnaaahhh…!!!”.  Namun seketika pangkal lidah saya tercekat, mulut terasa terkunci serta otak mati ide. Menyesal, saya ngga pandai cas cis cus ngomong English seperti Mas  Haris, Mas Karnoto atau Mas Alone. Keinginan saya untuk meluruskan kesimpulan sumir mereka, akhirnya tak kesampaian.


 


Nah, ujung permasalahannya, saya pun menjadi ragu dengan kapasitas saya sendiri sebagai seorang bismania, apakah benar bis PO Agung Bhakti ini pemegang rekor Travego Tertua di Indonesia? Saya yang not well educated soal bus ataukah  bule itu yang sok keminter?


agung-bhakti2


 

Filosofi Agung Petak 64

petak-64Membaca salah satu buku catur "Taktik Jitu Babak Tengah" karangan Mr. Suwaji terbitan “Terbit Terang” Surabaya, kutemukan satu artikel menarik, lebih tepatnya opini tentang "keindahan" permainan petak 64 yang disebut orang, Catur, yang dilihat dalam cara pandang sisi filosofi. 


 


Ini kutipannya :


 


 


Catur adalah lukisan sebuah kontes, peperangan tak berdarah, sebuah gambaran, tidak hanya operasi militer sesungguhnya, tetapi perang yang lebih besar dimana setiap insan di bumi, dari ayunan hingga ke liang lahat, terus berjuang dalam hidupnya.


 


Kebaikannya laksana pasir di Gurun Sahara yang tak terhingga jumlahnya. Catur menyembuhkan jiwa yang sakit dan memberi terapi agar menjadi sehat. Catur juga tempat istirahat bagi intelek yang kelebihan kerja. dan memberikan rasa santai bagi badan yang lelah. Catur mengurangi kesedihan bagi jiwa yang murung, dan menambah kebahagiaan bagi yang lagi bersuka cita. Catur juga mengajari orang marah untuk mengendalikan emosinya, jiwa "cengengesan" menjadi serius, penakut menjadi gagah berani, ceroboh menjadi lebih hati-hati. Ia memberi rona keceriaan pada pemuda, kebahagiaan yang penuh wibawa terhadap kemanusiaan, dan pelipur lara bagi yang berumur tua. Catur merayu si miskin agar tak selalu ingat kemiskinannya, yang kaya agar tidak ceroboh dengan kekayaannya.


 


Catur mengingatkan raja agar mencintai dan menghormati rakyatnya, dan menyuruh rakyatnya agar patuh dan tunduk pada rajanya. Ia menunjukkan bagaimana orang rendahan, dengan kerja dan usaha keras bisa menduduki posisi yang mulia, dan raja yang kikir dan sombong, yang memelihara watak jelek dan menyalahgunakan jabatan bisa tersungkur dari kursi keagungannya.


 


Catur merupakan hiburan dan sebuah karya seni, olahraga serta ilmu. Yang terpelajar dan yang kurang terdidik, yang tinggi dan yang rendah, yang kuat dan yang lemah, mengakui kemolekannya, terpana akan bujukannya. Mula-mula kita belajar untuk menyukainya, tetapi setelah dekat keindahannya mulai bertambah, dan saat ia mulai mengurai pelajarannya, semangat semakin kuat, dan kecintaan kita semakin lekat.


 


 


 


This is one of an answer, why I love this game…


Gens Una Sumus = Kita Satu Keluarga